Let Me Love You.

Di dalam kamar Jongin masih memangku Jongsoo diatas sofa yang terus menangis dan sesekali merengek ketika tangisannya reda.

"Eomma akan baik-baik saja 'kan?" Jongsoo memandang wajah ayahnya. Matanya seolah mengharapkan sebuah jawaban yang dapat meredakan kesedihannya.

Jongin memahami kekhawatiran Jongsoo. Pun dirinya, diluar sana hujan terdengar begitu deras. Belum juga berhenti sejak mobil Kyungsoo menghilang dari pekarangan rumah ibunya.

"Ibu dan adikmu akan baik-baik saja." Jongin mengusap kepala putranya. Meski dalam hati muncul keraguan besar, apakah Kyungsoo benar baik-baik saja.

"Jongsoo tidur, ya? Eomma akan datang besok pagi," Jongin hanya mampu mengusap punggung Jongsoo, meski tak berefek sama sekali pada rengekan itu. Karena tentu saja aneh bagi Jongsoo yang terbiasa tumbuh hanya bersama Kyungsoo. Ia tak pernah menyentuh ataupun menghiburnya, yang ia lakukan justru memukul dengan kejam hanya karena kesalahan kecil yang dilakukan Jongsoo.

"Sungguh?"

Jongin mengangguk.

Nyatanya ia terlalu gengsi untuk menghubungi Kyungsoo. Bertanya tentang keadaannya. Atau sekedar mengatakan maaf telah mengusirnya seperti itu. Taemin benar, perlakuannya pada Kyungsoo sama sekali tak menunjukkan bahwa ia merasa bersalah.

*

Kyungsoo memasuki kamar Jongsoo dengan kalut. Ditangannya sebuah tas jinjing besar telah berisi seluruh pakaiannya.

"Selama hidup, ibu tak pernah diinginkan." Kyungsoo berderai airmata sembari membuka lemari milik Jongsoo, "Tapi ibu juga tidak terbiasa, jika ayahmu sudah tidak menginginkan ibu,"

Tangisan Kyungsoo pecah sudah. Tangisan yang ia tahan di depan Jongin yang mengusirnya.

Sepasang mata itu. Kyungsoo mungkin tak dapat mengartikannya. Tapi ia cukup pintar untuk menyadari jika Jongin tak butuh dirinya.

"Kau akan hidup dengan ayah. Dan ibu akan hidup dengan adikmu. Cukup seperti itu," Kyungsoo meremas pakaian Jongsoo yang ia masukkan ke dalam tas besar lainnya.

Kyungsoo pikir ia bisa hidup bahagia disini. Tapi nyatanya tidak. Hidupnya akan sama saja. Perlahan ia akan tersingkir.

Tangisan Kyungsoo tak kunjung reda, dan semakin terdengar memilukan diantara bunyi hujan yang deras.

"Ibu akan membawa ini. Baju pertama yang kau pakai setelah kau lahir." Kyungsoo memasukkan baju dengan lipatan yang lebih kecil itu ke dalam tas jinjing miliknya. Meletakkannya bersama dengan album yang berisikan pertumbuhan Jongsoo sejak dalam kandungan.

Keputusannya telah bulat. Tak peduli jika dirinya dianggap terlalu mudah menyerah. Ataupun tak bertanggung jawab atas Jongsoo. Tapi ia memang tak mampu bertahan. Jongin melukainya, melubangi hatinya yang telah sangat berlubang oleh rasa sakit yang dibuat oleh kedua orangtuanya.

*

"Jongin?"

Heechul menggoyangkan pundak Jongin perlahan. Membangunkan putranya yang tertidur dalam posisi duduk. Pukul 7 pagi, dan itu berarti kemungkinan Jongin tertidur semalam dengan posisi seperti itu semalaman.

"Bangunlah, ibu sudah menyiapkan sarapan untukmu dan Jongsoo,"

Jongin segera bangkit. Tak lupa ia memabangunkan putranya dengan mengusap lembut kepalanya.

"Apa eomma sudah datang?"

Jongin terkejut. Matanya menatap Heechul yang hanya memberikan gelengan.

"Kita tunggu eomma di depan, ya?" tawar Jongin pada Jongsoo, "Sambil kita sarapan?"

"Eum!"

Lain halnya di dalam rumah.

Diluar sana Kyungsoo mantap berjalan menuju rumah ibu mertuanya setelah menempuh perjalanan dengan bus. Ia memutuskan tidak menggunakan mobil. Semua itu milik Jongin. Rumah, mobil, bahkan ponsel. Baginya, semua itu adalah pemberian Jongin untuknya. Yang ada di dalam tasnya hanyalah pakaian miliknya, dan beberapa lembar won untuk bekal hidupnya nanti.

Keringat dan suhu tubuhnya yang tinggi tak menghalangi Kyungsoo. Hingga ia tiba di depan pintu rumah mertuanya yang terbuka. Ia bisa mendengar tawa renyah dari Yijun dan kakak iparnya bersahutan.

Ada perasaan sedih saat ia menyadari, mereka bukan lagi keluarganya setelah ini. Ia akan kembali sendiri. Seperti sebelumnya.

"Kyungsoo? Kenapa kau tidak masuk jika sudah datang?"

Kyungsoo meletakkan tas miliknya di dekat tembok yang tak terlihat oleh keluarga Jongin.

"Aku hanya datang untuk mengantar ini, bu." Kyungsoo menyerahkan tas besar milik Jongsoo dengan gemetar.

Wajah Heechul menatap Kyungsoo tidak mengerti, "Apa maksudmu? Tidak. Kau harus masuk dan sarapan bersama kami."

"B-bisakah aku bertemu Jongin?" Kyungsoo menahan dirinya dari tarikan ibu mertuanya. Ia tidak ingin masuk. Ia.tidak sanggup untuk meninggalkan keluarga ini jika ia melihat wajah seluruh keluarga Jongin.

"Masuklah, Kyungsoo."

Jongin yang mendengar ada suara-suara di depan segera datang dari ruang tengah. Wajahnya mengernyit heran mendapati keadaan Kyungsoo yang sedikit kacau dan pucat.

Brukk!

"K-kyungsoo? Apa yang kau lakukan?"

Kyungsoo bersimpuh di depan Jongin. Airmatanya kini telah tumpah, dengan kedua telapak tangan yang menyatu ia memohon.

"Katakan jika kau ingin berpisah. Kau bisa menceraikan aku, Jongin. Aku bisa pergi sejauh mungkin,"

Plak

Satu tamparan Jongin layangkan pada pipi kiri Kyungsoo. Ia panik. Mendapati Kyungsoo yang datang dengan mata bengkak, bersimpuh di kakinya tiba-tiba dan memohon. Itu membuatnya malu, melukai harga dirinya di depan keluarganya sendiri.

"Apa yang kau katakan?"

"Aku mungkin terbiasa diabaikan dan tidak diharapkan. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika suamiku sendiri sudah tidak menginginkanku?" jawab Kyungsoo lirih. Matanya tak bisa bertemu dengan mata Jongin. Haruskah ia seperti ini? Memohon dan menjatuhkan harga dirinya serendah ini?

"Berhenti bermain drama, Kyungsoo!" teriak Jongin tidak terima. Seluruh tubuhnya sudah diliputi amarah.

"Rawatlah Jongsoo dengan baik. Aku tak cukup mampu menghidupinya jika membawa—"

"Kyungsoo!"

"Aku perempuan miskin, Jongin! Kau yang mengatakan itu kemarin! Aku tidak bodoh!" Kyungsoo mendongak. Memberanikan diri menyentuh tangan pria itu.

Jongin menampik kasar tangan Kyungsoo. "Hentikan Kyungsoo! Kau mengigau!"

Lihatlah dirimu, Kyungsoo. Betapa menyedihkannya.

"Tidak! Aku cukup sadar untuk memohon—"

Seketika tubuh Kyungsoo ambruk. Kalimatnya terhenti begitu saja. Ia terbaring lemah tepat di kaki Jongin.

Jongin hanya berdiri kaku. Suara teriakan ibunya. Kepanikan dari kakaknya bercampur baur dengan tangisan pilu dari Jongsoo. Semua terdengar sama di telinganya.

*

Plak

Semuanya terlalu cepat bagi Jongin. Hingga satu tamparan dari Junsu menyadarkannya.

Junsu menatap tajam Jongin yang berdiri di dalam ruang IGD. "Apa yang terjadi?"

Hanya gelengan yang Jongin berikan sebagai gelengan. Heechul dan Joonmyeon hendak menjawab namun ditahan oleh gerakan tangan Junsu.

"Sudut bibirnya berdarah dan kau tidak tahu?" tanya Junsu tidak sabaran.

Jongin menunduk, mengangkat salah satu telapak tangannya, "Aku menamparnya,"

"Apa sekarang kau mulai ringan tangan padanya juga?"

Junsu terlihat pasrah.

"Apa yang terjadi padanya?" Heechul menengahi. Wajahnya terlihat begitu khawatir.

"Demamnya terlalu tinggi. Ia mengalami kejang dan itu bisa berpengaruh buruk pada kehamilannya." Jelas Junsu pada Heechul serta Joonmyeon, namun matanya tak henti melirik tajam pada Jongin di hadapannya.

"Apa bayinya baik—"

"Tidak!"

*

TBC ???

*

A/n: Maaf banget karena lama banget saya ga balik. Pengen banget bisa lanjut dari dulu, sayang banget sama reader yg komen dan dm tanya kapan lanjut. Tapi saya lebih utamain rl saya. Kerja sambil kuliah cukup capek rasanya. Sekarang skripsi udah selesai, dan kebetulan saya udah ga kerja. Jadi saya coba untuk lanjut, masih ngumpulin feelnya. ;))

Makasih banyak untuk yang ngikutin ff ini dan masih mau baca. Saya usahakan akan lanjutkan setelah ini. Tapi dengan sedikit perubahan, rencananya tiap chapter yg akan saya upload ga akan banyak wordnya. Asal terus bisa lanjutin ;P