"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

*Masashi Kishimoto and Square Enix*

"-_-_-Woman My The Hearst-_- _-"

By

"-_- Ligthting Shun -_-"

Sebuah gambaran pemandangan statik yang mengerikan

Tentang Kota yang hancur lebur

Banyak manusia yang tergelepar mati.

[Noct! Aku akan melindungimu sampai akhir!]

Suara seorang wanita terdengar

Langkah demi langka terdengar

Suara nafas itu, terdesir dan itu menyakitiku

[Dulu aku tak bisa melindungi orang yang kusayangi! Aku memang ceroboh dan lemah].

Gambaran seorang wanita dari balik punggung, segambaran jelas seulas senyuman menyakitkan begitu kentara.

[Tak akan kubiarkan apa-pun menyentuhmu]

Air mata dan senyuman tak lepas dari wajahnya.

[Inilah tekat kami! Dan ini jalan adalah jalanku sebagai ninja]

Kenapa!

[Inilah yang kubuktikan]

AAHHGGG! TIDAAAAKKKKK!,"Teriakan Noctis mengema keras dalam sebuah ruangan perapian(?), Sebuah ruangan hangat dimana sebuah Sofa mahal, meja panjang nampaknya Prince-yang sedang digandrung para gadis sedang terbangun dari tidur siangnya.

"Noctis kau baik baik saja!,"Sebuah suara keras bersamaan gebrakan (baca : Dobrak) memasuki kamar dengan pandangan terburu-buru. Noctis menatap pintu mahal yang engselnya terbuka setengah.

"Sakura?,"Noctis menatap gadis yang baru masuk dengan tatapan kaget, namun tak berapa lama diam membisu, Noctis langsung terlihat begitu murung.

"Anda baik-baik saja,"Tanya Sakura Cemas. "Saya akan memanggil Prompto, Ignis-san dan Gladialos-san,"Ucap Sakura lalu hendak meninggalkan Noctis.

GGRRREEPPP!

Bolamata Sakura membulat. Saat merasakan lenganya sedang dipegang oleh Seseorang, dan saat Sakura berbalik ia menatap seseorang yang memegang lengannya dan itu Adalah Noctis.

"Noctis-san?,"

"Kumohon!,"

"Eh!,"

"Tetap...berada...disini...bersamaku,"

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

[[Ditempat Rain dan Prampto diruang santai sayap timur]] :

"Hei Rain Ah! Kau baik-baik saja?,"Tanya Prampto disebuah Ruangan santai dalam pesawat.

"Ke-kenapa?,"Tanya Rain melirik.

"Kau agak aneh saat perang dixnaya, apa ada yang menganggu pikiranmu?,"Ucap Parompto lalu melempar sekaleng Jus pada Rain. Dan Rain menangkapnya.

"Ti-dak aku hanya?!,"Rain menatap jendela dimana ia memandang langit biru dan awan membentang dibalik jendela, rautnya berubah 100% dan lalu membuka Kaleng Jus dengan kasar dan menenguknya.

"Kau yakin, belakangan ini aku melihatmu diam terus, apa ini ada hubunganya dengan Sakura?!,"Ucap Prompto dengan tatapan datar.

"Kenapa kau malah menghubungkan Sakura? dan Aku?,"Tanya Rain dingin. "Darimana kesimpulan semacam itu kau dapatkan? Huuh,"Ucap Rain lagi.

"Saat kau bangun dari pingsanmu? Dan juga saat disalon, kau tak seperti sebelumnya apa aku salah,"Ucap Prompto.

"..."Rain menatap datar dan membuang muka, pandanganya Fokus pada langit dihadapan jendela.

"Apa jawabanku benar?!,"Ucap Prompto.

"Aku tak ada hubunganya dengan gadis it-,"Ucap Rain terputus lalu membulatkan bola mata saat dia fokus menatap sosok ular panjang(mirip belut) bersisik putih dengan moncong(mirip lumba-lumba) yang tak sengaja berkeliaran terbang disekitar pesawat dan terbang.

"Hoi Rai-,"Kata-kata Prompto menghilang saat Prompto terfokus menatap sesosok monster yang muncul dan terlihat dari jendela "Itu MERAJIAAAAHHH,"Jerit parompto.

[[Diruangan Santai yang lain]]

Kegaduhan dia area kabin, mulai Ricuh beberapa prajurit nampak berlarian dan menyiapkan senjata. Dan sementara diruangan santai disayap kanan Gladiolus melempar botol sake pertamanya dengan kesal.

PRAAANGG!

"Chiii! Kenapa monster itu disini kapan aku bisa minum dengan tenang!,"Racaw Gladiolus kesal.

"Tenangkan dirimu Glad!,"Jawab Ignis.

"Copy! Kapten ini saya, Komandan Cor jelaskan apa yang terjadi,"Jawab Cor lalu menghubungi Kopit dengan Wolkey-toky mini yang selalu dipasang ditelinganya, saat itu pula Cor sedang menikmati minum Sake bersama Gladiolus.

"[Nampaknya dia sengaja menganggu penerbangan kapal],"Ucap Komandan, dari Ruang kendali, mereka berbicara dalam alat pengendali ditelinga mereka.

"Kalau begitu biar kami saja? Yang akan mengurusnya,"Ucap Cor yang saat itu bersama Gladialos dan Ignis dan menuju kearea luar, lalu ketiganya mengangguk secara bersamaan.

"Kurasa kemunculanya ingin menyerang kapal,"Ucap Ignis sementara Gladiolus mengangguk.

"[Tidak, kalian semua tetap dalam kapal dan gunakan kecepatan maksimal kapal, menuju Lucis]," Sebuah Suara Barithon menyempil dari alat komonikasi ditelinga mereka masing-masing memotong obrolan, dan itu adalah suara Shun.

"Apa yang kau mau lakukan Aho?, kau mau kita mati terbunuh duluan, Jika tidak melawan,"Ucap Cor dengan nada kesal, mendengar patnernya sekaligus orang selalu mengajaknya berdebat.

"[Aku ingin Kalian semua sebaiknya tak bertarung dengan monster, itu kalian harus mengurus keadaan Lucis, Dari Firasatku, aku yakin keadaan disana nampak lebih buruk],"Ucap Shun, suara Shun terdengar dingin, Cor tahu kali ini penyihir itu sedang serius, dan tak suka bermain-main, baik komandan Fred, Ignis dan Gladiolus terdiam seribu-bahasa.

"[Aku akan mengurusnya, kalian sebaiknya lindungi pangeran dan kembali Kelucis]."Ucap Shun.

"Kau dimana Aho,"Ucap Cor makin keras.

"[Aku ada di-]"

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

[[Diluar Pesawat]]

"Aku ada diberada atas badan Kapal dan sedang memandang Monster ini,"Ucap Shun yang saat ini sudah berada diatas kepala kapal dengan suksenya, tak tertarik oleh sudut angin yang luar biasa kencang.

"[Apa-kau sudah gila! Memasang badan diatas badan kapal, haaah!],"Jerit Cor dengan jengkel.

"Kalian semua cepat pergi biar aku yang mengurus hewan itu, Jadi pergilah,"

"[TAPI TUAN SHUN!],"Hentak komandan Fred.

"Pergiiii!, Melindung Pangeran Tugas utama kita,"Ucap Shun, lalu melompat dan tubuhnya melayang diudara, dan menatap pergerakan Merajiha, melayang disekitar kapal dan siap membidik Kapal dengan, bola energi yang keluar dari dua matanya.

SHIIIITTTTTIINGGG!

DUAAAAAAAAAARRRRRR!

Kabut mengelilingi kapal cukup. Membuat orang dikapal menjadi sangat heboh dan sangat terkejut. Setelah kabut menghilang terlihat sebuah dinding Sihir mengeliling kapal dan aktiv membuat bola energi itu, tak mengenai kapal.

RONGHIKLING EWAXL IBFI VEXJA YHEFI KILCI DASXA YSA SCO NSZAYA!

Sebuah Rapalan mantra terdengar dari mulut Shun terapal mulai, berhenti. Bersamaan fokus Monster memandang Shun yang tersenyum samar diwajahnya.

"Cor! Dan pergilah kelucis dengan selamat,"Bisiknya pada alat yang masih terpasang ditelinganya.

[Baiklah Aho! Aku tak akan menghalangimu pertarungan konyolmu]

[Tapi... Jika...Kau...benar-benar mati]

[Aku tak akan menyekar bunga pada nisan atau apa-pun untukmu]

[Jadi bisakah kau]

[Tak mati]

Seulas senyuman Shun mendengar ucapan Rival manusianya tersebut, matanya lalu kembali Fokus pada Monster yang menatapnya dengan tatapan lapar, Sementara Kapal langsung melaju dengan tenaga super, untuk mengarah kembali menuju Kerajaan Lucis.

"Aku usahakan semampuku"

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

Suasana Siaga nampak terlihat disisi timur kerajaan Lucis beberapa pasukan sudah berjaga pada jarak 3 sampai 5 meter, sebagian lainya melindungi orang-orang yang bukan seorang Prajurit menjauh dari Zona bahaya, beberapa Misil dari Suar darat dan udara nampak dikumpulkan, karna musuh kali ini bukanlah Ifirit biasa, tapi Aeon legendaris.

The King of Legend Ifiris

(Sang Raja Api dari Neraka)

Nama dari salah satu Raja sekaligus Dewa kepercayaan Bahamud sebagai Dewa api, Summoners mana-pun tak bisa mengendalikanya karna dia bukan Aeon biasa yang dapat dijinakan oleh Summoners biasa.

Sekumpulan Orb-Spira nampak berterbangan, disekitar sayap timur, menandakan banyaknya jiwa yang gugur dalam pertempuran, air mata disekitarnya nampak terdengar semakin menyakitkan, banyak penduduk yang berupa para pelayan, pekerja kasar dan para Alcenemis nampak mati sia-sia. Akan tetapi jauh ditempat yang begitu tenang nampak seorang gadis.

"Apa kalian sudah melihat tanda-tanda kembalinya Kapal tempur yang menjemput pangeran?!,"Seorang gadis tengah duduk disebuah kursi disebuah ruang baca yang lumayan mewah. Ditemani hangatnya sebuah The hangat diatas meja kecil, dan tatapan kosong terlihat pada mata birunya yang jernih. Parasnya yang cantik, rambut pirang-platina dengan gaya pony-cut dengan kepangan-rambut memutar dikepalanya, ia mengenakan Dress gloy putih sembari mengenggam liontinya.

"Belum Nona Luna!,"Serga Komandan dengan nada sopan, dan penuh rasa hormat.

"Kita harus mengurus, mahluk memberontak itu, agar tak menghancurkan tempat ini lebih dari ini, jadi bisa kalian mengabariku setiap perkembanganya,"Jawab Luna dengan anggunya sembari meminum the yang ada diatas meja. "Dimana Stela!?,"Ucapnya melirik sang Komandan.

"Beliau sedang berada disana dan memimpin beberapa pasukan untuk mengurus Monster itu,"Ucap Sang Komandan, membuat Raut Luna mengecut.

"Noir-san, bukankah sudah kukatakan kalau kau harus mencegah kakaku, membuang-buang waktunya untuk berada disana,"Ucap Luna pada sang komandan yang bernama Noir."Itu sangat berbahaya,"Jawabnya.

"Maafkan saya nona Luna, tapi Nona Stela memaksa dan saya tak bisa menandingi kekuatan Nona Stela, beberapa prajurit saya yang menahan dia pun, nampak masuk rumah sakit, karna Nona Stela,"Ucap Noir.

SREK!

"Noir!,"Ucap Luna, dengan nada datar.

"Ya nona Luna,"Ucap Noir.

"Kita pergi, aku mau menemukan kakaku Stela,"Ucap Luna dengan tatapan tajam, ia pun lalu berdiri dari posisi duduk dan berjalan dengan anggun memdekati Noir.

"Saya akan selalu mendampingi anda, Nona Luna,"Ucap Noir, sembari mengekori Luna bersama dengan beberapa anak buahnya.

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

[[Sayap timur istana]]

"Separah inikah, KENAPA TAK ADA SIAPAPUN BERADA DISINI UNTUK MENGATASI KEKACAWAN DISINI!,"Bentak seorang gadis pada beberapa pada komandan pasukan, sementara yang dibentak malah diam 1000 bahasa.

"Nona Stela, Gawat Ifirit sudah memasuki area disisi timur kerusakan semakin meluas!,"Ucap seseorang penjaga lain, lalu mendekati mereka. Gadis itu lalu menatap kearah sang prajurit yang nampak ngosh-ghosan, Gadis berambut Pirang tusk kecolatan nampak memasang tatapan kesal, sembari memainkan sebuah senjata Sreiv Sword ditanganya, jari jemarinya yang lainya nampak lentik yang satunya tengah menyeka keringat dipelipisnya, dengan tatapan serius ia menatap serius para penjaga. Para prajurit tahu bertapa lelahnya gadis cantik itu, mereka pun secara pribadi menyimpan kekaguman terhadap Gadis yang tengah seorang diri memimpin pasukan. Rasa kagum itu nampak sepadan dengan kekuatan yang dimiliki sang-gadis.

(Autor : Well Karna gadis itu pantas mendapatkanya)

"Dimana para Komandan lainya, kenapa malah semuanya nampak menghilang begitu saja,"Ucap Stela mulai tersulut emosi, dan tak nyaman.

"Cor Leonis! Dan Mage-Shun! Tak ada disini mereka sedang menjemput Pangeran Noctis. "Sementara beberapa Komandan lainya nampak gak mengabari kami bahkan alat pada lencana mereka, nampak tak aktif,"Jelas sang prajuri.

"Apa!, DIMANA PARA ORANG PENTING ITU SAAT KONDISI KERAJAAN SEPERTI INI BRENGSEK!,"Emosi Stela nampak ingin meledak dan rasanya ia ingin menebas para Komandan yang menghilang begitu saja, saat semua orang membutuhkan mereka.

"Cukup kurasa mereka tak akan bisa diandalkan,"Sebuah suara Barithon dari seorang lelaki dengan baju Kasual, dimana ia mengenakan sebuah kemeja merah dengan celana hitam kain yang bersikap Casual, sepatu kats yang mengkilap dengan rambut sebahu yang sengaja disisir kebelakang dan tak lupa sebuah pedang Katana nampak bertengger disabuk pinggangnya.

"Tuan Buron!,"Ucap Stela. Melirik kedatangan pria itu dengan tampak terkejut."Kau nampak berbeda dalam balutan baju warga biasa, tampa baju Armymu?,"Ucap Stela.

"Ah! Ini hari liburku tapi masalah ini menganggu hariku,"Jawabnya nampak cetus, Tuan baron cukup tampan namun rautnya selalu cuek bebek dalam menghadapi wanita.

"Ah maafkan aku!,"Jawab Stela. "Harusnya aku tak menyinggung masala pribadimu Tuan,"Ucap Stela ia pun teringat sesuatu lagi. "Maaf jika kau mendengar ucapanku barusan,"Ucap membungkuk dengan tanda penyesalan.

"Tak masalah, aku kebetulan mendapat kabar berita ini dari bawahanku, dan mengabariku lewan ponsel pribadi,"Jawabnya. "Nah Beri tahu aku! Laporan apa yang belum kudengar Fox,"Jawab lelaki itu dengan acuh, Buron terbiasa memanggil seseorang dengan panggilan tengah dia jarang memanggil seseorang dengan Nick namenya.

"Keadaan kerajaan sudah 35% Ifirit belum tumbang,"Jelas Stela. "Maafkan aku sekali lagi tuan Buron,"Ucap Stela lagi.

"Lupakan itu mari kita kembali, pada pekerjaan Kerajaan harus mengajiku lebih mahal untuk cuti liburku yang berantakan,"Ucapnya lalu menjulurkan tanganya kedepan dan sekumpulan kabut putih mengelilingi dan tiba-tiba kabut tadi memuncul sebuah senjata Takana besar berwarna silver. "Aku adalah Crastaliya Auro tak akan kubiarkan musuh menganggu seenaknya," Ucap Buro geram dan mengenggam Katananya dengan erat.

"Hehehe...jangan begitu Buron-san!?,"Ucap seorang lelaki dari belakang, seorang lelaki berambut abu-abu dan mengenakan baju tampa lengan, dan celana dongker biru, seolah model seorang pemuda zaman sekarang.

"Hairu kau juga ada disini?!,"Ucap Stela.

"Hehehe...ayo kita lakukan apa yang bisa kita lakukan,"Ucap Hairu dengan senyuman manis lalu muncul sebuah busur ditanganya dengan sebuah Magic.

"Ah! Aku mengerti!,"Ucap Stela.

"Terjadi saat aku tak ada, ada gosip sebuah masalah beberapa diruang rapat kerajaan beberapa hari yang lalu, membuat keadaan para dewan nampak terpecah-belah,"Ucap Buron panjang kali lebar.

"Jadi tak ada yang akan memberi bantuan selain Kalian, Tuan Buron and Hairu!,"Mulut Stela ternganga lebar ia nampak melototi sang Dewan tuan Buron.

"Aku tak tahu mereka datang atau tidak, nona Fox yang kutahu kita harus mengurus Ifirit ini untuk, mencegah korban berjatuhan lebih banyak lagi,"Ucap Buron

"Waspada Minna!, Ifirit itu datang,"Jawab Hairu.

DUAAAARK!

Tiba-Tiba ledakan jarak dekat, muncul kembali dari arah timur, bersamaan kemunculan Ifirit yang mendekati mereka, semua menatap waspada oleh Aeon yang menyerang semakin membabi buta.

"Memang dia datang lebih cepat dari apa yang kau katakan Hairu,"Ucap Stela menghelah nafas. "Kau telat,"Jawabnya.

"Ups maaf harusnya aku bilang lebih cepat,"Ucap Hairu.

"Karna sudah disini, jawabanya hanya melawanya,"Ucap Buron.

"Jadi bagaimana Rencananya Buron-san?!,"Tanya Hairu.

"Komandan Frad, perintah para prajurit Misil untuk menembak,"Perintah Buron.

"Siapkan Misil, Tembaaak!,"Teriak komandan Frad mengacuhkan perintah serta aba-aba sembari, bersamaan beberapa mortar dibidikan pada tubuh Ifirit Dan-

DUAR!

DUAR!

DUAR!

"Kekkai Cho Reppa, dalvafa Freeeezzi!,"Sebuah rapalan mantra muncul dari seseorang, bersamaan dengan sebuah segel muncul dari pijakan Ifirit. Sebuah Shadel atau kita sebut Rantai bermunculan mengikat Ifirit disana.

"Nona-Judal, Nice-Timming,"Ucap Stela. Menatap seorang wanita berambut abu-abu dikuncir dua rendah, nampak berdiri mengenakan Dress biru tampa lengan sepanjang lutut, sendal merah tali, dan sebuah tongkat sihir ditanganya.

"Tapi ini tidak begitu kuat dan bertahan lama,"Ucap Hairu, menatap dengan nada cemas menatap beberapa rantai yang mengikat Ifirit putus satu persatu.

"Maafkan aku tapi aku tak bisa mengunakan Magic spell Chain tingkat 10 ini hanya, Chain tingkat 5, Cuma Tuan Shun dan magi utama saja yang bisa melakukan itu,"Ucapnya menatap Stela. "Jadi maafkan aku,"Ucap Judal.

"Jangan berpikir begitu!,"Ucap Buron, sembari menatap Judal tajam. "Tak perlu membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain, cukup menjadi dirimu sendiri, ini adalah perang kau harus menghadapi toleransi dan ketakutanmu sendiri, kalau tidak kau sendiri yang akan tamat!,"Ucap Buron Tajam. lalu menghelah nafas dan pergi mendekati Ifirit.

"Tu-tuan Buron,"Ucap Stela berusaha mencegah lelaki, pergi namun Buron sudah berlangkah cepat sembari melakukan sumonning.

"KALIAN SEMUA BUKA JALAN UNTUKU!,"teriak Buron, sembari berlari. Dan semua prajurit memutuskan membuka jalan untuk lelaki itu.

"TUAN BARON!,"Stela berteriak saat sebuah Rantai mengekang tangan Ifirit lepas dan hendak mencengkram Baron yang tak jauh disampingnya, dan saat itu pula Sptela yang hendak berlari kearah Baron, ditahan oleh Hahjhjiru.

"LEPASKAN!,"Ucap Stela menatap pria penguna busur yang kuat dan terpilih dari klan Alcenemys.

"Tuan Baron, akan melakukan sesuatu jangan menganggunya,"Ucap Hairu menatap Baron yang masih dalam pose yang tenang saat tengan Ifirit siap menyergapnya dengan api yang membara. "Lihat!,"Ucap Hairu menunjuk.

"Eh,"Stela lalu melirik kerah Buron dan-

Pijakan indah mengulum bagai bunga

Winter membawa Suar hembusan angin

Bersama kekuatan dan keyakinan

Akan kekuatan Sejati yang indah

Datanglah saat kupanggil namamu

{oOo}

Bersamaan dengan kekuatan Dingin abadi

Kumunculkan Dirimu!

[Shiva]

Sebuah Kabut mulai mengelilingi bersamaan ribuan partikel Es langsung muncul pada satu titik disamping Buron, bersamaan hembusan musim dingin memenuhi area tersebut, semua orang disana nampak terfokus kagum terhadap sebuah mahluk biru. sosok indah seorang wanita berambut putih, dengan warna tubuh biru-pucat, dengan paras jelita nampak bergerak gemulai disamping pemanggilnya.

"Shiva! Apaaa!,"Mata Stela membulat menatap mahluk Aeon yang berstatus Queen of Ace itu benar-benar muncul dihadapanya.

"Rupanya Tuan Buron, berhasil mengikat janji pada Shiva,"Ucap Judal terkagum-kagum.

"Shiva,"Buron menatap sang-Aeon begitu pula, Shiva menatap Buron. "Maju!.

SYUUUUUTTTT!

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

[[Noir Room (setelah 30-menit kemudian) ]]

"Kau sudah lebih baik?!,"Tanya Sakura lalu menyerakan secangkir the pada Noctis. Saat kejadian beberapa waktu yang lalu, Noctis membisu bagai patung dengan tanganya mengenggam erat lengan Sakura, mengingat hal itu membuat Sakura agak salah tingkah. Keduanya bahkan anehnya tak menyadari keadaan apa-pun yang mengancam kapal beberapa menit yang lalu.

"Terima kasih Sakura,"Ucapnya dengan Sorot penuh ketulusan, ia meraih mug dan meminum the pelan-pelan.

"Bisa kau ceritakan ada apa Noc!,"Tanya Sakura.

Mendangar itu Noctis, hanya menatap dalam bungkam membuat Sakura jadi tidak enak, nampaknya dia menyakan hal yang salah disaat ini. "Maafkan aku,"Ucap Sakura dengan muka menyesal.

"Tidak bukan salahmu,"Jawab Noctis menatap Mug ditanganya seiring uapan The yang terus mengepul dari Air the yang mulai menghangat. "Sakura Aku bermimpi semua rakyat dan pengabdiku akan mati tak lama lagi,"Jawabnya.

"Haah?! Mati?,"Sakura menaikan alis dengan nada bingung, atas ucapan Noctis barusan.

"Ya, Aku melihatnya dalam mimpi,"Jawab Noctis.

"Mimpi?!,"

"Ya! Aku adalah salah satu Keturunan Lord Fatling of Etro yang selalu berengkarnasi setiap puluhan tahun, konon kami yang mendapat kemampuan itu memiliki kekampuan yang dapat melihat Jiwa dan dunia orang mati,"Jelasnya.

"Hantu!,"Jawab Sakura dengan mata terbelalak kaget, entah wanita pemberani yang bisa memukul sebuah tembok dengan sekali hantam hancur berkeping-keping, ternyata punya rasa takut yaitu hantu, jelas saja itu langka sekali mengingat Sakura tak pernah sekali pun menunjukan rasa takutnya. "A-Apa termaksut mimpi itu juga?!,"Tanyanya.

"Ia termaksut itu juga,"Jawabya.

"Jadi apa kau seorang Miko atau Shaman?!,"Tanya Sakura.

"Maksutmu?!,"Tanya Noctis bingung.

"Shaman atau Miko adalah pendeta yang menjaga kuil diduniaku!, mereka dapat meramal masa depan lewat mimpi,"Jelas Sakura.

"Ah begitu!,"Jawab Noctis dengan tatapan serius.

"Huuuh ya,"

[Sakura...Sakuraa! Sakuraaaa] Mata Sakura terbelalak saat ia mendengar suara seseorang tengah berbicara dalam dirinya siapa lagi jika itu Phonix yang melakukanya.

"Ah!,"Sakura terdiam mendengar panggilan Summon Suci yang memanggilnya lalu mengangguk dalam artian ia mendengar ucapan Phonex.

[Sakura aku merasakan hawa yang buruk tak jauh dari tempat kita terbang sekarang] Jelas Phoniex.

"APA!,"Sakura sedikit berteriak tampa menyadari raut kaget Sakura tertangkap basah dan membuat sang Pangeran menatap curiga.

"Sakura kau baik-baik saja,"Tanya Noctis namun Sakura hanya mengangguk kaku. "Ah-aha, Ya saya baik-baik,"Imbuhnya.

"Noct! Kita akan segera sampai dikerajaan Lucis, bersiaplah karna tak ada waktu santai,"Ucap Gladiolus masuk dengan langkah cepat, membuat Noctis menatap heran.

"Ada apa! Kenapa wajah kalian terlihat begitu aneh!,"Tanya Noctis.

"Kau tak menyadari apa-pun?,"Tanya Rain menaikan alis membuat tatapan Noctis semakin bingung saja.

"Ah! Kami mendapat informasi Kerajaan Diserang oleh Aeon dan sekarang dibeberapa pelosok didaerah Lucis juga mengalami kerusakan parah disebabkan oleh monster yang bermunculan,"Jelas Ignis.

"Ada apa dengan pintu ini?,"Tanya Prompto memandang heran, pada nasip sebuah pintu yang copot dari engselnya,"Membuat Sakura menatap miris hasil perbuatanya.

"Kami mendapat info dari Radio Kapal!,"Jelas Cor.

"Jadi tak ada waktu lagi Yang-Mulia kita, harus bersiap dengan resiko apa-pun yang bakal terjadi,"Jelas Gladiolus jika ia sudah menyebut Noctis sebagai Yang mulia berarti Noctis tahu seberapa parahnya masalah yang akan mereka hadapi sekarang.

[Jadi apa yang harus kulakukan!]

[Semoga mimpi buruk itu, tak akan menjadi kenyataan]

[Dan membawa kenangan pahit seumur hidup]

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

"GYAAAAAAAH!,"

Suara tergema kesakitan terdengar begitu keras, Ribuan manusia terlihat mengelepar mati, air mata yang bercucuran tak henti-hentinya bagai air hujan yang penuh kepiluan. Dari balik tirai piran kaca Kapal, Iris serius milik sang pangeran yang tiba-tiba berwarna kemerahan amarah kian meluap-luap.

Dibalik kaca kapal terbang tergambar semuanya, tergambar kenyatan, deretan kota indah lucis nampak seperti tungkai-tungkai yang retak dengan puluhan mayat bergelimpangan disana - sini.

"Noct!,"Gladiolus menatap sahabat yang kaku bagai patung, menyaksikan semua kerusakan yang terjadi, mulutnya nampak tertutup rapat seolah tak sangup mengatakan apa-pun lebih dari itu, tangan hanya membelai kepala sang pangeran yang tertunduk.

"Kota Lucis!-,"Parompto terdiam, suara terputus begitu saja, bola mata birunya membulat dengan iris biru yang mulai mengelap bersamaan air mata yang tak dibendung lagi, bersamaan emosi yang tak terbendung.

"HUAAAAAAAAHH!,"Air matanya mata Prompto keluar dengan deras. Melihat fakta yang mengerikan didepan mata, sekaligus hal yang tak ingin dilihat Noctis. Ignis yang ada disamping Prompto hanya mendekap dan memeluk sahabatnya.

[.Negri Lucis telah.]

[.Hancur.]

[-[BERSAMBUNG]-]

Disini adalah tempat aku ditemukan?

Tidak aku benar-benar tak tahu siapa diriku.

Dan dimana tujuanku.

Mengapa aku tak ingat apa-pun.

"~oO*Oo~"

Sekalipun kau sahabatku!

Aku tidak akan membiarkan dirimu mendapatkanya, Aku menemukan kenyamanan terhadap gadis itu, meski dia akan meninggalkan Dunia ini.

Lihatlah aku bukan sebagai pangeran tapi sebagai seorang lelaki dan juga sahabatmu, jangan pernah menjadi seorang pengecut.

"~oO*Oo~"

Aku adalah Eras. Namun sebagai dewa aku pun menanggung beban sebuah dunia, anda sekarang sudah menyadari Diriku yang sebenarnya, tak ada lagi yang kuperlu tutupi dari anda.

"Shun,"

Ia yang Mulia, aku ingin memberitahukan sesuatu.

"~oO*Oo~"

"Sakura Cukup! Ini sudah Cukup-"

"Ti-tidak!,"

"A-aku memang tahu! Aku akan mati. Aku tidak menyesal Mati, apa lagi dalam pelukanmu,"

Aku seperti tak merasakan rasa sakit.

Terima kasih, Sakura.

Kau sangat baik, sampai jumpa dikeabadian selanjutnya, meski singkat aku senang bertemu denganmu.

[Selanjutnya]

[Badai ditanah Lucis]

NOTE :Haliiiiilooooo! :D

Minna maaaf agak lama dengan Ubdate, Cerita saya! Soalnya masalah Tugas dunia nyata! Tolong jangan hujami aku dengan kata-kata yang pedis ya! (Pembaca : Maksutnya OPO-IKI?) Soalnya beberapa orang FB Komen dan terus nanya kapan- cerita ini bakal berlanjut.

Ini tetap berlanjut dan Fix saya berniat untuk menamatkanya! Jadi gak akan saya biarin cerita ini begitu aja. Tapi mohon sabar sodara-sodari soal kesibukan saya, jangankan mengerjakan cerita ini saya juga harus mengurus beberapa cerita lama yang harus saya kerjakan dan dah lama ditinggal begitu saja.

PESAN :

Btw bagi kamu yang mau beli Final Fantasy Remek 7 yang asli silahkan beli Di toko kepercayaan anda-jangan sampai beli bajakan! OK.

Monster wikki

Merajiha : adalah monster yang diambil Author dari game Final-Fantasy 5 yang dipercaya sebagai Simbol dari boss semua mahluk air digame itu. Konon tubuhnya seperti ulat bulu- memiliki sisik yang berwarna biru dan mulutnya selalu mengeluarkan api biru

Buat kamu yang mau mengirim ide apa-pun jangan sungkan pada saya, dan maaf gak bisa membaca dan mengomentari kalian satu persatu karna sibuk, jadi sampai jumpa lagi Bye-bye.

-(Rabu-30-Desember 2015)-

-(Lightining Shun)-