Prompto masih memandang dengan penuh terkejutan, bukan hanya Prampto saja, tapi semuanya terkejut sejak kapan Rain yang statusnya seorang Mage atau Material-arts, dapat mengunakan senjata Sword, Prompto bersumpah jika hanya keturunan murni kerajaanlah yang bisa mengendalikan senjata berupa pedang Chornost dari penguasa cahaya, karna pedang biasanya yang dikendalikan oleh manusia biasa tak akan bisa mengendalikan salah satu pedang tidak untuk kelima pedang.

"Rain...siapa...kau sebenarnya,"

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

*Masashi Kishimoto and Square Enix*

"-_-_-Woman My The Hearst-_- _-"

By

"-_- Ligthting Shun -_- "

""OOO~"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"~OOO'''

Note :

""OOO~"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"~OOO'''

"Rain siapa kau sebenarnya!?,"Parompto memandang Sosok Rain dengan wajah yang masih penuh dengan nada terkejut. Sementara Rain hanya memandang dengan tatapan datar, dan raut wajahnya semakin senduh.

Bola mata-merah Rain semakin terbias terang bersamaan, dengan butiran-butiran kristal menyelubunginya. "RAIN KAU MENDENGARKU!," Panggil Prampto mendekat, namun kembali lagi hawa mengerikan, mengeluar dari Rain hingga seakan-akan Prampto tak dapat lebih kuat untuk mendekat lebih jauh.

"Prision Sword blade,"Bola mata Rain membulat, puluhan pedang menari mengelilinginya.

[..*..]

[Tampa pandang bulu]

[Tampa pandang rasa]

[Tampa memandang kejahatan]

[Aroma kematian]

[..*..]

Seulas seulas senyuman muncul dari bibir Shun, tak ada yang dapat mengerti apa yang menjadi arah pikiranya, ia lalu membentangkan kedua tanganya, dengan kilauan mata hijaunya, dan rambut Greend surai panjangnya, memandang langit tampa batas. "Aku sudah menyelesaikan Salah satu janjiku, namun apa yang terjadi selanjutnya adalah tugas dari pembawa masa-depan," Shun terdiam sebentar rautnya berubah serius, senyumanya menghilang begitu saja. "Namun tantangan mengerikan itu belum selesai,"Ucapnya pada diri sendiri, sebuah aura tak mengenakan seolah menekanya, saay ia kini diatas tanah dipenuhi hutan terjal.

"Kau tak berubah Shun..! Entah ini sebuah istemawaan bertemu denganmu ribuan tahun lamanya,"Sesosok gadis-kecil nampak muncul dari belakang Shun, Surai indah dengan penuh keceriaan terdengar, dibalik punggung Shun.

"Kau tak berubah Lumina,"Ucap Shun, pandanganya tetap mengarah kedepan, entah kenapa ingatan yang tak menyenangkan muncul lagi, rasa muak nampak muncul kembali pada benak Shun.

"Aku Cukup terhibur bertemu denganmu, kau tak berubah bahkan tak pernah bertambah tua,"Ucap Lumina dengan nada, terdengar dibuat-buat, nampaknya seperti eh ada sesuatu yang dia pikirkan.

"Apa kau, mengincarku sekarang?!"

Tanya Shun datar, terlihat sedikit emosi pria berambut Greend itu nampak memucak, aura mengerikan muncul.

"Sudah lama aku ingin melawanmu! Penyihir antar Dimensi!,"Ucap Lumina, Shun berbalik memandang gadis itu, seulas senyuman licik terpantri diwajah cantiknya, secara tiba-tiba sebuah segel gelap terlihat terpancar dibawah kakinya, dan juga tangan kananya. "Tak akan kubiarkan, Pelindung Dewa Bahamud, lolos dariku!"

"Majulah! Aku akan melayanimu,"Tatap Shun dengan nada tajam, sebuah aura dan aura lain tampa kasat-mata nampak berbentur keras, membuat hawa-mengerikan terpantri jelas disekeliling angin, terlihat sebuah pusaran angin nampak mengeliling mereka berdua.

"Bersiaplah! Selain mengincarmu aku mengincar seseorang, dan juga sebuah akal hihihi"Ucap Lumina dengan senyuman mengerikan.

Lumina mengeluarkan sebuah cahaya hitam ditanganya, memunculkan seekor Edolash dihadapanya, namun bedanya Edolash itu memiliki bulu-yang berwarna hitam pekat, dengan aura mengerikan mengeluar dari tubuhnya, membuat Shun menghempaskan tubuhnya kebelakang agar sedikit menyisihkan jarak aman untuknya. "Hihihi, aku benar-benar sangat terkesan denganmu,"Ucap Lumina sembari mengulum senyum.

"Lari seperti biasanya, apakah mahluk buatan sepertimu hanya memiliki tingkah melawan dan kabur,"Ucap sebuah suara seseorang yang hadir dalam pesta.

DUARK!

"Oi, apa cuma aku yang merasa terabaikan disini,"Sosok seorang pemuda berambut itam Raven namun selalu diikat pony tail asal, nampak menampakan Smirk andalanya, lelaki bernotabene mungil itu nampak berdiri mengudara dengan mengenggam sabit berwarna hitam, dengan serpihan es disekitarnya, beberapa menit yang lalu telah membela tubuh Monster-kegelapan yang diciptakan Lumina.

TRAAANNKK!

TRAAANNKK!

TRAAANNKK!

Bersamaan dengan hancurnya beberapa pohon, hingga menimbulkan sedikit retakan tanah sana-sini, namun kegaduhan itu sama sekali tak menganggu pertarungan sama sekali.

"Naoto! Kau?,"Ucap Shun melirik pemuda lebih pendek darinya lewat, ekor-matanya.

"Aku ingin memberitahumu soal ini! Namun maaf nampaknya, mengaktifkan 'Magic Mirror' sedang tak bisa kulakukan,"Ucap Lelaki itu menghelah nafas, lalu mengedipkan mata. "Saat ini Noir-kun sedang mengambil Soul dan mengurus pekerjaanya tertunda, kurasa aku bisa membantumu sedikit,"Ucapnya berujar.

"Aku tak pernah memperhitungkan keberadaanmu disini,"Ucap Shun lelaki bersurai Greend itu mendekati Musuh kegelapan, dan langsung merapal Magick, kearah sekelompok musuh kecil, bersamaan cahaya-hijau nampak membuat musuh terpental.

"Terserah kau saja!,"Ucap Naoto lalu menghempaskan tubuhnya keatas, lalu mengacungkan sejata sabit hitamnya, disertai elemen beku, meninggalkan rasa menusuk pada kulit.

ZARKZ!

ZARKZ!

ZARKZ!

""OOO~"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"~OOO'''

"Hiyaaa!,"Suara gemuru terdengar amat menyesakan, bersamaan lesatan benda tajam semakin terkagis pelan mendesing dikuping. Pertarungan antar Rain maupun Sasuke belum selesai, keduanya sama-sama unggul dalam serangan jarak dekat.

Rain terhempas kebelakang menjauh pedang Sasuke siap menyabetnya dengan serangan beruntun, hingga mau tak-mau Rain harus mengunakan beberapa mantra pelindungnya. Sebuah perisai tak terlihat nampak menahan beberapa sabetan pedang Sasuke, merasa tak terima karna lawanya hanya tak menghindar Sasuke lalu melompat dan saat mereka mengudara ia menandang Rain, hingga terpental jauh hingga berapa meter.

"RAIN,"Prompto berbalik memandang Rain terlempar dengan keras tepat dibelakangnya, tiba-tiba ia menganti mode serangan dari senjata yang awalnya Hangun, bertransformasi menjadi AK-47 langsung membidik Sasuke dengan rentetan-peluru, namun dengan sigap Sasuke dapat menghalaunya dengan beberapa tebasan dan hindaran yang akurat. Parompto lalu mendekati Rain yang dalam posisi setengah terbaring, berusaha untuk bangkit dan bergerak.

"PAROMPTO!,"Panggil Harui lalu Parompto memandang sosok lelaki penguna panah itu tak jauh dari dia dan Naruto, ia lalu membidik lima-panah dalam satu tembakan lalu berkata. "PERGI!,"Ucap Harui dengan pandangan serius lalu membidik Naruto yang siap menyerang Prampto.

Prompto lalu melepaskan mode bidikanya kearah Sasuke, lalu memcoba mendekati Rain. "Jangan pernah kau mendekat!,"Ucap Harui murka, bola-matanya terbias berwarna oranye. "Jangan pernah berpikir jika orang-orang semancam kalian, bisa mengalahkan kami dengan muda,"Ucap Harui dingin.

Diarahkan sebuah panah bidik kearah, Naruto dengan tiga atau lima Bunsinya terserang satu-persatu oleh panah bidikan Hairu, tiba-tiba Hairu dikejutkan oleh sosok Naruto, dibelakangnya.

"Dan jangan berpikir aku ini sosok macam apa,"Sosok Naruto nampak berbeda hawa menakutkan mengeluar dari tubuhnya memperlihatkan hawa-berwarna kemerahan, begitu juga pupil-matanya berwarna merah, membentuk mode-jubi berekor empat, membuat pergerakanya semakin liar, bola mata Hairu membulat memandang sosok monster rubah berekor empat.

"K-Kau monster,"Ucap Hairu mendesis lalu tiba-tiba sekelebat kenangan muncul diotaknya.

((_Hairu-Memories_))

"Jadi kaukah Hairu, yang dikatakan komandan-Buron salam kenal, Namaku adalah-"Ingatan itu berawal dari sosok gadis yang menemuai Hairu dipuncak gedung Guard-Academy mencoba berkenalan dengan Hairu pertama kali, Sebelum menjadi salah satu team-member yang dipegang Buron, Hairu adalah lelaki yang anti sosial terhadap siapa-pun, tak pernah tersenyum bahkan tak ramah seperti sebelum, masalalu yang kelam mambuatnya tak mempercayai siapa-pun, semua terjadi saat dia masih bayi, sebuah desa penyihir barnama 'Anokata' diserang oleh 'Shirein' Sebuah monster raja elang, dan memakan banyak jiwa didesa itu, untuk menyelamatkan Desa-penyihir. Mereka mencoba membunuh Monster itu selama bertahun-tahun namun gagal, semua berjung pada kematian, sampai mereka semua mengambil keputusan dengan cara, menyegel monster itu, pada inang-bayi yang baru lahir, dan Hairu adalah Inang itu, dengan kejinya para-penyihir membunuh Ayah dan ibunya, lalu menyegel monster itu ditubuhnya, karna itulah Hairu mendapat hal-hal yang menyedihkan, mulai berusaha untuk dibunuh, dibenci, dimanfaat dan dianiyaya oleh berbagai pihak, hingga sampai pada Raja-regis yang membawanya, saat menemukan Hairu mengamuk didesanya, dan mencoba mengajari Hairu untuk mengendalikan Monster dalam dirinya, meskipun begitu sisi dinginya tak bisa begitu saja hilang dari benaknya, membuatnya selalu tak suka berdekatan dengan yang lain terkecuali Raja.

"Jangan mendekatiku, kau tahukan kenapa aku diangkat sebagai salah satu sebagai pelindung digaris depan,"Hairu memasang wajah kesal, saat sosok wanita penyihir mendekatinya, Hairu mencoba mundur dan membuang muka.

"Aku tak perduli dan aku tak takut padamu,"Jawab Gadis itu cetus. "Bukankah Buron-sama sudah, menjadikan kita Team, jadi sebaiknya ikuti intruksi mereka dengan tepat,"Jawab wanita itu cetus.

"Jangan memerintahku Manusia,"Jawab Hairu cetus, ia lalu mengarahkan kedua lalu mencengkram leher gadis itu. "Apakah kau gadis bodoh yang terlalu naif, haaaah! Kau bahkan tahu aku mahluk apa! Aku bukan lagi seorang bangsa-Lyea yang terhormat, aku hanya monster yang membahayakan siapa-pun dan dibuang semua orang,"Ucap Hairu dengan nada mendesis, ia merincingkan matanya lalu memandang kesal, pada wanita yang dicengkramnya.

"Aku mengerti makanya Aku,"Ucap gadis itu menuntup matanya, sementara belum menyelesaikan ucapanya ia, Hairu memotong ucapanya.

"Kau tak akan mengerti, tak akan!,"Bantah Hairu.

"Aku tak perduli jika rekanku seorang mantan percobaan, dan monster, Hairu tetap Hairu aku menerimamu-apa adanya, jangan samakan aku dengan manusia atau kau ras-penyihir seperti sebelumnya,"Ucap Gadis itu sembari memukul dadanya-pelan. "Karna kau tak sedirian,"Ucapnya membuat mata Hairu membulat.

Sosok mata biru-terpijar terang dari mata Hairu, dalam jeda singkat aura keabu-abuan keluar dari tubuhnya, membentuk sayap dari tanganya hingga merubah tubuhnya seperti monster. Dalam berapa menit sosok manusia Harui terganti dengan sosok manusia Elang raksasa, dengan sayap perak, bulu berkibar. Membuat Ignis, Gladialous, dan Buron yang telah bergabung beberapa saat yang lalu menghindari Harui dan Naruto, serta menjaga jarak aman pada kedua monster.

"Rain,"Panggil Prompto lalu mendekat, memandang sosok Rain yang mencoba untuk bangkit, Prompto lalu membantu lelaki bermata merah itu bangkit, Prompto memang menyadari Tubuh Rain sudah diambang batas, Prompto memang masih merasakan hawa mengerikan pada tubuh Rain dan juga pedang-pedang sihir yang berterbangan disekitar mereka, Prompto menghelah nafas lega, Rain bukan musuhnya ia lalu menaruh tangan Rain bahunya, lalu mengubah posisi bangkit berdiri.

"Dia bagianku! Dan jangan mencoba melarikan diri dariku,"Ucap Sasuke angkuh, terlihat tubuh Sasuke juga mengalami luka yang cukup parah dibuat dari pertarunganya dengan Rain sebelumnya. "Aku tak akan membiarkan satu-pun kalian hidup jika kalian tak memberitahukan dimana Sakura sekarang,"Ucap Sasuke lalu mengarahkan tanganya keatas. Langit tiba-tiba berubah warna menjadi gelap, bersamaan cahaya petir entah datang dari mana nampak menyelimuti lengan Sasuke yang terangkat, seolah mengundang petir-magis, bersamaan bola matanya merincing memerah. "Kalian tak akan bisa lari dariku!,"Desis Sasuke dengan pandangan menajam.

"KOU NO KIRIIINNNN!," sekelebat petir bermuculan dari angkasa, lalu seolah tertarik pada tangan Sasuke, dengan berkumpul menjadi bola petir raksasa dan diarahkan pada, Parompto dan Rain. "Terimalah ajal kalian,"Ucap Sasuke lalu melempar bola besar itu pada mereka.

"PROMPTOO!,"Teriak Gladiolus lalu menatap kedua pemuda itu, dan mengabaikan Kakashi yang menjadi lawanya.

"Anak itu kenapa malah mengunakan Jurus itu,"Runtuk Kakashi membatin, wajah dibalik topengnya juga nampak mengerut.

"RAIN!,"Ucap Ignis, yang saat itu sedang bertarung melawan Sai, Buron yang juga masih melawan Hinata dan Ino secara bersamaan dibantu Shiva, sementara kondisi Naruto dan Harui nampak sedang mengamuk sebagai monster, dan saling beradu jotos diudar.

DUAAAARRRRTTTTTT!

Sebuah ledakan, besar nampak terjadi dengan amat dasyat, layaknya sebuah bom mekanik versi kecil, membuat dataran bahkan puluhan pohon hangus terbakar, membuat kondis tempat itu porak-poranda. Cahaya itu muncul dan membias beberapa detik, lalu menghilang menimbulkan kepanikan orang-orang disana.

"RAIN PAROMPTO!,"Teriak Gladialous mengabaikan musuh lalu menatap Sumber ledakan apa kedua rekanya mati akibat serangan tadi.

SRAK!

Hawa asap yang sebelumnya menebal, menjadi menghilang secara cepat hingga membuat pandangan Semua orang dapat melihat Fokus dengan jelas, namun Bola mata Gladiolus membulat menatap kejadian dihadapanya. Prampto nampak baik-baik saja dan berhasil selamat dari ledakan, akan terapi berbeda sangat Jauh dari Sosok Rain yang terlihat mengenaskan, dangan posisi setegah posisi dirangkul Prompto, tangan lainya juga tengah terangkat dan mencipatakan tameng dari ribuan pedang, hingga serangan itu tak membuat serangan besar tadi mengenai mereka. "Ra-Rain apa yang Kau!,"Ucap Prampto membulat memandang wajah pemuda dalam rangkulan terlihat sepucat mayat, bola matanya juga masih memancarkan cahaya merah kelam.

Rain terdiam sebentar lalu memandang wajah Prampto yang nampak meneteskan air mata, apa lagi saat Rain terbatuk darah membuat keseimbangan keduanya goyah, membuat Rain terjatuh dengan tubuh nyaris menghantam tanah, namun Prompto berhasil menahan tubuhnya, lalu menarik tubuh Rain dalam pelukanya. "Ka-kau melindungiku! Membuatmu seperti ini,"Isak kecil Prompto.

"A-apa maksutmu!,"Tanya Rain dengan pandangan terbata, wajahnya benar-benar penuh dengan darah, karna mulutnya yang muntah darah dengan nada amat sesak, memberikan Seulas senyum tipis pada Pemuda pirang itu. "Kita ini teman, bukan,"Ucap Rain membuat bola mata hijau, Prompto membulat.

[Prompto Memories]

Sosok remaja berusia 14 tahun, berambut pirang, berkacamata dengan bentuk tubuh gemuk, mengunakan kaos strap hijau putih dengan dengan logo 7, celana pendek dan kaos kaki hitam\sport-hitam tengah memegang sebuah kamera-digital berwarna merah dengan wajah tertekuk dan berwajah datar sembari berjalan melewati jalanan tol dari sekolahnya.

DUAK!

"Huaaaah!,"anak kecil itu terkaget saat ia terjatuh diTol, dengan tersungut-sungut bangkit dari posisinya yang memalukan. Akibat bertubrukan tak sengaja dijalan itu.

"Kau baik-baik saja!,"Suara seseorang terdengar membuat pemuda-gemuk itu memandang siapa yang bicara. Sosok anak lelaki berambut Ravend sebahu bermodel pony pixy, yang diikat pony-tail, beriris hijau, mengenakan sweater hitam dan celana abu-abu, sebagai bawahan sendal tali gunung membungkus kakinya, dari tampilan dia nampak dari keluarga biasa. Ia mengarahkan tanganya kearahnya. "Ayo kalau lama-lama kau jadi kotor disitu,"Ucapnya sembari menarik lelaki-kacamata itu lebih kuat hingga lelaki akhirnya bisa berdiri tegap.

"Terimakasi namaku Prampto, Prampto Argentum,"Ucap anak-lelaki berambut pirang itu sembari terkesan gugup.

"Namaku Rain, Rain Oliver,"Ucap pemuda itu sembari menepuk debu pada tubuh pemuda bernama Prompto.

"Kau baik-baik saja kenapa sendirian disini?!,"Tanya Rain sembari memandang datar, sementara anak yang bernama Prompto, hanya terpekur sejenak melihat tingkah laku pemuda tampan dihadapanya.

"Aku baik-baik saja!,"Ucapnya mengangguk, Pemuda itu memandang, dengan tatapan legah, lalu mata hijaunya mengarah kearah sebuah kamera-digital berwarna merah yang masih diatas tanah.

"Apa ini punyamu!,"Tanya Lelaki itu lalu berinisiatif membungkuk memungut, kamera itu, namun matanya berkedip sebentar karna tak sengaja menyalakan kamera dan melihat isinya, terlihat beberapa lembar gambar, lelaki itu didepan cermin sembari telanjang dada, dan memfotonya dirinyadengan posisi yang sama.

"A-ano tolong jangan liat itu!,"Ucap Pemuda itu dengan wajah malu. Mungin ketika melihat foto itu orang lain akan salah paham terhadap dirinya, atau dianggap menjijikan, namun saat merebut kameranya justru Rain menyembunyikan kamera digital itu dibelakangnya. "A-aku m-ohon kembalikan benda itu sangat memalukan,"Ucap Prampto dengan wajah memerah.

"Ne? Apa Kau sedang mencoba menguruskan badanya!,"Tanya Rain datar membuat bola mata Prompto membulat, sementara tangan Rain lalu mengarahkan kembali Kamera yang sebelumnya dikembalikan pada Prampto. "Berjuanglah semoga kau berhasil, aku lihat tubuhmu mulai sedikit-demi sedikit menurun,"Ucap Rain berbalik membelakangi Prompto setelah menyerahkan kamera itu pada Prampto.

"Hoi!,"Panggil Parompto, membuat Rain menoleh mendapati Prompto menyerukan sesuatu yang sedikit canggung. "A-Aku belum pernah melakukan hal yang terbaik, aku bukan seseorang yang pandai untuk berteman, jadi aku mohon jadilah teman pertamaku, sebelum orang itu mengakuiku!,"Ucap Prampto dengan muka-memerah.

"Ah! Berteman denganmu?!,"Tanya Rain.

"Hai!,"Ucap Prampto mengangguk.

"Tentu saja! Tapi-,"Ucap Rain memiringkan kepalanya kekiri dan hanya mengeleng. "Akan tetapi statusku ini dibawah kaum bangsawan dan juga kau masyarakat loh apa kau tak akan malu, sebaiknya jangan,"Tolak Rain datar.

"Apa kau kaum pelayan!,"Tanya Prompto.

"Iya, jadi begitulah!,"Ucap Rain berbalik badan, menyatakan itu membuat wajahnya memandang sendu. Kaum bangsawan, atau rakyat berbeda kaum pelayan yang dianggap paling rendah dalam status sosial, membuat orang mencap miring kaum tersebut.

"A-aku tak perduli masalah hukum atau sebagainya,"Ucap Prompto seperti mau menangis, membuat bola mata-hijau Rain membulat kebingungan. "Aku mau berteman bukan mencari status,"Ucap Prompto.

Melihat kengototan Prompto hanya membuat Rain menghelah nafas berat dan berkata. "Baiklah-baiklah Salam kenal Prompto,"Ucapnya memberikan seulas senyum tipis diwajah betonya

Bola-mata biru Prompto membulat sendu, air matanya mulai jatuh ia lalu memeluk Rain yang sekarat didepangkuanya, dengan kondisi itu dia tak sanggup melakukan apa-apa saat ini.

"Dimana kau Noct ~to, Rain dan semua membutuhkanmu,"Isaknya dalam hati.

"Noctis, ada apa!?,"Sakura menatap wajah Noctis yang terdiam mata lelaki itu menatap sesuatu pada awan gelap disisi-barat daya.

"Perasaanku tak enak, Sakura!,"Ucap Noctis sembari memandang dengan wajah penuh dengan kecemasan, dan tak menyembunyikan wajah cemasnya dari gadisnya itu.

"Aneh disana ada sebuah ledakan, dan langit langsung berubah abu-abu, ini bukan kejadian alam yang biasa,"Ucap Cindy dari atas mobilnya, memandang dari jendela. "Ne Nocto-kun apakah kita harus, memeriksanya?!,"Tanya Cindy.

"Ya aku rasa begitu! Ne Cindy bagaimana dengan keadaan disana!,"Tanya Noctis.

"Jangan Khawatir beberapa Team gabungan telah bergabung dan mengamankan keadaan disana,"Ucap Cindy.

"Lalu bagaimana Ayahmu?! Dan Henri!,"Ucap Sakura, menghelah nafas khawatir, sementara Cindy hanya tersenyum manis.

"Tak-usah Khawatir mereka sudah ditempat yang aman!,"Ucap Cindy, menghelah nafas. "Chocobo putih yang kau selamatkan juga dibawa oleh petugas ditempat aman,"Ucap Cindy.

"Syukurlah,"Ucap Sakura. "Jadi bagaimana sekarang Noct!,"Tanya Sakura, melirik sang pangeran yang memandang kabut ledakan itu.

"Ayo kita periksa, kesana!,"Ucap Noctis lalu menarik tangan Sakura, dan memasuki truk milik Cindy, lalu mobil truk melaju kencang menuju arah barat daya.

[Rain Dream]

Sosok Rain tertidur mengambang antara alam kenyataan dan ruang vana, lelaki itu nampak tertidur dengan posisi mengambang diudara, dengan keadaan yang begitu hampa dan kelelahan.

{Bangun...bangun Rain} Sebuah cahaya putih bagai kelereng mendekati tubuh Rain dan membangunkanya dengan lembut.

"Eng...Aku dimana?!,"Rain menghelah nafas sembari mengenggam kepalanya dengan kuat."Ya! Aku ingat, aku kalah!'

{Tidak, kau tak kalah}

"Aku sudah kalah! Ya aku memang kalah,"Ucap Rain buram teringat pula sebelum dia tak sadarkan diri Prompto sempat menangis memandanginya.

{Kaulah yang belum, siap dengan perubahan dalam dirimu, tapi kau tak kalah}

"Haaah,"tanya Rain kebingungan.

{Kau takut, jelas kau takut dengan kekuatan yang baru saja bangkit}

"..."Rain hanya menundukan wajahnya, memandang datar cahaya tersebut tampa sepatah kata-pun.

{Aku akan mengajakmu kesuatu tempat}

"Kemana?!,"Tanya Rain dengan nada bingung.

{Ketempat dimana kita akan menguak masalalumu pelan-pelan}

[RAIN POV]

Aku sering mempertanyakan akan hal apa-pun itu, aku ingin melihat mereka tersenyum saat memandangiku, namun aku selalu tersenyum palsu menutupi semuanya. Aku bersyukur dikelilingi banyak orang, dan rasa perduli dari siapa-pun padaku, diriku yang jati dirinya tak jelas ini, mendapatkan sosok seorang ayah angkat yang sangat mencintaiku sampai aku seperti ini, sosok anak-pelayan sepertiku dapat memiliki teman yang hebat-hebat bahkan membuatku terasa begitu risih. Dimana sosok yang selalu disisiku adalah sosok Pangeran tertinggi dinegara ini satu-satunya junjunganku setelah sang raja yang mau memandangiku, bukan sebagai budak atau pelayan semata, namun sebagai temanya. Hal ini jadi membuatku teringat masa lalu.

[MEMORIES NOCTIS MEET RAIN]

"Siapa dia Ayah?!,"Tanya Noctis pada Sang-ayah saat keduanya sedang bersantai, memandangi Rain kecil yang sedang menyapu laman ditaman istana. "Sepertinya aku baru melihatnya"Imbuhnya memandang Sosok Rain yang saat itu berusia 13-tahun genap 3 tahun dirinya saat hidup Cid membawanya keistana.

"Dia adalah Anak dari Cid Oliver, baru saja dia bekerja disini, hm nampaknya dia seusia denganmu,"Pandang Reigis menatap sang-anak yang nampaknya tertarik dengan Rain.

"Apa aku bisa memperkerjakan dia sebagai pelayan peribadiku?!,"Tanya Noctis, melirik sang-ayah ,membuat pria itu terpekur sejenak mendengar ucapan itu, ia menghelah nafas sebelum mencari sebuah kesimpulan. Regis memang sangat tahu Noctis memang putranya yang sangatlah kalem, dan anti-sosial, akan tetapi ini cukup mengejutkan."Bolehkah Ayah, aku minta dia! Mengabdi padaku selamanya,"Jawab Noctis enteng, Tak ada yang bakal tak berikan orang tua kepada anak mereka, termaksut Regis namun jika permintaan sang-putra mahkota adalah anak kesayanganya itu bagaimana bisa.

"Tentu-saja,"Ucap Reigis kemudian.

Sebagai ayah Reigis hanya bisa mengatakan ia pada Sang-putra tampa alasan. Noctis memang bukan teripikal Pangeran-pangeran yang meminta sesuatu yang berlebihan, baik mainan, baju, liburan atau uang, justru anaknya yang selama ini yang dia tahu adalah tripikal tertutup, jarang menuntut apa-pun, doyan menyendiri, tidur, selalu dalam kamar atau kerajaan sepanjang hari, benci pesta, temanya pun sedikit.

Usai mendengar kata-kata Sang Ayah yang Setuju Noctis lalu berlari mendekati Sosok Rain yang masih menyapu-halaman, dan membuat Pemuda itu nampak kaget dengan kemunculan Pangeran. "Ah maaf Saya tak tahu anda disini, ada yang anda perlukan,"Tanya Rain yang membuang pandangan dari Noctis sembari menundukan wajahnya dengan kushu.

"Tidak!,"Balas Noctis sembari mengeleng perlahan. "Angkat wajahmu dan dengarkan kata-kata, aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting balasnya,"Ucap Noctis, membuat Rain menatap Ragu.

"Ini perintah langsung dari Ayah, mulai sekarang kau adalah Pelayanku, dan akan selalu mendampingiku kemanapun aku pergi, tak boleh menolak apa-pun yang aku minta, mengerti,"Ucapnya sembari menatap datar membuat Rain memandang bingung.

[MEMORIES PRAMPTO MEET RAIN]

"Ini,"Ucap Parompto kebingungan saat Rain menyerahkan, selembar kertas berisi catatatan, yang membuat anak-lelaki gemuk itu mendesah pelan, dan memandang Rain.

"Ini adalah Jatwal Terapi tubuhmu, pola-makan sayur-sayuran, pusp, lari maraton selama 3 jam, dan beberapa ketentuan untuk Jim-agar supaya kau kurus,"Jawab Rain sambil tersenyum kecil, sembari memandang Prompto yang memandang kertas dengan lemas.

"..."

"Ayolah Prompto, aku akan menyisihkan waktuku untuk menemanimu Jim, ayo berhubung saat ini Majikanku tak mencariku,"Ucap Rain sembari membuka sedikit kera bajunya.

"Majikan?! Memangnya kau kerja dimana?!,"Tanya Prompto pada Rain, sementara pemuda kecil itu hanya menghembuskan nafas-pelan, atas pertanyaan barusan.

"Beberapa hari lalu aku mendapat perintah, dari sang raja,"Ucap Rain.

"Keren kau kerja diistana!,"Ucap Prompto.

"Ya! Raja memerintahku untuk menjadikanku sebagai bawahan dari seorang majikan itu,"Ucap Rain.

"Lah memang dia majikan seperti apa?!,"Tanya Prompto.

"Dia adalah majikan yang lumayan pendiam seperti aku, kami seumuran, karna dia majikanku dia selalu ngotot agar aku mengikutinya kemana-pun dia pergi, melakukan rutinitasnya yang sebetulanya hampir sama dengan aku, atau kabur keberbagai tempat dan menjauhi pengawalan istana, ya akan tetapi dia tak bisa mengikutinya saat sekolah mau-pun les-kerajaan,"Ucap Rain panjang lebar.

"Dia benar-benar sangat over-posesif padamu ya?,"Ucap Prompto sembari tersenyum, sementara lelaki gendut itu hanya menepuk pundak Rain pelan.

"Ya! Namun aku tak masalah jika begitu! Kurasa kami seperti orang yang punya sifat yang sama,"Ucap Rain sembari memiringkan kepalanya memandang kearah langit yang berwarna biru-cerah. "Ayo aku temani maraton sebelum Majikanku selesai les,"Ucap Rain.

"Ayo!,"

[MEMORIES IGNIS MEET RAIN]

Suara mobil terdengar bunyi, dari sebuah lemose hitam, mengkilap yang terkesan mewah tepat didepan kediaman mewah area kerajaan, turunlah sosok seorang anak lelaki jabrik berwarna perunggu, kacamata bening, dengan busana abu-abu putih penuh gaya yang formal, membuka pintu mobil kap belakang sembari mempersilahkan sosok seseorang keluar dari pintu. "Silakan turun Pangeran,"Ucapnya kukuh.

"Terimakasi Ignis,"Ucap Noctis lalu mencari-cari seseorang.

"Anda mencari siapa!,"Tanya Ignis.

"Pelayanku!,"Katanya dengan pendek, membuat Ignis menaikan sebelah alisnya heran, Tidak biasanya Noctis sang Pangeran mencari-cari pelayan. Padahal dia bisa memanggil pelayan lalu-lalang yang ada didepan mata.

"Maaf Saya Terlambat Tuan,"Ucap Rain berlari mendekat.

"Dari mana kau ini!,"Tanya Noctis tajam, pada sosok Rain berlari secara ngosh-ngoshan seperti orang yang lari dikejar hantu.

"Saya habis membantu pelayan lainnya,"Ucapnya sembari memasang wajah pucat.

"Kalau begitu, datangi kamarku 30 menit lagi,"Ucap Noctis memandang wajah Rain dengan tegas."Sebentar lagi ada pertemuan menyebalkan, dan kau juga akan ikut aku ignis,"Ucap Noctis.

"Ia Pang-,"Ucap Rain Singkat.

"Panggil Aku Noctis!,"Ucapnya Noctis membeo, dengan wajah sangat geram.

"Maafkan Saya!,"Ucapnya sembari memandang miris. Sementara Noctis lalu meninggalkan keduanya.

"Apa kau adalah pembantu baru Noctis?,"Ucap Ignis.

"Be-benar aku mengurusi semua hal tentang pangeran, untuk ini,"Ucap Rain menghelah nafas.

"Sooka!,"Ucap Ignis merincingkan mata Ke arah rain "Dengar kau namaku Ignis Kelak aku akan berdiri sebagai Tangan kanan Raja! Dan itu adalah Noctis,"Ucap Ignis.

Ignis menglu sinis menunggu, respon Rain namun dibalas oleh Rain dengan senyuman tulus"Tentu itu adalah impian yang besar!,"Ucap Rain. "Dan kurasa mengingat kau adalah putra dari salah satu kaum bangsawan sekaligus sahabat Noctis, kau akan bisa memenuhi kursi sebagai penasihat, aku mendengar banyak kabar tentang kemahiranmu dalam otak dan segala hal, kau pasti dapat terpilih,"Ucap Rain lalu meninggalkan Ignis!.

((Ternyata anaknya baik juga)).

((Mungkin suatu saat kami bisa berteman))

[MEMORIES GLADIOLUS MEET RAIN]

Seorang lelaki dengan tampang layaknya seorang preman nampak memalak beberapa orang, dipasar kondisi pasar kios yang ada dipesisir Atlasfra, kebetulah lokasi itu belum ada Posko penjagaan, membuat lingkungan itu selalu menjadi sarang pemalakan atau-pun perjudian.

"Jangan ganggu aku!,"Seorang lelaki berambut acak-acakan tergerai, mengenakan kaos-oblong hitam, dengan celana jub-kotak-kotak, bersepatu kats abu-abu, memandang tiga orang pemalak, nampak memandang dengan wajah meremehkan, tak ada yang berani menolong sang anak, karna mereka adalah Preman yang selalu mencari masalah dan memalak toko membuat mereka orang yang ditakuti.

"Serahkan uangmu bocah!,"Ucap salah satu pemalak, dengan tidak tahu malunya memalak anak-anak.

"Pergi kalian!,"Ucap Anak itu kesal. Pemalak itu mengeram, lalu menarik kera baju, sang anak dengan kasar.

"Hei! Jangan ganggu dia!,"Ucap sebuah suara, dan itu adalah Suara Rain. "Apa kalian tak malu menganggu anak-anak. Ucap Rain lalu mengarahkan tangan kedepan, dengan sebuah api keluar dari tanganya.

"Anak itu penguna sihir api!,"Ucap sang berandal lalu berlari kocar+kacir, lalu Rain mengambil kesempatan menarik anak itu, mencari tempat aman.

"Namaku Gladiolus!, siapa kau ini?,"Tanyanya usai lari dari para brandal tadi.

"Namaku Rain Oliver,"Ucap Rain sembari terus berlari.

[Kembali lagi kekeadaan]

"Haah?! Aku dimana,"Ucapku saat sadar sepenuhnya Tubuhku tak bisa bergerak! Aku menatap tubuhku yang kini melayang diudara. Dengan latar, ada istana, langit mendung dengan tumpukan winter yang padat, membuatku terheran-heran.

Aku memandang keadaan istana itu setengah hancur, kulihat orang-orang berlarian kemana-mana, banyak orang tak sanggup melarikan diri, lautan darah mengalir dengan bau menyakitkan kepala, aku memandang istana itu dan aku yakin itu adalah istana Caleum, milik klan lucis namun entah kenapa ada beberapa bagian yang agak berbeda.

Saat itu aku melihat gemuru istana, sosok naga besar membumbung diangkasa bersama sumon-sumon jahat, yang berada disini istana hancur-ya mereka nampak berantakan, aku terdiam ditempat tubuhku seolah mendapat shock ringan. Tiba-tiba tubuhku terseret dan melayang sendiri, kesebuah ruangan didalam istana, tampa kendaliku, tampa arahanku, tubuhku melayang tampa sebab.

"Hah!"

Bola-mataku melebar sempurna, memandang sosok-seseorang laki-laki ya! Itu dia Lelaki yang selalu masuk dalam jiwa alam sadarku, ia nampak berdiri ditatah istana itu sembari memeluk seorang anak-kecil, sembari ditangan lainya mengenggam tangan seseorang wanita bersurai softpingk.

"Apa-kah ini akhir dari segalanya,"Suara Wanita pink itu nampak tegas, pandanganya terfokus pada banyaknya pasukan musuh yang mendekat mengelilingi mereka, dan nampak engan melepaskan tangan lelaki itu.

"Jika itu benar!,"Suara demingan terdengar dari Lelaki itu, dan ia mengantungkan kata-katanya. "Aku tak akan membiarkan apa-pun terjadi pada kalian,"Ucap Lelaki itu berkata, bola mataku membulat terlihat ribuan Chirstal-Chirstal indah bertebaran dilangit membentuk diri mereka sebagai senjata, pedang, kampak, palu, parang dan mengelilingi mereka, mata merah berdesir indah dipupilnya.

"TAK AKAN AKU BIARKAN KELUARGAKU, KERAJAAN ATAU PUN NEGERI INI JATUH PADA KEGELAPAN,"Teriaknya lantang bersamaan bolamata memerah terbias semaki terang dan indah, dengan kilau penuh kemarahan. "RAJA LUCIS CALEUM TAK AKAN MEMAAFKAN KALIAN,"Ribuan Kristal bertaburan diudara menunjukan Wujud sebenarnya, menyerupai senjata-senjata berupa pedang indah yang mengambang bersamaan semilir angin disakitarnya.

(( Apa dia raja )) Ucapku tak percaya mendengar ucapanya, ia lalu menarik seseorang anak dalam gendonganya, lalu tanganya yang lain memegang tangan sang wanita, yang kemungkinan sosok istrinya.

(( Tapi dia bukan Raja Regis ))

(( Jika dia bukan Regis, dan ini Caleum ))

(( Apa jangan-jangan lelaki itu ))

"Ayah!,"Sebuah pekikan Anak kecil itu mengerat mengalungkan tangan pada sang lelaki.

"Kau takut!,"Tanya sang-lelaki.

Anak itu mengeleng "jika Ayah dan Ibu kalah aku tak masalah mati bersama kalian,"Ucap anak itu.

(( Astaga...Tidak mungkin Anak itu ))

"Aku juga akan mati bersamamu Noct,"Wanita tersenyum pasrah, sembari menguatkan gengaman tanganya pada lelaki yang, nyatanya ada Noctis sendiri.

"Aku bahagia memilikimu Sakura,"Ucap Noctis sembari merangkul sang Ratu dengan erat.

(( Tidak..)) Aku membulatkan mataku, aku mendelik dengan nada gemetar, air mataku jatuh kepelupuk dan tak tertahankan, aku mengerang kuat, seolah aku tak bisa menerima kenyataan bahwa aku. Bahwa aku Putra Noctis sendiri.

Aku melihat setumpuk puluhan mayat-mayat berjatuhan bagai boneka rusak, atau robot yang berceceran oli yang terburai hancur, mereka prajurit yang tak kenal menyerah mati sia-sia, saat mendekati Noctis tubuh mereka terpenggal rata dengan, senjata - senjata tak kenal ampun itu, ya untuk kekuatan melawan ribuan orang sendirian Noctis luar-biasa, namun ini awal dari samuanya.

tampa sengaja sebuah peledak, dilempar prajurit yang selamat, hingga membuat Noctis terhempas kebelakang, membuat sang Anak terlempar dari tanganya kebelakang, tepat tampa sengaja pada sebuah portal yang tak sengaja terbuka dan itu adalah Portal masa lalu.

"RAIIIINNNNN!,"Ucap Noctis berlari agar bisa menarik putranya dari kumbangan hitam, namun sia-sia tempat itu tertutup, dan portal itu lenyap seketika, bersamaan tubuhku seolah terikut keluar dari dunia itu, dan air mata putus asa, yang membuatku tak berdaya.

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

[Sementara di Lain Pihak]

"Luna!,"Noctis membulatkan matanya, memandang sosok gadis cantik bersurai pirang itu, mengenakan baju panjang, tampa lengan berwarna hitam renda, dengan pandangan merincingkan biasan warna merah, Noctis tertatih dengan tubuh penuh luka.

Noctis lalu melempar pandangan, dan Melihat mobil Cindy yang hancur, Cindy yang nampaknya tertatih ditengah aspal mengerang kesakitan akibat luka besar diterimanya, sementara Sakura sedang berusaha mengobatinya.

[Bersambung]

[Kamis - 23 - Juni - 2016]

Author note ;

Halo mas-dan-sis yang baca makasi atas kunjunganya ke Fic saya, tapi maaf atas keterlambatan cerita saya, dan sekali lagi maaf atas tak adanya, balasan dari surat-surat kalian banyak banget. Mulai di MGS FB, FIC, Pesan, Email tapi gak bisa saya balas karna kondisi kesehatan Author benar-benar menurun, dan juga Job didunia nyata gak bisa Author tinggalkan, makasi buat yang baca, mungkin saya akan membalas pesan-pesan kalian, part selanjutnya sampa-jumpa, maaf jika cerita author memiliki kesalah, namun author bukan penulis sempurna, tapi berusaha semaksimal mungkin.

Untuk kalian yang menyukai cerita yang bertema RPG, Petualangan atau AVG bisa baca ini, selain Woman of my Hears.

.

.

.

The Black Blossom Shine{New}

X

Dynasty Warrior

(Hero ; OC/ Shinzu Kirie & Lu Bu)

.

.

The Forland of Portalyt

X

Final-Fantasy & Fairy-tail

(Hero : Lightning & laxus)

.

.

Kingdom Hearts : The Witch destiny in of memories

X

Kingdom Hearts

(Hero : Sora & OC\Reo oroda)

[Sampai jumpa]