[TP : Stela(Pov)] :

Aku terbaring lelah diatas tempat tidurku dan memasang wajah sedih, sejak saat kondisi kerajaan menjadi hancur seperti ini, baik kabar ayahku atau pun kabar adiku yang menghilang seolah hilang ditengah kabut, ditambah masalah kondisi Noctis yang dipulangkan keistana membuatku semakin sedih pada sahabatku, kondisi sekacaw ini dan beberapa komandan yang bertugas dalam istana seolah menghilang begitu saja, tentu saja hal ini membuat banyak kecurigaan yang tercipta diistana.

"Apa yang sebenarnya harus aku lakukan,"Jawabku sembari memandang jendelaku yang terbuka lalu terbelalak memandang sebuah cahaya segel merah mengantung dilangit dan melebar.

"Apa itu?!,"

.

.

.

.

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

*Masashi Kishimoto and Square Enix*

"-_-_-Woman My The Hearst-_- _-"

By

"-_- Ligthting Shun -_- "

""OOO~"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"~OOO'''

Seisi istana cukup kaget dengan sesuatu seperti gambar segel lingkaran terlihat dilangit istana. Semua orang disana sebagian memutuskan mendekat keluar untuk melihat lingkaran itu lebih luas.

Namun kembali ditempat Perawatan Noctis, Rain dan Prompto keduanya tak ingin keluar. Mereka harus tetap disisi Noctis dan Sakura jika terjadi sesuatu.

"Treal...Lasyah...komne...ehea!,"Suara rapalan mantra sihir sedikit terdengar seperti bisikan nampak dilantunkan oleh Rain dikepala Sakura, yang nampaknya gadis bersurai pink itu tidak berdaya dan tertidur diatas Sofa.

"Benda aneh apa itu!,"Prompto berguma menatap segel bercahaya merah dilangit, sembari mencoba menelpon seseorang. "Apa segel itu akan menghancurkan kita semua yang berada diistana ataukah ada sesuatu yang lain hingga dia aktif,"Jawab Prampto berguma didepan beranda tempat Noctis dirawat.

"Mum..sepertinya begitu,"Jawab Rain dengan nada serius, namun pandanganya teralih pada Sakura yang nampak gelisa dalam tidurnya. Ia menyeret satu kursi mendekati sofa panjang lalu duduk didekat Sakura dan menempatkan tanganya pada kening Sakura.

"Halo Gladiolus-ssu diluar!-,"Jawab Prompto langsung menyerobot setelah akhirnya berhasil menghubung sang rekanya lewat telpon gengam-nya, namun Gladiolus yang ditelponya langsung memotong bicaranya, dengan bahasa yang terburu-buru pula.

[Sebaiknya kalian tak usah khawatir, Kami akan menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya, tunggu dan jaga Noctis sekarang]

"K-Kau ada dimana?!,"Panggil Prompto dengan nada bingung.

[Aku, Buron dan Cor sedang keluar memeriksanya, bersama beberapa pasukan. Dengar Tetap jaga Noctis disana!]

THAST

Suara sambungan dimatikan membuat Prampto menghelah nafas lelah, lalu menjauhkan ponselnya dari telinganya, matanya beralih pada ponselnya yang jalur telponya telah terputus. "Bagaimana,"Tanya Rain.

"Yang lainya akan memeriksanya,"Jawab Prompto mengalihkan pandanganya dari ponsel, kepada Rain.

"..."Rain hanya terdiam dengan ucapan Parompto lalu beberapa menit ia kembali melantunkan mantranya. mata masih sibuk memandangi Sakura dan memantrai kepala gadis bersurai pink yang masih tertidur disofa, dengan Sihir tidur.

DHAK!

Suara gesekan tempat tidur bersama bunyi decitan muncul secara tiba-tiba, membuat sorot mata Noctis dan Prampto terbelalak cukup kaget dan melihat keasal suara. Terlihat Noctis yang beberapa hari tak sadarkan diri terbangun denga secara tiba-tiba dengan raut sangat ketakutan, membuat orang disekitarkan takut sekaligus senang.

"Sakura!,"Suara Noctis dengan nada rendah, Tiba-tiba Rain melihat perubahan pada mata Noctis yang memerah dan memanggil Sakura dengan nada Histeris. "SAKURAAAAA!,"Membuat seketika Prompto dan Rain mendekatinya.

Noctis nampak histeris ketakutan dan berusaha turun dari kasur mendekati Sakura. Tapi Rain menarik tubuhnya dengan kasar kembali keatas kasur. Baik Rain dan Prompto cukup kualahan menghadapi Noctis yang berontak sampai seketika.

PLAKH!

"Hentikan Noctis,"Ucap Rain, langsung menampar wajah Noctis membuat pangeran terdiam memandangi iris Rain yang berubah menjadi 'Merah' sebuah titik emosi, kekuatan terpendam justru membuat Rain mengaktifkan 'Red-eyes' tampa sadar. "Aku mohon Noct, Gadismu tidak apa-apa!,"Jawab Rain dengan nada sedih, ia lalu memeluk Noctis dengan tubuh gemetar. "Semua akan baik-baik saja!,"Jawab Rain lalu menutup matanya, hatinya pedih lalu terasa begitu sesak, namun inilah yang harus dilakukanya, ia yakin jika Noctis melihat pengelihatan yang buruk, tapi ia tak berani menanyakan apa-pun.

"Kau harus kuat Noc-to, bagaimana bisa kau menunjukan raut lemah begitu didepan yang lainya begitu juga didepan Sakura-chan,"Jawab Prompto dengan berusaha menghibur.

"..."Mendengar hal itu Noctis terdiam ditempat. Setelah itu. Rain dan Prampto mengurus Noctis selama Sakura tidur, Rain mengantikan baju sang-pangeran dari awalnya sepasang piama putih, terganti dengan sebuah kaos-hodie hitam polos, celana Jins biru donggker, dan Rain juga sudah menyediakan sepasang Sepatu-sport merah-kehitaman di dekat ranjang.

[Pip..Pip..Pip!]

Prompto melirik ponselnya yang berbunyi saat ia sedang mengambil Nampan berisi makanan, yang diambilnya dari maid kerajaan. Ia melirik layar ponsel dengan tangan kanan sementara memegang nampan berisi makanan dengan tangan kiri. "Gladiolus-ssu?!,"

[Pip..Pip..Pip!]

"Prompto?, siapa yang menghubungimu!,"Lirik Rain, lalu Prampto mendekat sembari menyerahkan nampan berisi makanan pada Rain sementara Noctis turut memandanginya tampa berkomentar secara pasti.

[Pip..Pip..Pip!]

"Akan kuangkat sebentar,"Jawab Prompto sembari tersenyum dan mengangkat ponselnya didekat mereka. "Halo Moshi-Moshi?, Gladiolus-Ssu?,"Jawab Prompto dengan nada tenang.

Tapi entah kabar apa yang diterima Prompto, raut awal yang nampak biasa saja, berubah dalam sekian detik seperti wajah Kaget dan penuh tak percaya. "NANIIII!,"

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

[BEBERAPA MENIT SEBELUMNYA]

[DITEMPAT LAIN]

Seluruh komandan dari berbagai Devinisi nampak terpancing keluar, memperhatikan simbol langit berwarna merah, lengkap dengan pasukan khusus yang mengarah pada taman di tengah istana terbukti terdapat pantulan cahaya dari simbol dan pantulanya yang mengenai tanah. "Seluru pasukan tetap siaga!,"Jawab Buron dengan tegas.

"HYAAH!,"Seluru pasukan-nya berseru dengan keras bersamaan menyusun formasi masing-masing, serta memanggil senjata Kristal mereka.

"Sepertinya akan ada sesuatu yang muncul dari sana,"Jawab Gladiolus tiba-tiba melompat diatas pembatas istana, dan memanggil senjata takana besarnya serta membela udara.

"Apa-pun itu, kita harus memastikan-nya,"Jawab Cor serius ia juga memanggil senjatanya. "Apa-pun yang terjadi kita harus menghadapi ini!,"Jawab Cor.

[Fans disini] Sebuah suara yang datang dari perangkat sambungan Wolkey nampak terdengar dari alat yang dipakai semua, komandan disana. [Kami sudah mencoba memeriksa tekanan Sihir diatas sana dengan bantuan Team penyihir Sensorik dan sepertinya itu, adalah sihir pelengkap] Jelas Fans.

"Sihir Tyape Pelengkap?,"Jawab Gladiolus.

[Benar!] Jawab Fans. [Sepertinya itu adalah gelombang sihir teleport yang dibuka seseorang untuk tujuan tertentu] Jelas Fans.

"Apa-pun itu!,"Jawab Cor dengan serius. "Jangan lengah akan apa-pun!,"Jawabnya kembali melirik semua anak buahnya yang ia pimpin.

Sesaat kemudian seimbol sihir merah diatas langit istana membesar. Dengan sebuah cahaya layaknya sebuah lubang portal terbuka, membuat semua orang kaget luar biasa, sembari mengeluarkan cahaya merah seperti laser kecil yang keluar dari lubangnya. Cahaya itu sampai masuk kedalam lingkungan istana.

SRINGG!

Dan membuat semua orang terkejut saat melihat, cahaya itu memantul bersama energi kuat membuat semua orang tak berkutik. Sebuah benda terdengar seperti lonceng dengan suara nyaring nyaris membuat semua orang terkaget. Kini Cahaya simbol serta portal itu menghilang dilangit digantikan beberapa sosok tak asing terlihat ditaman istana, tepat dimana simbol Cahaya tadi terpantul. "Anda!,"Mata Cor membulat tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Sosok Regis muncul dengan keadaan segar bugar, bersama dua-puluh pengawalnya yang sebelumnya ia bawah dari tempat perjanjian beberapa minggu yang lalu, sebelum menghilang tampa kabar, dan disana juga terdapat Shun yang sebelumnya keberadaanya tidak diketahui. Tentu saja ini adalah hal yang mengejutkan untuk setiap orang.

"Oh..apa kabarmu Cor!, kau sehat-sehat saja!,"Jawab Shun dengan nada santai.

"KAU!,"

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

"NANNII!,"Teriakan Prampto sempat membuat Noctis dan Rain terkaget dan turut memperhatikan kewarasan lelaki dihadapanya. Mereka berdua menyengit dalam diam, namun raut dari wajah keduanya sudah cukup memberikan pertanyaan 'ada apa?' Pada Prompto.

"Ada apa?!,"Tanya Noctis.

"Kau pasti tak akan percaya Noct-to!,"Pandangan penuh kelegaan tersirat dari wajah pria tampan berambut pirang, dengan wajah yang masih terkejut.

"Nani?,"Tanya Rain.

"Ra-Raja Regis sudah kembali kemari, Tuan Shun juga telah pulang dengan selamat,"Jawab Prompto dengan nada girang sembari menunjuk-nunjuk ponselnya.

"Ayah sudah kembali,"Jawab Noctis melotot, sementara Rain hanya terdiam sembari ditarik oleh sesuatu membuatnya melamun.

"Sudah dimulai ya!,"

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

"Maaf nampaknya kau baik-baik saja!,"Jawab Shun, sang penyihir kerajaan yang doyan main harpa itu kembali keistana dengan tampang mod kalem - kalem santai(?).

"BERISIK KENAPA TAK SEBAIKNYA KAU DIMAKAN NAGA WAKTU ITU!,"Jawab Cor dengan nada Geram, ia selalu kesal dengan tingkah penyihir yang ada dihadapanya dan demi tuhan, apa-apaan mengatakan 'Nampaknya kau baik-baik saja' apa Shun ingin Cor mati.

"Goomene~,"Jawab Shun pasiv, nampaknya penyihir berambut hijau itu hanya menghelah nafas, jika sang-rival sekaligus sahabatnya bisa melontarkan kalimat pedas begitu. "Aku hanya memastikan kalau kau ini masih hidup atau tidak,"Jawab Shun.

"KAU!,"

"Maaf menyela-"Regis menaikan sebelah alisnya, dia tahu latar belakang Komandan serta Magican kerajaan satu ini, mereka seperti Rival sekaligus sahabat yang sangat akrab, yang memang selalu berdebat sepanjang waktu tampa tahu keadaan. "Aku ingin segera menemui Noctis Sekarang,"Jawab Regis sembari tersenyum, sementara Shun hanya memberikan respon

"Tentu saja yang Mulia mari ikut saya,"Jawab Buron menghelah nafas datar.

"TUNGGU YANG-MULIA!,"Sebuah handrikan datang dari Ignis nampak memanggil dan menunjukan sisi Hormat penuh keseriusan, dibelakangnya terdapat Gladiolus yang juga melakukan Hormat dengan penuh Serius. "Maaf jika kami menghalangi kepergian anda, tapi sebelum anda menemui pangeran kami ingin menjelaskan sesuatu pada anda,"Jawab Ignis.

"Ignis apa yang ingin kalian jelaskan?!,"Tanya Regis dengan memandang serius kedua bawahan yang menjadi pelindung serta sahabat putranya.

"Kami ingin menjelaskan soal,"

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

"Eng.." Sosok lelah seorang berambut Pink nampak terlelap diatas sebuah sofa panjang, berbahan empuk. Sementara Sosok lelaki berambut ravend terduduk diatas sebuah kursi dengan tangan kiri yang belum terlepas selang infus, terus terduduk disitu sudah beberapa jam yang lalu, tak ada orang lain selain mereka berdua dikamar perawatan itu.

"Ba-Bagaimana kesehatanmu?!,"Tanya pria itu tersenyum sesaat sebelum, mendekat dan mengecup dahi sang wanita, beriris hijau. "Sakura,"Jawabnya tenang.

"Noctis kau?!,"Bisik Sakura dengan pandangan Hijau mengerjap dengan nada legah yang amat sangat, saat menyadari tangan Noctis membelai kepala Sakura dengan lembut. "Kau sudah sadar,"Jawab Sakura.

"Berkat dirimu!,"Jawab Noctis sembari tersenyum. Sementara Sakura bangkit dengan posisi baring dan duduk dihadapan Sakura. "Aku mungkin tak akan sembuh seperti ini?!,"Tutur-nya sembari mengelus pipi Sakura dengan pandangan lembut.

"Sakura bolehkah aku bertanya?,"Jawab Noctis dengan nada dingin dan terasa aura disekitar Noctis yang membuat Sakura merinding.

"Ya?,"Tanya Sakura menaikan alis, dengan pandangan Noctis yang awalnya memiliki mata yang 'Biru' berubah menjadi 'Merah' lalu memandang mata Puppil 'Hijau' Sakura.

"..Aku.."

"..Kau.."

"..Sakura,"

"Yaa? Noct,"

"Maukah kau?! Menerima perasaanku! Dan selalu Hidup disisiku? Sepanjang sisa Hidupmu bersamaku,"Tanya Noctis.

"Noctis,"Ucap Sakura merasakan semua aura tubuhnya menegang, beberapa butir keringat dingin lalu jatuh dari pelipisnya, menutup mulutnya, dengan gemetaran. "Apa yang kau maksut,"Sakura tak bisa melanjutkan apa yang ia bilang, karna pikirkan seolah tercetos, dan jantungnya yang tiba-tiba berdebar dari pergerakan seharusnya.

Menatap pergerakan sikap Sakura, Noctis hanya memandang dengan wajah dingin yang tercampur 'Kikuk' tapi Sang Pangeran masih bisa mengendalikan perasaanya yang seolah ingin meledak akibat berdebar jantunya tak normal. "Ya kau benar.. Aku Ingin Melamarmu!,"Jawab Noctis dengan nada serius. "Aku mencintaimu!,"

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.[:FLASTBACK :]

[:30 Menit Sebelumnya:]

"A-Ayah!,"Noctis terdiam. Memandang Sosok Regis nampak memasuki Ruangan peristrahatan sekaligus Ruang Rawat Noctis, bersama Shun.

"Yang-mulia,"Baik Rain dan Prampto duduk bersimpuh hormat setelah memandang Sang 'Raja' yang hanya datang dengan 'Penyihir terpercaya istana' tampa adanya pengawal hanya mereka berdua.

"Kalian sudah berusaha, sangat baik terimakasi,"Jawab Regis sembari tersenyum tulus, lalu pandanganya langsung teralihkan pada tubuh Sakura yang terbaring tak jauh disofa empuk disebrang ranjang. Lalu matanya kembali memandang serius Noctis dengan pandangan tak bisa dijelaskan.

"Bisakah kalian meninggalkan kami berdua?!,"Tanya Regis dengan nada datar. "Ada yang ingin kubicarakan dengan Noctis disini,"Jawab Regis.

"Baiklah jika begitu,"Jawab Prompto dengan nada tersenyum, lalu ia mendekati Sakura dan mengarahkan tanganya untuk mengendongnya.

"Kurasa aku bisa meneleport gadis itu keruangan lain,"jawab Shun sembari tersenyum.

"Tidak! Biarkan saja dia disini,"Jawab Regis. "Karna sepertinya, dia sudah dimantrai untuk tidur, kurasa dia tak akan menganggu pembicaraan kami,"Jawab Regis.

Usai berkata hal itu, Shun, Rain dan Prompto memutuskan keluar dengan tenggelam dalam pikiranya masing-masing dengan kondisi terdiam, meninggalkan Ayah dan anak itu dalam ruang dan Privasi secara rahasia.

"..."

"..."

"A-Ayah,"Noctis lalu memandang Canggung dan mencoba memulai argumen, namun pemikiranya terasa blak tampa ide percakapan sama sekali.

"Tak kusangka! Selama kepergianku banyak yang terjadi?!,"Jawab Regis lembut, pria itu menghelah nafas dan duduk disisi Ranjang Noctis. "Kerajaan begitu berubah! Dan kau juga!,"Jawabnya langsung keintinya.

"Ayah!," Noctis membuang pandanganya kebawah lalu memandang telapak tanganya-sendiri.

"Jadi gadis ini mampu merubahmu! Aku bisa merasakan itu,"Jawab Regis.

"..."

"Kau masih ingat saat kau selalu mimpi buruk saat masih kecil,"Tanya Regis. "Aku selalu bilang, saat kau bermimpi jadilah orang kuat, dan lawanlah apa yang berani menghalangimu,"Jawab Regis.

"Karna dalam Mimpimu Kaulah rajanya,"Jawab Noctis dengan nada datar sembari menginggat apa yang dikatakan Regis saat dia masih kecil. "Tapi itu hanya mimpi dan semua sudah berubah,"Kini Noctis terdiam, ungkapan Heroik dari ayahnya juga tak berguna sama sekali untuknya.

"Boleh kusimpulkan akan sesuatu!,"Tanya Sang Ayah lalu memandang kearah tertidurnya Sosok Sakura. "Jika Gadis berambut Pinky berada didalam mimpi dan ternyata dan keadaanmu ini bukanlah dunia nyata, apa yang kau inginkan?,"Tanya Regis.

"Apa maksut Ayah,"Tanya Noctis.

"Ini hanya sebuah permisalan! Cukup jawab yang tertera dikepalamu,"Jawab Regis datar.

"Aku tak ingin terbangun, aku ingin berada dalam mimpi itu jika bisa,"Noctis memandang sang Ayah dengan tatapan mata penuh kesedihan, dan jawaban jujur Noctis membuat Regis menghelah nafas cukup dalam.

"Seperti apa?,"

"Dia satu-satunya Sosok gadis yang selalu melihatku bukan sebagai pangeran, dia sosok gadis yang tegar membangun perasaanku untuk bangkit, Hyperactive namun tak manja, dewasa dan selalu memenuhi kepalaku yang sebelumnya tak tertarik oleh seorang wanita, selama ini!,"Tutur Noctis dengan jujur.

"Jika itu keinginanmu!,"Jawab Regis membuat tatapan aneh Noct memandangnya. "Perjelas perasaanmu,"Jawab Regis.

"Eh!,"

"Bukankah kau tahu jika Sakura datang dari dunia lain, Ignis sudah menjelaskan padaku,"Jawab Regis.

"..."Pandangan Indah berwarna Merah delima milik Noctis nampak bersinar, dan tak bersuara sama sekali.

".."Regis hanya memandang mata indah Merah milik Noctis yang bersinar sesuai, tingkat emosi tampa disadari putranya. "Kalau begitu nyatakan padanya sebelum dia pergi dan kau tak akan bisa menemukanya, aku mendukungmu,"Ucap Regis.

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

Suara ramai-ramai terdengar dari luar. Para prajurit istana sedang berbondong-bondong menyiapkan pasukan dan garis pertahanan. Semua jadi serba sibuk. Saat Rain, Prampto dan Shun dipinta keluar dari ruangan Noctis. Rain memutuskan memisahkan diri dari keduanya dan berdiam diri dilorong yang sepi.

Matanya lalu sibuk melihat beberapa baris pasukan yang sedang disiapkan beberapa komandan lewat jendela lantai dilorong.

Ia memandang dengan tatapan kosong.

Ia menghelah nafas gusar, ingatanya kembali kesaat menenangkan Noctis yang nampak BADTREK dan tak terkendali. Membuatnya harus menyadarkan Noctis dengan menampar. Saat melihat tak terkendali Ayahnya juga melihat kondisi Ibunya benar-benar jatuh. Membuatnya merasa semakin sedih. Pertahanan-nya nyaris jatuh padahal dia bersumpah agar tetap terlihat biasa saja, meskipun dirinya sudah tahu dia itu siapa.

Saat menampar Ayahnya, dengan Emosi yang hampir saja membuatnya nyaris Jatuh. Ia hanya bersumpah puluhan kali dalam hati pada Etro dan pada Ayahnya atah perbuatanya, sembari memeluk Noctis kala itu.

Tes!

Tes!

Tes!

BRUK!

Air mata Rain jatuh dan lolos begitu saja, sembari memukul dinding dipinggir jendela, dengan tubuh gemetar, ia sudah cukup dipersoalkan dengan masalah silih-berganti, apa-lagi ingatan-ingatan sepuluh tahun yang lalu didunianya, sungguh sebuah keajaiban ia bisa memberi ekspresi biasa seolah tak terjadi apa-apa.

Tapi kondisi benar-benar terpuruk diatasnya terpuruk.

Ia bahkan tak yakin apa dia bisa menatap Sakura, atau menatap wajah muda Ayahandanya, menatap wajah Prampto, Gladiolus dan Ignis atau Regis, dia juga harus sadar posisi disini dia hanya bodyguard yang menjadi Pelayan dari Noctis. Tapi kakinya bahkan menolak bergerak menemui semua orang.

"Rain-suu!,"Panggilan Familiar terdengar, membuat Rain hanya membulatkan mata Hijaunya kesamping mendapati sosok Prampto yang memandangnya sungguh Intens.

"Aku sudah Yakin jika terjadi sesuatu padamu!,"Jawab Prampto bergerak mendekat. "Ada apa sebenarnya, bicaralah padaku,"Jawab Prampto lagi.

"Aku tak punya masalah apa-apa!,"Jawab Rain.

"Kau bukan tripekal pembohong Rain, dan kau berubah semakin aneh terutama mata-mu yang berubah berwarna merah itu,"Jawab Prompto yang memojokan Rain didinding dengan menahan pundak rain dengan kedua cengkaraman ditangan.

"AKU SAMA SEKALI TIDAK MENYEMBUNYIKAN SESUATU!,"Ucap Rain tampa sengaja memunculkan sebuah kabut Kristal hingga munculah belati-putih melayang dan mengarahkan belati itu hingga mengoreskan dipipi Pramompto.

KLANG!

Melihat Noda darah yang tergores dipipi Prompto. Membuat mata Rain celengo, bagai mana tidak,(Pedang itu muncul karna emosinya yang benar-benar tidak stabil) pedang yang tadi nampak terjatuh kemudian menghilang bagai serpihan Kristal. "Maafkan aku Parompto,"

"Aku tidak masalah berilah aku jawaban yang sebenarnya! Aku hanya ingin kejujuranmu,"Jawab Prampto.

"..."Rain menundukan wajahnya kebawah, dan Prampto tetap menunggu jawabanya terjawab.

"Aku hanya merasa kau tak mungkin bisa mempercayai semua yang akan kuka-,"Rain berkata dengan lambat, namun Parmpto menghandriknya sebelum dia menyelesaikan kata-katanya.

"Aku selalu percaya padamu! Apa yang harus kau ragukan, kau dan aku sudah seperti sudara dari kecil, kau ingat itu,"Jawab Prampto.

".."

"Prampto.."

"Umm?,"

"Apa yang pendapatmu jika aku,"Rain menjeda kata-katanya, dan matanya tertutup rapat. "Adalah anak yang dari Dimensi lain!?,"Jawabnya.

.[:BACKLEFT :]

[:KEMBALI KEWAKTU SEHARUSNYA:]

Suasan canggung nampak mendominasi, saat Noctis Sang pangeran memberitahukan 'Perasaanya' selama ini serta mengikat benang merah pada sosok Sakura Haruno gadis yang seharus tak berada dialam dimensinya.

"A-Aku,"Sakura memandang dengan muka tegang, lalu gemetar ia tak bisa berkata apa-pun perihal hal ini. Seolah sendi Sarafnya kaku begitu saja. Sakura tahu jika Noctis memiliki perasaan kuat terhadapnya, namun sekarang Noctis melamarnya, Uhg..demi Kami-Sama.

"A-Aku Memutuskan U-Untu-"

DUARK!

Baru Saja Sakura mau mencoba mengatakan keputusanya, sebuah dobrakan kuat terdengar dari pintu. Membuat Noctis dan Sakura melirik pintu yang terdobrak paksa. Disana terlihat Gladiolus (Pelaku si-pendobrak), Ignis, Prompto.

"NOC-TO GAWAT! LUNA DIA DATANG DAN MEMBAWA 5 LEVITHAN, SERTA DAN MENGELILINGI ISTANA,"Teriak Prompto dengan panic.

"Apa!,"

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

[Kawasan atas atap gedung tamu Kerajaan]

[Sayap Kiri istana Lucis]

[:Naruto, SaSuke, Sai, Ino, Kakashi, Hinata + Lightning:]

"Mahluk besar apa itu! Panjang sekali,"Naruto nampak melirik sosok besar panjang, dengan moncong putih, sembari melompat diatas sebuah atap atas gedung istana tempat mereka beristirahat, pada awalnya mereka berkumpul diatas saat merasakan sebuah pergerakan yang asing dari luar istana dan bermaksut memeriksanya.

"Apa Energinya sangat besar!,"Jawab Sai yang saat ini duduk dimedia burung-tintanya, bersama Ino dan Hinata (sedang mengaktifkan Byakugan-nya).

"Mereka juga Besar sekali mahluk apa itu sebenarnya,"Jawab Ino meruntuk kesal.

"Aku tidak tahu, akan tetapi tenaganya bisa disebut hampir sama dengan Kyubi,"Jawab Kakashi memperkirakan kekuatan Monster itu.

"MINNA!,"Hinata nampak memandang terkaget, dengan wajah terkejut membuat semua memandang dirinya. "Saat ini Mereka berlima berpencar dan nampaknya salah satu dari mereka kesini,"Teriak Hinata.

Dan benar saja, Para Levitan nampak berpencar diberbagai sisi kerajaan, dan juga bergerak begitu cepat mengarah kearah rombongan Naruto, karna sepertinya monster itu bisa mendeteksi Tyape sensorik dan Tyape power yang muncul dari (Naruto, Hinata dan Kakashi).

"Dia datang!,"Ucap Sasuke, lalu dengan sigap mengenggam katananya.

Moncongnya nampak dilebarkan lalu siap mengeluarkan Laser air berwarna Silver, mengarakan pada Naruto dan Yang lainya.

"STROM BLADE!,"Sebuah Cahaya petir, muncul sekitar langit yang awalnya tak bermendung, membuat Cahaya itu langsung memberi serangan kejutan pada Leviathan hingga lasernya berhenti ditengah jalan.

"Itu Leviathan!,"Jawab Lightning memandang serius dia tiba-tiba muncul diatas gedung tepat tak jauh dari Sasuke, lalu menarik kasar pedang sekaligus senjata api disarung belakang pinggangnya.

"Baiklah! Kita harus berbuat sesuatu agar tidak terbunuh belut itu,"Ucap Naruto menunjuk-nunjuk dengan panic.

"Jika begitu!,"Kakashi memandang dengan menghelah nafas, meski tak yakin bisa mengalahkan Monster itu atau tidak, setidaknya ia bisa melakukan tindakan aman untuk menyelamatkan semua orang disekitarnya. "Baiklah, Dengarkan aku!,"Jawab Kakashi dan semua mengangguk terkecuali Lightning yang turut mendengar saja. "Sai buat dua klonning burung milikmu! Agar ditempati oleh Hinata dan Ino, lalu seranglah dia dari udara,"Jawab Kakashi memulai pembicaraan.

"Yosh!,"Jawab Sai langsung mengeluarkan gulungan, dengan sebuah pening-tinta, dan mencoba mengaktifkan segel.

"Hinata aktifkan Byakugan dan cari titik lemahnya,"Jawab Kakashi.

"Baiklah Guru!,"Jawab Hinata.

"Ino tetap bersama Hinata, bantu kami mencari titik lemahnya, sebaiknya hindari kontakmu dengan Monster itu, kau adalah ninja medis yang berharga dalam kelompok!,"Jawab Kakashi.

"Wakkata,"Jawabnya.

"Naruto, Sasuke! Alihkan pandanganya! Kita bertempur jika bisa hindari kontak serangan dia,"Jawab Kakashi.

"SERAHKAN PADAKU TENTU SAJA! AYO TEME!,"Jawab Naruto dengan pandangan bersemangat.

"Hnm.."Jawab Sasuke.

"Dan aku tak tahu seperti apa kemampuan-mu karna kita baru bertemu beberapa hari,"Jawab Kakashi. "Akan tetapi mohon bantuanya,"jawabnya lagi dengan pandangan mengalihkan kearah simonster.

"Aku mengerti,".

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

[:Kawasan Taman pribadi kerajaan:]

[Tengah istana Lucis]

[:Cor, Shun, Stela, Buron, Harui,:]

"Leviathan, Ini bohong!,"Stela nampak membulatkan matanya dengan pandangan gemetar, sembari masih mengenggam Viper ditanganya.

"Apa yang kalian lihat adalah kenyataan,"Jawab Shun datar, kurasa dia tak akan muncul tampa dipanggil begitu saja,"Jawab Shun lalu mengsumon 'Harpanya' Hingga memainkan sebuah petikan 'lagu' berupa mantra agar menyerap kedalam tubuh yang lain. "Aku akan menjadi Suport mohon bantuanya,"Jawab Shun tersenyum.

"Kau bodoh! Memang sejak awal tugasmu adalah penyuport kami," Balas Cor dingin dengan muka tak-suka, sementara ucapan itu hanya membuat Shun memasang wajah miris.

"Kalau sudah begini! Tak ada cara selain bertarung, tak baik melarikan diri dari 'kandang sendiri',"Jawab Buron lalu mengsumon senjatanya keudara, beberapa serpihan keristal nampak bermunculan, hingga sebuah katana panjang ramping muncul ditanganya. "Apa ikan itu mau kujadikan sebagai 'Ikan pendingin? "Tanyanya pada diri sendiri. "huuh Harui teleportlah ketempat tinggi,"Jawab Buron memberi perintah.

"Baiklah,"Harui langsung saja mengaktifkan 'Majick-Time' dikakinya, hingga membuatnya dengan cepat dapat berlari diatas dinding, hingga mencapai ujung gedung istana. "Busurku, tak akan meleset,"Jawab Harui dengan nada Serius memandang Salah satu Levitan mendekati mereka.

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

[Kawasan atas atap gedung tahta Kerajaan]

[Tengah istana Lucis]

[:Regis, Judal, Eros + Rain, :]

"Ini cukup berat Yang-mulia!,"Jawab Judal menghelah nafas, ia lalu mengenggam Rod miliknya dengan wajah pucat.

"Jangan cemas Judal kita harus berusaha,"Jawab Eros menenangkan Muritnya yang merupakan 'Black mage' handal dan dia percaya padanya.

"Kuharap kau tenang Judal, jadilah Support untuk kami, dan kau Fans, aku mengandalkanmu,"Jawab Regis.

"Yang mulia.."Panggil seseorang dan itu adalah Rain yang datang dengan terburu - buru, matanya nampak mengeliat tak nyaman.

"Ada apa?!,"Tanyanya.

"Tsunami para Leviathan itu mengirim Tsunami itu keistana,"Jawab Rain.

"Kau tak bersama Noctis,"Jawab Regis dengan tatapan waspada terhadap kemunculan Leviathan.

"Aku percaya pada mereka! Dan sakura,"Jawab Rain lalu memandang kemunculan Leviathan yang tiba-tiba membuka mulutnya dihadapan mereka. "Aku akan melindungi anda disini,"Jawab Rain dengan sigap merapal sebuah mantra, dan matanya kembali berwarna merah.

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

[Gedung inti Kerajaan]

[Lorong istana]

[:Noctis, Gladiolus, Sakura, Ignis, Prompto, :]

"UHG! APA-APAAN AIR INI!,"Suara Prampto meracau tak nyaman dengan kondisi saat ini, bagaimana tidak lelaki pirang tersebut sedang berlari kencang menjauhkan dari air yang agak jauh dari belakang.

"Jangan meracaw saja! Dimana Rain!,"Jawab Gladiolus juga berlari dan memusatkan pandangan didepan, sembari menatap tangga didepan mereka.

"Dia berpisah dengan kita! Aku tak tahu dia dimana,"Jawab Ignis sembari memiringkan kepala, mereka melewati arah tangga.

"Sakura kau masih bisa bergerak, atau perlu aku mengendongmu!,"Jawab Noctis lalu mendapat pandangan ehm dari ketiga lelaki disampingnya, sementara Sakura hanya memasang wajah kaku selama beberapa detik, lalu mengeleng.

"Aku tidak apa-apa kita harus fokus!,"Jawab Sakura langsung melompat keatas tampa memerlukan tangga. Sementara Prompto lalu merapal sesuatu dengan tanganya.

"Tunggu Sakura!,"Noctis mendengus melihat kekashinya sudah melompat duluan kelantai atas sehingga pemuda Emo itu juga melempar pedangnya langsung kelantai dua (tampa melewati tangga) dan merapal sihir Teleport.

"Harusnya yang digendong itu anda pangeran!,"Jawab Prompto lalu tertawa, dan menciptakan sihir pelengkap yaitu 'Magic time' dikaki ignis dan Gladiolus.

"Sepertinya mereka memang tak mau pakai tangga,"Jawab Ignis.

"Karna mereka pasangan yang tidak biasa,"Jawab Prampto.

"Kalau kita hanya bisa mengunakan tangga,"Jawab Ignis.

"Kita hanya manusia biasa, sihir pelengkap cukup bagi kita asal kita selamat,"Ucap Gladiolus lalu mengunakan Sihir Gravitasi agar mereka bisa berlari ketembok dan mengejar Noctis dan lainya.

BRAAKS!

Tiba-tiba seekor! Pyra muncul dan menghadang jalan Prampto, Gladialous dan Ignis membuat ketiganya termudur dengan cepat kebelakang.

"Minna.!,"Noctis terkejut saat melihat keadaan temanya dari lantai atas, namun saat monster itu mau menoleh pada Noctis dan Sakura. Prampto melepaskan tembakan tepat kemata monster membuat monster itu murka.

"GHOAAARRR!,"

"Minna!,"Kini Sakura yang memanggil dengan kondisi cemas, ia bahkan sempat merubuhkan penghalang lantai dua. Dan Noctis juga sempat kehilangan kendali.

"PERGII!,"Teriak Ignis. Sihir dinding api langsung melingkari setiap sisi hingga membuat Noctis dan Sakura tak bisa memasuki penghalang.

"Hentikan Luna! Kami akan menangani dia disini!,"Jawab Prompto.

"GO!,"Jawab Gladiolus dengan pandangan Sangar, lalu memunculkan pedang besar miliknya. Mendengar ucapan tiga Rekan-nya Noctis lalu berlari menarik Sakura meninggalkan tempat itu.

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

[Gedung inti Kerajaan]

[Kuil pertengahan lantai atas]

[:Noctis & Sakura :]

[5 menit kemudian]

"Noct beberapa lantai lagi kita harus sampai diatas,"Tanya Sakura menghelah nafas.

"Sebentar lagi!,"Jawab Noctis masih berkutat pada anak-tangga menuju lantai atas, mereka masih terus bergerak untuk mencapai kuil paling atas istana agar menemukan Luna.

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

[Aliansi]

Dan dihari yang sama, para Aliansi diluar istana dan area perbatasan sekali lagi berperang menghadapi Bangsa Cantrela dan Sang penghianat kerajaan Lucis yang turun dibarisan perang.

[Bersambung]

[Kamis - 1 -Desember - 2016]

Note :

Hai aku Lightning Shun, sudah lama sekali aku membuat Fanfic ini. Aku bahkan tak menyadari aku sudah membuat cerita ini sampai 20 part haha tak aku sangka sama sekali. Aku berterimakasi atas kalian yang mau membaca carita ini jadi sebelum mengakhiri pidato membosankan ini (eh) bolehka aku sedikit curhat.

Sebenarnya kabar FF15 sudah cukup terdengar, dan aku bersyukur aku sudah melakukan freeorder meskipun telat kiriman selama 5 hari tapi, aku bersyukut tidak kena php selama 10 tahun, akhirnya game rilis juga syukurlah aku membelinya dan aku akan memainkan Gamenya :D.

Aku tak tahu apa yang harus kukatakan lagi jadi sampai jumpa lagi dipart selanjutnya :D bay-bay.