"Noct beberapa lantai lagi kita harus sampai diatas,"Tanya Sakura menghelah nafas.

"Sebentar lagi!,"Jawab Noctis masih berkutat pada anak-tangga menuju lantai atas, mereka masih terus bergerak untuk mencapai kuil paling atas istana agar menemukan Luna.

.

.

.

.

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

*Masashi Kishimoto and Square Enix*

"-_-_-Woman My The Hearst-_- _-"

By

"-_- Ligthting Shun -_- "

""OOO~"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"~OOO'''

Suara gemuru nampak terdengar sekitar istana,Seisi istana cukup kaget dengan sesuatu seperti air mulai membanjiri setiap sudut dinding yang nampak mengerikan, meneror setiap sudut ruangan istana. "Luna!,"Suara Noctis terdengar bergetar saat mencapai ruangan kuil lantai atas, ia menemukan sosok Luna dengan wajah cantik-namun senyumanya dihadapan kuil dan tuju batu Kristal melayang disekelilingnya. "Luna! Kembalikan Kristal itu ditempatnya!, jika tak dikembalikan makan akan kekuatanya akan tidak terkendali,"Ucap Noctis.

"Kau benar-benar sempurna pangeran,"Luna nampak tertawa, saat memandang Noctis sudah ada disana, dan tak menghiraukan ucapan Noctis sebelum-nya. Gaun hitam yang melekat ditubuhnya, rambut hitam terurai indah, ditambah dengan trisulah itu benar-benar sangat cantik. "Pangeranku seorang!,"Jawabnya lagi.

Namun pandanganya berat langsung diarahkan pada Sakura, gadis itu menghelah nafas kesal dengan keberadaan Sakura yang dianggapnya begitu hina. "Luna!,"Noctis mendekat menatap lekat.

"Kau datang kemari untuku bukan, kau pangeranku, kau pengantinku, kau-,"Jawab Luna mengarahkan tanganya kedepan. "Kemarilah," Jawabnya dengan seulas senyuman, yang menawan. Namun Noctis langsung memotong ucapan Luna.

"Tidak!,"Jawab Noctis lalu matanya melirik kesamping, menemukan iris hijau gadis disamping tak menyadari dia ditatap. "Aku hanya mencintai dia,"Jawab Noctis. "Hatiku tak akan bisa menerima orang lain begitu saja,"Jawab Noctis dengan tegas dimatanya, namun sedetik kemudian matanya mengerjab penuh penyesalan "maafkan aku Luna,"Jawab Noctis dengan suara kecil.

"Apa kau tak bisa melihat apa-pun!,"Jawab Luna menundukan wajahnya, lalu sedetik kemudian menunjukan biasan kemarahan. "Apa kau tak melihat apa yang kuinginkan dari dulu, aku sudah menjadikanmu sebagai segalanya, karna mendapatkanmu, aku membuat Stela jauh tahta Pratu demi ingin menjadikanmu miliki-ku, namun wanita tak tahu malu ini masuk dan mengambil semuanya dariku! SEMUANYA!,"Sosok Luna mengarahkan Trisula tepat kearah Sakura dengan penuh kebencian.

"Luna,"Noctis memanggil dengan nada tenang namun gadis itu sangat murka.

"AKU AKAN MENGHANCURKANMU!,"sebuah kabut asap menyebar dari Trisula, membuat Noctis dan Sakura mundur dengan cepat, beberapa pedang disertai kristal perak, nampak melayang berputar dengan skala lebih besar, agar bisa melindungi Sakura.

Sosok mahluk berwarna hitam yang ternyata adalah Oger muncul dihadapan keduanya dan siap menyerang mereka.

"UAAH!.."Sakura terkejut lalu mundur kebelakang saat sebuah hembusan dari bongkahan batu besar layaknya api warna hitam, sementara lengan kekar Noctis menangkapnya dari serangan dan meneleport tak terlalu jauh agar tak terjangkau oleh serangan Luna.

"Sakura,"Suara Noctis nampak terdengar tergetar hebat membuat Sakura terdiam, mata hijau Sakura memandangnya dengan senyuman lembut yang menenangkan.

"Dengar Noct!,"Sakura menatap Pemuda itu dengan tatapan waspada. "Aku urus Titan-nya dan kau urus Luna,"Bisik Sakura.

"Baiklah!,"Jawab Noctis dengan memanggil senjatanya yang berupa belati dan melemparnya ketempat dekat Luna, sementara Sakura mencoba mencari perhatian titan batu yang nampak memandangnya.

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

[Regis, Eros, Judal, Fans + Rain]

"Firaga!,"Sosok Eros-sang penyihir sedang mencoba membuat dinding api menghadapi sosok monster besar ber-element air itu.

"Api bukan sesuatu yang menjadi kelemahanya"Ucap Fans memasang wajar datar, memandang Eros datar.

"Tapi setidaknya bisa menghambatnya beberapa menit,"Bisik Eros datar.

"Dia datang,"Tunjuk Judal lalu menatap panik memandang monser bertubuh panjang itu, menukik kearah mereka.

JLEB!

JLEB!

JLEB!

Bilahan pedang-pedang indah nampak menancap secara teratur pada bagian wajah sang moster, sang raja Caleum. Regis nampak mengendalikan pedang-pedangnya diudara dan menancapkan pedangnya berulang-ulang kali tampa lelah.

"Aura!,"Judal lalu merapal mantranya lalu mengarahkan pada Regis, untuk memberikan regenerasi pada stamina tubuh Sang raja.

"HEAAAHH!,"Sebuah Spear yang dimiliki Hans langsung diarahkan pada monster tepat dimatanya, yang berwarna kuning keemasan, membuat jeritan Levitan yang keras terdengar.

"GOARRRR!," Lolongan mengema Levitan begitu kencang membuat kelima orang itu mundur secara serentak.

"CHAINE!" Rain merapal sebuah mantra diudara dengan kilatan sebuah ukiran bercahaya, dibawah pijakan disertai rantai-rantai magis yang tiba keluar dari sana nampak dengan tepat meliliti tubuh Levitan tersebut. "Ikat dia!,"Titah Rain dengan mengangkat kedua tangan-nya dengan fokus, irisnya yang sebelumnya normal juga berwarna merah-begitu kelam yang terbias.

Hal itu cukup membuat semua orang dalam Party dalam jarak dekat, merasa kaget itu juga menjadi hantaman terkejutan untuk seorang Regis. Tentu saja Regis tahu aura yang mengeluar dari dalam tubuh Rain bukanlah sesuatu yang lain darinya, yak! Tidak salah lagi ini aura darah-murni dari kerajaan Lucis. "Mari kita selesaikan ini,"Jawab Rain datar entah pada siapa. "Wahai Rajaku,"Rain lalu berbalik pada Regis sorot mata merah dingin nampak begitu terbias tampa keraguan dengan entah dari mana Kristal - Kristal mengelilingi dirinya membentuk senjata-senjata pusaka yang dimiliki Lucis dan mengitarinya.

"R-Rain matamu dan senjata itu,"Jawab Regis nampak masih terkejut, sementara seulas senyuman sedih nampak terlihat dari raut wajah Regis.

"Aku akan berusaha semampuku disini! Sisa-nya aku percaya pada kalian Ayah ibu!,"Rain menghelah nafas dan mendekati Regis secara pelahan dan bertarung bersama.

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

[Gladiolus, Ignis dan Prompto]

"Uhk!,"Gladialos nampak menahan serangan besar monster dihadapanya, membuatnya kesal mengurus pergerakan lincah monster dihadapanya.

"Apa ada cara lain mengurusnya?!,"Tanya Prompto, dengan nada masam. "Aku merasa air dibelakang kita tak akan selamanya disana!,"Jawab Prompto.

"Aku akan mencoba menahan pintu dengan sihir es selama beberapa menit,"Jawabnya datar, terdengar Ignis berdecih dari tadi membuat perasaan kedua lelaki didekatnya semakin tak nyaman.

"Menyebalkan,"Jawab Gladiolus semakin mengerutu, sementara Prompto mencoba menembakan sejatanya pada berbagai sasaran jangkauan pada sang monster (Prya). Monster itu bergerak dengan lincah dengan bentuk seperti musang tapi belakangnya memiliki ekor seperti tupai, dengan tubuh berwarna biru.

"Kita tetap harus mengurusnya! Ignis bisa mark dia!,"Tanya Prompto dengan nada masam.

"Kau bercanda kita belum menemuka cara, melihat kelemahanya,"Jawab Ignis menghelah nafas. "Jika memark secara asal hanya membuang tenaga saja,"Tegurnya.

[Apa itu Prya!?] Sebuah suara tiba-tiba muncul dengan cepat kepermukaan, membuat Ignis, Gladiolus dan Prompto menyengit alis tajam, sampai pemuda pirang itu menyadari sesuatu.

"Suara ini! Hey ada sihir Chappy yang melayang kemari!,"Jerit Prompto melihat sebuah benda kenyal jeli yang bercahaya putih mirip kristal nampak terbang mendekati mereka, dan membela diri menjadi tiga bagian, mengarah pada leher atau telinga mereka.

"Rain! Kau disana!,"Jawab Gladiolus, saat benda Jelly itu nampak melengket Random, dilehernya.

[Ah ya ini aku!, aku merasa khawatir makanya mengirim sihir ini pada kalian, bagaimana keadaan kalian disana?] Tanya Rain.

"Saat ini kami bertiga Prya sedang didepan kami,"Jawab Prompto.

[Lalu dimana Noctis dan Sakura!?] Tanya Lagi membuat raut ketiganya nampak begitu resah.

"Saat ini mereka pergi kekuil Agung, lalu bagaimana keadaanmu?! Untuk menemukan Luna,"Tanya Ignis.

[Kami juga baik! Levitan ini memang belum takluk sepenuhnya, tapi kami masih baik-baik saja!]Jawab Rain.

"Jika tak menganggu kami butuh Info Pyra dan kelemahan apa yang kau ketahui tentangnya?,"Tanya Gladiolus.

[Prya adalah mahluk yang cepat dengan karakter tubuh mirip mus-] Namun penjelasan Rain dipotong langsung oleh Ignis.

"Jelaskan saja apa kelemahanya Rain!,"Jawab Ignis serius dan tak sabaran, padahal dia adalah pria yang paling sabar diantara mereka bertiga.

[Kelemahan mereka adalah sihir es! Dan bagian tubuh lemahnya ada dibawah perut] Jawab Rain dengan cepat.

"Terima kasih atas Saran-nya,"Jawab Ignis.

"Berikan Strategi terbaik-mu tuan penasihat!,"Jawab Gladiolus sembari tersenyum-sinis, sementara diikutinya tangan Ignis terangkat dengan bilahan Dagger ditanganya.

"Serahkan saja padaku!,"

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

[Naruto, Sai, Sasuke + Lightning]

[Kakashi, Hinata, Ino]

"Rasengan!,"Sosok Naruto nampak membuat beberapa belah-bunshin lalu melayang keudara, dengan bola energi angin berwarna biru disetiap tangan Bunshinya, tampa kenal mundur agar Levitan terpojok, tidak hanya Naruto yang juga fokus saat ini, serangan besar berupa ratusan Bunsin-tinta milik Sai nampak berubah menjadi kupu-kupu dan memiliki daya ledak luar biasa jika mengenai target yang diinginkan, sementara dibawah nampak sosok Sasuke nampak bergerak untuk memijak keatas tubuh Levitan dengan cepat yang mengagumkan, lalu menyiapkan tebasan langsung pada sayap kiri Levitan dengan Takana-nya.

DHAST!

"GOAAARRR!,"Jeritan penuh Lantang terdengar saat Sasuke menebas penuh sayap-kiri-atas milik sang monster, tiba-tiba Sasuke kembali menancapkan pedangnya pada tubuh Levitan agar memperbaiki keseimbanganya dalam berpijak, lalu mengulurkan tanganya yang lain keudara, entah pada siapa.

Shiiit! Thingss!

Puluhan kelopak indah berwarna merah, nampak tiba-tiba muncul diudara bagai angin-puyu kecil. Tiba-tiba sosok seseorang muncul dari sana mengenggam tangan Sasuke lalu melompat keatas, Saat Sasuke melontarkanya keatas. Sosok indah Lightning nampak bak malaikat mengeluarkan Swordgun nya dan dengan element Sihir petir langsung didaratkan sempurna pada tepat kekepala sang Levitan membuat sebuah ledakan disana.

Tak jauh dari sosok Naruto, Sai, Sasuke dan Lightning bertarung sosok Hinata dan Ino nampak membantu beberapa Penjaga yang terluka disekitar mereka, sementara Kakashi membuat beberapa Bunshi melawan tentara Robot yang mencoba menyerang mereka.

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

Sementara dari beberapa kelompok yang nampak kesusahan melawan monster naga-ular laut itu, nampak tuhan memberikan mereka bantuan dan cela lebih baik. Sebuah ruangan yang sudah sangat berantakan(Sangat) dan sebagian nampak menjadi kulkas besar nampak Karna terlihat sosok Levitan yang sudah tak bernyawa dengan keadaan beku, sementara sosok-sosok lain-nya nampak sudah terlihat tertatih-tatih penuh lelah.

"Kita berhasil, dan aku kedinginan!,"Jawab Shun mulai meracaw.

"Berterimakasilah atas kekuatan Shiva, dan berhentilah untuk protes pada udara ini!,"Jawab Buron nampak memeluk tubuhnya, sesaat meminta Summon-miliknya untuk mengunakan kekuatan besarnya.

"Aku tahu jika kau sebenarnya tidak terlihat begitu kedinginan,"Sindir Cor.

"Kau juga begitu."Jawab Shun, ia lalu memainkan tanganya keudara lalu memunculkan api yang berputar ditengah mereka. "Sebaiknya kita menuju Raja sekarang,"Jawab Shun menghelah nafas.

"Kau benar,"Jawab Buron yang masih terhengah-hengah nampaknya memanggil Shiva dalam waktu lama, memakan energi yang sangat banyak lalu berat baginya.

"Kau baik-baik saja!,"Stela nampak memapahnya dengan raut cemas. Gerak-gerik Stela memang aneh karna akhir-akhir ini ia sangat perhatian pada sosok Buron yang 10 tahun lebih tua darinya.

"Komandan! Aku mendapat kabar sebaiknya kita segera pergi mengetahui keadaan Raja!,"Jawab Harui yang nampak melompat dari ketinggian lalu memperbaiki Panah serta busurnya.

"Mari Pergi,"Jawab Cor.

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

[Noctis VS Luna]

[Sakura VS Oger]

"SHANNAROOOO~,"Sakura nampak menerjang sosok batu besar yang adalah monster Oger bertubuh batu tersebut, sosoknya yang kecil memang nampak bisa menghindari tubuh musuhnya, namun kondisi menara kuil yang kecil, serta pembatas yang ada dimana-mana nampak merepotkan untuk Sakura.

"Goard~"Suara yang menyeramkan. Dengan badan batu yang besar nampak terdengar, tidak hanya kuat dalam puch, monster itu dapat menyerap tenaga lawanya. Maka Sakura mau tak mau harus menghancurkan tenaganya dengan kekuatan penuh.

"[Hakaya : No Taka]"

Tangan Sakura membentuk sebuah segel, dari Aura kehijauan nampak berubah menjadi warna Merah muda layaknya rambutnya, dengan sebuah animasi burung-burung kecil sekecil kupu-kupu disekitarnya, perasaan Sakura tak pernah mengunakan segel itu sebelumnya itu bisa disimpulakan sang Dewi-Phoniex ikut adli membantunya.

{Dengan ini semua selesai, kau dapat melakukanya} Bisik Phoniex lembut.

"Apa kau yakin?!,"

{Ya}. Jawabnya singkat dan tegas.

"Baiklah!,"Ungkap Sakura mata-nya menatap tajam. Ia melirik sisi lain tempat melihat Noctis dan Luna sedang bertarung Sihir, nampaknya Luna begitu antusias bertarung namun sebalik-nya Noctis tetap berusaha agar tidak melukai Luna. Sakura mendengar banyak dari Rain jika Luna dan Stela adalah teman baik Noctis sewaktu masih kecil hingga dewasa. Ia tahu bagaimana jika ia harus menyiapkan hati untuk melawan teman sendiri.

"SHANAROOOOOO."Bola mata dengan cepat bersamaan pukulan, melayangkan pukulan dan berhasil menghancurkan sepertiga ruangan Kuil, dan sekaligus menghantam mahluk Oger. Membuat ia melempar bebas dari lantai paling tertinggi dari menara.

BLAMM!

Mahluk Oger yang terlempar terjun bebas dibawah, tidak hanya terjatuh begitu saja akan tetapi sebuah ledakan pada tubuhnya yang besar langsung melenyapkan tubuh Sang-oger tampa sisa yang tertunggal hanyalah segumpal darah yang terjun bagai rintik hujan.

"Aku tak mengira akan seperti ini!,"Ucap Sakura helah nafas, sembari terhengah-hengah sepertinya energi benar-benar terkuras. Ia terduduk merasakan tubuhnya sekaku itu membuatnya terduduk tampa daya, dan melihat pertarungan Noctis vs Luna lumayan menegangkan.

"Aku ingin kau mengerti Luna, sebuah perasaan tidak bisa kupaksakaan!,"Noctis tetap berusaha membuat gadis itu mengerti, dan menghindari semua serangan Luna. "Bagaimana pun kau dan Stela adalah sahabat baik-ku, aku memang menyayangimu karna kuanggap kau seperti adiku,"Jawab Noctis, namun segala penjelasan itu tetap membuat Luna nampak tak mau mengerti.

"Diam~ aku tak mau mendengarnya lagi! Aku muak~ sangat MUAK!,"Jawabnya semakin Starkatis dan diliputi kemarahan.

"Ah! Noct,"Jawab Sakura kecil sebelum tubuh Sakura menahan nyeri pada kepalanya, ia lalu menutup matanya dan menundukan wajahnya kehadap lantai, dengan satu-persatu tetes keringat jatuh dari sana. Dia benar lelah.

Semburan Firaga nampak terlihat melebar dalam jangkawan Luna membuat Noctis termundur, pertarungan semakin tak terhindari, Noctis termundur kebelakang tepat disisi ujung sebuah tebing.

"Noct!,"

"Ah!,"

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

"Kau sudah melihat apa yang terjadi Lumina!?,"Sosok pria berambut merah, jabrik nampak berdiri diatas sebuah tebing menatap para Levitan-kecil yang terbang disekitar Caleum. Lelaki itu hanya mendengkus, dengan uap-putih nampak mengepul disekitar mulutnya. "Sebuah fokus, tak selamanya bisa dikerjakan oleh para Utusan,"Bisiknya dingin.

"..."Lumina nampak terdiam, sembari menundukan wajahnya. Dengan mengenggam sebuah benda kotak aneh bergradiasi emas ditanganya.

"Ambilah keputusan!,"Jawab Lelaki itu menghelah nafas. "Kau yang menundukan kepalamu Etro, dalam permainan ini, mampukah kau mengakhirinya?!,"Jawabnya.

"..."Lumina mengangkat wajahnya. Memandang wajah tampan pria itu. Yang tak lain adalah sosok Noir sendiri memberi senyuman-lega.

"Kau sudah mengambil keputusan,"Jawab Noir menghelah nafas datar.

"Aku rasa mungkin Aku akan membukanya pada light! Ini akan membuka segalanya,"Jawab Lumina, menundukan kepalanya.

"Baiklah kalau begitu!,"Jawab Noir kembali menghelah nafas, lalu merentangkan tanganya keudara membuat sebuah api layaknya sayap api muncul begitu saja serta membumbung dipunggungnya. "Mari kerjakan,"

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

Suasana mulai aman terkendali Cor, Shun dan yang lainya sudah berkumpul bersama raja dan memutuskan kembali berperang kini melawan musuh-musuh dari kerajaan imperials, yang datang keistana. Meski keadaan penyerangan Levitan sudah mulai dikendalikan tetap saja perasaan gelisa masih mendesir dihati Rain ia masih memikirkan kondisi Noctis dan Sakura.

"Rain,"Panggil Shun saat penyihir itu melihat wajah gelisah diwajah Rain, lalu menariknya menjauh dari Raja dan lain-nya untuk bicara berdua. "Pergilah,"Jawabnya singkat.

"Eh!,"Bola mata Hijau, Rain membola memandang wajah Shun yang mengangguk dengan wajah Hangat.

"Pergilah dan saksikan-sendiri keputusan kedua orang tua-mu!,"Jawabnya semakin kaget, saat sebuah cahaya berpendar hebat kesegala penjuru membuat sinar menyilaukan sekitar Rain.

Rain mengucak matanya yang awalnya merasakan kejut ringan, lalu kembali terkaget. Melihat sosok Shun berubah. Rambutnya panjang berwarna hijau lumut yang indah tergerai begitu saja, sebuah jubah putih panjang ala Penyihir zaman-dahulu, dan sebuah tongkat trisula hitam nampak megah serta keramat, Shun sendiri dikelilingi 12 bola cahaya warna warni nampak mengelilingi dirinya. "Inilah Wujud asliku, selama ini aku mengunakan Wujud manusia untuk berbaur dengan kalian semua."Jawab Shun datar tampa melepas senyum. "Diantara semua Dewa mungkin kau tahu Wujudku terlihat sebagai manusia, dalam Kitab kepercayaan Lucis mereka mengambarkan aku sebagai sosok ini,"Jawabnya lagi menambahkan dengan senyuman ramah..

"Ja-Jadi kau ini!,"

"Aku adalah seorang Dewa-waktu namaku adalah Eras, makanya aku bisa melakukan apa-pun yang menurutmu mustahil, aku tidak bertambah tua, begitu pula kejadian-kejadian yang akan menimpa kerajaan aku mengetahuinya, akan tetapi meskipun sebagai seorang dewa yang menerima Wahyu yang sempurna, Sebagai seorang dewa kami memiliki Aturan yang harus ditegakan,"Jawab Shun memandang sedih. "Akibat kesalahan seorang Dewa sebuah portal kedunia lain terbuka dan tak sengaja membuatmu terlempar kedunia-ini!,"Jawab Shun.

"Apakah Kau yang tidak sengaja membuka portal itu hingga aku terlempar kedimensi dimana Ayahku masih kecil,"Desis Rain menundukan kepalanya.

"Tidak bukan aku!,"Jawab Shun mengeleng. "Aku sudah lama berbaur sebelum kedatanganmu kedimensi ini, aku adalah Seorang dewa yang memutuskan hubungan dengan dunia Dewa Miliaran Tahun yang lalu."Jelasnya.

"Aku mengetahuinya Kisahmu di kitab itu tertera jelas bahwa, Sosok Eras meninggalkan dunia Dewa dan menghilang bagai debu, Aku tak menyangka akan hal ini!,"Desis Rain Paraw.

"Yah! Kini kau sudah mengingat segalanya, aku tahu kau begitu menderita, bahkan 20 tahun kau harus berpisah dengan keluarga dan rakyatmu Pangeran-Rains,"Jawab Shun sembari menghelah nafas. "Selain itu aku bukan hanya ingin memperlihatkan Wujudku yang sebenarnya padamu, melainkan urusan lainya,"Bisiknya.

"Urusan,"Jawab Rain singkat lalu mengangkat wajahnya dengan pandangan terkejut.

"Aku ingin memberi ini untukmu,"Jelas Shun lalu melirik beberapa bola cahaya yang nampak melayang disekitarnya. "Mungkin aku tak bisa mengulang hal-hal indah yang ingin kau lewati, tapi aku ingin memberimu kesempatan Jadi Aku ingin menerima ini!,"Jawab Shun sebuah serpihan Cahaya muncul menjadi batu rubi berwarna Jinga, lalu melayang tepat didepan wajah Rain.

"Kristal,"Bisik Rain disertai anggukan Shun dengan pandangan antusias.

"Kristal seperti ini tak ada didunia manusia, benda ini hanya berada didunia para-dewa dan alam tengah-tengah, serta dikeramatkan,"Bisik Shun lalu memainkan Kristal itu ditangan-nya ."Namanya adalah Kristal Eve dimana fungsinya adalah mengabulkan sebuah permintaan dengan setara,"Desisnya.

"Setara,"Rain kembali membelalakan matanya saat Kristal Jinga itu lalu, diarahkan padanya tepat ditelapak tanganya.

"Gunakan Kristal ini tapi hanya sekali."Tandasnya dengan nada serius. "Kristal itu juga bisa mengembalikanmu kedunia dimana kau harus kembali,"Jawabnya datar. "Ingat kesempatan ini hanya sekali untukmu Rain! Jika kau meminta hal yang lain pada Kristal itu, maka saat setelah permintaan yang kau berikan terkabul maka kristal itu akan lenyap dari dunia ini dan Kau akan selamanya berada didemensi ini,"Jawabnya sebelum secara tiba-tiba Wujudnya kembali lagi menjadi Wujud manusia-nya dan Shun memutuskan untuk segera menuju tempat perkumpulan Raja dan yang lainya."Semua ini Pilihanmu Rain gunakanlah dengan bijak,"Ucap Shun sebelum meninggalkan Rain seorang diri.

Bola mata Rain memandang lurus kearah Sosok Shun menghilang, disisakan diri sembari mengenggam kuat Kristal yang diberikan Shun padanya.

[Bersambung]

[Kamis - 12 - Januari - 2017]

Halo All terimakasi ya. Dan selamat tahun baru 2017 (maaf lama ngucapin) Yang sudah membaca cerita saya yang ini, berpuluh-puluh kata trimakasi atas dukunganya selama ini dari cerita yang dibuat dari 2008 ampe dilanjut ampe sekarang :D.

Oh ya sebenarnya Author dah mulai jarang lagi menulis ff karna ada pekerjaan didunia nyata yang benar-benar padat.

Oh ya Author mau dikit Curhat! Pada Haters, eh karena beberapa pesan salah satu pembaca melaporkan itu pada Author, dan salah satunya menyatakan jika Author mengopi cerita orang lain, bahkan menulis nama,monster, lokasi dengan salah, ya memang benar semua memang berbeda karna.

1. Cerita ini dibuat pada tahun 2007.

2. Saat itu cerita ini belum mendapat informasi latar belakang baru cerita tentang Noctis dan kerajaan-nya.

3. Cerita ini sempat saya TL 2007 dan saya lanjutkan 2010 ampe sekarang makanya nama-nama karakter bahkan tempatnya, meski game-nya sudah keluar atau demo-nya sudah keluar saya tetap mempertahankan nama yang saya karang itu.

4. Alasan tak ingin dirubahnya karna author lebih nyaman, jadi bagi kamu yang tidak suka, tidak masalah.

5. Author pada dasarnya bukanya tidak bisa menulis akan tetapi kekacauan tulisan Author karna pada dasarnya, Author bukan orang indonesia, aslinya author adalah keturunan Jepang yang saat ini tinggal di-Horoshima dan saya adalah orang Jepang dan mempelajari bahasa indonesia dari kamus yang otodidak jadi kadang saya menulis abjad dengan bahasa yang terdengar dari mulut. Contohnya adalah. Kata 'Dengan' ditulis 'Dehngan' atau 'Bukan' ditulis menjadi 'Buhkan' atau dewa yang disebun 'Nuin' jadi 'Muin' kekacauan ini memang mengundang banyak Haters yang membully dan setelah beberapa penjelasan akhirnya sebagian ada yang memberi dukungan berupa ucapan-agar Author belajar dan meningkatkan tulisan-nya agar bisa lebih baik apa lagi ditulis dengan bahasa Indonesia.

6. Kemiripan bebarapa bahasa dibeberapa dialok atau gaya penulisan, pada dasarnya author bukan seenaknya menulis, tapi sudah meminta izin author tersebut untuk meminta saran atau bantuan dalam bahasa, makanya terkadang gaya bahasanya agak sering mirip dengan penulis lain akan tetapi Author mulai mampu berdiri menemukan gaya tulisan Author sendiri, dan mereka memberikan saran, makanya author menerima dengan senang hati.

7. Untuk Haters banyak sih yang membully kala pertama, bagi Author rasa malu memang manusiawi, dan aku sempat mau meninggalkan cerita ini, tapi ternyata yang membuat aku terharunya adalah bebarapa Haters-ku datang dengan-berani lalu mengunakan akun-pribadinya, menanyaiku berbagai hal (mengolok-olokku dengan umpatan pedas, protes, atau bahasaku yang kacaw) dan kusambut dengan hangat dan aku menjelaskan ketidak tahuanku tentang beberapa bahasa dan arti cerita, tanda baca yang biasa-ku gunakan pada kanji ternyata berbeda pada penulisan indo pada umumnya, dan respon dari 50% dari mereka wecome dengan kekurangan itu, ada yang memberi Ide, mengajariku beberapa dialek yang mudah kupelajari selain kudapat dari Kamus, ada pula saling tukar informasi, ada pula yang mengajak Collab dan ada Pula yang menjadi teman, bahkan sahabat baiku dari cerita ini. Awalnya diBully dan akhirnya kami bersahabat.

8. Author lebih menghargai seorang Haters yang dengan suka rela memberi pendapat dengan berani melalui akun-asli mereka, bukan Anonim, atau menyampaikan ejekan terbuka pada penulis lain. Kenapa gak langsung ke saya? Saya bisa menerimanya jika itu memang pantas.

bagi Author itu sebuah hal yang tidak sia-sia, dan meski bukan penulis yang dibilang baik Author merasa bahagia, dan berusaha terus berkembang.

Haters pula - Author mendapatkan seorang teman bahkan sahabat yang baik.

Haters pula - Author malah mendapat yang namanya semangat mempelajari bahasa indonesia dan tidak mau kalah dari kalian orang indonesia.

Haters pula - Author menemukan para penulis indonesia yang sangat ramah baik, Mbak Vega, Claire-san, Ayu dan Nivans erlangga, Bung Vicky Cou mau menerima pertanyaan - pertanyaan Author ini.