"Kristal seperti ini tak ada didunia manusia, benda ini hanya berada didunia para-dewa dan alam tengah-tengah, serta dikeramatkan,"Bisik Shun lalu memainkan Kristal itu ditangan-nya ."Namanya adalah Kristal Eve dimana fungsinya adalah mengabulkan sebuah permintaan dengan setara,"Desisnya.

"Setara,"Rain kembali membelalakan matanya saat Kristal Jinga itu lalu, diarahkan padanya tepat ditelapak tanganya.

"Gunakan Kristal ini tapi hanya sekali."Tandasnya dengan nada serius. "Kristal itu juga bisa mengembalikanmu kedunia dimana kau harus kembali,"Jawabnya datar. "Ingat kesempatan ini hanya sekali untukmu Rain! Jika kau meminta hal yang lain pada Kristal itu, maka saat setelah permintaan yang kau berikan terkabul maka kristal itu akan lenyap dari dunia ini dan Kau akan selamanya berada didemensi ini,"Jawabnya sebelum secara tiba-tiba Wujudnya kembali lagi menjadi Wujud manusia-nya dan Shun memutuskan untuk segera menuju tempat perkumpulan Raja dan yang lainya."Semua ini Pilihanmu Rain gunakanlah dengan bijak,"Ucap Shun sebelum meninggalkan Rain seorang diri.

Bola mata Rain memandang lurus kearah Sosok Shun menghilang, disisakan diri sembari mengenggam kuat Kristal yang diberikan Shun padanya.

.

.

.

.

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

*Masashi Kishimoto and Square Enix*

"-_-_-Woman My The Hearst-_- _-"

By

"-_- Ligthting Shun -_- "

""OOO~"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"~OOO'''

.

.

.

.

Derap Langka kaki nampak terdengar lamban, sosok Shun nampak bergerak kembali mendekati semua orang yang menunggu di ruang tahta kerajaan, Beberapa Pasukan nampak dikumpulkan sedikit demi sedikit mencari jalur aman menolong orang – orang, lalu mendiskusikan cara membuat pasukan musuh agar sebagian bisa dipaksa keluar pelan-pelan, untuk itulah diskusi singkat dimulai dengan serius.

"Tuan Shun, anda sudah kembali,"Stela nampak memandang kedatanganya namun hanya sendirian. "Kami sedang membahas kita akan memblokade serang untuk menutup empat jalur agar pasukan musuh bisa kita lawan, dan menyiimbangi lawan yang banyak,"Ucap Stelah dengan panjang kalilebar, namun raut gadis berambut pirang itu nampak menyengit saat itu juga. "Tuan dimana Rain-kun,"Tanya Stela membuat semua orang disana nampak memandang Shun dengan pandangan ada apa.

"Dia pergi!,"Jawab Shun tersenyum penuh arti, namun mengisyaratkan kepasrahan lalu memandang langit kelam tak bercahaya. "Mengikuti takdirnya,"Jawab Shun.

"Ayo kita harus bergegas!,"Jawab Regis lalu memandang beberapa komandan serta orang terpercaya yang tersisah dan ditemukanya dalam keadaan hidup didepan batang hidungnya. (Stela, Shun, Cor, Buron, Hairu, Fans, Judal)serta beberapa puluh pengawal kelas setara, dan Kaum elit yang hanya bisa dihitung jari yang mereka temukan.

"Saya dan beberapa orang pengawal akan keruangan Siaran lalu melihat jalur aman, Saya akan mengabari anda dengan Chappy, Yang-mulia,"Jawab Fans.

"Saya akan mencoba mengunakan sihir tanah memblokade beberapa pintu, izinkan saya mengambil beberapa pengawal Yang mulia,"Jawab Judal.

"Izinkan saya ikut bersama Judal Yang mulia!,"Jawab Hairu.

"Aku mengizinkan kalian keinginan kalian,"Jawab Regis.

"Saya dan beberapa pengawal akan melakukan Suport untuk jalur keselamatan jika anda mengizinkan maka-,"Jawab Eros tegas.

"Dewa Etro bersamamu!,"Jawab Regis.

"Baiklah Aku juga yang Mulia aku juga akan mengambil alih bagian tengah, izinkan aku mengurus mereka,"Desis Buron.

"Tapi kau hampir kehabisan tenaga Buron, sebaiknya kau-,"Jawab Regis memandang salah satu orang terbaiknya, dalam kondisi terlalu rentang saat ini.

"Maafkan saya yang mulia, Saya menghargai apa yang ada cemaskan,"Desis Buron gemetar. "Tapi saya harus membela apa yang pantas saya perjuangkan, bukankah saya sudah mengambil sumpah sebagai salah satu pelindung kerajaan, sampai mati, maka izinkan saya untuk bertarung hingga akhir,"Desis Buron dengan membungkuk super hormat.

"…"Regis terdiam mendengar ucapan Sang bawahan yang ingin memperjuangkan apa yang disebut keselamatan negara.

"Kalau begitu!,"Stela memandang dengan raut gemetar, membuat semua memandang wajah cantik sirambut pirang, dengan pandangan bertanya. "Izinkan saya bersama Tuan Buron!,"Jawab Stela dengan pandangan tajam.

"Tapi kau, harusnya sebaiknya mengamankan diri,"Desis Eros membuat Stela menggeleng kuat.

"Aku tidak bisa lari!,"Desis Stela. "Dimana aku terlahir dari negri ini, meski aku mengetahui jika ayahku penghianat Negara, dan nasip adiku luna yang belum pasti aku harus terus bertarung, aku tak boleh melarikan diri sekarang,"Desisnya dalam isakan. "Sebelum mendapat jawaban aku tidak akan mundur,"Bisik Stelah.

"Baiklah Stela, kuizinkan kau bersama Buron,"Jawabnya.

"Dan saya Akan mengambil jalur bawah tanah, Yang-mulia," Jawab Shun tajam. "Dan tak perlu pengawalan karna sisanya akan bergerak bersama Anda yang mulia juga Cor,"Jawab Shun datar membuat semua nampak mempelototi kaget.

"Apa kau sudah Kehilangan Akal,"Desis Cor.

"Ya ini jalan terbaik," Sementara Shun mengangguk sebelum tubuhnya lenyap seperti gumpalan embun hijau meninggalkan ruang tampa permisi.

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

TZAP!

TZAP!

TZAP!

Rain nampak berlari begitu cepat, melompati puing demi puing dengan cara menganggumkan, ia juga mengunakan Teleport untuk melompati puing tinggi yang sulit dijangkaunya, beberapa kalinya ia juga harus menghindari pertarungan demi menuju Kuil. Namun ia tak sengaja mendengar sebuah ledakan besar berkali-kali semakin mendekat dari tempatnya, ia lalu menemukan cela runtuhan tembok disisi lainya lalu mencoba teleport agar sampai dicela lubang itu.

"EH!,"Tiba-tiba matanya membulat memandang Sosok familiar yang ternyata Parompto, Gladiolus, serta Ignis yang menghadapi Pyra ganas itu, terlihat sekali kondisi ketiganya benar - benar terdesak dan kondisi Pyra nampak benar-benar terluka berat, meskipun begitu sosoknya masih nampak bisa mengeluarkan kemampuan yang luar biasa kuat.

Dia nampak meraung berkali-kali, lalu menagarahkan salah satu Cakarnya yang panjang dan mengarah pada Ignis. Namun sebelum benda tajam itu dilayangkan.

PANG!

Sebuah pedang sepanjang lengan hitam nampak muncul tepat Cakarnya yang sudah melayang. "Aku telat,"Jawab Rain muncul secepat kilat dengan sebuah tombak menancap tepat kemata Pyrah.

"R-Rain,"Desis Ignis.

"Rain-ssu, aku merindukanmu!,"Jawab Prompto dengan nada super bahagia.

"Haah kau datang terlambat bocah,"Jawab Gladiolus.

"Setidaknya aku bergunakan,"Jawab Rain menghelah nafas lalu memperbaiki kuda-kuda. "Curaga!,"Sebuah sinar berwarna kehijauan keluar dari tanganya, lalu mengarah pada Ignis, Gladiolus dan Prompto.

"Hoah segarnya, tenagaku kembali,"Jawab Prompto bersemangat. "Bagaimana dengan kalian?,"Lirik pemuda supergirang itu.

"Lebih baik!,"Jawab Gladiolus memperbaiki otot kekar lalu membuang nafas, sembari kembali mengambil pedang.

"Haah aku berjanji akan membuatkan menu makanan yang terbaik untukmu,"Seru Ignis sembari memperbaiki letak kacamatanya.

"Kau sudah berjanji,"Ucap Rain sembari tersenyum, tiba-tiba mata hijaunya berubah menjadi merah lalu melirik ketiga rekanya. "Ayo...kita selesaikan,"Jawab Rain membuat ketiga teman-nya

Terdiam, dan Prompto yang memandangnya membuat lelaki bersurai pirang itu teringat akan sesuatu.

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

[Flastback]

[Prompto pov]

Saat itu aku melihat, suasana sibuk prajurit dari lantai tuju dari lorong istana, saat ini kerajaan mengalami masa-masa cukup sulit, awalnya aku hanya ingin mencek keadaan Noctis dan memastikan sang Yang-mulia Raja, sudah meninggalkan ruangan rawat pangeran satu itu atau belum.

Namun mataku terpaku saat aku melihat sosok seseorang diujung lorong yang sepi, keadaan itu membuat hatiku tidak enak.

Sosok Rain tengah menghadap jendelah dengan, raut terisak dan menangis dalam diam.

Aku bersumpah demi Etro, bahwa aku melihat Rain dengan kondisi yang kuanggap tak biasa, aku tak pernah melihat sisi dia dimana ia nampak jatuh.

"Rain-Suu,"Panggilku memandang tak nyaman mataku mentapnya dengan serius pasti ada sesuatu yang salah. "Ada apa bicaralah padaku,"Desisku mencoba matapnya sebelum aku menyadari gelagatnya yang semakin aneh dengan bola matanya yang berubah warna. "Kau bukan tripekal pembohong Rain, dan kau berubah semakin aneh terutama mata-mu yang berubah berwarna merah itu,"Jawabku memojokan Rain didinding dengan menahan pundaknya lalu mencengkar lenganya, dan memandang matanya berwarna merah yang sudah mulai kuanggap biasa.

"AKU SAMA SEKALI TIDAK MENYEMBUNYIKAN SESUATU!,"Ucap Rain yang tampak terpojok olehku tampa sengaja ia memunculkan sebuah spirit kabut Kristal berbentuk seperti belati, hingga munculah belati-putih melayang dan mengarahkan belati itu otomatis menyerang wajahku. "Maafkan aku Parompto," dan aku yakin Rain tak ada keinginan menyerangku membuatku mencoba mengerti kondisinya saat ini pemuda ini nampak begitu tertekan.

"Aku tidak masalah berilah aku jawaban yang sebenarnya! Aku hanya ingin kejujuranmu,"Jawabku aku mencoba untuk meyakinkanya, agar tak merasa semakin membebaninya, aku sahabatnya bagiku dia bukanlah orang lain wajar jika aku perduli padanya.

"..."Rain menundukan wajahnya kebawah, dan aku tetap mencoba menunggu jawabanya.

"Aku hanya merasa kau tak mungkin bisa mempercayai semua yang akan kuka-,"Ujar Rain mulai berkata dan aku langsung memotongnya cepat.

"Aku selalu percaya padamu! Apa yang harus kau ragukan, kau dan aku sudah seperti sudara dari kecil, kau ingat itu,"Jawabku Desisku padanya entah kenapa aku merasa airmataku ingin keluar sekarang.

".."

"Prampto.."Aku mendengar desisan pelan dari mulutnya setelah terbungkam, membuatku hanya ber "Umm?,"padanya.

"Apa yang pendapatmu jika aku,"Rain menjeda kata-katanya, dan matanya tertutup rapat. Aku bersumpah dia berkata dengan serius membuatku membulatkan mataku "Adalah anak yang dari Dimensi lain!?,"Jawabnya.

Aku terdiam tampa kata-kata layaknya orang bodoh yang tak tahu harus menjawab apa, kucoba menjawab sebisaku untuk mencairkan suasana agar bisa memasukan hal ini pada logikaku. "Kau tahu ini sangat!,"Aku tertunduk dengan super kaku membuatnya menatapku. "Sulit diterima,"

"Aku tahu, dan aku mengerti,"Jawabnya mencoba mengerti dengan kondisiku ini.

"Tapi itulah kenyataanya,"Desis Rain padaku sorot matanya terlihat semakin hampa."Sepulu tahun yang lalu aku mengalami amesia jangka panjang, dan hari ini aku mulai mengingatnya semuanya,"Ucapnya lagi sembari tersenyum pahit.

"Beritahu aku tentang jati dirimu!,"Balas Prampto.

"Aku datang dari Caleum juga tepatnya dari Insomia dimasa depan,"Jawab Rain semakin lancar.

"Caleum dari masa depan," aku mempelototinya dan *ia lalu mengangguk*

"Ya sebuah kejadian membuatku terlempar kemari, saat itu,"Jawab Rain. "Janjilah padaku untuk merahasiakan hal ini,"Desisnya. "Aku berjanji akan mengatakan semua ketika waktunya tiba.

"Aku akan menunggumu, sampai kau mau bicara,"Ucapku lalu memeluk Rain.

[Flasback Prompto]

[End]

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

[Kembali dimasa Sekarang - masih Prompto Pov]

Saat itu aku memutuskan merahasiakan segalanya dari Noctis, Ignis dan Gladiolus, sampai Rain membukanya sendiri, itu harapanku.

"Prompto,"Aku melirik Rain mengambil posisi Comand dalam team, ia nampak bersalto kebelekang tepat disampingku. Lalu melirik dengan serius. "Serang bagian belakang dengan bidikan 155,"Jawabnya membuat mataku membulat penuh secara cepat mengubah senjataku dari Handgun menjadi Sniper, ia lalu tersenyum dan kembali memandang depan.

"Ignis, aku butuh banyak mark bisakah kau membantuku? Menciptakan beberapanya,"Jawab Rain, dan dapat kulihat tatapan bingung dari Ignis namun dihilangkanya selama beberapa detik.

"Baiklah!,"Jawab Ignis bersiap kuda-kuda, dengan degger ditanganya, lalu bersamaan lalu melemparkan 'Mark sihir' sekitar 5 atau lebih. Dan tampa menunggu lagi Rain bergerak dengan sihir teleport dengan jumlah besar, lalu dengan sebuah serangan menerkam Prya bertubi-tubi.

"Berhasil,"Jawab Ignis.

"Luar biasa,"Ucap Gladious tersenyum.

"Hell Yeah!,"Ungkap Prompto langsung melompat Girang, dan memeluk Rain dalam jangkauanya. Saat monster Pyra itu sudah tak bernafas lagi dengan tubuh ambruk.

Seulas senyuman dari Rain nampak terlihat, lalu ia mengatur nafasnya, namun senyuman legahnya langsung menghilang dengan cepat, pandanganya langsung menatap serius pada ketiga rekanya, lalu pedang disekitar Rain telah menghilang dari sekitarnya, menandakan tak ada bahaya terdeteksi disekitarnya. "Sebaiknya kita segera bergegas mencari Noctis, semoga dia dan Sakura baik-baik saja,"Jawab Rain bersamaan ketiga rekanya mengangguk paham dan keempatnya lalu berlari menuju tempat Noctis berada.

[Pov Prompto END]

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

"Diam~ aku tak mau mendengarnya lagi! Aku muak~ sangat MUAK!,"Jawabnya semakin Starkatis dan diliputi kemarahan.

"Ah! Noct,"Jawab Sakura kecil sebelum tubuh Sakura menahan nyeri pada kepalanya, ia lalu menutup matanya dan menundukan wajahnya kehadap lantai, dengan satu-persatu tetes keringat jatuh dari sana. Dia benar lelah.

Semburan Firaga nampak terlihat melebar dalam jangkawan Luna membuat Noctis termundur, pertarungan semakin tak terhindari, Noctis termundur kebelakang tepat disisi ujung sebuah tebing.

"Noct!,"

"Ah!,"Mata Noctis membulat saat itu juga, saat ia nyaris terlempar dari tebing. Sebuah tangan hitam dari 'Demon' besar nampak muncul membela udara, lalu mencengkram Noctis dengan kuat seolah akan meremukanya. "AHK!,"Noctis Nampak menjerit kuat, bersamaan sebuah asap hitam keluar dari tubuh Luna, membentuk Figur seorang Pria jangkung tinggi nampak sudah disebelah Luna.

"Nampaknya ambisi indahku benar-benar menjadi kenyataan,"Sebuah Suara mendayu, dengan barithon berat nampak terdengar, ia nampak merapikan rambut berantakanya berwarna Merah-Wine, sembari menjilat bibirnya dengan nada kepuasan. "Melihatmu dua kali dengan penuh penderitaan seperti ini, benar-benar sangat menyenangkan,"Jawabnya.

"S-Siapa kau!,"Jerit Noctis tertahan.

"Namaku! Umm apa aku harus menjawabnya,"Tanya lelaki itu dengan nada polos. "Baiklah perkenalkan namaku adalah Ardyn Izunia, Yang mulia pangeran,"Ucapnya dengan senyuman. "Mungkin sekarang kau belum mengenalku, tapi suatu hari kau akan tahu siapa aku,"Jawab Lelaki itu nampak ramah dengan gestur ringan, namun raut wajahnya kembali berubah menjadi seringan-Iblis. "Namun kurasa aku tak butuh waktu lagi untuk menunggu lagi, aku akan menghabisi dirimu sekarang,"Jawabnya dengan nada murka.

"NOCT!,"Sakura berteriak saat cengkraman Sang demon semakin, Sakura mencoba mengerakan badanya yang keram kesemutan, membuat dia tak mempu bergerak.

"Sebelum nyawamu habis disini, aku ingin menjelaskan beberapa hal Pengeran Noctis,"Jawab Ardyn dengan senyuman.

"Hah!,"

"Yang membuat portal dunia kacau adalah Aku, dan yang membuat monster serta Hewan suci bertindak memporandakan segala dalam negri dan membuat Cantrella memasuki tempat ini karna campur tangan dariku,"Ucapnya tersenyum seolah tak memiliki dosa sama-sekali.

"A-Apa kurang ajar!,"

"Memanfaatkan perselisihan dewa, serta mengendalikan Putri Luna Frea adalah aku,"Ucap Ardyn sembari memandang kearah Noctis, sementara Noctis memandang dengan tatapan hina.

"Uhk!,"

"Lenyaplah keturunan Calleum terakhir,"Jawab Ardyn dengan wajah bastad, bersamaan memanggil sebuah pedang katana panjang berwarna hitam, dengan sebuah sayap berwarna abu-abu disisi tumpulnya ketanganya, dan mengarahkan pedang itu pada jantung Noctis.

"NOCT!,"Sakura berteriak dengan air mata yang nampak keluar bersamaan, ia tetap berusaha bergerak, namun waktu terasa tak cukup karna pedang itu dengan cepat siap mengarah pada jantung Noctis.

PRAAANNGG!

Namun suara desingan sebuah pedang nampak terdengar dengan cepat, memblokade senjata yang diarahkan Ardyn pada Noctis, mata Ardyn menatap kesal saat ia memandang siapa yang menahan pedangnya dengan tepat waktu. "Kau tak pernah bosan menghentikanku Bocah,"Desisnya pada seseorang yang tengah tak jauh beberapa langkah dihadapanya, dan menahan pedang-nya. "Rainess,"Desisnya memanggil Nama asli Rain.

"Ra-Rain,"Panggil Noctis tak percaya memandang sosok pelayan setianya, sudah ada dihadapanya dan melindungnya pada detik-detik terakhir.

Rain hanya diam saja, ia saat itu tengah berdiri tegak membelakangi Noctis, dengan dua-belas pedang mengitarinya matanya merahnya pula nampak berpijar terang, memandang sosok Ardyn Izunia dengan penuh dendam kesumat. "Rupanya ini ulahmu!,"Desis Rain memandang Pria itu.

Dsing!

Sebuah sihir mark milik Ignis, lalu datang dari belakang Ardyn, melesat cepat bagai kunai, mengarah ke-Noctis, dan dengan cepat memindahkan lokasi Noctis tak jauh dari lokasi tempat yang aman agar tidak jatuh keujung bangunan, bersamaan Ignis pula sudah ada disana melindungi Noctis. "Kau! Belum mati rupanya,"Bisik Ardyn memandang sosok Rain memandang serius.

"Aku tak akan mati dengan mudah! Karna aku yakin tekat bajah dari ibuku ada padaku,"Jawab Rain lalu mengulurkan tanganyanya kedepan, mengarahkan sebuah pedang pada tanganya."Yang selalu berkata bahwa aku tak akan menyerah, sampai titik darah penghabisan,"Jawabnya.

"Cih!,"Umpatan kesal langsung diarahkan pada Rain dari Ardyn, namun tatapan itu malah dibalas dengan tatapan tak peduli oleh Rain.

"Kalian berhasil!,"Jawab Noctis menghelah nafas, matanya beralih pada Ignis yang nampak memapahnya, lalu memandang Sakura yang digendong Gladiolus menghindari pijakan kuil yang mulai roboh, dia lalu memandang wajah Noctis dengan senyuman seringai ramah. "Jangan menyerah Noctis,"Ucap Gladiolus.

DREET!

Sebuah gempa kecil, membuat pijakan Gladiolus meretak dan dengan cepat pria berbadan kekar itu langsung melompat, ia menjangkau langkah, ketempat lain yang lebih aman, setelah mengendong tubuh Sakura.

"Kami tak akan meninggalkanmu sendirian,"Jawab Ignis lalu mengambil sesuatu didalam kantung jasnya lalu diberikan pada Noctis. "Gunakan X Potion ini, kita masih punya pertarungan lagi,"Bisiknya, membuat Noctis mengangguk cepat.

DOR!

Sebuah suara peluru senapan terdengar lumayan keras, ditembakan langsung pada bagian kiri kepala Rain, yang ternyata melewati Rain dengan menembak Shadow Demon yang masih melayang dibelakang Rain. "Kau mencari masalah maka Izinkan kami menghancurkanmu,"Desis Prompto memandang Ardyn Izunia dengan tatapan membunuh, bersamaan mengisi peluruh Senapanya dengan kecepatan luar biasa.

DOR!

Peluru berikutnya lalu ditembakan ke Prompto pada trisula Hitam milik Luna, ketika Luna mengangkat trisulanya yang akan menciptakan sihir, untuk menghancurkan Rain dihadapanya, dengan cepat tembakan itu juga membuat trisulanya terpental namun tidak melukai Luna, Karna Prompto memang mencoba melumpuhkan saja. "Sekarang Rain!,"Teriak Prompto tak jauh dari belakang, sebelum Rain bergerak cepat kedepan lalu merapal Sihir 'Chain'.

Bersamaan dengan sulur rantai keluar dari tanah, dengan cahaya berwarna hijau, langsung mengikat Luna, dan lagi - lagi Ignis meneleport Luna jauh dari Ardyn dan membuat Luna Pingsan. "Sakura jagalah Luna,"Ucap Gladiolus memberikan Luna yang pingsan, dan langsung bergerak mendekati Noctis, Ignis dan Rain, sementara Prompto masih bersama Sakura.

"Sakura! Minum ini!,"Jawab Prompto masih disamping Sakura, memberi sebungkus pil berisi warna abu-abu, Sakura pun tak bertanya langsung menelanya.

Sebuah Cahaya kecoklatan mengeluarkan terang pada tubuh Sakura, membuat tenaga Sakura telah kembali kesediakala. "Terimakasi Prompto!,"Ucap Sakura, langsung membela diri menjadi dua tubuh, mendekati Prompto, Bunshin satunya nampak menjaga Luna.

Seketika semua tenaga team itu kembali dan bersama - sama untuk melawan Ardyn, semua lalu menyiapkan pedangnya, dan kembali fokus untuk semua pertempuran, Ardyn hanya tersenyam - senyum sebelum pandangan nampak menatap kearah belakang Noctis dan lain-lain sebelum memandang Sosok Sakura dengan tatapan dendam. "Rambut itu! Bola mata itu! Aku ingat semuanya,"Racawnya pada Sakura.

"Kita lihat apa kau masih bisa merentangkan sayapmu itu Phonex, bukan Dewi Phoniex, dewi dari segala burung,"Ucap Ardyn mendengkus penuh kekejaman. "Bersiaplah Nyawamu akan berakhir disini serta inangmu Sakura Haruno,"Jawabnya yang sesunggunya memiliki dendam pada Putri Sakura dimasa depan.

.

.

.

[{÷}][[]]"-Oo0+O»»+««O+0oO-"[[]][{÷}]

.

.

.

"Rain-nee? Kenapa kau sendirian disini tak bermain dengan anak bangsawan lainya?,"Sosok Sakura 30-tahun kedepan, nampak tersenyum menatap Rain yang berusia 10 tahunan, terduduk diatas sebuah dahan rendah sebuah pohon dengan posisi tiduran.

"Tidak! Aku ingin berkumpul disana!, Bunda!,"Jawab Rain menghelah nafas, Rain turun dari pohon mendekati sang ibundanya.

TAP!

Bersamaan Mata Jade Sakura membulat saat kedua tangan seseorang, mengenggam dirinya dengan kuat. Noctis tampa sadar mengenggam telapak tangan Kiri Sakura dengan kuat, seolah menyembunyikan Sakura dibelakangnya. Sementara Rain juga mengenggam lengan kanan Sakura dengan kuat tampa sadar, Baik Ignis, Prompto dan Gladiolus nampak kaget melihat sifat kedua pemuda itu pada Sakura, tapi memutuskan untuk fokus pada pertempuran.

"Aku tak akan membiarkanya,"Jawab Noctis dengan wajah penuh kemarahan, puppilnya berwarna kemerahan-cerah, dengan senjata-senjata terbuat dari Kristal-kristal disekitarnya, berputar dengan indah disekitar mereka.

"BAIKLAH TUAN PANGERAN MAJULAH!,"Ungkap Ardyn dengan pandangan mengerikan, bersamaan Kilauan matanya berubah warna, dan memanggil beberapa Demon dihadapanya. "Mari kita lihat siapa yang selesai saat ini kau atau aku,"Jawabnya.

"Jika begitu mari kita sungguh," Ignis,Lalu bergerak mendekat melempar dua Dagger api miliknya kearah Demon yang mendekat, serta mengalihkan matanya kearah Noctis. "Aku akan mengalihkan pandanganya, dia bagianku,"Jawab Ignis mengangguk dan membuat Gladialous tersenyum Smirk.

"Kau pikir aku juga punya lawan berat disini!,"Jawab Gladialous lalu memainkan pedang besar pada salah satu Demonya. "Mari kita hadapi sampai titik akhir.

[Bersambung]

[Jumat - 24 - Februari - 2017]

[Lightning Shun baca komentar-komentar kalian langsung membatu]

Tes!

Noctis : Neh kenapa author kau kok diam saja! Ada haters karna tulisanmu bermasalah lagi?

Author : *memertakan gigi*

Sakura : Author...kamu kenap-"

Rain. : Jadi begitu! *tersenyum*

Sakura : Author nangis.

Author : ...

Noctis : EH! NANDE!

Author : Saya merasa terharu! Ada yang mau mendukung cerita saya dari awal berdirinya, cerita ini hingga sekarang, saya berusaha sebagus mungkin dan berlatih lebih baik meski karya saya jauh dari kata sempurna.

Author : Akhirnya aku menyelesaikan part ini juga, sebelum aku harus mengerjakan kesibukan dunia nyata.

Vicky :Shuna, lagi-lagi kau galau begitu.

Author : lah memangnya aku tak boleh mengeluh?.

Nivans : Kau sudah membaca komentar akun sebelah dan akun ini?.

Vicky : Eh! Banyak dari pembaca yang bilang kalau kau cocok membuat gendre drama, dan Harem.

Author : Are! Aku sebenarnya kurang begitu percaya diri membuat Drama, aku sendiri sedikit merasa kurang percaya diri. Aku berterimakasi atas dukungan kalian pada cerita-ceritaku, aku akan berusaha menulis lebih baik lagi, agar memenuhi harapan kalian, namun meski begitu aku tidak bisa secara Total di Drama karna pada dasarnya, aku penulis Fight dari dulu.

Maaf memunculkan sosok Ardyn berbeda dengan di gamenya, karna tulisan saya memang dari awal memang sudah mengunakan tema Karangan jadi kemunculanya berbeda seperti gamenya.

Ah! Sampai jumpa part depan!