MY HIGH SCHOOL, MY LOVE
Juliana Hwang
Rate : T+
Genre : Drama, friendship, family, hurt/comfort, fluff
Chapter : 1/?
Warning : GS, School Life, Typo(s)
DON'T LIKE, DON'T READ
I LOVE READER, I HATE SILENT READER
Semua cerita merupakan murni hasil pemikiran saya dan saya mohon maaf bila ada kesamaan dalam penulisan cerita. Cerita ini milik saya dan saya meminjam nama EXO sebagai tokoh.
Happy Reading
Matahari bersinar hangat, angin kecil berhembus riang membawa helaian daun musim semi. Mereka terbang menari – nari, diikuti kicauan elok sang penyanyi alam. Awan putih bergumul menjadi satu untuk kemudian pecah tersapu angin. Perlahan semburat jingga menggantung dilangit menciptakan guratan senja nan apik. Aroma musim semi berterbangan, menebarkan semerbak wangi kombinasi antara hawa dingin dan hangat yang menyatu. Ahh… bukankah ini sore hari yang luar biasa indah ?
Jalanan sepi dibawah langit senja itu hanya berisi beberapa gelintir orang. Salah satunya dia, dia yang bersenandung kecil, sambil melompat – lompat ringan. Dengan setelan kaus putih polos dan celana ketat motif Bunga – bunga krisan kuning, juga sepatu merah cerah membungkus kedua kakinya. Ia terlihat manis. Gadis muda berumur 16-an tahun itu menyampirkan tas punggung dibahu sebelah kiri sementara tangan kanannya menjinjing satu kantung plastic biru gelap berukuran sedang.
Dari arah berlawanan muncul segerombolan bocah kecil. Mereka berlari – lari sambil tertawa. Satu diantaranya bertubuh gemuk, satu lainnya bermata sangat sipit dan beberapa bocah dibelakang keduanya menciptakan guyonan konyol.
Baiklah, sekarang komplotan bocah itu berkumpul membentuk lingkaran. Kemudian mereka mengangguk serempak dengan membawa seringai aneh diwajah masing - masing. Si bocah laki – laki bertubuh gemuk berteriak memberi aba – aba. Sepertinya bocah itu pemimpin komplotan. Apa – apaan itu ? mereka geng bocah nakal ? mungkin saja.
"LARI SETELAH HITUNGAN KE – 3 !"
"1… 2… 3…. LARIIIII….!"
"CEPAT AMBILL…!"
"HEY.. SIPIT BODOH ! AMBIL TASNYAAAAA…. !"
"BERHASIL..!"
Tas plastic biru gelap yang malang, dan gadis muda yang ditimpa sial. Bocah gendut itu seharusnya dinobatkan menjadi pencuri. Tidak. Tidak. Lebih baik berandalan.
"HEY.. DONG HAAA… KEMBALIKAN KANTUNG BELANJAKUUUU…!"
"GOMAWO LUHAN EONNI, AKAN KUKEMBALIKAN SAAT TASNYA KOSONGG" hoohh… teriakan yang tak kalah nyaring rupanya.
"YAA.. YAAA… KUBILANG BERHENTIIII… GENG INGUSAN". Komplotan bocah kecil itu semakin berlari – larian, salah satu bocah berlari sambil mengangkat tinggi – tinggi tas plastic biru yang berhasil ia rampas. Kemudian mereka menari sambil menjulurkan lidah. Ughhh… menyebalkan.
"OHH.. BAIKLAH BOCAH. AKU AKAN MELAKUKAN KEKERASAN PADA KALIAANNN… TERIMA INIIII.. HEEAAAA" dan sepatu merah cerah gadis itu melayang, melambung tinggi membelah udara. Bagai gerakan slowmotion, sepatu itu terus melayang hingga kemudian menukik tajam dan berha_
"Aww.. Tuhan, kepalaku !"
_sil.
Haa.. ? ini petaka. Ini petaka. Lupakan geng rusuh sialan itu.
"Uhh, kau baik – baik saja ?" Tanya Luhan saat ia berhasil menghampiri korban_keganasan_sepatu_merah-nya.
Laki – laki itu menggosok kening atas sebelah kiri, ada bekas kemerahan disitu. Oh, okay itu ulah sepatu sialan Luhan. Ralat, lebih tepatnya ulah Luhan.
"Sepatumu nyaris membunuhku. Apa itu baik – baik saja ?"
"YAA..! Jangan berlebihan !"
"Aaaww.. Hey kenapa kau memukul kepalaku ?"
"aku harus pergi.."
Satu langkah.. dua langkah.. ini akan mudah. Luhan sudah menyiapkan ancang - ancang untuk lari jika saja ia tidak mendengar suara orang asing dibelakangnya.
"Dimana sopan santunmu ? sepatumu hampir membuatku bodoh. Setidaknya minta maaflah dengan baik dan benar !"
"Tenanglah Tuan Berisik. Aku minta maaf. Okay ?"
Laki – laki itu beranjak, sejurus kemudian ia menyamakan langkah kaki dengan gadis muda disampingnya. Ia tidak lagi menggosok bekas kebrutalan sepatu Luhan, toh itu hanya luka kecil. Luka kecil yang dilakukan gadis kecil pula. Imut sekali.
"Tuan Berisik ! apa lemparan sepatuku membuatmu gila ? maksudku senyummu bodoh. sungguh"
Laki – laki itu mendengus "Setelah melukaiku kau masih mengataiku juga ? benar – benar"
"Aku diam" Luhan mengangkat sebelah tangannya, memposisikan telunjuk dan ibu jari disisi kanan bibir kemudian menciptakan gerakan kekiri semacam gestur menutup resleting. Dan gadis itu benar – benar diam.
"ikut aku ke toko. Kuganti camilanmu dan aku akan memaafkanmu"
"Yaa.. dilarang menarikku seperti ini. Yaaa… Tuan Berisik ! Assghffllkk"
-My High School, My Love-
"KUBILANG BERHENTI MENGATUR HIDUPKU !"
"Tapi Tuan muda, ini perintah dari Presdir"
"APA KAU TULI ? DIAM DAN KELUAR !"
Blam..
Pria setengah baya itu menutup pintu setelah sebelumnya membungkuk sopan pada Tuan mudanya. Ia tahu bahkan terbiasa dengan tabiat Tuan mudanya yang memiliki temperamen buruk.
Sudah bukan rahasia lagi jika Oh Sehun_ orang yang dipanggil Tuan muda itu memiliki otak jenius dan berwajah tampan serta kulit putih pucat yang luar biasa rupawan. Ia beruntung terlahir ditengah keluarga kaya dan menjadi satu – satunya pewaris bisnis dalam keluarga Oh.
Namun, tidak adil namanya jika ia memiliki hidup sesempurna itu. Tuan dan Nyonya Oh sibuk melebarkan sayap perusahaan diberbagai Negara di Asia. Untuk pulang-pun tidak sempat apalagi meluangkan waktu untuk putra semata wayangnya, itu lebih mustahil lagi.
Selama 16 tahun Sehun tumbuh remaja, pria muda itu hidup bersama beberapa maid setia yang mengurus rumah atau bisa dibilang istana tempat tinggalnya. Keluarga Oh memiliki kekayaan yang luar biasa, percayalah kau akan mual dan sakit kepala jika menghitung seluruhnya.
Lagi – lagi.. namun… akan tetapi dan tapi…
Selama 16 tahun itu pula, Tuan Muda itu tumbuh menjadi sosok berhati dingin. Ia bahkan menciptakan dinding tebal berlapis es untuk menjaga jarak dari 2 orang yang seharusnya ia hormati. 2 orang yang seharusnya memberi perhatian penuh. 2 orang yang seharusnya memperhatikan ia dari lahir hingga dewasa. 2 orang yang seharusnya memberikan kasih sayang. Dan bahkan Sehun tidak sanggup menyebut 2 orang itu sebagai ayah dan ibu.
Drrrtttt…. Dddrrrrttt…
Ponsel sialan.
"Yeoboseyo"
"kau terdengar emosi. Apa yang kau lakukan pada tutor bisnismu ?" sepertinya kata – kata itu mengejek.
"Tutup mulutmu dan datang kemari !"
"Yaa.. sopan sedikit. Aku lebih tua dari…"
Pippp…
Bagus sekali, pemutusan sambungan sepihak. Benar – benar berhati es.
-My High School, My Love-
"kau bilang dimana kau akan bersekolah ?"
"WUFAN.. ku bilang WUFAN High School"
"BENARKAAAHHH ?"
"Kyung.. pelankan suaramu. Kau mengganggu pelanggan yang lain"
Gadis yang dipanggil Kyung bernama lengkap Do Kyungsoo itu hanya tersenyum lebar. Mengacuhkan pandangan dan bisik – bisik beberapa pengunjung. Ia bahkan tidak peduli dengan tatapan aneh beberapa pasang mata yang mengarah tepat padanya.
Ia berdecih kemudian tersenyum sambil merafalkan 'maaf" tanpa suara pada seseorang yang menegurnya tadi.
"sepertinya aku harus memeriksakan telingaku. Aww.. sakit sekali"
"Jangan hiperbolis. Hubungi aku jika kau sampai di Korea. Mengerti"
"Baiklah. Kututup. Bye Kyung"
"aahh… senangnya.." Kyungsoo menggumam sambil menyandarkan punggung. Gadis itu memejamkan mata sambil tersenyum – senyum. Senyum manis ditambah lagi mata bulat yang mengingatkan kita pada tokoh kartun Owl. Mungkin jika disandingkan dengan anak kecil, anak kecil itu akan segera berlari dan menangis tersedu - sedu karena ia merasa kalah imut dengan Kyungsoo.
Mata bulat gadis itu terbuka, kemudian ia mengalihkan perhatian pada sendok kecil. Meraih benda itu dan membenturkannya pada pinggiran cangkir yang telah kosong. Benturan itu menimbulkan suara nyaring 'ting' 'ting' berulangkali hingga seseorang yang menegurnya tadi datang dan duduk tepat dihadapan Kyungsoo.
"hentikan itu. Kapan kau dewasa huh ? kau akan masuk SMA minggu depan. Ingat itu"
"aku hanya memanggilmu. Jadi kau sudah selesai dengan pekerjaanmu ?"
"Sudah. Lalu ? apa yang kau lakukan disini selama 2 jam 10 menit 15 detik ?"
"Hebat sekali. Jadi kau menghitungnya ?"
"Berhenti basa – basi dan katakan !"
"Karena minggu depan kau dan aku akan masuk SMA, jadi…" Kyungsoo sengaja menggantung kalimatnya.
Gadis didepan Kyungsoo memutar bola mata malas.
"Jadi apa ?"
"Jadi kita perlu membeli ransel, sepatu dan semuanya.."
"Kau saja, jangan kita" setelah mengucapkan itu ia bangkit. Meninggalkan Kyungsoo yang cemberut dimejanya. Diam – diam ia melangkah sambil tersenyum kecil, memiliki sahabat yang unik dan imut seperti Kyungsoo merupakan keajaiban tersendiri.
Bahkan Kyungsoo lebih berharga dari 7 keajaiban dunia. Oh, itu berlebihan. Tapi sungguh, lebih baik kau memiliki 1 sahabat yang setia padamu daripada memiliki 1000 sahabat yang diam – diam menusuk dari belakang.
Kyungsoo termasuk keluarga elite dan gadis_yang_tadi_duduk_didepan_kyungsoo hanya terlahir dari keluarga biasa dan serba sederhana. Untuk lebih mudahnya panggil gadis ini Kim Minseok. Dan lebih mudah lagi panggil ia Xiumin untuk kedepannya.
Meskipun terlahir dari keluarga sederhana, hal itu tidak membuat Xiumin patah semangat ataupun berkecil hati. Hal itu justru mendorongnya untuk lebih giat belajar dan bekerja.
Di usianya yang masih dibilang muda, ia memiliki harapan untuk membahagiakan orang tuanya. Impian yang sederhana memang, tapi itu mulia. Ia bekerja part time setiap hari seusai sekolah. Dan upah atas pekerjaan itu ia gunakan untuk biaya sekolah.
Orang tua bagi Xiumin adalah segalanya. Sayangnya Tuhan hanya memberikan ia satu orang tua yaitu Ibu. Ayah Xiumin telah lama berpulang semenjak ia duduk dibangku sekolah dasar.
Oleh karena itu, ia berusaha keras menjaga orang yang ia sayangi. Entah itu orang tua atapun sahabat. Ia tidak ingin mengulang kejadian dimana ia kehilangan orang yang penting baginya_ Ayah.
"Berhenti cemberut dan angkat bokongmu dari kursi"
"Kita belanja ?"
"Tentu"
"Yeeyyy" Kyungsoo segera melompat dari kursi dan bersorak girang sambil menari ala Sistar.. Give it to me.. ohh beibehh give it to mehh... Kemudian ia menyongsong Xiumin dan memberikan pelukan maut pada gadis yang sibuk geleng – geleng kepala.
Rupanya kelakuan abstrak Kyungsoo menarik perhatian pengunjung café. Mereka bertepuk tangan riuh sambil bersiul - siul. Sejurus kemudian Kyongsoo merah padam dan menarik Xiumin keluar dari café.
"Wow.. kau berbakat"
"Berbakat apa ?"
"Mempermalukan diri sendiri"
Kyungsoo nyaris terjungkal. Terimakasih pada jawaban Xiumin yang jujur apa adanya.
"Mau ku ajari ?"
"Terimakasih.. tawaranmu bagus sekali. Tapi kau pasti tau jawanku.."
Kyungsoo mendengus, matanya berbinar dan berkilat – kilat cerah setelah berhasil menemukan toko Ice Cream diseberang jalan. Ia mulai lagi, melompat – lompat kecil sambil bersenandung entah itu lagu apa.
"Xiuminie…"
Xiumin bergidik. Perasaannya tidak enak. Tiba – tiba ia melihat langit senja yang tadi cerah gemilang berubah mendung. Awan hitam berkumpul dan siap bergesekan untuk menciptakan suara ledakan petir. Dan..
"Belikan aku Ice Cream.. buing.. buing"
Jjddaarrrr !
…sudah kuduga.
Oh dompet Xiumin yang malang.
Oh gaji Xiumin yang siap tandas.
Oh Kyungsoo yang menggemaskan.
Oh Kyungsoo… Assssgghhhkkllfff…
-My High School, My Love-
"YAA.. YAA… OPER BOLANYA"
"YAAA… CHANYEOOOL.. PARK CHANYEOL OPER BOLANYA. SIALAN"
"sudahlah, aku benci sepak bola. Tinggalkan permainan bodoh ini"
Seorang pria remaja berlari secepat angin untuk kemudian melayangkan satu pukulan telak tepat di kepala Chanyeol.
"HYUNG.. APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU ?"
"Jangan berteriak ! dengan kemampuan sebodoh ini kau yakin masuk tim sepak bola hah ? lebih baik kau menyerah sebelum ditolak mentah – mentah. Mengerti ?"
Chanyeol mengusap telinganya, kemudian wajahnya, kemudian kepalanya. Sungguh mempunyai sepupu yang serba disiplin, serba pintar, serba memimpin itu merepotkan. Menyebalkan. Menyeramkan. Arrgghhh…
"Aku mengerti.. aku mengerti.. dan dengar Hyung, aku tidak akan masuk tim sepak bola bodohmu itu. Aku akan masuk tim basket. Dan aku akan menjadi yang terbaik. Ingat itu"
"apa ? tim basket ? hey, ketua tim basket bahkan lebih galak daripada aku. Dan tunggu.. kau bilang tim sepak bolaku bodoh ? minta dihajar ? yaa… Chanyeol, berhenti ! JANGAN LARI. Oi.. HOII.. PARK CHANYEOOOL"
Dua orang saudara sepupu itu terus berlarian sambil melontarkan teriakan dan sumpah serapah. Jangan terkejut ataupun menggelengkan kepala, itu adalah kebiasaan wajib yang selalu mereka lakukan setiap kali bertemu.
Dan sialnya mereka bertemu setiap hari karena selain rumah yang bersebelahan, mereka adalah sepupu. Sekali lagi huruf tebal, capital, bergaris bawah MEREKA ADALAH SEPUPU.
Keduanya seringkali tertangkap basah tengah bertengkar saling menendang, memukul, mencakar bahkan saling menggigit. Aauuuu… geure wolf neega wolf.. auuu. Ahh.. saranghaeyo.. Tapi percayalah, itu kenyataan.
"YAA… SUHO HYUNG, BERHENTI MELEMPARIKU DENGAN BATU SIALAN ITU"
Kim Joon Myeon atau kau bisa memanggilnya Suho. Suho bisa diartikan malaikat, sesungguhnya.. ya sesungguhnya. Suho akan bersikap baik, ramah dan sopan kepada siapapun. Siapapun kecuali Chanyeol.
Bagi Chanyeol, Suho adalah malaikat.. malaikat pencabut nyawa. Malaikat penyiksa.. dan semua malaikat yang berbau tindakan kekerasan ada pada Suho. What the hell, mereka sangat akrab tapi tidak rukun.
Pernah satu waktu, Chanyeol melaporkan sepupunya sendiri ke kantor polisi. Dengan menyertakan keterangan bahwa sepupu malaikatnya itu melakukan tindak kekerasan yaitu memukul kepalanya sebanyak 50 kali sehari gara – gara Chanyeol harus melakukan tes remedial.
Baiklah, siapa yang harus dibela dari mereka berdua ? siapa yang salah dari mereka berdua ? siapa yang keterlaluan dari mereka berdua ?
"kesimpulannya Chanyeol dan Suho gila" seorang polisi gagah berpangkat tinggi muncul dari balik pintu setelah sebelumnya menginterupsi laporan aneh Chanyeol. Ia segera menarik telinga bocah itu dan menyeretnya keluar.
Sementara diluar sana berdiri lagi seorang polisi berpangkat lebih tinggi nampak menghitung sambil membentak – bentak seseorang. Dan seseorang itu adalah Suho, ia mendapat hukuman push up dari ayahnya ditambah bentakan yang membuat Suho ingin segera berlari ke rumah sakit.
"Demi Tuhan, kalian berdua berhentilah bertengkar atau aku akan memenjarakan kalian dalam satu ruangan"
"TIDAAAAKK" teriak Chanyeol dan Suho kompak. Pandangan keduanya bertemu namun keduanya segera berpaling bersamaan. Masih ada kilatan emosi yang siap meledak disana.
"Jangan membuat kami malu lagi atau aku akan benar – benar mengunci kalian dalam 1 ruangan"
Suho melotot.
Chanyeol berdecih.
Plakk.. plakk..
"Yaa… Appa"
"Yaa… Aboji"
"KEPALAKU…" teriak Suho dan Chanyeol, bersamaan.. lagi.
"Lihat, kalian sebenarnya kompak. Cepat minta maaf dan pulang sana !"
"Baik Aboji"
"Baik Appa"
Suho mendengus, "Jangan meniruku. Bodoh !"
"Jangan menyebutku bodoh. Bodoh !"
Dan keduanya telah menyiapkan cakar paling tajam, siap menerjang dan memangsa satu sama lain untuk yang kesekian kalinya.
"YAA… JANGAN BERTENGKAR DISINIIIIIIIIIIIII.." kini giliran ayah Suho dan Chanyeol yang berteriak.
Dan itu adalah cuplikan masalalu saudara sepupu Chanyeol Suho, setelah bertengkar hebat mereka hanya mampu bertahan saling mendiamkan dalam durasi 30 menit.
Dan mereka rukun dalam waktu 15 menit setelah itu bertengkar atau bisa dibilang saling membunuh selama 1 jam, setelah itu saling mendiamkan lagi selama 30 menit.. dan kejadian itu terus terulang dan menjadi kewajiban.
Lihat saja sekarang, mereka masih berlarian memutari lapangan sepak bola sementara Suho sibuk mencomoti batu untuk dilemparkan pada sepupunya.
"Suho.. Suho Oppa.. sepupumu akan terbunuh dengan batu – batu itu"
Chanyeol berhenti mendadak dan sukses membuat Suho menabrak Chanyeol secara mendadak pula.
"Hey.. siapa dia ?"
"Siapa ? Oii.. Yeol, jangan melihatnya seperti itu. Jangan katakan kau tertarik"
"Kau berlebihan. Aku hanya bertanya dia siapa. Lagipula…"
"Lagipula apa ?"
"LAGIPULA DIA CANTIK" dan Chanyeol berhasil mengambil jarak beberapa meter sebelum akhirnya Suho bersiap untuk membabi buta.
Bunuh manusia menyebalkan itu. Waarrrrr….
Sementara gadis yang dikatakan cantik itu duduk cemberut dibangku penonton sambil menggumam sebal. Padahal ia sudah rela datang karena Suho bilang ingin mengenalkannya pada sepupunya, tapi yang ia dapatkan hanya pemandangan saling membunuh antar saudara sepupu. Bagus sekali.
Chanyeol dan sepupunya berlarian sambil melempari batu. Alhasil Chanyeol melompat – lompat dan nyaris tersandung. Namun, keberuntungan sedang bermusuhan dengan Chanyeol jadi saat pemuda itu berbalik untuk meminta Suho menghentikan pertengkaran aneh ini sebuah batu berukuran sedang melayang ke arahnya dengan kecepatan penuh hingga tidak ada waktu lagi untuk bergerak.
Jjddukk !
"AAAAARRRRggghhhh… ! kepalakuuuu !"
.
.
.
.
TBC
.
Halo.. saya kembali dengan membawa Chapter 1. yahh.. semoga itu chapter gak panjang - panjang banget. hehheee..
Makasih buat yang review. Aku cinta kalian, dan saya gak peduli dengan rumor keluarnya Tao dari EXO. Bagi saya mereka tetap EXO. Nah.. mengenai panggilan untuk saya.. panggil Juli aja cukup. Okay.
Yosh ! karena saya bosan dihari Sabtu ini jadi saya berbaik hati untuk memberi bonus Chapter 2.
Jangan Lupa REVIEW !
