"Aww.. Tuhan, kepalaku !"_Jongin
"KUBILANG BERHENTI MENGATUR HIDUPKU !"_Sehun.
"Belikan aku Ice Cream.. buing.. buing"_Kyungsoo
"Jangan menyebutku bodoh. Bodoh !"_Chanyeol.
.
.
MY HIGH SCHOOL, MY LOVE
Juliana Hwang
Rate : T+
Genre : Drama, friendship, family, hurt/comfort, fluff
Chapter : 2/?
Warning : GS, School Life, Typo(s)
DON'T LIKE, DON'T READ
I LOVE READER, I HATE SILENT READER
Semua cerita merupakan murni hasil pemikiran saya dan saya mohon maaf bila ada kesamaan dalam penulisan cerita. Cerita ini milik saya dan saya meminjam nama EXO sebagai tokoh.
Happy Reading
Sepasang anak manusia berjalan beriringan. Salah satunya tengah sibuk mengunyah permen karet sambil sesekali meniupkan udara untuk menciptakan sebentuk kecil balon biru pucat. Kemudian ia sengaja meniupkan lebih banyak udara hingga gelembung permen itu pecah.
Sementara seseorang sibuk dengan permen karet di mulutnya, seseorang yang lainnya lagi tengah ricuh mengumpat karena hari berubah gelap. Ia berjalan sembari menghentak – hentakkan kaki. Sesekali tangannya yang bebas berusaha menggapai kunang – kunang namun saat berhasil, ia membuka genggaman tangan dan membiarkan serangga kecil itu terbang.
"Jangan menangkapnya jika ternyata kau lepaskan lagi" seseorang yang tadi mengunyah permen karet mulai menginterupsi.
"Diamlah Tuan Berisik !"
Yahh.. percakapan yang tidak berhasil.
Setelah gagal menciptakan dialog, 2 orang itu memilih bungkam. Jika itu lomba mencetak rekor, mungkin seseorang yang tadi mengumpat_Luhan akan mencatat namanya sendiri dalam rekor muri.
Bagaimana bisa ?
Ahh.. tentu bisa. Karena Luhan adalah perempuan yang sungguh, sungguh, sungguh tidak bisa diam. Jika mulut gadis itu diam maka kaki dan tangannya akan jahil. Namun jika tangan dan kaki itu diam maka perempuan itu akan berceloteh tanpa lelah.
Rekor terbaik yang mampu Luhan raih dalam hal D-I-A-M adalah 16.
16 menit ?
Bukan.
16 jam ?
Mustahil.
16 hari ?
Apa ? jika itu 16 hari maka dipastikan kau mati.
Ohh.. baiklah. Bagaimana dengan 16 detik ?
Tepat sekali.
Jadi hari ini adalah rekor ajaib yang berhasil Luhan cetak, yaitu 1 menit 45 detik.
Seharusnya Luhan bersorak dan menari – nari sekarang, atau malah berlarian sambil membawa piala emas. Tapi tidak. Tidak jika seseorang pria asing itu masih setia berjalan disampingnya. Sial ! apa yang salah dengan orang ini ?
"ahh.. sampai" Luhan bernafas lega.
Pria remaja asing itu berputar beberapa langkah untuk membuang permen karet ke dalam selokan. Kemudian ia berbalik untuk menemukan rumah tua didepannya. Mungkin yang dimaksud tua adalah warna cat hijau pudar dan dinding keropos disana – sini memperlihatkan susunan batu bata merah rapi didalamnya.
Dibagian teras rumah itu hanya diberi penerangan seadanya berupa bola lampu warna kuning redup, sementara di bagian dalam terlihat terang dengan cahaya putih yang menembus jendela kaca hingga menyentuh sepertiga halaman depan.
Disisi kiri dan kanan pintu masuk diletakkan 2 pot besar berisi tanaman hias yang dipangkas rapi. Dan dibeberapa tempat sengaja digantungkan bunga – bunga sederhana dalam pot berukuran lebih kecil.
Rumah minimalis namun asri, itulah yang berhasil disimpulkan jika melihat bangunan mungil ini.
"Jadi ini rumahmu ?"
Luhan mendengus sebelum akhirnya menunjuk bagian atas dari bangunan itu.
"diatas sana_" Luhan memberi jeda "_Aku hanya tinggal diatapnya…"
Pria asing itu membuka mata lebar dan tersenyum setelah menemukan bangunan kecil dibagian atap. Cukup sulit mencari, karena selain hari berubah gelap, bangunan itu lebih tidak terlihat lagi dengan tidak adanya satupun lampu yang menyala.
"…Jadi pulanglah sebelum aku menendangmu" Luhan melanjutkan kalimatnya dengan memberikan penekanan pada kata 'menendangmu'.
"aku akan memaafkanmu kemudian pergi setelah kau mengatakan siapa namamu. Bagaimana ?"
"Apa ? kau bilang sudah memaafkanku jika aku mengikutimu ke toko. Ckk.. pembohong"
"hey.. itu baru satu maaf. Dan kesalahanmu tidak hanya satu. Kau lupa ?
Luhan mendengus kencang sambil menendang – nendang pagar besi.
"Yaa.. yaa.. Tuan Berisik. Sekarang apa lagi salahku hah ? pergi sana.. pergi !"
"Baiklah, jika kau lupa aku akan menyebutkannya satu persatu. Pertama, kau melemparku dengan sepatu…"
"huhh.. ? kau bilang sudah memaafkannya"
Pria itu berdecak, kemudian secepat kilat menggeplak kepala Luhan kalem.
"Diam dan dengarkan !" ohh.. itu terdengar mengancam. Luhan memberengut.
"Kedua, kau memukul kepalaku. Ketiga, kau mengataiku gila. Keempat, kau mengatakan bahwa aku bodoh. keenam, kau mengataiku pembohong dan ketujuh…"
"Luhan"
"Apa ?"
"telingamu tuli ? kubilang namaku Luhan"
"Baiklah dan ketujuh kau mengataiku tuli"
Arrggghhh… brengsek. Luhan ingin tenggelam ke tanah, mungkin itu lebih baik daripada berbicara dengan manusia jelek ini.
"Okay. Aku berhutang 6 maaf padamu. Kau puas ?"
Pria asing jelek itu tersenyum dengan seringai yang tak kalah jelek. Luhan akan mati sebentar lagi, jadi sebelum itu terjadi ia berlari memasuki pekarangan rumah dan menaiki tangga menuju atap.
"HEY.. KAU TIDAK INGIN TAU NAMAKU ?"
"TIDAK"
"AKU JONG IN. KIM JONG IN DAN KAU XI LUHAN."
"KAU SUDAH TAHU NAMAKU KENAPA BERTANYA ?"
"YA, KARENA KITA SEBENARNYA 1 SEKOLAH. OH, HEY INGAATT… KAU PUNYA 6 HUTANG MAAF PADAKU"
"SIAALL !DAN KAU PUNYA 1 HUTANG MAAF PADAKU. PERGIIIII….!"
"SAMPAI JUMPA LUHAAAN"
"AKU TIDAK DENGAARRR.. PERGIIIII…!"
"haahh.. katanya tidak dengar tapi masih dijawab"
Jongin tertawa, ia memilih untuk tidak berteriak. Itu agak gila, sungguh. Bagaimana mungkin kau berteriak seperti orang kesurupan didepan rumah seseorang ? memalukan. Yah.. itu hanya semacam pengorbanan kecil Jongin untuk mendekati Luhan. Xi Luhan. Nama yang cantik untuk gadis cantik.
-My High School, My Love-
"jadi ini WUFAN High School ? wahh… aku murid SMA. Aku murid SMA"
"hey.. Larva. Berhenti bertingkah bodoh. Kau seperti bocah autis. Lihat, kita terlambat"
"Larva ? menjijikkan. YAAAKK…! Zitao, sudah berapa kali kau menghinaku sejak menginjakkan kakimu di Korea huhh ? aku akan membunuh… Kyyyaaa, kau mau kemana ? TUNGGU AKUUU"
.
.
Hari pertama tahun ajaran baru, suasana baru, sekolah baru, teman – teman baru, tugas baru, hukuman baru dan guru galak baru ? dan semua hal serba baru kecuali tingkah abstrak Kyungsoo, itu bukan lagi kejutan.
Kyungsoo masih berlarian disana, dihalaman sekolah. Ia mengejar sosok gadis tinggi ramping dengan rambut hitam panjang yang tergerai halus menyentuh ujung punggung. Kyungsoo lambat ? tentu saja. Dengan tubuh mungil begitu dia tidak akan mampu mengejar atlet wushu.
Yang dimaksud atlet wushu disini adalah gadis cantik berdarah China yang memiliki tinggi badan beberapa cm lebih tinggi dari pada Kyungsoo. Sangat mudah mengenali gadis ini, kau cukup melihat mata-nya. Ia memiliki lingkaran mata panda yang justru membuatnya terlihat manis.
Dan Kyungsoo merasa tersaingi dengan itu, Kyungsoo yang paling manis dan Kyungsoo yang paling imut. Tapi itu menurut pendapatnya sendiri.. hahhaaa.. malangnya Kyungsoo.
"kelas 1-3, aku menemukanmu. Kursi samping jendela, aku dataaannggg"
Bruukkk..
"Aww.. Yaaakkk, pakai mata-mu jika sedang berjalan !"
"Maaf, tapi aku terbiasa memakai kaki saat berjalan"
Jawaban macam apa itu ?
"Pendek, jangan duduk disitu. Aku memilihnya lebih dulu"
"Dan aku mendapatkannya lebih dulu"
"Cari mati hah ?"
"Mati tidak ada disini"
"YAAAKKK… KEMARI KAUUUU"
"murid baru, murid baru. Silahkan berbaris. Aku akan membagi tempat duduk kalian"
Wali kelas sialan !
"Lee Jae Suk – Kang Min Woo"
"Kim Min Seok – Huang Zitao"
"Yoo Hyun Eun – Go Seung Cha"
"Kim Jong In – Park Chan Yeol"
"Oh Se Hun - …."
Bla..
Blaa..
Bbllaa…
"Dan yang terakhir Xi Lu Han – Do Kyung Soo. Silahkan duduk dibangku masing – masing dan kalian akan menerima pengarahan dari ketua tim ekskul sekolah"
"Siapa itu Kyungsoo ?"
"Luhan ? Oii, siapa yang bernama Luhan ?"
"Dia Kyungsoo" seseorang berpipi cubby menimpali seraya menunjuk Kyungsoo.
"Aku Luhan. DAN APA INI ? AKU SEMEJA DENGANMU" Luhan berteriak histeris sambil menunjuk – nunjuk wajah Kyungsoo.
"Sial ! JANGAN – MENUNJUK – WAJAHKUUU"
"Hey.. hey Kurcaci"
Luhan dan Kyungsoo melotot "SIAPA YANG KAU PANGGIL KURCACI HAH ?"
"Kalian… kalian berdua. DIAM DAN CEPAT DUDUUUKK….!" Woowww… terimakasih atas teriakan bass Chanyeol yang berhasil membungkam duo ribut Luhan Kyungsoo.
-My High School, My Love-
Kelas 1-3 berubah tenang semenjak si duo ribut duduk manis dibangku masing – masing. Salah satunya tersenyum – senyum karena mendapatkan kursi didekat jendela, sementara satunya lagi cemberut dan memilih menelungkupkan wajah diatas meja.
Masih tersisa 3 kursi kosong dibarisan meja Luhan – Kyungsoo, tapi toh biarkan saja. Mungkin hanya murid berandalan yang malas masuk dihari pertama sekolah.
Jelas saja malas jika seharian penuh hanya berisi pengarahan dari pengurus OSIS dan pengurus inti Ekskul sekolah. Membosankan. Membosankan. Membosankan.
Ngomong – ngomong, dimana pengurus inti Ekskul sekolah ? ini sudah terlambat 12 belas menit. Keterlaluan.
Pintu kayu putih disudut depan kelas berderit.. sedetik kemudian terbuka lebar, menampilkan beberapa sosok asing yang berjalan elegan memasuki kelas. Mereka berdiri secara rapi, terdiri dari 4 orang.
1 perempuan cantik berdimple, disebelahnya 1 laki – laki berwajah malaikat dan disebelahnya 1 laki – laki berwajah kotak, dia terlihat ramah serta disebelahnya lagi 1 laki – laki dengan tinggi menjulang berwajah datar Mungkin dia galak. Mungkin juga dia seganas naga ? atau dia alien ?
Bisa jadi.. bisa jadi.. hhiii, Luhan takut sendiri.
"Haloo, jangan tegang. Saya ketua OSIS di sekolah ini, namaku Zhang Yixing. Kalian cukup memanggilku Lay. Disana Jongdae ketua kedisiplinan sedangkan dia Suho dan yang tinggi itu Kris, mereka berdua adalah ketua Ekskul sekolah. Jadi…"
Tok.. tokk..
"..masuk"
Seorang laki – laki berkulit putih pucat muncul dari celah pintu, ia berjalan angkuh melewati 4 orang dan berpuluh – puluh pasang mata yang menatap tajam padanya. Ia tidak peduli sedikitpun dan mendudukkan diri pada kursi kosong tepat dibelakang Luhan.
Laki – laki itu mendongak untuk melemparkan tatapan tajam pada seluruh penghuni kelas dan seketika semuanya diam, tidak berani bersuara.. tidak berani bergerak atau mereka akan tersayat karena tatapan dingin orang angkuh itu.
"Lanjutkan saja Lay, dia Sehun" ketua Ekskul yang bertubuh kelewat tinggi itu bersuara sambil ekor matanya melirik Sehun tajam. Halooo… kenapa ada perang tatapan mata disini ? okay, lupakan.
Lay mengangguk, dan memberikan senyum tipis pada seseorang yang dia sebut bernama Kris. Ohh.. Tuhan senyum yang sangat indah. Percayalah, kau akan segera kejang - kejang karena senyum mempesona milik sang ketua OSIS.
"Baiklah.. murid baru, Jadi…"
Tookk.. Tookkkk..
"SEKARANG APA LAGI ? MASSSUUKKK…!"
Kyungsoo nyaris terjatuh dari kursi, baru saja dia akan memuji ketua OSIS ternyata orang itu galak. Sungguh. Jadi dia memilih untuk tidak memuji, enak saja asal memuji. Pujian Kyungsoo itu mahal.. hanya orang yang benar - benar saja yang akan ia puji. Seperti benar – benar tampan, benar – benar cantik, benar - benar galak tidak masuk dalam daftar.
"Maaf Sunbae, aku terlambat. Itu karena.."
"SEBUTKAN NAMAMU !"
"Kim…"
"JONG IN !"
Bruukkk…
Dan sukses, akhirnya Kyungsoo terjatuh dari kursi dengan sangat tidak elitnya. Luhan itu benar – benar, dia kecil, pendek tapi punya teriakan maut. Kyungsoo mencatat dalam otak bahwa mulai besok ia harus membawa penutup telinga untuk berjaga – jaga.
Apa itu berlebihan ? tidak. Kyungsoo masih menyayangi jantung dan telinganya. Dia tidak ingin mati konyol atau tuli sia – sia hanya karena Luhan. Tiitt.. ttiittt.. deteksi spesies berbahaya.
"KALIAAANNN... KAU DAN KAU. LARI KELILING LAPANGAN 10 KALIIIII….!"
Dan Kyungsoo kembali mendeteksi. Tiittt… ttiittt.. spesies berbahaya. Ketua OSIS galak.
-My High School, My Love-
"Kau butuh ini" Xiumin menyodorkan 1 botol cairan isotonic. Dan menempelkan 1 botol air mineral dingin dipipi Luhan.
"Wajahmu memerah" tambah Xiumin sambil meraih beberapa lembar tisu untuk mengelap keringat yang menetes dipelipis Luhan.
"Huuwweee… Kau baik tidak seperti ketua OSIS galak dan bocah pendek menyebalkan itu"
"YYAAAKKK…. Diva jadi – jadian. Kau bilang aku apa ? kemari kau !"
Xiumin bangkit untuk menggeplak kepala Kyungsoo, kemudian dengan tanpa dosanya gadis itu duduk kembali.
"Xiuminie.. kenapa kau memukul kepalakuu ? aaaa… Zitao, kau lihat. Xiumin tidak sayang padaku.. Hikss.. Hikss.."
Zitao hanya mengendikkan bahu, mengacuhkan drama murahan Kyungsoo dan segera mengisi kursi kosong disisi kiri Luhan.
Sialan. Kyungsoo dikacangi.
"Kenapa berdiri disitu bodoh, cepat duduk. Sebentar lagi waktu istirahat habis. Kau mau mati kelaparan ?" sekalinya bicara yang keluar hanya kata – kata kasar. Dasar panda nyasar.
Kyungsoo merengut.
Xiumin terbahak.
Luhan ? jangan Tanya. Dia lebih gembira lagi.
-My High School, My Love-
Jongin menyeret langkah lemah menuju kantin. Keringat deras menetes – netes dari pelipis pria itu, menciptakan jalur aliran basah pada pipinya yang memerah. Hukuman lari keliling lapangan nyaris membuatnya jatuh pingsan.
Apa Jongin berlebihan ?
Baik, sekarang pikirkan !
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah, dan karena ban mobil sialan yang bocor tidak tahu keadaan itu ia terpaksa berbelok menuju bengkel.
Setelah 10 menit mempertaruhkan nyawa mengebut dijalanan menuju sekolah, Jongin malah dihadiahi teriakan plus lari keliling lapangan 10 kali. Oh- itu bagus. Bagus sekali.
Terimakasih pada ketua OSIS yang menghukumnya berlari bersama Luhan. 1 keberuntungan tersendiri. Jongin merasa ingin berteriak saat ia mengikuti Luhan, melihat punggung sempit gadis itu saja sudah membuatnya ingin terbang. Apalagi jika ia memiliki kesempatan untuk merengkuh gadis itu, sudah dipastikan Jongin akan segera mati bahagia.
Ketua OSIS, Jongin mencintaimu !
Tapi.. seperti yang kalian tahu. Bahagia itu bukan sesuatu yang abadi. Jongin terpaksa menelan kecewa saat Luhan mengacuhkannya. Benar – benar mengacuhkannya seolah Jongin tidak ada disitu. Sabar Jongin, sabar. Kau tidak akan mati hanya karena Luhan mengacuhkanmu.
Dan semenit kemudian Jongin berharap ia segera mati muda. Apa – apaan ketua kedisiplinan itu ? bagaimana bisa ia menambah hukuman seenaknya ? tambahan 20 kali putaran. Jadi total semuanya 30 putaran. Oh, tembak Jongin sekarang.
Jadi saat Jongin berhasil menuntaskan hukuman bengis itu, ia membuang nafas keras – keras sambil mendudukkan diri dikantin sekolah. Tangan kiri pria itu menggenggam botol mineral kuat – kuat, sementara tangan satunya lagi terlalu lemas untuk sekedar membuka penutupnya.
1.. 2… 3.. putar !
"Ah- gagal"
Sekali lagi. 1.. 2… 3… Putaarr !
"Tutup botol siaallaannn !"
Baiklah, sekali lagi. Pusatkan pikiran.. pusatkan tenaga dan putaarrr !
"berhasil.. kau memang laki – laki sejati Kim Jongin"
"siapa yang kau sebut laki – laki sejati..?" ucap Jongdae setelah meneguk setengah botol air mineral.
Tunggu, Jongdae sedang apa tadi ?
Minum ?
Air mineral ?
"Hyung.. kembalikan minumanku !"
"hey.. hey_" Jongdae menggumam rendah kemudian kembali meneguk si air mineral hingga tandas "aku hanya haus"
Jongin merasa kehilangan nyawa "haus sih haus, tapi minumanku" pria muda itu menatap miris pada botol air mineral kosong yang telah terlempar kedalam tempat sampah.
Jongin melotot sadis pada Jongdae, sementara yang dipelototi malah tertawa.
"well.." Jongin memberi jeda "jelaskan padaku !"
"jelaskan apa ?"
"Aku tau kau ketua kedisiplinan, dan aku tau kau orang yang tegas karena ayahmu adalah Hakim. Dan kita berteman selama lebih dari 7 tahun, aku bahkan menganggapmu Kakak…" Jongin menyeka keringat sejenak kemudian berkata "…tapi.. tapi KENAPA KAU MENGHUKUMKU SEKEJAM ITUUUU ?"
"tenanglah.. dengar, kau murid baru dan sudah mendapat hukuman berat dariku. Dan baiknya lagi, kau adalah salah satu dari 3 siswa yang mendapat beasiswa penuh karena kau peraih nilai ujian kelulusan tertinggi nomor 2 di Korea. Jadi setelah aku menghukummu, bukankah namamu akan meroket dikalangan siswa dan guru. Kau akan popular. Kau akan dikenal_" Jongdae menepuk – nepuk dada angkuh "_Aku memang terlahir jenius"
Jongin menganga, nyaris saja ia meninju wajah kotak Jongdae jika saja ini bukan sekolah. Jika saja Jongdae bukan ketua Kedisiplinan dan jika saja… 'Jongdae brengsek, minum obatmu'.
"hoohh.. bodohnya aku. Tuhan, apa yang aku lakukan. Ampuni aku"
Jongin berbisik pelan pada Jongdae sambil melirik seseorang yang tiba – tiba mendudukkan dirinya disisi kanan Jongin.
Sekarang orang itu malah membentur – benturkan kepalanya dengan meja.
"Hey, Yeol.. Park Chanyeol. Kurasa meja kayu itu tidak akan mampu membunuhmu.." Jongdae berkata iseng.
"…dan jika kau ingin mati, maka mendekatlah pada Jongdae Hyung dan dia akan senang hati membunuhmu" Jongin menimpali.
Chanyeol mendongak.
"seminggu yang lalu_" Chanyeol membenarkan posisi duduk, kemudian ia melanjutkan "_aku mengatakan dengan mulutku sendiri bahwa Lay Sunbae itu cantik. Dan aku bersumpah pada Suho Hyung bahwa aku akan masuk klub Basket. Dan apa kalian tahu siapa ketua klub itu ?_" Chanyeol membuka mata lebar – lebar "_si Iblis sejati. Kris.. iya Kris Sunbae. Oh.. bunuh aku. Bunuh aku"
Jongin dan Jongdae saling berpandangan. Keduanya mengangguk dan diam – diam membatin.
'dia gila'
.
.
.
TBC
.
Yapp.. Chapter 2 selesai. Saya yakin kalo ini bakalan jadi ff yang panjang banget. jadi siap - siap. Saya membutuhkan dukungan dari reader demi kelanjutan ff ini. Karena respon yang baik akan memberikan semangat tersendiri untuk saya.
Jangan Lupa REVIEW !
I HATE SILENT READER !
