Baiklahhh… sesuai janji..
2 chapter sekaligus untuk kalian. Semoga suka dan semakin sayang sama semua ff yang saya buat,,
Yuhuuuu…
Kita menuju ceritaaaaa….
MY HigschoolMyLove
Juliana Hwang
Rate : T+
Genre : Drama, friendship, family, hurt/comfort, fluff
Chapter : 4&5/?
Warning : GS, School Life, Typo(s)
DON'T LIKE, DON'T READ
I LOVE READER, I HATE SILENT READER
Semua cerita merupakan murni hasil pemikiran saya dan saya mohon maaf bila ada kesamaan dalam penulisan cerita. Cerita ini milik saya dan saya meminjam nama EXO sebagai tokoh.
Happy Reading
Chapter 4
.
.
Luhan tersenyum childish saat ia menemukan Jongin dengan sepedanya berdiri dengan senyum lima jari didepan rumahnya. Dengan gerakan cepat, ia menyelesaikan menjemur baju yang terakhir kemudian berlari menuruni tangga.
Ia terlalu bersemangat hingga nyaris terjungkal namun Jongin segera menangkapnya..
"kau sangat ceroboh Luhan" Jongin berkomentar setelah memarkir sepedanya dengan benar.
"aku tahu itu" ia mengusap kakinya.
"apa kau terluka ? katakan padaku !"
"aku mendapatkan lecet kecil disini" Luhan menunjuk ujung kakinya "itu sakit" rengeknya kekanakan.
"oh, baiklah kau sangat manja" ia menuntun Luhan untuk naik ke gendongannya "jadi katakan padaku dimana kau meletakkan kotak obat" tanya Jongin setelah menurunkan Luhan disofa.
Ia melihat Luhan menunjuk lemari didekat pintu kamar mandi, ia kemudian mengobrak – abrik isi lemari lalu membawa kotak obat untuk mengobati gadis childish yang terus mengeluh jika luka dikakinya terasa perih.
"….dan selesai" Jongin bangkit untuk mengembalikan kotak obat pada tempatnya. Ia menata ulang semua benda didalam lemari karena mungkin saja Luhan akan berteriak karena ia telah mengobrak – abrik isinya.
Luhan menimang – nimang kakinya.
Ini tidak sakit.
Ia berjalan menuju dapur untuk minum "mungkin kau harus jadi dokter" kata Luhan tanpa menoleh pada Jongin "maksudku kau sangat pintar mengobati luka.. dan yang dari semua orang tahu, aku mendapatkan lebih banyak luka dibanding orang lain".
Menjadi seorang dokter ?
Ya, mungkin memang itu keinginan terpendam Jongin dan hebat sekali karena Luhan menebaknya tanpa Jongin pernah mengatakan itu sebelumnya.
Tapi dia tidak akan bisa menjadi dokter karena ia harus melanjutkan bisnis ayahnya.
Ia tidak tahu sampai kapan harus menyembunyikan identitasnya kepada Luhan. Ia harus terbuka pada gadis yang ia cintai tapi itu sulit. Ia takut jika kejujurannya akan menjauhkannya dengan Luhan, karena Luhan pernah berkata jika ia membenci orang kaya. Sebab, pada dasarnya orang kaya itulah yang membuat Luhan kehilangan ayahnya dan juga Ibunya.
Jongin tahu semua hal tentang Luhan. Mulai dari Ibunya yang lebih memilih menikahi orang lain karena dia kaya dan ayahnya yang pergi dari rumah. Karena itu, dia membenci orang kaya yang seolah menganggap ia bisa mengusai dunia dengan uangnya.
Luhan membenci itu.
Seterbuka itukah Luhan padanya ?
Lalu kapan ia bisa menceritakan siapa dirinya pada Luhan ?
Dengan percaya diri mengatakan bahwa dia adalah putra dari Kim Hankyung dan akan menjadi pewaris tunggal dari Kim Group..
Aku tidak bisa…
Tidak akan bisa karena Luhan akan menjauh darinya tepat setelah kebenaran itu terungkap.
Dia hanya harus diam dan menunggu saat terbaik yang datang lalu mengatakannya pada Luhan..
Tapi kapan ?
Luhan terus berbicara sementara Jongin menghampirinya. Ia mencubit lengan Luhan dengan begitu gadis itu memandanginya dengan kesal "apa kau belum makan ?"
"kau sedang mengalihkan pembicaraan"
"tidak.. hanya saja kau harus makan dulu. Aku hanya berpikir jika otak jenius sepertimu bisa saja berbicara aneh saat perutmu kelaparan dan kau baru saja melakukannya"
Luhan meninju lengan Jongin "terkadang kau sangat menyebalkan" ia cemberut "aku bahkan penasaran kenapa aku bisa bersahabat denganmu dan yang lainnya"
"aku merasa akan mendengar suatu hinaan"
"kau benar" Luhan menyetujui dengan sadisnya "aku tidak tahu sejak kapan aku berteman dengan Kyungsoo, Xiumin, Chanyeol dan juga Zitao. Kemudian kau juga.. dari semuanya, kau adalah yang teraneh"
"terimakasih.. kau pasti mengingat pertemuan pertama kita. Kau melemparku dengan sepatu" tuduh Jongin dengan wajah malas.
Luhan mengendikkan bahu lalu membuka kulkas untuk mengambil telur. Sarapan dengan telur mata sapi mungkin pilihan yang terbaik "kukira kau sudah memaafkannya" ia menjawab diantara kesibukkannya menggoreng telur.
Jongin menyandarkan punggungnya pada kulkas "aku tidak akan memaafkan yang itu, tapi sangat lucu ketika kau mengatakan namamu sementara aku sudah tahu siapa kau karena sebenarnya dulu kita 1 sekolah"
"oh, diamlah ! kau berjanji tidak akan membahas semua itu. Aku akan membunuhmu jika kau menceritakan semua itu terutama pada Kyungsoo. Kau tahu, mulutnya sangat besar. Jadi aku akan membunuhmu…"
Jongin tertawa saat Luhan lebih memilih mengancamnya dengan spatula dibanding pisau dapur, karena secara teknis spatula tidak digunakan untuk membunuh. Ia terkejut saat tiba – tiba pintu rumah Luhan dibanting terbuka dengan Kyungsoo muncul bersama orang – orang ribut lainnya.
"Luhannieeee….. kami dataaaaaaangggggg !" teriak Kyungsoo memantul keseluruh ruangan.
Oh sial ! tidak bisakah dia berdua saja dengan Luhan ?
.
.
.
-My High School, My Love-
.
.
.
"bagaimana menurutmu ? apa itu semacam terror ?"
"wow !" mata Xiumin berkaca – kaca "dunia sudah mengalami terlalu banyak kemajuan mungkin" lalu ia pura – pura mengelap air mata palsunya "aku sangat terharu jika semua teroris didunia mengirimkan puisi cinta seperti ini padamu Sunbae"
"Yach ! aku harus mengatakan padamu berapa kali ? panggil aku Sunbae jika disekolah dan panggil aku Eonni saat bekerja. Mengerti !"
"Baiklah, baiklah. Bos memang selalu menang" Xiumin mengangguk pasrah.
"apa Luhan tidak datang hari ini ?"
"ini hari minggu dan dia selalu ada disift malam"
"benarkah ?"
"serius kau lupa ? seingatku Eonni sendiri yang mengatur jadwalnya"
"aku melakukannya ?"
Xiumin menjerit dengan pita suaranya "YA TUHAAANN ! KENAPA ORANG JENIUS CENDERUNG MENYEBALKAN SIH ? AKU BISA MATI…!"
"oopss ! maaf tentang itu" jawab Lay enteng.
"tapi Eonni, apa kau masih belum menemukan siapa yang mengirim puisi – puisi ini untukmu ?"
Lay menjatuhkan kepalanya ke meja, ia bersyukur karena café sedang sepi jadi ia bisa beristirahat dan menceritakan sedikit masalahnya kepada Xiumin.
"Lihatlah dibagian paling bawah !" lalu Xiumin dengan patuh mengikuti perintah Lay.
NB : mencariku ? aku ada ditaman saat istirahat makan siang.
Lalu ia melihat ke kertas yang lainnya..
NB : kau pasti penasaran ? aku adalah orang yang selalu berada disekitarmu.
Orang yang selalu ada disekitar Lay Eonni ?
Ia berusaha keras mengingat siapa saja yang dekat dengan Lay.
Kris, Suho, kemudian… Jongdae.
Oh Tuhan..
Tiba – tiba Xiumin merasa jika seseorang meletakkan batu raksasa dipundaknya. Kepalanya dipenuhi dengan satu nama yang detik itu juga seakan mengoyak hatinya. Ia menarik napas dalam untuk menyembunyikan rasa terkejut yang datang tanpa permisi. Ia ingin membenturkan kepalanya sekarang juga karena pikiran mengenai Jongdae membuat ia mendapatkan sakit kepala.
Ia memandangi kertas puisi itu lagi..
Benarkah dia Jongdae ?
3 orang yang lainnya ?
"Eonni ?" suara Xiumin terkesan ragu.
Lay berbalik padanya "ya ?"
"bukankah kau sangat dekat dengan Jongdae, Suho dan Kris ?"
"ya, mereka sahabatku"
"mungkinkah salah satu dari mereka mengirim ini untukmu ?"
Lay tertawa keras dengan pertanyaan polos Xiumin padanya "kau pasti bercanda. Aku tidak percaya jika salah satu dari 3 orang itu mengirim puisi ini padaku. Lagipula salah satu dari mereka adalah tunanganku dan tidak mungkin dia mengirimkan hal romantis seperti ini padaku. Dia bahkan tidak…"
"Tunggu.." Xiumin menyela cepat "Eonni punya tunangan ? siapa ? sejak kapan ? berapa lama ? dimana ?"
"whoa.. whoa.. tenanglah okay"
"jadi siapa tunanganmu ?"
"kau akan terkejut.."
"ayolah, aku sudah sangat terkejut sekarang. aku bisa menahan 1 kejutan lagi"
"tunanganku adalah…" Lay sengaja memberi jeda panjang untu menggoda Xiumin.
Xiumin meneguk liurnya kasar. Diam – diam ia memaki karena tenggorokannya terasa sangat kering dan sakit.
Ia butuh minum sekarang atau dia akan mati dehidrasi.
Tapi dia tidak boleh minum sekarang.. sungguh.
Apa Suho ?
Bukan.
Mungkin Kris ? raksasa yang menabrak Luhan dikantin sekolah itu ? yang benar saja ? dunia pasti akan segera kiamat karena 2 monster telah bertunangan dan akan menikah beberapa tahun yang akan datang..
Xiumin menggeleng..
Kalau bukan mereka berdua siapa lagi ?
Jangan Jongdae.. kumohon jangan Jongdae Tuhaaaannnn…
"….tunanganku adalah Kris"
"APAAAAAAAAAAA ? KRIS SUNBAE ADALAH TUNANGANMUUUUU ? TAPI KENAPA… BAGAIMANA.. ? ARRGGHH, DIMANA KAU OTAK BERPIKIRLAH DENGAN BAIK"
Lay hanya menggeleng dengan reaksi Xiumin "reaksimu sangat berlebihan"
"Katakan pada orang yang membuatku seperti ini !" Xiumin berkacak pinggang "Kris Sunbae adalah tunanganmu ? kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku Eonni ?"
Lay tersenyum kelewat lebar "karena kau tidak pernah bertanya"
Mulut Xiumin menganga lebar sementara ia sibuk mencari dimana akal sehatnya bersembunyi. Okay, dia harus kembali ke topic awal dan bersyukur karena tunangan Lay bukan Jongdae.
Tapi masalahnya disini adalah puisi itu dari siapa ?
"Lalu menurutmu puisi ini dari siapa ? apa dari tunanganmu ?"
"kau pasti berubah gila sekarang. Dunia akan meledak jika Kris yang mengirim puisi itu padaku"
"tapi dia tunanganmu"
"kau benar. Tapi itu tidak akan pernah terjadi karena aku tidak mencintai Kris dan Kris tidak mencintaiku"
Apa ?
Lalu kenapa kalian bertunangaaaaaaannnn ? demi Tuhan !
Xiumin membenturkan kepalanya frustasi.
Akhirnya dari semua waktu yang ia miliki. Ia bisa membenturkan kepalanya sekarang karena semua sangat membingungkan.
"bisa saja ini dari Suho atau Jongdae" akhirnya Xiumin mampu mengeluarkan pendapat.
Ia kembali melihat Lay menjatuhkan kepalanya ke meja. Perempuan itu mendesah keras sebelum menjawab "semoga memang salah satu dari mereka"
.
.
.
-My High School, My Love-
.
.
.
Kyungsoo tersenyum tipis memandangi Luhan yang tertawa lepas dengan Jongin.
Mereka terlihat sangat bahagia.
Sangat cocok.
Saling melengkapi.. dan aku sendiri disini.
Ia berpikir mungkin memang sekarang adalah saat baginya untuk mengaku kalah kepada Luhan. Tapi ia menggeleng keras karena ia tidak pernah membuat taruhan apapun.
Jadi kenapa ia harus berpikir untuk mengaku kalah ?
Kyungsoo menggeleng lagi dan memutuskan untuk menusuk telur gorengnya dengan garpu, memasukkan potongan kecil telur kedalam mulutnya lalu menunjuk Jongin dan Luhan dengan garpunya.
"kalian membuatku iri" ucapnya setelah menelan makanan "apa kalian benar – benar sedang berkencan ? membuatku curiga saja.. ahh ! dan Sehun tidak ada disini jadi jangan bermesraan begitu"
"sudah kubilang kami tidak berkencan bodoh !" Luhan menusuk Kyungsoo dengan matanya "kau bisa dengan Chanyeol.." kemudian ia terkikik.
"ckk.. jangan membawa namaku" teriak Chanyeol dari depan TV.
"aku baru tahu jika ternyata kau sangat mendukungku untuk berkencan dengan Chanyeol" Kyungsoo berbicara kepada Luhan "terimakasih tapi dia bukan tipe-ku" lanjut Kyungsoo acuh.
"kau dengar itu ?" sahut Tao dari dapur Luhan dengan entah itu apa didalam baskom besar di pelukannya "Kyungsoo bahkan menolakmu sebelum kau menyatakan perasaanmu padanya. Kemudian ia tertawa lebar.
"Tao ! Yachh ! kau membuka rahasiaku"
"apa ? jadi kau memang menyukaiku ?" jerit Kyungsoo dramatis.
Chanyeol menjatuhkan tubuhnya disofa "dalam mimpimu ! aku belum pernah jatuh cinta dan aku akan jatuh cinta pada dia" mata Chanyeol berseri – seri sementara jarinya menunjuk layar TV Luhan.
"bukankah dia sangat cantik ? suaranya juga sangat bagus ? aku hanya berharap jika tiba – tiba dia ada disini. Ada diantara kita semua".
Semua orang yang ada dirumah Luhan hanya menatap Chanyeol malas kemudian melanjutkan sarapan tanpa seseorang memberikan Chanyeol sebuah komentar.
Lagipula apa – apaan itu ?
Chanyeol sedang berharap jika tiba – tiba seorang artis muncul dirumah Luhan.
Dihari minggu jam 10 pagi.
Menyantap sarapan sederhana berupa telur goreng dengan saus.
"aku tahu jika kau bodoh Chanyeol. Tapi serius, kau harus pergi ke dokter" seseorang akhirnya meladeni omong kosong Chanyeol.
"kau sangat perhatian Jongin.. aku tersentuh. Tapi aku tidak sakit !" bentak Chanyeol tanpa memindahkan matanya dari TV. Ia tidak sadar jika Kyungsoo sudah duduk disampingnya.
"yach ! kenapa kau tidak bilang jika kau menonton drama ini ?"
"apa aku harus melapor jika aku sedang menonton Baekhyun ?"
"ya karena aku adalah fansnya.. lihat ! aku punya banyak foto Baekhyun. Dia bahkan menyanyikan soundtrack untuk drama ini, tidakkah kau berfikir jika dia artis pendatang baru yang keren… dan blaaa… blaaa… blaaa"
Untuk kedua kalinya semua orang di rumah Luhan memandangi Chanyeol malas. Tapi kali ini mereka juga memandangi Kyungsoo malas.
"Mereka itu…" Luhan menggerutu sementara ia menghampiri Tao didapurnya "kenapa kalian selalu berkumpul dirumahku setiap hari minggu hah ? kalian kira rumahku cafe ?"
"apa kau baru saja mengatakan markas ?" tanya Tao tidak nyambung.
"apa sih Tao, aku bilang café bukan markas.. bedakan itu bodoh ! bahasa Korea-mu masih buruk !"
Tao melotot "Yach ! kubunuh juga kau"
"aku hanya jujur okay ! tapi bau apa ini ?"
"bau apa ?"
Luhan berjalan mengitari dapur kecilnya karena hidungnya menemukan bau seperti terbakar. Lalu ia berhenti untuk membuka ovennya karena sesuatu yang berasap muncul dari sana. Sementara Tao mengikutinya dibelakang. Namun ia tiba – tiba mengingat sesuatu lalu menampar tangan Luhan yang mencoba membuka ovennya.
"astaga ! eksperimen-kuuuuuuuuu !" jerit Tao histeris setelah mengeluarkan sesuatu yang hitam sempurna dari dalam oven.
.
.
.
"itu… apa ?" Jongin bertanya dengan ekspresi ngeri diwajahnya.
"brownies ?" tanya Kyungsoo disamping Tao.
"mungkin kau terlalu banyak memasukkan cokelat.. lihat warna hitamnya !" Chanyeol menunjuk eksperimen Tao.
"apa yang kau lakukan pada dapurku ?" sedih Luhan menatap asap yang keluar dari ovennya lalu ia berbalik pada Tao "itu bisa dimakan ?" Luhan menunjuk kue yang dinamai Tao sebagai Brownies..
Yeah.. itu memang brownies dan hitam sempurna.
"ayolah guys ! kalian harus mencobanya" Tao memberikan Browniesnya kepada mereka.
"aku tidak mau mati muda" teriak Luhan yang entah sejak kapan sudah melarikan diri diikuti dengan Kyungsoo, Jongin dan juga Chanyeol yang bersembunyi dari eksperimen Tao.
Mereka hanya tidak ingin membolos sekolah karena diare yang menyerang perut mereka.
Eksperimen Tao sangat berbahaya.
Lebih berbahaya dari amukan sang Ketua OSIS, Lay.
.
.
.
-My High School, My Love-
.
.
.
Beberapa pria bersetelan jas hitam segera membungkuk sopan saat seseorang berwajah dingin melintas di depan mereka. 2 orang yang berdiri di dekat pintu segera membukanya lebar – lebar dan mempersilakan seseorang itu masuk. Dan seseorang itu hanya merespon dengan dengusan pelan sambil membawa langkah memasuki ruang tamu.
Seseorang pemilik ekspresi dingin itu mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruang tamu, ia berdehem kecil ketika menemukan sepasang pria dan wanita tengah bercengkerama pada sofa di sisi jendela kaca besar yang menghadap taman.
Pria paruh baya itu nampak bersantai membaca Koran di temani secangkir kopi panas dengan kepulan asap transparan melayang diatasnya. Sementara sang suami disibukkan dengan Koran, sang istri yang duduk diseberang sibuk menganalisa dokumen yang menumpuk rapi disisi kirinya. Wanita itu masih terlihat cantik meski usianya tidak muda lagi, ia memiliki kulit putih bersih dengan mata sipit jernih dan wajah tanpa kerutan. Mungkin jika pertama melihat, orang akan mengira bahwa wanita ini baru menginjak kepala 2, meski bukan begitu kenyataannya.
Wanita itu mendongak, segera tersenyum tipis mendapati putra semata wayangnya tengah mengintimidasi mereka dengan tatapan sedingin kutub.
"Sehun, kau sudah pulang ?" wanita itu buka suara sembari menutup dokumen dan meletakkannya di meja "beri salam pada ayahmu !"
Sehun menatap orang tuanya malas, ia membungkuk singkat kemudian menaiki tangga menuju lantai 2. Pemuda itu hampir menginjakkan kaki pada anak tangga terakhir namun, suara berat pria di bawah sana membuat Sehun terpaksa menoleh.
"kau harus serius mempelajari bisnis ayah mulai sekarang"
"jangan terlalu banyak bermain – main, kau terlahir bukan untuk itu". Pria itu meraih cangkir kopi, meneguk cairan hitam pekat itu kemudian melanjutkan"aku tahu apa yang kau lakukan selama kami mengurus bisnis di luar negeri. Kau sengaja mengusir tutor bisnis utusan ayah kemudian_"
"Cukup !" Sehun menggertakkan gigi dan memandang sinis ayahnya.
"Apa kalian pulang hanya untuk ini ?" mata Sehun dipenuhi dengan kebencian, pemuda itu berdecih "yang kalian pikirkan hanya bisnis_"
"SEHUN !" Sungmin, Ibu Sehun membentak tegas "jaga cara bicaramu !"
"Lihat, bahkan kalian juga mengajariku untuk membentak"
"Aku Ibumu Sehun, pahami posisimu di keluarga ini dan jaga sikapmu !"
Sehun menatap lurus – lurus ke depan "Lalu.. apa kalian paham dengan posisi kalian di keluarga ini ?" pemuda sedingin es itu memutar balikkan pertanyaan dengan sangat baik.
Bahkan Ibu Sehun tersentak dengan nada bicara putranya, sementara Sungmin menenangkan diri, Kyuhyun_ ayah Sehun masih berkutat dengan Koran yang sedari tadi ia baca. Pertengkaran seperti ini selalu terjadi saat ia dan istrinya berkunjung ke rumah, jadi ia tidak merasa harus memikirkan emosi labil Sehun.
Kyuhyun melirik ke lantai atas dengan ekor matanya, ia hanya sempat melihat Sehun membanting pintu. Kemudian dengan santai ia melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda akibat insiden pertengkaran kecil yang barusan terjadi.
Ponsel pria paruh baya itu bergetar. Ia segera menggeser panel hijau. Setelah berbincang beberapa menit ia meletakkan ponsel kembali bersamaan dengan Koran yang tadi ia baca.
"Apa yang terjadi ?" Tanya Sungmin serius.
"Kita harus kembali ke Macau, ada sedikit masalah dengan partner bisnis dari Jepang"
"baru beberapa jam lalu kita sampai disini. Bagaimana dengan Sehun ?"
"biarkan anak itu memikirkan kesalahan yang dia buat hari ini"
.
.
.
-My High School, My Love-
.
.
.
"Tampan, kau pikir kau mau kemana hah ?! kita harus bicara !"
Kris menulikan telinga dengan pekikan ayahnya dari ruang tamu. Lagipula apa – apaan itu tampan ? well, Kris tahu jika dirinya terlahir tampan tapi yah tidak usah diperjelas begitu.
"Tampan, berhenti disana atau ayah akan menghajarmu !"
"Pak Tua, jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu. Menjijikkan" Kris mengerang "Heh, kau ! iya kau, mana kunci mobil"
"Tapi Tuan muda, sekarang adalah jam untuk bimbingan bisnis anda"
"biar Pak Tua itu saja yang belajar" kemudian Kris merebut kunci mobil dan mendorong beberapa pengawal yang menghalangi jalan pemuda itu.
"Kris, kau harus mendengarkan ayahmu !" teriak Leeteuk mengingatkan.
Sementara Kris berdecih tidak suka tanpa menoleh "jangan bertingkah seolah kau peduli padaku ! itu membuatku terlihat jahat".
"jaga ucapanmu saat kau bicara Kris ! dia Ibumu" bentak Kang In.
Kris berhenti berjalan lalu berbalik, ia menyeringai kepada ayahnya "tidakkah ayah melihatnya ? aku bahkan terlalu menjaga ucapanku hingga aku merasa bisu. Aku bukan manusia dalam keluarga ini. Aku bukan apa – apa disini dan Ayah hanya menganggapku sebagai penerus perusahaan bukan sebagai anak Ayah. dan dia…" Kris menunjuk Leeteuk dengan matanya "dia hanya Ibu tiri disini".
.
.
.
.
Kris memutar kemudi memasuki pekarangan luas milik sebuah rumah bercat putih gading. Rumah itu memiliki area yang luar biasa luas, dan kau dijamin pingsan jika memutarinya dengan berjalan kaki.
Disekeliling pagar bagian dalam, sengaja ditanami bunga – bunga hias mahal dan pohon bonsai yang dipangkas rapi. Di sudut kiri pekarangan dibangun bagasi super besar yang berisi puluhan mobil mewah berbagai warna. Sementara itu, dibagian tengah pekarangan diletakkan air mancur raksasa dengan patung besar diatasnya. Patung bercat putih klasik itu berbentuk segienam sarang lebah dengan terpatri tulisan megah 'OH CORPORATION'.
Tidak hanya itu, pemilik rumah juga meletakkan lampu taman seharga ratusan juta won di berbagai sudut pekarangan sehingga menambah kesan mahal rumah ini. Jadi, tidak bisa diragukan lagi jika hunian ini merupakan mahakarya dari seorang arsitek ternama diseluruh penjuru dunia.
Pemuda berambut pirang itu memarkir mobil asal kemudian melemparkan kucinya pada seorang pengawal yang berjaga disekitar pintu masuk utama. 2 orang yang berdiri didekat pintu masuk segera membuka pintu lebar – lebar menyambut kedatangan putra dari partner bisnis keluarga Oh.
Pada saat bersamaan, dari balik pintu muncul 2 orang pemilik rumah tengah membicarakan sesuatu yang serius. Kris reflek memberi salam dan membungkuk sopan. Anak ini bisa sopan juga ternyata.
"Oh, Kris" Kyuhyun tersenyum bersahabat. Diikuti Sungmin yang tersenyum tipis pada Kris.
"Lama tidak berjumpa Tuan dan Nyonya Oh" Lihat ! Kris begitu sopan.
"ya, sudah beberapa tahun lalu" Sahut Sungmin hangat, wanita itu melanjutkan "Tapi maafkan kami Kris, mungkin dilain kesempatan kita akan memiliki banyak waktu untuk berbincang. Kami harus bergegas sekarang".
"silahkan Nyonya Oh, senang bertemu dengan kalian" Kris membungkuk 90 derajat. Apa kubilang, Kris itu sebenarnya bisa sopan. Yahh, meskipun Kris hanya sopan pada partner bisnis ayahnya, tapi itu lebih baik daripada tidak samasekali. Kyuhyun dan Sungmin memberi salam perpisahan kemudian melaju bersama mobil hitam mengkilat meninggalkan pekarangan.
Kris hanya memandangi kepergian 2 orang itu dengan pandangan yang tidak bisa ditebak. Pemuda tinggi itu kembali mengambil langkah yang sempat tertunda, ia menaiki anak tangga dan menemukan pintu cokelat gelap di lantai atas.
"Kau datang ?" sambut seseorang yang berada dalam ruangan dibalik pintu.
"ya.. seperti yang kau lihat" jawab Kris setelah menjatuhkan diri dikasur king size si pemilik ruangan.
"Jadi, apa yang kau lakukan pada tutor bisnismu ?" si pemilik ruangan itu bertanya acuh tanpa melihat orang yang diajak bicara. Ia terus memandangi luar jendela, membuat Kris berpikir jika pemandangan di luar lebih menarik daripada wajahnya saat ini.
"seperti yang biasa kau lakukan pada tutormu" jawab Kris malas "apa yang kau pikirkan ?"
Pemuda yang masih melihat keluar jendela hanya menjawab dengan gumaman kecil, ia memutar posisi dan mendudukkan diri pada sofa yang tersedia disisi kanan jendela.
"orang tuamu sibuk" kata Kris sembari melempar tangkap bantal, entah itu kalimat pernyataan atau pertanyaan. Pemuda satunya lagi tidak ingin memperjelas.
"Sehun, kau tahu.. terkadang aku berpikir jika kau adalah perempuan. Karena yeah.. kau terlalu banyak menghabiskan waktumu dikamar"
"Lihat ! kau menyindirku"
"tidak juga" kini Kris duduk nyaman dengan bantal dipangkuannya "kau pasti ingin mereka menjadi keluarga yang sebenarnya" ia mengikuti arah pandang Sehun keluar jendela.
Sehun mengangguk lalu bersandar pada jendela "yeah, mungkin aku harus mengalah padamu hari ini karena aku sudah tertangkap basah. Terkadang, aku hanya ingin hidupku mengalami perubahan..".
"perubahan apa ? seperti aku menjadi kekasihmu ?"
"itu bukan ide yang buruk"
"yach ! jangan serius begitu. Aku hanya bercanda"
"kau ketakutan dengan perkataanmu sendiri, lucu sekali" Sehun membuka mulutnya untuk tertawa namun Kris menembak kepalanya dengan bantal. Ia mendapatkan glare setelah itu.
"kenapa kau tidak membully seorangpun akhir – akhir ini ? apa kau punya hobi lain ?" tanya Sehun sambil memainkan ponselnya.
Kris tertawa lebar dengan pertanyaan konyol Sehun "kau gila ? membully adalah hidupku"
"Lalu kenapa kau sangat tenang ?"
"aku hanya sedang mencari korban. Dan coba tebak ! aku sudah mendapatkan mangsaku"
"siapa ? tiang listrik yang menjadi budakmu itu ?" yang Sehun maksud adalah Chanyeol. Karena yang Sehun lihat selama ini, teman sekelasnya..tunggu, apa ? teman sekelas ? tidak ada teman dalam hidup sehun.. Ralat ! raksasa idiot itu selalu mengekor dibelakang Kris. Mereka berdua bisa saja menjadi tiang penyangga ring basket karena tinggi badan mereka sangat tidak masuk akal.
Kris mengibaskan tangannya lalu bangkit berdiri "bukan. Bukan dia. Sudahlah, aku ada janji"
"apakah gadis itu ?" tanya Sehun sebelum Kris benar – benar pergi.
"tebakanmu selalu tepat Kawan !" Kris menjentikkan jarinya diudara.
"kau tidak pernah mengincar perempuan sebelumnya. Tidakkah itu memalukan untukmu ?"
"aku memang tidak berniat untuk mengincar perempuan. Tapi dia menghina harga diriku dan dia harus membayar jus jeruk yang ia siramkan pada bajuku".
"aku tidak pernah percaya ini tapi kau benar – benar kekanakan"
"apa itu menjadi masalah untukmu ?"
Sehun mengendikkan bahu "tidak juga. Hanya jangan sampai kau membunuhnya !"
.
.
TBC.
.
.
Yaps !
Tanpa banyak cingcong… mari kita menuju Chapter 5..
Let's go….. !
.
.
.
My Higschool My love
Chapter 5
.
.
.
Happy Reading !.
.
.
Kyungsoo mendongak memandangi gumpalan awan putih dilangit. Ia mengamati satu per satu awan yang melayang bebas, bertubrukan dengan awan lainnya kemudian menyatu. Hal itu mengingatkannya pada insiden kecil yang ia alami saat pertama kali bertemu Luhan, ia tidak sengaja menabrak Luhan saat memasuki kelas mereka dan entah karena apa mereka berteman.
Atau mungkin bersahabat ?
Sudah 1 tahun berlalu sejak kejadian itu dan bisakah ia menyebut pertemanan sederhana ini sebagai persahabatan.
Dulu ia sangat ingin tahu siapa Luhan.
Seperti apa wajahnya.
Dan dia orang yang seperti apa.
Karena ia tahu bahwa Jongin mencintai Luhan.
Ia hanya ingin tahu karena ia mengenal Jongin sejak mereka masih sangat kecil.
Rasa penasaran itu akhirnya membawanya sampai sejauh ini. Dan dia hanya ingin_
"bertingkah sok melankolis ? huh ?" Jongdae mendudukkan dirinya disamping Kyungsoo "kau mau ?" ia menyodorkan minuman ringan padanya.
"terima kasih"
Jongdae membuka kaleng minumannya lalu meminum seteguk "kenapa kau ada disini ?"
"hanya memikirkan sesuatu"
"maksudmu seseorang" Jongdae mengoreksi.
Kyungsoo menggeleng dengan senyuman kecil "tepatnya 2 orang"
"aku tahu"
Kemudian hening.
"Oppa, bahagia itu apa ?" tanya Kyungsoo tanpa menoleh pada Jongdae. Ia masih memandangi awan putih yang menggantung diatas kepalanya.
Jongdae tertegun dengan pertanyaan Kyungsoo. Ia meminum habis minumannya kemudian melempar kalengnya tepat kedalam tong sampah. Kemudian membawa kedua lengannya kebelakang kepala hingga mendapat posisi yang pas untuk ikut memandang awan.
"bahagia itu 1"
Kini seluruh perhatian Kyungsoo beralih pada Jongdae.
"kau lihat awan disana" Jongdae menunjuk beberapa awan kecil dilangit kemudian menghitung awan kecil itu dengan jarinya.
"ada 6 awan kecil disana. Mereka kecil dan nampak kesepian" Jongdae memberikan jeda lagi pada kalimatnya. Pemuda it uterus diam dengan mata terpejam.
Kyungsoo merasakan angin kecil berhembus disekitar mereka. Lalu ia mendengar Jongdae membuang napas pelan "coba kau lihat apa yang terjadi dengan awan kecil tadi !"
Reflek Kyungsoo mendongak kelangit. 6 awan yang tadi terpisah kini sudah hilang berganti dengan 1 awan besar yang melindungi mereka dari sinar matahari. Kyungsoo masih tercekat dengan pemandangan diatasnya saat Jongdae mengelus puncak kepalanya.
"kau harus jujur pada dirimu sendiri Kyungsoo. Belajar menerima orang – orang yang ada disekitarmu. Dengan begitu kau pasti bahagia. Dan kau harus jujur padanya tentang apa yang kau rasakan selama ini"
"mungkin kalimat yang terakhir itu untuk mengingatkan dirimu sendiri Oppa. Kau harus jujur jika kau menyukai Xiumin"
"Yachh ! Kyungsoo ! aku tidak mengijinkanmu menyebut namanya Okay. Bagaimana jika dia tiba – tiba muncul disini lalu menamparku ?"
Kyungsoo mengendikkan bahu "kau hanya tidak tahu kenyataannya. Sejujurnya aku iri pada kalian"
"kau bodoh atau apa ? aku yang seharusnya iri disini. Kau bahkan 1 kelas dengan orang yang kau sukai. Kau bisa kapanpun mendengar suaranya. Jika kau bukan pengecut, kau juga bisa berbicara padanya"
"aku seperti mendengar curhatan tidak berguna seorang anak SMA yang bahkan takut menyapa orang yang dia cintai"
"sungguh.. menit yang lalu kau sangat feminim kemudian menit berikutnya dirimu yang asli telah kembali. Kau benar – benar monster"
"aku anggap itu sebagai pujian. Jadi, kau ingin aku membantu masalah percintaanmu yang membosankan itu ?"
"Tidak ! jangan katakan kisah cintaku membosankan. Aku bahkan belum memulainya"
Kyungsoo menyeringai "jadi kau akan segera memulai ?"
"bagaimana aku bisa memulai jika kau selalu menempel seperti perangko padanya ? kau bahkan selalu menggandeng tangannya kemanapun kau pergi"
"sekarang aku mendengar protes yang kedua" sela Kyungsoo malas "sudahlah ! pergi sana !" Kyungsoo menembak Jongdae dengan kaleng minumannya.
"yachh ! aku yang memberikan minuman itu. Kenapa kau melemparnya padaku ? bukankah itu sangat ironi"
"oh diamlah sebelum aku menggigitmu !"
"okay.. okay... kau sangat panas Harimau"
"Kulempar juga kau Sunbae sialan !"
Jongdae melarikan diri setelah Kyungsoo mengancamnya dengan lemparan sepatu. Untung saja sepatunya tidak menghantam otak jenius Jongdae. Bisa gawat urusannya.
Taman itu kembali sepi dengan Kyungsoo yang masih terduduk dibangku taman. Wajahnya yang semula keruh kini berganti secerah awan dilangit.
Jadi yang perlu ia lakukan adalah cukup menjadi 1.
Tapi ia takut jika ia akan menemui kesulitan.
Siapa yang harus ia cari ?
.
.
.
-My High School, My Love-
.
.
.
"jadi dia melakukan ini untuk melindungi putranya ?" Kim Hankyung membuang lembaran foto ditangannya. Ia memijat pelipisnya frustasi.
"aku tidak peduli apapun itu, tapi kalian harus mencari kelemahan Wu kang In dan melaporkannya padaku segera ! jangan tinggalkan info sekecil apapun !"
"baik Presdir"
"kau boleh pergi"
Asisten Hankyung membungkuk kemudian pergi meninggalkan ruangan sementara Hankyung sendiri mengamati beberapa foto dimeja kerjanya. Ia segera menyembunyikan semua foto itu saat putranya berjalan memasuki ruangan.
"Lihat putra Appa ! bagaimana kau bisa setampan ini" Hankyung tersenyum hangat pada putranya "jadi kau darimana ?"
Jongin tersenyum singkat "dari suatu tempat. Dimana Eomma ? aku belum melihatnya sejak tadi pagi"
Hankyung mengendikkan bahu sementara sebelah tangannya memasukkan lembaran foto kedalam laci "Appa curiga padamu, tapi sudahlah. Ahh.. mungkin ibumu sedang menghabiskan uang ayah. kau tahu jika Ibumu sangat gila belanja. Dia bisa mengancam warisanku padamu Jongin" Hankyung tertawa keras "kau tidak boleh kalah dengan Ibumu"
"Appa tahu dengan baik jika aku tidak kalah dengan Eomma. Dan demi Tuhan Appa.. kenapa ada mobil baru digarasi kita ? apa itu milik Eomma" Jongin menunjuk mobil merah metallic digarasi mobil mereka.
"itu milikmu" jawab Hankyung saat pria paruh baya itu telah memakai mantelnya.
Jongin menaikkan sebelah alis "berhenti membelikanku sesuatu yang tidak penting Appa ! aku bahkan tidak pernah membawa mobil saat ke sekolah. Dan mobil lamaku masih bagus. Sungguh" Jongin mengomel mengikuti Ayahnya dibelakang.
"Itu salahmu kenapa kau selalu memakai sepeda jelek itu sih ?" Hankyung balik mengomel pada putranya "dan lihat apa yang kau pakai ! Ya Tuhan Jongin, kenapa kau selalu menyukai barang – barang murah begini ? uangmu habis ? atau tiba – tiba selera fashionmu menurun ? atau kau…"
"ya.. yaa.. aku dengar semuanya. Bisa kita pergi sekarang ?" teriak Jongin setengah merengek.
Hankyung bersungut kesal "untung kau putraku. Jika bukan aku pasti sudah menendangmu. Lagipula kenapa penampilanmu jadi seperti ini ? kau melakukannya demi siapa ? kau sedang taruhan ?"
"apa ? taruhan ? tidak !"
"lalu ?" desak Hankyung tidak sabar.
"ini karena.."
Luhan
"umm.. maksudku.."
Luhan membenci orang kaya karena baginya orang kaya adalah orang terburuk didunia karena telah membawa pergi Ibunya.
"aku.."
Aku hanya takut jika dia tahu aku berasal dari golongan orang yang dia benci, dia juga akan menjauhiku.
"aku hanya.."
Aku takut jika kehilangan Luhan bahkan sebelum aku bisa mendapatkannya. Karena aku sangat mencintainya.
"hanya suka"
Hankyung memicingkan mata kemudian mengangguk ragu "Kau membuat Ayahmu curiga anak muda. Tapi baiklah. Anggap saja jika kau memang menyukai sesuatu yang sederhana seperti itu. Bukankah Appa terlalu hebat hingga mampu mendidikmu sampai seperti ini ?"
Jongin membuang napas jengkel "ayolah Appa, berhenti menyombongkan dirimu sendiri.."
"tapi kau benar – benar harus memakai jas sekarang. kita ada pertemuan hari ini" Hankyung melongok ke jendela dan menemukan mobil hitam terparkir didepan rumahnya "cepatlah ! aku akan menunggu didepan. Itu mobil Ibumu".
Hambusan napas kesal keluar dari hidung Jongin. Pemuda tan itu berbalik ke kamarnya untuk mencari sebuah jas. Dan dia memang harus berubah sekarang. Bukan Kim Jongin yang serba sederhana tapi Kim Jongin yang serba mewah.
Sial..!
Jangan sampai Luhan melihatku, Tuhan !
.
.
.
Heechul berulangkali meraih cermin untuk membenahi polesan diwajahnya agar tidak berantakan. Wanita paruh baya itu memandangi cermin beberapa menit kemudian menyimpan kembali benda itu dalam tas limited edition berwarna ungu tua.
Disampingnya, sang suami tengah bersungut – sungut sembari melirik arloji mahal yang melingkar tegas di pergelangan tangan sebelah kiri. Pria paruh baya itu gusar setengah mati, ia berulangkali menjatuhkan tatapan tajam pada jendela rumah lantai 2 kemudian berpindah lagi ke pintu utama di lantai bawah. Hanya sekedar berharap untuk menemukan seseorang yang sedari tadi ia tunggu kurang lebih selama 15 menit.
"anak itu minta dihajar" gumam Hankyung rendah.
Heechul menatap suaminya malas "dia putramu"
"baiklah.. dan putraku telah membuat ayahnya menunggu"
Heechul memilih diam. Percuma saja bicara dengan suaminya untuk saat ini, karena Hankyung termakan emosi.. bahkan Heechul bisa melihat asap bermunculan di sekitar kepala suaminya.
Setelah melirik arloji sekali lagi dan nyaris terserang asma, Hankyung memutuskan untuk turun dari mobil. Ia melangkah lebar – lebar. Pria paruh baya itu meraih handle pintu, memutarnya sedikit kemudian menyembulkan kepalanya ke celah pintu.
"Kkamjong.. kenapa kau lama sekali ? apa yang kau lakukan di kamarmu ?" teriak Hankyung tidak santai.
.
Hening
.
"Kkamjong, cepat sedikit !"
.
.
Hening
.
"Kkamj_"
"aku datang" terdengar sahutan dari lantai 2. Kemudian Jongin berlari – lari menuruni tangga sambil menggumam "Ya Tuhan, kenapa aku punya ayah yang tidak sabaran ? dan apa – apaan itu Kkamjong ?"
Pletaakk !
Hankyung menjatuhkan satu jitakan mematikan pada putranya. Dan si korban hanya mengusap kepala lalu meniup – niup poni dramatis.
"Jongin, karena menunggumu Appa terlambat untuk hadir dalam pertemuan rutin perusahaan. Lagipula apa yang kau lakukan di kamarmu ? aku curiga. Apa kau pria pesolek ? jadi ibumu melakukan apa padamu ? Tuhan putraku …. Blaa.. blaa. Bllaa…"
Jongin menggeleng, ia mengacuhkan ayahnya begitu saja dan melenggang memasuki mobil merah menyala yang sedari tadi menunggunya. Kemudian Jongin melambai pelan pada sang ayah yang sibuk mengoceh sendirian.
"Appa.. cepatlah ! kita terlambat" teriak Jongin tanpa dosa.
Hankyung melotot tajam pada putranya. 'Sejak kapan Jongin pergi ? jadi tadi aku bicara sendirian ? memangnya yang memperlambat itu siapa ?anak itu, harus diberi palajaran' jiwa Hankyung berteriak marah.
Tapi daripada memberi pelajaran kepada Jongin, lebih baik Hankyung bergegas sekarang atau akan terjadi tragedy saling mencakar antar manager di perusahaannya.
Puluhan manager dan kepala direksi terlibat adu cakar dalam ruang pertemuan. Diduga insiden tersebut terjadi karena ketidakhadiran Kim Hankyung_ CEO Kim Group dalam rapat rutin perusahaan. Perkelahian itu menimbulkan dampak negative berupa kerugian besar karena sebagaian karyawan memaksa mengundurkan diri.
Hankyung mendesah, oh itu akan menjadi berita yang tidak lucu.
.
.
.
-My High School, My Love-
.
.
.
Kris melajukan mobilnya amat sangat pelan. Ia bahkan ingin membanting mobilnya karena suaranya sangat keras. Hey, dia sedang membuntuti seseorang yang sekarang sedang berjalan kaki sementara dia naik mobil dan suara mobilnya sangat berisik.
Aku akan membuangmu mobil sialan !
Kris masih berkelahi dengan mobilnya sampai ia mendongak dan tersentak karena seseorang yang telah ia ikuti telah menghilang.
Ia mendengus jengkel memutuskan untuk turun dari mobilnya lalu berjalan mengendap – endap.
"apa aku harus melalui gang ini ?"
Kris mulai berbicara pada dirinya sendiri dan terus berjalan hingga menemukan bangunan yang sangat tidak asing baginya.
Mata elang pemuda itu membaca papan nama yang tergantung diatas kepalanya.
HAPPY CAFÉ.
"astaga Lay.. apa yang kau lakukan pada café ini" Kris menggerutu sendiri sampai matanya tak sengaja menangkap sosok yang sedari tadi ia ikuti. Dengan cepat ia bersembunyi dibalik tembok lalu mengintip seseorang didalam café.
Diam – diam ia bersorak menang "ketemu kau bocah. Aku sudah menemukan tempat kerjamu dan sekarang aku harus menemukan rumahmu" ia terus tertawa – tawa selama beberapa menit hingga seseorang menepuk bahunya dari belakang.
Kris terlonjak kaget dan berusaha mencekik seseorang yang mengangetkannya "kau mau mati hah ?!"
"Aarrhhgg… heekkhh.. kenapa.. kau mencekikku.. huhhh.. Kris ?
"apa yang kalian lakukan disini ?" Lay menangkap basah mereka berdua.
"Kris.. mencekikku" Jongdae berusaha berbicara dalam cengkeraman kuat Kris yang serasa mematahkan lehernya.
"kau membunuhnya Kris"
Kris tersenyum pada Jongdae lalu menjauhkan tangannya "maaf, aku lupa" ia membela diri dengan tanpa dosanya.
Jongdae meringis mengelus lehernya yang memerah. Ia berlari pada mobil terdekat untuk berkaca…
Aauuhh… leher seksiku…
Sementara Jongdae menangisi nasib leher naasnya, ia mendengar suara berisik Lay yang mengomeli Kris dibelakangnya.
Ia melihat 2 orang itu dengan menahan tawa diperutnya. Lucu sekali saat melihat mereka bersama seperti ini.
Selalu bertengkar.
"Kris, kau tidak boleh seperti itu. Bagaimana kalau Jongdae mati dan keluarganya menuntutmu huh ?"
"bukan masalah untukku. Aku bisa mengganti nyawanya dengan uangku… aww ! Yacchh ! jangan memukul kepalaku !"
"jangan membicarakan uang ayahmu disini. Sebenarnya apa yang kalian berdua lakukan ? mengendap – endap dicafeku ?"
"aku hanya mencari seseorang" Kris mengendikkan bahu lalu memberikan kunci mobilnya pada Lay "kau bisa pulang sendirikan ? kenapa Ayah selalu menyuruhku untuk menjemputmu. Merepotkan"
"sebenarnya aku tidak mau jika kau menjemputku Okay.. itu membuat kita terlihat seperti benar – benar harmonis"
Kris menambahkan "dan itu sebenarnya menyedihkan"
Lalu Jongdae menyahut disamping Lay "dan aku benar – benar tidak dianggap disini"
"kenapa kau juga harus disini" Lay mengecek waktu "Xiumin sudah pulang 15 menit yang lalu"
"apaaa ? aisshhh ! ini gara – gara Kyungsoo. Aku akan melemparnya ke kelom renang besok"
"jangan melemparnya ke kolam renang sekolah ! kau akan membuat reputasi sekolahku menjadi buruk" ancam Kris memperingati.
Jongdae menganga lebar "wow.. sejak kapan kau memikirkan tentang reputasi sekolah. Bahkan saat ternyata dirimu sendiri yang membuat nama sekolahmu menjadi jelek. berhentilah membully juniormu Kris. Atau kau lebih suka digantung Ayahmu"
Kris mengibaskan tangannya diudara "akan sangat bagus jika Ayah hanya menggantungku. Bisa saja dia melemparku ke dalam kolam yang penuh dengan puluhan ekor hiu kelaparan. Kau pasti tahu apa yang akan terjadi pada tubuh sempurnaku"
Lay dan Jongdae pura – pura muntah.
"kau sangat percaya diri" kata Lay menimpali.
Ia melihat sekeliling untuk mencari mobil Kris karena dia harus pulang sebelum tumbang disini karena lelah.
Tapi mobil tunangannya itu tidak ada. Jadi ia memutuskan untuk bertanya.
"mana mobilmu ? aku mau pulang"
"ohh, aku meninggalkannya di ujung gang sebelah sana" Kris menunjuk gang kecil yang tadi ia lewati kemudian ia menyeringai pada Lay "ambilah ! aku harus pergi ke suatu tempat" ia segera melambai pada Lay terlihat akan menelannya hidup – hidup.
Kris sempat melirik ke dalam café sebelum benar – benar pergi dari sana.
Aku menemukanmu Luhan. Dan kau harus benar – benar membayar penghinaan yang kau lakukan padaku. Sampai jumpa besok setan kecil.
Sementara Lay terbakar emosi didepan pintu cafenya, Jongdae berusaha keras melangkah sepelan mungkin agar Lay tidak menyadarinya. Ia tertawa puas setelah merasa jaraknya sudah cukup jauh namun mengumpat kesal saat tidak sengaja menabrak tong sampah.
"auuhh… tong sampah sialan !" ia memaki tong sampah yang meninju perutnya. Jongdae segera memutar kepalanya karena merasakan hawa tidak enak menusuknya dari belakang.
Ia menemukan Lay melotot tajam padanya.
"Okay.. aku akan mengambilkan mobilnya untukmu. Kau puas"
Lay seketika tersenyum cerah. Berlari kecil untuk menyerahkan kuncinya pada Jongdae.
"tidakkah kau berpikir jika seharusnya aku yang menjadi tunanganmu huh ?"
"dalam mimpimu ! cepat ambil mobilku. Aku benar – benar butuh istirahat dan ini sudah sangat gelap"
"baik Tuan Putri" Jongdae membungkuk 90 derajat, ia berjalan gusar sambil memainkan kunci mobil ditangannya "aku akan menenggelamkan 2 orang dikolam renang sekolah besok".
.
.
.
-My High School, My Love-
.
.
.
Trrrriiinggg !
Bunyi lonceng tanda seseorang memasuki café berbunyi nyaring. Luhan tersenyum cerah dibalik meja konter lengkap dengan seragam manis yang membalut tubuh mungilnya. Ia sedang sibuk melayani pelanggan saat Xiumin meniup lehernya dari belakang.
"aku tahu itu kau. Berhenti melakukan itu atau aku akan membantingmu dilantai"
"aigooo.. Lihat betapa galaknya dirimu. Bagaimana bisa Jongin menyukai orang segalak ini ?" Xiumin menggoda Luhan dengan gelengan kepalanya.
"Stop ! Lupakan Jongin. Ngomong – ngomong kenapa kau kembali ke café ? kau kan sift siang"
Xiumin menarik kursi untuk duduk lalu meluruskan kakinya yang terasa sangat pegal. Ia baru sampai dirumah 5 menit dan bayangkan jika bos-mu menelfon, membentakmu dan kau harus kembali bekerja sekarang juga.
"tidakkah kau berpikir jika bos kita sangat menyeramkan" mata Xiumin melirik Lay yang menidurkan kepalanya dimeja dekat pintu masuk café. Sakit kepala yang ia dapatkan sungguh dahsyat hingga ia bisa memakan siapa saja.
Merasa tidak ada jawaban, Xiumin mencubit kulit Luhan sekuat rasa kesalnya hingga Luhan menendang betisnya karena cubitan Xiumin menyakiti lengannya.
"Auww ! apa yang kau lakukan pada tanganku ?" Luhan meniupi lengannya yang memerah lalu menunjuk mobil diluar café "mereka melakukannya lagi, ku kira kau… yacchh ! Xiumin aku belum selesai bicara"
"aku tidak ingin bicara" bisik Xiumin sedih lalu melarikan diri ke pantry.
.
.
.
"terima kasih mobilnya" Lay menepuk bahu Jongdae ringan.
"kau tidak ingin ku antar. Kau terlihat sangat sakit" tanya Jongdae khawatir karena wajah Lay sangat pucat.
"Tidak. Aku hanya butuh tidur. Oh, masuklah. Xiumin ada didalam"
"bukannya dia sudah pulang ?"
Lay bersumpah jika ia melihat pelangi diwajah kotak Jongdae "aku memanggilnya kembali karena kau terlihat akan bunuh diri. Ngomong – ngomong bisa kau jauhkan tanganmu dari pintu mobilnya. Aku tidak bisa pulang jika kau memegangnya seperti itu.."
Jongdae tersadar lalu mencari dimana tangannya. Ia tersenyum meminta maaf karena tangannya mencengkeram kuat pintu mobil yang Lay naiki "kau bisa pulang sekarang. dan tetaplah hidup Okay" ia berpesan setelah menutup pintunya.
"tenang saja. Kau tidak akan pernah kehilangan orang sebaik aku"
Jongdae berdecih "baik pantatku !".
"Baiklah.. aku pulang. Tolong jaga mereka berdua okay. Jangan sampai 2 setan itu membakar cafeku" Lay memutar kemudi setelah melambai singkat pada Jongdae kemudian melaju pelan bersama mobil tunangannya. Meninggalkan Jongdae yang tersenyum kelewat lebar didepan café.
.
.
.
Luhan menyeringai saat menemukan Jongdae memasuki café dan mendudukkan dirinya dikursi dekat jendela. Seingainya semakin lebar saat Xiumin keluar disaat yang sangat tepat.
"Xiumin, aku sedang sangat sibuk membuat laporan penjualan. Bisa kau menghampiri meja disebelah sana dan mencatat pesanannya !"
"sekarang kau memerintahku sepeti Lay Eonni" sungut Xiumin sambil membawa buku menu disebelah tangannya. Namun ia kembali lagi setelah berjalan 5 langkah lalu bersembunyi dibalik punggung Luhan.
"Yacchh ! apa yang kau lakukan ? mana pesanannya ?"
"kau sedang menjebakku. Itu Jongdae Sunbae dan kau menyuruhku untuk menghampirinya sementara_"
Luhan mengangkat tangannya ke udara untuk menghentikan omelan Xiumin "ayolah Juliet, kau harus berani untuk mendapatkan hati sang Romeo. Pergilah !" Luhan mendorongnya menjauh.
.
.
.
Xiumin berlari kecil dengan kertas pesanan ditangannya. Jatungnya berdegup kencang seiring wajahnya yang memerah. Ia tidak tahu jika mendengar suara Jongdae bisa membuatnya sekarat seperti ini.
Ia tersenyum 5 jari karena berhasil menaklukkan tantangan Luhan dan berhasil mencatat pesanan Jongdae. Dia bangga dengan itu dan mari menganggapnya menang karena Xiumin mampu mengalahkan kegugupannya untuk berada didekat Jongdae.
Xiumin mengacungkan kertas tepat diwajah Luhan, berbisik kesal karena Luhan malah bengong melihat keluar café. "apa yang kau lihat sebenarnya ?" Xiumin menjatuhkan matanya kearah yang dilihat Luhan. Ia tersentak karena "Oh Tuhan.. bukankah itu_"
.
.
.
"Appa.. apa yang kita lakukan disini ?" Jongin merengek pada ayahnya. Sementara seorang pria dengan gelar APPA itu masih memasang raut kesal akibat ulah putranya sore tadi.
"Ayo masuk, ini café kesukaan ibumu"
Jongin melirik papan nama café yang dipasang diatas pintu masuk. Mata pemuda itu berubah tajam saat menemukan siluet seseorang yang sangat ia kenal didalam sana. Jongin menghela nafas panjang mempersiapkan diri.
"Apa yang kau lihat ? ayo masuk Jongin !" jongin pasrah saja saat Sungmin menariknya ke dalam. Pelan – pelan pemuda bermarga Kim itu merutuki penampilannya. Jas mahal, sepatu mengkilat, rambut disisir rapi dengan sedikit tarikan keatas agar terlihat segar. Tuhaann… ini tidak akan baik jika seseorang didalam sana melihat Jongin dengan benda – benda mahal melekat ditubuhnya.
.
.
.
Mata Luhan terlihat benar – benar kosong saat 3 orang berpenampilan sangat mewah memasuki café tempat ia bekerja.
Bukan karena mereka bertiga sangat berkelas.
Tapi karena seseorang disana sangat mirip dengan.. Jongin.
Luhan ingin menampar dirinya sendiri untuk mengembalikan akan sehatnya. Namun ia selalu gagal karena orang itu sangat mirip dengan Jongin.
Tapi apa yang terjadi dengan baju Jongin ?
Kenapa semua sangat berbeda ?
Ada apa dengan mobil mewah itu ?
Jas itu ?
Dia bukan Jongin-kan ?
"_bukankah itu Kim Hankyung dan Kim Heechul lalu.. Oh My God…" Xiumin juga menyadari sesuatu.
Akhirnya suara Xiumin menampar kesadaran Luhan untuk kembali ke dunia nyata "kau tahu mereka siapa ?"
Luhan melihat Xiumin mengangguk mantap "tentu. Kau tahu Kim Group ?"
Luhan mengangguk dengan pandangan memohon 'tolong cepat jelaskan padaku'.
"Kim Hankyung adalah pemilik Kim Group_"
Apa ? lalu kenapa Jongin ada disana ?
"_kenapa Jongin ada disana ? Kim Jongin.. Kim Hankyung.. Kim Heechul" Xiumin mengulang nama – nama itu dimulutnya seperti mantra sementara ia sibuk mencari sesuatu dengan ponselnya.
Mata Luhan masih kosong meneliti wajah seseorang yang Oh sial !.. benarkah dia Jongin ?
"Oh Tuhan.." ia mendengar Xiumin kembali terkejut dengan menunjukkan layar ponselnya pada Luhan.
CEO Kim Group, Kim Hankyung tersenyum bangga memperkenalkan putranya Kim Jongin sebagai penerus tunggal perusahaan. Dimana hal itu membawa gebrakan baru dalam sejarah Kim Group yang mengumumkan_.
Luhan tidak sanggup lagi membaca kalimat selanjutnya karena ia merasa kehilangan kakinya. ia mengelap keringat yang membanjiri wajahnya. Wajahnya benar – benar pucat seperti tidak ada satu tetespun darah yang mengalir disana.
Ia hampir limbung jika saja Xiumin tidak menahannya dengan panic.
"Yaa.. Luhan ? kau baik – baik saja ? hey.. apa yang terjadi padamu hah ? jawab aku !"
.
.
.
Jongin memejamkan matanya saat Luhan terus memandang kearahnya. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan obrolan orang tuanya bersama Jongdae. Seluruh dinding dicafe itu seakan bergerak menghimpit dirinya. Ia kesulitan bernapas. Ia merasa disini sangat sesak dan menyakiti hatinya.
Ia tersentak kaget saat Luhan tiba – tiba limbung dengan Xiumin yang terus mengguncang bahunya.
"Yaaa ! Kim Jongin ! kau mau kemana ?"
Jongin semakin melebarkan langkahnya mendekati Luhan. Ia seperti tuli dengan seluruh teriakan didalam café. Ia seperti mendengar hinaan. Ia seperti mendengar cacian yang menyalahkannya. Dan ya, dia berdosa karena tidak berani jujur pada Luhan sebelum ini terjadi.
Ia merebut Luhan dari pelukan Xiumin, mendorong gadis itu menjauh untuk memberikannya ruang.
"LUHAAANN ! LUHAAANN ?" panggil Jongin kalap. Tidak sadar jika aliran air mata membasahi wajah pucatnya "jawab aku Luhan.. kumohon jangan seperti ini.. maafkan aku.. kumohon maafkan aku.."
.
.
.
TBC.
.
.
.
Sebentar… kenapa ini ff jadi makin kacau ?
Gue juga gak tahu harus buat Luhan jadi HunHan atau KaiHan ?
Tapi biarlah reader yang menentukan semuanya… wahai reader yang baik, siapa yang couple mana yang kalian pilih ? Hohohoohoo… kenapa saya tertawa seperti santa clause ?
Ya sudahlahhh..
Gue gak pengen ngomong banyak disini. Capek brow.. REVIEWNYA JANGAN LUPA OKE.
JulianaHwang
mencintaimu
