Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
[ Kagutsuchi(Dewa Api) ]
~ Chapter 1 ~
.
.
.
[ SMP K ]
"Hee, kami tidak percaya jika kau masih hidup dan datang ke sekolah, ada apa ini? Kau tidak melakukan apa yang kami perintah?" Ucap salah seorang murid, mereka tidak sekelas dengan gadis yang telah mencoret salah patung dewa di kuil itu, namun mereka cukup senang mengganggu murid lain.
"A-aku melakukannya, warna piloks itu masih ada di patung itu, kalian bisa melihatnya." Tegas gadis berambut softpink ini, hari ini dia baru akan membersihkannya, dia tidak cukup kuat untuk melawan mereka.
"Membosankan, bagaimana kami bisa percaya? Apa kau ingin kami ikut terlibat dengan datang ke kuil berhantu itu?" Ucap yang lainnya.
"Aku tidak berniat membuat kalian dalam bahaya, tapi aku sudah melakukannya, jadi apa kalian tidak akan menggangguku lagi?" Ucap gadis ini, dia masih sangat sayang akan nyawanya, suara dewa yang di dengarnya, memberinya sedikit ampunan walaupun dia harus membayar akan perbuatannya.
"Kami tidak mengganggumu, kita ini teman, bagaimana jika kau mencerot seluruh patung yang ada dan merekamnya dengan ponselmu, itu pasti akan sangat menyenangkan."
"Maaf, aku tidak berani melakukannya, disana sungguh ada seorang dewa, dia mengancamku, aku tidak ingin mati." Ucap gadis itu, tatapannya terlihat sedih.
"Kenapa? Padahal jika kau mati itu jauh lebih baik, tidak ada yang peduli padamu."
Gadis ini terkejut dan hanya menundukkan wajahnya, ketiga murid yang rajin mengganggunya akhirnya pergi, mereka mengucapkan kalimat yang bahkan jauh lebih membunuh mentalnya.
Haruno Sakura, gadis malang yang tanpa memiliki kedua orang tua, dia hanya tinggal seorang diri di kota ini, kedua orang tuanya bercerai dan tidak ada satu pun dari mereka ingin mengambil hak asuh darinya, gadis ini sering mendapat bullyan meskipun dia mencoba menahannya, beberapa murid seakan tidak peduli, tidak akan ada orang tua yang protes jika dia mendapat gangguan, hanya seorang diri dan di tinggalkan.
Gadis ini tidak pandai bergaul, latar belakangnya membuat jarak dengannya dengan anak-anak di sekitarnya, mereka pun tidak begitu pusing akan kehadiran Sakura. Mereka lebih memilih bersama orang-orang yang akrab dengan mereka dan mengabaikan gadis ini.
Hari ini dia datang lagi ke kuil, tidak dengan rencana buruk, sebenarnya itu adalah perintah dari ketiga murid yang rajin mengganggunya, tiada hari tanpa mengganggunya, gadis ini pun tidak bisa mengaduh pada guru atau siapapun, sekail lagi tidak ada yang akan peduli padanya, mereka terus menyinggung siapa Sakura dan bagaimana latar belakang kedua orang tuanya.
"Dia menepati janji." Ucap dewa itu, namun dia bisa melihat aura gelap dari gadis itu, tatapannya terlihat muram.
"Dewa aku datang sesuai janjiku, dan aku hanya membawakan persembahan ini." Ucap gadis itu, wajahnya terlihat sedih, menaruh sebuah kotak bento di teras kuil dan dia akan mulai membersihkan patung yang telah di coretnya.
Dewa ini penasaran dengan apa yang di bawa gadis itu, sebuah kotak persegi empat dan tertutup rapat, melihat gadis itu sedang sibuk membersihkan patungnya, dewa ini membuka kotak itu dan isinya adalah sebuah makanan yang di tata dengan rapi.
"Apa ini makanan di jaman sekarang?" Ucap dewa itu, semakin penasaran dan memakan bento itu. "Ini tidak buruk, tidak jauh beda dengan makanan di atas." Ucapnya lagi, dia menikmati persembahan dari gadis itu, masih senantiasa menatapnya, sesekali aura gelap mengitari tubuh gadis itu. "Apa itu dampak dari rasa bersalahnya? Tapi aura jahat itu terlalu gelap."
Sementara itu, Sakura masih berusaha membersihkan bekas piloks di patung itu, sesekali bayangan tentang orang-orang yang menyalahkannya membuatnya terus teringat, bukan dia yang bersalah, kedua orang tuanya seakan tidak memiliki hati untuk membawanya bersama mereka.
Air matanya mulai terbendung, akhir-akhir ini tidak ada yang berjalan baik untuknya.
Dewa ini telah selesai dengan bento itu, menaruh kembali kotak bentonya dengan rapi dan memperhatikan kerja gadis itu, dia melakukannya sambil menangis, cahaya pada hatinya meredup, ini bukan urusannya, dia adalah dewa api, dia hanya mengawasi dan tidak bisa menolong siapapun.
Kembali pada tempat favoritnya, gadis berambut softpink sepunggung itu mencari alat yang bisa di gunakannya untuk membersihkan halaman kuil ini, walaupun sedang bersedih, dia masih giat untuk melakukan janjinya.
Hingga menjelang sore, halaman kuil itu akhirnya bersih, daun-daun yang berserakan sudah tidak menumupuk lagi di halaman, dewa ini merasa puas akan apa yang di lakukan gadis itu, hanya saja patungnya belum sepenuhnya bersih.
"A-aku akan kembali lagi, warna poliks itu cukup sulit untuk di hilangkan, besok aku akan membersihkannya lagi." Ucap Sakura.
Bergegas mengambil kotak makanannya dan terasa ringan, dia semakin percaya jika dewa itu ada dan senantiasa mengawasinya.
Menatap gadis itu dari ujung tangga paling atas, kuilnya sangat mengkilap, bersih dan suasana di sekitar semakin membuatnya nyaman.
"Besok apa yang akan di bawanya lagi?" Ucap dewa ini, dia hanya memikirkan 'persembahan' yang di bawah oleh gadis itu.
.
.
.
.
[SMP K]
"Hari ini akan ada tugas kelompok, karena gurunya sedang cuti, kalian bisa membagi kelompok kalian." Ucap seorang guru, mewakali guru yang tidak masuk.
Ketua kelas yang akan membagi kelompok, tapi tatapan para murid membuatnya kesusahan, dia tahu jika tidak akan ada yang mau satu kelompok dengan Sakura, mereka terus mengatakan jika anak yang di buang oleh orang tuanya tidak akan berguna, hal itu pun tidak benar sepenuhnya, Sakura termasuk anak yang pintar dan selalu masuk dalam 5 besar murid terpandai, tetap saja latar belakangnya menjadi point utama yang lihat oleh mereka.
Ketua kelas itu menatap ke arah Sakura, Sakura seakan mengerti jika hal seperti ini akan terus terjadi, mereka tidak sudi sekelompok dengannya.
"Aku tidak apa-apa." Ucap Sakura, pelan, memberi sebuah kode pada ketua kelas untuk segera menentukan kelompok tanpa memasukkannya.
Kelompok itu sudah dia bagi, masing-masing murid akan berkumpul dengan kelompoknya, sementara Sakura, dia hanya akan duduk tenang di kursinya tanpa berpindah.
Beberapa murid yang lain tidak akan peduli, mereka akan berusaha membuat tugas mereka dengan kelompok mereka, namun beberapa murid lainnya, merasa ini sudah sangat ketelaluan, hampir setiap di bentuk kelompok tidak akan ada yang mau satu kelompok dengan Sakura, tugasnya pun akan selalu kosong.
"Ketua kelas aku akan pindah kelompok." Ucap salah seorang murid.
"Eh? Ta-tapi, aku sudah membaginya." Ucap ketua kelas.
"Jika kau sudah membaginya, kenapa Haruno tidak mendapat kelompok? Aku cukup muak akan kelas ini. Aku akan satu kelompok dengan Haruno." Ucap gadis ini dan pindah, dia menarik kursinya ke arah meja Sakura.
"Ini tidak perlu, aku tidak apa-apa." Ucap Sakura, seakan seluruh mata itu memandang ke arah dengan tatapan marah.
"Ini keputusanku, bukan keputusan siapa-siapa, kita akan sekelompok atau kau mengusirku dan aku tidak akan ada kelompok juga." Ucapnya.
Sakura terdiam, perasaan ini sedikit aneh, akhir-akhir ini keadaan semakin terasa memburuk baginya, tapi hari ini, salah seorang murid, dia pun cukup hapal akan namanya.
"Padahal kita ini satu kelas, tapi karena kurang akrab, aku ingin berkenalan denganmu, panggil saja. Shion." Ucapnya dan tersenyum.
"Kau bisa memanggilku Sakura saja, tidak perlu Haruno." Ucap Sakura.
"Apa juga boleh gabung? Aku tidak suka dengan orang-orang sekelompokku, aku yakin kami akan menjadi bodoh bersama." Ucap murid lainnya yang ikut menarik kursinya. "kalian bisa memanggilku. Ino." Ucap gadis berambut goldpale ini.
"Aku tidak percaya jika gadis yang di katakan mirip denganku akan mengikutiku sampai seperti ini." Ucap Shion.
"Ha? Yang benar saja, aku tidak mirip denganmu dan aku tidak mengikutimu." Protes Ino.
Sakura hanya kebingungan melihat keduanya, mereka terlihat sangat akrab, tapi Sakura tidak tahu jika mereka akan datang padanya.
"Kalian belum cukup orang, aku datang untuk melengkapi kelompok ini." Ucap seorang gadis bercepol dua.
"Oh akhirnya kelompok kita lengkap." Ucap Shion.
Beberapa murid lainnya saling berbisik dan memikirkan jika mereka hanya sengaja bergabung dengan Sakura.
Sakura akan selalu mendengar kalimat-kalimat negatif itu, dia tidak bisa percaya 100% pada ketiga murid di hadapannya ini, mereka datang dengan sendirinya dan mungkin memiliki maksud lain.
"Bagi yang kelompoknya masih kurang, tolong bergabung." Arahan dari ketua kelas, sejujurnya ini membuatnya sedikit senang, dia tidak sepenuhnya ingin menjauh dari Sakura, kewajibannya sebagai ketua kelas dan sebagai seorang gadis pun akan merasakan hal yang tidak wajar dan sangat tidak adil, Sakura di kucilkan hanya karena di buang oleh kedua orang tuanya.
.
.
TBC
.
.
update...~
dalam fic ini Sakura akan menjadi tokoh utama wanita yang cukup lemah, jarang-jarang sih buat tokoh utama wanita yang lemah, selalu saja kuat, bosan =w= sekali-sekali lemah nggak apa-apa XD.
.
See you next chapter!
