Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[ Kagutsuchi(Dewa Api) ]

~ Chapter 2 ~

.

.

.

Hari ini dewa itu sedang menunggu gadis itu untuk datang lagi, kali ini aura gelap pada tubuhnya perlahan memudar, wajahnya tidak terlihat murung lagi, walaupun itu hanya terlihat sedikit saja.

"Dewa, aku datang lagi, aku harap kau menyukai yang aku bawa hari ini." Ucap Sakura, walaupun hanya sendirian, dia sadar jika mungkin saja dewa itu mengawasinya, kotak bento yang di bawanya kemarin tidak mungkin kosong begitu saja jika tidak ada yang memakannya.

Sakura kembali sibuk membersihkan patung itu, masih ada beberapa sisi yang belum sepenuhnya bersih dari warna piloks. Sementara sang dewa sudah sangat penasaran akan isi kotak bekal yang di bawanya, di dalamnya ada beberapa kroket yang berbeda, kroket isi sayuran dan kroket isi daging, beberapa onigiri dan tomat cery, semuanya akan selalu di susun rapi dan indah untuk sebuah makanan.

"Kenapa jika manusia itu tidak bersalah tapi dia akan terus mendapat sial?" Ucap Sakura.

Dewa ini berhenti memakan makanannya dan menatap gadis itu dari jauh, dia bisa mendengar suara apapun dengan jelas meskipun dengan jarak yang sangat-sangat jauh.

Hening, gadis ini menghentikan kegiatannya dan menatap ke arah kuil, dia tidak pernah lagi mendengar suara dewa itu, dia hanya mendapat ancaman dan setelahnya dewa itu tidak mengatakan apapun lagi.

"Aku merasa jika terus mendapat hal buruk, apa seharusnya aku tidak perlu lahir ke dunia ini?" Ucap Sakura, lagi.

"Manusia di takdirkan untuk lahir bukan sebuah keburukan, semua adalah berkah untuk semua pasangan, apa yang membuatmu mengatakan hal seperti itu?" Ucap dewa ini.

Meskipun sudah pernah mendengar suaranya, Sakura kembali terkejut akan suara itu, cukup dekat dengannya.

"Aku terus mendapat masalah setelah kedua orang tuaku bercerai dan tidak ada yang ingin mangasuhku, seakan aku ini hanya beban untuk mereka." Ucap Sakura.

"Itu hanya pemikiranmu, yang patut di salahkan adalah kedua orang tuamu, dampak yang kau terima tidak ada hubungannya saat kau dilahir ke dunia, berpikirlah lebih luas sebagai manusia."

"Bahkan dewa pun menasehatiku."

"Aku tidak memberi nasehat, ini adalah hal yang sudah seharusnya terjadi, manusia memiliki otak untuk berpikir dan akal untuk bertindak."

"Aku mengerti, hanya saja-"

"-Kau harus mengubah sikapmu, bukan karena tindakan kedua orang tuamu dan kau mau saja hanyut dalam semua masalah, pikirkan ini baik-baik."

"Kau terdengar sangat bijaksana dewa."

"Aku memang bijaksana dan berhenti mengobrol, bersihkan patung itu secepatnya." Suara itu terdengar tegas.

Sakura kembali melakukan kegiatan penebus kesalahannya, warna merah di patung itu perlahan-lahan mulai memudar, gadis itu harus membersihkannya berkali-kali agar semua warna yang terdapat pada patung itu benar-benar bersih, hari ini pun tak banyak dedaunan yang gugur, dia tidak perlu terlalu banyak membersihkan hari ini.

Setelah semua kegiatan selesai, lagi-lagi kotak bekal itu akhirnya kosong dan bersih, sosok dewa itu tak pernah di lihatnya, hanya suara yang terdengar seperti seorang pria dewasa.

"Aku akan datang lagi, dan terima kasih untuk mendengar keluhanku hari ini, dewa." Ucap Sakura.

Dia harus bergegas pulang sebelum hari semakin gelap. Dewa itu tengah duduk di tangga dan memperhatikan patung yang hampir bersih, gadis itu akan datang lagi sesuai janjinya, tidak ada kontrak yang mengikat dengannya, dia hanya datang karena ucapannya, dia ingin membayar kesalahannya.

"Gadis yang malang." Gumam dewa ini.

Gadis itu tidak memiliki takdir yang begitu baik dalam kehidupannya, namun.

"Takdir ini hanya sebentar, kelak kau mendapat hal terbaik dalam hidupmu dan kedua orang tuamu akan menyesal hingga memohon-mohon padamu." Ucap dewa ini, sedikit mengintip masa depan gadis berambut softpink itu.

.

.

.

.

.

Pagi ini,

"Selamat pagi, Sakura." Sapa seseorang, gadis ini sedikit terkejut dan berbalik, tidak biasanya ada yang menyapanya di pagi hari.

"Ada apa? Apa ada hantu di belakangku?" Ucap Shion, dia bisa melihat raut terkejut itu dari Sakura.

"Ti-tidak, maaf." Ucap Sakura.

"Bukan 'maaf' seharusnya kau membalas ucapanku."

"Uhm, selamat pagi." Ucap Sakura, mengecilkan volume suaranya.

"Apa? Aku tidak dengar."

"Aku hanya kurang terbiasa."

"Ya, mulai sekarang biasakan." Ucap Shion.

Lagi-lagi Sakura mendapat perlakuan yang berbeda, pagi ini Shion menyapanya, setelahnya Tenten dan juga Ino pun menyapanya dengan senang, semuanya terasa asing bagi Sakura yang sangat-sangat jarang mendapat perlakukan seperti ini, mereka mulai berbeda, apa yang membuat mereka berbeda? Sakura selalu memikirkan hal terburuk dari akrab yang tiba-tiba ini.

Beberapa dampak dari sikap akrab dan menjadi teman yang sudah-sudah di dapatnya, mereka hanya sengaja akrab dengannya, pada akhirnya mereka menganggap Sakura seperti orang yang sangat mudah di permainkan, Sakura akan selalu hati-hati akan hal itu, selebihnya, dia harus mendapat paksaan.

Saat jam istirahat, Ino, Shion, dan Tenten mulai menarik kursi dan meja mereka, menyatuhkan meja-meja itu agar menjadi meja yang cukup luas, Sakura kebingungan akan tingkah mereka, setelah kegiatan mereka selesai, mereka menaruh kotak bekal makanan mereka dan terlihat akan makan bersama.

"Apa ini tidak apa-apa? Bukannya sekarang sedang tidak ada kerja kelompok." Ucap Sakura, gugup.

"Apa maksudmu? Sekarang kita akan makan bersama, jadi jangan memikirkan saat kelompok saja kita akan bersama." Ucap Shion.

"Aku sudah lapar, apa kita bisa makan dulu baru berbicara?" Ucap Tenten.

Sakura masih tidak memahami akan perubahan sikap mereka, mau bagaimana pun dia tidak bisa mengusir mereka dari mejanya, sedikit pasrah dan tidak akan mencoba mencari masalah.

"Wah, apa kau yang buat sendiri?" Ucap Ino, dia hanya terfokus akan kotak bekal milik Sakura, semuanya di susun dengan rapi.

"Iya, aku sendiri yang membuatnya." Ucap Sakura, malu, baru kali ini ada yang menegur kotak bekalnya.

"Aku jadi tidak ingin memakannya, berapa lama kau menghabsikan waktu hanya untuk menghiasi kotak bekalmu?" Tanya Ino antusias.

"Aku bangun cukup pagi dan melakukan segalanya."

"Hey, kau hanya mengganggu makan siang Sakura, kau pikir jam istirahat itu sangat lama?" Tegur Shion.

"Tapi ini sangat indah." Ucap Ino, bahkan memamerkannya.

"Ya, kau tahu, kau sangat terampil Sakura." Ucap Shion.

"Te-terima kasih." Ucap Sakura dan semakin malu akan pujian yang baru saja di dapatnya itu.

Sesekali Sakura akan melirik sekitar, seperti biasa, tatapan tidak senang yang akan di dapatnya, menatap ketiga murid yang mulai dekat dengannya.

Mereka tidak sebaik itu.

Mereka hanya kasihan,

Apa-apaan drama itu?

Sebentar lagi mereka akan pergi.

Gadis yang malang.

Siapa yang akan berani berteman dengan gadis sial itu?

Suara-suara negatif itu terdengar oleh telinganya, mereka seperti membicarakannya, walaupun setiap menoleh, para murid itu tidak berbicara apapun, mulut mereka tertutup rapat, mereka bahkan tidak ada yang akan menatap gadis itu.

"Aku tidak bisa seperti ini, lama kelamaan mereka akan dalam masalah." Pikir Sakura, memakan perlahan bentonya, pikirannya jadi cukup kacau.

Shion dan Ino saling bertatapan, dia sadar akan sikap Sakura yang semakin tertutup meskipun mereka berusaha dekat.

Sepulang sekolah pun Sakura terburu-buru sendirian, dia harus menepati janjinya pada dewa di kuil itu, langkahnya terhenti, ketiga murid yang selalu mengganggunya, lagi-lagi mereka ingin membuat masalah.

"Kami tidak pernah melihatmu lagi, Sakura. Apa kau sudah melakukan yang kami perintah?" Ucap salah satu dari mereka.

"Aku sudah katakan pada kalian, perbuatan itu tidak baik dan sangat buruk, dewa di kuil akan marah." Ucap Sakura.

"Omong kosong, disana tidak ada dewa atau siapapun, jangan-jangan ada hantu yang membuatmu kerusakan, hahahaha."

Mereka mulai menertawai Sakura, sementara gadis ini terus menahan diri, dia tidak ingin melakukan hal buruk lagi, dewa benar-benar ada.

"Lakukan perintah kami atau kau akan mendapat masalah." Ucap salah satu dari mereka lagi.

"Melakukan apa? Kalian mencoba memerintah Sakura?" Ucap Shion, merangkul Sakura dan menatap kesal pada ketiga murid perempuan itu.

.

.

TBC

.

.


update...~

ah, author lupa membalas sebuah review dari nurvieee96 yaa author dah pernah bilang, tapi tidak bosan juga bilang lagi, hehehe, satu akun saja malas di urus, bagaimana jika punya akun lain atau pindah akun, author cukup malas melakukan hal seperti itu, =w= ini author bakalan bertahan di fic saja sambil meningkatkan kuliatas menulis dan membuat cerita, ya dulunya pernah berharap punya sebuah novel, tpi pas awal-awal menulis saja kacau balau, :D :D di sini pun masih terus mengasah kemampuan, apa karya-karya author udah cukup baik atau masih banyak kekurangan, ya saya rasa masih banyak kekurangan jadi terus menetap disini, sekalian menghibur yang masih setia pada fanfic, lalu kisah-kisahnya selalu dengan pola yang sama, alur perlahan perkenalan dan berubah menjadi romance tapi tetap dengan banyak drama yang nyempil, =w= author pernah mendapat review tentang konsep karya-karya milik author yang katanya begitu-begitu saja tanpa ada perubahan =_=" jadi author merasa, oh alurnya belum berkembang dan masih dalam satu titik. *ini malah curhat* jadi pokoknya author bakalan tetap menulis di fic, hingga author benar-benar merasa punya kemampuan lebih untuk menulis karya lain, XD

ya begitulah, pokoknya terima kasih banyak buat para reader juga yang masih betah di fanfic ini dan masih rajin baca fandom ini, *jadi terharu*.

.

.

See you next chapter!