DISCLAIMER : How I wish Hetalia's mine.

"Is bearing with the pain and pleasure a sin?"


Bisikan.

Bisikan itu terdengar keras di dalam rongga kepalanya, meskipun telinganya tidak mendengar apa – apa. Hanya suara desiran keheningan dari luar dan suara napas stabil dirinya dan pria di sebelahnya. Begitu kontras dengan keriuhan yang didengarnya tiap matahari terbit, dan hembusan napas yang memburu yang dirasakan kulitnya setelah matahari terbenam. Seluruh tubuh gadis itu terasa sakit, dan di dalam dirinya ia menimbang apakah keputusan yang diambilnya tepat. Tetapi bukankah itu yang selalu dilakukan Indonesia akhir – akhir ini, menimbang?

Selain semua yang dilakukan pria yang tertidur disebelahnya, gadis berkulit sawo matang itu memang tidak banyak melakukan apapun. Hanya melihat. Mendengar. Menunggu.

Biasanya, pada saat – saat malam menjelang pagi seperti ini ia mendengar dentingan logam ataupun jeritan wanita dari luar kemah itu. Ia mengenal gadis yang bertandang di sebelah kemahnya─salah satu dari banyak perempuan yang tak seberuntung dirinya. Mungkin dia sudah mati, sama seperti teman – temannya. Mungkin ia hamil dan tentara – tentara itu melubangi perutnya─gadis itu tidak tahu. Bukan tempatnya, ia hanya melihat, menyaksikan semua akibat dari keputusannya. Ia tidak dapat menunjukkan kelemahan, tetapi jauh di lubuk hatinya, ia menjerit.

Berapa besar sebenarnya harga kebebasan itu?

"Indonesia," panggil pria itu tiba – tiba. Gadis itu berbalik dan menatap kedua mata yang hitam legam itu. Entah apa yang membedakan dia dengannya─keduanya bukan orang kulit putih. Japan seorang Asia, begitu juga dirinya, tetapi ia mengaku salah seorang saudaranya, kakaknya.

Seorang kakak tidak memperbudak adiknya, memperalatnya, menggunakan tubuh adiknya sebagai pelampias hawa nafsunya, pikirnya dalam hati, Aku tahu, karena aku seorang kakak.

Tapi mungkin saja sebegitu mahalnyalah harga kebebasan itu.

Ia berpura – pura tidak merasakan bibir yang basah dan gigi yang dingin dan keras itu menyentuh lembut bagian leher bawah dagunya. Gadis itu memejamkan mata, menunggu fajar tiba.

Indonesia memimpikan kedua mata hijau itu, sumber bisikan yang didengarnya.

- End


A/N : This fic was made almost a year ago, waaay before Nachtrust soooo yeah. And yes I watch Diabolik Lovers. Next up will be Kalafina's!

Reiji = best Diabolik Lovers's guy.