DISCLAIMER : Hetalia is not mine, and Hidekazu Himaruya is a nice guy, therefore it's not me.

"It feels so scary, getting old."


"Apa yang sedang kau lihat?"

Indonesia tidak mengalihkan pandangannya dari jendela kamar kekasihnya. Kekasih, kata itu terdengar aneh di kepalanya. Benaknya tersenyum memikirkan pemimpin – pemimpinnya yang telah berpulang yang akan memarahinya habis – habisan apabila mereka mengetahui hubungan kedua personifikasi negara itu, enam dekade setelah gadis itu akhirnya bebas. Tetapi kekasih adalah kata yang paling tepat, setelah dipikir kembali. Mereka memang terikat tanpa pernikahan, dan hubungan mereka bahkan tidak dapat dideskripsikan kembali─seperti jalinan tali yang terbuat dari serat – serat benang yang berbeda, disatukan menjadi satu kumpulan yang janggal namun kuat. Tidak dapat dipisahkan. Saling membutuhkan, saling menginginkan.

Gadis itu mengangguk singkat dalam hati. Kekasih, kalau begitu.

"Toko itu tidak berada di sana sebelumnya," balasnya kepada pria berambut pirang yang masih terkantuk berbaring di tempat tidurnya.

"'Sebelumnya' yang kau maksud itu setidaknya empat puluh tahun yang lalu. Bisa ya, kau bangun sepagi ini," ujar Netherlands seraya menguap. Indonesia mendengus.

Gadis itu ingat sekarang─ tahun 1963 adalah terakhir kali ia melihat melalui jendela itu, ketika konfrontasinya dengan adik laki – laki kembarnya sedang memanas. Saat itu tidak seperti sekarang, dimana pertengkaran keduanya hanya antara adik kakak yang tidak pernah bisa akur. Saat itu nyawa manusia dikorbankan, dan darah tumpah di tanahnya. Federasi Malaysia datang padanya, ia ingat, dan memori akan malam itu melekat terlalu erat di benaknya, dan ia masih merinding mengingatnya.

Indonesia ingat bahwa malam itu hujan membasahi Amsterdam, saat ia mengetuk pintu mantan kompeni-nya. Tentu saja ia ingat bagaimana ia meminta Netherlands membersihkan serpihan terakhir adik laki – lakinya itu dari dirinya, dan bagaimana pria itu kemudian melakukannya.

Seandainya Netherlands tidak sedang dilanda kantuk, ia pasti mengingatnya juga.

"Jetlag, kurasa. Menyeramkan melihat saat kau mengalihkan perhatian sedikit saja, semuanya bertambah tua di sekitarmu," aku gadis itu. Netherlands tersenyum.

"Kau memperhatikan, tetapi pikiranmu teralihkan. Kau punya pengalih perhatian handal disini," pria berambut pirang itu menguap, "Ga weer slapen ̶

kembalilah tidur." Indonesia mengangkat bahu dan kembali menyusup ke dalam selimut, kedalam pelukan kekasihnya.


A/N: coughmentionsofrapecoughcough

Sorry not sorry.

An educated guess, but none of you could figure it's Lorde's Ribs. Next one will be from my favourite western band ever, Florence + the Machine!

P.S. If you can guess the title, you're most probably my soulmate. It's pretty hard.