DISCLAIMER : Axis Powers Hetalia is mine... I wish.

"I can finally see

That you're right there beside me"


Sebagai personifikasi negara, Netherlands menyadari bahwa satu – satunya yang dapat konstan dalam hidupnya adalah personifikasi negara lain—itupun terasa seperti berjudi. Kau akan menyayangi seorang akan yang lain, dan berharap mereka tidak akan menghilang seiring zaman. Mungkin karena itulah ia begitu menyayangi kedua negara yang ia anggap adiknya, Belgium dan Luxembourg. Mungkin karena itu juga ia tidak merasa begitu bersalah mengklaim negara – negara lainnya. Negeri – negeri yang terasa damai dan begitu kaya—apa salahnya membuat mereka mencecap sedikit dari kekotoran dan kebengisan Eropa yang saling berhimpitan dan menginginkan wilayah kekuasaan kekuatan Tuhan kejayaan emas?

Pemuda yang kelihatan jauh lebih muda dari umur aslinya tersebut bukannya tidak tahu apa yang diperbuatnya itu kesalahan yang dipoles sedemikian rupa hingga terlihat benar.

Ia kadang bersandar di atap rumah pada kesempatan seperti ini, ketika ia menimbang kembali keputusan – keputusannya. Manusia – manusia dengan pakaian bermacam – macam, terkadang mabuk sehabis pulang dari bar atau letih karena lembur menghiasi malam yang benderang karena purnama. Sesekali terlihat pribumi yang menunduk mengikuti pria atau wanita berjas dengan begitu banyak bawaan, atau membukakan pintu rumah dengan mata terpaku di lantai. Pemandangan seperti itu tidak lagi asing bagi Netherlands.

Jika ia boleh jujur, ia tidak sesungguhnya percaya orang – orang yang terlihat dari atap mansionnya pada malam hari, yang berkulit senada dengan dirinya—anak - anaknya—sungguh berbeda dari penduduk setempat. Tidak hanya karena warna kulit mereka. Negeri Kincir Angin itu cukup dekat dengan Nederlands-Indië untuk tahu bahwa personifikasi negara itu serupawan dan secerdas mereka yang ada di Dunia Lama, atau dimanapun.

—tetapi, apakah yang tidak akan seorang negara sepertinya lakukan untuk membahagiakan anak – anaknya, rakyatnya?

Pintu atap berderit terbuka. Pemuda berambut pirang itu tidak perlu berbalik untuk mengetahui itu Indië kecilnya. Langkah kecil yang ragu mendekatinya dan berdiri di sisinya.

"Meneer kelihatan murung. Apa yang sedang Meneer lihat?" suara yang khas gadis kecil seperti posturnya namun bernada bijak itu bertanya.

"Vergissing—kesalahan." Dosa, pemuda itu menambahkan dalam hati.

Gadis muda berambut hitam itu terdiam sesaat, tidak mengerti namun tahu motherland-nya tidak akan menjelaskan lebih jauh.

Tangan yang lembut menyentuh punggung tangan Netherlands yang terlipat di depan dada. Terkejut, pemuda itu menoleh kepada gadis yang tingginya tak sampai sebahunya. Mata gelap gadis itu balas menatapnya, kesungguhan terpantul dari iris gelap itu.

"Kesalahan apapun yang Meneer Belanda lakukan, Meneer Belanda tidak sendirian. Aku akan berada di samping Meneer, menunggu Meneer disini. Jadi, tidak usah khawatir," Indië menyunggingkan senyum terlebarnya, "ada aku."

Mata pemuda itu terbelalak mendengar perkataan gadis yang lebih muda tersebut. Kehangatan terasa menyebar ke dalam dadanya, menyesakkan dan melegakan pada waktu yang sama. Kerongkongannya terasa tercekat.

Kesalahanku adalah menyakitimu, Netherlands begitu tergoda untuk mengatakan, namun kata – kata itu tidak pernah sampai.

"Aku akan memegang kata – katamu itu," balasnya, senyum tipis yang tulus merekah untuk pertama kalinya setelah sekian lama.


A/N: Speedy update because I need to move my laptop's data into my harddisk. This isn't the end of course, I still have some cringe-worthy drabbles stored in my Unholy Fanfiction Folder (ugh). And since it'll be my birthday soon, I'll give away interweb brownies!

...anyways.

Bad news is, I don't know which one of my drabbles I should upload next, so maybe it'll take longer time. Or not. Who knows, but I'll probably get my own laptop at the end of the month. Thanks for reading as always, and for those who are fasting at the moment, keep it up and God bless you! :^D