DISCLAIMER : I've said it and I'd say it again; Hetalia isn't mine.

"Take me back to a time only we knew"


Keduanya sedang berada di sofa ruang keluarga rumah Indonesia. Pria kepala batu tersebut telah menyerah dan membiarkan Indonesia mengajaknya menonton puluhan koleksi film Disney lama─hasil pengaruh America pada gadis Asia itu, dengan syarat Netherlands boleh merokok selama sesi marathon film itu berlangsung.

Jadi disanalah mereka. Indonesia bersandar santai di bahu kekasihnya seraya mengemil stroopwaffel oleh – oleh dari Amsterdam. Dirinya tanpa sadar menghirup dalam – dalam aroma tembakau yang dianggapnya menenangkan, mata gelapnya tertuju pada layar 40" yang menampilkan film Little Mermaid. Netherlands menghembuskan asap bundar dari puntung rokok keempatnya, tidak habis pikir mengapa gadis berambut kelam itu mau menghabiskan waktu liburannya yang sedikit nan langka untuk hal tidak penting seperti itu.

Seakan membaca pikirannya, tangan gadis itu meraih dan menaut miliknya. Entah bagaimana, Netherlands tiba – tiba menyadari aroma melati yang bercampur rempah itu, yang sedari tadi disamarkan bau tembakau. Yah, putusnya dalam hati, sebenarnya tidak buruk – buruk amat.

Tangan Indonesia yang bebas menunjuk ke arah layar plasma di hadapan mereka. "Lihat. Aku sangat tidak suka ending-nya, tapi aku paling menyukai lagu – lagu disini. Ini dan Pocahontas. Walaupun kalau aku harus memilih karakter dari film Disney lama... mungkin Mulan?"

Netherlands mengangguk kecil. "Kenapa kau tidak suka akhirnya?"

"Aku suka cerita ini karena ending yang diberi Andersen. Kau ingat tidak─dulu kau yang membacakan dongeng ini untukku dan kau akhirnya harus menemaniku tidur karena aku tidak berani tidur sendirian?"

Bayangan masa lalu tersebut membuat ujung bibir pria Kaukasia itu terangkat sedikit. "Aku ingat. Kenapa dulu kau begitu takut? Kau tidak pernah menjelaskannya."

Indonesia mengerjap menatapnya, dan sejenak pria itu tidak tahu apa yang dipikirkannya.

"Tentu saja karena aku takut harus berubah menjadi buih lautan."

"...Apa?"

Gadis Melayu itu mengalihkan pandangannya ke arah televisi. "Sepertinya sampai sekarang pun masih," gumamnya nyaris kepada diri sendiri sambil mengambil sepotong lagi stroopwaffel. Netherlands masih menatapnya tidak mengerti, namun ekspresi gadis itu membuatnya tidak mengungkit hal itu kembali.

"Omong – omong, kalau kau berada di film Disney, kurasa film itu bukan Little Mermaid."

"Indonesia mengangkat alis. "Pocahontas?"

Pria berambut pirang tersebut menggeleng, senyum iseng yang dikenal gadis itu mengembang di wajah pucatnya.

"Tarzan?" tebaknya lagi. Seringainya menampilkan barisan gigi – gigi putih yang tak pernah berubah selama lebih dari satu abad.

"Nee. Menyerah?"

Yang ditanya mengangkat kedua tangan. "Baiklah. Apa?"

"Beauty and the Beast."

Seringai gadis itu melebar. "Dan aku berasumsi bahwa Beast adalah...?"

"Kau, tentu saja," jawab Netherlands dengan senyuman yang jarang terlihat. Gadis berambut hitam itu spontan menyikut pria tersebut. "Au!" serunya, setengah tertawa.

Ketika Indonesia mencondongkan dirinya mendekat, Netherlands segera mematikan rokoknya di asbak dan merebahkan diri ke sofa, membuat gadis itu kehilangan keseimbangan. Dengan sigap, Netherlands menangkap gadis itu sebelum menghantam wajahnya. Tawa kecil pemuda itu tampak membuat gadis tersebut gusar. Personifikasi Zamrud Khatulistiwa tersebut hendak mengulurkan tangan untuk mencubit hidungnya, namun dihentikan oleh tangan yang terlatih di medan perang itu. Ia hanya harus puas memelototi pria yang kini berada di bawahnya. Film yang masih berjalan terlupakan.

Memegang tangan Indonesia, pria tersebut dapat merasakan dingin logam yang melingkari salah satu jemari gadis itu. Samar, ia dapat melihat sinar kehijauan dari jari yang sama, tertimpa oleh cahaya. Ekspresi gadis Asia tersebut menggelap.

"Lars?"

"Ja?"

Sinar di sepasang mata gelap itu meredup. Netherlands menyayangkannya. "Kalau perang terjadi lagi, dan kita berada di dua pihak yang saling bertentangan..." Suaranya menghilang, seakan kehilangan arah. Pria itu tahu.

"Kalau kau harus memilih, bukankah sesungguhnya tidak ada pilihan sama sekali?" Netherlands balas bertanya. Senyum sendu mengembang di wajah Indonesia./span/p

"Pilihan Hobson, kau pernah memberitahuku. Tapi─"

"─aku tidak akan memaksamu untuk membuat janji yang tak dapat kau tepati, Ciethra," putusnya tegas.

Permintaan itu mengambang di udara, tak terkatakan, seperti balon helium yang kehilangan pemberat dan bergulir di langit – langit. Tak terabaikan, juga tak dapat diraih.

Katakan padaku kau tidak akan pernah melepaskanku.


A/N : I just realized it's been four months? I had been so busy with the new learning environment that I didn't have the time to write anything. I'm really, emreally /emsorry and I'm giving you longer chapter to compensate. I hope y'all forgive me...

I'd be very busy but I'll do my best!

(song by the Chainsmokers ft. Rozes)