DISCLAIMER : Axis Powers Hetalia still belongs to Hidekazu Himaruya.
"I was once like you
Life was a maze, I couldn't find my way out"
Ruangan itu begitu hening, terkecuali tetesan infus dan dengung mesin ECG. Sudah bulan April dan Indonesia masih terbaring tak berdaya. Ia benci fakta tersebut; rumah sakit bukan tempatnya. Seharusnya ia berada di Istana Negara sekarang, membantu bosnya mengurus dan membereskan apa yang tersisa dari... peristiwa sebelumnya.
Memori itu masih terpatri di belakang kelopak mata Indonesia, membayanginya setiap ia menutup mata. Barangkali karena ingatan itu segelap dunia ketika mata tertutup.
"...katakan sesuatu, Belanda."
Yang dipanggil, satu – satunya pengunjung yang datang ke kamar rumah sakitnya Kamis itu tidak mengatakan apapun. Ia berbalik dari pandangannya ke luar jendela, menghadap gadis yang berbaring tersebut. Mata gelap menolak menatap balik.
Sebuah buket tulip putih mengamati kejadian itu bisu, bersama dengan vas berisi bunga matahari, lili juga mawar putih, dan kembang sepatu. Cahaya senja keemasan mulai membentuk garis – garis cahaya dari jendela yang menampilkan pusat kota.
Keheningan membuat Indonesia merasa diperolok.
"Aku tahu apa yang akan kau katakan. Bahwa semuanya salahku, memilih untuk merdeka sebelum kau mengaku aku siap. Bahwa aku tidak pernah mendengarkanmu. Bahwa ini adalah ganjaran yang pantas bagi keangkuhanku." Gadis berambut hitam tersebut berusaha keras menjaga suaranya tetap stabil, tetapi gumpalan yang semakin menyesakkan di kerongkongannya itu tidak terbohongi. Katakan sesuatu, sebelum aku menjadi gila.
Sosok pemuda tinggi itu belum dijumpainya lagi sejak tiga puluh tahun silam, tetapi ekspresinya masih sama. Seabad sebelumnya pun, raut wajah itu pun serupa. Kelembutan yang menenangkan terkadang terpancar dari retakan topeng sedingin es yang kaku dan keras miliknya.
"Indonesia..."
Gadis berkulit kecoklatan itu mengeratkan rahangnya, masih berusaha memandang lawan bicaranya balik.
"Kau masih muda. Hal – hal seperti ini pernah dialami kita semua dan memang seharusnya terjadi, dengan satu atau lain cara." Terdengar jeda yang terasa seperti selamanya sebelum Netherlands melanjutkan. "Kematian mereka semua bukan salahmu."
Kata – kata bernada tenang dan hati – hati itu meretakkan penyangga terakhir bendungan perasaan gadis itu, emosi kuat yang ditanggul demi ketenangan orang di sekitarnya dan dirinya sendiri. Air matanya merebak, namun Indonesia tidak membiarkan dirinya menangis.
"Mereka rakyatku, Netherlands. Anak – anakku. Aku—aku tidak bisa melindungi mereka." Ketika gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap balik mantan penjajahnya, ekspresi di wajah pemuda berambut pirang tersebut membuatnya meneteskan air mata.
Sial sial sial.
"Anak – anakku saling membunuh, Netherlands, dan untuk apa?"
Sial sial sial sial.
"Untuk apa mereka mati?"
Suaranya pecah dan Indonesia mengutuk dirinya sendiri karena terlihat lemah di hadapan orang yang paling ia buktikan sebaliknya. Ia dapat tersenyum pada Russia, America, England, Japan dan bahkan tetangga dan adik kembarnya.
Namun, tidak Netherlands.
"Aku dapat melepas putra – putriku yang mati di medan perang karena setelah aku merdeka, aku dapat memberi mereka alasan yang pantas untuk pergi, tapi apa semua ini? Kegilaan. Tetapi aku tidak bisa menghentikannya." Sakit menjalar ke rongga dada Indonesia, membuat semakin banyak airmata mengalir di pipinya.
Gadis itu terisak, menangisi jiwa – jiwa yang terhilang karena insiden mengerikan yang baru berlalu itu, meneteskan airmata yang belum menetes sejak itu terjadi.
Netherlands ingin merangkul gadis itu, menenangkannya seperti dahulu dan mengatakan semuanya baik – baik saja. Bahwa ia sendiri pernah mengalami dan melewatinya. Bahwa ia yakin Indonesia suatu saat akan memberi arti pada penderitaan bulan Mei itu. Tetapi ia bukan lagi seorang yang dapat menempatkan dirinya pada posisi itu. Ia, diantara semua orang, adalah yang paling tidak berhak untuk berada di sana, alih – alih menasihati.
Miris, miris. Hatinya seperti teriris.
Maka pemuda berambut pirang tersebut berdiri mematung di hadapan ranjang rumah sakit, jemari gemetar karena tak dapat meraih. Menunggu, hingga suara tangis mereda oleh letih dan gadis yang berduka itu jatuh tertidur. Menyelinap keluar rumah sakit ke jalan yang pernah pada suatu masa akrab baginya.
Cinta yang tidak seharusnya. Rasa bersalahnya semakin menyiksa.
A/N : I should be doing work and/or sleep but here you go. It may seem to get dark again, but I'll promise next one wouldn't be.
And yes, it is a reference to May 1998. Make love, dear readers, not war.
(song by Matthew Morrison ft. Aidan Gemme - from Finding Neverland Broadway Musical)
