DISCLAIMER : If you haven't noticed, Axis Powers Hetalia still belongs to Hidekazu Himaruya.

"All last night sat on the levee and moaned

Thinkin' about my baby and my happy home"


"Broer," suara familier seorang pemuda memanggil Netherlands dari belakang. Luxembourg, pria yang sedang duduk di bangku keras bar tua di sudut ibukota tersebut mengonfirmasi di benaknya.

Itu, atau ia sedang berhalusinasi karena alkohol yang beruntun ditenggaknya. Pria Belanda itu tidak mudah mabuk, memang, tapi siapa tahu? Baru saja ia mengira dirinya melihat gadis itu.

Ya, dia, yang bayangannya keluar dan masuk dan keluar dan masuk dan keluar terus terus terus di dalam kepalanya begitu seenaknya seperti kucing tak bertuan. Ia bangkit dari meja dan mengejarnya, tetapi sosok gadis berambut hitam itu hilang tanpa bekas di pintu bar. Penjaga pintu bar tersebut nyaris menghajarnya karena mengira ia hendak kabur tanpa membayar. Padahal Netherlands terkenal tidak pernah mabuk sebelumnya─setiap kali personifikasi negara lain harus terkapar di jok belakang dengan muka merah dan tertidur pulas atau membicarakan sesuatu yang inkoheren, ia selalu berada di depan, menyetir mereka pulang kembali ke hotel. Hal yang serupa terjadi ketika ia sekali dua kali menambah porsi ganja legal ke dalam pipanya.

Netherlands menimbang sejenak dan memutuskan ia akan meladeni 'Luxembourg' ini, kalau – kalau ia sungguhan.

"Ayo kita pulang─Bella sudah menunggu di rumahmu. Ia tidak senang kalau kau lagi – lagi menghabiskan malam di losmen murah bersama wanita entah-siapa. Kami sudah membereskan," pria yang lebih muda tersebut terdiam sejenak, memilih kata yang tepat, "kekacauan kecil yang kau buat. Zus benar – benar mengira kau habis dirampok."

Pria Belanda tersebut meletakkan kedua sikunya di atas meja diantara botol – botol kosong jenever dan wiski. Ia membenamkan wajahnya ke kedua tangannya.

"Rumah berada di mana?" Tangan itu kini menumpu dahinya. Telapaknya dapat merasakan bekas luka yang jelas di alis kanannya. "Di rumah Habsburg, kita bertiga? Di istana raja? Di rumahku, ketika kita masih tinggal bersama?"

Pertanyaan itu terhenti sejenak. Sekelebat bayangan gadis dengan kulit kecoklatan terbakar mentari terpatri di balik kelopak matanya. Selalu berada di sana, sejak awal '50an. Sepuluh tahun kini, ia mengingatkan dirinya sendiri, sepuluh tahun lebih, sialan.

"Atau di belahan bumi yang lain, di rumah yang berdiri di timur sana yang berperairan tenang, yang kini telah terbakar habis?"

Bibirnya terasa pahit dan kali ini bukan nikotin penyebabnya. Senyuman gadis itu, yang lebih cerah dari seribu surya, kembali berkelebat di matanya. Rumah. "Dimana, Luca?"

Sosok yang terlihat seperti adiknya tersebut merenung singkat sebelum menjawab. "Tergantung perspektifmu."

Netherlands tertawa kering. "Kebohongan itu seperti tanggul, kau tahu? Tanggul." Tangannya meraih gelas gin dan ia menenggaknya seakan gelas bundar itu berisi air dan ia adalah pengelana yang menemukan oasis setelah perjalanan panjang di tengah gurun. "Kalau kau tidak merawatnya baik – baik, suatu saat mereka retak dan air bah menerpamu. Pada satu titik, kau menyadari bahwa sudah terlambat untuk melindungi hal yang ingin kau lindungi." Rumah.

Mata hijau adik lelakinya itu tidak melepaskan pandangannya. "Kau memiliki terlalu banyak tanggul, Lars."

Sang kakak menggeleng. "Kau tidak mengerti. Kalau bendungan itu retak, aku akan kehilangan rumahku." Rumah.

Luxembourg tersenyum, rasa kasihan tercermin di matanya. Netherlands tidak suka dikasihani. "Waktunya pulang, Broer," ajaknya lembut. Kemana?

Ketika pemuda Belanda itu melangkah gontai keluar ke tempat parkir setelah meletakkan sejumlah guilder di meja bar, sosok adiknya menghilang. Dalam keheningan, ia menyetir ke tempat kediamannya di pusat Amsterdam. Rumah yang terlihat seperti kapal pecah menyambutnya─perabotan yang dilempar ke segala arah, vas bunga yang pecah, dan peralatan rumah tangga yang bergelimpangan di lantai. Pria berambut pirang tersebut membereskan kekacauan yang dihasilkan oleh amukannya dalam diam. Netherlands selesai merapikannya kembali satu jam setelah tengah malam. Ketika itu, hujan lebat telah menerpa ibukota negara tersebut. Mengusir bayangan gadis itu, gadis itu lagi dari benaknya sebisa mungkin, ia beranjak ke kamar dan memaksa dirinya terlelap.

Ia tidak pernah lebih terkejut ketika satu jam kemudian pintu rumahnya diketuk dan rumah itu berdiri di hadapannya, kuyup oleh hujan dengan mata sembap yang nanar. Netherlands mengetahui belakangan tentang memar di pergelangan tangan lehernya di balik bajunya dan gadis itu telah ternodai terhina terluka.

Rumah adalah rumah.


A/N : If you need a confirmation for the timeline; yes, this is 1960s. Early 1963 to be exact. You go figure.

I need to remind you that history is painful. Therefore, peace must be preserved.

(Song by Led Zeppelin)