DISCLAIMER : If only I'm as talented as Hidekazu Himaruya, the creator of Axis Powers Hetalia.

"I've become what you cannot embrace

Our memory will be my lullaby"


Lagi – lagi orang menghilang. Indonesia tidak bisa mengelak dan berkata ia tidak tahu apa yang terjadi karena sungguh ia tahu. Ia tahu apa yang berada di balik panggung kejayaannya kini, namun apakah yang ia bisa lakukan? Distopia yang dibangun di atas tumpukan mayat anak – anaknya bukanlah apa yang ia harapkan ketika gadis itu melihat benderanya berkibar di lapangan Istana Negara.

Indonesia merebahkan diri ke tempat tidur dan memejamkan matanya. Bahkan bantal bulu angsa terbaik tak dapat memendam jeritan darah rakyatnya yang tertumpah. Dirinya yakin, orde ini akan berakhir dan tergeser oleh gelegak amarah warganya, namun gadis itu tidak dapat melakukan apapun. Hal itulah yang terus membuat dirinya terjaga di malam hari.

Sudah berapa hari personifikasi Ibu Pertiwi itu tak dapat tidur, ia tak ingat.

Satu dari sedikit hal yang membantunya menutup mata meski sekejap adalah buket tulip jingga yang tidak pernah absen di depan pintunya setiap pagi ulang tahunnya. Gadis itu tahu ada seorang pria yang berdiri di depan pintu yang sama sepanjang malam, yang tidak pernah mengetuk pada akhirnya dan pergi sebelum matahari terbit. Dengan seseorang yang menjaga pintu rumahnya, entah mengapa Indonesia dapat tidur dengan tenang.

Gadis yang masih mengenakan blus kerjanya ketika berbaring itu menggerung frustasi. Indonesia bangkit dan beranjak ke dapur dengan langkah – langkah lebar. Dibangun kebiasaan, ia melirik ke arah jam dinding tua di ruang keluarga yang ia lewati.

Pukul 2.50.

Ciethra Kusumawijaya menyadari, yang ia lakukan kini serupa dengan yang dilakukan mantan kompeninya berabad lalu ketika lelaki tersebut kesulitan untuk tidur. Gadis Asia itu kini menyeduh teh dan menambahkan sedikit susu di dalamnya. Ia ingat, England juga pernah melakukan hal yang serupa. Setelah menambahkan madu, Indonesia menghabiskan minuman yang masih panas tersebut dalam sekali tenggak. Cairan itu menyengat kerongkongannya, namun ia tak peduli. Toh, personifikasi negara memiliki kemampuan penyembuhan yang tidak biasa.

Tahu – tahu saja tangannya telah meraih kenop pintu depan. Tersentak, ia menarik tangannya kembali menjauh seakan ganggang besi itu membakar. Ditatapnya pintu kayu itu seakan – akan dapat menembusnya dan sungguh melihat pria yang sedang menatap kosong ke arah pintu yang sama.

Gadis yang berulang tahun tersebut penasaran apakah sesungguhnya dalam posisi mereka kini, keduanya saling bertatapan bila sekat yang menghalangi mereka tiada.

Ia percaya pada hal – hal yang sebaiknya tidak diketahui. Indonesia menyeret langkahnya yang berat kembali ke kamar dan membaringkan diri kembali, mengulang hal – hal indah─hal – hal yang indah saja, gadis itu ingin membohongi diri sendiri meski tahu tak akan bisa─untuk dapat tidur.

Seluruhnya berupa kenangan, dan pada seluruhnya pula sepasang iris berwarna rumput tampak.


A/N : Late 1980s? Hmmm. chaineskye back with actual short drabble? Hmmm.

Ah, merry (belated) Christmas to those who celebrates and happy new year!

(Song by Alan Walker)