DISCLAIMER : Axis Powers Hetalia belongs to Hidekazu Himaruya, Is Your Love Strong Enough? belongs to Bryan Ferry, and I do not gain profit out of this work but self satisfaction. Both animanga and song is hella good though, I heard the How to Destroy Angels version from The Girl with Dragon Tattoo movie. Instant love to it.
"Am I asking too much?"
"Ada beberapa jenis cinta kalau menurut orang Yunani, kau pernah mendengarnya?" gadis berambut hitam itu bertanya ringan, mengabaikan rasa sakit di sisi kiri wajahnya. Ia yakin perih tersebut akan hilang dalam sekian menit saja—betapa beruntungnya personifikasi seperti mereka! Dibandingkan penderitaan yang dihadapi rakyatnya selama dekade demi dekade, ini tidak ada apa-apanya.
Netherlands diam saja, mengawasinya di balik jeruji. Keduanya tahu bahwa percuma mengurung negeri kepulauan itu di penjara macam manapun; pasukan gerilyanya akan datang suatu malam dan membawa gadis Melayu tersebut kapan saja. Karena itulah pemuda bertubuh tinggi itu ada disana, berusaha menginterogasi. Sudah setengah jam mereka disana, berhadapan dalam diam. Dibatasi jeruji, tentu saja.
Indonesia mendengus. "Kita sudah memainkan saling diam setidaknya tiga puluh menit, Belanda. Tidakkah kau bosan?"
Mata hijaunya tak bergeming, waspada seperti elang. Ekspresinya tidak berubah ketika ia akhirnya berbicara. "Yang kutahu adalah menyakiti orang-orang macam kita percuma saja."
Ia menyeringai lebar. Pipinya yang bengkak memprotes keras. "Karena itulah! Gelieve te vermaken mij—Tolong hibur aku." Indonesia menelengkan kepala sedikit, berpura-pura berpikir. "Atau barangkali kau tidak sudi mengabulkan permintaanku, seorang inlander? Bahkan setelah aku tinggal dengan—"
"Aku pernah dengar."
"—hm?"
Pemuda Belanda tersebut menyisir rambut pirang pucatnya, tidak mau mengaku dirinya kalah dalam permainan ketahanan itu. "Beberapa jenis cinta. Empat, kalau aku tidak salah ingat."
Indonesia mengerjap perlahan, mata berwarna biji kopinya menantang. Ia menggerakkan jemari kaki kirinya yang telanjang. Sudah bisa bergerak lagi kini, tulang-tulang yang remuk dan saraf yang putus sudah menyambung seperti semula.
"Lebih. Memang yang terkenal dalam literatur hanya empat itu. Agape, eros, philia, storge. Kasih yang tidak terbatas, cinta yang intim, kasih persaudaraan, sayang orangtua kepada anak. Yang mana menurutmu dari empat tersebut yang adalah ini, Lars? Cinta yang cukup untuk membuatmu mengorbankan segalanya untuk rakyatmu, tanahmu, kemakmuran mereka? Dengan mengorbankan segalanya milik negara macam aku? Merampas hak milik kami, membuat kami mengira kami tidak memilikinya? Mengorbankan perikemanusiaanmu? Yang mana, Lars?"
Keduanya sama sekali sadar Ciethra bertanya kepada Lars, bukan Indonesia kepada Netherlands. Gadis yang ditawan, coreng moreng oleh lumpur, seragamnya dibasahi darah yang merupakan miliknya sendiri maupun yang bukan, ia bertanya kepada manusia yang berlindung dalam cangkang kenegaraan itu. Lars tahu persis ia telah masuk ke dalam jebakan Ciethra, jari-jarinya yang mungil berusaha merenggut pintu hatinya terbuka.
Tetapi Lars adalah negara sebelum dirinya adalah manusia. Pemuda Kaukasia itu yakin Ciethra juga sama.
"Agape. Kau mengasihi setiap jiwa mereka, perampok maupun yang tercuri. Kaya maupun miskin. Tanpa terkecuali, kau akan membunuh seluruh umat manusia kalau untuk mereka. Indonesia," Netherlands membalikkan moncong senjata figuratif jajahan yang memberontak itu kepada pemiliknya, "bukankah kau juga sama?"
Meskipun begitu, senyum sang tahanan tidak berubah. Sang motherland benci caranya tersenyum, seakan-akan Netherlands-lah yang berada di balik jeruji, terbelenggu dan babak belur. Gadis berseragam coklat itu kasihan. Padanya.
"Ada dua lagi, sejauh yang kutahu. Ludus, itu cinta monyet. Ada lagi pragma, yang dimiliki pasangan yang sudah lama menikah. Yang menurutku cocok dengan deskripsiku adalah philautia. Kecintaan terhadap diri sendiri. Narsisme, Lars." Kata demi kata keluar dari bibirnya seperti lahar yang lama tertahan di perut bumi.
Netherlands bangkit dan berderap mendekat. Untuk pertama kalinya ia berhasil meretakkan topeng es pria yang selama ini merenggut segalanya yang menjadi miliknya. Bulu romanya meremang melihat iris sejernih kelereng itu menyala oleh angkara. Meskipun begitu, Indonesia tetap mengangkat dagunya.
Mencengkeram jeruji yang menghalangi keduanya, ia menggeram dalam bahasanya, "Op een dag zul je beseffen, Nederlands-Indië; zijn niet zo verschillend. Als die dag komt—"
Kata-katanya dipotong oleh suara rentetan senjata dan teriakan-teriakan berbahasa Melayu yang memecah keheningan lantai di atas mereka. Pemuda yang jauh lebih tinggi darinya tersebut mundur dan menatapnya tajam. Semendadak ledakannya, retakan topengnya menyatu seakan tidak terjadi apapun. Tanpa berkata-kata, Netherlands berbalik dan berderap membawa senapannya menuju tangga.
Indonesia menghela napas yang ditahannya tanpa sadar. Melepas belenggunya melewati kedua jempol yang sakit bukan main karena patah, sang personifikasi negeri kepulauan menunggu tulang-tulangnya sembuh untuk mulai mencoba melepaskan tambang yang mengikat kedua kakinya. Ia mengulang kalimat musuhnya dalam benaknya. Suatu hari kau akan sadar, Hindia Belanda; kita tidak jauh berbeda. Dan ketika hari itu datang—
Netherlands yang mencapai puncak tangga mengarahkan senjata kepada penyusup terdekat dan mulai menembak. Liar, mata mereka begitu liar. Begitu putus asa.
Keduanya bertanya-tanya jenis yang manakah yang membakar hati mereka hingga arang.
A/N : Finally updating this fic after a pretty long writer's block. Tbh I do have chapters done beforehand, I'm just keeping it for the finale *? or something. I'm undergoing midterm tests at the moment, so don't expect me to update too soon. [laughs awkwardly].
Anyways, this series would soon end, probably in two or three more chapters. Until then, please endure this suffering called my fic which no one asked for :"^) Thanks for reading this so far, y'all. Hopefully I'll update as soon as I finish the test. Crossing my fingers.
(song by Bryan Ferry of Legend)
