DISCLAIMER: Axis Powers Hetalia belongs to Hidekazu Himaruya and the song Stolen Dance belongs to its artist, Milky Chance. Please don't sue me, I don't gain monetary profit I swear.
"We need to fetch back the time
They have stolen from us"
"Pernahkah aku bilang kepadamu kalau aku suka Amsterdam?" tanya Indonesia sementara Netherlands menutup pintu rumah di belakang mereka. Wanita muda itu sedang asyik mencomoti patatje oorlog yang mereka beli di tengah jalan. Netherlands mengangguk.
"Beberapa kali."
Indonesia menyodorkan sebuah dekat mulut Netherlands. Meski pria yang lebih tinggi tersebut sudah kenyang oleh makan siang mereka bersama personifikasi lain, ia tetap menerima suapan tersebut. Dengan sedikit sengaja ia menggigit pelan ujung telunjuk Ciethra. Meski merengut, perempuan berkulit tembaga itu tidak terlihat terganggu.
"Tahu mengapa?"
Lars menggeleng. Ciethra telah mendahuluinya duduk di sofa dan menyalakan televisi. Siaran berita lokal muncul tidak lebih dari sepersekian detik sebelum sang tamu mengubahnya menjadi HBO. Tangannya yang tidak belepotan minyak goreng dan garam menepuk area kosong di sisinya. Pria berambut pirang itu hanya menurut.
"Karena jantung negara jarang berbohong. Dan dulu, kupikir hanya di tempatku saja jejak kakimu berada—pada gedung, jalanan, nama, tata kota, bahkan makanan di pinggir jalan. Rupanya ada bekas bahwa aku pernah ada juga disini, dan tidak ada yang menyangkalnya." Ciethra mengulurkan sebatang besar lagi ke mulut Lars. Mata gelapnya tidak beralih dari siaran ulang Whiplash yang baru saja mulai di stasiun televisi ketika berbicara.
Lars kembali memakannya, meski perutnya tidak setuju. Ia mengunyah dan merasakan saus kacang bercampur mayonnaise dan bawang menyebar ke mulutnya sebelum membalas pernyataan personifikasi negeri kepulauan itu. Setelah ditelan, kentang itu terasa seberat batu kali yang membangun candi milik Ciethra dahulu kala.
"Penjajahan," kata itu masih berat di lidah Lars maupun Netherlands, "seperti bentuk komunikasi yang kompleks, berlaku dua arah. Di luar kepercayaan orang, motherland dan koloninya saling mempengaruhi satu sama lain."
Ciethra kini menatap ke arahnya, menyelidik. Seperti telah mendapati sesuatu, setelah beberapa saat ia beringsut mendekat dan berlutut agar mata mereka sejajar. Ia menggenggam kedua sisi wajah Lars dengan tangan. Mata mereka bertemu. Tatapan perempuan muda bermata gelap itu begitu tajam, tetapi tidak sekalipun mata hijaunya dapat berpaling. Ia hanya terpaku, menduga apa yang berada di dalam kepala perempuan yang rumit itu.
"Hentikan itu," tutur Ciethra serius.
"Hentikan apa?"
"Mengasihani aku. Menyesali apa yang sudah berlalu dan tak dapat diubah. Hentikan."
Lars meraih tangan mungil yang berada di pipinya, tetapi genggamannya justru makin erat. Wajahnya pasti terlihat konyol kini. Ekspresi Ciethra masih tidak berubah.
"Apa salahnya mengakui kesalahan yang kau lakukan?"
Ciethra berjengit. Sang tuan rumah tahu ia menyinggung hal pribadi tanpa disengaja. Sorot mata gelap tersebut melembut.
"Tidak ada. Malah," sepintas perempuan itu terlihat begitu lelah, "harus. Tetapi tidak ada gunanya berkubang di dalamnya, Belanda. Aku tidak sebegitu menyedihkannya sampai harus terus menerus dikasihani. Yang kita bisa lakukan hanya… hanya…"
Genggamannya kepada kedua pipi Lars melonggar seketika. Tangan pria tersebut ganti menempatkan diri di sela jemarinya. Pipi yang digenggam kuat tersebut pastinya kemerahan mengingat kulitnya yang pucat. Ciethra tampak tidak terganggu.
"Kita harus membuktikan bahwa aku dan kau, kita lebih daripada itu," gumamnya, lebih perlahan kali ini. "Kita tidak hanya dapat saling menyakiti satu sama lain." Keduanya tidak menyukai kata tersebut, seberapapun benarnya itu.
Lars mengusap kedua tangan dingin itu. Ia juga ingin membayar semua waktu yang telah berlalu, apabila dunia memperbolehkannya. Tetapi ia dan Ciethra hanyalah personifikasi kecil di dunia yang begitu besar. Serpihan debu tak signifikan yang berlalu bersama hilangnya sekelompok manusia atau sebuah paham.
Bukan berarti mereka tidak akan berusaha.
Dahi mereka bertemu dan untuk sesaat Lars mempersilakan dirinya tenggelam dalam fantasi dunia dimana ia hanya perlu peduli dengan wanita di hadapannya. Bumi berputar lebih perlahan. Keberadaannya meresap di setiap pori, dinding yang membatasi jalan, bunga yang tumbuh liar di antara celah trotoar, pedagang makanan ringan di pinggir jalan. Seandainya apapun di dalam hatinya itu hilang ditelan masa, Ciethra dan jejak langkahnya ada di setiap relung dirinya jika ia peduli untuk mencari. Di sofanya, genggaman, ujung bibirnya.
Lars mengangguk. Senyuman yang mengembang di bibir Ciethra kali ini seperti sinar mentari musim gugur pada sore hari, bukannya milik musim panas yang terik.
A/N: A fic about my opinion of this ship. Euh. This chapter is a compensation because my end-term tests are coming, and I don't want to worry about my fanfictions. Also, I made a playlist in Spotify of this series, in case anyone's interested/curious. Link's on my profile.
I have no life, I know.
