"Ih, aku juga mau diajak ke pancurannnnnn..."

Tidak ada yang lebih menyebalkan selain rengekan Osamu dengan wajah teflonnya. Sepanjang kencan hari ini, Hinata sibuk mengurus adiknya. Bahkan Natsu tertidur di gendongan Atsumu sepanjang jalan. Dia pasti lelah seharian bermain di taman pancuran. Selepas mengantar kekasihnya dan si adik pulang, Atsumu berkemas. Ia pamit kepada ibunya Hinata dan berjanji jika ada waktu dan kesempatan, Atsumu akan berkunjung kembali. Pada akhirnya Atsumu juga ikutan main air di taman pancuran. Ia bahkan membuat beberapa foto dengan Hinata, dengan Natsu dan foto bertiga dengan bantuan orang lain. Lucu, deh. Kayak keluarga tercemar. Soalnya kalau mau buat keluarga cemara, Atsumu harus putar otak bagaimana caranya ia bikin tiga anak dengan Hinata sebagai mamanya.

"Aku nggak mau main sama 'Samu di pancuran. Wajahmu udah nggak kawaii lagi. Jijik." Atsumu melet jahil.

"Aku butuh tukang foto. Nggak usah kege-eran." Osamu memberi knockdown menyakitkan pada kembarannya. "Begini doang? Mana konten mantapnya?"

"Tinggal geser ke kanan, sih. Manja banget."

Osamu awalnya cuma swipe swipe tanpa minat. "Ih, udel. Siapa coba yang sange dikasih gambar udel? 'Tsumu punya fetish juga ternyata."

"Bawel banget sih, kayak bunda! Geser lagi, masih ada!"

"Mana cuma ini doang—"

Miya Osamu terhenyak. Ia menutup mulut dengan mata berkaca-kaca. Foto paha Hinata secara close-up. Lalu video singkat abang kembarnya yang main-main puting Hinata yang lagi tidur disertai desahan menggoda.

"...Oh my God, 'Tsumu..." Osamu berdecak. "Benar-benar amoral. Biadab. Bejad. Cabul. Laknat. Nggak ada akhlak. Aib keluarga. Sampah masyarakat..."

"Tapi 'Samu suka juga, kan?!" Atsumu berseru sewot.

"Suka banget! Pake nanya lagi! Kayak baru kenal aku kemarin aja!" Osamu membalas tak kalah ngegas. Lubang hidungnya megar-megar saking semangatnya.

Keduanya tertawa lepas dan saling bertukar tos. Kalau masalah konten pemersatu bangsa dan kehaluan yang menyertainya, mereka pasti satu hati. Apalagi objeknya Hinata Shoyo

"Eh, mau dengar cerita seru, nggak?" Atsumu bersandar di ujung kasur Osamu. "Katanya Hinata sama Kageyama pernah 'hampir' pacaran."

"Oh, kupikir malah pacaran beneran." Osamu membalas santuy. "Berduaaan mulu, kemana-mana. Kayak oppai, tapi yang pentilnya kecil sebelah."

"Katanya Kageyama orangnya cemburuan, Hinata nggak suka." Kata Atsumu. "Padahal Kageyama nggak jelek-jelek banget. 'Samu nggak mau sama dia?"

"Idih..." Osamu mendecih. "Kalau Kageyama 20 cm lebih pendek aku auto culik, deh!"

"'Samu sukanya yang kecil-kecil, ya?" Atsumu terkekeh mendengar penuturan gamblang kembarannya.

"Nggak juga. Cuma kalo Kageyama sih kegedean. Nggak bakal lucu kalo diunyel-unyel." Balas Osamu. "Kirain 'Tsumu yang suka sama dia. Soalnya di pelatihan nasional 'Tsumu suka gangguin Kageyama."

"Kalian kan besarnya hampir sama. Gemes, kan, punya partner couple-an baju?"

Osamu mencengkram wajah Atsumu sampai bibirnya menciut maju. "Aku sudah punya 'Tsumu untuk couple-an baju dari bayi. Nggak cukup, apa? Pacaran apa anak panti asuhan harus pake baju sama-samaan?"

Atsumu mengelak dan mengucek-ucek kepala adiknya. "Yah, namanya juga usaha. Aku juga nggak tega biarin adikku yang tampan ini jomblo merana, kan?"

"Aku masih punya kesempatan." Osamu menyeringai. "Besok giliranku, ya! Kau sudah dua hari dapat giliran kencan sama Hinata. Curang!"

"Iya, iya." Atsumu mengalah.

Osamu mendesah lelah. "Besok lusa kita udahan prank-nya, yuk. Aku nggak tega bohongin Hinata terus."

"Terus gimana dengan konten pemersatu bangsa kita?!" Atsumu berseru.

"Konten pemersatu bangsa jidatmu! Bukankah perasaan Hinata lebih penting?!" omel Osamu. "Maksudku, yah...aku senang sih kau begitu memperhatikanku juga. Tapi, kurasa ini sudah kelewatan. Dia kan pacarmu. Apa kau tidak memikirkan perasaannya dia nanti?"

Atsumu menunduk. Ia tahu perbuatannya memang salah dan kali ini Osamu cuma berusaha menyelamatkan hubungan cinta kakaknya dengan Hinata. Karena meski Atsumu tidak bisa memendam bakatnya sebagai siluman buaya darat, Osamu tahu bahwa si kembaran betul-betul mencintai Hinata. Ongkos dari Hyogo ke Miyagi nggak main-main, lho. Dan Atsumu menanggung semuanya (dan bagian Osamu juga) demi ketemu Hinata. Osamu cuma modal uang makan. Untuk dibilang aksi modus sok tampan, ini sih kelewat niat. Atsumu pasti sungguh-sungguh dengan Hinata.

"Bagaimana caramu memberitahu Hinata kalau kita datang berdua dan memberinya prank?" tanya Atsumu.

"Bagaimana kalau aku dan Hinata makan siang di cafe gitu, lalu aku suruh dia tutup mata dan kau datang dari dari belakang. Kasih kado kejutan atau peluk, gitu. Biasanya 'Tsumu pintar bikin hal-hal alay." Osamu berujar.

"Oh, oke. Kebayang." Atsumu mengangguk.

"Terus kita beberkan hari apa Hinata berkencan denganku. Dan hari apa dia berkencan denganmu." Osamu melanjutkan. "Minta maaf jangan lupa."

"Iyaaaa." Atsumu melengos. "Besok jadwalmu main sepeda sama Hinata. Jam 10 di Wakano-3-Chome."

"Daerah apa itu?" Osamu mengerenyit.

"Dekat Shiratorizawa. Disana ada pusat jajanan gitu. Aku bilang sama Hinata besok aku mau jajan yang enak-enak."

Osamu cuma mengangguk antusias. Atsumu menghempaskan dirinya ke kasur dan bersendawa panjang. Bunyinya membuat si adik kembar jijik dan melayangkan tamparan ke punggung kakak kembarnya.

"Aduh! Sakit!" Atsumu merengek. "Aku masuk angin nih, seharian main air. Pakein salonpas, dong!"

"Ogah. Mati saja sana. Biarkan aku jadi anak tunggal seutuhnya." Cibir Osamu. "Terus gantian aku yang pacaran sama Shoyo-kun. Gapapa janda bekas Tsumu juga."

"Pakein, nggak!?" Atsumu mengancam. "Kalau nggak kumuntahin kasurmu, nih!"

Si bungsu Miya mengalah. Ia menyobek sebungkus plester panas dengan geram dan mulai bermain stiker di tubuh kakak kembarnya.


Hari ini Osamu dibuat bahagia. Selepas putar-putar komplek naik sepeda, jajan, putar-putar lagi, cari cemilan, putar-putar lagi, habis itu lempar batu ke kaca rumah tetangga lalu kabur (nggak deng, itu cuma khayalan laknat Osamu) dan akhirnya mereka memilih istirahat sejenak di taman dekat tanjakan besar. Wajah Hinata yang berseri-seri tidak kalah dengan cerahnya matahari musim panas. Kalau ini komik shojo, pasti ada efek kembang-kembang dan kilau-kilau tidak penting yang membingkai momen manis mereka berdua.

"Hei," Osamu menggenggam tangan Hinata. "Hari ini aku senang sekali. Makasih."

"Uhm!" Hinata mendekat, merangkulkan lengannya di tubuh Osamu. "Karena dua hari lagi 'Tsumu-san pulang, ayo kita nikmati hari ini!"

"Ah, uhm."

Osamu mengangguk canggung. Kepalanya ngelag. Hinata wangi buah peach, campur bau matahari, campur bau asam keringat sedikit. Saat Osamu balas memeluk Hinata, harum rambutnya terasa lebih lembut lagi. Insting menuntunnya untuk mengusap helai ginger ikal itu dan mencium puncak kepala kekasih (kakak kembar)nya tersebut.

"...'Tsumu-san?"

Osamu buru-buru mendorong Hinata dari pelukannya karena salah tingkah. "...hai?"

"Kau belum pernah mencium rambutku sebelumnya..." wajah Hinata memerah. Osamu mengeratkan kepalan, berusaha menahan hasrat ingin menggigit pipi gembil ranum tersebut dan merealisasikan keinginannya berbuat macam-macam untuk begini-begitu. Emesh, tau!

"...maaf. Kau tidak suka, ya?" tanya Osamu dengan nada kecewa.

"Bukan. Hanya saja, hari ini kau berbeda." ucap Hinata. "Biasanya 'Tsumu-san bawel. Mau menanggapi kerecehanku. Pecicilan. Petakilan. Banyak gaya. Tapi sekarang banyak diamnya. Banyak makan juga. Apa lagi nggak enak badan? Atau lagi nggak mood? Atau aku membuatmu bosan?"

Osamu terdiam, menatap Hinata lekat-lekat sambil menopang dagu. Pipi gembil pacar (kembaran)nya tersebut ditarik-tarik dan dipantul-pantulkan seperti sedang bermain squishy.

"Aku lagi berpikir," kata Osamu. Ia berusaha memilih kata-kata yang tepat agar nggak salah ngomong lagi. Tidak seperti Atsumu yang banyak bacot, Osamu punya filter berkualitas di ujung bibirnya agar tidak melontarkan kalimat julid sembarangan. Awalnya ia ingin membongkar prank ini secepatnya. Tetapi momen kencan bersama Hinata membuat hatinya hangat. Biasanya Osamu cuma berani stalking sambi halu-halu sedikit. Senangnya seperti dapat hadiah kencan sama idol impian. Di hari pertama mereka jalan selepas nonton konten pemersatu bangsa, Osamu mencabuti bulu kakinya sendiri. Takutnya ini cuma sekedar halu yang berasa nyata. Tapi ternyata tidak. Sakitnya nyata.

"Mikirin apa?"

"Mikirin gimana caranya aku membawamu pulang ke Hyogo." Osamu melepaskan pipi Hinata.

"Habis ini kita LDR lagi, ya..." Hinata menggumam pilu.

"Yang sabar, ya, Shoyo-kun." Osamu mengusap pipi Hinata. "Jarak cuma sekedar angka. Yang penting, kau selalu ada disini, kan?"

Osamu menuntun tangan Hinata menuju dadanya. Terdengar degup kencang yang tidak karuan. Hinata mengelus dada Osamu. Mata mereka bertemu. Hinata bisa melihat betapa bahagia Osamu hari ini dari pancaran matanya.

"Ucapanmu keren banget, 'Tsumu-san! Kayak di doujin shonen-ai!"

"Shoyo-kun ba...baca—" Osamu sweatdrop segede mesin cuci. "—baca doujin?"

"Iya. Habis kadang mereka buat gambarnya lebih bagus. Semenjak Yachi-san tahu pacarku cowok, aku sering dikasih link-link pemererat umat."

Oh, kalau di Miyagi konten pemersatu bangsa itu dibilangnya link pemererat umat, ya. Bahasa gaul baru, boleh juga.

"...ah, ano..." Osamu mengeluarkan ponselnya. "Kita belum foto hari ini."

"Selfie?" tanya Hinata lagi.

"Ah, iya. Iya. Boleh. Sana, aku fotoin."

"Disini?"

"Uhm...geser sedikit."

Memang dasar Osamu adalah tukang foto teladan, ia berusaha membidik gambar-gambar bagus pacar (kembaran)nya agar kualitas konten pemersatu bangsanya menjadi lebih bermartabat. Atsumu pasti gagal fokus karena keimutan Hinata sampai-sampai banyak konten pemersatu bangsa mereka yang dinilai kurang greget padahal pacarannya sudah 2x24 jam. Untung Hinata polos, tidak sadar akan rencana laknat Atsumu dan masih belum sadar bahwa sekarang Osamu si adik kembar yang fantasinya suka pindah rating tengah memotretnya dengan segala sisi, segala gaya dan segala rupa. Hinata mendekatinya, sangat ingin foto bareng biar kenang-kenangan selama mereka berdua bersama lebih banyak.

"Yaudah, ayo." Osamu memasang kamera depan, dan merangkul Hinata. "...satu, dua..."

Chuu...

JEPRET.

Osamu memang orangnya dingin-dingin es kenyot. Tapi Hinata sudah sukses membuat hatinya meleleh seperti keju mozzarella diatas pizza. Si middle blocker mungil yang sudah membuat hatinya acak-adul itu mencium pipinya saat mereka tengah berfoto.

Hasil fotonya jernih. Terima kasih Samsul S10F! Momen dimana Osamu menutup sebelah matanya saat Hinata mencium pipinya terabadikan dengan sampoerna. Hinata cuma menunduk malu. Wajah dan kupingnya merona. Osamu cuma menghela nafas berat. Ini konten pemersatu bangsa terbaik sepanjang sejarah umat manusia. Dan ia yakin kalau Atsumu lihat, Osamu bisa dimakan mentah-mentah sama kembarannya.

'Tsumu bangsat! Aku juga mau disayang Hinata sampai kayak begini, tahu. Dengki nih, jadinya. Batinnya meraung dalam hati.

"...Shoyo-kun." Osamu merangkulnya. "Sekali lagi, ya."

"Ah? Uhm."

"..satu, dua..."

JEPRET.

Kali ini Osamu balas dendam. Gantian ia yang mencium pipi Hinata. Pemuda unyu itu terkesiap, dan meminta Osamu menunjukkan hasil fotonya. Mereka berfoto sekali lagi tanpa adegan cium-cium. Hinata mau foto terakhir, untuk dicetak dan dibingkai.

"Hei, Shoyo-kun..." Osamu kembali mencengkram lembut pipi Hinata sampai bibirnya mengerucut. "..kamu ini kecil-kecil nakal, ya."

"...itu...ngg..." Hinata merengut pasrah. "Ha...habisnya...aku nggak tahu kapan bakalan ketemu lagi sama 'Tsumu-san di luar voli. Aku ingin main lagi melawan tim sekolahmu. Aku mau lihat serangan cepat gilamu dengan kembaranmu. Tapi...tapi 'Tsumu-san menunjukkan sisi yang berbeda saat kita berduaan. 'Tsumu-san lembut banget. Perhatian. Kadang lucu juga. Aku senang banget sampai rasanya mau meledak. Aku...aku—BWOH!"

"Shoyo-kuuuuuuuun..." Osamu tidak bisa menahan haru. Ia memeluk Hinata dan menggesekkan pipinya ke wajah Hinata. "Aku...aku bahagia banget! Aku bisa mati dengan tenang kalau begini!"

"Ahahaha! Tsumu-san, daijobu. Jangan mati sekarang, dong!"

"Uh, ehem!"

Baik Hinata dan Osamu menoleh. Ada seorang cowok tinggi cepak, hampir botak dengan wajah kusut. Ia kelihatan kesal. Celana pendek dan kausnya terlihat menggantung untuk badannya.

"Sedang apa kau disini, Miya-san?" sosok itu terperangah melihat Osamu seakan-akan baru saja melihat seekor buaya tengah berjongkok.

"Eh?" Osamu memicingkan matanya. "Shoyo-kun, dia siapa?"

"'Tsumu-san nggak ingat? Ini Kageyama, lho! Kageyama!"

Kageyama? Kageyama yang itu?

"Kenapa bentuknya beda, ya?" Osamu masih menelaah tidak percaya. Sosok di hadapannya ini tidak seperti setter jenius Karasuno yang dulu pernah mereka lawan. Kageyama yang dulu terlihat...uhm...berkilau, berkibar, ber...

"Ini syarat ikut pemilihan presiden siswa." Kageyama menjelaskan. "Yang cowok harus botak."

Osamu tanpa pikir panjang memotret wajah Kageyama. Sungguh pemandangan langka. Kageyama Tobio yang dulu terlihat seperti bintang iklan shampoo dengan rambut yang hitam, lebat, berkibar-kibar kini terlihat dengan kepala mulus terpangkas. Rambut-rambut tipis yang masih ada di kepalanya membuatnya terlihat seperti bayi pinguin yang baru menetas.

"Apa yang berkilau, kuat dan sehat~?" Osamu dengan kreativitas tertingginya malah buat instastory dilengkapi wajah Kageyama dan lagu dari salah satu iklan shampoo di televisi. "Jidatnya Kage-yama~, lihat jidat dia lebar, kinclong, shining!"

"Hahahaha! Jenong! Kageyama jenong!"

Sang raja lapangan yang merasa jidatnya dilecehkan refleks melindungi keningnya dengan tangan. "Be..berhenti meledek jidatku!"

"Gomen, gomen. Jidatmu jadi kelihatan banget, sih. Jadi pengen ngatain , kan." Kata Osamu jujur. "Tapi kau terlihat lebih imut tanpa rambut, Kageyama."

"U, uhm." Kageyama berusaha maklum. "Kau belum menjawab pertanyaanku, tadi. Sedang apa jauh-jauh ke Miyagi?"

"Ketemu Shoyo-kun, lah." Jawab Osamu santai.

"Oh, maaf aku mengganggumu." Balasnya pelan sekali.

"Santai, santai. Nggak nyangka bisa bertemu denganmu disini." Osamu tertawa hambar.

"Kau mau kemana, Kageyama?" tanya Hinata lagi.

"Mau ke Shimada-mart. Aku mau beli baterai." Kageyama mengangguk. "Kalau gitu sampai nanti, Hinata. Osamu-san."

"Hey, ini kakaknya. Atsumu, lho! Atsumu!" Hinata memprotes. "Aku tahu ingatanmu itu payah. Tapi masa nggak bisa bedain, sih?! Kau ketemu dia di pelatihan muda nasional di Tokyo, kan?"

Kageyama yang semula sudah pamit pergi berbalik lagi karena tidak yakin dengan apa yang diucapkan Hinata. Sekali lagi ia melihat sosok yang tadi tengah mesra-mesraan dengan middle blocker dan mantan gebetannya, Kageyama mengangguk pelan. Panas sih hati, tapi mau gimana. Kageyama harus belajar move on.

"Kau ini benar-benar bodoh ya, Hinata! Yang tidak bisa membedakan mana Atsumu-san dan Osamu-san itu kan kau!" hardiknya.

"Haaah?!"

"Atsumu-san itu, kayaknya sedikit lebih bawel." Kageyama mengerenyit. "Dan dia memanggilku 'Tobio-kun', bukan Kageyama."

Kali ini Hinata yang dibuat mematung. Kageyama mengangguk singkat dan kembali menjalankan misinya untuk beli baterai ke minimarket yang dituju. Osamu sudah merinding disko dan panas dingin ketika Hinata melepaskan genggaman tangannya dan memilih bersidekap memandanginya. Kalau ini serial anime shounen, pasti di belakang Hinata ada efek kobaran api dan perempatan kesal raksasa berwarna merah di kepalanya.

"...jadi..." ucapnya dengan nada suara yang lebih dingin dari badai salju di bulan Desember. "...bisa aku minta penjelasan darimu, sa-yang-ku?"


"Oh, oh! Kamu ketahuaaaan, pacaran lagiiiii, dengan dirinyaaaa, pacar abangmu! Wo oh, Kamu ketahuaaaan, pacaran lagiiiii, dengan dirinyaaaa, pacar abangmu~~"

BUK!

Osamu menyambit kembarannya dengan bantal dan sayangnya meleset. Ia pulang kerumah dengan bekas telapak kemerahan di wajahnya karena mengaku pada Hinata kalau ia adalah Miya Osamu. Si bungsu membeberkan rencana prank mereka dan Hinata menamparnya, meninggalkannya begitu saja tanpa sempat membuatnya minta maaf. Osamu sedih sekali, dan Atsumu malah merasa tidak berdosa dengan bernyanyi sambil goyang kayang menertawakan kemalangan adik kembarnya.

"Oy, saipul jambul!" sergahnya. "Kalau kau tidak minta maaf sama Hinata, kau bisa diputusin, lho."

"Mana ada. Shoyo-kun kan the love of my life." Atsumu menjulurkan lidahnya.

Osamu berbalik. Malas berkelahi. "Kenapa sih Hinata mau-maunya pacaran sama ampas kopi tubruk macam kau, 'Tsumu?"

Mendengar penuturan Osamu, Atsumu menghela nafas. Ia kali ini mengakui bahwa tindakan main-mainnya sudah keterlaluan. Maka, ia meraih ponselnya dan menelpon sang pacar yang selama ini selalu menjadi objek konten pemersatu bangsa.

TUUUT TUUT TUUT...

"Halo, sayang~~ aku—"

TUT.

Belum dua detik sudah dimatikan. Atsumu histeris. Pok ame ame belalang kupu-kupu, siang makan nasi kalo malam anxiety. Berbeda dengan sang kembaran yang mendapat dampak fisik dari kejahilan mereka, Atsumu berguling-guling dramatis di lantai dan mengeluhkan hubungannya diambang kehancuran. Kan udah dibilangin sebelum mulai. Bangor, sih.

"'Tsumu..." Osamu berbalik. Wajahnya masih sedih dan bengkak sebelah.

"...'Samuuuuuuu..." Atsumu merengek. "Aku harus gimana?! Shoyo-kun me-reject teleponkuuuuuu..."

"Mampus."

"'Samuuuuuuuuuu"

"Kan sudah kubilang dari awal." Osamu duduk bersandar. "Nah, kalau begini kau mau apa, 'Tsumu?"

"Aku akan kerumahnya, minta maaf. Kalau dia menolakku atau mengusirku, aku akan menunggunya sampai dia mau keluar dan mendengarkan penjelasanku."

"Nggak usah gila, deh. Besok lusa kita sudah pulang." Celetuk Osamu.

"Tidak ada salahnya dicoba, kan? Kau juga ikut, ya!"

Osamu memberengut. "Ogah. Aku sudah kena gampar, Tsumu."

"Terus?"

"Aku sudah tidak punya muka lagi untuk menghadapi Hinata."

"Kan masih ada aku, 'Samu. Muka kita kan sama."

"Enak aja sama. Aku lebih ganteng." Osamu mendengus. "Habis itu?"

"Biar aku yang minta maaf. Untukmu juga. Ini salahku."

Osamu kembali berbalik. Kali ini, ia membiarkan kakak kembarnya menyelesaikan masalah. Atsumu memang suka egois dan bikin ulah semasa mereka kecil. Dan sialnya Osamu selalu juga yang kenal imbasnya. Entah minta maaf seperti apa yang akan ia lakukan. Hinata adalah anak yang sangat periang dan juga peka. Osamu berpikir sepertinya Hinata tidak akan memaafkan kembarannya yang agak sableng itu dengan mudah kali ini.

"Eh! Sini, dah." Osamu melambai. "Mau liat konten hari ini nggak?"

Atsumu merangkak mendekat. Osamu membuka galeri ponselnya dan menunjukkan foto-foto Hinata yang membuat hati si kembar Miya jadi cenat-cenut sembarangan. Di sela seruan 'hooooo', 'kawaii banget, mampus aku diabet', 'aduh, gemesnya! Jadi nafsu', ''Tsumu cabul, ih. Nggak berpendidikan', yang dilontarkan Miya bersaudara, Atsumu terdiam ketika melihat salah satu foto dimana Hinata dan adik kembarnya selfie pake adegan cium-cium pipi.

"Heh, jigong onta." Atsumu menjambak kaus Osamu. "APA INI MAKSUDNYA TOLONG DIJELASKAN!"

"Gausah tarik-tarik ih, barbar." Osamu mendorong Atsumu sampai terjungkal. "Dia duluan yang mulai. Katanya mau bikin kenangan manis sama pacar."

"Kan yang pacarnya Shoyo-kun itu aku!" Atsumu menuding tidak terima.

"Salah sendiri minta tukar." Osamu menjulurkan lidahnya, kali ini merasa diatas angin. "Bahagiain pacar 'Tsumu ternyata mantap juga, ya? Aku dapat konten 3 dimensi."

"Bodo amat! Aku nggak mau ngomong sama 'Samu lagi! Dasar 'Samu jelek kayak yonglek!"

Atsumu merangsek keluar dan banting pintu karena emosi. Mbak resepsionis yang dibawah menegur karena suaranya kedengaran kemana-mana. Osamu cuma menarik nafas panjang. Kakak kembarnya kalau sudah marah susah dibujuk. Mending dibiarkan saja dulu sendiri, nanti juga adem lagi kalo butuh konten.

"Apaan coba kayak yonglek? 'Tsumu bener-bener nggak punya akhlak, ya." gumamnya pada diri sendiri.


B.A.N.G.S.A.T:

Yosh yosh yosh! Chapter 3 update, Haikyuu seasons 4 episode 13 update, dan kita semua dikasih harapan gantung sampai bulan juli untuk asupan konten-konten buas AtsuHina. Jadi ditengah lockdown dan self-quarantine karena corona ini author berusaha membuat diri sendiri lebih produktif dengan nonton semua episode Haikyuu back to back dan mulai bikin fanfic lagi (iya emang, tidak terdengar benar-benar produktif). Eh tapi tapi suaranya atsumu di anime seksi banget lho sampe bikin aku kejet-kejet. Mamoru Miyano emang warbyasah.

Anyway, terima kasih sudah baca sampai chapter 3. Jangan lupa RnR. Nantikan chapter dan asupan konten pemersatu bangsa selanjutnya, ya!