Langkah kaki kedua murid terdengar dari koridor yang sangat sepi tanpa adanya satu siswapun. Mereka berdua adalah Naruto dan Gabriel, murid yang selamat dari ratusan murid yang ada di sekolah ini.
Mereka berdua sedang berlari ke arah gedung C namun langkah kaki mereka terhenti kala melihat dua zombie yang memakan salah satu siswa di sekolah ini.
"Gabby, mundur perlahan." Bisik Naruto dan keduanya mundur perlahan namun naas, salah satu dari zombie itu melihat mereka berdua dan berjalan ke arahnya.
"Gwraaahhh..." teriak zombie itu dan membuat zombie di sebelahnya menyerang Naruto juga Gabriel.
Buagh...
"Mundur sialan!" tinjuan Naruto langsung menyasar pada rahang zombie tersebut namun seakan tak merasakan sakit zombie itu kembali menyerang Naruto dengan rahang yang terbuka.
Tap...
"E-engh..." dengan sekuat tenaga Naruto menahan agar Zombie itu tidak berhasil menggigitnya dan ia tak sadar kalau masih ada satu zombie yang masih tersisa menyerang Naruto dari samping membuat tubuh Naruto limbung dan terjatuh.
"Naruto-kun!" teriakan Gabriel membuat Naruto langsung tersadar dan mencengkram kepala salah satu zombie dan menghantamkan kepala tersebut ke dinding hingga mengeluarkan cairan otaknya.
Merasa tidak bisa melawan lagi, Naruto menarik Gabriel ke dalam sebuah ruangan dan langsung mengunci pintunya.
"Sial, apa-apaan tadi itu? Apa mereka zombie tapi itu tidak mungkin! Ayolah Naruto pikir, apa yang akan di lakukan Shikamaru ataupun Sasuke dalam situasi seperti ini?" ocehan frustrasi mulai keluar dari mulut Naruto tanpa menghiraukan adanya Gabriel yang menatap horor pintu masuk yang di gedor-gedor oleh sosok zombie tadi.
'Hufft... Jika itu Shikamaru maka ia akan mencari sumber daya untuk terus hidup'
Seperti kata orang tua jaman dulu, saat jiwa dan raga bersatu dalam ketenangan maka akan ditemukan jalan keluarnya. Naruto sudah mulai tenang dan beberapa perkiraan muncul di pikirannya. Namun Naruto di buat terkejut saat melihat seorang guru yang menatap horor Naruto.
"kau, Tearju-sensei?"
"Menjauh dari ku, aku tidak mau menjadi korban seperti yang lain!" guru itu seakan depresi berat mengusir Naruto dan Gabriel agar menjauh dirinya. Namun kala Naruto melangkahkan kakinya menjauh, Gabriel melangkahkan kakinya ke depan dan berhenti di hadapan Tearju yang terduduk.
Plak...
"sadarlah sensei jika kau tidak mau menjadi korban maka berjuanglah agar tidak menjadi korban." Naruto hanya menatap kejadian ini dengan wajah terkejut. Gabriel, teman masa kecilnya yang selalu berperilaku layaknya malaikat bisa bersikap kasar dan menampar gurunya sendiri di hari pertama musibah ini datang. Menghela nafasnya, Naruto berjalan ke arah tas kantor milik Tearju dan menuangkan isinya dan menemukan sebuah Stun-gun dan berjalan ke arah lemari obat karena ia baru sadar kalau ruangan ini adalah ruangan UKS.
"Hiks ... Hiks ... Maaf." Melihat Tearju yang menangis membuat hati Gabriel tertunduk dan memeluk gurunya itu.
'Hari ini semua berubah seakan dunia sudah kiamat dan mau bagaimanapun Tearju-sensei adalah seorang perempuan sama seperti Gabriel.' Pikir Naruto kala ia melihat itu.
.
.
.
"Jadi ada berapa peralatan yang kita dapatkan?" tanya seorang pemuda pada seorang gadis berambut merah seperti darah.
"kita hanya menpunyai empat pemukul Baseball jika kita bisa ke ruangan ekskul berkebun mungkin kita akan mendapatkan beberapa peralatan yang bagus, Sasuke-kun." Ucap Gadis itu, saat ini mereka sedang ada di gudang penyimpanan peralatan olahraga jika saja mereka pergi ke gudang peralatan berkebun maka ada kemungkinan mereka akan menemukan Linggis, Bodem, dan juga kapak.
"Kau ada benarnya, Rias..." seketika Sasuke teringat akan sesuatu yang begitu penting baginya. "... Letak gudang peralatan berkebun ada di dekat ruangan klub kerajinan, kan?" tanya Sasuke dan hanya di tanggapi dengan anggukan kepala dan sebuah ekspresi lega tampak di wajah Sasuke.
'Tunggu aku disana.'
.
.
.
Sekarang Shikamaru, Issei dan juga Akeno sudah sampai di kantin. Pada tangan Shikamaru dan Issei terdapat sebuah tongkat besi yang di dapat dari perusakan properti sekolah tapi siapa yang peduli, bukan? Dengan keadaan yang kacau seperti ini guru manapun tidak akan menceramahi mereka dan memilih untuk menyelamatkan diri sendiri. Kantin itu sangat berantakan dengan beberapa kursi yang tidak ada di tempatnya. Namun anehnya kantin itu dalam keadaan kosong tanpa adanya tanda-tanda dari zombie.
Langkah kaki Shikamaru berhenti di depan stan makanan dan melompatinya agar masuk kedalam dan mengambil sebuah plastik besar kemudian memasukan makanan siap jadi menghiraukan tatapan bertanya dari Issei dan Akeno.
"Kalian tau, pangan adalah kebutuhan pokok manusia selain sandang dan papan. Jadi, ini adalah hal yang menurutku benar..." ucap Shikamaru "sudahlah masuk saja kesini dan bantu aku membungkus ini semua."
Melihat teman mereka yang memiliki rambut seperti buah nanas itu mulai kesal, Akeno dan Issei mau tak mau membantu dan masuk ke dalam stan makanan di kantin itu.
"Banyak sekali makanan yang hancur terinjak-injak." Ucap Akeno kala melihat banyaknya bungkus makanan seperti Roti, Ramen Cup, dan beberapa minuman botol berceceran di lantai.
"Mau bagaimana lagi, kan? Mereka pasti panik saat sesuatu seperti zombie itu menyerang mereka. Akeno, bisa kau cek dapur di dalam? Aku rasa kita dapat menemukan beberapa bumbu makan dan juga senjata tajam." Ucap Issei dan Shikamaru juga menyetujuinya jadi dengan begini pekerjaan mereka mendapatkan bahan pangan menjadi lebih cepat.
.
.
.
"Baiklah di sini kita ada 15 strip Paracetamol, 17 paket Aspirin, 20 paket nuroven, 23 strip Amoxicillin, beberapa strip antibiotik, Perban dan beberapa botol Alkohol 70%. Dan, sebuah Stun Gun." Ucap Naruto saat melihat kedua perempuan di hadapannya mulai tenang dan menerima keadaan juga kenyataan yang terjadi saat ini.
"Jadi, Naruto-kun apa yang harus kita lakukan? Kenapa para murid tadi menjadi zombie dan memakan yang lain?" tanya Gabriel yang tertunduk dengan suara sedih ia mengutarakan pendapatnya tersebut.
"Aku rasa mereka tidak lagi dapat di selamatkan namun satu hal yang pasti yaitu membuat kepala mereka mengalami benturan keras adalah satu-satunya cara membunuh mereka. Tapi, bagaimana itu bisa ya? Aku sering berkelahi tapi belum pernah sekalipun aku membuat kepala seseorang hancur sampai mengeluarkan isinya." Sejujurnya ini adalah pengalaman pertama bagi Naruto melihat otak yang keluar dari kepala manusia secara langsung, bisa kalian bayangkan cairan kental bening dan segumpal daging dengan lekukkan aneh itu keluar di depan matamu?
Sebagai orang yang di juluki magnet masalah, Naruto selalu menyediakan waktu untuk belajar karate dan juga melihat pertandingan MMA dan juga Tokyo Street Fighting.
Naruto adalah Magnet masalah namun selalu ada teman yang membantunya. Sasuke, Issei, dan Shikamaru adalah sedikit dari teman Naruto saat di taman kanak-kanak sampai saat ini dan yang lainnya ada beberapa di Kyoto dan di Himorshima. Gabriel juga mengakui bahwa Naruto dan teman-temannya selalu solid satu sama lain.
"Sepertinya karena mereka sudah tidak bernyawa lagi, tubuh mereka kekurangan cairan dan itu berpengaruh pada tulang mereka yang menjadi sedikit rapuh."
"sudahlah, Jangan bawa-bawa pelajaran saat ini. Aku masih pusing jika saja ada Shikamaru disini maka ia akan langsung paham."
Setelahnya pertengkaran kecil antara Naruto dan Gabriel terjadi menghiraukan tatapan bertanya dari guru mereka dan tanpa Gabriel sadari benih benih cinta mulai tumbuh di hati Naruto.
'Dari dulu, aku selalu menganggapnya sebagai teman tapi entah kenapa setelah keadaan seperti ini aku selalu ingin Gabriel aman dan melihat senyumnya saja sudah cukup bagiku.' Pikiran Naruto melayang entah kemana tanpa menyadari air mata yang mengalir dari kedua matanya.
"Naruto-kun, kenapa kau menangis? Kau teringat orang tua mu?"
"Ti-tidak, aku tidak menangis kau tau itu kan? aku yakin kalau Tou-san dan Kaa-chan dapat bertahan dari keadaan seperti ini." Kedua tangan Naruto mengusap air matanya dan menatap Tearju yang sedang terdiam.
"Kenapa kau dari tadi diam saja Tearju-sensei?" tanya Gabriel karena sedari tadi Tearju hanya diam dan melihat kedua muridnya bertengkar.
"Ya, hanya melihat pasangan yang sedang mabuk asmara di tengah kekacauan kota tokyo." orang yang di panggil hanya menjawab enteng yang membuat kedua remaja yang sedang mengalami masa pubertas memerah dengan asap yang keluar dari kepala mereka.
.
.
.
Gudang peralatan berkebun.
Seorang pemuda saat ini sedang menggenggam sebuah Sickle yang biasa di gunakan untuk membersihkan rumput di lapangan belakang.
Tak jauh darinya ada sebuah tas yang berisi pemukul Baseball dan juga berisi beberapa peralatan berkebun sebut saja linggis, Sickle, dan juga sebuah kapak.
"sekarang kita menuju ruang kerajinan, ya?" suara itu berasal dari belakang pemuda itu. Tampak seorang gadis berambut merah crimson dengan sebuah tongkat kayu di tangannya.
Rias Gremory walaupun awalnya ia adalah seorang perempuan tapi dengan bimbingan Sasuke beberapa saat yang lalu sekarang Rias setidaknya dapat melindungi dirinya sendiri setidaknya sampai mereka semua berkumpul.
Keduanya pergi dan keluar dari gudang tersebut menuju ke dalam ruang klub Handcraf yang tepat berada di samping mereka.
Sret...
Pintu itu terbuka dan seketika Sasuke dan Rias melebarkan kedua matanya. Reaksi yang mereka keluarkan bukan karena keadaan di ruangan itu yang sangat berantakan melainkan seorang siswi berambut pink yang sedang memakan temannya.
'Sakura? Ini tidak mungkin kan?' pikiranSasuke sedikit kalut dengan langkah kaki yang membawanya menghampiri gadis itu. Rias yang melihat itu hanya memandang prihatin punggung sahabatnya itu.
Sakura adalah segalanya bagi Sasuke dan Sasuke adalah segalanya bagi Sakura, Setidaknya itulah yang Rias tau. Sasuke pernah berada di titik paling bawah dalam hidupnya dan ia akan mengusir siapapun yang menemuinya bahkan Naruto. Namun Sakura, berhasil menarik Sasuke dari jurang keputusannya dan menjadi cahaya bagi pemuda bermarga Uchiha itu.
'Sakura, ku mohon jangan pernah berubah'
'Sakura, jangan pernah tinggalkan ku sendirian'
'Sakura, setelah kita lulus dari bangku kuliah maukah kau hidup bersama dengan ku?'
Kenangan demi kenangan indah terus berputar di kepala Sasuke bagaikan kaset rusak, pecahan demi pecahan Kenangan itu berhamburan dan sekarang Sasuke sudah berada di belakang gadis berambut pink yang sedang memakan temannya itu.
"Sakura..." gadis itu menghentikan kegiatannya dan menolehkan kepalanya kebelakang membuat sang Uchiha muda mundur beberapa langkah karena terkejut dengan apa yang ia lihat. Sebuah kemungkinan yang tidak pernah Sasuke harapkan dalam hidupnya, Sakura sudah menjadi selah satu dari pemakan manusia. Tubuh pemuda itu bergetar tidak karuan dan terlihat kedua kakinya tidak kuat untuk menopang tubuhnya. Namun, seketika kedua kalinya menguat dan mengangkat pemukul Baseball di keatas kala Sakura menyerangnya.
"Maaf..."
Buagh... Buagh... Buagh... Buagh...
"Maaf... Maaf... Maaf..." Hanya itu saja yang terucapkan dari mulutnya kala memukulkan pemukul Baseball tersebut.
'Semoga kau tenang di alam sana Sakura-chan.'
Pemuda itu berjalan menjauh dari mayat gadis berambut pink tersebut dengan pandangan kosong dan membuka sebuah lemari. Sebuah alat penembak paku yang ia ambil dan membawanya ke meja. Sasuke menyatukan sisi kanan dan kiri alat tersebut dengan papan kayu yang direkatkan dengan lakban hitam dan membuat sebuah stock sederhana dari kayu yang ada agar dapat menembak dengan lebih efisien.
Rias yang melihatnya hanya tersenyum, sahabatnya ini adalah orang yang berhasil mengatasi Shock attack di hatinya dan membunuh orang yang ia sayangi langsung. Jika saja ia di hadapankan dengan masalah yang sama dan Issei yang menjadi zombie, mungkin ia akan mati duluan.
Perlahan gadis itu melangkahkan kakinya ke arah Sasuke yang sedang merekatkan kayu dengan lakban hitam.
"Terima kasih dengan begini aku yakin Sakura-chan dapat beristirahat dengan tenang disana." Ucap Rias dengan tangannya yang mengelus punggung lebar milik Sasuke. Walaupun Rias baru mengenal Sasuke dan teman-temannya saat masuk sekolah menengah tapi tak bisa di pungkiri kalau Rias menyayangi semua temannya tanpa terkecuali dan saat ini ia juga sedang bersedih tapi ayolah, apakah kau akan menangis kehilangan seorang teman sedangkan Sasuke kehilangan sebagian hidupnya?
"Kyaaaaaaa..."
Keduanya tiba-tiba saling pandang dan mengarahkan kepala mereka ke arah kantin dan juga karena teriakan itu beberapa zombie mulai berjalan mendekat ke gedung yang selalu di ramaikan para siswa kala istirahat. Wajah keduanya seakan mengeras dan seperti yang mereka tau hanya seseorang yang memiliki suara menggoda dalam keadaan seperti apapun.
'Akeno/Akeno' pikir keduanya dan berlari ke arah kantin tanpa melupakan tas peralatan yang sudah Sasuke kumpulkan dan menggendong alat paku tembak itu di punggungnya.
.
.
.
Beberapa saat yang lalu...
Akeno sedang berada di dalam dapur dan membuka beberapa lemari mencari bahan makanan yang masih tersisa. Langkahnya perlahan sedikit melambat kala ia merasakan sedikit hawa merinding di belakang tengkuknya.
"Issei, jangan bermain-main deng..."
"Grrrr..."
ucapan gadis berambut raven itu seketika terhenti kala mendengar suara menggeram dari belakangnya dan saat ia berbalik alangkah terkejutnya dirinya saat melihat sepasang mata berwarna putih juga mulut yang menganga.
"Kyaaaaa..."
Sementara itu Shikamaru dan Issei terkejut bukan main saat mendengar teriakan Akeno dan berlari kearah pintu dapur. Ini adalah saat semua manusia memikirkan dirinya sendiri tapi jika kau melupakan seseorang yang berharga bagimu maka kau bukan lagi manusia.
"Akeno, lari.." Shikamaru langsung saja berlari dan mengambil sebuah pisau dari meja panjang tak jauh di sampingnya.
"Berhenti..." ucap pemuda itu namun seketika Shikamaru harus berguling ke arah kanan dan kembali menodongkan pisau miliknya. " ... Ku bilang berhenti."
Swush... Brak...
Kala zombie itu mulai menyerang Shikamaru kembali sebuah benda tumpul menghantam samping kepala zombie itu dan membuat zombie itu mati seketika.
"Kau tidak apa-apa, Pemalas?" ucap pelaku pemukulan tadi dengan wajah datar suara yang dingin.
"Hufft... Ternyata kau Sasuke, terima kasih." Ucap Shikamaru dan dapat pemuda itu lihat di belakangnya ada Rias dan juga di punggung sahabatnya terdapat sebuah tas olahraga.
Bruk...
Apa yang Shikamaru pikir ternyata langsung di lakukan oleh orang didepannya ini. Sasuke melemparkan tas di punggungnya lalu tanpa basa-basi membuka resletingnya memperlihatkan beberapa pemukul Baseball, sickle, linggis, gunting taman, dan kapak.
"Ambilah aku yakin kalau bencana ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat." Shikamaru dan Issei yang mendengarnya hanya terdiam. Bencana ini bukanlah masalah yang kecil jika saja pemerintah langsung mengambil tindakan cepat maka kawasan Tokyo akan di karantina kalaupun itu bisa di lakukan dengan cepat tapi melihat bagaimana infeksinya menyebar dengan cepat maka mereka yakin itu tidak akan mungkin.
Shikamaru mengambil sebuah linggis dan juga sebuah pemukul Baseball sedangkan Issei mengambil dua sickle.
"Ambilah ini." Sasuke mengulurkan tangannya dengan sebuah Sickle pada Akeno. "Aku tidak ingin kehilangan orang yang berharga bagiku untuk kedua kalinya."
Blush...
Rona merah mewarnai kedua pipi putih milik Akeno dan rasa bahagia bagaikan seribu kupu-kupu yang terbang di hatinya mulai menggerayangi dirinya.
"Kita harus pergi karena sebelum kesini aku melihat ada beberapa kelompok zombie yang menuju ke tempat ini." Ucap Sasuke dan tangannya berusaha menggapai sebuah tali pengait di belakang punggungnya. Itu adalah Nail Shooter yang sudah di modifikasi dan terlihat seperti assault rifle.
"Ayo kita pergi, kita harus mencari si baka itu. Aku akan di depan, perempuan ada si tengah dan sisanya akan ada di belakang." Ucap Uchiha muda itu dan mereka berlari menuju gedung C dengan peralatan yang cukup untuk mempertahankan diri dan juga makanan yang cukup untuk dua sampai tiga hari juga di belakang mereka zombie mulai menuju gedung C dan juga gedung B.
.
.
.
Saat ini trio blonde sudah ada di koridor penyebrangan yang menghubungkan gedung B dan gedung C. Naruto saat ini sudah tidak mengenakan blazer sekolah mereka dan mengenakan kemeja putih yang sudah lusuh.
Sedangkan Gabriel pakaiannya masih lengkap dengan Sling bag yang menggantung di tubuhnya membuat daerah dada Gabriel mengecap karena tertekan tali tas yang ia bawa.
Sedangkan Tearju, Guru muda itu sudah melepaskan jas miliknya juga sepatu high heels miliknya.
Saat sampai di gedung C, Naruto melihat sebuah Emergency Axe yang terletak di lemari kaca di dekat tangga.
"Gabby, lepaskan blazer milikmu." Tanpa banyak tanya Gabriel melepaskan blazer itu dan Naruto menggunakannya sebagai alat untuk melindungi tangannya.
Prank...
Dengan tarikan nafas sesaat dan kemudian melayangkan bogem pada lemari kaca tempat Emergency Axe itu ada. Saat pecahan kaca mengotiri tempat Naruto berdiri kala itu juga tangan Naruto berhasil menggapai sebuah alat bantu bertahan hidup.
Tap... Tap... Tap...
Pandangan Naruto tiba-tiba menjadi serius kala mendengar banyaknya langkah kaki yang berasal dari tangga dengan isyarat tangan Gabriel dan Tearju berhasil menyembunyikan diri sedangkan Naruto pemuda itu bersembunyi di sudut kelas dan bermaksud menebas apapun yang melewatinya.
Langkah kaki itu semakin lama semakin dekat dan sesuatu menghampiri tempat Naruto berada. Dari bayangannya Naruto tau sesuatu kalau itu adalah manusia dan memegang sebuah pemukul Baseball.
"Hufft... Haaaa" membuang nafas sejenak dan mengambil keputusan untuk melukai pemuda itu sebelum ia sadar bahwa orang yang menuju tempatnya adalah Sasuke dan semua sahabatnya.
"Teme? Ternyata kau? Ku kira kau adalah monster pemakan manusia itu." Ucap Naruto yang sedang mengenakan blazer sekolah milik Gabriel tanpa merasakan kejanggalan bahwa yang ia pakai adalah blazer Gabriel.
"Gabby, Tearju-sensei keluarlah semua baik-baik saja." Ucap Naruto dengan nada yang sedikit di tinggikan dan dari dalam kelas Gabriel keluar bersama Tearju.
"Oii Naruto, sejak kapan kau mengganti namamu?" Naruto hanya menatap bingung salah seorang sahabatnya yang memiliki rambut berwarna coklat itu. Entah kenapa sekarang ia paham apa yang di katakan Issei, sejak kapan ia memakai Blazer milik Gabriel?
Dengan wajah memerah Naruto melepaskan blazer milik Gabriel dan menyerahkannya dengan kepala tertunduk tanpa memperlihatkan wajahnya sama sekali.
"Wah wah sepertinya ada yang sedang jatuh cinta?" ucap Issei.
Swush...
"Ehh?" wajah Issei memucat dan melirik ke samping wajahnya. Disana, ada sebuah kapak yang tertancap di dinding.
"Sudahlah Issei, keadaan sedang genting dan bisa bisanya kau bercanda di saat seperti ini, keterlaluan kau." Shikamaru akhirnya buka suara dan seperti yang Shikamaru katakan, Issei keterlaluan dalam keadaan genting seperti ini pemuda itu masih saja bisa bercanda.
"Kita sudah berkumpul jadi kita harus kemana sekarang?" tanya Rias dan seperti yang Naruto katakan pada Gabriel akhirnya mereka beristirahat di atap sekolah dengan mengganjal pintu masuk menggunakan kursi taman yang di letakan di atap.
...
...
...
At Academy, day 1, after Outbreak, 12.00
Jam dua belas tepat tengah hari, hari ini entah kenapa semua hal yang terjadi serasa lambat dengan semua kegilaan itu Naruto dan kawan-kawannya tak menyangka bahwa masih ada enam jam lagi sebelum malam menjemput, setidaknya mereka dapat istirahat untuk sementara ini. Rasa lelah yang menggerayangi tubuh mereka seakan tidak dapat lagi mereka rasakan saat melihat apa yang ada di hadapan mereka. Kota Tokyo sedang dalam kekacauan, suara tembakan dapat terdengar dari arah kota dan juga banyaknya kendaraan yang di tinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Ini baru hari pertama tidak dapat di pungkiri jika kegilaan akan datang lebih parah dari ini.
"Menurut kalian sudah berapa lama kota terinfeksi?" tanya Naruto kala melihat teman-temannya juga melihat apa yang ssedang dirinya lihat. Saat ini Tokyo sudah jatuh dengan beberapa helikopter pengangkut dari JSDF yang berlalu lalang di langit kota.
"Entahlah, sedikit perkiraan dariku mungkin saat ini kota Tokyo sedang di Lockdown dan kalau Lockdown tidak berhasil maka kota tetangga mengalami nasib yang sama." Jawab Shikamaru.
"Aku yakin kalau pasukan JSDF sedang mengevakuasi para sosok pemerintah dan lagian aku tidak yakin kalau siswa seperti kita akan di evakuasi." Ucap Issei dan semua orang yang mendengarnya menundukan kepala mereka karena apa yang Issei ucapkan ada benarnya. Dengan kekacauan yang sedang terjadi saat ini apa mereka akan menjadi prioritas utama? Tentu saja tidak!. Dan lagi, jika mereka di selamatkan pasukan JSDF maka apa yang di lakukan oleh sekumpulan remaja di markas tentara? Kira-kira bantuan apa yang dapat mereka berikan? Sekiranya mereka hanya akan menjadi beban dan menghabiskan sumber daya yang ada.
"Sudah tidak usah di pikirkan setidaknya karena kita bersama kita bisa saling menjaga." Kata Naruto dengan tawa di akhirnya. Inilah yang bisa Naruto lakukan untuk saat ini, menaikan moral teman-temannya dan juga membuat dirinya tidak khawatir tentang keluarganya. Sejak pertama bencana ini terjadi hal pertama yang ia pikirkan adalah sahabatnya entah kerena apa tapi ia mengingat perkataan kakak angkatnya saat ia masih di bangku Kunir Highscholl.
'Saudara tidak akan bisa menjadi sahabat karena ada rasa saling menghormati dalam hati kita karena memiliki ikatan darah namun sahabat dapat menjadi saudara kita! Dan mulai saat ini aku mengakuimu sebagai saudaraku, Uzumaki Naruto!'
Mengingat kejadian itu membuat Naruto tersenyum geli mengingat tingkah konyol yang terkadang di lakukan oleh sang kakak namun alam khayalnya seketika hancur saat mendengar seseorang berteriak meninta tolong.
"TOLONG... SIAPAPUN TOLONG AKU..."
Diam. Semua orang hanya terdiam dan berlari ke arah lain pagar pembatas disana mereka dapat melihat seorang gadis yang di ikuti beberapa zombie yang berjalan mengikuti gadis tersebut.
"Kita harus menolongnya." Ucap Naruto namun tiba-tiba Sasuke meninju pipi pemuda berambut pirang itu.
"Kau sudah bodoh, hah? Kau mau mengorbankan nyawamu untuk menyelamatkan orang itu? Itu bukan tugas kita!" ucap Sasuke saat melihat Naruto berdiri.
Buagh...
Tinjuan Naruto langsung mengarah pada hidung Sasuke dan membuat pemuda itu terhuyung kebelakang.
Buagh...
Tak tinggal diam pemuda bermarga Uchiha itu menerjang Naruto pada perutnya tak hanya itu pemuda itu langsung menghantamkan dengkulnya pada perut Naruto beberapa kali.
Tap... Sret... Bug...
Kedua tangan Naruto mengambil tangan Sasuke dan membanting tubuhnya sendiri ke tanah dengan mengarahkan bagian tapak kaki pada bagian dagu Sasuke. Gerakan mengunci lawan dan gerakan yang dapat membuat lawan pingsan karena kehabisan nafas.
"Issei-kun, Shikamaru-kun, ku mohon hentikan mereka." Pinta Gabriel dengan tangis di wajah cantiknya. Melihat Naruto bertarung dan terlebih dengan sahabatnya sendiri itu membuat Gabriel sangat sakit.
"Kau tau Gabriel-chan, seorang pria akan mengenal dan mengerti satu sama lain dengan bertukar tinju. Bagi kami melihat mereka berdua berkelahi seperti ini seperti makanan sehari-hari. Bukan begitu Issei?" Ucap Shikamaru dan melirik ke arah sampingnya yang terdapat seorang pemuda berambut coklat dan sedang memakan sebungkus Potato Chips.
"Biarkan saja, beberapa menit lagi mereka akan saling memaafkan. Lihat saja, Gabriel-chan!" ucap Issei kemudian melanjutkan lagi kegiatannya memakan Potato Chips di temani Rias di sampingnya.
"Kau memang keras kepala, Dobe. Kalau begitu lakukan saja apa yang menurutmu benar." Ucap Sasuke kala Naruto melepaskan kuncian pada tubuh sasuke.
"Terima kasih kau memang saudara yang baik, Teme." Ucap Naruto walau di tanggapi Sasuke dengan decihan.
"Kau tidak bisa lewat tangga. Para zombie sudah memenuhi gedung ini dan karenanya kita terjebak." Ucap Issei yang sudah selesai memakan potato chips miliknya dan sekarang ia sedang memainkan rambut panjang milik Rias.
"Issei-kun ada benarnya karena aku memancing mereka semua saat di kantin, maafkan aku."
"Kau tidak perlu meminta maaf, Akeno-chan. Tapi kita harus memikirkan rencana keluar dari sini. Ngomong-ngomong kemana gadis tadi?" tanya Shikamaru karena sebelumnya Sasuke dan Naruto berkelahi maka gadis itu sudah pergi entah kemana.
"Aku melihatnya pergi ke ruangan klub panahan, Shikamaru-kun.",ucap Gabriel.
Swush...
Tiba-tiba semua orang terdiam kala seorang pemuda berambut pirang loncat dari atas gedung ini dengan selang kebakaran di tangannya.
'Jadi begitu, saat kami sedang berdiskusi dia menghancurkan clip penghubung pagar dan membuka pagar pembatas itu. karena kami selalu berdiskusi dan Naruto yang memang tidak sabaran mengambil gerakan langsung tanpa memikirkan kedepannya. Tapi kalau terlalu lama berdiskusi nyawa gadis itu tidak bisa di tolong.' Pikir Shikamaru kala melihat apa yang Naruto lakukan. Pagar pembatas itu sudah tidak utuh lagi dan jika di lihat dengan keliti klip pengunci pagar itu di buka secara paksa dengan menggunakan linggis.
Gulungan selang pemadam itu terus berputar dan kemudian berhenti satu setengah meter dari permukaan tanah.
"Baik, klub pemanah ya? Kalau begitu tunggu aku. Siapapun kau!"
Pemuda itu mendarat dengan sebuah Emergency Axe di tangannya. Ia harus cepat menemukan gadis itu. Dengan teriakan gadis itu yang meninta tolong maka mustahil para zombie tidak mengikuti.
"NARUTO!"
"Tenang saja, kalian tunggu aku kembali hehehe." Setelahnya Naruto langsung berlari dari tempatnya mendarat menuju ruangan klub pemanah.
Klub pemanah ada di sekitar gedung A dan itu adalah gedung yang memiliki zombie paling sedikit namun mau bagimanapun ia harus tepat waspada.
"Tolong... Hiks... Hiks... Hiks..." ini dia, pasti gadis itu ada disini. Suara meninta tolong dan juga tangisan ini mirip seperti suara tangisan seorang gadis.
Sret...
Pintu masuk itu bergeser. Klub pemanah memakai arsitektur Japanese culture jadi tidak perlu heran saat pintu masuknya memakai sistem pintu geser.
"Ada orang di dalam?" Ucap Naruto saat melihat ruangan ini yang kosong tidak ada seorang pun.
"Kalau tidak ada, aku akan pergi." Saat langkahnya baru beberapa meter seseorang keluar dari lemari penyimpanan 'Yumi'.
Seorang gadis berambut hitam panjang dan pupil mata berwarna emas sedang menatap Naruto dengan pandangan bertanya.
"Apa kau sudah di gigit?" tanya gadis itu.
"Aku tidak tergigit tenang saja dan ayo kita harus pergi dari sini." Ucap Naruto dengan mata terpejam serta senyum yang ia keluarkan untuk gadis itu.
Grep...
Gadis itu tiba-tiba memeluknya dan wajah Naruto terbenam di dada gadis itu. Sedangkan Naruto hanya memerah mendapati situasi seperti ini.
Tap...
"Oke, Namaku Uzumaki Naruto dan kau siapa?" kedua tangan Naruto mendorong bahu gadis itu dan mendorongnya sedikit.
'Bisa pingsan aku karena kehabisan nafas.' Pikirnya.
"Namaku Kuroka Tojou, terima kasih karena sudah mau membantuku nyaan." kata-kata yang gadis itu gunakan pada akhir ucapannya membuat Naruto bingung.
'Nyan? Gadis ini normalkan?'
"sama-sama, sekarang kita harus mencari jalan memut.."
"Uzumaki-san di belakangmu!"
Ucapan Naruto terhenti ketika Kuroka berteriak. Dibelakangnya ada dua Zombie yang berjalan dengan mulut terbuka dan saliva yang menetes dari sudut mulutnya, pandangan mereka kosong, dan memiliki luka pada beberaoa anggota tubuh mereka jadi bisa di pastikan bahwa mereka bukan Patien One.
Jrash... Buagh... Crash...
"Haaaaaaa."
Naruto berlari ke depan mengarahkan sisi tajam kapaknya pada kepala zombie yang berada di posisi paling dekat dan kemudian mengarahkan sisi tumpul dan menghantam zombie satunya. Melihat zombie itu limbung Naruto dengan cepat menghancurkan kepala zombie tersebut.
"Ayo, kita harus pergi dari sini karena teriakanmu tadi banyak zombie mengarah kemari." Ucap Naruto dan langsung menarik tangan Kuroka agar ikut berlari bersamanya. Namun sebelumnya Naruto mengambil satu set Yumi dan Quiver dengan dua puluh anak panah.
.
.
Saat ini keduanya sedang berada di lantai dua gedung 'A' dan mereka sepertinya sedang beristirahat sejenak. Terlihat Naruto sedang terduduk dengan kapak yang ada di sampingnya dan Kuroka sedang bersandar pada dinding di tangannya terdapat Yumi dan Quiver yang di letakan di bawahnya.
Merasa sudah cukup akhirnya Naruto bangkit dan berjalan menuju sebuah pintu dengan papan kayu berlukiskan 'Rest Room'. Rest Room adalah ruangan santai bagi siapa saja dan ini adalah ruangan yang biasa di gunakan oleh kebanyakan guru pria untuk melepas penat dan menghisap gulungan tembakau.
Pemuda itu berjalan masuk setelah membuka pintunya dan dia hanya melihat satu hal yang sedikit aneh yaitu mayat dua zombie yang tergeletak. Bukan mayat itu yang membuatnya aneh melainkan sebuah lubang kecil yang terdapat pada kening zombie itu.
'Sepertinya ini lubang peluru tapi siapa orang yang dapat membawa senjata ke sekolah ini?' pikir Naruto kala memeriksa mayat zombie itu. Mengesampingkan masalah yang ada Naruto langsung mencari apa yang ia butuhkan saat ini. Pemuda itu menggeledah setiap kantung pakaian dan menemukan sebuah kotak.
'Gotcha...' pemuda itu membuka kotak tersebut dan menemukan beberapa batang rokok yang sudah tidak rapi lagi dan satu bagian masih tersegel.
Ctik... Shuuuuut... Buuu...
Mengambil sebatang rokok dan membakarnya dengan setelah menemukan sebuah pemantik. Dengan satu tarikan nafas, asap yang mengandung nekotin itu memasuki paru-paru dan mengalir di pembuluh darah yang langsung merangsang sel otak untuk memproduksi dopamin, sebuah senyawa kimia yang membuat seseorang merasa bahagia dan rilex. Setelah urusannya selesai Naruto langsung keluar dari ruangan tersebut dengan rokok yang masih bertengger di mulutnya.
Saat keluar dari ruangan itu hal yang pertama Naruto lihat adalah tatapan mata yang seakan berkata aku tidak salah lihat kan?
"Apa?" tanya Naruto di akhiri dengan asap yang keluar dari mulut dan hidungnya.
Naruto berjalan santai menuju jembatan penghubung dan saat hampir sampai langkahnya terhenti saat melihat papan kayu bertuliskan 'Club Kendo'. Melihat itu Naruto langsung masuk dan mencari sebuah senjata yang dapat menambah persentase bertahan hidup.
"Dua buah Katana saja kah? Tunggu sebentar kalau ada Katana maka ada batu asah kan?" ucap pemuda itu dan langsung bergerak cepat mencari batu asah di setiap tempat, entah itu lemari bokken ataupun laci meja. Seperti yang kita tau bahwa darah dapat menyebabkan korosi dan semakin lama akan menyebabkan karat pada besi jika saja bahan yang di gunakan memiliki resistensi pada korosi yang sangat besar tapi sayangnya bahan yang digunakan hanyalah percampuran antara baja dan besi dan dari mana Naruto tau? Itu karena satu tahun yang lalu, Naruto mendapatkan pamflet tentang klub ini.
"Kau bisa menggunakan Katana?" tanya Naruto namun yang ia dapatkan hanyalah gelengan kepala sebagai jawaban. Menghiraukan tanggapan Kuroka, pemuda itu berjalan dengan santainya sebelum suara seseorang menghentikannya.
"Tolong aku... Kumohon siapapun... Tolong... Tolong... TOLONG!"
Kedua insan itu hanya terdiam kala melihat seorang wanita berambut silver sedang berlari dan di belakangnya ada lebih dari sepuluh zombie dengan mulut menganga dan saliva yang menetes ke lantai.
"Kita harus menolongnya!" ucap Kuroka dan seketika gadis itu menarik satu anak panah dan mengarahkannya pada wanita yang berlari ke arah mereka.
'Saat kau kehilangan kemanusiaanmu maka kau bukan lagi manusia, kah?" pikir Naruto dengan kepala tertunduk namun langkah pemuda itu berjalan ke arah depan menuju gerombolan zombie itu.
Syuut... Jleb... Bruk...
"Ku mohon tolong aku!" ucap wanita itu kala Naruto masih tertunduk dan terdiam sebuah anak panah melesat dan langsung mengenai kepala salah satu zombie.
Gadis itu mengambil kembali dua buah anak panah dan menggigit salah satu anak panah tersebut sedangkan satunya siap ia luncurkan.
'Jarak sekitar dua puluh meter tanpa angin dan pergerakan zombie yang mudah terbaca maka dari itu...' kedua tangan itu sedikit terangkat kala Kuroka menarik tali sling dan seketika melepaskan anak panah itu.
'Dua tumbang tinggal delapan lagi' pikir Kuroka dan kemudian mengambil anak panah di mulutnya dan membidik sekali lagi. Lesatan demi lesatan anak panah terus di lancarkan Kuroka beberapa ada yang meleset dan mengenai bagian tubuh seperti dada dan juga anggota gerak dan saat menarik anak panah terakhir dari Quivernya Kuroka sadar bahwa Naruto hanya diam saja tanpa melakukan apapun walau ada zombie yang berdiri di hadapannya.
Syutt... Bruk...
Lesatan anak panah itu terakhir itu membuat Zombie yang ada di depan Naruto tumbang dan darahnya membasahi wajah dan pakaian Naruto.
Swush... Slash... Crash...
Saat anak panahnya habis Kuroka hanya bisa pasrah melihat Naruto yang terdiam karena memikirkan perkataannya tadi bahwa ia harus menyelamatkan wanita itu. Namun alangkah terkejut dirinya saat melihat Naruto maju dan menebas satu zombie dengan katana hingga kepalanya terbelah dua sedangkan pada tangan satunya terdapat kapak dan menghancurkan kepala satu zombie lagi.
"Lari! Sekarang! Ke atap gedung 'C' biar aku yang mengurus disini. Cepatlah!" saat ini di jembatan penyeberangan dari gedung 'A' menuju gedung 'B' mulai terisi banyak zombie mungkin karena mendengar suara teriakan wanita di itu maka para zombie segera merapat?
Melihat kedua perempuan itu sudah pergi Naruto hanya menghela nafasnya. Di saat seperti ini dirinya malah bermain pahlawan-pahlawanan dan menyelamatkan dua orang perempuan di tengah kekacauan di sekolah ini.
Naruto hanya diam dan kemudian mengambil ancang-ancang dengan tangan kanannya.
Swush... Jlebb...
Kapak itu Naruto lemparkan dan langsung mengenai kepala zombie di depannya tapi itu bukanlah sebuah hal yang mudah melainkan sebuah bencana karena sepertinya Naruto merasakan kalau tulang belikatnya menjadi kaku karena melepar kapak tadi.
'Sial, jika saja zombienya terus bertambah maka aku akan mati. Untung saja zombie itu tidak bisa lari jika bisa maka... ' Pikir Naruto kala ia menarik sebuah katana dari sarungnya dan kemudian pemuda itu menghela nafasnya dengan lelah. '... Aku akan mati, kan?'
.
.
.
Saat ini semua siswa dan siswi yang ada di atap gedung 'C' sedang gelisah terkecuali Issei yang sedang asyik memakan Potato chips. Namun mereka langsung menatap pintu masuk itu saat mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Sasuke dan Shikamaru langsung mengambil inisiatif saat mendengar suara minta tolong.
Krieet... Bruk...
Saat pintu itu terbuka dua orang perempuan terjatuh karena pintu yang di buka secara tiba-tiba. Seorang gadis berambut hitam dengan warna mata emas dan seorang wanita berambut silver sedang menatap semua orang yang ada di atap ini.
"Dimana Naruto?" tanya seorang gadis berambut pirang yang sedang memandang pintu masuk itu dengan pandangan khwatir.
"Naruto-kun, dia sedang menghalau gerombolan zombie di jembatan penyeberangan gedung 'A'. Aku ingin membantunya tapi... Hiks... Hiks... Hiks..." gadis itu Kuroka menangis saat melihat Yumi yang ia pagang dan ia teringat hal terakhir yang pemuda itu katakan Cepatlah! Hanya itu saja namun entah kenapa hatinya sangat sakit saat mengingat itu semua. Seorang pemuda yang meninggalkan temannya untuk menyelamatkan dirinya dan menghalau gerombolan zombie agar menjamin nyawanya selamat.
Mendengar penjelasan Kuroka, Gabriel sangat khawatir dan berlari menuju pintu keluar sebelum tangannya di tahan Issei yang memandang Gabriel dengan wajah datar.
"Mau kemana kau?" tanya pemuda itu dengan suara tanpa irama yang membuat Gabriel hanya menundukan kepalanya saat melihat Issei sedang serius.
Siapa yang tidak kenal Hyodou Issei di sekolah ini? Seorang pemuda yang baik dan menyayangi teman-temannya melebihi apapun bahkan ia pernah melawan anak-anak kelas tiga yang berjumlah sepuluh orang. Kala itu mereka ingin mengeroyok teman issei, Matsuda karena sudah menjual DvD JAV yang semua adegannya di sensor. Merasa perkelahian itu berat sebelah sepuluh melawan satu orang, Issei turun dan membuat dirinya bermandikan darah sepuluh senpai membuat ia di skors selama satu bulan dan mendapatkan julukan Sekiryutei, The Red Dragon Emperor.
"Aku ingin menyematkan Naruto-kun! Lepaskan aku!"
"KAU HANYA AKAN MENJADI BEBAN NARUTO!" Bentak Issei. Sekarang semua orang yang ada hanya diam karena memang apa yang Issei katakan memang ada benarnya mereka hanya akan jadi beban jika ingin menyelamatkan Naruto. Mengesampingkan para pemuda, para gadis hanya akan menjadi beban karena tidak bisa berbuat apa-apa.
"..."
"Sekarang kita hanya perlu percaya pada Naruto bahwa ia akan kembali dengan selamat."
.
.
.
Suuuuut... Huuuuu...
Asap itu keluar dari mulut seorang pemuda yang sedang terduduk di tangga gedung 'C'. Keadaannya saat ini tidak baik-baik saja, pakaiannya sobek dan beberapa luka gores karena kuku zombie menghias kulitnya. Dada, punggung, lengan, leher, itu adalah bagian yang mengalami rasa nyeri karena luka-luka itu.
Tinggal dua lantai lagi dan ia akan mencapai atap. Sebuah tarikan nafas panjang yang membakar ujung tembakau itu terus naruto lakukan agar mengabaikan rasa sakit dan lelah itu. Penuda itu hanya diam sebelum ia bangkit dan mengambil anak panah milik Kuroka yang ia kumpulkan tadi dan kapak di tangan kirinya sedangkan dua Katana itu ada di pinggangnya yang ia selipkan di dalam tali pinggang.
Walaupun langkahnya tertatih dan beberapa kali memejamkan mata merasakan nyeri, Naruto terus berjalan menuju lantai atas.
Langkah kakinya terhenti kala melihat sebuah pintu, bernafas sejenak dan mengetuk pintu itu. Dapat ia dengar langkah kaki yang berlari-lari dan kemudian saat pintu terbuka tubuh Naruto limbung dan terjatuh tanpa perlawan.
"NARUTO-KUN!"
.
.
.
TuBerCulosis
.
.
.
Yo apa kabar kalian semua?
Pada chapter ini keluar tiga tokoh baru, yaitu :
Tearju Lunatique (To Love-Ru)
Roseweiss (Hs DxD)
Kuroka Tojou (Hs DxD)
Masalah Pair itu seperti ini susunannya. Eh BTW, kalo ada yang gk setuju bisa komen ya hehehe. Lagian mindset ku gini,
Lu mau mati dalem keadaan perjaka?
Jadi Pairnya gini aja dah.
Naruto X Gabriel ( saya Fans NaruGabby)
Sasuke X (Rencana Akeno sih apa ada saran)
Issei X Rias
Shikamaru X (Rencana Kuroka, ada saran?)
Sekian dari saya, saya juga mengucapkan selamat berpuasa bagi yang menjalankan!
