Shiroyukki Present

...

...

Naruto ©Masashi Kishimoto

HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi

Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.

...

...

Summary :

Ilmu pengetahuan adalah akar dari masalah yang terjadi. Kegilaan tak ada hentinya menghiasi hari-hari anak SMA di jantung negara matahari terbit. Apakah mereka berhasil bertahan hidup di saat jutaan mayat hidup menghadang jalan mereka?

...

...

#StayAtHome

...

...

Chapter 3 : Can US Escape?

At academy, Day 1, After Outbreak, 13.23

Sekarang di atap akademi beberapa orang sedang termenung karena di hadapan mereka salah satu temannya sedang pingsan dengan perban yang menghiasi sekujur tubuhnya. Leher, dada, punggung, dan bagian lengan pemuda itu terbungkus perban. Orang-orang sedang termenung hingga akhirnya suara tamparan menggema menghentikan lamunan semua orang.

"Kau! Kau lihat apa yang terjadi? Jika ada yang terluka lagi akibat kebodohanmu aku tidak akan segan-segan membunuhmu..." Gadis yang mengucapkan kalimat ancaman itu tak lain adalah Gabriel. Beberapa orang tau kalau Gabriel adalah orang yang sangat menyayangi teman-temannya lebih dari siapapun dan saat melihat Gabriel mengambil Emergency Axe di samping Naruto dan membawanya mendekati Kuroka, Issei dan Sasuke langsung bangkit dan menghentikan gadis itu.

"Lepaskan aku! Aku akan membalaskan semua perlakuan yang gadis ini lakukan pada Naruto-kun atau kalian semua akan merasakan hal yang sama jika gadis ini ada di kelompok kita! Lepaskan!" Sesaat sebelum kapal itu terayun dan mengenai kepala Kuroka satu tangan seseorang berhasil menggapainya.

Plakk...

"Oi sadarlah bodoh!" Semua orang terdiam saat melihat Naruto sedang berdiri di hadapan Gabriel dan menamparnya seketika. Tubuh yang terluka akibat sayatan kuku dari mayat-mayat hidup tidak menghentikan hati Naruto untuk saling membantu.

"Na.. Naruto-kun?"

"Tenang saja, aku sudah sadar dan tubuhku sudah cukup untuk beristirahat jadi kalian beristirahatlah sementara. Gabby, kumohon padamu jaga kemanusiaan di dalam dirimu dan jangan biarkan kemanusiaan itu menghilang." Ujarnya dan kemudian Naruto berjalan menjauh mencari makanan hingga akhirnya Rias memberikan roti yakisoba.

"Lihatlah Gabriel! Dia adalah orang yang keras kepala. Walaupun keadaannya saat ini sedang terluka, ia tidak dapat membiarkan orang yang ia sayangi tenggelam dalam keputusasaan." Ujar Sasuke yang masih setia di samping Gabriel sedangkan Issei sudah berada di samping Shikamaru dan melanjutkan acara tidur siangnya.

Waktu terus berlalu hingga tak terasa langit senja mulai menampakkan wujudnya. Suara bising yang terus menerus membeludak membuat seseorang terbangun dan saat orang itu terbangun ia dapat melihat banyaknya asap yang membumbung tinggi dari tengah kota. Orang itu tidak dapat berkata-kata dan saat suara ledakan berikutnya terdengar orang-orang terbangun dari tidur dan membuat ekspresi wajah yang sama.

"Apa-apaan itu?"

"Kau pasti bercanda!*

"Teman-teman, sepertinya Tokyo sudah tenggelam dalam kegilaan."

Dihadapan mereka, langit sore dengan asap yang membumbung tinggi di ikuti dengan rombongan helikopter yang berlalu lalang dan juga terjatuh menjadi pemandangan sore yang cukup mengerikan. Suara ledakan dimana-mana, bising kendaraan memasuki pendengaran semua orang dan juga dapat dilihat jika sebuah jembatan tiba-tiba ambruk karena sebuah helikoper menabrak tiang penyangga jembatan tersebut.

"Sialan, apa ini yang disebut akhir dunia?" Tanya salah seorang diantara mereka dan salah seorang menyampaikan rasa tidak setujunya.

"Bukan! Ini bukanlah akhir dunia tapi ini adalah awal dari akhir dunia."

Apa yang bisa mereka lakukan? Segerombolan anak-anak yang bertahan di tengah jutaan mayat hidup dengan perbekalan seadanya.

"Kita harus terus hidup, apapun yang terjadi dan jangan sampai ada satu orang tertinggal di antara kita." Ucap seorang pemuda berambut pirang yang sedang berdiri di atas wadah penampungan air. Yah, mau bagaimanapun mereka hanyalah anak-anak dan juga seorang guru yang tidak bisa berbuat apa-apa namun ada satu perkataan kakeknya yang Naruto ingat.

"Jika kau membuat pasukan yang diisi singa dan si komandoi anjing maka pasukan mu hanyalah debu di hadapan musuh mu namun, jika kau membuat pasukan yang diisi Anjing dan di komandoi Singa maka kau adalah gunung di hadapan musuhmu. Karena itulah kau harus selalu menjadi Singa, Naruto-chan! Agar kau bisa memimpin teman-teman mu kapanpun itu."

...

...

Di tengah kekacauan distrik Shinjuku.

Orang-orang sedang berlari menghindari masalah yang ada di belakang mereka. Kerumunan mayat hidup berjalan mencari mangsa mereka, karena rusaknya otot siliaris yang di sebabkan virus mereka membuat mayat hidup itu mengalami gejala yang disebut rabun dan mayat hidup itu hanya mengandalkan pendengaran mereka. Teriakan putus asa untuk mengharapkan pertolongan membuat para Zombie berkumpul di area terkonsentrasi penduduk dan tentu saja membuat orang-orang semakin bertambah cemas.

'Ku harap kau selamat, Anakku! Walaupun ayah mu ini tidak berguna dan selalu meninggalkanmu semasa kau anak-anak tapi aku yakin kau bisa bertahan dari semua ini.' Pikir Pria itu yang sedang mendekap istrinya di dalam pelukannya hingga akhirnya Wanita itu melepaskan dekapan suaminya dengan paksa.

Jari-jemari wanita itu bergerak dan kemudian pria itu tersenyum di tengah rasa khawatirnya. Pria itu pun menggerakan jarinya dan berkata dengan suaranya yang sedikit berat.

"Anak kita akan selamat dan Aku juga mencintaimu, Uzumaki Kushina." Ujar Pria itu. Pria itu adalah Namikaze Minato, ayah dari Naruto yang saat ini terjebak di tengah-tengah pandemi yang berharap anaknya dapat selamat dari musibah ini.

Namikaze Minato, Pimpinan tertinggi yang bertanggung jawab di Divisi empat yang sebenarnya tidak ada. Divisi empat selalu bergerak secara sembunyi-sembunyi dan melakukan misi tanpa adanya apresiasi dari masyarakat. Pekerjaan kotor dan juga asasinasi yang mereka lakukan semata-mata untuk menguatkan negara yang bernama Jepang.

Lalu, Kushina adalah seorang peneliti dari Kemiliteran yang pensiun dini karena menikah dengan Minato. Mengesampingkam kekurangannya karena tidak bisa berbicara seperti orang-orang pada umumnya, Kushina sangatlah jenius karena banyaknya penghargaan dalam dunia medis yang ia miliki semasa masih bertugas.

Tanpa bantuan, tanpa persenjataan, dan menyembunyikan identitas mereka. Keduanya pasrah jika saja kematian menjemput mereka namun sepertinya tuhan berkehendak lain saat handphone Minato berbunyi.

'Moshi moshi, Minato apa kau mendengar ku?'

Bagaikan tamu tak di undang muncul sebuah helikoper yang muncul dari pinggiran gedung tinggi tempat keduanya berkumpul dengan para warga. Dan di pintu helikoper itu ada seorang yang sangat Minato kenal, Hashirama Senju dari Divisi satu.

'Kau baik-baik saja kan, Sobat?' Pria itu tersenyum saat melihat Minato tersenyum dan beberapa prajurit turun dari helikopter itu mengamankan Minato dan juga Kushina. Beberapa masyarakat yang tidak setuju dengan evakuasi itu mengamuk dan prajurit itu tidak segan menodongkan senjata yang mereka bawa.

Sreet...

Dua prajurit yang ada di hadapan mereka memberikan hormat dan kemudian memegang tangga yang khusus untuk kedua orang itu.

"Silahkan naik, Colonel Namikaze dan juga Kushina-sensei." Ucap prajurit itu hingga akhirnya pintu masuk terdobrak memuntahkan puluhan Zombie yang merengsek masuk karena menemukan mangsa baru.

Walaupun kemanusiaan Minato masih ada untuk menolong para warga, Ia bersikap realistis dan langsung menaiki tangga itu bersama Kushina dan prajurit lainnya juga meninggalkan lokasi dengan pemandangan orang-orang yang di bantai habis para zombie dan juga ada yang memilih mengakhiri hidup mereka sebagai manusia.

"Kemana tujuan kita?" Tanya Minato dan kemudian orang yang bertanggung jawab di penjemputan itu berkata kalau mereka akan pergi ke sebuah Mothership milik jepang.

...

...

At academy, Day 1, After Outbreak, 16.22

Saat ini di jembatan penyebrangan antar gedung terlihat rombongan pemuda dan pemudi sedang membabat kalangan yang ada di hadapan mereka. Pemukul baseball, Kapak, dan juga Katana membabat Zombie yang ada di hadapan rombongan itu tanpa kenal lelah dan tujuan mereka adalah ruang guru.

Beberapa saat sebelumnya...

Sesaat setelah semua orang sadar dengan situasi di kota, Naruto mulai berfikir dengan keras dan di sampingnya ada Shikamaru yang melakukan hal yang sama dengan Naruto. Hingga akhirnya Shikamaru mengusulkan kalau mereka harus pergi dari sekolah ini, namun dengan apa?

"Bagaimana dengan menggunakan bus sekolah yang biasanya di gunakan untuk menjemput pejabat dan juga investor sekolah ini." Ucap Issei dan semua orang memandang pemuda itu hingga membuat Issei meneteskan keringat dari dahinya.

"A... Aku tau aku ini mesum dan juga bodoh jadi, hiraukan saja perkataanku tadi. Kumohon jangan pukul aku." Melihat itu sontak orang-orang tertawa dan kemudian Naruto mengatakan kalau itu adalah ide yang bagus hingga Tearju mengatakan kalau kunci bus itu ada di ruang guru yang mana terdapat banyak Zombie di koridor itu.

"Jadi, sebelum kita pergi mari kita bertukar informasi dulu." Ujar Naruto dan di respon Issei yang sedang berkumpul bersama di atap sekolah itu.

"Informasi?"

"Yah, Informasi... Kita tau kalau menghancurkan otak mereka atau membuat kepala mereka terbentur dan membuat gegar di kepala akan menghentikan mayat hidup itu. Jadi bagaimana dengan yang lain apa ada informasi lagi?" Tanya Naruto dan kelompok orang-orang yang terpisah hanya diam dan mengingat kecuali Issei yang menggaruk pipinya dan membuat Naruto sweatdrop.

"Menurutku, Mereka tertarik dengan suara gaduh. Pasalnya saat kami mengumpulkan makanan Akeno menjerit dan tak lama kemudian gerombolan Zombie datang menghampiri kami yang sudah pergi dari kantin." Narutopun tersadar dari sweatdrop karena penjelasan Shikamaru. Setelahnya beberapa dari mereka mulai bertukar fikiran tentang informasi yang satu ini hingga akhirnya semua setuju jika informasi ini akurat saat bel pulang sekolah berbunyi dan para Zombie berkumpul di halaman sekolah membuat lahan parkir menjadi sedikit sepi.

"Seseorang akan berubah saat terkena gigitan para zombie mau sekecil apapun luka gigitan itu. Bisa di asumsikan kalau air liur mereka membawa virus yang membuat semua orang berubah dan menjadi pemakan daging." Sasuke kini ikut mengungkapkan pikirannya. Mau sekecil apapun gigitan itu akan membuat mereka berdelapan menjadi mayat berjalan yang kelaparan.

"Benar, Aku melihat itu semua... Orang-orang disini menjadi mayat hidup saat tergigit dan membuatku ketakutan hingga Naruto-kun membantuku. Semua berawal dari satu gigitan hingga akhirnya seluruh akademi terinfeski." Ujar Tearju karena sesaat sebelum bencana ini di mulai, ia sedang berjalan menuju ruang guru hingga akhirnya ia melihat seorang murid yang menggigit guru itu hingga akhirnya menjadi Zombie yang kemudian berjalan menyerangnya.

"Sampai saat ini, aku tidak tau interval waktu virus itu menyebar namun bisa di asumsikan kalau virus itu menyebar keseluruhan tubuh selama satu menit dan itupun tergantung dari kesadaran korban untuk menjaga akal sehatnya. Kembali lagi, ini hanyalah asumsiku." Ucap Sasuke kemudian Naruto menambahkan sesuatu.

"Dan juga sejak tadi aku tidak mendapatkan sinyal di ponsel ku. Ponsel ku yang gangguan atau kalian semua yah?" Semua orang saat ini tertuju pada Kuroka dan kemudian semuanya mengambil ponsel untuk mengecek apa yang di katakan Kuroka namun ternyata ucapan Kuroka benar adanya. Sinyal di ponsel mereka tidak ada dan beberapa orang tersadar akan nasib keluarga mereka mulai panik.

"Sudahlah! Sekarang pikirkan nasib diri kalian dulu. Kalian harus selamat bagaimanapun itu." Ujar Issei dan semuanya diam hingga akhirnya semua orang menatap Naruto.

"Sebenarnya mereka suka terhadap pria tampan seperti Sasu..." Sebelum Naruto menyelesaikan ucapannya sebuah telapak tangan menghantam kepala belakangnya hingga tertunduk.

"Bisa tidak kau berhenti bercanda!"

Setelah perdebatan itu, saat ini rombongan Naruto sudah berada di depan pintu ruang guru. Saat pintu ruangan terbuka, kondisi ruangan itu sangat berantakan dan yang membuat mereka putus asa adalah box kunci sudah berantakan.

"Sial, Berpencar dan Issei tutup pintunya. Kita harus mencari kunci itu sebelum matahari terbenam karena aku takut kalau penerangan akan membuat para Zombie dapat menemukan kita." Ucap Sasuke dan akhirnya disinilah mereka. Merangkak mencari kunci bus dan terkadang Issei dapat melihat pemandangan yang sangat indah hingga membuatnya Nosebleed. Mengapa tidak? Rok yang di pakai memiliki ukuran setidaknya 5cm di batas lutut dan itu dapat membuat Issei melihatnya.

"Bagaimana caranya mencari benda yang sama ukurannya dengan penghapus ujian dalam waktu yang sempit seperti ini?" Ujar Kuroka karena dirinya saat ini sedang mencari belum lagi dirinya merasakan pandangan mesum yang membuat bulu kuduknya merinding.

"Sudahlah Tojou-san, Kita lanjutkan saja mencari kunci itu dan maaf untuk yang tadi siang." Gabriel yang ada di samping Kuroka terus mencari di dalam sinar temaram mentari senja hingga akhirnya matahari terbenam seluruhnya namun tetap saja mereka belum mendapati barang yang di cari.

Gabriel menyeka keringat di keningnya dan ia pun merasa apa yang di katakan Kuroka ada benarnya. Namun, jika tidak di cari sama saja menunggu kematian menjemput dirinya dan teman-temannya namun ia tidak mau membuang-buang waktu dan menyampaikan isi pikirannya karena akan membuat teman-temannya mengalami Mental break down hingga membuat semua orang putus asa.

Para manusia yang tersisa di akademi ini terus mencari hingga sang raja malam menampakkan dirinya dan menerangi ruangan walau tak sanggup menerangi sudut-sudut ruangan itu. Walaupun begitu pemuda pemudi ini merasa terbantu dan terus mencari, semua orang tak terkecuali.

"Ayolah... Ku mohon!" Ucap Akeno, Gadis itu terus menerus mencari dan membongkar semua yang ada. Laci, Lemari, dan di sela-sela file yang ada di atas meja dengan satu tangan memegang ponselnya untuk penerangan.

"Mari kubantu, Akeno-chan." Sasuke yang ada disampingnya memegang ponsel Akeno dan ikut membantu gadis itu. Sebenarnya ini hanyalah alih-alih Sasuke karena ia terlalu malas untuk mencari kunci tersebut dan karena Akeno ada di dekatnya membuat pemuda bermarga Uchiha itu mendekatinya dengan alasan 'Membantu'.

Sedangkan Akeno, dadanya saat sedang berdebar dan jantungnya berpacu dengan cepat. Kenapa? Alasannya sangat simple karena Akeno mencintai Sasuke sejak mereka bertemu di sekolah menengah namun karena Sasuke sudah memiliki Sakura, ia mengurungkan niatnya.

"Andai kau tau jika aku mencintai mu, Sasuke-Kun." Gadis itu bergumam dengan suara yang sangat kecil, lebih seperti sedang berisik dan Akeno mengatakannya dengan sedikit rona merah pada wajahnya.

"Um? Apa kau mengatakan sesuatu, Akeno-chan?" Tanya Sasuke dengan tampang tidak ada dosa atau bisa di bilang dengan wajahnya yang seperti biasanya.

"Ba... Bakaaa!" Ucap Akeno dan gadis itu melanjutkan pencariannya sedangkan Sasuke saat ini sedang Facepalm. Sebelumnya Akeno bergumam dan mengatakan sesuatu dan saat ia bertanya, gadis itu malah berteriak padanya.

'Sungguh, aku tidak tau apa yang terjadi.'

...

...

Di lain tempat, beberapa orang saat ini sedang memukul para zombie dengan peralatan seadanya berubah tongkat kayu dari alat pel yang di pakai, lalu sebuah Bokken dan juga Emergency Axe yang mereka dapatkan di sekitar sekolah mereka.

"Tobio-kun, apa kita sudah siap aman?" Tanya seorang gadis berambut pirang dengan hiasan berupa jepit rambut berwarna biru. Pakaian mereka bercampur dengan noda darah dan di antara mereka ada dua orang yang pemuda yang memegang tongkat dan juga Emergency Axe.

"Tidak apa, Reni-chan. Walaupun di dunia ini tidak ada tempat aman kita akan berkumpul lagi dengan teman-teman kita." Ucap seorang pemuda yang memiliki rambut berwarna hitam seperti kebanyakan orang Asia Tenggara.

"Juan... Ah Maksudku, Kaito-kun ada benarnya. Kita akan bertemu dengan sosok kakak angkat mu dan aku juga ingin bertemu dengan adik kesayanganku." Ucap pemuda yang satunya lagi. Parasnya sangat tampan dengan rambut blonde alami yang sedang membayangkan memeluk adik perempuannya.

"Cih... Ayo kita lanjutkan dan kita harus bertemu dengan teman-teman kita, Tinggalkan saja si Siscon itu."

Gadis itu Lavinia Reni sedang tersenyum melihat perdebatan antara kedua senpainya yang berasal dari kelas 3-4. Dirinya, Tobio dan para senpainya berasal dari sekolah menengah yang sama dan disanalah ia bertemu seseorang yang menganggapnya adik.

Dirinya masih ingat saat ia pindah sekolah dan selalu di bully perempuan di kelasnya hingga membuat dirinya putus asa. Semua orang selalu memanggilnya dengan sebutan Kaijin atau orang asing karena warna rambutnya hingga pada suatu hari saat ia menangis di bawah pohon saat istirahat makan siang seseorang mendengarkan curhatnya.

Semua kenangan buruk itu merasuki kedalam dirinya dan terus menerus merusaknya. Cacian dan makian membuatnya stress.

"Hei, dia murid baru itu kan?"

"Kenapa sekolah kita menerima Kaijin sepertinya."

"Apa jadinya jika sekolah lain tau kalau sekolah kita menerima Kaijin sepertinya."

"Berisik! Kalian mengganggu tidurku!"

Dengan gentakkan seseorang, para pembully itu pergi dan meninggalkan Lavinia sendirian. Dalam tangisnya, ia menjatuhkan bekalnya dan menangis dalam diam dengan mata tertutup. Tanpa menyadari jika Naruto berjalan dan berbaring di sampingnya. Lavinia meletakkan kedua tangannya di depan dadanya dan rasa sakit yang membuatnya terhanyut dalam lautan luka yang teramat dalam. Dalam tangisnya ia berfikir kenapa ia terlahir berbeda dengan orang-orang jepang pada umumnya.

"Jika jadinya seperti ini... Aku berharap... Untuk tidak pernah di lahirkan ke dunia!" Ucapnya dalam tangis semua itu ia limpahkan saat itu juga.

"Kenapa... Kenapa tuhan, Kenapa? Semua orang mencaciku... Semua orang menjauhiku... Semua orang menghinaku."

"Kenapa... Ke-kenapa Tuhan, rasanya sangat sakit! Rasanya sangat sakit disini.." Semakin lama, semakin gadis itu terhanyut kedalam lukanya dan Naruto terus menerus mendengarkan keluhan gadis di sampingnya.

"Aku... Aku tidak mau hidup lebih lama lagi! Sudah cukup! Sudah cukup semua yang kurasakan! Aku tidak mau lagi!" Dengan santainya Naruto terus mendengarkan keluh kesah orang disampingnya dan pemuda itu mengambil rumput yang ada disampingnya dan menyesap ujung putih rumput itu yang terasa manis.

"Pe-percuma saja... Aku pindah... Dari sekolah lain... Terus menerus... Tapi kenapa? Kenapa semua orang membenci ku!" Ucap Lavinia dan kemudian suara seseorang memasuki pendengarannya yang ia anggap hanya halusinasinya.

"Aku tidak membencimu."

"Se... Semuanya membenciku tanpa terkecuali dan tidak ada yang mengharapkanku!"

"Semua itu hanyalah omong kosong! Aku tidak membencimu."

"Ta... Tapi aku tidak punya teman!"

"Kau punya seorang teman kok. Tenang saja."

"Si... Siapa?" Tanya Lavinia dengan mata yang masih tertutup.

"Aku."

"Tuhan, apa aku saat ini sedang berhalusinasi?"

"Hahahaha... Kau sungguh lucu, Kouhai!"

Merasa aneh dengan suara tawa seseorang di sampingnya Lavinia membuka kedua matanya dan mendapati seorang pemuda bersurai pirang yang sedang tertawa dalam posisi berbaring. Awalnya ia mengira jika dirinya berhalusinasi namun sekarang ia sadar jika semua itu nyata saat menyadari orang yang ada dalam khayalnya nyata.

'Jadi, sedari tadi dia?' di tengah tangisannya, wajah gadis itu bersemu merah saat tau kalau semua keluh kesahnya pada tuhan terdengar orang di sampingnya.

"Kau mempunyai teman, Kouhai-kun. Aku temanmu." Ujar Naruto yang saat ini sedang menikmati semilir angin di bawah pohon rindang di tengah musim semi.

"Aku tidak pernah membencimu, Kouhai-kun. Aku yakin di luar sana banyak orang yang tidak membenci kekurangan mu. Hanya karena kita berbeda tidak membuat kita menjadi terbuang dan lagian jika kau berbeda berarti kau spesial. Di luar sana, Aku yakin tidak ada orang yang memandang kekuranganmu dan ingin menjadi temanmu. Aku juga orang yang bodoh, tidak bisa di andalkan, konyol dan juga orang-orang selalu membully ku namun pada akhirnya aku tidak menghiraukan perkataan mereka. Aku selalu mengikuti apa yang ku mau dan selalu menjadi yang terbaik bagi diriku sendiri..." Naruto bangkit dari posisinya dan kemudian duduk di samping Lavinia dan dengan senyumannya ia berkata.

"Mereka selalu bilang jika diriku ini bodoh, berandalan, tidak berguna. Namun apa kau tau apa yang kulakukan? Aku tetap melangkah maju dan aku tetap menjadi diriku sendiri. Aku tetap melindungi apa yang berharga bagiku dan aku tidak pernah menyerah pada keinginanku. Walaupun terdengar egois dan juga keras kepala, aku akhirnya mendapatkan teman. Teman yang mau mengakui ku sebagai temannya."

"Teman yang mau mengakui ku sebagai temannya?"

"Ya, kau benar Kouhai-kun... Teman adalah salah satu alasanku untuk tetap berdiri selain keluargaku. Melindungi mereka, Melindungi teman-teman yang berharga bagiku adalah alasan bagiku untuk tidak pernah menyerah. Walaupun aku seperti ini, aku yakin kalau diluar sana masih ada yang menyayangi ku dan itu berlaku padamu juga, Kouhai-kun."

"A... Aku?"

"Percayalah... Percayalah bahwa masih ada yang menyayangimu, Kouhai-kun." Ujar Naruto dengan senyuman di wajahnya, senyuman yang dapat menguatkan hati gadis di depannya ini.

Lavinia saat itu seketika teringat akan keluarganya. Ayahnya yang sangat menyayanginya dan ibunya yang selalu menjadi tempatnya bercerita. Ayahnya yang tidak ingin melihat putri kecilnya selalu bersedih karena cacian karena berbeda memindahkan anaknya dari satu sekolah ke sekolah lain hanya untuk melihat anaknya bahagia. Ibunya yang selalu mendengar curahan hari Lavinia pun menyayanginya dan akhirnya ia dapat bangkit dari keterpurukkannya.

Dan air mata tak hentinya mengalir, kali ini bukan air mata kesedihan melainkan kebahagiaan mengingat semua kasih sayang orangtuanya dan juga kali ini salah seorang senpai nya ingin menjadi temannya.

"Seberat apapun kehidupanmu jangan pernah menyerah, Lavinia. Semua orang punya kekurangannya masing-masing dan semua orang punya kelebihannya juga. Mari ku kenalankan pada teman-teman ku."

Dengan begitu, Lavinia Reni dapat merasakan sesuatu yang di sebut teman. Dan karenanya untuk bertemu dengan orang yang sudah menganggapnya adik maka ia harus terus bangkit.

"Tunggu kami, Naruto-nii"

...

...

"Ketemu!" Teriak Tearju dan semua orang akhirnya menghentikan pencariannya saat melihat sebuah kunci berwarna kuning dengan sebuah gantungan yang seperti dompet, sepertinya itu adalah wadah surat kepemilikan kendaraan.

"Hufft.. Akhirnya ketemu." Ujar Gabriel, gadis itu menyeka keringat dari dahinya dan kemudian duduk di lantai.

"Akhirnya ketemu juga..." Akeno yang mendengarnya langsung terduduk di kursi ruang guru dan membersihkan pakaiannya dari kotoran.

"Lalu Tearju-sensei, dimana letak bis nya?" Tanya Rias dan kemudian Tearju menjelaskan kalau bus itu ada di bagian belakang sekolah dan tak jauh dari area parkir ada gerbang yang hanya di lalui oleh para guru.

Mendengar hal itu, Gabriel mengambil Emergency Axe di samping pintu masuk dan memberikannya pada Naruto. Kuroka mulai bersiap dengan Yumi dan semua anak panah nya, Issei dan juga Sasuke dengan Katana dan para gadis yang memegang pemukul baseball dan juga sickle.

Semua orang sudah bersiap sampai mereka mendengar suara pintu masuk yang di dobrak para mayat hidup. Dengan percaya diri, Naruto memimpin teman-temannya untuk tetap hidup dan terus berjalan maju. Bersama dan tak meninggalkan seorangpun.

"Ikuze, Minna!"

...

...