Shiroyukki Present
...
...
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.
...
...
Summary :
Ilmu pengetahuan adalah akar dari masalah yang terjadi. Kegilaan tak ada hentinya menghiasi hari-hari anak SMA di jantung negara matahari terbit. Apakah mereka berhasil bertahan hidup di saat jutaan mayat hidup menghadang jalan mereka?
...
...
#StayAtHome
...
...
Chapter 4 : Escape From The Dead
Di ruangan yang serba putih, berdiri seseorang berperawakan besar dan tegap berambut panjang yang berwarna hitam. Orang itu hanya sendiri di ruangan putih bersih tersebut. Kedua tangan kanannya lihai memainkan keyboard dari 3 komputer yang sepertinya di jadikan 1 server. Matanya tajam mengikuti setiap pergerakan grafik dan angka yang terpampang di layar komputer. Wajahnya kian serius saat salah satu layar dari komputer tersebut memperlihatkan gerak grafik yang naik-turun tidak beraturan. Sejenak tangannya berhenti, mencoba memikirkan sesuatu untuk memeriksa apa yang membuat grafik tersebut naik-turun. Setelahnya, kelihaian kedua tangan pria itu kembali menjajaki setiap pad yang ada di keyboard tersebut. Jemari-jemarinya sangat lihai memasukkan setiap input data ke komputer yang sedari tadi ia perhatikan dengan seksama.
Ruangan yang serba putih ini, terdapat banyak sekali peralatan-peralatan canggih yang di gunakan untuk orang sekelas profesor. Banyak kabel-kabel disana-sini dengan ukuran yang bermacam-macam, ada yang kecil sekecil kabel headset ponsel, ada juga yang besar seukuran kabel charger accu. Di ruangan ini juga dapat ditemukan beberapa lemari pendingin berukuran kecil seperti oven pemanggang dan di dalam lemari tersebut terlihat beberapa tabung-tabung kecil berisi cairan kimia. Ada juga satu meja yang terlihat seperti meja operasi yang letaknya di tengah-tengah ruangan ini dengan berbagai macam alat di sekitarnya. Segala sesuatu yang ada disini membuat ruangan serba putih tersebut terlihat seperti sebuah lab saja.
Kembali ke pria tadi, saat ini mengenakan jas kerja putih yang biasa di gunakan peneliti dan profesor. Tangannya yang masih setia mengetik untuk memberikan segala input data yang diperlukan juga terbungkus oleh sarung tangan karet yang berwarna putih dan tipis. Beberapa saat kemudian, ketiga komputer berkedip-kedip disertai munculnya kata Error di monitor tengah. Kesalahan yang sepertinya bukan dari error system komputer, Membuat pria itu langsung menghentikan aktivitas jemari tangannya. Sebuah suara helaan nafas berat terdengar dari pria berjas putih panjang ini.
"Begitu rupanya.." Gumamnya pelan entah pada siapa.
Dia berjalan pelan mendekati sesuatu yang nampak seperti brankas di atas sebuah meja. Jari tangan yang masih terbungkus oleh sarung tangan karet bergerak memencet layar kunci yang ada di brankas tersebut, seperti memasukkan sekelompok kode untuk membukanya. Setelah selesai memasukkan password yang diperlukan, pria itu mengambil sesuatu dari sana. Dia terlihat sedang memegang sebuah tabung kecil seukuran jempol orang dewasa, di dalam tabung tersebut berisi cairan bening berwarna hijau yang entah cairan apakah yang ada didalamnya.
"Jadi selama ini percuma saja aku buat salinan yang lebih sempurna, ternyata memang harus digabungkan dengan milik-'Nya'."
...
...
Malam musim semi saat ini agak lebih dingin dari biasanya, entah karena memang terjadi pergesekkan rute angin di atas langit sana, atau karena kondisi kota Tokyo yang telah mati tanpa aktivitas apapun seperti biasanya. Tapi yang pasti membuat suasana saat ini semakin terasa mencekam di kala para mayat-mayat hidup berkeliaran berjalan tak tentu arah di jalanan Tokyo. Namun berbeda bila melihat sebuah sekolahan yang cukup terkenal di kota ini. Sekolah tingkatan menengah atas yang terletak di bagian selatan kota Tokyo dan bisa dilihat disana, tepatnya di lantai dua gedung C. Beberapa orang sedang berlari dengan beberapa peralatan di tangan mereka seraya Membersihkan koridor tersebut dari makhluk aneh yang tepatnya adalah mayat hidup.
Kapak milik pemuda berambut kuning yang mememipin rombongan tersebut telah puluhan kali beradu dengan kepala mayat hidup itu seakan tak kenal lelah membabar gerombolan mayat hidup. Darah merah kehitaman yang masih basah terlihat setia berada di bagian tumpul dan tajam kapak yang di bawanya dan beberapa cipratan darah berada di seragam miliknya. Saat ada satu yang berhasil bangkit dari arah samping, seseorang yang menggunakan katana menebas para monster dan juga dari arah belakang para gadis melindungi diri mereka dengan pemukul baseball. Darah membasahi semua pakaian yang mereka gunakan dan juga bau khas darah yang menyengat bersatu dengan keringat mereka.
Formasi yang mereka pakai adalah 2-4. Dua orang yang masing-masing melindungi arah mata angin. Naruto dan Kuroka yang membawa Yumi berada di bagian depan, Issei dan Akeno berada di sayap kanan dan di sayap kiri di isi Gabriel dan juga Rias, terakhir di bagian belakang ada Sasuke dan Shikamaru laluTearju ada di bagian tengah karena Tearju bagaikan Medic di medan perang. Kerja sama kelompok yang solid membuat tenaga yang keluar dapat di minimalisir dengan Kuroka yang menembakkan Yumi dengan akurat dan juga Naruto yang membabat habis musuh yang mendekat membuat perjalanan menuju lahan parkir menjadi lebih cepat.
"Minna, berhati-hatilah. Jangan sampai terpisah dari formasi." Ucap Naruto yang berada di depan. Kedua kakinya terus berlari dan tangannya sedang memukulkan sisi tumpul Emergency Axe secara horizontal senjatanya kearah dua makhluk yang menyerangnya sekaligus. Dan hasilnya adalah terhempasnya kedua makhluk itu membentur tembok secara bersamaan dengan darah yang bermuncratan keluar dari kepala mereka.
"Itulah yang kami coba lakukan, Naruto." Ucap seorang gadis berambut merah Crimson bernama Rias Gremory yang sedang merunduk menghindari terkaman makhluk yang ada di samping regu. Dengan sontekkan keras Rias menghujamkan tongkat yang digenggamnya kearah tenggorokan makhluk itu dari bawah.
Jlebb...
Serangannya tepat sasaran dan menembus masuk ke tenggorokan makhluk itu. Tak sampai disitu, dengan cepat ia menendang dada Zombie itu hingga terpental jatuh membentur dinding. Walau darah mengalir deras melalui tenggorokan yang telah hancur berlubang, makhluk itu tetap mampu untuk berdiri kembali melihat Rias dan yang lainnya telah berlari jauh. Mereka terus berlari menembus gelapnya lorong sekolah, dengan senjata seadanya mereka berusaha melindungi diri dan juga rekan mereka dari serangan ataupun gigitan dari mayat itu. Hingga sampailah mereka di ujung koridor, sebelum mereka semua turun menuju lantai satu Naruto menghentikan langkahnya dan ia memberikan kode dengan kepalan tangan yang terangkat ke atas.
"Ada apa Naruto? Kenapa kita berhenti?." Tanya Rias dengan suara pelan agar tidak terdengar para mayat hidup di lantai satu. yang lain juga memasang raut wajah bingung kecuali Sasuke yang masih memasang wajah datarnya.
Naruto memilih untuk mengambil nafas terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Rias. Tentu saja berlarian melintasi lorong-lorong panjang dan menuruni tangga dari lantai tiga kemudian mengeluarkan tenaga untuk menghempaskan kepala-kepala makhluk itu, Membuat oksigen di paru-parunya kian menipis dengan stamina yang telah berkurang banyak. Sama seperti Naruto, yang lain juga terengah-engah menghirup nafas sebanyak yang mereka bisa. Apa yang mereka lakukan saat ini membuat keheningan di tengah malam yang hanya menyisakan suara langkah dari para mayat berjalan di seluruh bagian akademi. Naruto memandangi mereka dengan intens sambil menunggu deru detak jantungnya mereda dan kembali normal setelah berlarian panjang.
"Aku... belajar sesuatu sekarang. Aku menyadarinya sejak kita berlarian tadi." Kata Naruto dengan suara yang pelan. Anggota kelompoknya terlihat terkejut dengan perkataan dari Naruto barusan kecuali Sasuke yang hanya melirik sahabatnya dengan wajah datar. Pasalnya mereka mengenal Naruto, adalah seorang yang bodoh dan tak bisa diandalkan. Namun justru kali ini Naruto mengatakan bahwa ia telah belajar sesuatu dari mereka? Sungguh mereka mengira Naruto hanya akan mengatakan hal konyol lagi nanti, seperti saat di lantai tiga waktu itu.
"Menyadari sesuatu?" Tanya Akeno yang ada di belakang Naruto. Lebih tepatnya berada di atas Naruto, karena mereka saat ini mereka sedang duduk di pertengahan tangga sekolah.
"Ya..." Jawabnya singkat.
"Kau menyadari apa, Naruto?" Kini Shikamaru yang bertanya tanpa memanggil Naruto. Dirinya lelah membuat pemuda itu tidak dapat memperhatikan detail-detail kecil yang ada di sekitarnya.
"Menurut perkiraanku, mereka tak bisa melihat kita dengan jelas di malam hari... Tidak! lebih tepatnya di kegelapan. Karna sedari tadi tak semua dari mereka yang menyerang, Juga serangan mereka tidak seagresif saat siang." Jelas panjang lebar Naruto
"Koreksi perkiraanku tadi, Sasuke." Imbuhnya lagi. Sasuke yang ditunjuk sebagai pengoreksi penjelasan dari Naruto hanya memejamkan mata. Selama beberapa detik pikirannya terbang jauh hingga akhirnya matanya terbuka.
"Menurutku juga begitu, Pola serang Mereka tampak berbeda saat di siang hari." Jelas Sasuke yang sependapat dengan Naruto.
"Sejauh yang kulihat, mereka serasa seperti menerawang. Mereka berjarak dekat dengan kita langsung menyerang secara frontal. Namun yang jauh hanya mendekat dibantu oleh indra pendengaran mereka." Sekarang giliran Shikamaru yang mengeluarkan pendapatnya dan di hadapan pemuda itu, Naruto masih dalam mode siaga melihat ke arah koridor lantai satu.
"Itu mungkin disebabkan oleh rusaknya kornea dan otot siliaris mata mereka. Membuat pandangan mereka tidak jelas di kegelapan." Lanjutnya lagi. Mencoba menjelaskan lebih rinci pada timnya dan karenanya ia tidak pernah mendapati para mayat hidup itu menyerang mereka kecuali mereka membuat suara.
Saat ini semua orang sedang mencerna semua informasi yang di sampaikan oleh tiga orang itu tak terkecuali Issei yang menunjukkan wajah bodohnya. Saat semua orang sedang mencerna penjelasan dari ketiga pemuda itu, Naruto mulai mengeratkan kembali genggamannya pada Kapak yang sedari tadi ia jadikan senjata untuk membantai gerombolan mayat hidup itu.
"Baiklah... bersiap semuanya!." Ujar Naruto dengan suara pelan namun sangat tegas. Sasuke, Shikamaru, Issei, Gabriel, Akeno, Rias dan Tearju-sensei yang tadinya duduk beringkuk, kini kembali berdiri dan bersiap dengan senjata yang mereka punya. Semua orang bersiap dan saat komando dari pemuda kuning di bagian depan itu sudah siap mereka mulai bergerak.
"Ikuze..!"
Dengan itu, Naruto segera menuruni anak tangga yang tersisa diikuti anggota timnya di belakang dengan cepat.
Buagh..!
Naruto menghantamkan kapaknya ke salah satu makhluk-makhluk itu. Sasuke juga tak kalah cepat dalam melumpuhkan mereka satu per satu. Akan tetapi mereka tampak kewalahan saat telah mencapai di titik koridor sekolah, karena disini sangat banyak yang berkumpul. Mereka tak bisa berlari lagi, sama seperti di lantai dua tadi. Mereka hanya bisa berjalan agak sedikit lebih cepat. Walau begitu Naruto tetap tidak menyerah, Naruto sekuat tenaga mencoba membuka jalan untuk regunya agar segera sampai di ujung pintu koridor sekolah.
Bugh... Slash... Jrashh...
Suara yang ditimbulkan dari senjata mereka yang berbenturan dengan kepala mayat-mayat kelaparan itu seolah menjadi alunan merdu di malam mencekam kota Tokyo. Tebasan, tusukan, hantaman, membabat habis mayat hidup itu tanpa kenal lelah. Tak kunjung merasa lelah, Naruto terus melancarkan serangannya sekuat tenaga pada mereka. Dengan segenap raga ia melindungi teman-temannya yang saat ini sangat berharga baginya, karena mustahil masih ada yang selamat di sekolah ini. Dia tak akan pernah membiarkan teman-temannya terluka, tidak akan pernah dan sampai kapanpun itu.
Tiba-tiba ada sebuah kepala melayang di hadapan Gabriel dan kedua mata gadis itu mengikuti dari mana arah kepala itu. Saat kedua matanya bertemu siluet seseorang ia terkejut, Naruto sedang berdiri dengan bertumpu pada lututnya dan yang parah adalah seluruh tubuhnya bermandikan darah. Tanpa di duga ada dua Zombie yang mendekat dari arah depan Naruto namun seseorang berhasil memotong kepala Zombie itu hingga terjatuh dari lehernya.
"Tidak usah memaksakan dirimu. Kita harus terus bersama bukan?"
Buaaggk..!
Serangan yang sangat keras Naruto lancarkan hingga kepala mayat hidup tersebut remuk dengan darah yang menuncrat setelahnya.
"Heh, siapa yang memaksakan diri? Aku hanya menarik nafasku saja." Ucapnya dan semua orang yang melihat Naruto hanya tersenyum, di tengah kekacauan ini hanya Naruto yang bisa menyatukan semua orang. Mengesampingkan sifatnya yang terkadang konyol, semua orang menaruh rasa hormat pada pemuda itu.
Perjalanan di lanjutkan hingga akhirnya mereka sampai di bagian pintu masuk, tepatnya loker penyimpanan sepatu. Disana terdapat banyak sekali Zombie yang berlalu lalang membuat semua orang berhenti saat Naruto memberikan komando.
"Dengar! Para mayat hidup itu terlalu banyak dan jika kita bertarung dengan mereka, kita akan mati konyol. Merangkaklah dan usahakan tidak mengeluarkan suara. Issei, kau bisa menjadi yang pertama mencoba. Jangan khawatir mereka semua rabun saat malam hari." Percaya dengan ucapan Naruto, Issei merangkak dengan hati-hati di lanjutkan Tearju-sensei dan para gadis hingga menyisakan Naruto seorang.
Saat Naruto mulai mencoba berjalan sinar bulan menyinari tubuhnya dan membuat dua Zombie di dekatnya menyerangnya. Tak mau mati, Naruto menghantamkan sisi tumpul kapaknya dan berhasil membunuh satu hingga cairan otaknya keluar. Berhasil menjatuhkan satu, tapi masih tersisa satu lagi di samping kirinya. Menerjang pemuda blonde itu dengan cepat, hingga Naruto tak bisa berkutik karena makhluk itu berhasil menangkapnya. Makhluk itu coba menggit ke arah lehernya, Namun masih bisa ia tahan dengan tangan kirinya yang memegang dagu makhluk itu. Naruto bisa merasakan betapa busuknya nafas makhluk ini saat giginya terbuka dan menutup secara terus-menerus seperti ingin menggigit Naruto. Merasa terdesak, Naruto jatuhkan kapaknya ke lantai. Dengan tangan kanan yang kosong, segera ia eratkan pegangan tangan kirinya yang memegang dagu makhluk tersebut lalu dengan cepat memelintir kepalanya hingga terdengar suara tulang yang patah.
Krak...
Lantai sekolah seketika berlumuran darah akibat kepala yang bocor setelah meluncur dari atas ke bawah dengan cepat, Membuat makhluk itu tewas terkapar seketika. Tak lama setelah itu, Naruto mengambil kapaknya dan merangkak dengan cepat menuju pintu keluar hingga pemuda itu sadar yang ia dapati hanyalah kekosongan. Hingga ia mendapati temannya bersembunyi di rumput penghias halaman.
"Kenapa kau lama sekali?" Tanya Issei dan Naruto mengeluh karena ia tiba-tiba di serang dua Zombie yang sadar akan keberadaannya. Sedangkan Gabriel merasa jika Naruto yang sekarang sedikit berbeda dari Naruto yang biasanya, mungkin karena pandemi ini. Yah, mungkin saja.
...
...
Rias POV
Kami sudah sampai di bagian luar gedung dan saat ini kami bersembunyi di balik tanaman sekolah. Jumblah para mayat hidup itu semakin lama semakin banyak saja! Jika terus seperti ini, akan sangat sulit untuk meninggalkan sekolah ini. Aku tau semua orang ini adalah temanku namun rasanya aku hanyalah beban, Tojou-san bisa melindungi dirinya dengan Yumi dan Gabriel serta Akeno memiliki dasar bela diri jadi mereka bisa bertahan sedikit lebih lama jika tertinggal namun aku? Tanpa dasar bela diri dan juga keahlian akan suatu hal bisa bersama dengan mereka semua adalah suatu anugerah bagiku.
Entah berapa kali diriku menyeka peluh yang mengalir melalui pelipisku, turun mencapai dagu dan jatuh membasahi lantai paling di Highschool of the Dead ini. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju lahan parkir sekolah, tentunya dengan merangkak. Di bawah sinar rembulan, kami bergerak menghindari beberapa mayat hidup yang terus menerus membeludak.
"Aagh.."
Teriakan kecil keluar dari mulutku saat dengkul ku mengenai sisi tajam bagian paving Hingga membuat teman-temanku bertanya keadaanku. Malu? Tentu saja, di saat-saat seperti ini kami harus selalu kuat agar tetap hidup tak terkecuali diriku. Aku harus terus bertambah kuat dan menyamai yang lainnya setidaknya seperti Akeno dan Gabriel agar meringankan beban para pria.
Perjalanan kami terhenti saat mendapati bagian dari tanaman itu terpisah karena itu adalah jalan menuju kantin. Salah seorang dari kami mencoba mengecek dan kemudian Issei berjalan dengan lancar dan sukses sampai di bagian aman. Kami harus bergantian agar tidak menjadi santapan para Zombie, satu persatu pergi menuju sisi lain menyisakan diriku. Saat sampai giliranku, aku merangkak dengan cepat dan salah satu dari Zombie di sampingku menyadari keberadaanku. Aku sangat panik saat mendapati bahwa tanganku gemetaran sampai tak kuat untuk melangkah. Sesaat kemudian aku sadar, makhluk itu mencoba menancapkan giginya pada tubuhku.
Pasrah! Aku pasrah! Jika saja aku mati, beban teman-temanku akan sedikit ringan dan akupun menutup mataku karena refleks dari otakku. Tiba-tiba sebuah suara keras menyadarkanku.
Slashhh...
Suara yang hampir sama seperti sebuah tebasan benda tajam yang mengayun di depanmu. Saat kurasa tak ada yang menyentuhku, aku membuka mata untuk melihat keadaan. Pertama kali yang kulihat adalah seorang pemuda dengan wajah bersimbah darah dengan katana yang bersinar di bawah cahaya rembulan.
"Ayo cepat, Rias!"
Untuk pertama kalinya setelah sadar, aku mendengar suara yang sangat familiar di telingaku. Menolehkan kepalaku dapat ku lihat Gabriel dan yang lainnya menunggu diriku. Dalam pandanganku, semua serasa lambat hingga akhirnya cahaya rembulan menampakkan diriku dan juga Issei hingga semua zombie menyerang kami.
'Oh tidaakk!.' Jeritku dalam hati. Segera ku berlari bersama dengan Issei dan yang lainnya. Kami berlari terus berlari hingga sampai di sebuah koridor kecil yang menghubungkan antar gedung dan dalam pelarian kami, Tojou-san tersandung.
"Tojou-san..!" Teriakku sambil berlari kearahnya dengan tanganku yang berusaha menggapainya. Wajahku menegang seketika saat gigi mereka berhasil menggigit sesuatu. Ya... sesuatu, di detik berikutnya aku tersadar bahwa apa yang mereka gigit adalah sebuah tongkat kayu yang menjadi pegangan kapak milik Naruto.
"N-Naruto..." Gumamku dengan pandangan kosong ke arah sahabat kuningku yang saat ini menatap kedua mayat hidup yang mencoba melukai Kuroka.
"Tak akan.. Tak akan pernah kubiarkan kalian melukai teman-temanku."
Sedetik setelah Naruto mengatakan itu, ia menghempaskan kapaknya sekuat tenaga hingga membuat kedua makhluk itu terhempas juga kebelakang.
...
...
Normal POV
"Rias..!"
Narutopun memanggil Rias sesaat setelah menghempaskan kedua mayat hidup yang ingin mencoba melukai Kuroka. Rias yang hanya tinggal tiga langkah kaki lagi dari posisi semula, segera kembali dan memukulkan pemukul baseball ke kepala makhluk yang menyerang Kuroka. Para zombie yang kembali menyerang Kuroka di hadiah sebuah pukulan pada bagian kepalanya hingga membuat Rias terjatuh karena tidak biasa mengerahkan semua tenanganya.
"Ayo kita harus menyusul yang lain, Tojou-san!" Mereka berdua berlari lagi dan akhirnya sampai di lapangan parkir para guru. Gabriel, Sasuke, Akeno, Shikamaru, Issei, dan juga Tearju-sensei semua selamat tanpa ada yang terpisah ataupun terluka.
'Aku... Aku... Tidak akan pernah menyamai Akeno dan Gabriel.' Pikir Rias saat melihat Akeno dan Gabriel sedang bersandar di badan bus dengan pakaian yang memiliki noda berwarna merah.
"Akhirnya kau sampai, Rias!" Gadis itu mengalihkan pandangannya dan terkejut melihat Issei yang sedang tersenyum padanya. Seulas senyum tipis perpatri di wajah cantik gadis itu saat mengingat masa lalunya, Saat Issei dengan pantang menyerah melindunginya seorang diri dan dengan senyuman yang membuat Rias menghangat pemuda itu berkata...
"Kita akan semakin kuat saat melindungi seseorang yang berharga bagi kita dan karena itulah Rias... Kau adalah orang yang berharga bagiku!"
...
...
Naruto saat ini sedang bergelut dengan para mayat hidup yang sedang mencoba untuk melahapnya. Rias dan Kuroka sudah pergi meninggalkan dirinya sendiri, walaupun terlihat kejam namun kenyataannya dengan adanya dua orang itu membuat pikiran Naruto tidak bisa fokus pada targetnya. Dengan kapal di tangannya, Hamtaman dan juga tebasan mengoyak satu per satu kepala para zombie yang menghalangi jalurnya. Dirinya bergegas saat melihat gerombolan Zombie mulai mendekat ke arahnya dan berlari ke arah lahan parkir.
"Naruto!" Rasa syukur teman-temannya saat melihat Naruto masih selamat terlihat dari wajah mereka namun seketika perasaan syukur itu menghilang kala melihat gerombolan Zombie mengikuti Naruto dari arah belakang. Walaupun tidak bisa melihat, para Zombie yang masih dapat mendengar mengikuti suara pertarungan Naruto sebelumnya dan akhirnya puluhan bahkan ratusan Zombie yang terdiri dari pelajar dan juga pengajar mulai berlarian mengejar Naruto.
"Itu..." Gabriel tidak dapat berkata apa-apa dan kemudian ia tersadar kalau keadaan mereka saat ini sangat genting.
"Semuanya masuk kedalam bus, Sekarang!" Mendengar perkataan Gabriel semua orang tersadar dan mulai memasuki bus yang sudah terbuka. Peralatan, Tas yang berisi makanan maupun obat-obatan sudah masuk dan mereka taruh ke bagian belakang.
"Grwaahh.."
Beralih ke Naruto, Disampingnya satu Zombie mengagetkan dirinya dengan mencengkram Blazer miliknya. Hampir saja ia terkena gigitan kalau saja ia tidak bergerak cepat untuk melepas Blazernya dan terus berlari. Dalam pandangannya, semua orang sedang masuk kedalam bus dan sebuah senyum terpatri di wajahnya.
Buuggh..!
Darah berwarna merah kehitaman sedikit terciprat keleher Issei. Tatapan terkejutnya belum juga mereda saat sebilah tongkat pemukul melintas di atas bahu dan jaraknya sangat tipis dengan leher Naruto. Tongkat tersebut adalah tongkat milik Rias yang berhasil menyelamatkan Issei dari kecupan Kiss Maek wanita agresif tersebut.
"...tch!"
Decihnya singkat yang dibalas senyum kecil dari Rias. Bagaimana pun juga, pertolongan dari Rias tadi hampir membahayakannya. Berterima kasihlah pada reflek cepat Issei yang sudah terlatih karena pertarungan demi pertarungan yang ia hadapi dan karenanya instingnya membuat kepalanya sedikit miring kekanan. Itu tadi hampir saja mematahkan lehernya bila Naruto tak memiliki reflek yang bagus. Rias dan Issei saat ini sedang Duet mengahalau Zombie yang mendekat dari sisi belakang maupun depan mereka, Keduanya saling melindungi punggung masing-masing.
"Minna! Cepat masuk." Ujar Gabriel yang berada di pintu masuk dan dengan cepat Rias juga Issei masuk kedalam bus tersebut.
"Cepat tutup pintunya!" Teriakan Naruto membuat Zombie yang ada di sekitar bus menolehkan kepalanya ke arah pemuda blonde itu. Sambil memukul satu per satu mayat hidup yang ada di depannya, pemuda itu terus berlari di bawah cahaya rembulan.
"Ha'i, Naruto-kun!" Ucap Rias dan kemudian gadis itu menutup pintu masuk bus tersebut dan menguncinya.
Shikamaru telah duduk di kursi kemudi dan mulai menghidupkan mesin bus yang mereka naiki. Tindakan Shikamaru membuat Gabriel menautkan kedua alisnya karena bingung, pasalnya Naruto masih ada di luar sana.
"Shikamaru, kenapa kau duduk disitu?!" Tanya Akeno dengan tatapan tajamnya kearah Shikamaru yang kini telah memegang stir kemudi.
"Ehehe... etto... karna aku ingin." Jawabnya asal sambil memasang tampang tak berdosa kearah Akeno.
"Kau ini! Bukan saatnya main-main Shikamaru."
"Sudahlah, tak masalah. Asalkan kita bisa cepat keluar dari sini." Sahut Tearju tenang sambil menepuk bahu Akeno. Karena senseinya yang bilang begitu, ia terpaksa diam dan menurut.
Saat akan masuk keminibus, tiba-tiba saja Naruto menghentikan gerak tubuhnya dengan tangan menahan engsel pintu bis itu. Raut wajahnya mengeras dengan gemelatuk gigi yang terdengar jelas.
"Ayo jalan, Nara-san." Ucap Tearju namun pedal gas itu belum di injak Shikamaru karena melihat Naruto masih berada di engsel pintu.
"Tunggu dulu! Naruto masih di luar-"
"Kalian pergilah dulu.."
Kalimat Rias langsung dipotong oleh pemuda yang ia maksud. Yang lain terkejut mendengar kalimat Naruto, tak terkecuali Gabriel yang kini diam mematung. Dirinya mencoba mencerna apa yang barusan dikatakan oleh orang yang di cintainya sejak masih ada di taman kanak-kanak.
"Sasuke... tuntun mereka." Ujar Naruto sambil tersenyum menatap Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya menautkan alisnya bingung dengan ucapan Naruto. Ia memang tahu arti kata-kata dari Naruto barusan, yang tidak ia mengerti adalah...
'Apa yang akan si bodoh ini lakukan?'
Gabriel yang sedari tadi terdiam kini mengerti kemana arah pembicaraan Naruto.
"Apa yang kau katakan baka!. Cepatlah masuk atau aku akan turun juga..!" Ucapnya sambil melangkah mendekati pintu masuk yang terkunci. Namun tiba-tiba lengannya ditarik oleh Sasuke, seolah mencegah Gabriel untuk turun menghampiri Naruto membuat Gadis blonde itu terkejut karena perlakuan sahabatnya.
"Lepaskan aku, Sasuke-kun!" Ucapnya sambil berontak mencoba melepaskan cengkraman erat tangan Sasuke yang ada di lengannya, namun tetap tak berhasil. Cengkraman Sasuke terlalu kuat untuknya. Namun gadis itu terus berontak hingga membuat Sasuke harus memeluknya dan mengunci pergerakan Gabriel.
"Lima belas menit lagi..." kata Naruto yang masih menatap Sasuke sambil tersenyum kecil dan itu adalah kata terakhir yang keluar dari mulut Naruto. Setelahnya Naruto mundur ke belakang memberikan jarak untuk bus itu pergi.
"Ayo jalan, Shikamaru." Ucap Issei.
"T-Tapi-" Shikamaru ingin protes namun langsung disela oleh Sasuke.
"Cepatlah... kita tak punya banyak waktu." Ucapan dingin keluar dari mulut Sasuke membuat yang lain semakin bingung. Shikamaru pun langsung tancap gas meninggalkan Naruto di luar yang sedang menatap kepergian teman-temannya.
"T-Tunggu! Berhenti Shikamaru ..!" Jeritan Gabriel menggema di seluruh sekolah kosong itu, terlebih karena sudah malam nuansa sunyi membuat jeritan itu terdengar dengan jelas. Namun sesaat sebelum ia ingin mengeluarkan suara lagi, bus yang mereka tumpangi menabrak gerbang parkir sekolah hingga membuat Gabriel hampir terjengkang kebelakang jika tidak di selamatkan Rias.
Bus itu pun melaju menabrak Pagar sekolah dan beberapa mayat hidup yang menghalangi jalan. Mereka semua telah berhasil keluar dari sekolah kematian ini, namun tanpa Naruto. Akeno terlihat panik namun sekuat tenaga ia mencoba untuk setenang mungkin. Tearju hanya dapat termenung memikirkan nasib salah seorang muridnya yang sudah mengorbankan dirinya sebagai umpan, Bagaimanapun juga ia tak habis pikir dengan tindakan Naruto yang menurutnya tak masuk akal.
Pandangan semua orang terkunci kearah sekolah, lebih tepatnya kearah gerbang yang terbuka. Semakin lama gerbang itu semakin mengecil dikarenakan jarak mereka yang sudah semakin jauh dari akademi itu, The Highschool of the Dead
"Kenapa? Kenapa Sasuke-kun! Kenapa kau membiarkan sahabatmu mengorbankan dirinya?" Tanya Gabriel dengan mata yang berkaca-kaca berharap Sasuke akan menjelaskan alasannya untuk yang tadi. Namun Sasuke sama sekali tak menggubris pertanyaan dari Gabriel yang juga mewakili semua pertanyaan yang ada di otak Tearju-sensei, Akeno, Rias, Shikamaru dan juga Issei.
"Sasuke-kun?!" Tanyanya lagi dengan sedikit berteriak.
Namun Sasuke malah berjalan meninggalkannya ke depan dan duduk di kursi samping Shikamaru sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Gabriel yang melihat Sasuke yang tidak menghiraukannya dan hanya menatap layar pada ponsel membuat kepalan tangan gadis itu semakin mengerat. Matanya mengatup rapat menyembunyikan iris emeraldnya yang indah, hingga setetes demi setetes air mata mengalir keluar dari pelupuk matanya. Ia langsung duduk di kursi penumpang sambil menenggelamkan diri menggunakan kedua telapak tangannya. Pundaknya terlihat bergetar, menandakan ia sedang menangis menahan emosi saat ini.
Akeno dan Tearju-sensei yang melihat Gabriel seperti itu hanya duduk di tempatnya masing-masing. Bukan karena mereka tak mau menenangkannya, hanya saja mereka tak ingin mengganggu dulu gadis pirang disana. Terutama bagi Akeno sendiri, sungguh ia ingin meminta penjelasan kepada Sasuke dan dirinya tidak bisa masuk kedalam masalah seenaknya sampai ia memilih tetap diam.
Setelah melihat teman-temannya berhasil keluar dari sekolah kematian ini, Naruto berbalik kearah belakang. Lebih tepatnya kearah para mayat hidup yang berjalan tertatih-tatih mendekatinya. Seringaian seketika muncul dari wajah pemuda berambut rancung ini, kembali ia mengeratkan genggaman tangan ketongkat pemukulnya. Menatap para mayat hidup yang kini mulai berlarian kearahnya dengan tatapan merendahkan.
"Kalian sudah tak sabar eh?... ayo kita mulai pestanya."
...
...
Tokyo Metropolis
Sebuah bus sekolah melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan sepi kota Tokyo dan terkadang sesekali menabrak seseorang yang berada di tengah jalan. Bis itu seperti tak segan menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya.
Di dalam ruang penumpang, terlihat ada beberapa anak muda yang tengah duduk diam di kursi merenung dengan pikiran masing-masing. Walau sangat kentara bila mereka saat ini sangat lelah terlihat dari wajah mereka, namun tidak ada salah satu pun dari mereka yang terlelap. Mereka tidak bisa tidur dengan tenang karena mereka saat ini sedang memikirkan seseorang. Ya... seseorang dengan rambut kuningnya yang telah memimpin mereka hingga bisa di dalam bus ini dan keluar dari sekolah kematian itu. Mereka masih memikirkan Naruto, dan banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam kepala mereka tentang pilihan yang dibuat oleh bocah kuning itu.
Di kursi sebelah pengemudi, duduk seorang pemuda berambut raven yang sedang menggenggam erat ponselnya. beberapa kali di liriknya sekilas layar ponsel yang menyala. Saat jam di layar ponsel menunjukkan pukul 10:46pm, langsung dia memberikan perintah kepada pemuda yang sedang menyetir bis ini.
"Putar balik dan pergi ke akademi, mau apapun yang terjadi kita harus kesana." Ucapan berada dingin kembali keluar dari mulut Sasuke.
"Tapi.. ken-"
"Jangan banyak bertanya dan usahakan membawa bis ini lebih cepat dari sebelumnya. Kita akan kembali menjemput beberapa orang." Selanya memotong kalimat supir bus yang tak lain adalah Shikamaru.
Beberapa penumpang di belakang terkejut dengan arahan mendadak dari pemuda berambut raven di depan. Mereka memasang wajah bingung sekaligus penasaran, namun mereka memilih untuk diam kerena pikiran mereka sedang kalut saat ini. Terlebih lagi dengan gadis berambut Pirang yang duduk di baris kursi kedua dari kursi pengemudi. bis pun berhenti sejenak dan mulai membanting stir untuk putar balik kearah jalan yang barusan mereka lalui tadi.
...
...
Braakk..!
Orang-orang yang ada di dalam suatu ruangan menjadi kaget saat pintu itu terbuka secara tiba-tiba. Sedetik kemudian mata mereka melebar seketika, saat tahu orang yang mendobrak pintu itu masihlah seorang manusia dan tidak menjadi salah satu dari pasukan mayat hidup.
Seett..
Sosok itu kemudian berjalan ke arah mereka, terlihat di dalam ruangan itu ada dua laki-laki, empat orang perempuan dan juga seorang guru laki-laki. Namun, orang itu mendekati seseorang dan kemudian menariknya agar berdiri.
"Na-Naruto...-kun?" Pekik kecil gadis itu saat ia tahu siapa yang datang menyelamatkan mereka.
"Ayo cepat, Kuisha! Kita tak punya banyak waktu." Ucapnya dengan ekspresi serius kepada Kuisha yang masih diam mematung karena keberadaan dirinya. Menghiraukan semua orang yang ada, Naruto menarik gadis yang memiliki surai sama sepertinya keluar dan di susul beberapa orang yang sadar dari keterkejutan mereka. Berlari menghindari gerombolan makhluk pemakan manusia ketika melindungi seseorang adalah suatu hal yang sangat melelahkan bagi Naruto, terlebih orang itu adalah gadis yang menjadi temannya bahkan semasa ia masih bayi.
Singkat cerita, Kuisha adalah anak dari keluarga Abaddon yang merupakan rekan bisnis ayahnya. Maka dari itu saat kelahiran Naruto dan Kuisha keduanya sudah bersama hingga saat ini jadi sudah kewajiban Naruto untuk melindungi Kuisha saat tidak ada seorangpun yang melindunginya. Saat ia melihat ke belakang, semua orang di dalam ruangan tadi berlari mengikutinya dan terus berteriak untuk menunggu mereka.
'Bodoh, kalian hanya akan memancing lebih banyak kembali kemari.' Pikir Naruto dan kemudian langkah kakinya bertambah hingga membuat Kuisha kesusahan dalam melangkah. Tak ingin menjadi korban, Naruto berhenti dan berjongkok.
"Naik..."
"Ta-tapi.."
"Ku bilang naik!" Ucap Naruto dengan sedikit gentakkan, walaupun malu Kuisha tetap naik ke atas punggung Naruto dan pemuda itu menaruh telapak tangannya pada bokong gadis itu. Menghiraukan teriakan kecil temannya itu, Naruto berlari meninggalkan orang-orang yang ada di belakangnya bersama dengan Kuisha.
"Kyaa... Raiser-kun, tolong aku! Kakiku terkilir." Ucap seorang gadis yang sedang memegang celana panjang milik seorang pemuda berambut pirang bernama Raiser.
Buagh...
"Lepaskan bodoh! Aku tidak mau mati! Berdirilah dan paksakan keadaanmu atau..." Pemuda itu mengeluarkan sebuah pisau lipat yang sejenis dengan Butterfly Knife dan menghujamkan pisau itu pada betis dan juga paha gadis di hadapannya. Teriakan dan juga tangisan menggemari di koridor gelap itu hingga akhirnya kumpulan Zombie mulai menghampiri gadis itu sedangkan Raiser berlari menyusul Naruto.
Pagar sekolah sudah hancur dan kemudian keadaan sekitar sangatlah sepi. Naruto segera menurunkan Kuisha yang di balas tatapan marah gadis itu, Kuisha marah karena Naruto dengan seenak jidat memegang bokongnya.
"Kenapa? Kau marah? Ayolah, Kau marah hanya karena aku memegang bokongmu? Aku sudah tau seluk beluk tubuhmu semasa kita kecil dulu jadi tidak usah begitu padaku!" Mendengar ucapan Naruto, wajah Kuisha seketika memerah saat mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu untungnya gadis itu bisa mengendalikan dirinya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan, Naruto-kun?" Tanyanya pada pemuda kuning itu.
"Diam dan menunggu." Jawaban singkat Naruto membuat alis Kuisha sedikit tertaut. Gadis itu kebingungan mengingat saat ini mereka berada di luar akademi dan juga beberapa Zombie mulai terlihat.
'Serius? Kau bilang hanya diam dan menunggu? Ini gila, jika yang dimaksud Naruto-kun adalah menunggu kematian maka...' Pikiran gadis itu sudah melayang entah kemana namun pikirannya buyar saat terdengar suara seseorang yang berteriak pada Naruto dan selanjutnya adalah seorang pria berambut blonde datang dan mengancam Naruto dengan sebuah pisau.
"Kenapa kau tidak menunggu kami, Hah?" Ucapan yang keluar dari mulut pemuda itu terdengar sangat kasar karena terkesan seperti menggentak seseorang. Sedangkan Naruto hanya diam dengan wajah daftarnya, dihadapannya saat ini ada seseorang yang sedang menodongkan pisau ke arah dirinya jika ia ingin membunuhnya maka itu sangatlah mudah di lakukan. Ayolah, maksudku Naruto sudah membunuh puluhan Zombie bukan?
"Apa maksudmu? Aku pergi ke ruangan tadi hanya untuk menyelamatkan Kuisha tidak dengan kalian, lagipula aku tidak mengenal kalian." Jawab Naruto dengan santai dan orang-orang yang mendengar jawaban Naruto menjadi emosi tak terkecuali guru pengajar di antara mereka.
"Kalau begitu biarkan kau mendengar namaku! Aku Raiser Phenex berbanggalah karena bertemu denganku." Ujar pemuda itu dan Naruto hanya menarik senyum remeh di wajahnya.
"Terus? Aku harus peduli? Mau bagaimanapun ditengah kekacauan dunia seperti ini apalah arti dari sebuah nama jadi aku akan memanggilmu Yakitori." Ucapan atau lebih tepatnya ejekan yang keluar dari mulut Naruto membuat Raiser menjadi semakin marah bagaimanapun, ia yang berasal dari keluarga terhormat di jepang akan marah jika di remehkan.
Namun tanpa mereka sadari sebuah bus melaju kencang dan berhenti di depan semua orang. Sorot lampu bis itu menyorot mata Raiser hingga membuat Raiser menghalau dengan tangannya. Sesaat setelahnya, Pintu bus itu terbuka dan mengeluarkan seorang gadis berambut pirang yang langsung memeluk Naruto.
"BAKA... BAKA... BAKA..." Ucap gadis itu dan sesaat setelahnya semua orang keluar dari dalam bus itu menampilkan Rias, Akeno, Kuroka dan Tearju-sensei membuat libido Raiser naik melihat kemolekkan tubuh para perempuan itu.
Dengan cepat Raiser berlari dan menyandra Kuisha yang sedang terdiam saat melihat teman-temannya keluar dari bus tersebut. Dengan pisau yang ada di tangan kanannya, pemuda itu mengancam dan menyandra Kuisha.
"Serahkan gadis-gadis itu pada kami dan semua perlengkapan kalian! Juga bus itu jika tidak..." Pisau itu berjalan hingga akhirnya bersarang di leher Kuisha dan sedikit menggores lehernya Hingga mengeluarkan darah.
Semua orang di kelompok Naruto menjadi panik tak terkecuali untuk pemuda berambut pirang itu. Namun hal yang Menjijikan adalah saat tangan Raiser mulai menggerayangi tubuh Kuisha dan bersarang tepat di dada perempuan itu.
"Ahhh... Apa rasanya menikmati lima gadis perawan di tengah kekacauan seperti ini yah?"
Senyuman tak mengenakkan keluar dari wajah Raiser, itu adalah senyuman seorang maniak yang mencoba menyerang psikologis seseorang. Sedangkan Kuisha saat ini sedang diam dengan wajah merah merona karena rasa malu yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Naruto, bagaimana ini?" Mendengar perkataan Issei membuat Naruto sedikit termenung. Dirinya marah, dirinya dendam, dan dirinya kecewa karena dirinya tidak becus menjaga orang yang sangat ia sayangi.
"Turuti kemauannya." Ucap pemuda itu dan kemudian ia berjalan mendekati teman-temannya untuk menjelaskan situasinya.
'Aku berharap besar padamu, Kuroka' Pikir Naruto dan kemudian saat semua orang menaruh senjatanya di lantai, Kuroka melepaskan anak panah dari busurnya dan tepat mengenai dengkul milik Raiser membuat pemuda itu berteriak hingga menimbulkan perhatian Zombie.
Kuisha yang terlepas dari Sandra mulai berlari namun tangannya di pegang oleh salah satu anak buah Raiser.
Crashhh...
Tangan itu lepas dan darah mengucur kemana-mana karena sebuah katana memotong tangan tersebut. Disana seorang pemuda yang konyol, ceria dan juga selalu membantu teman-temannya yang kesusahan berada di samping Kuisha dengan wajah datar yang terciprat darah. Kuisha yang melihat itu seketika terdiam mengingat kejadian saat ia menangis karena kelakuan para senpai di sekolah dasar hingga akhirnya Naruto membuat mereka masuk ke rumah sakit dan membuat pemuda itu pindah sekolah hanya karena membela Kuisha.
Katana itu terjatuh dan kemudian dari bagian belakang tubuhnya, Naruto mengeluarkan sebuah kapal. Kapal yang selalu menemani dirinya sejak awal bencana ini dimulai.
"Hei, Tangan mana yang kau gunakan untuk menyentuh Tunanganku?" Tanya Naruto dengan wajah datarnya. Sosok pemuda itu terlihat sangat menakutkan di tambah dengan wajah yang terdapat cipratan darah membuat Naruto terlihat seperti Psikopat gila.
Jleb... Jleb... Jleb... Crash...
Sisi tajam kapal itu mulai menyentuh bahu Raiser dan darah berhamburan kemana-mana. Terus menerus dan akhirnya tangan kiri Raiser terputus dari bahunya, lalu pandangan Naruto jatuh pada Bawahan Raiser dan juga seorang guru yang menatap Naruto dengan wajah tidak percaya.
Greb...
"Sudahlah, Ayo pulang! Aku tidak apa-apa." Suara halus itu memasuki gendang telinga Naruto dan membuat bahu pemuda itu sedikit rilex.
Semua orang terdiam tak terkecuali kelompok Naruto yang hanya terdengar adalah suara korban yang merasakan amukan Naruto. Akhirnya semua orang tau bahwa julukan Kyuubi no Ko sangat cocok pada pemuda itu, sedangkan Gabriel terdiam saat tau orang yang ia cintai selama ini sudah memiliki tunangan walaupun tidak pernah terlihat akrab saat berada di sekolah.
Beberapa detik yang terasa lambat itu berlalu saat Naruto memerintahkan semua anggotanya untuk kembali masuk kedalam mobil.
"Ayo jalan, Shikamaru!" Teriak Naruto yang terlihat akan naik bis itu. Shikamaru yang mendengar perintah dari Naruto pun menurut dan segera menginjak pedal gas bus tersebut dalam-dalam dan menabrak semua makhluk jelek yang menghalangi jalan, membelah jalanan di pinggiran kota Tokyo yang disinari cahaya rembulan. Dan, tak jauh dari tempat mereka berada sekarang terdengar suara teriakan saat Zombie-Zombie itu mulai sampai di tempat Raiser.
