Shiroyukki Present
...
...
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.
...
...
Summary :
Ilmu pengetahuan adalah akar dari masalah yang terjadi. Kegilaan tak ada hentinya menghiasi hari-hari anak SMA di jantung negara matahari terbit. Apakah mereka berhasil bertahan hidup di saat jutaan mayat hidup menghadang jalan mereka?
...
...
#StayAtHome
...
...
Chapter 5 :"Journey of The Dead"
...
...
Naruto POV
Kami... Kami... Kami harus bisa bertahan dari neraka ini! Apapun yang terjadi tanpa kehilangan siapapun dan menjaga satu sama lain! Aku tidak mengerti apa yang sudah terjadi, namun aku tidak mau orang yang sangat berharga bagiku menghilang begitu saja. Tidak untuk Kuisha, Gabriel, Rias, Akeno, Issei, Shikamaru, Kuroka, Sasuke, dan juga Tearju-sensei. Mereka adalah rekanku dalam perjuangan hidup dan mati di dunia yang mulai rusak ini.
Semua terjadi begitu saja tanpa kami ketahui sebab yang pasti dan lagi akal sehat kami tidak dapat menerima kejadian mengejutkan semacam ini. Mereka yang sudah tewas akan bangkit dan menyerang yang masih hidup melanjutkan siklus evolusi perkembangan mereka.
Semakin lama... Semuanya akan menyebar luas! Aku tidak tau apa yang terjadi di luar sana namun aku berharap bahwa hanya Jepang saja yang mengalami nasib mengerikan semacam ini. Aku saat ini sudah ada di kota Tokyo, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat!
Kota terbesar di antara lima kota di Jepang, Tersapu habis seperti ini? Apakah Ini hanya sebuah mimpi buruk? Jika iya, aku ingin segera bangun! Dan dapat kulihat, di antara mayat-mayat manusia ada sesuatu yang bergerak dan kapal hidup!... Apa-apaan itu? Siapa yang berani mempermainkan jiwa manusia seperti ini? Tidak pernah terbayang olehku kalau dalam sehari kota terbesar di Jepang! Jantung negara Jepang, Tokyo! Hancur dalam satu hari.
Pertanyaan ku saat ini adalah... Kapan mimpi buruk ini akan berakhir?
...
...
Naruto memperhatikan seseorang yang saat ini sedang terlelap di bahu kirinya. Setiap lekuk wajah gadis itu sangat menawan dan untungnya ia masih sempat untuk menyelamatkan seseorang yang berharga baginya.
Gadis ini adalah orang yang selalu memarahinya saat ia melakukan keonaran saat SD, gadis ini yang selalu memarahi saat ia berkelahi saat SMP dan gadis ini juga yang sudah menyelamatkan hidupnya. Keduanya adalah orang yang berasal dari keluarga mampu membuat kedua orangtuanya sangat sibuk hingga akhirnya Naruto memutuskan untuk mengakhiri hidupnya namun saat itu Kuisha datang dan menampar pemuda itu.
"Aku masih disini, Baka! Kalau kau tidak ada siapa yang akan melindungiku!" Dengan begitu, Sebuah tujuan baru muncul dihati kecilnya, ia ingin melindungi orang-orang yang berharga baginya! Apapun yang terjadi.
Ia masih ingat saat bertemu dengan Kuisha di pertemuan keluarga. Tatapan mata itu, sama dengan dirinya. Sorot mata yang dikeluarkan oleh orang yang sangat kesepian tanpa teman, sahabat ataupun keluarga hampir sama dengan tatapan matanya saat itu, karena kondisi itulah keduanya berusaha saling menguatkan dan mempercayai satu sama lain. Walaupun mereka berdua berstatus tunangan namun Naruto dan kuisha terkadang berkelahi hanya karena masalah kecil.
"Ngh..." Matahari terbit seakan menggelitik kelopak mata gadis itu dan mengeluarkan lenguhan khas orang bangun tidur. Sejenak mengerjap perlahan gadis itu membuka mata indahnya untuk menatap sinar mentari yang menembus melalui kaca jendela bis dan membuatnya mengerjapkan matanya kembali. Namun saat ia mendongakkan wajah cantiknya sedikit keatas, dapat ia lihat wajah yang sedang memperhatikannya sambil tersenyum kecil.
Pandangannya mengabur karena belum terlalu jelas setelah tidur semalaman, juga karena sosok itu sedikit membelakangi sinar matahari membuat wajahnya tidak terlihat dengan jelas. Sedangkan Naruto yang melihat gadis di sampingnya sudah bangun segera menyapanya.
"Ohayou, Kuisha-chan." Kata sosok itu pelan hingga membuat mata Kuisha melebar saat mendengar suaranya. Sebuah suara yang sangat familiar digendang telinganya, ditambah lagi dengan rambut rancung berdiri berwarna kuning. Kuisha sangat terkejut saat menyadari siapa sosok tersebut hingga membuat Hinata langsung menegakkan tubuhnya dengan gelabakan.
"G-gomen, Naruto-kun." Karena terkejut, tanpa sadar Kuisha mengatakan permintaan maaf dengan sangat keras sampai dapat di dengar semua penghuni bus. Wajahnya sangat merah saat ia tahu bahwa sedari tadi ia telah tertidur dipundak Naruto, Walaupun ia tau kalau ia juga mencintai Pemuda itu namun, Gadis mana yang tidak malu jika tidur di bahu laki-laki yang ia cintai?.
Melihat respon yang keluar dari mulut Kuisha Naruto hanya tertawa. Baginya ini bukan kali pertama Kuisha seperti ini, bahkan sudah puluhan kali mereka berdua tidur bersama sebut saja di bawah pohon tepi lapangan, Saat study tour, dan juga terkadang Naruto tertidur di paha Kuisha saat ada di rumahnya.
"Tidak masalah, Kuisha-chan." Senyuman itu lagi? Sudah berapa kali Kuisha tersipu dengan senyuman itu. Senyuman yang selama ini menantang dunia dan mengatakan Aku baik-baik saja! dalam menghadapi segala masalah yang ada. Dengan cepat Kuisha mengalihkan wajahnya kearah jendela karena tidak mau menatap manik Sapphire senyuman itu terlalu lama. Tatapan tidak suka terlihat jelas diantara Issei dan juga Gabriel yang melihat kemesraan mereka berdua tidak jauh dari tempat duduk mereka. Issei yang menatap Naruto iri karena bisa duduk dengan tunangannya dan Gabriel yang menatap Kuisha dengan pasangan cemburu.
*Ehem... Kau sedang melihat apa Issei-kun?"
"Ahhh... Diamlah, aku hanya melihat Naruto! Aku iri karena ia bisa bermesraan dengan tunangannya, Rias." Ucap Pemuda itu namun kemudian ia sadar bahwa ia sedang berbicara dengan Rias yang ada di sebelahnya.
Menghiraukan tatapan prihatin untuk Issei yang sedang menjadi korban amukan Rias, Gabriel bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah belakang.
"Ehem... Sepertinya tidak jauh dari sini ada pengisian bahan bakar. Kita bisa kesana sejenak untuk mengisi bahan bakar." Sahutnya mencoba mengganggu kegiatan mereka berdua. Sedangkan Kuroka yang menyadari sikap jealous Gabriel hanya terkikik geli.
Naruto yang sempat mendengar perkataan Gabriel pun, menyimpan kembali tangannya dari pucuk kepala Kuisha dan membelinya perlahan sedangkan Kuisha masih asik blushing sendiri terdiam ditempat duduknya menatap jendela luar.
Sekilas info, setelah konfrontasi dengan kelompok Raiser. Naruto dan yang lainnya melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Tokyo yang mana mereka tau bahwa itu adalah kediaman Zombie terkonsentrasi yang sangat berbahaya. Shikamaru terus menginjak pedal gas dan menabrak siapapun entah itu Zombie ataupun manusia yang sudah tergigit karena mereka tau setelah kau tergigit, tidak akan ada lagi keselamatan bagi orang tersebut. Setelah perjalanan panjang dan hari-hari yang melelahkan beberapa orang mulai tertidur kecuali, Naruto dan Sasuke yang menemani Shikamaru mengobrol sekedar melepas penat dengan minuman kaleng yang mereka amv dari kantin sekolah mereka.
Saat ini semua orang sudah sadar dan para gadis sudah bangun terkecuali Kuisha yang sengaja Naruto biarkan karena semalam melihat bagaimana sisi lain dirinya keluar. Setelah melihat darah manusia terciprat kemana-mana dan juga kemanusiaan sudah hilang seseorang rela melakukan apapun untuk tetap hidup.
"Baiklah, kalau begitu mari kita berhenti sejenak disana untuk mencari makanan yang bisa dima..." Ucapan Naruto terhenti saat perutnya mengeluarkan suara kelaparan dan pemuda itu hanya tertawa malu melihat semua teman-temannya. Kuroka yang ada di bagian depan yang sedang asyik mengobrol dengan Shikamaru menoleh kebelakang kemudian mengatakan...
"Kuzu.." Dengan wajah tanpa dosa.
Shikamaru yang melihat obrolan teman-temannya hanya tertawa kecil kemudian muali menginjak pedal gasnya hingga akhirnya sampai di sebuah pom bensin yang memiliki toko serba ada.
"Yoosh, Kita berhenti disini dulu. Naruto, cepat cari makanan disana, setidaknya cukup untuk kita semua selama beberapa hari kedepan." Shikamaru hanya tertawa renyah saat melihat Naruto sedang menatapnya dengan Emergency Axe yang sedang di asah.
"Hahhh... Kau ini. Kenapa tidak kau saja yang turun dan mencari makanan untuk kita semua, sialan!" Ucap Naruto saat ia mengambil sebuah tas dengan wajah malasnya sedangkan Tearju sedang memeriksa obat-obatan yang tersedia jika saja mereka kekurangan.
"Ha'i.. Ha'i... Semoga beruntung, Naruto-chan." Seperti biasa Naruto dan Shikamaru berkelahi karena nada malas khas dari pemuda itu. Merasa cukup untuk bercanda, Naruto berjalan keluar pintu dengan sebuah Emergency Axe dan juga tas di punggungnya.
"Sepertinya keadaan masih aman. Aku belum melihat mereka sejak tadi."
"Ahh... Sasuke, Mungkin saja mereka sedang menonton JAV Shikamaru Issei saat ini." Perkataan Naruto membuat Akeno dan juga Kuroka tertawa namun tidak untuk Shikamaru yang dengan cepat menerjang Naruto agar keluar dari mobil, sedangkan Sasuke terdiam dengan sweatdrop nya.
"Aku akan ikut denganmu, Namikaze-ku. Shuu.." Sesudah bangkit dari posisinya, Naruto mendapati sebuah suara dan kemudian ia merasakan rasa geli di telinganya karena Kuroka menutup telinganya dari belakang.
"E-eh..?!"
Naruto terlonjak kaget saat mengetahui Kuroka sudah berada di sampingnya, belum lagi tiupan di telinganya itu membuat dirinya sedikit bergairah karena merasa di goda Kuroka.
"Baiklah, Kalau begitu aku dan Naruto akan mencari makanan yang bisa kita makan ditoko sana. Sedangkan Uchiha dan Hyodou tetap disini untuk berjaga-jaga. Nara-san, cepat matikan mesin dan segera isi bahan bakarnya." Tukas Anko dengan nada tegas disetiap kalimatnya dan entah kenapa Naruto sedikit iri dengan sikap tegas itu. Seluruh siswa segera bangkit dari tempat duduk mereka terkecuali untuk Naruto yang sudah ada diluar bersama dengan Kuroka.
"Naruto, Berhati-hatilah." Naruto yang melihat Gabriel dengan wajah khawatir di wajah gadis itu sedikit merasakan firasat tidak enak namun ia hanya tersenyum dan juga mengangkat Emergency Axe miliknya dan Kuroka di sampingnya dengan sebuah Wakizashi yang sudah keluar dari sarungnya.
"Tenang saja, kau tidak perlu khawatir! Ada Kuroka disampingku dan aku yakin kami bisa saling melindungi punggung masing-masing." Jawabnya sambil tersenyum kearah Gabriel.
"Itu benar Gabriel-chan jadi bisakah kau tidak mengkhawatirkan Naruto-kun?" Kuisha secara tiba-tiba berada di belakang Gabriel dan walaupun tidak terlihat namun dapat Kuroka rasakan kalau keduanya sedang beradu di dalam pikiran masing-masing.
"Sebaiknya kita segera pergi, Kuroka. Karena aku merasakan kehadiran Shinigami-sama yang sedang menyapaku." Naruto segera bergegas pergi menuju toko dan kemudian di ikuti oleh Kuroka di belakangnya. Tak jauh disana, Gabriel dan juga Kuisha saling menatap dengan wajah sinis sepertinya terjadi perang batin pada kedua gadis itu.
"Ahh... Rias-chan, Aku akan pergi sebentar berjaga diluar dan meminta Shikamaru mengisi drum ini jadi kita tidak berhenti di pom bensin untuk beberapa waktu." Mendengar perkataan Issei membuat Rias terdiam dan ia hanya tersenyum menganggukkan kepalanya.
...
...
Tap.. Tap.. Tap..
Suara langkah kaki mengiringi kewaspadaan kedua orang yang sudah mulai memasuki toko tersebut. Keadaan toko itu sangat gelap karena lampu di dalam toko itu mati namun karena adanya cahaya matahari membuat kedua manusia itu tidak kesusahan mencari bahan makanan. Mata mereka mengedarkan pandangan untuk menyapu keseluruh ruangan, Mencoba mencari tau apakah ada Zombie yang berkeliaran di dalam toko ini.
Dengan langkah perlahan sambil mengeratkan genggamannya di gagang Emergency Axe yang ia bawa, Naruto berjalan di depan di ikuti Kuroka dengan Wakizashi di belakang pemuda itu. Kedua manusia itu melangkah dengan sangat hati-hati dan menghindari sesuatu yang dapat menimbulkan kebisingan dan memperhatikan sekeliling dengan waspada.
"Baiklah Naruto-kun, Cepat ambil beberapa barang yang bisa di makan. Ah.. Ambilkan juga beberapa pembalut untuk kami para gadis hehehe.." Segera Naruto mengambil tas yang ada di punggungnya, lalu dengan hati-hati mengambil makanan kaleng yang ada di rak pendingin. Daging kaleng, Buah kaleng, Beer kaleng, semua yang sekiranya membusuk dalam waktu lama Naruto masukan kedalam tas dan Kuroka mengambil beberapa sayuran, daging mentah, dan juga manisan yang ia masukkan kedalam tas plastik di meja kasir.
"Sunyi sekali." Ucap Naruto sedangkan Kurokapun setuju dengan apa yang dibicarakan temannya itu. Suasana di dalam toko ini seketika sunyi, senyap seperti sebuah bangunan angker yang sudah ditinggalkan selama bertahan-tahun.
"Apa kau tidak suka dengan suasana seperti ini, Naruto-kun?" Kuroka saat ini sedang menggoda Naruto. Dada gadis itu ia gesekkan di punggung Naruto dan juga telinga pemuda itu ia emut di bawah bibir sexy nya.
"Cukup! Entah apa yang kau lakukan aku tidak akan melakukan apa yang harus pria lakukan. Aku tidak perduli walaupun kau telanjang sekalipun aku akan tetap mencintai Kuisha." Ucap Naruto sedangkan Kuroka hanya menundukkan kepalanya. Tangan gadis itu mengepal dan kemudian ia melepaskan semua yang ia rasakan.
"Kalau kau mencintai Kuisha, Lalu apa artinya Gabriel yang mencintaimu? Dia bahkan rela menamparku saat kau terluka setelah menyelamatkan diriku ini. Apa kau tau kalau Gabriel juga mencintaimu, Hah?"
Hening!
Pemuda itu terdiam saat mendengar hal itu. Tentunya apa yang Kuroka katakan adalah kenyataan karena Naruto juga tau kalau seorang gadis sedang jatuh cinta maka gadis yang lainnya akan mengetahui hal tersebut. Pada awalnya ia hanya menganggap perlakuan Gabriel pada dirinya hanyalah sebuah perasaan khawatir pada sesama teman namun sekarang ia sadar kalau ada orang lain yang juga mencintai dirinya.
"Shuuut... Bisa kau diam? Aku melihat sesuatu disana!"
...
...
"Ini sangat aneh, sejak tadi tidak ada satupun tanda-tanda kehadiran dari makhluk-makhluk itu."
"Kau ada benarnya, Sasuke. Aku tidak melihat Zombie walaupun satu saja."
Kedua pemuda itu, Sasuke dan juga Issei sedang menatap area sekitar mereka. Tak jauh dari mereka ada kelompok gadis yang sedang berkumpul di pintu masuk bus tersebut. Mata semua orang yang mendengar percakapan Sasuke dan Issei mengedarkan pandangan mereka dan Yap, seperti kata kedua manusia tadi bahwa tidak ada satupun tanda kehidupan dari manusia maupun para mayat hidup.
"Seperti kataku, Sasuke-Kun. Ini merupakan suatu keanehan dan aku memiliki firasat tidak enak tentang ini." Ucap Akeno yang saat ini sedang ada di pertangahan antara kelompok gadis dan juga Sasuke."
Sedari tadi Akeno selalu memperhatikan wilayah sekitarnya dan sejauh matanya memandang tidak ada satupun dari para pemakan daging itu. Suasana sepi justru membuat mereka merekasakan ada yang janggal karena sejak malam tadi, bus mereka sudah menerjang Zombie beberapa kali. Dan sekarang lihatlah, ini pusat kota Tokyo dan kota ini persis seperti kota mati tanpa adanya tanda kehidupan.
"Apa masih belum selesai, Shikamaru?" Kuisha saat ini sedang bersama dengan Shikamaru yang sedang mengisi drum kecil. Drum itu akan di isi dengan bensin sedangkan tangki di bus mereka sudah penuh dengan solar.
Saat Kuisha menunggu jawaban dari Shikamaru, Ia tak sengaja melihat sesuatu dan itu membuatnya terkejut.
"I...itu.."
...
...
Naruto berjalan perlahan mendekati sesuatu yang bergerak di balik pintu yang menuju kedalam ruangan staf toko. Dengan langkah kecil dan berhati-hati, Naruto mendekati pintu itu sedangkan Kuroka yang berada tidak jauh dari Naruto siap dengan Wakizashi di tangan kanannya. Suasana yang sangat hening membuat tempat yang tidak di terang sinar matahari ini semakin mencekam. Semakin mendekat dengan pintu itu, Naruto memposisikan dirinya ke kiri untuk melihat apa yang sedang di lakukan sosok itu di dalam ruangan tersebut.
Namun, Naruto di buat terkejut saat melihat sosok itu adalah seorang anak kecil yang sedang meringkuk di bawah lantai sambil memakan mayat seseorang yang telah tewas terbujur kaki di depannya. Anak kecil itu sangat menikamti setiap inchi daging yang ia koyak dengan giginya dan darah mengalir dari ujung mulut anak kecil tersebut. Anak kecil itu juga mengeluarkan usus mayat itu dengan kedua tangannya dan kemudian memakannya tanpa ragu. Darah membasahi setiap inci lekuk bibirnya hingga terkadang mengucur lewat dagu gadis kecil itu. Sungguh pemandangan yang sangat tragis dimata Naruto, namun ia sudah terbiasa karena semalam ia sudah membunuh Riaser dengan kedua tangannya.
Kuroka yang berdiri diperempatan rak tempat makanan ringan masih sibuk memperhatikan gerak-gerik Naruto dari kejauhan hingga membuatnya tidak sadar bahwa ada sesorang yang mendekatinya dari kanan. Sosok itu berjalan pelan, tetapi ketika melihat manusia yang masih belum terinfeksi sedetik kemudian sosok itu berlari menerjang gadis itu. Saat merasakan ada yang mendekat, Kuroka menolehkan wajahnya kearah samping dan matanya membulat saat ada Zombie yang berlari kearahnya.
'Gawat!' Dalam keadaan terdiam, Kuroka tidak bisa mengalihkan apapun namun kesadarannya segera bangkit saat insting bertahan hidupnya mulai bangkit. Insting yang secara tidak langsung terasah di sekolah yang penuh dengan ratusan Zombie. Kuroka berhasil menghindari serangan Zombie itu, akan tetapi makhluk itu tidak tinggal diam dan terus menyerang Kuroka hingga makhluk itu jatuh tertungkur dengan tangan yang berpegang pada kantung plastik di tangan kirinya.
Suara benturan dengan lantai dan juga beberapa kaleng minuman berbenturan dengan lantai membuat Naruto menolehkan kepalanya ke arah Kuroka.
"Menunduk!" Ucapnya pelan dan untungnya Kuroka mengerti bahasa bibir yang Naruto keluarkan. Dengan reflek yang telah terlatih secara tidak langsung saat bertarung dengan gerombolan Zombie disekolah, membuat Kuroka menggerakkan tubuhnya seperti seakan menghindari peluru yang akan mengenai dadanya. Aksi menghindarnya memang berhasil dan Zombie anak kecil itu menabrak counter makanan di belakang Kuroka.
Bruakh..
Naruto langsung menoleh kearah sumber suara tersebut dan sedetik kemudian matanya kembali terbelalak ketika melihat Kuroka yang terbaring di lantai, Gadis itu menahan tubuh Zombie di atasnya dengan gigi yang siap merobek dan membuatnya menjadi mayat hidup.
Deg...
Seketika seluruh tubuh Naruto seperti mengantarkan suatu sengatan listrik yang sangat kecil. Kejutan itu merambat naik dengan sangat cepat hingga menghantam otak Naruto membuatnya berfikir dengan kecepatan di luar nalar.
Naruto POV
apa yang terjadi? Semua yang ada di dalam jangkauan pandangku serasa menjadi lambat. Bahkan aku rasa aku sedang berada di dalam sebuah film fantasy yang dapat membuatku menghiraukan hukum waktu untuk sesaat.
Terserahlah! Aku harus memanfaatkan ini dengan maksimal. Sebuah kaleng yang bergambar sup buah menggelinding dekat dengan kakiku dan tanpa banyak basa basi aku mengambilnya dengan tangan kiri dan segera membuat ancang-ancang untuk melempar.
Sekarang apa? Ini?
Sebuah skema pelemparan yang tepat ke arah kepala pria itu? Sebuah rumus-rumus fisika lainnya tergambar dengan kelas di hadapanku seakan-akan membuat sebuah perhitungan. Itu dan itu? Perhitungan yang memperkirakan jarak, massa benda dan juga tekanan angin juga kecepatannya lalu prediksi seberapa kuat lemparan ku. Kenapa aku bisa membuat sebuah simulasi pertempuran seperti ini?
Terserah saja! Aku melemparkan kaleng itu hingga akhirnya Zombie anak kecil yang ada di samping Kuroka mulai bangkit namun dengan gerakan yang sangat lambat!
Wuuussh...
Kaleng yang telah dilemparkan oleh Naruto melaju dengan sangat cepat sampai berputar-putar menuju kepala Zombie anak kecil disana. Namun sayang, Lempararan Naruto kali ini meleset dan gagal mengenai kepala Zombie itu. Kegagalan itu membuat raut wajah Naruto menjadi seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat namun kemudian, mulutnya hanya ternganga ketika melihat kaleng yang berputar itu hanya melintas 6Cm diatas kepala Zombie itu. Namun apa yang tidak disangka-sangka oleh pemuda kuning itu adalah..
Swush... Klank...
Kaleng yang dilemparnya terus melaju hingga membentur dinding disamping gadis kecil itu dan memantul kembali tepat mengenainya hingga memuatnya jatuh terhempas kelantai. Raut wajah yang suram seketika berubah ceria saat mengetahui lemparannya yang sempat gagal akhirnya mengenai telak kepala gadis kecil itu hingga darahnya menyiprat kewajah cantik Kuroka. Dan dengan begitu, Naruto kembali menggengam kapaknya dan membantai Zombie yang menimpa Kuroka.
...
...
"I... Itu..." Kuisha sangat terkejut saat melihat sesuatu di langit. Lebih tepatnya itu adalah sebuah helikopter berukuran kecil yang terbang tinggi diantara gedung-gedung. Bukan hanya Kuisha saja yang menyadari helikopter tersebut, Sasuke, Issei, dan juga Akeno tampak menyadarinya juga. Akan tetapi ada sesuatu yang membuatnya tampak aneh. Bukan karena helikopter itu menuju kearah mereka, namun justru semakin mendekat helikopter tersebut juga makin terbang merendah seolah-olah terlihat seperti akan menyelamatkan mereka.
Suara bising yang di hasilkan baling-baling helikopter itu sangat berisik dan juga mengetuk gendang telinga semua orang yang ada. Angin yang kencang hasil dari putaran baling-baling itu membuat pemuda dan pemudi itu mengangkat tangan mereka menutupi debu yang berterbangan menghiraukan rok yang terangkat. Namun, Kuisha dan juga Gabriel tetap melambaikan tangan mereka dan terus berteriak agar di selamatkan dan bermaksud memberikan tanda bahwa mereka belum terinfeski.
Bukannya berhenti dan melemparkan tangga tali seperti yang dilakukan oleh regu penyelamat, helikopter itu hanya menjatuhkan sebuah box dan kemudian melaju melewati mereka begitu saja. Box itu kemudian mengeluarkan sebuah parasut kecil agar tidak rusak karena pendaratan.
"Heii..! Kami disini... Heii..!" Teriakan Kuisha dengan tangan yang melambai ke arah helikoper itu bagaikan tindakan sia-sia.
"Kumohon tolong kami..! Hoii..!" Akan tetapi helikopter itu sama sekali tidak berhenti maupun berbalik arah, justru semakin menjauh dan kembali terbang tinggi.
"Kenapa? Kenapa kalian mengacuhkan kami? Apa kalian sudah kehilangan kemanusiaan kalian, Hah?" Tearju sangat tidak percaya dengan apa yang ia lihat barusan, Mereka adalah pasukan JSDF kan? Pasukan pembela negara Jepang! Namun, kenapa mereka membiarkan warga sipil tewas percuma.
Sejenak memandang helikopter yang semakin hilang dari pandangan, Sasuke kembali mengalihkan pandangannya kearah sebuah Box yang dijatuhkan dari helikopter tadi. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri, hanya sekitar tujuh langkah saja. Sasuke segera menghampiri benda itu dan membukanya, Sebuah Shotgun dengan amunusi penuh, Kotak obat-obatan, dan juga sebuah Sub Machine Gun MP45.
'Mereka tidak membiarkan kita ikut karena itu adalah perintah dari atasan! Maka dari itu pemerintah memberikan set persenjataan kepada para survivor.' Pikiran Sasuke melayang saat kakaknya ada di Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya muncul kembali.
"Kami adalah Alat Negara! Kami selalu mengikuti perintah dan tidak pernah melanggarnya. Perintah datang karangpun kami hantam!"
Akeno, Rias dan juga Gabriel segera menyusul ke arah Sasuke yang tidak jauh dari mereka. Fokus mereka memang pada helikoper itu namun, Seketika fokus mereka teralihkan saat melihat sebuah Box yang di lemparkan dari dalam helikopter tersebut.
"Kenapa?" seperti biasa Akeno bertanya kepada Sasuke yang selalu memasang ekspresi datar dan serius yang menjadi ciri khasnya. Sasuke tidak menjawab sampai akhirnya, Rias berteriak dari belakang Gabriel saat melihat persediaan yang di siapkan pasukan itu.
"Ini... Ini... JSDF Emergency Box."
"!?" Mendengar Rias sangat takjub saat melihat box ini membuat Akeno sangat terkejut karenanya. Rias Gremory, berasal dari keluarga Gremory yang terkenal akan kekuatannya di bidang kemiliteran dan kakaknya.
"Rias, Aku tau latar belakang mu namun kenapa isinya berbeda dari Emergency Box yang biasanya?"
"Emergency Box yang berisi persediaan untuk warga sipil di medan perang. Biasanya Emergency Box hanya berisi persediaan pangan berupa makanan instan dan juga persiapan air namun karena sekarang kasus yang berbeda maka mereka mempersiapkan Emergency Box khusus yang berisi Senjata lengkap dengan amunisinya." Saat sedang asyik bercerita seseorang mendatangi mereka dan berlari karena panik.
"Minna! Cepat kembali kedalam bus! Para Zombie datang dengan jumblah yang sangat banyak... Perkiraanku mereka adalah warga tokyo yang terinfeski."
Dapat mereka lihat makhluk-makhluk datang dengan jumlah sangat banyak mendekati mereka dari arah selatan dan barat. Hal ini tentu menimbulkan kepanikan tersendiri untuk mereka semua, termasuk Sasuke yang mendecih kesal menatap begitu banyaknya yang datang dengan jalan yang tertatih-tatih muncul dari persimpangan jalan dan gang-gang yang tidak jauh dari tempat mereka.
"Cih..! Kusoo..." Decih kesal Sasuke.
"Issei, bantu aku membawa box ini!" Kedua pemuda itu bekerja sama membawa kotak kayu yang berisi puluhan kotak amunisi yang sudah di persiapkan.
"Aku rasa mereka datang karena terpancing oleh suara bising helikopter yang tadi..." dalam pelariannya, Akeno membuat sebuah pendapat yang logis berdasarkan apa yang mereka pelajari selama ini.
Para Zombiememang sangat tertarik dengan suara-suara yang keras. Oleh karena itu, suara dari helikopter tadi sudah cukup untuk menyeret mereka menuju lokasi Sasuke dan juga teman-temannya kan?. Belum lagi helikopter tadi juga terbang cukup rendah diatas mereka bukan? Itu sudah lebih dari cukup untuk mengundang para makhluk-makhluk kelaparan tersebut kesini.
"Shikamaru! Cepat nyalakan mesinnya. Kita harus pergi dari sini sekarang juga semua Zombie dari Tokyo dalam perjalana kemari." Tanpa banyak basa basi, Shikamaru langsung membuang selang bensin dan membiarkan mengalir kesegala arah. Shikamaru langsung berlari dan membawa drum bensin bersamanya dan kemudian mulai menyalakan mesin saat melihat teman-temannya sudah berada di dalam bus itu.
Brrmm.. Brrmmm...
Suara raungan mesin yang telah menyala membuat para mayat hidup disana langsung berlarian kearah minibus yang sedang mengeluarkan asap tipis dari knalpotnya. Issei dan Sasuke yang membawa Emergency Box berhasil masuk dan saat itu pula, Shikamaru menginjak pedal gas dalam-dalam meninggalkan asap putih yang mengebul.
"Tunggu! Naruto-kun masih ada di toko itu!" Tariakan Kuisha dari tempat duduknya membuat semua orang tersadar. Yang ada di pikiran mereka saat ini penuh dengan Naruto, Naruto dan Naruto! Bahkan tidak ada yang memikirkan Kuroka yang juga bersama dengan Naruto karena rasa khawatir mereka sangat besar pada pemuda bermata biru itu.
"Eh!? Naruto! Benar! Shikamaru berhenti! Naruto-kun dan juga Kuroka-chan masih ada di dalam toko itu." Gabriel menjerit dengan keras karena ia juga baru sadar kalau Kuroka masih belum kembali bersama dengan Naruto. Raut wajah panik berubah menjadi khawatir saat mengetahui kalau orang yang sangat ia cintai belum kembali dari toko itu. Sedangkan, untuk wajah yang paling tegang terlihat jelas di wajah Issei, Rias, dan juga Sasuke maupun Akeno yang juga baru sadar akan hal itu.
"Maaf teman-teman! Maafkan aku! Aku tidak bisa menghentikan bus ini sekarang. Karena mereka terlalu banyak." Shikamaru dengan wajah tegangnya dan tangan yang gemetaran berusaha untuk mengatakan maksudnya. Walau begitu, Shikamaru tetap berusaha untuk memperlambat laju bus nya. Menyadari bahwa pintu bus masih terbuka, Sasuke segera menuju tangga bus tersebut. Akan tetapi teriakan Akeno kembali mengejutkan mereka semua, termasuk Sasuke yang sedang memegang gagang pintu bis itu.
"Itu mereka! Mereka berhasil keluar dan berlari kearah kita!"
Teriakan Akeno sukses membuat Issei, Gabriel, dan Kuisha menoleh tepat kearah kaca belakang bus yang memperlihatkan dua orang yang sedang berlari sekencang-kencangnya diikuti oleh banyak, Sangat banyak mayat hidup yang mengejar! Rias saat ini sedang berada di samping Kuisha yang terlihat mengelus sebuah cincin yang terkalung di lehernya dan Shikamaru barusaha untuk melihat kebelakang menggunakan kaca spion bus itu.
'Kumohon... Kami-sama!'
'Kumohon! Selamatkan Naruto untuk ku!"
...
...
Deru nafas tak beraturan terdengar saat kedua orang berbeda gender sedang berlari mengejar sebuah bus. Dua orang itu adalah Naruto dan Kuroka, Mereka berdua berhasil keluar dan berlari sekencang-kencangnya dipinggir jalan. Di jalanan itu terlihat banyak sekali Zombie yang memiliki tujuan sama dengannya. Sepertinya gerombolan Zombie itu tidak menyadari keberadaan Naruto dan Kuroka karena bisingnya suara mesin bus itu, sampai tidak menyadari dua manusia sedang berlari di samping mereka.
Naruto dan Kuroka berhasil menyalip Zombie itu karena pergerakan yang lambat dan lagi langkah yang tidak normal. Beberapa terhuyung, pincang, dan juga ada beberapa yang berlari mengejar Naruto.
"Ayo, Kuroka!" Naruto terus berlari walaupun nafasnya tersengal dan lagi dirinya tidak menyadari kalau kemampuan fisiknya sedikit meningkat dari biasanya, meninggalkan Kuroka beberapa meter di belakangnya.
"Aku sudah berlari secepat yang aku bisa, Naruto!"
Mereka berdua berlari mengejar bus tersebut, tentunya dengan pasukan zombie di belakang mereka berdua. Beberapa Zombie yang menghalangi jalan terkena serangan kapak Naruto dan juga Wakizashi milik Kuroka. Walaupun begitu, keduanya tidak sadar jika plastik makanan yang mereka bawa menjatuhkan beberapa kotak daging dan sayuran yang mereka bawa.
'Siaal..' Pikir pemuda itu, ia berhenti sebentar dan mengambil kotak daging dan sayuran yang telah berjatuhan dibelakangnya. Tanpa banyak basa-basi, kemudian Naruto mengikat plastik tersebut dan lanjut berlari.
"Apa mereka tidak melihat kita?" Kuroka yang mulai kelelahan berlari terus menerus dan Naruto yang ada di sampingnya berfikir demikian. Sedari tadi mereka juga berusaha untuk memberitahu teman-temannya agar menghentikan bus tersebut namun sepertinya sia-sia.
"Aku tidak tau! Tapi, Aku yakin kalau teman-temanku tidak akan pernah meninggalkan diriku dan aku yakin itu!" Naruto menjawab pertanyaan Kuroka dengan bangga tanpa menyadari kalau langkah kaki gadis itu sedikit melambat dengan nafas yang kian menipis.
...
...
"Mereka semakin melambat!" Teriakan Akeno membuat semua orang semakin panik tak terkecuali dua gadis yang mencintai pemuda itu. Keduanya langsung berlari ke bangku belakang dan memperhatikan jarak Naruto dan Kuroka yang semakin dekat dengan mayat-mayat kelaparan itu.
"Naruto-kun!"
"Naruto-kun!"
Gabriel dan juga Kuisha semakin khawatir dengan pemuda itu. Belum lagi bus yang di kemudian Shikamaru tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti.
"Shikamaru, Kumohon demi apapun itu! Hentikan bus ini, kumohon!" Teriakan Rias yang juga khawatir dengan keselamatan Naruto dan juga Kuroka di anggap Shikamaru angin karena tidak ada tanda-tanda berhenti.
"Sialan! Shikamaru, Cepat berhenti!" Issei dengan wajah tegang mencoba memerintahkan Shikamaru karena melihat banyaknya Zombie yang mengejar Naruto. Tak dipungkiri bahwa dirinya juga sangat khawatir pada temannya itu, bukan karena ia berhutang nyawa ataupun menyelamatkan seorang gadis yang ia cintai. Tidak! Hubungan mereka lebih dari itu semua, karena Naruto adalah sahabatnya bahkan ia sudah menganggap Naruto sebagai saudaranya sendiri.
"Cepat hentikan bus ini atau.." sebelum menyelesaikan ucapannya, Gabriel terjungkal kebelakang karena terjadi benturan keras dari arah depan seolah bus ini menabrak sesuatu.
"Sedari tadi aku mencoba menghentikan bus ini tapi..." Semua orang terdiam. Mereka tidak tau harus melakukan apa-apa, Gabriel, Akeno, Kuisha, Rias dan juga Tearju-sensei tidak bisa apa-apa saat mengetahui kalau mereka sudah terkepung dari berbagai arah. Depan, samping, bahkan belakang mereka beberapa Zombie mengepung bus itu.
"Sialan! Bahkan mereka ada di bagian depan!" Ucap Issei, Pemuda itu sudah tidak tau harus melakukan apa saat tau ada beberapa Zombie dari arah depan menghadang laju bus yang mereka naik. Belum lagi jarak Naruto dan juga Kuroka masih terlampau jauh.
"Kita tidak memiliki kesempatan pergi dari sini karena Zombie itu menghalangi laju bus, Walaupun kita menghentikannya sekarang saat Naruto dan Kuroka naik kita tidak akan sempat pergi dengan Zombie yang sudah bergerombol menghadang jalan kita!" Ucapan Akeno membuat suasana kian memanas dan dapat terlihat jika Tearju-sensei juga sedang membuat Kuisha tetap tersadar.
"Kita harus menjaga kecepatan bus ini dalam kecepatan yang konstan agar dapat mementalkan mereka! Dengan kata lain bus ini harus tetap melaju!"
Cklek...
Dari arah belakang, Sasuke yang sedari tadi diam membawa dua buah Shotgun dan juga sebuah pistol yang ia selipkan di bagian belakang pingganganya. Pemuda itu beranjak ke arah depan dan memberikan katana miliknya pada Akeno yang sedang duduk di samping Shikamaru.
"Issei dan Aku akan turun untuk membantu Naruto membersihkan jalan! Akeno, Gunakan katana ini untuk menjaga pintu masuk dari serangan tiba-tiba Zombie itu." Pemuda itu memberikan sebuah Shotgun pada Issei dan juga enam buah peluru cadangan pada pemuda itu. Keduanya saat ini sudah di hadapan pintu keluar dan sudah siap dengan segala resiko yang akan terjadi demi menyelamatkan teman mereka sendiri.
"Issei, prinsip Shotgun itu sama seperti game yang sering kita mainkan! Arahkan pada dada Zombie dan saat kau menembakkan shotgun tersebut, Recoil-nya akan menaikan arah keluar peluru secara otomatis." Issei yang mendengar perkataan temannya hanya menganggukan kepalanya. Sebelum mereka berdua turun, Sasuke mendekat pada Shikamaru dan memberikan sedikit arahan pada pemuda berambut nanas itu.
"Percaya pada kami dan biarkan bus ini pada kecepatan konstannya! Ku serahkan semua yang ada disini, Shikamaru." Tanpa banyak basa-basi Sasuke dan Issei segera membuka pintu bus itu dan melompat turun dari bus dengan senjata mereka yang sudah siap untuk di gunakan.
Ini adalah rencana yang sangat gila hanya untuk menyelamatkan seseorang yang berharga bagi mereka. Naruto, Sasuke, Issei dan juga Shikamaru sudah bersama sejak mereka berada di bangku sekolah dasar dan karenanya hubungan mereka sangatlah kuat. Meskipun begitu, Sasuke benci mengakui bahwa Naruto adalah orang yang selalu berusaha untuk menolong teman-temannya yang sedang dilanda kesusahan.
"Let's Kill Them, Issei...!"
...
...
Naruto dan Kuroka terus berlari walaupun kedua kakinya sudah menunjukkan tanda kelelahan yang sangat menyiksa. Bulir keringat yang membanjiri kening mereka menjadi pemandangan yang sangat indah di dalam kekacauan ini belum lagi deru nafas mereka yang seakan menjadi alunan musik di tengah kekacauan ini.
"Naruto-kun, Lihat!"
Tak jauh dari mereka, Sasuke dan juga Issei sudah turun dari bus dengan dua buah senjata di tangan mereka berdua. Bus yang mereka kejar juga terlihat melambat dan menurunkan kecepatannya. Melihat pemandangan itu keduanya semakin gencar berlari melupakan rasa lelah yang mendera tubuh mereka. Senyum di wajah mereka berdua seakan menjadi penyemangat di tengah nafas yang tersengal-sengal.
Naruto sangat terkejut saat salah satu yang ada di samping mereka mencoba menerjangnya namun suara seseorang membuatnya cepat bertindak dengan menundukkan kepalanya.
Dorr...
...
...
Di sebuah tenda yang sangat luas dengan nuansa berwarna putih, seorang pria sedang mengutak-atik Laptop di hadapannya. Berbagai alat canggih berada di samping pria itu sampai ada sebuah kulkas yang memiliki ukuran sebesar mesin microwave. Kemudian pria itu mencoba mencari sebuah file yang kemudian ia masukkan dan ia kombinasikan menggunakan perbaduan keyboard yang ada di pad laptop tersebut. Map satelit langsung di tampilkan dengan sebuah data yang terus menerus tersingkron dengan database seluruh CCTV yang ada di jepang. Pria itu terus mengutak-atik Laptop miliknya dengan dahi yang mengeluarkan keringat.
"Ayolah..."
Ekspresi khawatir muncul di wajah pria itu. Sampai datang seseorang dengan jas hitam lengkap dengan sebuah koperasi memasuki tenda itu. Pria itu tampak mengacuhkan orang tersebut namun tiba-tiba pria itu tampak mengeluarkan sebuah berkas dari dalam koper yang ia bawa.
"Mr. Abaddon... Maafkan aku, seharusnya Profesor Abaddon, kan? Bekerja samalah dengan kami." Pria itu langsung menaruh berkas yang ia bawa di samping Laptop milik profesor itu.
"Kenapa aku harus bekerja sama dengan kalian, Hah? Kalian yang sudah menyebabkan bencana ini di seluruh dunia! Eropa, Asia, Afrika, bahkan Amerika semua mengalami hal yang sama dan itu terjadi tepat kemarin! Kalian adalah mayat hidup yang sebenarnya namun biarkan aku bertanya sesuatu."
"Pertanyaan apa itu, Profesor Abaddon?"
"Kenapa kalian menciptakan bencana ini?" Profesor itu terdiam dan kemudian menutup Laptop yang ia gunakan. Berjalan dengan santai menuju pria yang menggunakan setelan hitam menunggu jawaban pria itu.
"Organisasi kami adalah Organisasi yang ingin membantu bumi ini tetap bertahan. Punahnya populasi manusia akan menyebabkan bumi kembali ke masa sunyi. Bisa kau bayangkan indahnya pepohonan, udara yang segar tanpa polusi dan juga lapisan ozon yang tidak bertambah tipis membuat bumi ini bertahan dari kiamat, bisa kau bayangkan itu Prof?"
Nemesis The Goddess of Revenge, salah seorang dewi yang melambangkan pembalasan dalam mitologi Yunani. Pembalasan bagi umat manusia yang melakukan kerusakan di bumi dan yang organisasi Nemesis lakukan sama dengan apa yang di lakukan dewi tersebut.
Bumi menjadi surga yang indah. Hewan terus berkembang biak, Udara yang menjadi segar, Hutan terus berkembang dan tanda peradaban manusia yang berupa gedung-gedung pencakar langit akan runtuh. Bumi akan terselamatkan setidaknya selama beberapa milenial dan hanya menunggu kehancuran yang tuhan buat.
"Aku tidak ada kesempatan untuk membayangkan hal tersebut! Aku harus menyelamatkan putri kecilku dari neraka kota Tokyo." Profesor itu keluar dari tenda tempat ia tinggal sementara dengan perlengkapan standar. Sebuah pistol berwarna putih bersarang di pinggang bagian kirinya dan beberapa Magazine untuk pistol Desert Eagle terselip di rompi anti peluru yang ia pakai. Di lengan kanannya, ada sebuah mini monitor yang tersambung dengan Database satelit milik Jepang menunjukkan sebuah titik berwarna merah yang berada di kota Tokyo.
"Kumohon Tuhan, pertemukanlah aku dengan anakku kembali."
...
...
"Ayo Naruto!" Sasuke dengan cepat menarik baju milik Naruto hingga pemuda itu sedikit meringis kesakitan. Issei terus menembakkan senjata yang ia bawa membersihkan Zombie yang menghalangi jalur pelarian mereka.
Saat di jalanan sedang menembaki Zombie yang ada, di dalam bus Tearju yang selalu menguatkan Kuisha maju dan memberi arahan pada Shikamaru yang sepertinya memiliki beban dalam pikirannya karena situasi ini sangat genting.
"Shikamaru-kun, turunkan kecepatan bus ini sampai menyentuh angka 10Km/jam, setidaknya benturan dengan kecepatan itu masih bisa membunuh beberapa Zombie di depan kita dan jika kau merasa tidak bisa naikan kecepatan bus ini untuk sementara dan turunkan kembali." Ucapan Tearju membuat Shikamaru menjadi tenang, kakinya menginkan pedal rem untuk sementara dan kemudian menaikkan kakinya seraya menginjak pedal gas.
"Mereka menurunkan kecepatan busnya!" Kuroka yang melihat ia sangat bersemangat sampai meninggalkan teman-temannya di belakang, sedangkan para pria hanya tersenyum pada sesamanya dengan wajah seakan menantang.
"Kalian ingin kalah dari Kuroka?" Mendengar ucapan Naruto, Sasuke dan Issei menaikkan shotgun mereka dan bersandar di punggung mereka. Kedua pemuda itu hanya tersenyum dengan kepalan tangan yang saling beradu.
"Haaah? Tentu saja tidak, Naruto!" Mereka bertiga berlari menghiraukan gerombolan Zombie yang siap menerkam dari segala arah, reflek mereka terlatih dalam menghindari serangan konstan dari para Zombie dan membuat jantung mereka semua terpacu lebih cepat dari biasanya.
"Shikamaru, dengarkan aku baik-baik!" Tearju berteriak dengan keras di samping Shikamaru yang fokus dengan kecepatannya di Speedometer itu. Kali ini wajah Tearju tampak cemas bercampur dengan kesal karena semua murid yang harusnya ia jaga akan tewas karena ia tidak bisa menjaga semuanya.
"Injak rem bus itu sekuat yang kau bisa! Akeno, segera turun dan bersihkan Zombie yang ada di depan pintu untuk sementara dan Gabriel, Kau bisa membatu Akeno!" Otot-otot leher Tearju terlihat menegang dan juga urat nadi tampak keluar. Shikamaru yang sadar situasi yang semakin genting segera menginjak rem tanpa banyak protes dan membuat bus sedikit tergelincir ke arah kiri sebelum berhenti menabrak beberapa Zombie di arah samping. Sesaat setelah bus itu berhenti Akeno dan Gabriel segera turun dan membabat habis para Zombie sebelum Rias turun menggunakan Sickle milik Akeno untuk membantu teman-temannya. Di belakang mereka terlihat empat orang yang berlari namun mereka semua terkejut saat melihat Kuroka terjatuh dengan tubuh gemetaran.
"Sasuke, Issei! Kalian duluan saja!" Naruto segera berhenti dan kembali ke arah Kuroka. Pemuda itu langsung memapah tubuh Kuroka, Nafas yang terengah-engah dan juga luka yang terbuka membuat Naruto harus menahan rasa sakit seorang diri namun teriakan seseorang membuat semua orang menolehkan kepala mereka.
"Kuisha!"
Tanpa di duga, Kuisha turun dan berlari membantu Naruto dan Kuroka begitu juga Sasuke. Jarak mereka dengan bus itu hanya terpaut sepuluh meter lagi dan akhirnya mereka sampai dan saat Naruto ingin naik kakinya tergelincir, namun sebuah tangan seseorang segera menangkap Naruto dengan sebuah senyum di wajahnya.
"Okaeri, Dobe!"
...
...
TuBerCulosis
...
...
Hmm... Sebelumnya saya sebagai Author ingin meminta maaf karena meleset update. Update kali ini harusnya It's Just a Dream tapi saya malah kepikiran buat Fic Zombie ini maka dari itu mohon untuk memakluminya dan juga memaafkan keteledoran saya.
Baik, Di chapter kali ini Naruto mendapatkan suatu kemampuan yang bisa dibilang berguna dan darimana kemampuan itu? Bisa kalian tebak sendiri?
Lalu, Kenapa Naruto kebanyakan mengambil makanan kaleng? Jawabannya sangat simple, Karena makanan kaleng memiliki ketahanan yang sangat lama dibandingkan makanan biasa yang ada di lemari pendingin ataupun Showcase. Sekali lagi kuingatkan kalau fic ini mengajarkan kita untuk bertahan hidup dan juga terus berkembang dengan peralatan yang ada di sekitar kita.
Ketiga, Naruto dan teman-temannya bakalan nyari sebuah pangkalan Survivor yang pastinya bukan di Jepang. Ada saran? Walaupun aku sudah memiliki pemikiran tersendiri namun tak salah kan jika kalian memberikan masukan.
Hmm... Sepertinya hanya itu saja yang ingin ku sampaikan. Sekali lagi, Mohon maaf karena aku sedikit meleset dari update yang seharusnya.
