Shiroyukki Present
...
...
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.
...
...
Summary :
Ilmu pengetahuan adalah akar dari masalah yang terjadi. Kegilaan tak ada hentinya menghiasi hari-hari anak SMA di jantung negara matahari terbit. Apakah mereka berhasil bertahan hidup di saat jutaan mayat hidup menghadang jalan mereka?
...
...
#StayAtHome
...
...
Chapter 5 "The Stickbleed From of The Dead"
...
...
"Okaeri, Dobe." Dengan sekuat tenaga, Sasuke menarik Naruto. Pemuda itu melompat dengan semua tenaga yang ia bisa hingga akhirnya membuat Naruto merasa tertarik.
Brugh...
Matanya terpejam erat dengan nafas yang terengah-engah keluar dari mulutnya. Semua mata tertuju pada dua orang pemuda itu sebelum akhirnya suara tawa keluar dari mereka.
"Arigatou na, Teme!"
Sasuke yang mendengar itu hanya tersenyum kecil. Inilah yang membuat mereka berdua bersahabat, perbedaan di antara mereka membuat mereka saling melengkapi kekurangan tersebut dan akhirnya mereka sekarang selamat, setidaknya untuk sekarang.
Grep...
Saat Naruto dan Sasuke sudah kembali berdiri, seseorang tiba-tiba memeluk Naruto dengan erat seakan-akan tidak ingin kehilangan pemuda itu.
"Syukurlah! Terima kasih, tuhan!" Ucapan yang keluar dari mulut gadis itu membuat Naruto tau siapa gerangan yang memeluknya. Pemuda itu juga merasakan perasaan khawatir, ketakutan, akan kehilangan dirinya. Semua orang terdiam dan Sasuke hanya diam melihat itu, karena kemarin adalah hal yang membuat dirinya sangat terpukul dan lagi keadaan Jepang yang sekarang sangatlah berbahaya membuat Sasuke mengesampingkan perasaannya sendiri.
"Tidak apa, Aku akan terus disini bersama denganmu." Naruto membalas pelukan orang itu dan mengusap punggungnya. Kuisha Abaddon, jika di bilang gadis itu adalah secercah cahaya dalam hidupnya. Sebernarnya Kuisha menderita sebuah penyakit yang sangat unik dimana penyakit itu bukannya membuat gadis itu sakit namun melindungi gadis itu dari penyakit dengan kata lain Kuisha kebal akan segala penyakit yang ada. Namun, Naruto tidak pernah berfikir jika penyakit Kuisha dapat beradaptasi dengan virus Zombie di luar sana.
Plak...
Suasana di dalam bus itu menjadi hening saat Kuisha yang sedari tadi menangis di pelukan Naruto, Menampar pemuda itu.
"Kenapa kau melakukan itu semua? Hanya demi makanan kau sanggup meninggalkan ku?" Gadis cantik itu terus menerus memukul dada Naruto sedangkan untuk Naruto dia hanya diam dengan wajah tertunduk dan berulang kali mengatakan maaf.
"Maaf... Maaf... Maaf... Maaf..." Kata-kata itu terus menerus keluar dari mulut Naruto bagaikan sebuah kaset yang rusak hingga akhirnya pemuda itu menggengam bahu Kuisha dan berteriak di hadapan gadis tersebut. "... Aku tidak bisa kehilanganmu! Tidak akan pernah! Sekalipun tidak! Karena kau adalah tanggung jawabku."
"Ayahmu, Paman Abaddon selalu mengatakan kalau aku harus menjagamu saat ia tidak ada apapun yang terjadi! Itu adalah sumpah sesama laki-laki dan karenanya aku harus menanggung beban itu!" Mendengarnya Kuisha menjadi terkejut, Pemuda ini, Tunangannya menanggung beban yang sangat berat karena bertarung pada nyawa seseorang. Namun ke panikan kembali terjadi saat Naruto tidak sadarkan diri dengan punggung yang mengeluarkan darah.
...
...
Kyoto, Japan
Kyoto, sebuah kota yang menjadi saksi bisu perkembangan Jepang sejak era keshogunan Tokugawa. Istana Kyoto adalah istana yang menjadi basis pertahanan shotgun Tokugawa Ieasu sebelum berpindah menjadi kepada negara kakisaran.
Di sebuah ruangan, sebut saja sebuah laboratorium. Seorang pria berjas putih sedang meletakkan sebuah tabung kaca dengan cairan berwarna hijau bening di dalam berangkas penyimpanan yang memiliki sistem injeksi nitrogen cair. Setelahnya pria itu membuka jas miliknya dan terlihat sebuah baju hitam ketat yang menutupi tubuh bagian atasnya dan sepertinya bahan pakaian itu adalah Spandex. Pria itu berjalan ke arah sebuah meja yang tersedia beberapa sabuk senjata yang langsung ia kenakan, kemudian mengambil pistol dan mengisi Magazine kedalamnya hingga bunyi khas senjata terdengar.
Pria itu membuka pintu dan melangkahkan kakinya keluar mengikuti lorong bernuansa putih di hadapannya. Suara langkah kaki berbalut sepatu Army Safety terdengar di sepanjang lorong itu dan beberapa penjaga yang menjaga di area lorong tersebut menundukkan kepala mereka, hingga sampailah pria itu di sebuah aula dengan cahaya yang sangat minim. Mengambil sebuah senjata dengan Type Sub Machine Gun yang tergantung di rak pajangan senjata dan di belakang pria itu sudah berbaris sepuluh orang dengan pakaian militer lengkap. Wajah setiap orang tertutupi sebuah masker gas khas perang dunia ke II. Senjata lengkap sudah mereka bawa sebagai perlengkapan bertahan hidup di dunia ini, Dua orang membawa sebuah Sniper Semi-Auto berupa Dragunov lalu tujuh orang membawa Assault Rifle dan satu orang membawa sebuah Machine Gun.
"Sudah waktunya kita mencari orang yang bertanggung jawab atas semua kekacauan ini. Target kita adalah Kaguya Otsutsuki dan dua orang dari keluarga Uchiha, Madara dan juga Obito! Tangkap mereka hidup-hidup dan jika tidak memungkinkan segera eksekusi di tempat. Namun, kita harus memastikan bahwa mereka membayar semua yang sudah mereka perbuat di negara ini."
...
...
"Ini..." Pandangan Naruto teralihkan saat seseorang memberikannya sebuah senjata kala ia sedang istirahat setelah Tearju-sensei mengobatinya kembali. Sebuah pistol berwarna putih dengan Magazine yang dapat menampung hampir 17 peluru ada di hadapannya.
"Ini aku berikan kepadamu, Glock-17. Walaupun tidak seperti Shotgun milik Issei ataupun MP45 milikku tapi aku yakin kau dapat menggunakannya sebaik mungkin." Merasa dirinya siap, Naruto mengambil keputusan untuk menggengam pistol itu. Glolck-17, senjata buatan negara Austria dan pistol ini mempunyai berat yang ringat sekitar 0.87 sampai 0.89Gram. Pistol yang awalnya di anggap sebagai produk gagal ini, memiliki akurasi yang istimewa bahkan jika digunakan oleh seorang amatiran sekalipun. Magazine yang dapat menampung sampai 17 peluru 9mm Parabellum dapat menjadi pilihan yang bagus kala bencana seperti ini.
"Aku sudah memiliki Shotgun ini dan Sasuke juga sama, begitu juga para gadis yang memiliki Katana milik kami. Jadi sepertinya hanya kau saja yang harus memiliki senjata itu." Semua orang setuju dengan arah pikiran pemuda mesum yang ada di samping Sasuke. Hanya Naruto yang tau apa yang terjadi saat ini dan Naruto juga yang mengumpulkan semua orang saat bencana ini dimulai. Namun yang tidak mereka pikirkan adalah sifat mereka yang selalu membantu orang yang kesulitan.
"Ini benar-benar aneh. Pada awalnya Bencana ini tidak pernah ada, lalu Zombie yang memasuki area sekolah adalah pekerja lab dan lagi JSDF memberikan kita Emergency Box ini." Sadar akan sesuatu, Naruto langsung pergi ke bagian belakang dimana kotak kayu itu mereka letakkan. Pemuda itu mencoba mencari sesuatu di bagian dalam hingga mengacak-acak tumpukan jerami yang menjadi alas kota kayu tersebut.
'Gocha!' Saat semua orang memperhatikan apa yang Naruto lakukan kecuali Shikamaru yang fokus pada kendaraan, Hingga akhirnya mereka terkejut saat tangan Naruto terangkat dengan secarik kertas yang di genggam pemuda itu.
"Naruto-kun, Kertas apa itu? Jika itu surat coba buka sekarang!" Akeno yang tampak antusias menyuarakan rasa ingin taunya dan Naruto hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti keinginan gadis itu.
"Datanglah ke Markas Pusat Kepolisian Tokyo, Polisi disana membuat Barikade dan mengumpulkan semua warga yang selamat untuk di evakuasi. Evakuasi terakhir 17.34."
Terdiam! Semua orang terdiam dalam keheningan mendapati isi surat itu. Ini adalah secercah harapan bagi mereka semua namun entah kenapa ia merasakan firasat tidak enak dan entah apa yang menanti mereka di kantor polisi itu.
"Menurut pesan ini, di Markas Pusat Kepolisian Tokyo, para polisi setempat mengumpulkan para survivor dan mengevakuasi mereka ke tempat aman. Seakan-akan JSDF mencoba membantu kita." Mendengar itu teman-temannya membuat helaan nafas seakan mereka bersyukur karena sudah di berikan informasi yang setidaknya dapat membantu mereka saat ini.
"Hei, dengarkan aku! Jika mereka memerintahkan kita untuk pergi ke Markas Polisi bukankah itu sama saja bunuh diri?"
Markas Pusat kepolisian berada tepat di jantung kota Tokyo dan karenanya mereka sangat yakin kalau itu akan menjadi mimpi buruk. Tokyo adalah salah satu dari lima kota terpadat di Jepang dan bisa di bayangkan berapa banyak Zombie di jantung kota Tokyo?
"Sensei, bagaimana denganmu?" Rias bertanya pada Tearju, setidaknya sebagai orang paling dewasa di dalam bus ini Tearju dapat memberikan arahan dan juga saran pada mereka semua.
"Hmm... E-etto... Bagaimana yah? Aku akan mengikuti pemimpin kita saja." Mendengar hal itu, semua orang terdiam. Pemimpin?
"Pemimpin?" Seakan mewakili semua pikiran setiap orang, Rias mencoba berbicara tentang kata 'Pemimpin' yang menurutnya ambigu. Namun beberapa detik kemudian, semua mata tertuju pada satu orang. Issei, Gabriel, Kuroka, Shikamaru, Akeno tersenyum penuh arti, sedangkan Sasuke hanya diam dengan sifat calm miliknya dan Kuisha yang tertidur karena masalah kecil tadi.
"Eh? Ada apa? Kenapa semua orang menatapku seperti itu?" Perasaan bingung dan takut seketika menjalar dari kepala hingga ujung kaki. Dalam penglihatan Naruto, Teman-temannya saat ini seakan berubah menjadi Zombie karena bersikap aneh dengan keringat yang menetes melalui pelipisnya.
"Kita memang butuh pemimpin yang sanggup menuntun kita semua, Cepat mengambil tindakan, dan menjadi panutan bagi kita semua! Benarkah, Akeno?" Gadis yang di tanya tadi hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian semua orang menatap Naruto.
"Pilihanmu adalah apa yang kami ikuti, Naruto!"
"Oii Issei, apa maksudmu?"
"Kau adalah orang yang selalu berjuang di tengah kegilaan ini."
"Kau orang yang telah mengumpulkan kami!"
"Naruto! Kau adalah pemimpin kami!"
"Setiap langkahmu adalah langkah kami juga, Namikaze-kun. Jadi, Beritahu kami kemana tujuan kita sekarang!" Tearju seketika membuka suaranya kembali dengan senyum yang mampu membuat orang idiot seperti Naruto kembali berfikiran positif.
"Hufft... Kalian! Karena kertas ini memberikan petunjuk dan juga resiko yang sangat besar maka kita hindari saja pergi ke Markas Kepolisian! Jangan langsung menghakimi diriku, kembali lagi dengan apa yang kita ketahui tentang para mayat hidup itu." Seakan memberikan sebuah Clue, Teman-temannya langsung tau apa yang di maksud pemimpin mereka saat ini.
"Para Zombie peka terhadap kebisingan!"
"Tepat sekali dan karenanya kita harus menghindari pusat dari kebisingan tersebut, dalam kasus ini pusatnya berada di Markas Kepolisian. Menurutmu kita harus pergi ke suatu tempat yang bisa kita jadikan base untuk sementara waktu." Kata-kata yang sarat akan semangat dari Naruto, membuat salah seorang di antara mereka terbangun tepatnya Kuisha yang terbangun karena kebisingan itu.
"Ahh... Kita akan pergi ke rumah Kuisha! Shikamaru, kau masih ingat letaknya?"
"Serahkan saja kepadaku!"
...
...
Unknown Place, Headquarter of Nemesis, 200m Underground
"Profesor Abaddon, tidak mau bekerja sama dengan kita."
"Begitu... Kah?"
Di dalam ruangan paling bawah di sebuah bangunan rahasia berjarak dua ratus meter dari permukaan. Dua orang pria dewasa sedang berdiskusi dan di hadapan mereka ada sebuah monitor yang menampilkan siluet seseorang. Salah satu pria itu terlihat duduk di atas meja oval dengan rambut spike miliknya dan di sampingnya ada seorang pria berambut panjang dengan mata hitam sedang duduk dengan nyaman.
"Lalu, Apa yang harus kita lakukan?" Pria berambut spike itu membuka mulutnya dan membiarkan semua orang diam untuk sementara waktu.
"Obito, perintahkan Orochimaru membuat Anti-virus untuk Zombie itu dan kali ini kau harus berhasil membujuk profesor itu." Suara khas Chipmunk terdengar dari orang yang ada di siluet itu. Suara itu tersamarkan agar tidak dapat lacak, walaupun ada bagian yang terlihat kalau orang itu adalah seorang wanita.
"Jika Orochimaru, Kurasa aku mampu membujuknya. Tapi..."
"Biarkan saja orang itu, kita sudah tidak membutuhkannya lagi." Orang yang ada di ruangan itu, akhirnya buka omongan, seolah tapi apa yang dimaksud pria berambut spike di sampingnya.
"Apakah aku harus membunuhnya?"
" meski kau membunuh orang itu, Kita tidak akan mendapatkan serumnya kerena yang ia pedulikan saat ini adalah..."
...
...
Tokyo, Team Naruto
Bus yang mereka tumpangi melaju dengan tenang setelah menghantam puluhan mayat hidup beberapa saat yang lalu. Semua orang di dalam bus itu sedang memakan sesuatu berusaha untuk memulihkan stamina mereka setelah semua yang terjadi dan beberapa memilih tidur dalam keadaan perut kelaparan.
Kuroka dan Akeno tampak sedang memakan onigiri yang Naruto bawa di dalam plastik dari toko di pom bensin sebelumnya. Begitu juga Rias yang sibuk menyuapi Issei yang berlaku manja saat ini menjadi tontonan tersendiri bagi beberapa orang. Sasuke yang sedang membersihkan dan meminyaki laras shotgun miliknya dan Naruto yang tidur dihimpit oleh Gabriel dan juga Kuisha. Tearju-sensei juga sedang memakan puding di sela pekerjaannya menghitung obat-obatan dan juga makanan yang mereka punya.
Sebelumnya Sasuke memang sudah memakan makanan yang Naruto bawa begitu juga dengan Gabriel dan juga Kuisha yang sama-sama memakan sup kacang kaleng namun Sasuke menatap sahabatnya yang sedang tertidur dengan pulas di tengah dua orang yang sangat mencintainya. Tatapan prihatin ia keluarkan di sela-sela pekerjaannya.
'Orang yang bagiku adalah keluargaku sendiri dan kenapa dia begitu bodoh untuk memikirkan dirinya sendiri, Kami-sama? Menyelamatkan Kuroka sampai dirinya terluka, Mencari suplay makanan agar semua orang bertahan hidup, dan kemudian selalu berlagak kuat saat di hadapan kami semua. Jujur saja, aku menaruh rasa hormat paling tinggi kepadamu saudaraku!'
Setelah bergelut dengan pikirannya, Sasuke mendekati Naruto dan berusaha untuk membangunkan dirinya. Entah kenapa melihat seseorang yang tertidur di saat seluruh orang menikmati hasil kerja kerasnya sedikit membuat Sasuke prihatin.
"Oii Dobe, bangun! Kau sedari tadi belum makan, kan?" Akibat perkataan Sasuke, semua orang terdiam dan menaruh perhatian mereka pada makanan yang sedang mereka makan. Kenapa mereka sampai lupa, kalau Naruto sudah makan atau belum?
"Ahh... Sasuke? Hmm... Kau makanlah dulu, aku tidak bisa makan disaat seperti ini." Saat sadar Naruto langsung melihat kertas yang sedari tadi ia genggam dalam tangannya tanpa sadar jika ia sedang dihimpit Kuisha dan Gabriel yang tertidur di sebelahnya.
"Ahh... Kalau begitu, bisakah kau berikan aku rokok milikmu?" Melihat tangan Shikamaru yang melambai ke atas membuat semua orang menatap pemuda itu dengan wajah prihatin. Mereka tau kalau di saat seperti ini, Rokok adalah hal yang wajar karena dapat membuat otak menjadi rilex dan lagi semua orang sudah tau kalau Naruto, Issei, Sasuke, Shikamaru adalah seorang perokok.
"Kau ini! Bisakah kau berhenti untuk beberapa hari? Itu akan membuat pernafasanmu sedikit lebih ringan saat berlari."
"Ya... Ya... Aku tau, tapi tidak seperti kalian yang bisa tidur nyenyak. Aku tidak tidur sama sekali selama dua hari."
Semua orang sweatdrop saat melihat Shikamaru yang menatap mereka dengan kantung mata yang menghitam. Dengan begitu, Naruto hanya menghela nafasnya dan memberikan sekotak rokok miliknya kepada Shikamaru dan dapat Naruto lihat jika di hadapan temannya ada beberapa botol kaca minuman energi.
'Ini masih bisa di gunakan, kan?' seketika sebuah ide melintas di dalam otaknya. Naruto mengambil botol kaca itu dan meminjam Wakizashi milik Kuroka guna membuat bolongan kecil pada tutup kaleng minuman ini. Menuangkan bensin secukupnya dan mengorbankan Blazer milik Gabriel sebagai sumbu dan jadilah...
'Sebuah bom Molotov.'
"Kau masih saja bekerja keras, Naruto-kun! Setidaknya pikirkan kesehatanmu juga." Kuroka yang sudah sadar langsung menghampiri Naruto dan memberinya sebuah roti lapis. Sebelumnya dirinya memang tertidur namun saat merasakan pergerakan dari tubuh Naruto, Gadis itu terbangun dari tidurnya, dan melihat sang pujaan hati sedang bekerja.
"Sudah ku bilang, aku tidak bisa makan saat ini. Jika kau mau makan saja, Kuisha." Senyuman itu! Itu adalah senyuman palsu milik Naruto dan hanya Kuisha yang sadar akan hal tersebut.
"Kenapa? Kenapa kau mengeluarkan senyuman palsu itu lagi kepadaku? Aku adalah tanggung jawabmu kan? Maka kau juga adalah tanggung jawabku! Jika kau tidak makan maka aku juga tidak akan pernah makan!" Ucapan Kuisha membuat Naruto terdiam seketika. Jika di perintahkan untuk mengungkapkan apa yang ia pikirkan saat ini maka sangat susah. Namun pemuda itu tetap berusaha yang terbaik untuk teman-temannya.
"Kuisha! Maafkan aku, pikiranku terus berkutat dengan banyak pertanyaan. Aku masih memikirkan siapa yang telah memberikan kertas ini? Siapa yang memulai bencana ini dan apa diluar sana masih ada yang selamat? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan mereka entah itu orangtua ataupun anak-anak, apa mereka sudah makan hari ini? Tentunya banyak orang kelaparan saat ini."
Semuanya terdiam, merasa malu akan apa yang mereka lakukan saat ini. Pastilah sangat sedikit korban yang selamat dari insiden berdarah ini dan dapatkah mereka semua yang selamat tidur dengan aman? Makan dengan damai dan juga tetap bahagia bersama dengan orang yang mereka kenal? Sungguh rasanya mereka malu dan merasa tidak pantas atas makanan yang sedang mereka makan.
Akeno dan Kuroka menghentikan acara makan mereka, Sendok puding tetap bersarang di mulut Tearju-sensei,
"Rias..." Issei terdiam dengan kepala tertunduk dan genggaman pada laras shotgun miliknya mengerat. Bahkan dirinya merasa sedih walaupun baru memakan beberapa suap makanan kaleng yang susah payah Naruto dan Kuroka bawa dengan mengorbankan nyawa mereka sebagai taruhan. Issei sungguh kecewa dan kesal pada dirinya sendiri.
Naruto terkejut saat sadar suasana dalam bus ini mendadak menjadi hening. Penglihatannya dapat melihat beberapa temannya terpukul karena ucapannya dan beberapa tidak melanjutkan acara makan mereka sedangkan Kuisha terdiam dengan sebelah tangan mengepal namun dapat dilihat jika setitik air mata jatuh dari dagu gadis itu.
"Ahh... Teman-teman! Aku sungguh tidak apa. Makanlah sebelum sampai ke rumah Kuisha agar kita dapat beristirahat disana." Pemuda itu sebisa mungkin tetap menguatkan hati teman-temannya dengan sikap konyol yang biasa ia lakukan yaitu Tertawa dan menggaruk belakang kepalanya agar semua orang menikmati makanan mereka.
"Apa aku pantas memakan makanan yang telah kau dan Kuroka dapatkan dengan taruhan nyawamu, sedangkan Kau tidak makan sama sekali?" Suara Akeno terdengar sangat berat dan gadis itu hampir menangis karena rasa sesal akan dirinya muncul.
"Jika salah satu dari kami tidak makan, maka tidak ada yang makan sama sekali, kan?" Rias yang berbicara dan kembali memasukkan sendok plastik kedalam kaleng yang ada di genggamannya.
"Apa yang kau katakan benar, Naruto-kun. Pasti banyak survivor diluar sana yang masih kelaparan tanpa adanya suplay." Kali ini Tearju-sensei yang mengutarakan pendapatnya. Guru muda itu mencengkram erat rok miliknya dan karenanya Naruto semakin panik mendengar ucapan semua orang. Yah, tidak lain dan tidak bukan ini semua salahnya.
"Baiklah... Baiklah... Aku paham! Aku juga akan makan." Naruto segera meletakkan botol-botol kaca itu dan berjalan ke arah bagian belakang menuju Tearju-sensei yang bertanggung jawab atas suplay mereka namun langkahnya terhenti saat mendengar suara kaleng terbuka dari arah belakangnya. Dibelakangnya ada Kuisha yang sudah memegang kaleng makanan dan sebuah wadah plastik berisi roti lapis berada di tangan yang lain.
"A aku tau kalau kau belum makan dari kemarin jadi aku membawakanmu banyak makanan. Jadi, mari kita makan bersama!" Naruto hanya terbengong melihat hal yang sangat jarang dihadapannya. Kuisha, saat ini sedang menatap Naruto dengan wajah memerah dan itu sangatlah imut bagi dirinya. Keduanya duduk bersebelahan dengan Kuisha yang menyuapi pemuda itu.
"Dengar Naruto-kun! Kau adalah orang yang telah menuntun kami semua sampai saat ini. Mungkin jika masih ada survivor seperti kita di luar sana dan jika apa yang kau ucapkan adalah kebenaran maka anggap saja itu sebuah garis takdir yang memisahkan nasib kita dengan mereka. Jadi kita harus tetap bertahan hidup di atas kaki kita sendiri dan mengulurkan tangan kita untuk menggapai mereka semua. Kita adalah kelompok yang harus menyelamatkan mereka! Maka dari itu makanlah untuk hari ini karena suatu hari nanti, kita akan melupakan cara makan dalam damai! Dan, pada saat itulah kau harus siap!" Dengan tangan kanan yang memegang sendok, Kuisha mencoba menenangkan hati Naruto hingga membuat pemuda itu terdiam mendengar kata-katanya. Kuisha lebih tau jati diri Naruto lebih dari siapapun di dalam bus ini, Naruto adalah orang yang mencoba selalu kuat di hadapan orang-orang yang berharga baginya dan juga itu adalah sifat yang Kuisha benci dari tunangannya.
"Terima kasih, Kuisha!" Narutopun akhirnya kembali dengan senyuman yang biasanya, sebuah senyuman tulus tanpa menyembunyikan apapun dan karenanya hati Kuisha sedikit lega. Itulah peranannya saat ini, Naruto akan selalu melindungi dirinya dan dia akan menguatkan pemuda itu.
"Kau telah mengajarkan satu hal penting pada kami semua, Naruto." Ujar Sasuke dan kemudian, pemuda itu menarik nafas hingga membuat bara api pada ujung tembakau itu sedikit bercahaya.
"Akwu... Twidak... Denghar..., Sastwutke!"
"Uhukk.. Uhukk... Uhukk... Telan dulu makanan mu, Sialan!" Sebuah perempatan muncul di wajah calm Sasuke saat ia menghembuskan asap rokok keluar dari mulutnya.
Bus mereka kini membelah jalanan kota Tokyo menuju kota sebelah, Shinjuku melalui pinggiran kota. Beberapa Zombie yang menghadang mereka tabrak tanpa kenal lelah.
Naruto POV
Beberapa tragedi yang terjadi sejak kemarin sudah membuatku belajar sesuatu. Aku harus tetap bertahan hidup dan terus berdiri di dunia yang susah hancur, demi melindungi semuanya.
Sasuke, Issei, Akeno, Gabriel, Rias, Kuroka, Sensei. Kebersamaan kami membuat ikatan kami semakin erat lebih erat daripada hari pertama kami membentuk kelompok ini, Rasanya seperti berada didalam keluarga baru bagiku. Mungkin karena akupun tidak tau nasib dari orangtuaku yang entah sekarang berada dimana. Aku sangat berharap dapat bertemu mereka lagi walaupun sudah menjadi Zombie sekalipun. Dengan Pistol dan juga Kapak yang sudah menjadi temanku sejak hari pertama membuatku tersadar akan sesuatu.
Suatu hal yang saat ini harus aku lakukan yaitu tetap melindungi mereka semua! Melindungi seluruh keluarga baru yang ku miliki.
...
...
TuBerCulosis
...
...
