Shiroyukki Present
...
...
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.
...
...
Summary :
Ilmu pengetahuan adalah akar dari masalah yang terjadi. Kegilaan tak ada hentinya menghiasi hari-hari anak SMA di jantung negara matahari terbit. Apakah mereka berhasil bertahan hidup di saat jutaan mayat hidup menghadang jalan mereka?
...
...
#StayAtHome
#BangkitFFn2021
#KeepWriting
#KeepReading
...
...
Chapter 7 : The Night of the Dead
...
...
Bus sekolah yang mereka kendarai berjalan dengan santai di satu rute tercepat menuju ke Markas Pusat Kepolisian yang berada tepat di jantung kota Tokyo. Dengan kecepatan stabil di angka 40Km/Jam, Mereka akan sampai di tujuan sekitar 20 menit lagi. Shikamaru dengan telaten menjaga kecepatan bus tersebut dan sesekali dari mulut pemuda itu terlihat asap yang ia hembuskan dengan sebotol minuman energi di tangan kanannya. Issei dan Sasuke sedang mempersiapkan persenjataan yang ada mulai dari membersihkan laras senapan menggunakan minyak makan yang Naruto bawa dan menggunakan batu asah guna menanamkan Katana, Emergency Axe dan beberapa Sickle juga membersihkan pemukul baseball kemudian dilanjutkan membuat beberapa senjata Handmade. Beberapa Gadis di temani Tearju sedang mencoba memasak walau dengan perabot seadanya yang mereka ambil di toko sebelum berjalan kemari.
Acara makan siang mereka di isi dengan keheningan tanpa seorangpun yang memulai pembicaraan. Menu siang ini sangatlah sederhana, Hanya berupa tumisan sayur yang di campur bersama dengan daging ditemani nasi putih. Walaupun sederhana setidaknya mereka semua bahagia karena masih memiliki makanan dalam keadaan seperti ini. Mereka makan bersama-sama setelah mematikan mobil dan juga memeriksa keadaan sekitar sebelum mereka semua melanjutkan perjalanan.
Daun-daun hijau terangkat tertiup angin kala tekanan udaranya berubah saat bus yang mereka tumpangi mejalu di bawahnya. Mayat-mayat hidup di trotoar jalan ataupun di pinggiran jalan terlihat sangat sedikit dan tentunya suasana hati mereka menjadi lebih khawatir dari biasanya. Sungguh! Mereka belum bisa melupakan bagaimana caranya mereka berhasil lolos dari maut seakan-akan sedang melakukan 'Prank' kepada Shinigami.
Sasuke dan Issei tetap diam walaupun tugas mereka sudah selesai dan sesekali memandang ke luar jendela. Gabriel membantu Kuroka memeriksa persediaan obat-obatan, hubungan keduanya sudah mulai akrab walaupun terkadang berkelahi hanya karena masalah kecil dan Tearju sedang mengganti perban milik Naruto setelah pemuda selesai mengerjakan tugasnya dan untuk Akeno dan Rias, keduanya sedang memeriksa persediaan makanan yang masih bisa mereka gunakan ataupun yang mulai membusuk sedangkan untuk Kuisha, gadis itu mencoba mencari sinyal melalui ponsel miliknya bersama dengan Issei dan sesekali ia melihat ke arah Naruto dengan pandangan cemburu.
"Bagaimana keadaanmu, Naruto-kun? Apa kau merasakan sakit di bagian tubuhmu yang lain?" Tearju yang berada di bekalang Naruto, Mulai menanyakan perihal keadaannya saat ini. Tentunya luka cakar Zombie yang di alami pemuda itu sedikit dalam namun dengan adanya Paracetamol dan juga Amoxiline Tearju bisa sedikit bernafas lega untuk sementara karena tidak menutup kemungkinan kalau Naruto terinfeski ataupun adanya pembusukan pada bagian luka akibat bakteri.
"Tenang saja Sensei, Aku tidak apa-apa dan jika aku merasakan sesuatu aku akan segera memberitahumu." Ucap Naruto seraya menengok ke arah belakang di sertai senyuman pada wajahnya.
'Kini kau lebih terlihat dewasa bila dibandingkan dengan bocah berisik saat masih ada di bangku sekolah dasar.' Dengan kedua matanya yang menjadi lembut, Tearju berucap dalam hatinya saat melihat senyum di wajah muridnya walaupun ia tidak terlalu dekat dengan sosok Naruto. Surai kuning yang rancung itu terkibas kesana-kemari dimainkan oleh angin yang menyelinap masuk ke dalam bus dan terkadang beberapa helai rambut menutupi wajahnya.
"Entah kenapa aku tidak mendapatkan sinyal sama sekali." Ucap Kuisha tak kala tangannya menggerakan ponselnya kesana-kemari. Wajahnya bagaikan kertas yang tertekuk mendapati bar sinyal di ponselnya tak kunjung terisi sampai saat ini. Dirinya berasumsi bahwa mungkin kekacauan di kota ini menjadi biang keladinya, Dan jelas mereka tau bahwa itu bukanlah kabar baik.
"Tentu saja, Aku juga sudah memperkirakan hal itu akan terjadi cepat atau lambat." Ujar Shikamaru yang saat ini sedang fokus mengendarai bus dengan sebelah tangan yang melambai bersama sebatang rokok.
"Maksudmu?"
"Well, Seisi kota Tokyo hancur berantakan. Kekacauan pasti tidak terhindar dan menjalar kemana-mana tapi aku yakin, tidak lama lagi operator penerima pita gelombang sinyal akan segera pulih. Tunggu saja, perkiraanku tidak pernah meleset dan lagi untuk memberi konfirmasi keadaan Jepang kepada PBB pasti membutuhkan sinyal dengan catatan, Kita harus selamat dalam lokasi tertentu untuk mengoprasionalkannya kembali." Jelas Shikamaru. Kuisha yang mendengarnya menganggukkan kepalanya walaupun ia hanya menangkap beberapa poin penting saja dan salah satunya mereka harus selamat sampai 'Lokasi tertentu' untuk menggunakan ponsel dan pastinya itu adalah Safe Zone.
Dengan adanya kekacauan di Tokyo maka ada kemungkinan operator mematikan sinyal di atas kota Tokyo dan memblokir komunikasi yang berasal dari kota tersebut. Kepanikan adalah alasan utama orang-orang menjadi sedikit gila dengan kata lain, Operator juga terkena sumpah serapah dan beberapa kata Toxic dari 'User' mereka. Walaupun begitu, mereka semua hanyalah mengibaskan ekornya dan menggonggong di hadapan majikannya dalam kasus ini, atasan mereka.
"Berarti..."
Puk...
Kuisha yang sadar dengan keadaannya hanya menundukkan kepalanya namun satu telapak tangan hinggap di kepalanya. Seseorang dengan beberapa perban di tubuhnya sedang tersenyum kepadanya, Kancing baju yang tidak terkancingi itu membuat Kuisha menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sendu mengingat luka-luka yang di alaminya.
"Tenang saja, Paman Abaddon bisa menjaga dirinya sendiri. Harusnya kau yang mengkhawatirkan dirimu sendiri tapi selama ada aku disini, Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Hei bisakah kau hentikan drama picisan itu? Dan lagi, kenapa harus di hadapanku?" Kedua pemuda-pemudi itu seketika menegang saat menyadari Sasuke sedang terduduk di hadapan mereka. Belum lagi di sertai dengan aura suram berwarna ungu.
"Maafkan aku, Sasuke. Jika saja aku bertindak cepat maka Sakura-chan..."
"Tidak ada yang harus menyalahkan dirinya, Dobe. Sakura tewas karena dalang di balik semua ini dan aku bersumpah kalau aku akan mencabut nyawa mereka dengan tanganku sendiri, Apapun yang akan datang menghadang jalanku!"
"Dendam yang kau miliki adalah dendam ku juga, Sasuke! Kita tunjukkan pada mereka bahwa kita bisa selamat dan kemudian menentang bokong mereka!" Beberapa orang menatap Naruto, Mereka menaruh respect pada pemuda itu namun beberapa menatap Naruto seakan-akan melihat sampah disertai Sweatdrop.
"Apakah setelah ini kita akan selamat dari terror ini jika kita sampai di Markas Pusat Kepolisian?" Semua orang menatap Akeno yang sedang termenung. Mereka semua lelah, terutama untuk Shikamaru yang selama tiga hari ini belum diberikan waktu untuk istirahat walaupun sekiranya 5 menit memejamkan matanya. Setidaknya mereka semua bisa selamat dan tidur hanya untuk menyambung esok yang masih kelabu jika saja ini adalah mimpi, Mereka semua ingin bangun.
"Well, Perkiraanku hanya 30% kita akan selamat dan terlindung dari makhluk-makhluk itu. Kita juga adalah pengungsi, Jika kita menaiki helikoper pengangkut dan benar di bawa ke penampungan maka dapat dipastikan kita tidak bisa diam dan diberikan beberapa tugas di pangkalan." Mereka semua menganggukan kepalanya mendengar jawaban yang diberikan Tearju. Jawaban dari guru itu termasuk jawaban logis yang dapat mereka terima, di tengah krisis ataupun bencana seperti ini akan ada kemungkinan jika mereka semua akan menjadi relawan pelatihan untuk mengumpulkan persediaan untuk pengkalan Survivor.
"Tapi sensei, Itu adalah kemungkinan jika anggota kepolisian berhasil bertahan dan mengetahui titik lemah mereka. Namun jika mereka semua tidak mengetahuinya maka dapat ku pastikan bahwa itu adalah peluang 70% yang kau maksud sensei." Gabriel yang sedari tadi diam mulai unjuk suara dan mendapati bahwa teman-temannya setuju dengan pendapat yang ia katakan.
"Gabriel ada benarnya, Sensei. Kita belum tau pihak kepolisian mengetahui titik lemah mereka, kan? Jika mereka sampai tidak mengetahui salah satu cara terefisien untuk menjatuhkan mayat-mayat itu, maka dapat dipastikan kita dan mereka akan berakhir di tempat itu." Kuisha yang sejak tadi terdiam kini ikut bersuara. Jarang sekali ia menjawab suatu pertanyaan dengan jelas, akurat dan panjang lebar. Apa mungkin dirinya tidak mau kalah mencari perhatian di hadapan Naruto?
"Tunggu sebentar, Bukankah di markas itu tersedia perlengkapan persenjataan yang lumayan memadai? Jika kalian bertanya bagaimana aku tau, Jawabannya juga karena aku adalah adik dari Sirzech Gremory dan aku yakin kalian sudah tau siapa dia." Ucap Rias yang sedari tadi mencari pertanyaan yang memadai di samping diskusi teman-temannya saat ini. Jari lentiknya memikat keningnya yang sedikit pusing.
"Apa kau melihat ada polisi yang sedang menembak para Zombie? Sampai saat ini aku tidak melihatnya, bahkan untuk melindungi warga sipil ataupun dirinya sendiri." Dari arah belakang Kuroka, seseorang sedang menundukkan kepalanya. Pertanyaan yang dilontarkan orang itu memang berdasarkan fakta karena selama mereka hidup sampai saat ini, Tidak ada seorangpun anggota kepolisian yang berhadapan dengan para Zombie dalam rentan 2 hari kebelakang.
"Ugh... Fakta itu menusukku terlalu dalam. Kita tidak melihat satupun polisi yang menghadapi mereka, dan ku harap jika JSDF bisa menangani kasus ini." Ucap Rias. Gadis itu sedikit menghela nafasnya dan seakan-akan pasrah pada nasibnya.
"Well, Kita belum melihat mereka yang ada hanyalah beberapa mobil patroli yang berserakan bercampur dengan mobil-mobil yang lainnya." Ujar Naruto yang membedakan pandangannya ke luar melalui jendela yang ada. Tak ayal mereka semua melihat ke luar walaupun beberapa hari ini mereka melihat mobil-mobil yang berserakan namun tidak sebanyak sekarang, seakan-akan mereka hampir mencapai pusat bencana.
"Ini seperti kiamat..." Ucap Gabriel dan karenanya semua orang menatap gadis itu. Mereka semua hanya diam dengan wajah yang mengeras karena mereka sampai tidak berfikir demikian. Kiamat atau bisa di bilang akhir dari dunia, suatu bencana yang dibuat oleh Tuhan untuk menciptakan peradaban baru menurut beberapa kitab yang turun sebelum kitab yang lainnya. "... Satu pertanyaan dariku, Apakah hanya Jepang saja yang mengalami kejadian seperti ini? Apakah masih ada tempat selamat bagi kita semua?"
"..."
Semua orang terdiam hanya karena satu pertanyaan sederhana dari Gabriel. Mereka tidak berfikir untuk itu juga, Jika saja seluruh dunia mengalami hal yang serupa maka tidak menutup kemungkinan kalau tidak ada tempat selamat di Jepang ataupun di luar negara ini.
"Ini diluar kemampuan kita semua, Apa yang bisa membuat Jepang jadi seperti ini."
"HEI AKU MENDAPATKAN SINYAL!"
Teriakan seseorang menarik perhatian mereka dan dapat mereka lihat jika Issei memegang ponsel miliknya dengan harapan besar pemuda itu mencoba untuk menekan aplikasi Google Chrome namun seakan tidak percaya dengan matanya kedua kaki pemuda itu melemah. Pemuda itu, Issei, jatuh terduduk dengan layar ponsel yang menunjukkan berita yang sangat heboh.
"Palestina menutup perbatasan negara dengan Israel."
"Kenapa pemerintah Los Angeles melakukan protokol darurat dengan melakukan karantina pada wilayahnya?"
"London hancur di hari kedua Post-Apocalyptic?"
Dan masih banyak lagi berita yang muncul di layar ponsel itu. Beberapa mungkin tidak bisa di percaya namun Website CNN tidak dapat dibohongi dan tentunya dengan beberapa teori konspirasi yang di tuangkan di dalam kolom komentar. Apa yang dapat di lakukan sekumpulan pemuda-pemudi yang merupakan pelajar di suatu sekolah dalam menghadapi kiamat?
"Aku hanya berfikir jika ini seperti di sebabkan suatu wabah. Semacam pandemi yang menyebar secara ganas ke seluruh dunia dan penyebarannya bisa saja melalui udara. Namun aku menyangkal hal tersebut karena kita masih bernafas selayaknya manusia. Lalu bagaimana bisa pandemi ini menyebar dengan sangat cepat?" Kuroka yang sedari tadi diam mencoba untuk buka suara. Gadis itu mencoba untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam kepalanya. Walaupun ia tidak cerdas namun ia masih memiliki pikiran logis untuk masalah-masalah di tengah pandemi ini.
Sasuke menyilangkan tangannya begitupula Naruto yang ada di sebelah pemuda tersebut. Sasuke mengira apa yang ada dipikirannya adalah hal yang sangat mustahil terjadi, Namun dengan kondisi Tokyo saat ini, dirinya mencoba untuk bersikap realistis. Belum lagi dengan berbagai berita yang mengatakan kalau beberapa negara di dunia mulai jatuh.
"Bisakah kalian menggantikanku hanya untuk sesaat?"
...
...
Police Headquarter, Tokyo
12 Hours Ago
Suara beberapa helikopter evakusi militer terdengar dengan suara baling-baling yang terbilang lumayan berisik. Desingan keras suara mesin di iringi hembusan angin malam tak beraturan di tengah-tengah kegelapan kota Tokyo. Atap bangunan besar bertingkat empat dijadikan landasan untuk beberapa helikopter. Tidak di bawah tidak juga di atas, Hampir keseluruhan sudut bangunan ini ramai dan terkadang adegan saling dorong tidak dapat dihindari. Terdengar dari bawah bangunan yang penuh dengan suara tembakan menggema di kegelapan karena sekumpulan polisi bersenjata mengitari pintu masuk bangunan dengan laras pistol berjenis revolver dan beberapa menggunakan Colt 1911 mengarah pada beberapa Zombie yang mencoba mendobrak penghalang yang telah di buat oleh pihak kepolisian.
"Tahan emosi kalian dan jangan sembarangan menembak! Saat ini mereka masih berada di luar brikade, usaha menghemat amunisi." Disana seorang pria yang terlihat berada di usia kepala empat mencoba menarik perhatian anak buahnya. Jika boleh dikata, Dirinya juga takut namun sebagai pelayan masyarakat dan juga sebagai perwira yang berwenang pria itu mencoba tetap profesional.
"Sialan! Pak, jika seperti ini terus brikade yang kita buat akan hancur tak lama lagi."
"Amunisi dari gudang penyimpan sudah saya bawa semuanya!"
"Sialan! Mereka terus bertambah dan seperti tidak ada habisnya."
Beberapa bawahannya menggerutu hingga...
Brak...
Pagar besi yang mereka gunakan sebagai brikade terlepas dari engselnya karena tidak kuat menahan beban dari ratusan Zombie. Beberapa kali pelatuk senjata mereka di tekan dan berkali-kali ledakan bubuk mesiu bergemericik menghiasi moncong senjata mereka. Puluhan selongsong peluru kosong berhamburan dan di isi dengan peluru baru namun sama sekali tidak membuahkan hasil yang di inginkan. Sedikit dari para Zombie yang telah jatuh dan tidak bangkit kembali akan tetapi masih banyak yang terus memasuki halaman kantor kepolisian tersebut.
"Kapten, Sebaiknya kita meninggalkan tempat ini dan menyelamatkan diri."
"Tidak ada yang boleh pergi dari lokasi ini."
"Tapi Kapten!"
"Kau ingin menyangkal perintah dari atasan mu? Sebagai anggota kesatuan kepolisian Jepang, Kita harus siap mengabdikan diri demi melindungi warga yang masih selamat dari keadaan mengerikan ini. Sampai kita hidup ataupun tewas, Aku, Fugaku Uchiha! Memberi perintah kepada seluruh personel yang tersisa untuk tetap bertahan." Ucapnya. Setiap kalimat tegas yang keluar dari mulutnya harus di patuhi, dan inilah tugasnya.
Tugas yang lebih cocok di katakan sebagai pembawa pesan kematian, Entah untuk orang lain ataupun tidak dirinya sendiri. Para personel kesatuan polisi dari Konoha terus menembaki para Zombie yang serasa mendekat tiap menitnya. Bunyi rincikan besi dan juga kawat tajam tak juga surut walaupun untuk sesaat, Mereka benar-benar menggila saat melihat mangsanya sedang berkumpul di satu lokasi yang sama.
"Lapor Uchiha-Taichou! Ketiga helikoper pengangkut akan segera lepas landas. Diperkirakan sebanyak 55% warga kota Tokyo sudah di evakusi menuju tempat aman. Kami menunggu perintah selanjutnya." Mendengar laporan dari anak buahnya yang membantu evakuasi di lantai atas membuat Fugaku menghela nafasnya.
"Pada akhirnya hanya 55% saja yang berhasil di evakuasi." Semua orang di sana hanya diam dan tidak lelah mencoba menghentikan gelombang Zombie yang mencoba meruntuhkan pertahanan terakhir kota Tokyo.
"Perintah terakhir untuk kalian semua! Segera mengudara dan tinggalkan kota terkutuk ini. Laksanakan!"
"Siap, laksanakan!"
Semua personel mencoba mundur dan meninggalkan Fugaku sendirian. Pria itu hanya diam dengan sebuah pistol di tangan kanannya dan tangan kirinya mengambil ponsel miliknya dan menggunakan fitur Voice Record yang tersedia.
"Namaku adalah Fugaku Uchiha, Aku adalah Kepala Kepolisian kota Tokyo. Jika kau menemukan rekaman ini, Maka aku sudah tewas. Tokyo sudah jatuh dan jika keadaan sudah aman kami memiliki beberapa bahan makanan di gudang belakang dan juga persediaan amunisi. Jika boleh, Aku menyatakan harapanku dengan melepas rasa malu sebagai seorang Kapten. Aku berharap kau sudah duduk manis di salah satu helikoper itu, Sasuke."
Dorrr... Dorrr... Dorrr...
...
...
"Eh? Itu..."
Semua mata langsung tertuju kepada apa yang Naruto lihat dari luar jendela. Seorang anak kecil berpakaian sekolah penuh debu membuatnya terlihat lebih mirip gelandangan daripada seorang pelajar. Jarak mereka dengan anak laki-laki itu hanya terpisahkan oleh pembatas jalan yang merupakan semak-semak karena mereka memutuskan beristirahat mengingat keadaan Shikamaru dan juga Tearju yang merupakan seorang wanita.
"Anak itu, Apa dia masih selamat?" Issei yang sedari tadi diam sedikit bergumam. Sementara itu semua orang mencoba mencerna apa yang harus mereka lakukan.
"Aku akan turun dan membawanya bersama denganku."
Naruto segera berjalan mendekati tempat duduk paling belakang dimana mereka semua menaruh persediaan dan juga peralatan yang mereka kumpulkan. Pemuda itu mengambil sebuah katana, Bom molotov dan juga sebuah Magazine cadangan berisi 17 peluru 9mm Parabellum untuk Glock-17 yang menjadi senjatanya.
"Naruto, Kau yakin dengan apa yang kau lakukan?" Bukan Sasuke yang bertanya demikian melainkan Issei. Pemuda itu sedang mencegah Naruto dengan apa yang akan ia lakukan karena pada dasarnya Issei paham dengan segala hal yang akan dilakukan Naruto.
"Hah? Kau masih bertanya? Tentu saja! Aku akan membawa anak itu." Ujar Naruto dan berjalan melewati Issei dengan katana yang bertengger di pinggang kanannya. Namun sebelum tangan Naruto menggapai gagang pintu bus tersebut, Tangan seseorang berusaha menghentikan Naruto.
"Tunggu!"
"Aku harus segera membawanya, Kuisha! Kita tidak memiliki waktu untuk berdebat saat ini."
"Tunggu dulu, Apa kau yakin?" Kuroka dari arah belakang bertanya kepada Naruto, Di tangan gadis itu sudah siap Yumi dan Quiver yang bertengger di punggungnya.
"Kumohon, Biarkan aku menyelamatkan nyawa anak itu dan untuk yang lainnya tetaplah di bus ini." Wajah tegasnya membuat semua orang terdiam, Naruto saat ini sudah bertindak selayaknya pemimpin namun itu hanyalah pendapat dirinya sendiri bukan pendapat teman-temannya yang ia pimpin. Rambut kuningnya terkinas kesana kemari dan dimainkan angin yang menyelinap masuk kedalam bus itu membuat sosok Naruto tampak gagah.
Terlalu lama menunggu, Naruto memilih untuk mengakhiri perdebatan mereka dan segera riejn dari bus tersebut. Akan tetapi, sebelum Naruto melakukannya, Sasuke kembali membuka suara.
"Berapa keyakinanmu anak itu belum terinfeski?"
"Apa maksudmu, Sasuke?"
"Kita tidak bisa bertindak gegabah, Naruto! Apa yang membuatmu yakin kalau anak itu belum berubah?" Akeno tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya tadi. Dirinya merasa khawatir atas apa yang akan dilakukan sahabatnya.
"Ya! Apa yang membuatmu yakin, Naruto?" Tak lain dengan Akeno, Kuroka juga berkata demikian. Walaupun ia sudah siap membantu Naruto namun kenapa ia merasakan sesuatu yang sangat janggal.
"Satu pertanyaan dariku, Kenapa kalian tidak memperhatikan baik-baik anak itu dan membuat, hipotesa tersendiri?" Ucapan seseorang dari arah bangku belakang membuat semua orang mematung. Disana Shikamaru sedang tertidur lelap namun dapat dipastikan jika pemuda itu sedang mengigau karena kelelahan.
"Tidak ada waktu untuk melakukan riset seperti itu." Ucap Naruto. Tangan pemuda itu mencoba membuka pintu bus dan pada saat yang sama pula anak kecil itu tersandung pinggiran trotoar dan mengaduh kesakitan. Anak itu menangis dan merasakan sakit yang ia derita.
"Lihat? Lihat? Apa anak itu sudah terinfeski?" Tanya Naruto dan setelahnya ia turun dari bus menuju anak kecil tersebut. Beberapa Zombie mulai melirik dan mencari keberadaannya walaupun begitu, Ia tau jika itu tidak mungkin untuk selamat dengan puluhan Zombie yang mengepungnya.
"Mama... Hiks... Mama..." Tangisan anak itu bertambah saat melihat beberapa Zombie yang tak jatuh darinya berjalan mendekat.
'Sialan! Tidak ada waktu! Jarak mereka terlalu dekat dengan anak itu.' Pikir Naruto dan pemuda itu tanpa pikir panjang mulai membakar sumbu molotov miliknya menggunakan korek api yang biasa ia gunakan untik menghidupkan rokok.
Swush... Bwuush...
Lemparan Naruto tepat mengarah pada aspal di bawah kaki salah satu Zombie itu dan mulai membakarnya saat bensin yang berada di dalam botol kaca itu pecah dan mengeluarkan isinya.
"Sensei, Bawa yang lainnya pergi dari sini sebelum makhluk-makhluk itu menutupi jalan!" Ujar Naruto. Pemuda itu segera berlari dengan sebuah katana di tangan kanannya. Namun kali ini, tangan seseorang manahan dirinya dengan cara memegang blazer sekolah miliknya yang bercampur darah.
"Tunggu Naruto!"
"Aku harus menyelamatkannya, Gabriel. Lepaskan aku."
"Aku ikut denganmu."Ucap Sasuke yang juga telah siap dengan Shotgun miliknya. Akan tetapi gelengan kepala menjadi jawaban atas tindakan baik Sasuke.
"Tetaplah disini, Sasuke. Kau harus menuntun yang lain menuju markas kepolisian, Mulai sekarang mereka semua tanggung jawabmu." Ucap Naruto.
"Jangan bertindak bodoh, Naruto!"
Disaat Sasuke berteriak Naruto sempat melihat anak kecil itu berlari ke arah gang yang berada tak jauh dari tempat terakhirnya. Beberapa Zombie yang tersisa mengikuti anak itu membuat Naruto membelalakan matanya dan dengan segera menyingkirkan tangan Gabriel.
"Aku kehabisan waktu. Kita akan bertemu lagi di markas kepolisian. Tenang saja, Aku terlalu bodoh untuk mengingat bagaimana cara untuk mati. Aku berjanji akan tetap hidup!"
Dengan begitu, Naruto langsung berlari setelah ia turun dari bus. Gabriel hanya bisa berteriak dan terus menerus menggebrak pintu memanggil nama Naruto, Sedangkan untuk Kuisha gadis itu hanya tersenyum dan kemudian sedikit menundukkan kepalanya mencoba berdo'a kepada sang pencipta. Beberapa gadis menggedor-gedor kaca jendela melihat Naruto berlari ke arah sebuah gang dan menghilang dalam kegelapan.
"Ck.. Sensei, Ikuti perintah-'Nya'." Ujar Sasuke yang sebenarnya juga khawatir dengan sahabatnya itu. Tearju yang tidak ingin memperkeruh keadaan menginjak pedal gas dan menabrak beberapa Zombie yang menutupi rute pelarian mereka.
'Naruto-kun, Kumohon tetaplah hidup.'
...
...
TuBerCulosis
...
...
