Shiroyukki Present
...
...
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.
...
...
Summary :
Ilmu pengetahuan adalah akar dari masalah yang terjadi. Kegilaan tak ada hentinya menghiasi hari-hari anak SMA di jantung negara matahari terbit. Apakah mereka berhasil bertahan hidup di saat jutaan mayat hidup menghadang jalan mereka?
...
...
#StayAtHome
#BangkitFFn2021
#KeepWriting
#KeepReading
...
...
Chapter 7 : The Night of the Dead ll
...
...
"Haaah... Dia tidak pernah berubah. Semoga saja Naruto tidak dalam posisi yang membahayakan hanya karena menyelamatkan gadis itu." Issei hanya menghela nafasnya dan menghempaskan punggungnya ke punggung kursi.
"Dilihat dari keadaan saat ini, sepertinya kita harus bersiap-siap." Ujar Kuroka yang memegang Sickle dan juga sudah siap dengan busur dan juga quiver yang penuh dengan anak panah.
"Yah, Kau ada benarnya Kuroka. Sekarang kita serahkan saja pada Namikaze-kun dan kita tunggu dirinya di markas kepolisian seperti rencana awal." Tearju ikut dalam pembicaraan muridnya setelah sangat jarang dirinya berbicara. Walaupun sedang mengendarai bus tidak terlihat dirinya kesulitan bahkan, dirinya sedang duduk dengan punggung tangan menopang pipi dan satu tangan mengemudikan kendaraan.
Dalam lima menit, Markas kepolisian tokyo akan terlihat dan Sasuke tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Wajahnya hanya menatap Kuisha karena ia sedikit menyesal menghalanginya namun apa mau dikata, Itu semua adalah keputusan Naruto. Sesekali pemuda bermarga Uchiha itu menghela nafasnya, Mereka hanya mencari tempat berlindung dan sekarang dirinya semakin dekat dengan tempat dimana ayahnya bekerja selama 12 tahun disana.
"Naruto-kun..."
"Sudahlah Kuisha, Naruto-kun pasti memiliki alasannya sendiri. Dan lagi, Bukankah harus ada yang menyelamatkan anak itu?" Gabriel, Walaupun hatinya sangat terluka mengingat kalau Naruto dan Kuisha sudah bertunangan namun ia tetap mencoba menenangkan hati gadis itu. Pikirannya tidak pernah lepas dari pemuda berambut kuning yang merupakan sahabatnya dan orang yang ia cintai.
"Saat ini kita harus percaya kepadanya." Ujar Akeno yang ikut menenangkan Kuisha. Dirinya sangat sedih saat mengetahui kalau Kuisha adalah tunangan Naruto. Bukan karena dirinya mencintai Naruto, Namun karena ia sedih mengingat Gabriel juga seorang perempuan maka dari itu ia paham apa yang di rasakan sahabatnya itu.
"Teman-teman? Entah perasaanku atau memang benar tapi semakin kita mendekat semakin banyak jumblah Mereka."
Rias yang sedari tadi diam mengutarakan kebingungannya pada semua orang. Sejenak semua orang mempunyai pikiran yang sama. Dilihat dari manapun, semakin mereka mendekati pusat kantor polisi, jumblah para Zombie semakin banyak.
"Ke- kenapa bisa seperti ini?" Tanya Akeno.
"Jika alasannya adalah tempat manusia belum terinfeski berkumpul itu sangat wajar karena mau bagaimanapun juga mereka hanya mengejar manusia. Jadi..."
"Itu? Jangan-jangan!"
Jawaban panjang lebar Rias untuk pertanyaan Akeno terpotong suara Issei yang terlihat sangat serius. Pemuda itu sedikit bangkit dari tempat duduknya dan sedikit melihat ke arah langit melalui jendela.
"Jangan bilang kalau itu adalah helikopter evakuasi?!" Ucap Kuroka dengan wajah khawatir saat melihat keluar jendela. Ekspresi yang di keluarkan teman-temannya tidak berbeda jauh dari gadis itu. Cemas, Khawatir, dan juga putus asa, semua itu keluar dan tergambarkan di wajah setiap Survivor di dalam bus sekolah tersebut. Yang tidak kalah membuat mereka semua terkejut adalah kehadiran helikopter yang memiliki jumblah lebih dari satu helikopter kepemilikan militer Jepang.
"Sepuluh helikopter terbang berlainan arah dari tujuan kita? Apalagi dilihat dari arah geli-geli itu muncul, tampaknya..." Tearju yang mengemudikan bus ini tampak memikirkan sesuatu yang tidak busa disebut dengan kabar baik. Dan jika dilihat dengan sesama maka Heli-pad berasal dari suatu gedung yang menjadi tujuan mereka semua.
"Apakah kita terlambat?" Tanya Kuisha entah pada siapa. Walaupun begitu yang lain mengerti apa yang dimaksud gadis berambut hitam itu. Sasuke, Rias, Issei, Kuroka, Gabriel, Akeno, bahkan Tearju yang sibuk menyetir mengerti maksud dari gadis itu, hanya Shikamaru saja yang masih nyenyak tertidur.
"Sebaiknya kita simpan saja spekulasi itu untuk nanti. Sensei, Tolong tambah kecepatannya! Kita harus segera sampai kesana lebih cepat lagi." Titah Sasuke di tanggapi anggukan kepala Tearju. Dirinya seakan tahu apa yang harus ia lakukan disaat-saat seperti ini. Gabriel dan juga Kuisha saling berpegangan tangan dan berdo'a mengharapkan keselamatan Naruto, Rias yang sedang di tenangkan Issei, dan juga Akeno bersama dengan Kuroka yang mempersiapkan peralatan mereka.
'Kumohon padamu, Tuhan. Jangan buat diriku mengakhiri kehidupan seseorang yang ku sayangi untuk kedua kalinya.'
Dan perjalanan mereka dilanjutkan dengan sambutan hujan yang turun dari langit malam.
...
...
Langkah cepat sepasang kaki terguyur becek lumpur yang mengenang terdengar, seorang anak kecil terus berlari tak tahu arah dengan sangat ketakutan. Mimik wajahnya tersirat betapa ia ingin menangis saat ini. Akan tetapi entah kenapa rasanya begitu rumit mengutarakan sirat ketakutan hatinya kepada udara malam. Berulang kali ia berbelok kekanan dan kekiri tanpa perduli tong sampah maupun kardus bekas yang ia terjang. Jantung kecilnya berdegub hampir dua kali lipat, tapi entah kenapa setiap pompaan jantung sama sekali tak bisa mensirkulasikan darah keseluruh tubuhnya. Dapat dilihat dari wajahnya yang pucat pasi, dan bahkan warna telapak tangannya memutih seakan tak ada setetespun darah bersirkulasi disana.
"Dimana?! Dimana perginya anak itu?" Ucap Naruto yang berhenti sejenak di tengah persimpangan gang yang membagi jalan menjadi dua arah. Arah matanya berulang kali mencoba untuk menebak jalur mana yang tadi telah anak itu lewati, Naruto menghembuskan nafas sejenak untuk bersiap berlari kembali. Karna tidak punya banyak waktu lagi, pemuda kuning ini langsung saja melesat kesalah satu arah dari dua gang tadi. Keadaan saat ini memang mengharuskannya untuk secepat mungkin mengambil keputusan tanpa perlu berpikir puluhan kali lagi untuk meyakinkannya.
Terus berlari tiada henti sepertinya menjadi prioritas dari anak kecil berseragam sekolah yang lusuh itu. Setiap ekor matanya melihat ke belakang, ketakutan agaknya semakin menjadi-jadi menggerus hatinya. Tidak memperdulikan jerit ketakutan dan genangan air mata di pelupuk mata anak kecil itu, empat makhluk yang sangat menyeramkan tetap mengejarnya bahkan walau dengan tertatih-tatih. Seperti tak ada lelahnya mereka menjulur-julurkan tangan untuk menangkap anak tersebut. Keinginan yang kuat untuk menghindar dan melarikan diri dari keempat makhluk ini agaknya harus pupus setelah dirinya secara tidak sengaja terjatuh ketanah dengan keras karna kembali tersandung sesuatu. Dirinya merintih kesakitan di tengah-tengah perempatan gang sekaligus ingin menumpahkan seluruh tangisnya. Akan tetapi matanya seakan membulat ketika ia melihat mereka semakin mendekat untuk menangkapnya. Geraman yang keluar dari makhluk-makhluk itu semakin membuatnya ketakutan setengah mati. Hanya tiga langkah lagi jarak yang memisahkan antara anak kecil itu dengan keempat zombie di depannya.
"M-Mama... Mamaaaaa..."
Crash...
Kepala zombie yang paling dekat dengan anak itu tiba-tiba jatuh ketanah. Anak kecil itu pun dapat melihat jelas butiran-butiran darah hitam yang terciprat sebelum zombie tadi terperosok ketanah dengan sangat keras.
"Jangan ganggu anak ini, keparat!"
Sesosok pemuda berambut kuning yang menggenggam erat sebuah katana dengan kedua tangannya tiba-tiba saja telah berada di depan anak itu. Dengan satu ayunan kuat, Katana itu menebas kepala Zombie di dekatnya disertai dengan cipratan darah yang keluar dari leher Zombie itu. Ayunan kuat yang menghantam tepat di sisi kepala sosok pemuda itu dengan telak membuat salah satu makhluk mengerikan yang mendekat lagi kembali terpelanting ke tanah, disertai cipratan darah kental yang turut ikut mengotori jalanan gang disana. Anak kecil itu hanya terdiam melihat aksi pemuda di depannya yang dengan berani kembali melawan dua zombie yang datang menyerang. Bahkan dengan lihainya pemuda itu selalu memotong tepat di bagian leher Zombie tersebut. Anak kecil itu hanya diam dan melihat serangan Naruto dengan sorot mata yang memancarkan kekaguman pada pemuda itu hadapannya.
Sejenak pemuda itu berhenti dan mencoba menghirup udara untuk memenuhi kebutuhan paru-parunya. Di sampingnya seorang gadis berambut putih sedang terduduk dengan seragam sekolah yang sangat kotor bercampur dengan lumpur dan beberapa sobekan hingga membuat gadis itu terlihat seperti gelandangan. Sorot matanya memancarkan ketakutan dan juga kekaguman pada saat bersamaan walaupun begitu tubuhnya yang sedaritadi gemetar mulai tenang.
'Syukurlah...' Naruto sedikit tersenyum, Dirinya bahagia karena berhasil menyelamatkan seseorang. Dengan katana yang berlumuran darah di tangan kirinya, Naruto berjalan dan mengangkat tangan kanannya seakan mengajak gadis itu untuk ikut bersama dengan kelompok kecilnya hanya untuk mencari tempat mengungsi untuk sementara waktu.
"Tenanglah, Kau sekarang sudah aman. Ayo, kita pergi dari sini. Nee~ siapa namamu?" Suara lembut yang sangat jarang terdengar dari Naruto kini mengalun merdu memasuki pendengaran gadis itu.
"Shirone... Shirone Tojou!"
"Tojou? Apa kau ada hubungan dengan Kuroka?" Tanya Naruto dan dapat ia lihat jika anak kecil itu tersentak saat mendengar nama seseorang yang ia kenal.
"Nee-sama! Dimana Nee-sama?"
"Hei Tenanglah! Ayo kita pergi dari sini, Kuroka bersama dengan teman-temanku sedang menuju markas pusat kepolisian kota Tokyo dan kita bisa aman disana." Ucapnya dengan senyuman yang tak pernah luntur di wajah pemuda tersebut. Namun senyuman itu luntur saat kedua bola mata anak itu sedikit melebar. Kenapa? Hanya itu yang ada di pikiran Naruto namun anak itu segera menjawab pertanyaan di benaknya saat ini.
"Markas Kepolisian Tokyo? Sungguh? Disana sudah tidak ada apa-apa lagi. Markas itu sudah menjadi lautan da..."
Crashhh...
Tiba-tiba saja hal yang mengejutkan terjadi. Bahkan Naruto belum sempat mengganti ekspresi wajahnya dengan ekspresi terkejut karena begitu cepatnya. Senyuman yang sedetik lalu terpatri, kini luntur seketika saat merasakan cipratan darah menempel di pipinya. Mulutnya seolah terkunci dan tak bisa berkata sepatah katapun melihat tubuh Shirone yang berada di depannya diterkam dengan sangat buas dan kejam.
Di dalam kegelapan, dapat Naruto lihat tubuh kecil yang telah tak bernyawa lagi terkoyak dengan ganas oleh suatu bayangan besar yang menyerupai hewan. Naruto tidak bisa melihat dengan jelas sosok bayangan itu. Namun yang jelas, Kepala Shirone beserta kerongkongannya bergulir dan berhenti tepat di kakinya. Dirinya terdiam kala melihat 'Sesuatu itu' mengoyak setiap bagian tubuh Shirone yang beberapa saat lalu ada di hadapannya. Otaknya serasa membeku dan tidak bisa berfikir secara rasional, Semua itu terlalu cepat untuk dirinya cerna.
Perlahan Naruto melangkahkan mundur kakinya yang terasa kaku. Otaknya belum bisa mengambil tindakan sama sekali. Matanya tergetar melihat pemandangan mengerikan di depan matanya. Ukuran makhluk yang itu sebanding dengan tubuh orang dewasa. Disetiap jari-jarinya terdapat cakar yang sangat tajam mencengkram tubuh tak berdaya tanpa kepala anak tadi.
'Apa... Apa itu?' Pikirnya, Namun yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah makhluk itu mulai melihat kearahnya. Mata Naruto seolah melotot mengetahui bahwa dirinya yang akan menjadi target selanjutnya. Perlahan lengan makhluk misterius itu mulai membawa tapak tangannya merangkak mendekati Naruto. Lidah yang terjulur panjang di antara gigi-giginya yang tajam membuat Naruto harus bersusah payah untuk menelan ludah. Sudah cukup untuknya berhadapan dengan mayat pemakan manusia. Dan sekarang, Ia harus berhadapan dengan sesuatu yang lebih mematikan dari sekedar mayat hidup?
Ujung jarinya yang memegang katana bergetar karena ketakutan. Seluruh syaraf di tubuhnya serasa membeku walaupun sudah belasan bahkan puluhan mayat hidup ia bunuh, Dirinya hanyalah seorang anak SMA biasa yang selalu terkena masalah dimanapun ia singgah. Rasa takut dan juga adrenalin membuat dirinya susah bernafas dan membuat tubuhnya menjadi kaku hingga saat itu, Naruto tau bahwa ketakutan sudah mengendalikan dirinya.
...
...
Banyak Zombie berlari dari arah tangga menuju sebuah Heli-pad yang ada di atap sebuah gedung. Gedung itu terlihat sangat kokoh dan dapat terlihat di atap gedung itu banyak orang-orang sedang berharap di selamatkan dan saling berpelukan hanya untuk menikmati kebersamaan sebelum mereka semua tewas. Walaupun beberapa Zombie sudah mencapai pintu masuk, Mereka semua tidak takut dan wajah mereka di warnai wajah putus asa. Inilah akhir kehidupan mereka semua.
Seorang berpakaian montir yang lapar akan daging manusia mencoba menerkam punggung seorang pria. Pria itu terlihat seperti gelandangan, dengan jambang dan juga brewok yang memenuhi wajahnya belum lagi warna rambut nyentrik dengan poni berwarna kuning. Pria itu tahu bahwa hal ini akan terjadi namun sebuah letupan yang menggelegar mencapai telinganya.
Dorrr...
Zombie yang sempat merengkuh di punggungnya jatuh tak berdaya dengan dahi yang mengeluarkan darah. Dan Setelahnya beberapa tembakan nyaring terdengar di antara baling-baling sebuah helikopter. Zombie-Zombie yang mulai mencari mangsa juga ambruk tak bernyawa.
Drrrrt... Drrrt...
Drrt... Drrrt... Drrrt...
Seorang pria berambut hitam menembak para mayat hidup yang berlarian masuk dari pintu. Pria itu hanya terbengong menyaksikan beberapa pasukan dengan masker Gas turun dari helikoper tersebut menggunakan tali dan mulai beraksi saat kaki mereka bertumpu pada lantai gedung.
"Apa kabarmu, Azazel?" Pria itu sedikit tersenyum ke arah Azazel. Kemudian ia mengenakan teropong inframerah dan mengangkat senjatanya sejajar dengan pundak hingga akhirnya senjata itu memuntahkan puluhan timah panas. Sedangkan yang disapa, Azazel, Hanya diam karena dirinya tidak tau harus membalas apa namun pria itu hanya tersenyum saat melihat temannya dulu.
'Senang melihatmu sehat, Asuma .'
"Tutup pintunya! Sekarang!" Teriakan Asuma segera di tanggapi anak buahnya. Pria itu berdiri dengan senapan M16 yang di lengkapi dengan Holo-sight dan juga Silencer yang terpasang pada senapannya. Beberapa anak buahnya ada yang membawa senjata dengan tipe Sun Machine Gun dan juga seorang di antaranya membawa Sniper semi-auto berwarna hitam. Azazel hanya diam dengan sebatang rokok yang ia hisap saat melihat delapan orang bersenjata lengkap membasmi semua Zombie satu persatu.
Seseorang yang membawa Dragunov di helikopter berhenti menembak dan segera melempar tangga tali hingga menjuntai ke bawah. Ia turun menggunakan tangga tali itu dan langsung menghampiri Azazel.
"Pak, Sudah tidak ada waktu lagi. Segera naik ke helikopter yang sudah kami sediakan." Ucap orang itu seraya membuka topeng gas yang menutupi wajahnya. Di tariknya kain penutup kepala yang menyembunyikan indah rambut pirang panjangnya.
"Hufft..." Orang itu dengan santainya berjalan meninggalkan personel wanita tersebut dan menuju tangga tali itu. Akan tetapi Azazel ada beberapa mayat korban yang mulai bangkit menghalangi jalan Azazel.
Grwaaahh!
Salah satu dari mayat itu maju menyerang ke arah Azazel. Namun...
Buagh... Jleebbb...
Sebuah kepalan tangan maju menuju rahang bawah seorang zombie dan kemudian suara tusukan benda tajam mulai terdengar. Disana, Seorang pria berusia tiga puluhan sedang berdiri dengan sebuah pisau dapur yang bersarang tepat di tengkorak Zombie. Dan kemudian personel wanita yang tadi menjemput Azazel mulai menembakkan senjata yang ia bawa dan berkonsentrasi membidik kepala zombie-zombie di depannya.
Shoot... Shoot...
Shoot...
Shoot...
Empat tembakan wanita itu lesatkan dan dengan telak mengenai kepala Zombie-zombie itu. Letusan dari Dragunov itu sangat halus karena dilengkapi dengan silencer yang terpasang di depan laras senapan tersebut. Empat Zombie yang tertembak terpental dan jatuh sampai tidak dapat bergerak kembali karena efek dari peluru 7,62 X 54mm. Tak sampai disitu, Masih ada dua Zombie yang masih hidup namun dengan cepat dapat di atasi.
Drrrrtt... Drrrrrrrttt...
Bunyi tembakan tak kunjung reda. Dengan titik sinar laser yang terpasang di senjatanya, Asuma terus membidik dan menembak ke arah kepala jasad-jasad para pengungsi yang telah bangkit menjadi zombie.
"Coriana, bersihkan sisi kanan!"
"Dimengerti." Jawab gadis pirang itu saat membalas perintah Asuma . Ia mulai berbalik ke belakang dan dengan cekatan membidik Zombie yang ada di sisi kanan Asuma dengan scope miliknya.
Saat sedang sibuk menembak Zombie-Zombie yang akan menyerang Asuma , Dari sisi kiri Coriana berdiri seorang pekerja kantoran yang secara tidak sengaja melihat dirinya. Pekerja kantoran itu adalah Zombie yang bangkit dari kematian dan berjalan tanpa suara hingga membuat lepas dari pengamatan semua orang.
Hwaaargh!
Mayat hidup itu mulai berlari dan menyerap Coriana tanpa aba-aba. Namun, Tanpa disadari sebuah senapan mesin berwarna hitam hinggap di mulut Zombie tersebut. Melihat itu, Coriana tersenyum licik dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Zombie itu.
Drrrrrttt...
Senjata itu adalah HK-MP7 yang merupakan sebuah Sun Machine Gun pabrikan Jerman. Senjata itu terbilang ringan untuk anggota kesatuan khusus yang dilatih untuk keadaan seperti ini, Terlebih untuk Coriana yang merupakan seorang perempuan. Senjata yang dapat menembakkan 30 sampai 40 peluru tergantung ukuran Magazine dengan kecepatan 730M/detik dapat dengan mudah menumbangkan Zombie.
Menaruh Secondary Weapon miliknya di pinggang bagian belakangnya, Coriana mulai menarik safety pada Dragunov miliknya dan suara ledakan terdengar hingga menumbangkan satu lagi Zombie dengan timah panas menembus tengkorak itu.
Dua Granat dilemparkan santai oleh dua personel di depan Asuma. Granat pertama jatuh tepat 4 meter di depan pintu, sedangkan yang satu lagi menggelinding jatuh ke tangga bawah. Tepat seperti yang telah direncanakan. Menggunakan ledakan kuat untuk menyapu musuh adalah cara terbaik menghemat amunisi.
Booomm!
Granat meledak, melemparkan banyak zombie di dekatnya dengan kasar. Tiga personel langsung bergerak cepat ke arah pintu atap dan segera menutupnya rapat. Yang lain memamfaatkan waktu untuk mematahkan leher mayat-mayat hidup di lantai yang telah terhempas sebelumnya. Asuma menurunkan laras M16 miliknya lalu menekan tombol kecil dari earphone di telinganya.
"Operation Start!"
...
...
'S-Sial... Apa yang harus aku lakukan?!'
Naruto diam tak bergerak melihat lidah panjang yang terjulur. Bergerak kesana-kemari, terlihat bagai seekor kadal raksasa seukuran manusia dewasa. Hanya tersisa dua belas langkah jarak yang memisahkan mereka. Bekas darah dari anak lelaki kecil tadi masih segar menempel rahang penuh gigi-gigi yang sangat tajam.
"Larilah, Nak!"
Sebuah seruan terdengar dari atap sebuah rumah. Tidak salah lagi, seruan tersebut memang tertuju dan ditijukan untuk Naruto. Kaki kanannya mulai melangkah mundur kebelakang. Lanjut berganti kaki kiri dan seterusnya sampai Naruto mampu menguasai diri kembali. Seorang misterius yang berseru tadi dengan cepat mengeluarkan sebuah senjata tangan yang tersimpan di balik jaket abu-abunya. Naruto membanting tubuh dengan keras berputar kebelakang. Naruto mulai berlari tunggang langgang. Berlari sekuat tenaga, secepat yang ia bisa.
Makhluk itu langsung mengejar mangsa keduanya yang mencoba melarikan diri. Berlari dengan cara merangkak menggunakan kedua tangan dan kakinya, makhluk itu bergerak tak kalah cepat dengan Naruto. Meloncat tinggi ke dinding-dinding gang yang tidak terlalu lebar, makhluk tersebut begitu gesit berpindah dari satu dinding rumah ke dinding rumah yang lain.
Dorr... Dorr... Dorr... Dorr...
Beberapa kali pelatuk ditarik untuk membuat pemicu meledakkan bubuk mesiu di dalam selongsong peluru. Tentu targetnya hanya satu, makhluk ganas yang sedang mengejar seorang pemuda di sana.
Enam belas langkah lagi menuju belokan dua arah, Naruto terus berlari sekuat yang ia bisa. Berharap ia mampu meninggalkan jauh makhluk di belakangnya. Namun harapannya pupus seketika saat ia sedikit menoleh ke belakang. Makhluk yang merangkak gesit di dinding gang itu meloncat tepat ke arahnya. Mata Naruto melebar menyaksikan makhluk liar itu sepersekian detik lagi akan menerkamnya.
Dorr... Dorr..
Dua dari empat peluru yang telah ditembakkan melesat menembus kulit makhluk ganas tersebut. Naruto merundukkan tubuh sampai hampir terperosok ke depan. Berusaha menghindari terkaman makhluk di belakangnya. Salah satu tangan bercakar tajam sangat tipis di atas kepala Naruto.
Brak...
Makhluk itu terperosok tajam tepat di depan Naruto yang juga terjungkal. Jika bukan karena tembakan tadi yang membuat efek dorongan ke tubuh makhluk itu, pasti kepala Naruto telah terlepas dari tubuhnya. Saking lajunya, makhluk tersebut terus tergelincir hingga menabrak beberapa tong sampah di dinding. Walau sempat terjungkal ke depan, Naruto menggunakan telapak tangan kirinya yang tidak memegang Katana untuk menahan seluruh beban tubuhnya yang akan terperosok jatuh.
"Ugh!"
Keseimbangannya kembali stabil dengan adanya tangan kiri yang menjadi tonggak tumpuan tubuhnya. Naruto langsung berlari tegak kembali untuk segera berbelok ke kiri. Orang misterius di atap tadi dengan cepat langsung membidik lagi makhluk itu yang telah bangkit kembali. Akan tetapi ada hal yang aneh. Tubuh makhluk itu mengejang sebentar disertai membesarnya ukuran tubuh miliknya. Penampilannya terlihat berkali lipat lebih garang dari sebelumnya. Ukurannya sudah sebesar mobil APV dan tidak bisa di samakan dengan ukuran sebelumnya.
"Jadi ini senjata yang kau pakai untuk menghancurkan pihak yang menantangmu, Obito? DNA segar dari setiap manusia yang belum terinfeski dapat menstimulus terjadinya Mutasi ketahap yang lebih tinggi. Sungguh! Kau adalah Bajingan diantara bajingan, Obito!" Ucap orang itu, lalu detik berikutnya dengan satu hentakan kedua kakinya, Makhluk itu kembali bergerak gesit mengejar pemuda di depannya.
"Sialan!" Sumpah serapah keluar dari mulut pria berbadan tegap itu. Rambutnya yang berwarna Soft-yellow sedikit berkibar saat ia mengukur jarak antara dirinya menggunakan Iron scope yang ada di senjata miliknya.
'Cih... Terlalu jauh untuk Desert Eagle ini.' Pikirnya. Tak dapat di pungkiri jika Desert eagle adalah senjata yang terbilang mematikan. Namun untuk memnidkk target sejauh 40 meter menggunakan pistol ini itu hampir mustahil untuk ukuran dirinya sendiri. Menghiraukan pendapatnya, Pria itu mulai menebak jalur yang akan di lewati pemuda itu nantinya. Jika pemuda itu mencoba berbelok ke arah kiri, maka tidak akan ada lagi jalur bercabang dengan kata lain, Jalan buntu!
Pria itu segera bergerak dan mulai berlari melompat atap-atap bangunan warga. Beruntung dirinya hidup di kota ini bersama dengan dua sahabatnya dari kecil, karena itulah dirinya berhasil membuat keputusan untuk memotong jalan menggunakan rute tercepat yang ada.
'Ku harap kau baik-baik saja, Nak!'
...
...
TuBerCulosis
...
...
Yo, Apa kabar kalian semua? Sehat? Kuharap iya.
Di chapter ini, Muncul Azazel dan apa peranan dirinya? Itu akan terjawab di chapter depan.
Lalu, Siapakah pria yang menyelamatkan nyawa Naruto di scene akhir? Sebenarnya, jika kalian membaca dengan benar jawabannya ada di chapter sebelumnya.
Lalu, Sosok monster yang ada di atas, Monster itu adalah Licker, Kalian yang suka dengan Frencise Resident Evil pasti tahu apalagi yang menonton siaran Kak Regi (MiawAug) yang main Resident Evil 2 Re-make.
Dan, Untuk kalian yang menjadi Candu dengan Pair NarutoXGabriel, Maaf mengecewakan jika aku ubah di tengah-tengah cerita. Tehe~ ~
Untuk RushifaID : Saran anda adalah masukan yang sangat bagus dan anak kecil itu sudah saya jadikan Koneko dengan takdir yang sedikit mengecewakan. Tehe~ ~
Untuk Ero Onii-chan : Saran anda adalah masukan bagi saya. Namun, maaf jika mengecewakan saya tidak menggunakan Kyoto sebagai sebuah base untuk warga Jepang yang selamat melainkan sebuah pulau kecil di perairan jepang. Pulau apakah itu? Akan terungkap di chapter depan
Untuk ShiranuiShuichi : Masukan anda sangat membantu, Sungguh! Aku jadi kepikiran untuk menjadikan Guam sebagai base bagi negara federasi Asia Fasifik-Australia dan untuk Federasi Amerika akan memiliki basis di Kepulauan Hawai.
Untuk Kalian Reader / Silent Reader / Guest : Jika kalian berfikir Fic ini terinspirasi dari anime HighSchool Of The Dead, Kalian harus bertepuk tangan untuk diri kalian sendiri karena jawaban kalian semua tepat! Pada awalnya, Aku membuat fic ini setelah Rewatch HOTD dan hasilnya mendapatkan sedikit pencerahan. Lalu, Aku memiliki Mindset seperti ini... "Jika saja Zombie Apocalypse itu memang ada, apa yang harus di lakukan?"... Maka dari itu aku melakukan beberapa riset dan juga mengamati tindakan manusia di tengah pandemi Covid-19. Lalu hasilnya? Sebuah Fic dengan inti cerita How to Survive berhasil ku buat.
Lalu, aku juga berterima kasih atas dukungan kalian selama 7 chapter kemarin dan hasilnya aku sangat bangga dengan diriku sendiri setelah melihat review kalian semua. Bagiku yang merupakan Author pinggiran, sebuah Review dari Reader sangat berharga dan menjadi motivasi bagi diriku sendiri untuk terus berkarya karena ada orang-orang yang menunggu kelanjutan karya ku.
Sekian dari saya, Gabriela Anastasya A.K.A SetsunaZ1
18 Februari 2021
...
...
Preview Next Chapter
"Sialan! Apakah dia akan terus mengejarku?"
"Naruto, Lakukanlah!"
"Maafkan aku, Kuisha..."
