Shiroyukki Present
...
...
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.
...
...
Summary :
Ilmu pengetahuan adalah akar dari masalah yang terjadi. Kegilaan tak ada hentinya menghiasi hari-hari anak SMA di jantung negara matahari terbit. Apakah mereka berhasil bertahan hidup di saat jutaan mayat hidup menghadang jalan mereka?
...
...
#StayAtHome
#BangkitFFn2021
#KeepWriting
#KeepReading
...
...
Chapter 9 : The Night of the Dead lll
...
...
Deru nafas tak karuan terdengar dari seorang pemuda yang berlari di tengah rintik hujan. Naruto, Pemuda itu, Deru nafasnya tidak karuan belum lagi hidup dan matinya di pertaruhkan. Ia terus berlari tanpa henti di gang yang terus menerus menyempit, Gang itu hanya memiliki lebar 1 setengah meter. Merasa dewi Fortuna berpihak kepadanya, Naruto menyunggingkan senyuman namun makhluk di belakangnya terus mengejar walaupun tubuhnya yang terbilang besar itu beberapa kali menabrak dinding di setiap sisi gang itu.
Namun, Keberuntungannya tidak bertahan lama. Gang sempit itu kembali melebar membuat jarak antara dirinya dan makhluk itu mulai terpangkas.
'Sialan! Apakah dia akan terus mengejarku?' Pikir Naruto, Di sela-sela pelariannya Naruto di kejutan oleh bayangan yang tepat ada di atasnya. Syaraf-syaraf otaknya bekerja dengan cepat dan membuat dirinya menyimpulkan kalau bayangan itu adalah makhluk tersebut.
Deg...
Saat itu pula jantungnya berdegub dengan keras dan denyut nadinya merangsang kerja otak kirinya yang memerintahkannya untuk segera melompat.
Swush..
Segenap kekuatan otot tumit kaki kirinya ia kerahkan untuk meloncat dan berbalik di tengah-tengah udara. Sudut matanya dapat dengan jelas melihat makhluk itu setelah tubuh Naruto hampir setengah berbalik menghadap ke arah makhluk yang akan menerkamnya. Tangan kanan bercakar tajam makhluk itu akan segera membelah kepalanya. Begitu juga tangan kanan Naruto yang masih memegang katana miliknya.
"Sialan!"
Slash...
...
...
"Hah.. Hah... Hah... Aku terlalu tua untuk berlarian!"
Sebuah tangan bersandar di sebuah balkon apartemen. Nafasnya begitu berat hingga membuatnya sedikit membungkuk. Sempat terlintas di pikirannya setelah berlarian seperti itu, Entah kenapa dirinya bisa berlari dengan begitu cepat? Padahal dirinya kurang olahraga dan terus menerus berada di dalam laboratorium.
"Kurasa cukup.." Ucapnya. Pria itu mengambil nafas dalam-dalam dan kemudian turun menggunakan tangga darurat di samping penampungan sampah.
Pria itu berjalan pelan, menghampiri sebuah suara nafas seseorang yang tersengal-sengal. Dan dirinya tidak dapat menutupi rasa terkejutnya sama sekali. Seorang pemuda berambut kuning tergeletak di tanah, Kedua tangan pemuda itu terentang, dan di salah satu tangannya ada sebuah Katana, dan di sampingnya ada seonggok mayat monster yang merupakan mutasi virus dengan beberapa luka benda tajam dan juga luka bakar.
Dapat Pria itu lihat jika pemuda itu sedang tersenyum sebelum kedua matanya yang berwarna biru itu menangkap kehadiran dirinya sebelum pemuda itu tersenyum kepada dirinya. Pria itu mengugurkan tangan kirinya dan mau tak mau pemuda itu menerimanya, namun tiba-tiba...
"Naruto?"
"Paman Abaddon?"
Kedua orang itu sedikit terdiam saat melihat lawan bicara mereka. Naruto sangat mengetahui siapa pria di hadapannya dan pria itu juga mengetahui siapa pemuda itu, Dengan kata lain mereka saling kenal. Namun...
Crashhh...
Belum sempat mereka berdua memulai pembicaraan, Makhluk yang dari tadi tergeletak di lantai mulai bangkit walaupun dengan kondisi lemah. Tentu hal itu membuat Naruto terdiam dan untuk kesekian kalinya makhluk itu kembali menyerang dengan lengan kanannya yang memiliki cakar tajam. Dan untuk kedua kalinya mata Naruto melebar, Saat darah berwarna merah terciprat di udara. Paman Abaddon, Orangtua Kuisha, Melindungi dirinya dengan menjadi perisai daging?
"Arrrrggghhhhh!"
Suara erangan itu bukan dari monster tersebut melainkan dari Naruto sendiri. Pemuda itu segera berlari dan sesekali menghindari cakar monster itu hingga ia berhasil menusukkan Katana miliknya tepat di dalam mulut hingga tembus sampai ke bagian kepala hingga membuat monster itu jatuh.
Dorr.. Dorr.. Dorr..
Tiga tembakan terdengar saat seorang pria yang sedang terduduk menembakkan senjata miliknya. Senyum sinis terukir di wajah Abaddon dan sedikit erangan terdengar karena rasa sakit yang ia derita.
"Paman!" Teriak Naruto dan berlari ke arah abaddon sebelum pria itu ambruk di tanah. Dengan hati-hati, Naruto menopang kepala Abaddon.
"Paman! Bertahanlah! Kumohon!" Ucapnya. Namun, Apa yang harus ia lakukan saat ini? Tiga luka berlumuran darah yang membentang dari Bahu kanan, Punggung dan berakhir tepat di atas pinggang kirinya.
"Hei, Apa kau terluka Naruto?"
"Apa yang kau bicarakan! Jangan khawatirkan aku paman, Kumohon! Nyawa mu..."
"Hufft..."
Di tengah-tengah bencana itu, Abaddon masih bisa menghela nafasnya. Dirinya tidak habis pikir, Naruto, Pemuda yang merupakan tunangan dari anaknya, berhasil selamat melawan Licker secara One-on-One?
"Hei Naruto, Bisakah kau menjaga Kuisha? Aku sangat menyayanginya walaupun terkadang aku tidak mengingatnya karena pekerjaanku dan ku rasa hanya kaulah temannya, kan?"
"Paman tau? Itu tidak benar! Kuisha itu sangat hebat, Dia pintar, Cantik dan juga anggun pada saat bersamaan terlebih orang sesempurna dirinya harus bersanding dengan diriku ini. Aku masih sangat terbatas, Aku bodoh, Dan aku juga Magnet Masalah..." Pandangan Naruto menjadi sendu saat melihat wajah Abaddon menjadi sangat pucat. Dirinya tidak bisa untuk tidak menangis namun ia menahan rasa itu. "... Paman tau? Dia memiliki banyak teman! Sasuke Uchiha, Shikamaru Nara, Issei Hyodou, Rias Gremory, Akeno Himejima, dan juga Gabriel Tenshin. Masih banyak orang yang percaya kepadanya."
"Aku akan menjaganya! Tidak peduli apapun yang akan menghadangku. Karena dia adalah cahayaku. Dia masih hidup dan dia bersama teman-teman kami, Beberapa saat yang lalu."
"Hei Naruto..."
"... Waktu paman tidak banyak lagi..."
...
...
Criiiitttttt...
Suara rem sebuah mini bus terdengar di sepanjang persimpangan jalan. Jalanan itu sangat sepi dan banyak mobil-mobil terparkir seperti rongsokkan. Di dalamnya ada beberapa pemuda-pemudi yang memandang ke arah luar jendela. Disana, Objek yang sedang mereka lihat sedang du kerumuni ratusan bahkan ribuan Zombie. Yup, Mereka sudah sampai di Markas Pusat Kepolisian Tokyo dan mengambil jarak sekitar 50 meter dari lokasi.
"Tidak ada jalan untuk mencapai markas itu." Ujar seorang wanita berambut pirang yang sedari tadi mengemudikan bus mereka.
"Terlalu beresiko untuk menerobos paksa."
"Kau ada benarnya Sasuke, Jika kita terobos paksa ada kemungkinan besar bus akan terbalik." Ucapan Issei membuat Sasuke sedikit menaikkan alisnya. 'Sejak kapan Issei menjadi pintar?' seperti itulah pikirnya. Namun ada benarnya, Dengan kecepatan berapapun tidak ada kemungkinan untuk mereka menerobos.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Sasuke-kun?" Tanya Kuisha yang mulai beranjak dari tempatnya menuju ke arah depan di samping Sasuke.
"Ini... Terlalu sulit." Ucapnya. Dirinya memang cerdas namun apakah mungkin jika dirinya menerobos paksa. Memikat keningnya sebentar lalu dirinya membuat sebuah keputusan.
"Kita mundur. Terlalu beresiko, Disana juga sudah tidak bisa di selamatkan, mereka juga terserang habus-habisan hingga mencapai atap." Ucapnya. Dirinya tidak dapat memikirkan cara apapun untuk membawa bus ini. Dan daripada teman-temannya tewas, Ini adalah pilihan yang paling aman untuk saat ini. Belum lagi dengan suara letusan senjata dan beberapa percikan cayaha statis begitu ramai di atap gedung.
"Helikopter itu tampak berbeda dari yang kita lihat tadi." Suara Akeno sedikit menginterupsi pandangan semua orang. Helikopter yang sedang mengudara di atas gedung itu terlihat sedikit berbeda dan kemudian helikopter itu terlihat bergerak menjauhi gedung itu dengan tangga tali yang menjuntai ke bawah.
"Apakah kita tidak mungkin pergi kesana? Ada kemungkinan untuk mendapati sesuatu." Ucapan Rias, Dirinya merasa jika ada sesuatu yang akan berguna di dalam gedung itu. Entah itu senjata, bahan makanan, ataupun obat-obatan walaupun hanya Paracetamol dan juga alkohol.
"Tidak Rias, Kita tidak bisa masuk ke sana. Suara tembakan itu berasal dari atap dan itu berarti Zombie berhasil menerobos pertahanan terakhir mereka dan kemungkinan bahwa gedung itu dipenuhi Zombie tidak dapat terelakkan." Kata-kata Kuroka dapat mereka dengar. Penjelasan Kuroka tampak sangat logis. Semua orang sudah berkembang sedikit demi sedikit menghadapi bencana ini.
"Hah, Ini buruk! Sensei, Putar balik segera."
"Tunggu!"
Semua orang menolehkan kepala mereka ke arah Issei dan dapat mereka lihat jika pemuda itu sedang memikirkan sesuatu.
"Kita hanya menjadi Zombie jika kita tergigit kan? Ambil tas, aku akan turun dan mencari sumber daya untuk kita." Ucap Issei. Dirinya sendiri adalah seorang pria dan wanita merupakan tanggung jawabnya. Sasuke harus menjadi pemimpin sementara sebelum Naruto kembali, Shikamaru sedang beristirahat setelah tiga hari tidak tidur hanya dirinya saja yang pria yang tersisa. "Tenang saja, Aku ini cukup kuat loh. Aku juga melihat Naruto tidak berubah menjadi Zombie setelah beberapa goresan luka di tubuhnya jadi kalian tidak usah khawatir."
Plak...
Semua orang terkejut saat melihat Rias menampar Issei. Namun...
"Aku senang bisa menamparmu. Sekarang pergilah dan berjanjilah tetap selamat." Ucapnya sedangkan Issei hanya tersenyum. Pemuda itu berlari ke belakang mengambil sebuah tas dan untuk senjata ia hanya membawa sebuah Sickle yang biasanya di gunakan Akeno.
"Semuanya, Ku harap kalian selamat!" Itulah kata-kata terakhir Issei sebelum pemuda itu turun dari bus yang mereka tumpangi dan berlari menuju sebuah gang dan menghilang dalam kegelapan malam.
Kendaraan yang mereka tumpangi mulai berjalan mundur untuk putar balik namun karena tidak ada yang mengawasi sisi belakang.
Brakkh..!
Bunper bus mereka menabrak rjang listrik hingga menimbulkan suara yang memancing beberapa Zombie berjalan ke arah mereka. Zombie-zombie itu sedikit terlihat berbeda dan langkah kaki mereka bukan berjalan biasa namun sedikit berlari kecil. Semua orang menjadi panik saat melihat itu.
"Sensei, cepat!"
"Sedang ku usahakan."
Brakkkh...
Lagi-lagi bus yang mereka tumpangi menabrak sesuatu. Sekarang mobil yang berserakan menjadi penghalang mereka dan membuat bagian depan kendaraan hancur, beljn lagi kaca depan yang retak dari atas sampai bawah.
"Ugh..." Lenguhan seorang perempuan terdengar. Itu adalah suara Gabriel yang mencoba bangkit dengan luka sobek di bagian keningnya membuat darah berwarna merah mengalir dari pelipis gadis cantik itu. Tak hanya itu, Beberapa orang juga memegangi kepala mereka karena benturan barusan tak terkecuali Tearju. Kepala guru itu membentur kemudi hingga membuat dirinya sedikit pusing.
Dengan sedikit mangan rasa sakit dan pening, Tearju mulai memasukkan perseneleng dan mulai menginjak pedal gas. Bus yang mereka tumpangi melaju kencang melewati jalan yang sudah di lalui tadi. Pada Gear ke-4, Speedometer menunjukkan angka 87Km/Jam dan akan terus.
"Kau tidak apa, Kuroka?"
"Ya..." Jawab Kuroka yang memegangi keningnya. ".. Gabriel!"
Melihat Kuroka dan beberapa gadis sedang mencoba membalut luka Gabriel membuat Sasuke tersenyum kecil. Belum lagi saat dirinya melihat seseorang yang sedang tidur dengan tenang mengabaikan teriakan mereka semua. Orang itu adalah Shikamaru yang masih tertidur dengan lelap, Di tubuhnya terikat tali yang tersangkut di kursi belakang.
'Cih... Orang jenius dengan segala tindak tanduk mereka.'
...
...
"Aku... Aku tidak bisa melakukannya, paman!" Suara orang itu memenuhi gang di malam hari. Hujan rintik yang sedari tadi menemani dirinya sudah berakhir.
"Yah, Aku tau kau tidak akan bisa. Tapi kumohon! Aku bisa merasakan seluruh syaraf ku bergerak tanpa kendali." Kata-kata yang keluar dari mulut Profesor Abaddon sedikit mengecil. Dirinya mati-matikan menahan rasa sakit yang sedari tadi menjalar ke seluruh tubuhnya. Belum lagi luka yang mulai bermutasi itu. Naruto tidak bisa berfikir jernih, Tangan kirinya sedari tadi gemetar memegang sepucuk senjata api berwarna putih milik Abaddon.
"Naruto-kun... Paman tidak punya banyak waktu lagi. Kumohon."
"Tapi... Tapi... Bagaimana dengan... "
"Aku yakin kau bisa menjaga Kuisha jadi lakukan tugasmu. Kedua tanganku sudah mati rasa dan aku juga ingin menjadi diriku sendiri sampai akhir."
Naruto sungguh tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Otaknya hanya merespon kehendak orang yang sudah ia anggap keluarganya sendiri. Tangan kirinya yang memegang pistol, terangkat tepat ke arah kepala Abaddon. Akan tetapi hatinya lah yang membuatnya tidak mampu menuruti perintah otaknya. Namun ia tahu ia harus melakukannya, apa pun yang terjadi. Perjuangan paman itu telah berada pada puncaknya. Naruto sadar ia harus mampu melakukan ini. Orang itu, Ayah dari Kuisha, Ingin menjadi diri sendiri sampai saat terakhir, Benar-benar sama dengan keinginan Naruto setiap saat. Naruto benar-benar kalut.
"LAKUKAN NARUTO!"
Dirinya harus melakukannya. Ini adalah pilihan Abaddon, yang tentu harus ia hargai. Dapat ia lihat kalau punggung Abaddon yang terluka mulai bermutasi. Seluruh urat di tangan kiri paman tersebut mengejang dengan keras hingga membuatnya terlihat di permukaan kulit. Tangan Naruto masih bergetar menodongkan pucuk laras senjatanya ke arah kepala Abaddon. Dirinya tak punya banyak waktu lagi. Di sela menahan sakit yang teramat sangat, Abaddon masih mampu melihat ujung jari telunjuk pemuda itu yang masih di luar bingkai, kini mulai masuk dan menyentuh pelatuknya walau gemetar.
"Jaga Kuisha untukku..." Ucap Abaddon yang tersenyum lemah ke arah pemuda yang saat ini sedang menodongkan sebuah senjata tepat di kepalanya.
"Maafkan aku, Kuisha."
Dorrr..
Mata Naruto melebar. Ia telah melakukannya. Ia baru saja menarik pelatuk itu. Darah merah segar sedikit terciprat ke pergelangan tangannya yang masih tidak mau berhenti bergetar. Otaknya serasa kembali berhenti. Untuk pertama kalinya, ia mengakhiri hidup seseorang tepat di depan mata kepalanya sendiri. Bahkan, dirinya tidak menyadari ada dua mayat hidup yang tengah mendekat menghampirinya. Tangan kiri yang masih memegang senjata itu terjatuh lemas. Entah kenapa tubuhnya berhenti bergetar. Namun sayangnya, seolah lajur otaknya juga berhenti berfungsi saat itu juga. Tekanan mental yang besar membuatnya hanya memandangi tanpa ekspresi jasad ayah tunangannya.
Kedua mayat hidup itu semakin mendekat ke arah Naruto yang tengah diam mematung. Naruto sama sekali tidak menyadari kehadiran kedua zombie itu, hingga tinggal selangkah lagi, zombie-zombie itu hampir menerkam Naruto. Namun...
Jdaankk...
Salah satu dari zombie itu terhempas menjauh dari tubuh Naruto. Sedangkan sebuah kaki menslideding zombie yang satu lagi hingga terjatuh. Belum sempat zombie itu untuk bergerak kembali, pucuk dari pipa air besi tua telah teracung ke arahnya.
Cpreetts...
Ujung tumpul dari pipa tersebut menghujam kepala zombie itu. Darah mengucur membasahi pipa dan tanah di bawahnya. Setelah menghujamkan senjata miliknya, orang tersebut langsung membuang pipa itu ke sembarang arah. Lalu berbalik mendekati Naruto yang tengah kalut.
"Apa yang terjadi, Namikaze-kun...?" Ucap seorang gadis memegang pundak kanan Naruto.
"Ekkh..." Erang Naruto kesakitan memegangi bahu kanannya. Kemudian ia menoleh ke arah gadis itu. Di hadapannya ada seorang gadis berambut hitam sedang berdiri lengkap dengan sebuah busur dan juga quiver yang penuh dengan anak panah.
"Kuroka?" Ucap Naruto pelan. Rasa sakit di bahunya seolah telah menyadarkan dirinya dari sebuah penjara lamunan panjang.
"Apa yang telah terjadi?" Tanya Kuroka yang melihat makhluk besar menyeramkan tengah tergeletak tidak jauh dari Naruto yang tengah berlutut memegangi bahu kanannya.
"Aku... Aku telah... Aku tak bisa menjelaskannya..."
Naruto menunduk lesu. Kuroka menoleh memperhatikan sekitar. Ia melihat jasad seseorang tepat di depan Naruto dengan luka yang sangat parah di bagian kirinya. Lalu satu makhluk aneh mati tidak jauh darinya. Juga Naruto yang tengah menggenggam sebuah senjata api yang bukan miliknya. Dengan cepat ia mulai paham tentang situasi yang Naruto alami.
"..."
"Orang ini... Ayah dari Kuisha... Ingin menjadi dirinya sendiri sampai akhir hayatnya... Dan aku... Telah melakukannya."
Kata-kata yang keluar dari mulut Naruto terdengar tidak jelas. Namun Kuroka masih mampu untuk mengartikan setiap katanya. Walau ia sempat terkejut bahwa jasad orang yang telah Naruto bunuh-... Tidak, orang yang telah Naruto selamatkan tekad dan keinginannya ini adalah Ayah Kuisha.
"Itu berarti kau sudah menyelamatkannya! Naruto-kun, Kau bukanlah penjahat! Kau adalah pahlawan, Pahlawan untuk paman Abaddon." Ucapnya dan mulai mendekap kepala Naruto yang tertunduk lesu dengan lembut. Mencoba untuk menenangkan batin Naruto karena telah membunuh seseorang, dengan tangannya sendiri.
Sontak hal ini membuat Naruto cukup terkejut. Namun entah kenapa, hatinya merasa nyaman dengan posisi seperti ini. Pelukan lembut dari Kuroka membuatnya merasa seolah tenang kembali. Lama mereka terdiam dalam posisi seperti ini. Hingga akhirnya Naruto menyadari sesuatu yang aneh.
"Kenapa... Kau bisa sampai kemari..." Tanya Naruto pelan.
"Kau tau? Tidak sulit untuk Shikamaru melacak ponselmu. Sinyal sudah pulih beberapa saat yang lalu dan hasilnya? Dunia sudah runtuh! Tidak ada lagi tempat aman diseluruh dunia." Ucap Kuroka seraya menunjukkan handphone miliknya yang menunjukkan lokasi Naruto dan dirinya. Kemudian layar ponsel itu menunjukkan beberapa berita tentang perkembangan dunia. Beberapa berita saling tumpang tindih dengan kesimpulan yang mengatakan "The Judgement Day is Rising".
Wajah kedua remaja itu sedikit menjadi gelap. Sepertinya tidak ada alasan lagi mengapa mereka semua hidup. Sudah tidak ada titik aman untuk terus hidup dan kenapa harus ada bencana ini? Sejujurnya, Ingin sekali Naruto mengutuk tuhan namun ia masih berfikir dengan rasional.
"Oh iya, kenapa dengan bahu mu?"
"Tidak apa, Hanya terkilir saat melawan monster yang disana. Kuroka, Sebelumnya maafkan aku karena aku yang terlalu lambat mengambil keputusan nyawa anak itu tidak terselamatkan." Ujar pemuda itu. Naruto mengatakannya setelah ia melepas pelukan Kuroka. Wajahnya tidak dapat melihat ekspresi Kuroka karena ia tidak yakin dapat menghadapi Kuroka atau tidak. Karena apa? Karena Adiknya, Satu-satunya keluarga yang di katakan masih hidup, Tewas karena kelalaian dirinya.
"Tidak apa. Kau sudah berusaha sebaik mungkin. Lalu kenapa kau minta maaf?"
"Karena anak itu, Tidak lain adalah Adikmu, Koneko Tojou."
Seketika suasana menjadi sunyi, bagaikan tidak ada kehidupan sama sekali di gang tersebut. Ekspresi yang di keluarkan Kuroka antara terkejut dan juga tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Namun, setelah melihat wajah Naruto yang tetap datar membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya mulai jatuh, tidak salah bagi siapapun untuk menangis namun...
Dorr... Dorr...
Kuroka dibuat terkejut saat Naruto menarik pelatuk senjata yang ia pegang dan menembak ke arah belakangnya. Suara sesuatu terjatuh membuat Kuroka membalikkan kepalanya dan melihat ke belakang. Kedua matanya terbelalak saat melihat belasan bahkan puluhan mayat hidup berjalan terseok-seok menghampiri mereka berdua.
Begitu banyak! Bahkan Naruto saat ini sedang terluka. Walaupun dengan dua pistol yang dibawa oleh Naruto tetap tidak bisa, bahkan ada kemungkinan mengundang lebih banyak Zombie yang mengepung mereka. Namun yang membuat dirinya sedikit terkejut adalah tindakan yang di ambil Naruto saat ini.
Kenapa?
Itu karena Naruto sedang menyeret dirinya yang masih terduduk dan belum bisa mengendalikan emosinya dengan baik. Walaupun wajahnya memerah, Kuroka masih siap dengan busur dan anak panah yang sudah tersemat di busurnya.
"Lebih baik kau menghemat amunisi yang saat ini kita punya dan tolong bantu aku dengan menggerakkan kedua kakimu." Ucap Naruto dengan wajah sedikit mengeras. Naruto tidak menyangka bahwa jika tubuh Kuroka ternyata lebih berat daripada yang terlihat, atau itu karena gundukan daging yang membuat tubuhnya menjadi lebih berat?
"Sial..." Umpatan yang terdengar sedikit kasar keluar dari mulut Naruto seraya menggebrak pagar kawat yang menutupi akses keluar menuju jalanan. Mungkin jika dirinya memanjat akan ada kesempatan untuk hidup walaupun dirinya harus merasakan rasa sakit pada bagian bahunya. Namun apakah itu juga bisa di lakukan untuk ukuran seorang gadis seperti Kuroka?
"Ayolah, Kumohon!" Ucap Naruto. Dirinya selalu tanggap dalam situasi yang genting seperti ini. Dirinya dengan panik berlari kesana kemari guna mencari pintu belakang sebuah gedung yang tidak terkunci namun nihil. Tidak ada satupun pintu yang tidak terkunci dan hanya ada 1 kemungkinan untuk tetap hidup.
Disana, Di dekat gerombolan Zombie, Ada sebuah pintu berwarna coklat. Hanya itu saja pintu yang tersisa walaupun memiliki resiko tinggi. Walaupun dengan puluhan mayat hidup yang berjalan mendekati dirinya.
"Kumohon..!" Suara yang di keluarkan Kuroka sedikit parau. Gadis itu sepenuhnya sangat panik, bahkan dengan kasar ia menggebrak pintu itu hanya untuk membukanya.
"?!..." Kedua matanya melebar saat mendapati sebuah tangan menggengam pergelangan lengannya. Dari sapinya seorang Zombie sudah bersiap untuk menggigitnya.
DORR..
Suara ledakan itu sedikit lebih besar dari biasanya. Itu adalah suara dari pistol yang Naruto warisi dari mendiang ayah Kuisha. Pistol yang merupakan merupakan sebuah senjata dari perusahaan IMI
"Fokus, Biarkan aku yang mengatasi, mereka semua!" Naruto kembali mengarahkan ujung laras senjatanya namun wajahnya mengeras kembali dan menurunkan senjata tersebut. Kedua tangannya meraih gagang katana dan mencoba menahan gerombolan Zombie itu seorang diri. Dengan langkah kakinya, Naruto memulai serangan pada makhluk-makhluk itu. Sedangkan Kuroka bergegas mendibrak pintu tersebut.
"Ayo!" Seru Kuroka yang kini berganti menarik kerah baju Naruto yang masih memegangi katana miliknya saat pintu telah berhasil dibuka.
Dengan sigap Naruto menutup pintu yang telah mereka masuki. Lalu di Ambil nya kursi di dalam ruangan itu untuk menahan pintu dan menumpuknya. Ia menumpuk tiga kursi tunggu yang berat di depan pintu dengan menahan rasa sakit di bahunya. Bermaksud untuk memblokade pintu itu agar tidak terbuka.
"Kuroka, di mana yang la-"
Crashhh...
Kalimat Naruto terhenti ketika melihat Kuroka tengah menusuk kepala zombie yang berusaha menyerang Naruto dari belakang menggunakan mata panahnya.
Dorr... Dorr...
Naruto kembali menembak seorang wanita yang akan menerjang mereka berdua. Membuat wanita agresif itu terpental dengan luka tembak di leher dan kepala. Mereka berdua terduduk lelah di balik meja setelah mendapatkan tempat persembunyian yang aman. Kuroka mencoba meredakan deru nafasnya. Lalu melihat ke arah sepucuk senjata yang tergenggam erat di kedua tangan Naruto.
"Glolck-17, Senjata Buatan Austria. Senjata dengan berat yang ringan, antara 0.87 sampai 0.89 gram, Akurasi yang istimewa bahkan jika digunakan oleh seorang amtiran. Dengan memuat sampai 17 selongsong peluru 9mm Parabellum di dalam slot magazennya. Pilihan senjata yang bagus. Lalu..." Pandangan Kuroka beralih menuju sebuah pistol berwarna putih yang berada di tangan kanan Naruto. "... Desert Eagle, Senjata buatan Israel dari Israel Military Industries. Pistol Semi-auto dengan berat 1.36 gram. Pantas saja suara letupan yang terdengar sangat kuat ternyata kau memegang Deagle!"
"Yah, Senjata ini milik paman Abaddon." Ucap Naruto. Wajah pemuda itu sedikit menjadi sendu. Kenangan demi kenangan saat bersama dengan orangtua Kuisha berputar dengan sendirinya. Hubungannya dengan keluarga Kuisha sangat dekat, bahkan untuk kakak Kuisha yaitu Beddeze Abaddon yang merupakan salah satu dari anggota kesatuan unit reaksi cepat.
"Ahh iya, Lalu dimana yang lain?" Tanya Naruto.
"Aku sudah membuat janji dengan teman-teman untuk bertemu di Villa milik keluarga Rias. Kau tau kan lokasinya?" Tanya Kuroka dan Naruto hanya menjawab dengan sedikit helaan nafas dan beranjak menuju pintu masuk utama.
Cklek...
Naruto mengunci pintu masuk tersebut dan berharap tidak akan ada yang bisa masuk kemari. Untunglah bangunan ini, yang merupakan sebuah mini market dalam kondisi tutup. Rolling dor yang terbuat dari plat besi menutupi kaca yang rapuh. Naruto mengambil sekotak rokok dan mulai menyulut api dan berjalan santai ke tempat Kuroka sedang bersandar di belakang meja kasir.
"Besok pagi, kah?" Kata Naruto pelan saat dirinya menyelimuti tubuh Kuroka yang tersandar pada dinding kasir itu menggunakan blazer miliknya. Pemuda itu pun melemaskan otot-ototnya yang lelah dengan duduk bersandar tepat di samping Kuroka walaupun bahunya sedikit nyeri.
"Tidurlah, Aku akan menjagamu." Naruto menggapai kepala Kuroka menggunakan tangan kirinya dengan lembut. Lalu menyandarkan kepala gadis itu di pundak kirinya.
"Aku akan selalu ada di sampingmu. Kumohon, Jangan pernah berfikir kalau kau sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Walaupun kau kehilangan adikmu masih ada kami yang selalu bersama denganmu. Dan, Kumohon maafkan aku! Jadi sekarang tidurlah."'Lanjutnya lagi. Membuat Kuroka tidak bisa memikirkan apa pun selain kata nyaman. Sangat jarang Naruto memberikan perlakuan selembut ini kepada seorang gadis terlebih kepada Kuroka bukan Gabriel, Kuisha ataupun teman-temannya. Namun sebelum ia tenggelam dalam kantuk yang mulai menyerang, Kuroka menyadari satu hal. Pemuda itu melakukan ini bukan karena ada suatu rasa suka. Melainkan rasa tidak ingin kehilangan lagi seseorang di dekatnya. Walau begitu, ia tetap menikmatinya. Menikmati setiap detik di samping orang yang sudah menyelamatkan dirinya. Ia sudah lelah berlari kesana-kemari menghindari maut. Setidaknya, untuk sesaat, biarlah ia terlelap di pundak Naruto.
"Kau juga Tidurlah, Naruto-kun."
...
...
...
TuBerCulosis
...
...
...
Author Note's
Ahhhhh... Kusoooo!
Feel Kuroka dengan Naruto tidak dapat! Maafkan aku!
