[insert background music: Perfectly Perfect ㅡ Simple Plan]
Kuroo Tetsurō tidak pernah tidak mencintai kimia; sifat materi, ikatan yang membentuk senyawa, reaksinya. Ia menghafal tabel periodik secara berurutan, dan dapat menyebutkan nama senyawa-senyawa sulit dengan mudah. Ia juga orang yang tenang, walaupun terkadang cukup provokatif. Kapten sekaligus middle blocker andalan tim voli SMA Nekoma. Memiliki daya analisis tinggi...
Tapi tidak untuk yang satu ini.
Saat lelaki berambut hitam mencuat itu melewati kelas 3-1, ia menangkap aroma aneh yang langsung membuatnya berhenti berjalan. Ia tidak tahu aroma apa itu: perpaduan sesuatu yang manis dan sangat lembut, tapi ia tahu persis wangi itu bukan berasal dari parfum. Tidak ada parfum yang berbau begitu natural dan manis di saat yang bersamaan. Ini bukan aroma esens buah-buahan. Ini adalah manis yang lain.
Kuroo mengintip ke dalam kelas 3-1 dari pintu dan tidak menemukan siapa pun berada di dekatnya. Kebanyakan orang sedang berkumpul di tengah kelas, entah membicarakan apa.
Kuroo meneruskan langkahnya sambil berpikir keras. Tidak pernah ada aroma yang begitu menganggunya seperti ini. Aroma yang biasa ditemuinya selalu sangat jelas; aroma segar padang rumput, petrichor (aroma yang menguar dari tanah basah setelah terguyur hujan), perbedaan aroma bunga bakung dan bunga lavender. Semuanya sangat jelas dan mudah ditebak.
Kuroo tidak suka dibuat penasaran. Apalagi jika itu berhubungan dengan kimia. Entah senyawa apa yang terbentuk sehingga menciptakan bebauan yang sebegitunya khas.
Dengan dahi berkerut ia memasuki ruang kelasnya. Kepalanya dipenuhi berbagai materi pembentuk aroma, dan membayangkan bagaimana bila materi yang satu dicampurkan dengan materi lainnya.
Sangat rumit.
Ia hanya tidak menyadari bahwa jawabannya tidak serumit itu. Malah, ia hanya perlu bertanya.
jenojaem00 presents
.
Sakura: and the Complete Chemical
.
Haruno Sakura x Kuroo Tetsurou
Masashi Kishimoto x Haruichi Furudate
warning: OOC, typo(s), plotless, conflictless
enjoy!
.
.
.
Hari Minggu.
Haruno Sakura berbaring di atas sleeper sofa di ruang keluarga kediaman Yamanaka. Masker wajahnya baru selesai diaplikasikan jadi ia memutuskan untuk menunggunya kering sambil membuka jejaring sosial. Sementara Yamanaka Ino, putri pemilik rumah sekaligus sahabatnya sejak duduk di taman kanak-kanak, masih mengoleskan masker ke beberapa bagian wajahnya.
Hari Minggu memang waktu mereka untuk 'me time bersama'. Dulu mereka melakukannya setiap Sabtu dan Minggu. Namun semenjak Ino berpacaran dengan adik kelas mereka, Lev Haiba, Sakura memberikan mereka waktu berduaan dan memilih untuk menemui Ino di hari Minggu.
"Ino, Lev latihan hari ini?" tanya Sakura saat melihat story anak kelas satu itu.
Ino menaruh kuasnya dan mengecek wajahnya sekali lagi di cermin. Ia menjawab tanpa menoleh, "Kurasa tidak," lalu menoleh pada Sakura yang masih pada ponselnya. "Apa dia membuat story?"
Sakura mengangguk dan menunjukkan ponselnya pada Ino. "Tapi tidak ada Nekomata-sensei, mungkin mereka hanya iseng bermain."
Ino menepuk tangannya keras. "Saki! Bagaimana kalau kita ke sekolah, hm? Melihat tim voli berlatih. Pasti seru sekali!"
Sakura mengerang malas. "Ini musim panas, Ino. Di luar panas sekali, kau tahu. Lebih baik menghabiskan siang ini di sini sambil memesan sesuatu yang dingin dan segar." Sakura melirik jam di ponselnya lalu duduk. Satu menit lagi ia bisa membersihkan maskernya.
Ino mendecih. "Ayolah Saki, berhenti bersikap membosankan. Ini adalah kesempatan kita bisa melihat tim voli latihan tanpa ada anak-anak lain. Tidak ada yang ke sekolah pada hari Minggu selain tim voli, kau dan aku. Bagaimana? Mau, ya? Ya ya ya?"
Sakura menghela napas. "Makan siang minggu depan kau yang traktir."
Ino memekik girang. "Deal! Terima kasih, Saki! Aku menyayangimu!" Sakura menahan senyumnya melihat Ino. "Dan tentu saja aku akan mentraktirmu, kau sudah membantuku mengerjakan tugas Kimia."
Sakura mengangguk-anggukan kepalanya. "Oke, oke. Biarkan aku mencuci wajahku dulu."
Sakura beranjak dan membasuh wajahnya. Setelah bersih dan kering, ia menuju kamar Ino dan berganti pakaian, sementara kini gantian Ino yang mencuci wajahnya.
"Saki, kau yakin akan pakai itu?" tanya Ino, menunjuk kaos tye-die berwarna mint milik Sakura.
Sakura memeriksa tampilannya. "Tidak salah, kan?"
Ino menggeleng tidak setuju. "Ini adalah kesempatan kita untuk bersinar," katanya berlebihan. "Kita harus tampil maksimal selagi tidak ada saingan."
Sakura tertawa. "Jadi kau sudah lupa dengan Lev?"
Ino melotot. "Tentu saja tidak! Anggap saja aku 'menemanimu bersinar'. Siapa tahu salah satu anggota tim voli ada yang terpesona padamu."
"Rasanya tidak mungkin," balas Sakura lirih.
Ino memperhatikan Sakura lekat. "Serius, deh, Sakura! Kau ini cantik, tahu? Jangan sia-siakan wajah cantikmu itu. Ya walaupun kau cantik memakai apapun juga, tapi biarkan dirimu lebih bersinar dari ini, oke? Sudah, kau duduk di sana dan aku akan menyulapmu jadi gadis paling cantik di musim panas ini."
Sakura hanya menurut. Tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru.
Dan sebuah keputusan yang cukup salah.
Sepanjang jalan, banyak orang memberi mereka tatapan terang-terangan, walaupun tidak ada yang nekat mengganggu. Bagaimana tidak, Ino dengan floral tank top dan rok midi pleated membiarkan rambut panjang blonde-nya tergerai. Persis Barbie.
Sakura dengan puff sleeve midi dress bermotif bunga daisy, juga rambut pink panjangnya diikat messy ponytail, membuat tampilannya lebih simpel dan manis.
Ia berjalan merapat ke arah Ino, tidak biasa dengan perhatian berlebihan seperti ini. Ino yang menyadari hal itu menggamit lengan Sakura.
"Saki, tenang saja. Kau terlihat luar biasa cantik dengan dress itu."
Sakura memaksakan seulas senyum. "Aku tidak biasa, tahu? Lagipula kita hanya ke sekolah, kenapa kita harus seperti ini?"
Ino tertawa kecil selagi mereka berbelok memasuki gerbang SMA Nekoma. "Kau sudah menanyakan ini lebih dari sepuluh kaliㅡ Oh, Lev-kun!"
Lev Haiba, kekasih Yamanaka Ino yang notabene dua tahun lebih muda, terkejut melihat kedatangan dua perempuan ke gedung olahraga. Terlebih keduanya terlihat menyilaukan mata.
"Ino-san! Ada apa datang ke sini? Dan ya Tuhan, kau cantik sekali!"
Ino tersipu mendengar ucapan lelaki setinggi seratus sembilan puluh sekian senti itu. "Aku ingin memberimu kejutan, Lev-kun," katanya (yang menurut Sakura sok) manis.
"Kau mau membuatku tidak konsen latihan, ya?" Lev lalu melirik Sakura. "Oh, halo, Sakura-san! Kau terlihat luar biasa."
Sakura balas menyapa sementara Ino tersenyum bangga. "Ino yang melakukan ini, jadi dia yang luar biasa."
"Oho, siapa ini?"
Sebuah suara berat dan agak malas membuat Sakura, Ino dan Lev menoleh. Mereka mendapati Kuroo Tetsurō sedang berjalan memasuki gedung olahraga sambil membawa sekantung penuh bola voli.
"Mau menemani Lev berlatih, Yamanaka?"
"Tentu saja! Aku ini pacar yang baik dan suportif," canda Ino.
Kuroo mengerling Sakura yang berdiri kaku. "Yamanaka menonton Lev, jadi kau datang ke sini untuk melihat siapa, Haruno?"
Sakura mendeliknya. "Jangan bertanya."
Kuroo terkekeh. "Kurasa ini jawabanmu atas tawaranku dua hari lalu, benar?"
Ino langsung heboh bertanya pada Sakura yang membeku. "Tawaran apa, Saki? Apa dia mengganggumu? Kau diancam?!"
Kuroo meledakkan tawanya. "Aku terluka," katanya pura-pura sedih. "Kenapa reputasiku bisa seburuk ini?" tanyanya, lebih pada dirinya sendiri. Ia lalu kembali pada Sakura. "Aku bisa membantumu sekarang, Haruno. Kalau kau tertarik, kau tinggal mengatakannya padaku."
Kuroo lalu berjalan menjauh, meninggalkan Ino dan Lev dalam keherenan yang makin menjadi-jadi. Sedangkan Sakura menyesali keputusannya datang ke sekolah hari ini.
.
.
.
Dua hari sebelumnya.
Kuroo Tetsurō tidak dalam mood yang baik sejak kemarin, dan semua rekan setimnya tahu itu, walaupun tidak tahu alasannya. Jadi ketika Kuroo tidak berinisiatif latihan sendiri dan memilih untuk menyendiri ke entah-suatu-tempat-di-sekolah, mereka membiarkannya. Kuroo memang tidak mengomel atau bersikap menyebalkan. Ia justru terlihat lebih diam dan seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri, tidak fokus pada sekitarnya.
Kuroo memutuskan untuk ke perpustakaan. Ia yakin saat ini tidak banyak yang ke sana karena sebagian besar murid pasti menghabiskan waktu istirahat jam pertama di kantin atau di taman sekolah.
Kuroo berjalan menuju tempat duduk yang berada di sudut saat mencium aroma itu lagi; aroma yang membuatnya sulit berkonsentrasi sejak kemarin. Tanpa membuang waktu ia segera berjalan berkeliling, menemukan sumbernya.
Ia akui ia terkejut melihat Haruno Sakura sedang duduk di salah satu bangku dengan kepala terkulai di atas meja. Tidak ada siapa-siapa lagi di sisi perpustakaan ini, jadi Kuroo yakin aroma itu berasal dari Sakura.
Kuroo tidak dapat menahan kakinya untuk tidak berjalan mendekat. Ia menarik kursi, lalu mendudukkan diri di sebelah Sakura. Ia kini yakin seratus persen aroma itu menguar dari Sakura. Entah apa yang gadis itu pakai.
Sakura mengangkat kepala dan sedikit kaget melihat Kuroo Tetsurō sudah duduk di sebelahnya. Ia memang mengenal Kuroo, mereka juga ada di kelas yang sama saat kelas 1. Tapi mereka tidak pernah benar-benar mengobrol. Jadi melihatnya duduk di sebelahnya dengan senyum miring membuat Sakura bingung.
"Apa yang kau lakukan di sini, Kuroo-san?"
"Itu pertanyaanku, sebenarnya. Apa yang kau lakukan di sini dengan kepala terkulai seperti itu, Haruno?"
Sakura menggeser kertas yang ditidurinya tadi ke hadapan Kuroo. Kuroo melihat isinya dan tersenyum samar.
Formulir Minat, Bakat dan Rencana Setelah Lulus SMA.
"Kau kebingungan mengisinya?" tebak Kuroo.
Sakura mengangguk lemah. "Aku bahkan tidak tahu cita-citaku apa."
Kuroo menopang dagu dengan tangan kirinya. Ia tampak berpikir sejenak sebelum kembali bersuara. "Lakukan saja apa yang kau suka," katanya pada akhirnya.
Sakura melihat kertasnya dengan tatapan menerawang. Apa yang ia suka, ya...
Sakura menoleh pada Kuroo. "Jadi kau menulis voli pada lembar formulirmu?"
Kuroo terkekeh. "Tentu saja tidak. Voli memang hobiku dan aku tidak bisa hidup tanpa voli, tapi cita-citaku bukan itu. Aku terpikir untuk bekerja di bidang pemerintahan."
Sakura melebarkan matanya tak percaya. "Serius? Wah, aku tidak menyangkanya!"
"Tapi kita tidak sedang berbicara tentang aku, Haruno. Kembali padamu, mulai saja dengan memikirkan apa yang kau suka."
"Aku suka parfum," kata Sakura pelan.
"Ya?"
"Aku suka parfum," katanya lebih jelas. Ia melihat Kuroo menaikkan alisnya, menunggunya melanjutkan ucapannya. "Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan di masa depan, tapi sejak kecil sampai saat ini, aku suka sekali pada parfum."
Kuroo memandangnya lurus-lurus.
"Aku suka mencampur wewangian, menciptakan kombinasi aneh." Sakura tertawa kecil saat menceritakan pengalaman pertamanya mencampur parfum dengan minyak gosok, yang membuat Kuroo ikut tertawa. "Tapi kurasa aku sudah lebih baik sekarang. Aku bisa membuat parfum untuk diriku sendiri."
Gotcha.
Kuroo tahu ini kesempatannya untuk bertanya. Apa yang Sakura buat sehingga ia bisa menciptakan aroma itu.
"Oh, ya? Memangnya kau mencampurkanㅡ"
Triiiiing!
Bel tanda masuk berbunyi. Kuroo menghela napas pelan. Ia tidak mau memaksakan diri untuk bertanya sekarang. Yang penting ia sudah tahu dari mana aroma unik itu berasal.
"Ya, Kuroo-san? Omong-omong kita harus kembali ke kelas."
"Baiklah."
Saat Kuroo dan Sakura ke luar dari perpustakaan, sebuah ide muncul. Kuroo tidak berlama-lama dan langsung bertanya.
"Haruno, mau bertemu nenekku?"
Sakura yang sedang memandangi kertasnya menoleh cepat pada Kuroo. "Eh?"
Kuroo memberinya seulas senyum tipis. "Nenekku adalah seorang perfumer."
Sakura menimbang-nimbang tawaran Kuroo. Jujur saja ia sangat ingin bertemu dengan seorang perfumer setelah tadi memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah lulus SMA. Tapi bertemu dengan nenek Kuroo membuatnya... canggung. Oh, ayolah. Ia tidak sedekat itu dengan Kuroo.
"Terima kasih, tapi akan kupikirkan dulu," jawabnya kikuk.
"Ini bukanlah ajakan kencan, Haruno," goda Kuroo, membuat Sakura mendeliknya dengan rona tipis pada kedua pipi. "Pastikan kau menjawabnya segera. Nenekku tidak berada di Tokyo dalam waktu yang lama. Kalau begitu, aku duluan."
Kuroo berjalan mendahului Sakura, mati-matian menahan senyum yang hampir terbentuk di wajahnya.
.
.
.
Latihan voli hari ini selesai lebih cepat dari dugaan Ino. Ia menyerahkan minuman dingin pada Lev yang kelihatannya hampir tumbang. Lelaki tinggi itu harus mendapat latihan penerimaan bola secara ekstra dari Kuroo karena bolos latihan hari Sabtu kemarin.
"Ya ampun, kau tidak apa-apa, kan?" tanya Ino khawatir. Lev meneguk minumannya sampai setengah botol, tidak langsung menjawab pertanyaan Ino.
"Pacarmu itu tidak akan pingsan, Yamanaka. Dia bahkan bisa latihan tambahan selama satu jam tanpa istirahat," Kuroo berjalan mendekat. "Ya, kan, Lev?"
"Senpai!" Lev memprotes dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Sudahlah," lerai Ino. "Bagaimana kalau kita makan sesuatu yang segar saja?" usulnya ceria.
Lev langsung menyetujuinya.
"Aku..." suara Sakura membuat Ino, Lev dan Kuroo menoleh padanya. Sakura melirik Kuroo sekilas. "Aku harus pergi dengan Kuroo-san."
"APA?!"
Sakura berjengit kaget mendapat reaksi yang sama dari ketiga orang di depannya.
"Kau diancam, kan, Saki?!" tanya Ino dengan nada tinggi.
Sakura tertawa kecil. "Tidak, tidak. Kuroo-san akan mengajakku bertemu neneknyaㅡ"
"HAH?!"
Kali ini hanya Lev dan Ino yang bereaksi.
"Dengarkan aku sampai selesai, oke?" kata Sakura gemas. Ino mengangguk walaupun kentara sekali ia penasaran setengah mati. "Nenek Kuroo-san adalah perfumer. Kau tahu, kan, soal lembar formulir itu?"
"Oh," Ino mendadak mengingat isi lembar formulir Sakura. "Baiklah, Saki. Aku paham. Jadi kau serius soal menjadi perfumer?" Ino memastikan.
"Kurasa."
Ino memeluk Sakura. "Akhirnya kau memikirkan dirimu sendiri," katanya terharu. "Kau membantuku menentukan cita-citaku, padahal kau sendiri belum memikirkannya. Maafkan aku, Saki. Dan terima kasih."
Sakura tertawa. "Jangan berlebihan. Kau memang sudah menyukai bidang fashion sejak dulu, aku hanya mengingatkanmu. Aku juga baru menyadari kesukaanku setelah mengobrol dengan Kurooㅡ"
Ino melepaskan pelukannya. "Apa?"
"Santai saja, Yamanaka," sela Kuroo. "Kami tidak sengaja bertemu di perpustakaan dua hari lalu. Jangan bersikap posesif begitu, aku ini cukup kompetitif," katanya penuh kode.
Ino membelalakkan matanya, langsung paham ucapan Kuroo. Tapi Kuroo memberinya kode lewat tatapannya untuk tidak bereaksi apa-apa, mengingat Sakura dan Lev tidak menyadarinya.
"Intinya begitu," tutup Sakura. Sakura kembali melihat Kuroo. "Kuroo-san, apa aku boleh menemui nenekmu hari ini?"
Kuroo memberinya seulas senyum.
"Aku bersih-bersih dulu, tunggu aku."
Tidak pernah terpikir oleh Sakura untuk pergi ke rumah teman lelakinya berdua saja, dan bukan karena alasan kerja kelompok atau mengerjakan tugas bersama. Ia datang untuk bertemu nenek Kuroo!
"Gugup?"
Sakura mengeratkan genggamannya pada dress-nya. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat Kuroo. Kuroo balas menatapnya.
"Apa aku boleh pulang dulu untuk berganti pakaian? Kurasa ini berlebihan."
"Tidak usah berpikir terlalu jauh. Kau terlihat bagus."
Sakura berhenti berjalan.
"Apa lagi?" tanya Kuroo berusaha bersabar.
Sakura memilih kata-katanya. "Hmm... menurutmu nenekmu akan menyukaiku?"
Sakura tidak tahu bahwa efek pertanyaannya itu membuat Kuroo nyaris terkena serangan jantung. Bukankah itu adalah pertanyaan yang biasa ditanyakan saat seorang laki-laki mengajak kekasihnya bertemu dengan keluarganya untuk pertama kali?
Kuroo menenangkan dirinya sebelum menjawab. "Tentu saja, Haruno. Atau boleh kupanggil Sakura?"
"Ya, kau boleh, uhm... Tetsurō-san, kurasa?"
"Bagus. Karena kalau kau memanggilku 'Kuroo' terus-menerus, semua orang di rumahku akan merasa terpanggil."
"Semua orang? Apa banyak orang di rumahmu?"
Kuroo tertawa. "Kau ini panik sekali, sih? Apa yang kau takutkan?"
"Aku tidak takut, hanya gugup," aku Sakura.
"Tenang saja, mereka akan menyukaimu," kata Kuroo kalem.
"Bagaimana kau tahu?"
"Karena aku seorang Kuroo?" balasnya asal. "Sudahlah, jangan memikirkan terlalu jauh. Aku jamin mereka bersikap baik."
"Apa sebelumnya mereka pernah bersikap tidak baik?" tanya Sakura konyol.
Kuroo tidak dapat menahan tawanya lagi. "Sakura, kalau kau begini terus bisa-bisa aku langsung membawamu pulang ke rumahmu!" katanya di sela-sela tawa.
"Aku gugup, maafkan aku!"
Mereka sampai beberapa menit setelah tawa Kuroo mereda. Merasakan kegugupan Sakura, Kuroo menariknya masuk. Ia mengucapkan salam, yang diikuti Sakura dengan suara pelan.
"Kau sudah pulang, Tetsurō."
Seorang wanita yang terlihat masih segar di usia tujuh puluh tahunan menyambut kedatangan mereka di pintu masuk. Ia terkejut melihat Kuroo untuk pertama kalinya membawa seorang gadis ke rumah. Ditambah, gadis berhelaian merah muda itu terlihat sangat cantik.
"Sakura, ini nenekku," Kuroo menarik Sakura mendekat. Ia lalu tersenyum lebar pada neneknya. "Ini Sakura, Nek. Teman sekolahku."
"Halo, Nek, saya Haruno Sakura," sapa Sakura sopan sambil membungkukkan badan.
Setelah perkenalan singkat antara neneknya dengan Sakura, neneknya langsung mengajak Sakura berkeliling rumah sambil menceritakan banyak hal. Sudah jelas neneknya itu menyukai kehadiran Sakura di rumahnya.
Kuroo menikmati pemandangan itu, sampai ia mengingat tujuan Sakura datang.
"Aku tidak bermaksud mengganggu kesenangan kalian. Tapi Sakura datang ke sini untuk bertemu dengan Nenek, membicarakan sesuatu tentang parfum."
Sakura tersenyum sopan. Nenek Kuroo lalu membawa Sakura ke ruang kerjanya, meninggalkan Kuroo, yang memilih untuk tidak ikut, di ruang tengah.
Telepon rumah berdering, dan ia mengangkatnya. Suara ibunya terdengar di seberang sana.
"Hai, Bu. Aku baru selesai latihan. Nenek? Ada di ruang kerjanya bersama Sakura... Bukan, Bu, dia teman sekolahku... Apa? Tidak! Dia ke sini untuk bertemu Nenek, dia mau jadi perfumer... Ya, ya, akan kusampaikan. Tidak, nanti saja kuceritakan semuanya.. Aku mengerti. Ibu dan Ayah juga jaga diri di Ishigaki. Aa, aku juga menyayangi Ibu."
Kuroo meletakkan gagang telepon dengan senyum tipis di wajahnya. Entah kenapa ia merasa dadanya menghangat. Samar-samar ia mendengar tawa Sakura dan neneknya. Ia tidak pernah membayangkan Haruno Sakura berada di rumahnya, berbincang seru dengan sang nenek.
Karena itu ia memutuskan untuk mengantarkan kudapan buah ke ruang kerja neneknya. Kuroo mengetuk pintu yang terbuka, membuat kedua perempuan di ruangan itu menoleh.
"Kudapan?"
Kuroo mengantar Sakura sampai ke rumahnya setelah gadis itu makan malam bersama ia dan neneknya. Semakin mengenal Sakura, Kuroo semakin menyukai gadis itu.
Oops. Let's spill the tea, then.
Kuroo sudah menyukai Sakura sejak kelas satu, saat mereka berada di kelas yang sama. Rasa suka itu pada awalnya hanya berupa ketertarikan, rasa ingin tahu.
Sakura selalu bersama Ino, dan semua orang di sekolahnya tahu Ino. Ino adalah gadis cantik, supel dan populer. Tapi semakin Kuroo perhatikan, Kuroo jauh lebih tertarik pada Sakura and her clumsiness.
"Masuklah. Aku akan pergi begitu kau masuk."
Sakura memberi Kuroo senyum. "Terima kasih banyak, Tetsurō. Kau membantuku menemukan cita-citaku, dan mengenalkanku pada Nenek yang adalah seorang perfumer terkenal di Jepang. Bagaimana caranya membalas kebaikanmu itu, ya?"
Kuroo menyeringai, membuat Sakura bergidik ngeri. "Sabtu depan kujemput jam sebelas. Deal?"
"Kita akan ke mana?"
"Kau tidak mau bertemu Nenek lagi?"
Sakura mengernyit bingung. "Bukankah kau bilang Nenek tidak akan lama di Tokyo?"
Kuroo mengangguk. "Tapi Nenek memutuskan untuk tinggal lebih lama karena ayah dan ibuku masih berada di Ishigaki sampai akhir bulan."
"Baiklah, Sabtu depan jam sebelas. Kalau begitu, sampai jumpa besok di sekolah, Tetsurō."
Kuroo tersenyum dan melambaikan tangan. "Sampai besok, Sakura."
.
.
.
Minggu ini berjalan cepat. Sejak kejadian Kuroo mengantar Sakura pulang, mereka jarang sekali bertemu. Jika tak sengaja berpapasan di koridor sekolah, atau di kantin, mereka hanya saling menyapa, lalu kembali ke kesibukan masing-masing.
Dan tiba-tiba saja sekarang sudah hari Sabtu.
Sakura dan Kuroo kini sedang berjalan menuju halte bus yang akan membawa mereka ke rumah Kuroo. Kuroo memperhatikan Sakura yang kini tampak lebih nyaman dan rileks, tidak seperti kedatangannya ke rumahnya untuk pertama kali.
"Ke mana dress itu?"
Sakura menekuk wajahnya. "Diamlah. Itu milik Ino, lagipula aku tidak nyaman memakai pakaian seperti itu."
Kuroo mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa? Kau terlihat caㅡbagus dengan itu."
"Aku lebih nyaman dengan ini," balas Sakura sambil merentangkan tangannya, menunjukkan oversized t-shirt hitamnya dengan jeans dan Converse hitam.
"Kau tahu, style-mu itu sangat mirip denganku."
Sakura menoleh cepat pada Kuroo. Benar juga. Lelaki itu mengenakan kaos hitam polos dengan jeans dan Converse high hitam.
"Kau ingin sekali aku menyadari kesamaan style kita, ya?" tanya Sakura iseng.
Mendengarnya membuat Kuroo tertawa. "Wah, aku tidak tahu pengaruhku padamu sebegininya besar berdampak."
Lima belas menit kemudian, mereka sampai di rumah Kuroo. Ketika hendak masuk ke rumah, nenek Kuroo tampak buru-buru bergegas menuju pintu.
Ia tampak rapi, membawa sebuah tas tangan. Kuroo memandangnya heran.
"Halo, Saku-chan. Maafkan aku, aku harus pergi menemui temanku yang mendadak akan kembali ke Hokkaido. Reuni, kau tahu."
Sakura tersenyum. "Tidak apa-apa, Nek. Kita bisa mengobrol lain kali."
"Apa Nenek mau kuantar?" Kuroo menawarkan diri.
Nenek Kuroo mengibaskan tangannya. "Tidak perlu, aku sudah memesan taksi. Saku-chan, Tetsurō, Nenek berangkat, ya."
Begitu Nenek Kuroo berangkat, keheningan yang canggung menyelimuti Kuroo dan Sakura. Kuroo berdeham untuk memecah kecanggungan itu.
"Mau masuk?"
"Oh? Ya. Ya, baiklah," balas Sakura gugup.
"Duduklah di ruang tengah, aku akan mengambilkan minuman dingin dan beberapa catatan Nenek untukmu."
"Catatan untukku?" tanya Sakura tidak percaya.
"Ya, tadi Nenek memberitahuku sebelum ia memasuki taksi."
Sakura duduk di sofa dengan kikuk. Ia tidak melakukan apa-apa sampai Kuroo kembali dengan minuman dan catatan di tangan. Sakura berterima kasih dan menerima gelas dan catatannya.
Seekor ikan hiu muncul di layar begitu Kuroo menyalakan televisi, membuat Sakura memekik kaget. Kuroo menoleh panik, memeriksa apa Sakura baik-baik saja.
"Maaf, aku hanya mudah terkejut dan... ugh, penakut," kata Sakura pelan.
"Maaf mengagetkanmu," kata Kuroo, benar-benar menyesal.
Sakura menggeleng sambil tersenyum. "Bukan salahmu."
Kuroo menempatkan diri di sebelah Sakura. Lagi-lagi aroma itu kembali tercium olehnya. Tanpa dapat menahan diri ia akhirnya bertanya.
"Sakura, parfum apa yang kau pakai?"
Sakura cukup kaget dengan pertanyaan Kuroo. "Parfum buatanku," katanya sambil tertawa kecil. "Aku mencampurkan ekstrak bunga dan minyak argan karena perpaduannyaㅡ"
"Manis dan lembut," sela Kuroo. Ia kini tahu apa tepatnya wangi itu. Ia yakin ia bisa tidur nyenyak malam nanti.
Sakura lalu menoleh pada Kuroo. "Kau sendiri, aroma parfum apa ini? Aku yakin aku seperti mencium aroma white musk, tapi ada sesuatu yang berbeda."
Kuroo akui ia terkesan. Keinginan Sakura untuk menjadi perfumer bukannya tidak berdasar. Gadis itu bisa membedakan wangi yang mirip karakteristiknya.
"Black musk," jawab Kuroo.
"Tapi aku tidak mencium adanya black vanilla di sini."
Kuroo bertepuk tangan. "Oke, impresif, Sakura. Memang tidak ada black vanilla. Ini buatan Nenek. Nenek mengganti black vanilla dengan benzoin."
Sakura berdecak kagum. "Tidak terpikir olehku, wangi lembut itu berasal dari benzoin."
"Aku juga tidak menyangka kau membaurkan wangi bunga dengan minyak argan," puji Kuroo. "Ini memang bidangmu, Sakura. Berjuanglah."
Sakura tidak bermaksud menangis, tapi entah kenapa semangat dari Kuroo membuatnya luar biasa tersentuh dan tidak dapat membendung perasaannya.
"Hey, kau tidak apa-apa?" Kuroo mendekati Sakura. "Aku menyinggungmu?"
Sakura menggeleng sambil menghapus air matanya. "Maaf tiba-tiba menangis, aku ini sungguh cengeng, ya?" katanya memaksakan sebuah tawa. "Aku berterima kasih, Tetsurō. Aku baru benar-benar menyadari mimpiku saat mengobrol denganmu, dengan Nenek. Terima kasih."
Kuroo tersenyum lembut. Ia menepuk-nepuk kepala Sakura. "Tidak masalah. Aku senang aku punya bagian dalam mimpimu."
"Apa?"
Kuroo menghentikan gerakannya. "Apa aku salah bicara? Oh, oke, maaf. Aku tidak bermaksud mengacaukan suasana," katanya sedikit muram.
"Tidak, aku malah senang sekaliㅡ" Sakura menutup mulutnya. Ia tahu ia sudah membeberkan hal yang gawat. Kuroo tersenyum penuh arti, jadi Sakura menghela napas, merasa tidak bisa mengelak. "Maksudku, kenapa kau senang punya bagian dalam mimpiku?"
Kuroo tidak langsung menjawab. Mata hazelnya menatap mata hijau Sakura lurus-lurus.
"Aku tidak punya alasan khusus," katanya jujur. "Aku hanya tidak ingin orang yang kuperhatikan diam-diam tidak melakukan apa yang dia suka."
Sakura tercekat. Bukankah secara tidak langsung Kuroo sedang menyatakan perasaan padanya?
"Kau mungkin tidak menganggapku sebagai laki-laki, aku juga tidak pernah menunjukkan rasa sukaku padamu," katanya terang-terangan. "Aku tidak pandai melakukannya, Sakura. Yang aku tahu aku hanya senang memperhatikanmu, dan aku menyukaimu. Dan pada akhirnya hari ini, aku sampai pada tahap aku menyayangimu."
Sakura menarik leher Kuroo dan memeluknya. Ia tidak tahu apa yang ia lakukan. Hanya saja ia kelewat senang mengetahui crush-nya menyukainya juga. Juga luapan rasa terima kasihnya.
Kuroo terlampau kaget sehingga ia hanya mematung di tempatnya. Ketika kesadarannya kembali, ia balas memeluk Sakura. Ia mengelus punggung gadis itu dengan hati-hati.
"Kau tidak berkata apa-apa dan langsung memelukku. Apa artinya kau juga menyukaiku?"
Sakura menyamankan diri di pelukan Kuroo. "Aku sudah menyukaimu sejak awal kelas 3," aku Sakura. "Saat kau melemparkan hinaan dengan nama-nama senyawa pada Yaku-san."
Kuroo tertawa. "Hinaan docosahexaenoic acid itu maksudnya? Kau mendengarnya?"
Sakura menjauhkan diri dari Kuroo agar dapat menatap mata lelaki itu. "Kau tidak tahu aku langsung mengatakannya pada Ino."
Kuroo mengangkat alis, merasa tertarik. "Apa yang kau katakan pada Yamanaka?"
"'Kuroo Tetsurō tidak bisa dikategorikan sebagai nerd karena walaupun ia bisa menyebutkan kepanjangan DHA dengan lancar, ia tetap terlihat keren.' Sepertinya begitu."
Kuroo meledakkan tawanya. Ya ampun, ia tidak tahu Sakura bisa menggemaskan begini, sangat polos. Padahal Kuroo menyangka Sakura akan berkelit dan tidak menjawabnya. Tapi gadis itu memberinya jawaban lengkap.
"Jadi menurutmu aku ini keren, ya. Aku tersanjung."
Wajah Sakura memerah. Ia baru sadar ia keceplosan. Tidak bisa mengelak, ia kembali membenamkan wajah pada dada Kuroo.
Kuroo tertawa lagi. "Sakura, kalau kau memelukku setiap kau malu, aku sepertinya akan menggodamu seharian penuh."
"Ugh, diamlah."
Kuroo tidak pernah lebih bahagia dari ini. Ia mengeratkan pelukannya pada Sakura. "Bagaimana dengan es krim dan film?"
Sakura balas mengeratkan pelukannya. "Inilah kenapa aku menyayangimu juga. Sangat."
Sakura: and the Complete Chemical,
end.
Ceritanya kepanjangan dan ngalor-ngidul, ya? Maafkan, tadinya mau bangun relationship yang slow gitu. Tapi gemes sendiri sama penokohan Sakura dan Kuroo-nya :")
Terima kasih, ya, yang udah mampir!
