67. Beautiful Goodbye - Maroon 5 - 4:16
68. The Air That I Breathe - Maroon 5 - 4:21
[ n o w p l a y i n g ] Moving Along - 5 Seconds of Summer - 3:19
71. Monster Among Men - 5 Seconds of Summer - 3:12
72. Wildflower - 5 Seconds of Summer - 3:49
73. Good Together - HONNE - 3:44
74. ...
Oikawa Tōru membetulkan posisi airpods yang mengeluarkan lantunan lagu dari 5SoS itu. Matanya memandang kosong ke luar jendela kabin pesawat, memperhatikan gumpalan awan yang terlihat halus bergerak melewatinya seiring dengan pesawat yang ditumpanginya terbang menuju Jepang.
Setter Club Athletico San Juan itu sedang mendapat jatah libur akibat international break, jadi ia memutuskan untuk pulang ke Jepang setelah dua tahun sibuk dengan karirnya di Argentina. Tidak hanya liburan, ia juga mendapatkan tawaran sebagai brand ambassador sebuah produk olahraga sehingga dua hari lagi ia sudah harus mulai bekerja.
Pesawat mendarat beberapa jam setelahnya. Setelah memasuki terminal kedatangan dan mengambil bagasi, Oikawa sudah disambut oleh beberapa pihak media. Ia memberikan senyum dan lambaian tangan, sudah siap dengan pertanyaan mengenai karirnya di Argentina, tetapi itu semua hanya bayangannya.
Ia mematung ketika mendengar satu pertanyaan datang dari para awak media itu,
"Bagaimana rencana pernikahan Anda dengan Haruno-san?"
"Maaf?"
Seorang jurnalis dari media besar di Tokyo mendekatinya. "Beritanya sudah tersebar sejak tadi siang, lho, Oikawa-san," katanya dengan nada jahil. "Tapi pihak Haruno-san pun belum terlihat memberi keterangan apa-apa. Kurasa Anda mau berbagi kabar bahagia ini dengan kami?"
Oikawa masih kebingungan saat sebuah tangan menarik kerah jaketnya. Ia tertarik ke belakang saat mendapati Iwaizumi Hajime sudah ada di sana dengan wajah jengkel. Sebelum menarik Oikawa menjauh dari media, ia membungkukkan badan, membuat media yang berusaha mengejar mereka memutuskan untuk berhenti.
"Bodoh! Kenapa, sih, kau harus buat keributan begitu?!"
Oikawa menutup pintu mobil Iwaizumi. Ia menoleh bingung, belum seratus persen menyadari apa yang sedang terjadi. "Santai, Iwa-chanㅡ"
"Jangan panggil aku begitu!" Iwaizumi menstarter mobilnya dengan kesal. "Kalau aku tidak segera ke sana kau akan terperangkap di sana selamanya."
Oikawa tidak menanggapinya. Ia malah memeriksa bangku baris belakang, dan menoleh ke kanan dan kiri. "Iwa, di mana jaketku?"
"Jaket yang mana?"
"Kau bilang kau membawakanku jaket? Jaketku yang terbawa olehmu saat kau mengunjungiku di Argentina."
Iwaizumi berdecak. "Aku tahu kau akan memakai satu dari Argentina, jadi tidak kubawakan."
"Aku ingin berganti jaket, siapa tahu aku ditemui media lagi diㅡ" Oikawa menghentikan kata-katanya. "Bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi?" tanya Oikawa frustrasi karena tidak memiliki petunjuk apapun tentang topik sebelumnya. "Siapa yang akan menikah?!"
Iwaizumi mulai menginjak pedal gas, melaju ke luar dari bandara. "Kau," katanya datar.
"Dengan Haruno, maksudnya?!" Oikawa meledak kaget. Iwaizumi sedikit berjengit mendengarnya. "Gila! Haruno yang mana? Kalau itu Haruno Sakura, sih, aku mau!" katanya tidak jelas.
Iwaizumi menatapnya horor, membuat Oikawa langsung pasang mode serius. "Kau tidakㅡ"
"Yang dimaksud memang Haruno Sakura, Bodoh!"
"APAAA?!"
jenojaem00 presents to you
.
Fated to be Destined
.
Haruno Sakura x Oikawa Tōru
Naruto x Haikyuu!!
Masashi Kishimoto x Haruichi Furudate
.
warning: OOC, conflictless, plotless, typo(s)
.
Enjoy!
.
.
.
Sehari setelah kedatangan Oikawa Tōru ke Jepang.
Kantor Ukiyo Model Management yang berlokasi di Tokyo sudah dipenuhi dering telepon masuk sejak siang tadi. Takinoue Shizune, salah satu anggota director team yang menangani model agency ini terlihat sibuk. Ekspresi serius sudah beberapa jam menutupi wajah ramahnya. Dahinya berkerut dan ia tampak beberapa kali berbicara pada dirinya sendiri.
Di ruangan Shizune terdapat dua sosok lainnya, Yamanaka Ino dan Haruno Sakura. Yamanaka Ino di sini untuk menemani sahabatnya sejak debut menjadi model, Haruno Sakura, yang kini sedang menjadi sorotan setelah beredar kabar dirinya akan menikah dengan proplayer voli, Oikawa Tōru.
Sakura menekuk wajahnya dalam-dalam. Ini adalah sesuatu yang sangat jauh dari perkiraannya. Hanya beberapa orang yang tahu bahwa Sakura dan Oikawa pernah berpacaran. Oh, benar. Mereka pernah berpacaran beberapa minggu saat SMA walaupun mereka berbeda sekolah, lalu memutuskan untuk putus karena Oikawa sibuk dengan voli, dan Sakura sudah mulai sibuk dengan kegiatan modelling-nya.
Dan berita kemarin siang bukanlah berita yang bisa diterimanya begitu saja. Selama ini namanya dan nama Oikawa tidak pernah berkaitan. Mereka tidak saling mengikuti di media sosial, tidak pernah menghadiri acara yang sama, apalagi melakukan proyek bersama. Jadi munculnya berita ini pasti ada pemicunya, Sakura tahu itu.
Shizune menutup telepon dan berdiri dari kursinya. Ia mendudukkan diri di sofa di seberang Sakura dan Ino. Istri Takinoue Yūsuke itu terlihat lelah. Ia menghela napas berat sebelum membuka mulutnya, "Sakura, kau punya ide atas apa yang terjadi sekarang ini?"
Sakura mengerang, kesal karena ia juga tidak tahu kenapa berita itu bisa tersebar. "Tidak, onee-san. Tapi, uhm, sejujurnya..." Sakura menimbang-nimbang untuk meneruskan ceritanya atau tidak.
"Jujur saja, Saki. Ini akan memudahkanmu," Ino menepuk pundak sahabatnya sejak kursus modelling itu.
Sakura menenangkan diri, memilih kata-katanya. "Oke," mulainya. "Oikawa Tōru adalah mantan pacarku saat SMA."
Shizune terlihat kaget. "Jadi kalian pernah satu sekolah, ya?"
Sakura menggeleng kuat. "Tidak, tidak. Kami berada di sekolah yang berbeda. Intinya kami bertemu, berkenalan, lalu berpacaran. Tapi hanya sebatas itu, lalu putus. Kami tidak pernah saling kontak sejak saat itu."
"Apa setelah berita ini Oikawa sudah mengontakmu?"
Sakura menggeleng lagi. "Aku bahkan tidak punya kontaknya."
"Saku, kau tahu Oikawa sudah tiba di Jepang?"
"Apa?"
Shizune tersenyum lelah. "Belum, ya, berarti. Aku tidak tahu kenapa berita seperti itu bisa tiba-tiba beredar, aku akan mencari tahu segera. Tapi sebisa mungkin, kau tidak perlu berkomentar apa-apa soal ini, oke? Biarkan pihak agensi ini yang bicara. Kau fokus pada kegiatanmu saja."
"Aku mengerti, onee-san," kata Sakura muram.
Ino yang berusaha menghibur, gagal fokus melihat apa yang Sakura pakai. "Saki, jaket siapa yang kau pakai itu?"
Sakura menunduk menatap jaket yang ia pakai. "Ini? Ini, kan, punya Iwaizumi-kun? Ia meminjamiku ini kemarin saat kau memintanya untuk menjemputku. Kau tahu, kan, kemarin aku masih memakai baju pemotretan," melihat ekspresi Ino yang tidak biasa, Sakura melanjutkan, "Dan aku memakainya sekarang karena aku tidak sempat pulang ke apartemen untuk berganti pakaian."
"Saki," Sakura bergidik mendengar suara serius Ino. Tentu Ino akan cemburu mendapati kekasihnya, Iwaizumi Hajime, meminjamkan jaket padanya.
"Y-ya?"
"Itu bukan jaket Iwa-kun."
Jadi jaket siapa?!
Sakura tidak berani pulang dari kantor agensinya sendirian, jadi ia akan 'menumpang' pada Ino dan Iwaizumi. Kini Sakura dan Ino masih menunggu Iwaizumi di lobi kantor yang tertutup, berusaha terhindar dari media yang berusaha memintai keterangan pada pihak agensi maupun Sakura.
Beruntung, Iwaizumi datang kurang dari lima menit setelahnya. Ino dan Sakura bergegas menuju mobil itu. Sakura membuka pintu belakang saat mendapati sesosok lelaki berambut cokelat gelap dengan mata berwarna sama yang sedang duduk di sana dengan tenang.
Sakura berjengit kaget, lalu kembali menutup pintu mobil. Ino yang baru saja akan membuka pintu mobil ikut kaget dan bertanya dengan panik.
"Saki, ada apa, sih?!"
Iwaizumi tidak banyak bicara. Ia turun dari mobil, membukakan pintu mobil untuk Ino dan Sakura, sambil berkata dengan nada datar, "Naiklah, Sakura. Sebelum media melihatmu dan mengikuti mobilku."
Sakura menurut dengan terpaksa. Ia duduk di ujung sekali, sampai tubuhnya menempel dengan pintu mobil, membuat Oikawa mendengus geli.
"Enam tahun tidak bertemu, kau tidak rindu padaku, Sakura?"
Sebelum Sakura menjawab, Ino menyelanya dengan heboh. Ia menoleh ke belakang dan memberi Oikawa tatapan galak. "Kenapa kau bisa kenal dengan Iwa-kun?!"
"Dia mengikutiku sejak kecil, Ino," Iwaizumi angkat bicara.
Oikawa berdecak. "Kami berteman sejak kecil dan selalu satu sekolah." Ia melirik Iwaizumi, "Jadi ini kekasihmu, Iwa-chan?" tanya Oikawa dengan nada bosan.
"Apa-apaan dengan panggilan itu?!" tanya Ino, suaranya meninggi.
"Jangan hiraukan dia," balas Iwaizumi kalem.
Di tengah kehebohan itu, Sakura hanya dapat duduk dengan tegang. Ia berharap mereka segera sampai di apartemennya dan Ino, sampai suara Oikawa membuyarkan lamunannya.
"Oi, Iwa, kenapa kau tidak memberitahuku kalau Sakura yang memakai jaketku?"
Sakura menoleh cepat sampai ia dapat merasakan tulang lehernya berderak. "Apa katamu?"
"Itu jaketku, Sakura."
Sakura menatap Oikawa horor. Ia ingin sekali langsung melepaskan jaket ini, tapi ia hanya memakai cropped tank top di balik jaket ini karena tidak sempat membawa baju ganti kemarin. Ditambah karakter Oikawa yang iseng dan suka menggoda orang, Sakura bertahan pada pendiriannya untuk tidak membuka jaket itu.
"Maaf-maaf saja aku memakainya, Oikawa, akan kukembalikan setelah kucuci. Aku tidak bisa membukanya sekarang."
Oikawa menaikkan sebelah alisnya, merasa tertarik dengan kata-kata Sakura. "Selama itu membuatmu nyaman, pakai saja."
Mobil Iwaizumi berbelok memasuki sebuah kawasan apartemen, tapi ternyata sudah ada beberapa orang yang tampaknya jurnalis entah dari mana, menunggu di sana. Mereka semua tahu, pasti orang-orang itu sedang menunggu Sakura.
"Bukan hanya Sakura yang tidak bisa masuk, aku pun akan kesulitan jika masuk sekarang," komentar Ino.
"Kita tidak bisa ke area publik sekarang. Semua orang sedang menyoroti kalian berdua," Iwaizumi melirik Oikawa dan Sakura dari kaca spion.
"Aku aman di apartemenmu," balas Oikawa enteng.
Iwaizumi tampak berpikir sebelum memutar balik mobilnya keluar dari kawasan apartemen itu, membuat tiga penumpang dalam mobilnya kebingungan.
Belum sempat ada yang bersuara, Iwaizumi membuka mulutnya, "Benar, apartemenku adalah pilihan paling aman saat ini."
"Kita ke sana?"
Iwaizumi melajukan mobilnya lebih cepat. "Hn, kita ke sana."
.
.
.
Apartemen Iwaizumi terbukti merupakan tempat teraman yang bisa didatangi Sakura dan Oikawaㅡmeskipun Oikawa memang tinggal di sana untuk sementara waktu. Cukup jauh dari pusat kota, memiliki pengamanan yang ketat, dan yang terpenting tidak ada media.
Mereka menuju lantai sebelas. Setelah masuk ke dalam apartemen Iwaizumi, Iwaizumi mengarahkan mereka untuk duduk di sofa ruang tengah. Dan yang cukup mengejutkan, ia langsung bertanya seolah sedang menginterogasi mereka, minus Ino.
"Apa, sih, yang kalian lakukan, sampai-sampai terjadi kehebohan seperti ini?"
Ino duduk di sebelah Iwaizumi dengan antusias, terlalu penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh dua orang di hadapannya ini.
Sakura memajukan badannya. "Aku tidak melakukan apa-apa, berani sumpah!"
Oikawa duduk santai dengan tangan terlipat di depan tangan. "Kau pikir apa yang aku lakukan?"
Iwaizumi mendeliknya. "Oi, kau tidak ingat yang kau katakan di bandara kemarin?" Oikawa memberinya tatapan bingung. "Kalau kau mau menikaㅡ"
Oikawa menerjang Iwaizumi dan membekap mulutnya, membuat Iwaizumi nyaris terjungkal. Iwaizumi melepaskan diri secara paksa. Wajahnya merah padam, antara tidak bisa bernapas dan kesal.
"Aku tidak dengar apa-apa, oke?" kata Iwaizumi, merapikan rambutnya
Ino mendengus kesal. "Maaf, Tuan-Tuan, tapi jangan lupa ada aku dan Sakura juga di sini yang menunggu cerita kalian!"
Oikawa kembali duduk di sebelah Sakura. Ia melirik jaketnya yang masih dipakai Sakura, lalu tersenyum kecil. Tapi ia mengubah raut wajahnya ketika Iwaizumi memergokinya, jadi ia berdeham.
"Kembali ke masalah ini," kata Ino, mendadak berwibawa, "kalian sama sekali tidak memiliki petunjuk atau ide apapun soal ini?"
Sakura langsung menggeleng, sementara Oikawa tampak berpikir. Ia memikirkan apakah ia pernah tidak sengaja menyukai postingan Sakura atau postingan tentang Sakura, kemungkinan ia membicarakan Sakura...
Oikawa menegakkan tubuhnya, membuat Sakura, Ino dan Iwaizumi menoleh padanya.
"Kau, kan?" tembak Iwaizumi, membuat Oikawa membeku di tempat. "Bicara bodoh apa kau?"
Oikawa membetulkan posisi duduknya. Ia menghadap ke Sakura yang sedang menatapnya dengan air mata yang siap tumpah.
"Saku-chan, jangan menangis dulu!"
Dan panggilan yang diam-diam Sakura rindukan itu sukses membuat air matanya menetes.
Setelah Oikawa menenangkan Sakura dengan mengelus-elus rambut merah muda mantan kekasihnya itu, Oikawa memulai ceritanya. Singkat cerita, itu sepenuhnya adalah kesalahan Oikawa secara tidak langsung. Jadi seminggu sebelum kepulangan Oikawa ke Argentina, salah seorang teman setimnya menunjukkan foto seorang perempuan dan berencana mengenalkannya dengan Oikawa.
Oikawa menolaknya sambil berkata dengan lancar, "Aku akan menikah, Sobat."
Temannya ini terkejut, karena Oikawa tidak pernah menceritakannya dan menunjukkan kekasihㅡcalon istrinya.
"Benarkah? Dengan siapa?"
Oikawa menjawab dengan nada bangga. "Haruno Sakura."
Lalu ketika diwawancarai beberapa hari kemudian, temannya ini tidak sengaja mengatakan rencana Oikawa akan menikah, sampai menyebutkan nama yang dimaksud.
Oikawa menyelesaikan ceritanya, sukses membuat semua orang ternganga, dan khusus untuk Sakura, lengkap dengan semburat merah di kedua pipi.
Iwaizumi sudah siap dengan sikap salah tingkah Oikawa yang menyebalkan, tapi yang didapatinya malah Oikawa dengan raut seriusnya. Iwaizumi memahami situasi: ada sesuatu yang ingin Oikawa selesaikan dengan Sakura. Berdua.
"Ino, ayo kita beli snack dan minuman kaleng," ajaknya. Beruntung, Ino mengerti dan langsung mengikuti kekasihnya keluar dari apartemen, meninggalkan Sakura dan Oikawa berdua.
"Sakura."
Sakura mengangkat kepalanya. "Hm?"
Oikawa tersenyum lemah. "Kau pasti marah padaku. Kau boleh memukulku, kau boleh mengamuk padaku." Ketika dilihatnya Sakura hendak menangis lagi, Oikawa mendekatkan dirinya. "Hei, maafkan aku. Aku benar-benar bodoh, aku tidak tahu akan sampai sejauh ini."
Sakura menatap Oikawa dengan mata emerald-nya yang sudah basah. "Boleh aku bertanya, kenapa kau mengatakan itu?"
Oikawa sedikit terkejut dengan pertanyaan Sakura yang di luar dugaan. "Aku tidak berpikir saat melakukannya, maafkan aku."
"Apa maksudmu kau tidak berpikir?"
"Aku selalu memikirkan itu, dan mengatakannya tanpa sadar. Jadi ketika temanku mengatakan itu, aku otomatis menjawabnya."
Sakura tidak bisa membalas kata-kata itu. Ia sadar perasaannya untuk Oikawa tidak pernah hilang, tapi ia berhasil menyembunyikannya dengan baik. Dengan berita ini, ia sebenarnya seolah diberikan harapan untuk bertemu kembali dengan Oikawa. Dan ketika bisa bertemu dengan Oikawa, ia harus mati-matian menahan perasaannya agar tidak keluar.
"Kau baik-baik saja?"
"Tōru-kun," panggil Sakura. Oikawa melebarkan matanya kaget, karena Sakura memanggilnya seperti dulu saat mereka masih berpacaran. "Setelah selama ini... bagaimana kabarmu?"
Oikawa tidak bergerak. Ia terlalu senang, tapi belum bisa memproses semuanya.
"Kenapa kau tidak menjawabnya?" tanya Sakura sebelum suaranya pecah.
Oikawa tidak tahan melihat Sakura yang begitu rapuh. Ia menariknya dalam pelukan, membiarkan gadis itu terisak di dadanya. Tangan Sakura mencengkeram kausnya erat, jadi Oikawa mengelus-elus punggung gadis itu.
Tidak dapat ditutupi, Oikawa juga menangis, tentu saja. Ia menyayangi, sangat menyayangi, gadis ini. Saat ia putus dari Sakura saat SMA dulu, ia benar-benar menyesal. Ia hancur. Tapi mereka juga tidak memiliki waktu untuk bisa bersama, sangat sibuk untuk membangun apa yang membuat mereka seperti ini sekarang. Sukses, berada di puncak, melakukan apa yang paling mereka sukai.
"Aku tidak pernah baik setelah kita berpisah, Sakura," kata Oikawa lembut. "Aku selalu memikirkanmu, karena itu aku refleks berkata akan menikah denganmu."
Ketika Sakura mengangkat kepalanya, ia melebarkan matanya melihat Oikawa juga menangis. Ia mengangkat tangan dan mengelus mata dan pipi Oikawa.
"Kenapa kau menangis juga," katanya parau.
Oikawa memberikan seulas senyum. "Aku tidak akan membiarkan Iwaizumi mengejekmu karena kau menangis, jadi aku juga ikut menangis."
Walaupun air matanya masih mengalir, Sakura tidak bisa menahan tawanya. Entah kenapa ia ingin meluapkan semua perasaannya, kerinduannya pada Oikawa saat ini. Jadi Sakura membenamkan wajah pada dada Oikawa lagi.
Mereka berpelukan lama sekali, sampai akhirnya Sakura menegakkan badannya. Ia menatap Oikawa tepat di mata. "Tapi Tōru-kun, kita tidak akan bisa bersembunyi di sini terus," katanya dengan nada khawatir.
Oikawa menangkup wajah Sakura dengan kedua tangannya. "Kita tidak perlu sembunyi, Sakura."
"Oke, jadi apa rencananya?"
Oikawa mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura. "Wujudkan saja," jawab Oikawa sebelum memberi Sakura ciuman panjang.
Oikawa dan Sakura tidak menyangka dukungan untuk mereka akan datang sebanyak ini, walaupun ada saja segelintir orang yang kecewa dengan keputusan mereka untuk menikah dalam waktu dekat.
Setelah mengkonfirmasi kabar pernikahan mereka yang akan diadakan dalam dua bulan, Oikawa dan Sakura sibuk mengatur ulang jadwal mereka. Oikawa bahkan nekat mengambil cuti dari timnya. Untung saja selama ini ia bermain sangat baik, jadi ia didukung penuh untuk 'beristirahat' selama international break dan pergantian musim turnamen. Sakura juga sementara ini tidak mengambil proyek pemotretan, jadi ia bisa benar-benar fokus mengurus pernikahan (dan liburan) dengan Oikawa.
Seperti saat ini, keduanya berada di apartemen Sakura. Ino sedang melakukan proyek pemotretan di Kyoto selama empat hari, jadi Oikawa memutuskan untuk menemani Sakura.
Sore itu hujan turun dengan deras. Tapi Oikawa menikmatinya. Ia benar-benar bahagia akhirnya bisa mengalami apa yang disebut orang-orang dengan Netflix and chill, cuddle, big spoon-little spoon... Seperti saat ini, saat Sakura menyandarkan kepala di dadanya, tangan kirinya melingkari perutnya, sementara Oikawa memeluknya dengan tangan kiri, dan tangan kanannya mengelus rambut Sakura. Ditemani dengan selimut rajut, cokelat panas dan serial Netflix.
Saat serial berakhir, entah bagaimana keduanya sudah terlelap, saling berpelukan, seolah tidak ingin lepas lagi. Perpisahan mereka cukuplah terjadi sekali. Mulai saat ini mereka hanya akan bersama, karena mereka memang baik saat bersama.
Mereka ditakdirkan untuk bersama.
Fated to be Destined;
end.
Terima kasih sudah baca! :)
