standard disclaimer applied.
Masashi Kishimoto x Haruichi Furudate.
Her Damage and His Weaknesses
.
Haruno Sakura x Iwaizumi Hajime
.
Selain sufiks dan bahasa asing, percakapan yang tercetak miring berarti percakapan dalam bahasa Inggris.
.
Enjoy!
Sinar matahari menyinari kota pesisir Gold Coast di musim semi itu. Berbeda dengan belahan bumi lain, musim semi di Australia terjadi pada bulan September hingga November. Tidak seperti hari ini, hujan juga biasanya mengguyur Brisbane di musim semi.
Sebuah Santa Cruz Blur 29" Carbon C bergerak di Science Road, bergerak keluar dari G44, Athletics Track. Iwaizumi Hajime, mahasiswa tahun kedua Sport Development di Griffith University, baru menyelesaikan kelas Fitness Practicum II-nya di Athletics Track dan kini sedang mengendarai sepedanya untuk pulang. Dilihatnya beberapa orang yang berjalan ke arahnya berkali-kali menoleh sambil berbisik ke arah Griffith University Pedestrian Bridge. Penasaran, Iwaizumi mempercepat kayuhannya.
Ia terkejut melihat apa yang ditemukannya di pinggir jembatan penghubung kampusnya dengan jalan utama, jadi ia menghentikan sepedanya. Seorang gadis berambut merah muda panjang berdiri di pinggir tempat pejalan kaki. Rambut panjangnya bergerak pelan tertiup angin, wajahnya bersemu merah tertimpa cahaya matahari siang, dan jaket jeans milik Iwaizumi yang dikenakan gadis itu terlihat kebesaran. Tapi entah kenapa Haruno Sakura tetap terlihat cantik siang itu. Dan sudah pasti orang-orang tadi sedang membicarakan Sakura yang terlihat unik dan menarik.
Haruno Sakura. Gadis Jepang pertama yang dikenalnya di Australia. Sebagai mahasiswa Jepang yang merantau ke Australia mereka memang tinggal bersama fasilitator terdaftar yang disebut sebagai keluarga angkat. Mereka sama-sama tinggal di Southport, dan rumah keluarga angkat mereka berseberangan.
Sakura merasakan seseorang mendekat ke arahnya. Ia menoleh dan mendapati Iwaizumi mengayuh pelan sepedanya ke arahnya. Sakura menyunggingkan seulas senyum yang tentu saja tidak dibalas lelaki kaku itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Kau ini kenapa galak sekali, sih? Aku bosan, jadi aku turun di stasiun kampusmu," ia lalu mendekat ke arah Iwaizumi. "Pulang bersama?"
Iwaizumi turun dari sepeda dan menuntunnya. Ia berjalan di sebelah Sakura, di bagian luar jalan. "Dasar bodoh, kau melewati rumah dulu jika kau pergi ke sini." Ia lalu melirik jaketnya yang Sakura kenakan. "Dan kapan kau berencana mengembalikan jaketku?"
Sakura merentangkan tangannya, lalu memeluk tubuhnya sendiri. "Aku suka jaket ini."
Iwaizumi mendengus. "Kau suka jaket itu, juga hoodie abu-abuku. Kalau tidak salah, kau juga mengambil kardigan tule-ku. Kaus Nirvana, kaus—"
"Oke, cukup!" Sakura memerah, sedangkan Iwaizumi menyeringai. "Aku suka baju-bajumu, oke?" katanya.
"Aku tidak pernah merasa selera fashion-ku setinggi itu," komentarnya. Mereka berbelok dari Griffith memasuki Wardoo Street dengan Iwaizumi masih menuntun sepedanya.
"Karena bajumu memiliki aroma parfummu," balas Sakura.
"Kenapa kau tidak membeli parfum yang sama denganku dan menyemprotnya juga ke bajumu?"
Sakura mendeliknya. "Sejak kapan kau jadi cerewet begini?"
Iwaizumi tidak membalasnya. Mereka terus berjalan sampai entah berapa lama, yang jelas mereka sudah memasuki Queen Street. Iwaizumi berhenti di depan rumah keluarga Jones, sementara Sakura memasuki pekarangan rumah pasangan Smith.
"Aku tidak tahu kita sudah berjalan selama hampir satu jam," kata Sakura sebelum menaiki tangga menuju pintu depan rumah.
Iwaizumi memandangnya dari seberang. "Kalau bukan karena ide konyolmu kita sudah sampai empat puluh menit yang lalu."
Pintu rumah keluarga Jones terbuka, menampakkan seorang lelaki lima puluhan berkulit kecoklatan. Ethan Jones, fasilitator untuk Iwaizumi, menyapa mereka dengan senyum ramah.
"Mampir untuk secangkir teh, Sakura?" tawarnya.
Sakura menggeleng sopan. "Terima kasih, Mr. Jones, mungkin lain kali. Aku harus membuat report hari ini."
"Tidak masalah. Dan Sakura, bisa tolong beritahu Logan aku menunggunya nanti malam?"
"Tentu, akan kusampaikan."
Ethan melambai pada Sakura yang balas melambai padanya, lalu kembali masuk ke dalam rumah. Iwaizumi masih menatap Sakura dari kejauhan. Sakura memandangnya bingung, dan sebelum sempat bertanya, Iwaizumi yang sudah memarkirkan sepedanya berjalan mendekat.
"Apa—"
"Setelah kau menyelesaikan laporanmu, kabari aku."
"Wah, ada apa ini?" goda Sakura. Ia mendekatkan wajahnya dan memberi Iwaizumi senyum jahil, membuat Iwaizumi mendorong pelan dahinya.
"Tidak masalah kalau kau tidak mau ke Pacific Fair."
Sakura membulatkan matanya. Ke Pacific Fair? Tentu saja ia mau! Ia sudah melalui semester yang berat dan melelahkan, dan berjalan-jalan ke mall di daerah Broadbeach itu adalah reward terbaik yang bisa didapatnya.
"Mau! Aku mau sekali!" katanya sambil melompat kecil kesenangan. "Aku akan langsung membereskannya, oke?"
Iwaizumi mendengus geli melihatnya. "Santai saja. Pacific Fair tidak akan kemana-mana."
Sakura memegang lengan Iwaizumi dan mengayunnya pelan. "Terima kasih, Iwa-kuuun." Ia memberikan Iwaizumi senyum lebar.
Iwaizumi berdecak. "Sudah, masuk sana. Walaupun Pacific Fair tidak kemana-mana, aku malas menunggu lama."
"Oke, oke. Sampai nanti!"
Sakura membuka pintu rumah dan segera masuk, meninggalkan Iwaizumi yang berbalik dan berjalan ke rumah keluarga Jones dengan senyum samar.
Sakura selesai tepat jam empat lima belas. Ia segera menghubungi Iwaizumi dan Iwaizumi mengatakan akan menjemputnya jam lima. Sakura segera bergegas mandi dan mengganti pakaiannya dengan t-shirt slim fit hitam, loose fit jeans dan Birkenstock Milano. Rambut panjang merah mudanya dibuat bergelombang dan diikat messy ponytail. Ia lalu mengambil kardigan tule Iwaizumi, memakainya sambil tersenyum senang.
Empat puluh lima menit kemudian, Sakura berpamitan pada Logan dan Harper Smith—keluarga angkatnya, dan menemui Iwaizumi yang sudah berdiri di depan halamannya dengan tracksuit bottom hitam dan kaos putih longgar di balik jaket jeans-nya yang lain, lengkap dengan Vans hitam.
Iwaizumi diam. Ia tidak pernah merasa kardigannya yang kelihatan kebesaran untuk Sakura itu terlihat begitu bagus. "Aku seperti pernah melihat kardigan itu di suatu tempat," komentar Iwaizumi. Mereka berjalan bersisian menuju halte bus Southport yang akan membawa mereka ke Broadbeach.
"Aku suka kardigan ini, karena modelnya jadi oversized jika aku yang pakai," balas Sakura ringan.
Mereka sampai di halte dan tak sampai dua menit bus yang mereka tunggu tiba. Dua puluh tiga menit kemudian mereka memasuki Second Avenue, berbelok memasuki kawasan Broadbeach dan akhirnya mereka tiba di halte tujuan.
Setelah berjalan dua ratus meter, mereka memasuki kawasan mall futuristik dengan konsep open space itu. Sakura tersenyum senang. Terakhir kali ia menginjakkan kaki di mall ini adalah empat bulan yang lalu. Dan kembali ke sini membuatnya senang dan lebih bersemangat.
"Senang?"
Sakura mengangguk sambil tersenyum semakin lebar. "And can't be happier than this."
"You can. My treat."
Sakura berhenti berjalan. "Tunggu." Iwaizumi ikut berhenti dan memandangnya bingung. "Kau serius? Maksudku, kenapa tiba-tiba? Apa kau mau memintaku membantumu melakukan sesuatu?"
Iwaizumi menghela napas. "Kau pikir aku orang yang seperti itu?" Sakura menggeleng. "Bagus. Jadi jangan bertanya macam-macam dan bersenang-senang saja. Ini akhir pekan, Sakura. Kau selalu sibuk dengan laporanmu bahkan di akhir pekan. Kau bisa gila."
"Kau melakukan ini agar aku tidak stress dengan kuliahku?" tanya Sakura terharu.
Iwaizumi merasa jengah. "Bisakah kau tidak membuat drama di hari sebaik ini?"
Sakura mengerucutkan bibirnya. "Bisakah kau bersikap manis dan baik saja?"
"Aku tidak melakukan itu."
"Saki!"
Sakura baru saja akan membalas kata-kata Iwaizumi saat mendengar suara seseorang yang ia kenal memanggilnya. Sakura menoleh dan mendapati Yamanaka Ino, teman kuliahnya, melambai padanya dan berjalan mendekat ke arahnya dan Iwaizumi. Di sebelahnya berdiri seorang lelaki bertampang galak berambut kuning yang terpotong pendek sekali dengan kuratan di kanan dan kirinya. Ia tampak terkejut melihat Sakura dan Iwaizumi—atau tepatnya Iwaizumi, karena lelaki itu hanya melihat ke arah Iwaizumi.
"Iwaizumi-san," sapa lelaki berambut kuning itu dengan suara berat, terdengar sangat Jepang. Ia mengulurkan tangannya. "Tidak menyangka bisa bertemu di sini."
Iwaizumi membalas jabatan tangan lelaki itu. "Aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu, Kyōtani," katanya. "Liburan?"
Lelaki yang disebut Kyōtani itu melirik Ino. "Mengunjungi kekasihku," balasnya singkat.
Iwaizumi melihat Ino lalu mereka berkenalan. Ternyata Ino adalah kekasih Kyōtani Kentarō, adik kelas Iwaizumi saat SMA. Iwaizumi dan Kyōtani pernah bergabung dalam tim voli SMA, dan Iwaizumi adalah satu-satunya senior yang dihormati Kyōtani. Informasi tambahan, Kyōtani berusia setahun lebih muda dari Iwaizumi, Sakura dan Ino.
"Jadi, ini kekasihmu, Saki?" tanya Ino iseng. Iwaizumi hanya melirik Sakura yang terlihat salah tingkah. "Maksudku, kau sering memakai jaket laki-laki dan aku yakin aku juga mencium parfum laki-laki. Itu milik Iwaizumi-san, kan?"
"Itu memang milik Iwa-kun, tapi kami tidak berpacaran," balas Sakura dengan wajah merah. Ia lalu mengalihkan pembicaraan. "Kau dan Kyōtani-san mau ke mana?"
Ino tersenyum penuh arti, tapi memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh. "Hanya jalan-jalan, mungkin menonton juga. Kau dan Iwaizumi-san mau bergabung?"
Sakura menoleh pada Iwaizumi. "Bagaimana, Iwa-kun?"
"Tidak masalah. Aku juga sudah lama tidak bertemu Kyōtani," Iwaizumi lalu beralih pada Ino. "Tidak keberatan jika aku bergabung, Yamanaka-san? Aku tidak ingin mengganggu kencan kalian, apalagi Kyōtani sudah jauh-jauh datang ke sini," godanya. Dilihatnya semburat tipis muncul di pipi Kyōtani dan Ino.
"Tentu saja tidak!" kata Ino cepat. "Bagaimana kalau kita lihat jadwal film dulu lalu mencari tempat makan?"
Sakura mengangguk setuju. Ino menggamit lengan Sakura, lalu kedua gadis itu berjalan mendahului para lelaki sambil berbincang seru. Kyōtani hanya memperhatikan Ino dari belakang, sedangkan Iwaizumi memasang tampang tenang; berusaha meredam debaran jantungnya.
Sampai kapan pun, Haruno Sakura akan menjadi kelemahan terbesar seorang Iwaizumi Hajime.
.
.
.
Iwaizumi dan Kyōtani menunggu Sakura dan Ino di depan sebuah toko kecantikan. Kedua gadis itu sedang sibuk mencari kutek dan entah apa lagi di dalam sana. Kyōtani jelas tidak suka masuk ke dalam sana, jadi Iwaizumi memutuskan untuk mengobrol dengan mantan adik kelasnya itu di luar toko.
"Jadi sudah berapa lama kau berpacaran dengan Yamanaka-san?"
Kyōtani menyandarkan lengan pada railing pembatas yang mengelilingi lantai dua mall. "Hampir tiga tahun," katanya.
Iwaizumi mengangkat alisnya. "Kau berpacaran dengannya sejak kelas tiga?"
Kyōtani mengangguk. "Dia menonton salah satu pertandingan Seijō, dan dia satu-satunya orang yang mengajakku berfoto setelah pertandingan. Sejak saat itu dia selalu menonton pertandingan Seijō dan menemuiku di luar lapangan."
Iwaizumi terkekeh, membuat Kyōtani mendeliknya. "Santai saja, itu tidak memalukan. Lucu juga kau yang seperti anjing gila itu akhirnya luluh pada satu perempuan."
"Kau sendiri, Iwaizumi-san, sejak kapan berpacaran dengan Haruno-san?"
Iwaizumi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tidak berpacaran dengannya. Kebetulan rumah fasilitator kami berseberangan, dan karena sama-sama berasal dari Jepang kami akhirnya dekat," jawabnya sambil menatap ke dalam toko, melihat Sakura yang sedang menertawakan entah apa dengan Ino.
Kyōtani menangkap arah tatapan Iwaizumi itu. "Apa kau pernah merasa sakit perut jika Haruno-san berada di dekatmu?"
Iwaizumi menoleh pada Kyōtani. "Maksudmu seperti geli dan kesemutan begitu? Pernah, cukup sering sebenarnya. Aku alergi padanya, kurasa," tambahnya sambil terkekeh lagi.
"Apa dia sering membuatmu uring-uringan?" tanya Kyōtani lagi.
"Selalu. Aku tidak tahu apa ini bisa disebut uring-uringan, tapi Sakura itu ceroboh dan jika aku tidak mengawasinya, aku rasa dia pasti melakukan hal bodoh."
Kyōtani hanya mengangguk-anggukan kepalanya paham. "Aneh sekali, ya, jika ada seseorang yang begitu mengusik pikiran kita, padahal kita tidak bermaksud untuk memikirkan orang itu."
Iwaizumi mengangguk setuju. "Betul sekali. Apapun yang kau lihat dan dengar akan langsung mengarah pada orang itu—" Iwaizumi tidak melanjutkan kata-katanya. Ia melihat Kyōtani menyeringai penuh arti, dan Iwaizumi sadar ia sudah terseret permainan Kyōtani.
"Tidak perlu dijelaskan lagi, kan? Kau menyukainya," kata Kyōtani dengan nada final.
"Tidak. Itu karena dia memiliki mata hijau seperti Emilia Clarke, profil wajah seperti Violette Wautier dan senyum seperti Lily Collins," bantah Iwaizumi dengan kepala berkedut.
"Dan apa maksudnya itu?"
"Dia mirip selebriti favoritku. Itu saja, tidak lebih."
Kyōtani terkekeh dan itu membuat Iwaizumi merinding. "Teruslah menyangkal. Aku juga dulu seperti itu. Dan ketika seorang lelaki mendekati Ino, aku jadi sadar akan perasaanku padanya. Aku tidak mau menyerah begitu saja dan menyatakan perasaanku padanya. Hasilnya, aku bahagia dengannya sampai sekarang."
Iwaizumi tentu saja kaget mendengar penjelasan panjang lebar dari Kyōtani, karena Kyōtani biasanya hanya berbicara satu-dua kata. Ditambah, lelaki galak itu bicara padanya dengan ekspresi tenang dan nada lembut. Kyōtani Kentaro does really fall head over heels in love with Yamanaka Ino. Hanya itu yang dapat Iwaizumi simpulkan.
"Jangan sampai muncul pesaing, baru kau mati-matian berjuang. Kalau kau beruntung, Haruno-san akan menerimamu. Kalau dia sudah lelah menunggumu, dia tidak akan ragu untuk memilih orang lain."
Iwaizumi tertegun mendengar kalimat itu. Dia tidak akan ragu untuk memilih orang lain. Iwaizumi berpikir keras. Melihat Sakura tersenyum cerah pada lelaki lain, berjalan dengan lelaki lain, atau bersikap menyebalkan selain pada dirinya membuat Iwaizumi gelisah. Ia tidak suka dengan gagasan itu.
Tapi tunggu dulu. Ada sesuatu dari kata-kata Kyōtani yang mengusiknya.
"Apa maksudnya, 'Kalau dia lelah menungguku'?"
Kyōtani mengangkat bahu. "Bukankah sudah jelas kalau Haruno-san menyukai Iwaizumi-san?" Iwaizumi hanya melongo mendengarnya. Kyōtani berdecak. "Bagaimana bisa kau tidak menyadarinya? Dari caranya melihatmu, memakai jaketmu, tersenyum padamu. Apa itu kurang jelas?"
"Apa kau memang biasanya sepeka ini?" sindir Iwaizumi. Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa ia merasa senang di saat yang sama. Apa itu yang dilihat Kyōtani terhadap Sakura dan Iwaizumi?
Obrolan mereka terhenti saat Sakura dan Ino keluar dari toko dengan sebuah paper bag pada tangan mereka. Kyōtani menyikut pelan lengan Iwaizumi, lalu berjalan menghampiri kekasihnya.
"Apa yang kau beli?" tanyanya pada Ino. Ia lalu merangkul Ino berjalan mendahului Sakura dan Iwaizumi. Iwaizumi berjalan ke arah Sakura yang sedang menunjukkan paper bag-nya.
"Aku membeli clay mask untuk kita pakai nanti," kata Sakura ceria.
Iwaizumi mengerutkan dahi. "Kita?" tanyanya memastikan.
Sakura mengangguk semangat. "Walaupun kau ini laki-laki, Iwa-kun, tapi kau harus merawat kulitmu juga."
Mereka mulai berjalan menyusul Ino dan Kyōtani menuju bioskop. Menurut jadwal, film yang akan mereka tonton akan mulai dua belas menit lagi. Pintu studio sudah dibuka dan mereka memasuki studio yang baru diisi beberapa orang.
Sakura duduk di antara Iwaizumi dan Ino, sedangkan Kyōtani duduk di ujung di dekat tembok. Ino menempatkan minumannya di antara dirinya dan Kyōtani, lalu pasangan itu mulai mengobrol. Sebenarnya Kyōtani sudah memberitahu Ino agar ia memberi Sakura dan Iwaizumi ruang untuk berdua. Dan Ino dengan senang hati menuruti kata-kata kekasihnya.
"Jangan meneleponku jika kau tidak bisa tidur nanti malam," bisik Iwaizumi pada Sakura.
"Aku tidak akan takut," balas Sakura penuh tekad. Seakan teringat sesuatu, Sakura mengeluarkan ponselnya dan membuka kamera. "Iwa-kun, ayo foto bersama," katanya sambil menarik jaket Iwaizumi mendekat.
Iwaizumi tidak dapat menahan debaran jantungnya, jadi ketika Sakura mengarahkan kamera depannya pada mereka, ia hanya memasang tampang datar, sementara Sakura sudah tersenyum lebar.
Sakura berdecak melihat hasil foto itu. "Bisakah kau terlihat lebih senang dari ini?"
"Ya sudah, ulangi saja," kata Iwaizumi.
Sakura tampak berpikir. Ia mengangkat lengan Iwaizumi dan meletakannya pada bahunya. Iwaizumi tidak tahu apa yang harus dilakukannya, jadi ia hanya membetulkan posisi rangkulannya pada Sakura.
"Kita harus terlihat akrab, oke?" kata Sakura sambil mengatur kamera.
"Karena?"
"Bisakah sekali saja kita terlihat akrab?" tanya Sakura putus asa.
Iwaizumi hanya mengiyakan. Mereka menghadap ke kamera, dan tepat pada hitungan ketiga, Iwaizumi mengecup pelipis kiri Sakura.
Sakura tampak luar biasa terkejut. Ia memandang Iwaizumi horor, tidak menyadari semburat tipis yang muncul pada kedua pipi lelaki itu.
"Apa—"
"Kau tidak suka? Oke, aku minta maaf."
Sakura tidak bisa membalas pertanyaan Iwaizumi. Mereka masih saling berpandangan saat lampu bioskop meredup dan film mulai diputar.
Iwaizumi kembali pada kesadarannya, jadi ia melepaskan rangkulannya dari Sakura. Sakura menyadarinya, lalu ia memegang lengan Iwaizumi dengan kedua tangannya. Iwaizumi memandangnya bingung.
"Bolehkah aku memegang lenganmu sepanjang film?" bisiknya. Ia sudah tidak peduli dengan wajah merahnya dan degupan keras jantungnya. "Kau tahu, kan, kalau aku penakut—"
Iwaizumi mengaitkan jarinya pada jari Sakura. Ia memberi gadis itu seulas senyum yang membuat Sakura merasakan sensasi menggelitik pada perutnya.
Persetan dengan film horor, karena pada kenyataannya, Iwaizumi lebih membuatnya tegang dan berdebar.
"Oke, bisa kalian jelaskan kenapa sekarang kalian berjalan sambil bergandengan tangan?"
Mereka sudah berada di luar bioskop dan memutuskan untuk membeli minuman dingin sebelum pulang. Ino melirik Iwaizumi dan Sakura bergantian. Walaupun sedang menikmati es coklat susu mereka, keduanya tetap bergandengan tangan, tidak melepasnya sejak masih berada di dalam bioskop.
"Apa salah jika aku menggandeng tangan kekasihku?" Iwaizumi balik bertanya. Ino terkesiap kaget dan Kyōtani melebarkan matanya.
"Tapi kau belum memintaku menjadi kekasihmu!" protes Sakura.
"Oke, jadi Haruno Sakura, apa kau mau menjadi kekasihku?" tanya Iwaizumi tanpa beban.
"Kau serius menanyakannya sekarang?" tanya Sakura luar biasa syok.
"Setelah kecupan tadi, dan kita juga sudah bergandengan tangan, lalu apa lagi? Kau hanya perlu menjawab 'mau' atau 'tidak mau', kan?"
"Tunggu dulu!" sela Ino cepat. "Apa maksudnya dengan, 'Kecupan tadi'? Kau melakukan apa tadi di dalam?"
"Kecupan berarti 'kecupan', Yamanaka-san," ujar Iwaizumi malas. "Tentunya Kyōtani pernah memberikannya padamu."
Ino mendadak salah tingkah, jadi ia melampiaskannya pada Sakura. "Saki, kalau begitu cepat jawab pertanyaan Iwaizumi-san!"
Sekarang semuanya kembali fokus pada Sakura. Sakura malu, tentu saja. Apalagi Iwaizumi mengungkit soal kecupan tadi dan malah menyatakan perasaannya di depan semua orang.
Ia memberanikan diri menatap Iwaizumi tepat di mata. "Aku mau, Iwa-kun," ujarnya pelan.
Iwaizumi memandang Sakura tidak percaya, begitu pula dengan Ino yang memekik senang dan Kyōtani yang memberikan senyum samar.
"Terima kasih," kata Iwaizumi sambil tersenyum lebar. Senyum lebar pertamanya untuk Sakura dalam dua tahun ini.
"Nah, kalau begitu, lovebirds, kami duluan ya," kata Ino. Ia lalu menghampiri Sakura dan memeluk gadis itu. "Selamat, Saki! You deserve to be happy," ucap gadis blonde itu sambil tersenyum tulus.
Sakura balas memeluknya erat. "Thanks, Ino. So do you."
Ino dan Kyōtani berpamitan lalu berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan Sakura dan Iwaizumi yang masih duduk di ruang terbuka di tengah mall.
"Kita juga mau pulang sekarang?"
Iwaizumi menoleh pada Sakura yang sedang menatapnya polos. Ia lalu mengaduh sambil memegang dada dan membungkuk, seolah sesuatu menghantam dadanya.
"Iwa-kun, kau kenapa?" tanya Sakura panik.
Iwaizumi mencengkeram kausnya. "Sakura," katanya lemah. Sakura memegang lengan Iwaizumi cemas. "Aku…"
"Ya, ya, kenapa?"
"Aku tidak kuat…"
"Kau tidak kuat apa, Iwa-kun?" Sakura semakin kalut.
"Bisakah kau tidak terlihat begitu cantik? Hatiku tidak kuat," lanjut Iwaizumi dengan nada lirih dibuat-buat. Sakura memandangnya tidak percaya, lalu meghujani Iwaizumi yang sedang tertawa dengan pukulan kecil.
"Dasar menyebalkan! Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku melihatmu seperti itu! Aku kira kau kesakitan—"
Iwaizumi memeluknya erat. "Maaf, tapi kau benar-benar cantik, tahu?" Sakura terdiam dalam pelukan Iwaizumi. "Kau tidak tahu seberapa sering kau membuat jantungku berdebar begitu keras hanya karena matamu atau senyumanmu."
"Aku tidak tahu, kau juga tidak pernah menunjukkannya padaku," balas Sakura sambil membenamkan wajahnya di dada Iwaizumi. Ia membeku ketika mendengar degup jantung Iwaizumi yang terdengar kencang dan cepat.
"Aku tidak perlu menunjukkannya, kan?" Iwaizumi mengusap rambut Sakura. "Kau sudah mendengarnya sendiri."
Mereka berpelukan beberapa lama, tidak memedulikan kemungkinan orang-orang yang melihat mereka. Sakura lalu mengangkat kepalanya dan melepaskan pelukan mereka.
"Kau tahu, kardigan teal itu sangat cocok denganmu," kata Iwaizumi sambil tersenyum. Mata cokelat gelapnya menatap teduh mata hijau Sakura.
"Benarkah?"
Iwaizumi mengangguk dan mengelus kepala Sakura lagi. "Kita pulang sekarang?"
.
.
.
"Jadi, Sakura, bisa jelaskan apa maksudmu mencuri baju-bajuku?"
Sakura dan Iwaizumi bergandengan tangan sambil berjalan di Queen Street, beberapa blok menuju rumah mereka. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh dan karena ini akhir pekan, mereka tidak memiliki jam malam.
"Satu, karena aku memang menyukainya. Dua, karena ada aroma parfummu. Dan yang ketiga…"
Iwaizumi menunduk dan menemukan mata cerah Sakura sedang memandangnya ragu. "Apa yang ketiga?" tanyanya penasaran.
"Sejujurnya aku memakainya agar tidak ada anak laki-laki yang menggangguku."
Sakura dapat merasakan genggaman Iwaizumi pada tangannya menguat. "Apa ada yang pernah mengganggumu?" tanyanya dengan nada rendah yang kedengaran berbahaya.
Sakura buru-buru menggelengkan kepalanya. "Tidak, kok! Aku memakainya unutk mencegah hal itu," tambah Sakura.
Menyadari sesuatu, Iwaizumi berhenti berjalan. Sakura ikut berhenti, ekspresinya terlihat bingung.
"Kau bilang kau menyukai parfumku, kan?"
Sakura hanya bisa mengangguk, tahu arah pembicaraan ini. Jadi sebelum Iwaizumi bertanya lebih lanjut, Sakura bersuara. "Kau ingat ketika kita menghadiri pesta Natal tahun lalu? Saat itu hujan, dan kau meminjamkanku jaket jeans-mu. Kurasa saat itu adalah ketika aku mulai menyukaimu, Iwa-kun. Ditambah wangi parfummu sangat enak."
Iwaizumi terperangah mendengarnya. Ia tidak tahu Sakura sudah menyukainya sejak setahun yang lalu. "Jadi kau menyukaiku saat aku sudah menyukaimu."
"Benarkah? Memangnya kau menyukaiku sejak kapan?"
"Sejak kau datang ke rumah keluarga Jones dan membawakan kami pai apel, lalu tersenyum ramah pada kami," balas Iwaizumi enteng.
"Kau serius? Itu berarti… sejak pertama kali kau bertemu denganku?" tanya Sakura tidak percaya.
"Boleh aku jujur?" Sakura mengangguk. "Ya, aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Awalnya aku kira karena kau memiliki warna mata seperti Emilia Clarke—"
"What?" kata Sakura dengan nada syok.
"Sisi wajahmu terlihat mirip Violette Wautier—"
"You must be kidding, right?"
"Dan senyummu seperti Lily Collins."
"No way, Iwa-kun!"
"Yes way, Sakura," balas Iwaizumi kalem. "Apa kau tidak merasa luluh setiap kali bercermin dan melihat wajahmu itu? Aku iri setengah mati pada cermin yang setiap hari kau pakai," goda Iwaizumi.
"Iwa-kun, that IS cringe!"
"Mau dengar yang lain?"
"Kami mau."
Iwaizumi dan Sakura menoleh cepat mendengar dua suara dari belakang mereka. Ethan Jones dan Logan Smith sedang berjalan dengan tas olahraga dalam genggaman mereka. Sepertinya mereka habis bermain tennis bersama.
Entah sudah berapa kali Sakura merasa syok hari ini. Ia tidak menyangka keluarga angkat mereka akan mengetahui hubungan mereka secepat ini. Ini seperti kedapatan mencuri permen di malam hari.
"Santai, kids. Kami malah menunggu kapan hari ini akan terjadi," kata Ethan sambil berjalan di sebelah Iwaizumi. Ia merangkul anak angkatnya itu. "Akhirnya kau mengatakannya juga, huh?"
"Pantas saja aku selalu mendapati Iwa sedang melihat ke arah rumah kami," lanjut Logan. Iwaizumi hanya tersenyum canggung, sementara Sakura tidak tahu harus bereaksi apa karena terlalu malu.
"Natal tahun ini akan berbeda sepertinya."
"Jangan lupakan Valentine, Ethan. Itu puncak acaranya."
"Oke, Tuan-Tuan, kurasa kalian tidak akan berhenti, benar?" sela Iwaizumi jengah. Ethan dan Logan tertawa menanggapinya. "Nah, sekarang silakan berjalan duluan, karena aku dan Sakura masih akan berbincang."
Logan menepuk bahu Sakura dan Iwaizumi. "Good luck. Aku ikut senang—oh tidak, aku sangat senang!"
Ethan tersenyum pada pasangan baru itu. "Senang melihat kalian bersama. Kalau begitu, para ayah tua ini akan segera pergi supaya Iwa bisa segera memberitahu Sakura lebih banyak soal gombalannya."
Mereka berempat tertawa, lalu sepeninggal kedua ayah angkat itu, hening kembali menyelimuti Iwaizumi dan Sakura. Iwaizumi berdeham, merasa malu juga sudah mengatakan hal-hal menggelikan pada Sakura, di depan Logan dan Ethan pula.
Sakura masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya tadi. Iwaizumi sudah menyukainya sejak pertama kali melihatnya?
"Aku masih tidak mempercayainya," kata Sakura setengah tertawa. "Kau sama sekali tidak menunjukkannya selama ini. Kau malah bersikap sangat cuek, jadi aku tidak pernah berpikir kalau kau akan menyukaiku."
Iwaizumi menatap Sakura serius. "Kau, Haruno Sakura, akan selalu menjadi kelemahan terbesarku."
Sakura memiringkan kepalanya. "Apa maksudmu?"
"Coba kau ingat-ingat lagi. Apakah selama ini aku pernah menolak permintaanmu?"
Sakura tampak berpikir, lalu ia menggeleng. "Tidak, kau tidak pernah bilang tidak padaku. Apa selama ini kau terpaksa melakukannya?"
Iwaizumi tersenyum. "Tidak. Kau selalu bisa membuatku luluh. Kau benar-benar kelemahan terbesarku, Sakura. Karena itu, aku akan selalu menjadi fairy godfather dari setiap wishlist-mu."
Sakura terkekeh. "Apa itu hanya berlaku sebelum tengah malam?"
"Tidak, karena kau sudah punya mantranya."
"Oh, ya? Apa itu?"
"Kau tinggal menatap mataku dengan puppy eyes-mu itu dan katakan, 'Iwa-kuuun~'," kata Iwaizumi sambil meniru Sakura ketika sedang merajuk.
Sakura memukulnya gemas tapi tertawa juga. "Aku akan sering-sering melakukannya kalau begitu."
"Patut dicoba. Aku senang, sebenarnya, ketika kau melakukannya."
"Iwa-kun, bisakah kau berhenti membuatku malu?"
Iwaizumi tertawa lepas. Ia melepaskan tangannya dari Sakura dan merangkul gadis itu sambil menyusuri Queen Street, berbelok ke Meron Street dan memasuki Waverly Street.
Lihat, kan? Haruno Sakura adalah kelemahan terbesar Iwaizumi Hajime. Sejak awal Iwaizumi melihatnya, sampai sekarang. Dan sepertinya itu tidak akan berubah.
Her Damage and His Weaknesses,
End.
Halo semuanya! Maaf kalo ceritanya membosankan :") tapiii aku juga mau berterimakasih banyak buat semua yang udah masukin cerita ini ke list favorited dan followed story kalian, terutama twinsomnia-san, Yukito arui-san, dan aoicchi-san yang komentarnya bikin aku senang banget dan makin semangat untuk bikin onsehot dengan karakter lain. You guys mean a lot! :")
Spoiler !!!
Coming up next: Kenma Kozume, Nishinoya Yū, Bokuto Kōtarō (ini nggak berurutan, ya, hehehe)
Sampai jumpa di oneshot selanjutnya! Semoga kalian suka ;)
