standard disclaimer applied.
Masashi Kishimoto x Haruichi Furudate.
.
The Day Armageddon Arrives On Earth
.
Haruno Sakura x Bokuto Kōtarō
.
Enjoy!
.
.
.
Semua orang tahu bahwa Akaashi Keiji punya tiga puluh tujuh catatan dalam otaknya tentang Bokuto Kōtarō, tapi sebagian besar adalah hal-hal yang berkaitan dengan voli dan apa yang terjadi di lapangan. Dan tidak ada satu orang pun yang tahu kalau Haruno Sakura punya tiga—hanya tiga—catatan mengenai sisi lain Bokuto Kōtarō yang dapat membuat siapapun mungkin tidak percaya.
Well, this is the list of 'Another Side of The Armageddon a.k.a Bokuto Kōtarō according to Haruno Sakura.
1 . Wise.
Semuanya bermula saat Haruno Sakura berpacaran dengan ketua tim basket saat mereka kelas tiga. Lagi-lagi, selama tiga tahun berturut-turut, gadis berambut merah muda itu berada di kelas yang sama dengan kapten tim voli berambut spike abu-abu dengan highlight putih, Bokuto Kōtarō.
Sakura sedang duduk di taman belakang sekolah, merenungi hubungannya dengan sang kekasih yang berada di ujung tanduk. Sakura jelas-jelas melihat kekasihnya itu bergandengan tangan dengan gadis lain di pusat perbelanjaan akhir pekan lalu. Ia berusaha berpikir positif, mungkin saja itu adalah adiknya atau saudaranya. Tapi rasanya Sakura pernah melihat gadis itu di sekolah, dan sialnya mengenalinya sebagai adik kelasnya. Sayangnya ia tidak berani mengatakannya. Ia takut hubungannya akan berakhir.
Sakura menghela napas entah sudah ke berapa kalinya. Ia tidak menyadari langkah kaki yang mendekat, dan baru bereaksi saat merasakan kehadiran seseorang di sebelahnya.
"Bokuto-kun?"
Bokuto mendudukkan diri di sebelah Sakura. Ia memandang lurus ke depan. Wajahnya tenang, dan itu bukanlah sesuatu yang normal yang bisa dilihat pada seorang Bokuto.
"Kenapa dengan helaan napasmu itu?"
Sakura sedikit kaget, jadi ia malah balik bertanya. "Kau sudah di sini berapa lama?"
"Saat kau datang, aku sudah duduk di sana," Bokuto menunjuk sebuah kursi yang agak tersembunyi di balik wastafel. Bokuto kini mengarahkan pandangannya pada Sakura. "Kau ada masalah dengan si kapten basket itu?"
Sakura mengangguk. Ia percaya pada lelaki ini, dan Bokuto tidak pernah membeberkan rahasianya pada orang lain, bahkan Akaashi sekali pun.
"Kenapa dia?"
Sakura menghela napas. Lagi. "Aku melihatnya dengan gadis lain akhir pekan lalu. Mereka bergandengan tangan," ujar Sakura dengan senyum getir. Ia menoleh pada Bokuto. "Dan kau tahu apa? Kurasa gadis itu adalah adik kelas kita."
Bokuto sudah kembali memandang ke depan. Ia diam saja, seolah membiarkan Sakura untuk melanjutkan ceritanya.
Sakura menyadarinya, tapi ceritanya sudah selesai. Ia tertawa geli sambil memukul pelan lengan Bokuto. "Bokuto-kun, berhenti bersikap sok keren. Ceritaku sudah selesai."
Bokuto ikut terkekeh. Ia menopang badan pada kedua tangan yang menumpu ke belakang. "Tapi serius, Haruno, kau masih mau melanjutkan hubungan dengannya? Jelas-jelas dia sudah mengkhianatimu, tapi kau masih mau bertahan dengannya? Kau ini hebat sekali."
Sakura tercengang mendengar Bokuto yang mendadak bersikap bijak. "Siapa kau?! Ke mana Bokuto Kōtarō yang asli?!"
Tawa Bokuto semakin kencang. "Hey hey hey! Aku tahu aku ini punya sejuta pesona! Kau kaget, kan, Haruno?"
Sakura ikut tertawa di sebelah Bokuto. Ia meluruskan kakinya, lalu memandang gumpalan awan di sore itu. "Terima kasih, Bokuto-kun."
"Aku belum memberimu nasihat," balas Bokuto, kembali pada mode kalemnya.
"Seorang Bokuto akan memberiku nasihat? Wah, pengaruh Akaashi-kun padamu kuat juga, ya."
Bokuto hanya memberinya seulas senyum. "Dengarkan aku, ya, Haruno. Yang terpenting sekarang adalah kau. Dirimu. Yang harus kau pedulikan dan pikirkan adalah perasaanmu. Sekali-kali bersikap egois tidak akan menyakitimu, malah kau bisa menyelamatkan dirimu dari orang yang salah."
Sakura tercenung mendengar kata-kata Bokuto. Selama ini ia hanya mempedulikan dan menomorsatukan perasaan kekasihnya. Ia takut menyakiti hati orang lain, walau ia tahu itu bisa menyakiti dirinya sendiri.
Bokuto berdiri lalu memberi Sakura sebuah tepukan pelan di kepala sebelum berjalan menuju gedung sekolah dan berbelok ke sebuah koridor, meninggalkan Sakura yang masih sibuk dengan pikirannya di kursi taman.
2. Reliable.
Hokkaido. Pesta perpisahan kelas tiga Akademi Fukurōdani.
Tiga bulan berlalu semenjak Sakura kembali ke status single-nya. Seminggu setelahnya, mantan kekasihnya itu mengumumkan resmi berpacaran dengan adik kelas yang waktu itu Sakura lihat di pusat perbelanjaan. Sesuai dugaan.
Sakura sedang duduk di beranda penginapan sambil menatap langit malam. Kebanyakan teman-temannya memilih waktu bebas ini untuk berkeliling sekitar penginapan atau pergi ke pasar malam.
Sakura berjengit kaget saat merasakan seseorang meletakkan selimut rajut di pundaknya. Ia mengangkat kepala dan mendapati Bokuto mulai mendudukkan diri di sebelahnya. Lagi-lagi lelaki itu muncul ketika Sakura sedang sendirian.
"Kali ini tidak ada helaan napas?"
Sakura tersenyum tipis. "Kali ini tidak ada helaan napas," katanya meyakinkan. "Kau tidak jalan-jalan, Bokuto-kun?"
"Tidak. Aku tidak tahu mau jalan-jalan dengan siapa. Tidak ada Akaashi di sini," katanya. Mata keemasannya memandang bulan yang bersinar cukup terang malam itu.
"Ada Konoha, Sarukui, Washio, dan Komi di sini. Mereka, kan, satu tim voli denganmu, Bokuto-kun."
Bokuto menggeleng, lalu beralih pada Sakura. "Kau juga hanya dekat dengan Yamanaka yang masih kelas dua, kan?" katanya tak mau kalah.
Sakura tidak meresponnya. Entah kenapa dari sekian malam yang sudah dilaluinya selama tiga bulan terakhir, malam ini adalah malam yang paling membuatnya mellow. Padahal saat putus dari mantan kekasihnya, Sakura berhasil menahan diri untuk tidak menangis. Dan kini dengan selimut di pundaknya dan Bokuto di sebelahnya, ia malah merasa kesepian.
Sakura menghela napas. Bokuto yang sudah tahu ada yang salah dengan Sakura segera berdiri. Saat Sakura mengira Bokuto akan kembali masuk ke penginapan, ia malah melihat Bokuto mengulurkan tangan padanya.
"Karena tidak ada Akaashi di sini, dan tidak ada Yamanaka juga, kau mau jalan-jalan denganku, Haruno?"
Sakura menyambut uluran tangan Bokuto. Ia berdiri lalu menyerahkan selimut itu pada Bokuto. "Terima kasih untuk ini," katanya. "Jadi kita akan jalan-jalan ke mana, Bokuto-kun?"
Bokuto menerima selimut itu dengan tangannya yang bebas. "Kejutan. Tunggu aku di sini lima menit lagi. Aku akan simpan ini dulu."
Kurang dari lima menit kemudian, Bokuto kembali. Ia menyerahkan sebuah jaket ber-hoodie-nya pada Sakura. "Hey, apa kau tidak tahu Hokkaido itu daerah yang dingin?"
Sakura meringis dan menerima jaket yang diserahkan Bokuto dan memakainya. "Trims. Jadi kita akan ke mana?"
"Oke! Kau yang pilih. Ramen atau kare?"
"Ramen!" seru Sakura tanpa berpikir.
Bokuto terkekeh. "Ayo ikut aku."
Mereka berjalan ke luar penginapan, lalu beberapa ratus meter kemudian memasuki sebuah kedai ramen Sapporo. Ramen di sini berbeda dengan ramen di Tokyo, terutama dari miso-nya.
Sakura dan Bokuto duduk di depan konter dan Bokuto memesankan dua porsi ramen Sapporo untuk mereka berdua. Ia menarik lengan hoodie-nya dan melipat tangan di atas meja, lalu menoleh pada Sakura yang duduk di sebelah kanannya.
"Oke, Haruno, kau bisa menceritakan apapun padaku sekarang."
Sakura memiringkan kepalanya bingung. "Apa maksudmu?"
"Kau tadi terlihat banyak melamun, lalu saat duduk di beranda tadi kau menghela napas. Aku pikir ada yang mengganggu pikiranmu saat ini."
Sakura tersenyum tipis, diam-diam berterimakasih karena ada seseorang yang memperhatikannya. "Wah, sejak kapan kau jadi sensitif begini, Bokuto-kun?" godanya.
Bokuto memasang tampang kesal. "Tidak, tidak, tidak. Kau tidak perlu menceritakannya padaku kalau begitu."
"Nah, ini baru Bokuto yang aku kenal. Bokuto Kōtarō dan mood swing-nya."
"Itu menyebalkan sekali, ya? Pasti sangat susah menghadapi aku dan mood swing-ku."
Sakura jadi merasa tidak enak. "Tidak begitu, kok. Kau itu orang paling menyenangkan yang pernah kutemui sejak awal masuk SMA. Dan kau tahu? Berkat kau, aku berhasil menyelamatkan diriku dari orang yang salah," hiburnya dengan senyum tulus.
Bokuto harusnya sudah kembali pada rasa percaya dirinya yang tinggi. Tapi mendengar pujian langsung dari Sakura membuatnya membeku di tempat dan tidak bergeming sama sekali.
"Bokuto-kun, kau tidak apa-apa?"
Bokuto kembali pada kesadarannya. Ia tersenyum lebar. "Hey hey hey, tentu saja! Sudah kukatakan padamu, Haruno, aku ini punya segudang pesona yang dapat membuatmu luluh."
Sakura tertawa lepas. Bokuto memperhatikannya. Sebelah sudut bibirnya terangkat melihat tawa Sakura. Ia merasa lega Sakura sudah kembali menjadi Haruno Sakura yang ia kenal; Haruno Sakura yang cerah dan selalu membuatnya silau.
"Bokuto-kun," panggil Sakura, membuat Bokuto menaikkan sebelah alisnya, menunggu kelanjutan kata-kata Sakura. "Aku tidak tahu sudah mengatakannya berapa kali, tapi aku tahu kau pantas mendengarnya," Sakura menjedanya dengan sebuah tarikan dan helaan napas. "Terima kasih. Terima kasih karena selalu membuatku tertawa. Terima kasih karena selalu tiba-tiba muncul saat aku sendirian dan merasa kesepian," ia menambahkan sebuah tawa geli di akhir kalimatnya, mengingat momen-momen Bokuto yang memang selalu muncul di mana saja.
Bokuto balas tersenyum. "Tidak masalah. Kau bisa percaya padaku."
3. When he's getting matured.
Enam tahun kemudian. Tokyo Metropolitan Gymnasium.
Waktu masih menunjukkan jam satu siang lebih tiga puluh dua, tetapi gelanggang olahraga yang biasa dijadikan sebagai tempat diselenggarakannya turnamen resmi di Jepang itu sudah mulai dipadati pengunjung. Hari ini merupakan final dari V.League Division 1 Men's yang mempertemukan MSBY Black Jackal dengan Schweiden Adlers.
Bokuto duduk gelisah di lantai kayu Sub Arena, tempat mereka menunggu pertandingan sambil melakukan pemanasan dan latihan ringan. Ia tidak biasanya begini, mengingat wing spiker bernomor jersey 12 itu adalah tipe orang yang kelebihan energi. Dan mood swing bukanlah penyebab kegelisahannya saat ini, karena perubahan mood-nya yang ekstrem itu biasanya disebabkan hal yang sangat jelas, seperti pukulannya yang tidak tepat, atau ketika ia tidak bisa memukul umpan yang diberikan padanya.
"Bokuto, kalau kau tidak bisa fokus pada pertandingan ini lebih baik kau menghangatkan bangku cadangan saja."
Bokuto menegakkan punggung ketika mendengar suara kapten timnya, Meian Shūgo, menegurnya dengan tatapan tajam. Bokuto memberinya sebuah cengiran kaku.
"Aku tidak tahu apa yang mengganggumu, tapi kau terlihat tidak fokus," lanjut lelaki berambut hitam itu. Bokuto tidak menjawab, tapi ia tahu kata-kata kaptennya itu memang benar. "Jadi keluarlah dulu, tenangkan dirimu dan fokus. Kembalilah sepuluh menit lagi, masih ada dua puluh menit sebelum kita ke Main Arena."
Bokuto keluar setelah meminta maaf pada Meian. Ia menutup pintu Sub Arena, lalu berjalan dengan lesu entah ke mana. Sudah hampir seminggu ia kehilangan semangat, dan semakin parah dalam dua hari terakhir. Ditambah karena ini adalah hal yang baru dirasakannya, ia jadi uring-uringan juga.
Bokuto berhenti berjalan saat menyadari ia hampir memasuki Main Arena. Bokuto berbalik, dan ketika ia baru berjalan beberapa langkah, ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Bokuto-san!"
Akaashi Keiji berlari menghampirinya bersama dua orang yang Bokuto kenal: Yamanaka Ino, adik kelasnya semasa SMA yang kini berpacaran dengan Akaashi, dan Haruno Sakura, perempuan yang minggu lalu baru menyatakan perasaan padanya. Pada Bokuto.
Bokuto menatap Sakura lurus-lurus, tapi Sakura menghindari pandangannya. Setelah menyapa Akaashi dan Ino seadanya, Bokuto menghampiri Sakura.
"Ha—"
"Selamat berjuang," potong Sakura sebelum Bokuto menyelesaikan ucapannya. Mata emerald-nya terlihat sendu dan ia terlihat memaksakan seulas senyum. Bokuto merasakan dadanya seperti terhantam sesuatu melihat Sakura tidak secerah biasanya. Dan ia tahu persis itu karena dirinya.
"Haruno, soal minggu lalu—"
Sakura menggeleng. "Tidak sekarang, Bokuto-kun. Kau harus fokus pada pertandingan ini. Kau harus memenangkannya."
Bokuto menghela napas. "Harus? Kenapa?"
Sakura memberinya senyum tulus untuk yang pertama kali dalam bulan ini. "Karena aku tahu kau, Bokuto Kōtarō, akan memenangkannya." Bokuto masih berdiri di tempatnya saat ia merasakan tepukan Sakura pada kedua pundaknya. "Aku bisa menunggu jawabanmu, Bokuto-kun. Tapi pertandingan ini tidak. Jadi sekarang kau hanya perlu memikirkan pertandingan ini dan menang."
Ucapan dan tepukan itu sangat sederhana, tapi mampu membuat seluruh tubuh Bokuto seperti dialiri energi. Ia tersenyum lebar, matanya berkilat semangat.
"Tunggu aku, Haruno."
.
.
.
MSBY Black Jackal berhasil mengalahkan Schweiden Adlers dalam empat set, dan Bokuto menjadi top scorer dalam pertandingan final itu. Setelah memberi hormat pada pendukung, ia menghampiri pelatih dan manajernya yang ada di pinggir lapangan. Mereka bersorak untuk kemenangan telak itu.
Bokuto mengenakan jaket klubnya, lalu berjalan mendekat pada pemandu acara yang ada di sana. Setelah Bokuto membisikkan sesuatu, pemandu acara itu memberinya senyum penuh arti dan memberikan mikrofon yang sedang dipegangnya. Pendukung yang sedang menunggu selebrasi MSBY Black Jackal tampak penasaran dengan apa yang akan dilakukan Bokuto.
Bokuto berdeham. "HEY HEY HEY! Ini Bokuto Kōtarō!"
Semua orang tertawa mendengar suara Bokuto. Di saat orang lain mengatakan, "Tes… 1… 2… 3…" untuk mengetes mikrofon, Bokuto malah meneriakkan kata-kata favoritnya, 'hey hey hey'.
"Oke, aku rasa semua orang bisa mendengarku. Nah, sekarang, Haruno Sakura, bisakah kau turun ke sini dan menemuiku sebentar?"
Kasak-kusuk terdengar di seluruh penjuru tribun. Mereka bertanya-tanya siapa Haruno Sakura itu. Sebagian besar sudah menduga Bokuto akan melamar Sakura di sana. Dan itu mungkin saja benar.
Sakura mematung. Ia tidak pernah menyangka Bokuto akan melakukan hal nekat, ditambah mereka melakukannya di depan begitu banyak orang. Mungkin ada juga media yang sedang meliput mereka.
"Halo, Sakura? Kau mendengarku?"
Sakura tetap diam meskipun Ino sudah menggoncang bahunya dan Akaashi sudah memanggil-manggil namanya. Dan ini adalah untuk pertama kalinya Bokuto memanggilnya dengan nama depan.
"Sakura, aku mohon, aku harus bicara denganmu sekarang. Di sini."
"Haruno-san kurasa harus segera turun sebelum Bokuto-san kembali pada mode emo-nya."
Sakura merasa jantungnya berdegup keras dan tangannyaterasa sangat dingin. Ia mengatur napasnya sebelum memberanikan diri untuk melangkah menuruni tribun dan berjalan memasuki lapangan. Semua orang bertepuk tangan melihat seorang perempuan berambut merah muda yang mereka yakini sebagai Haruno Sakura berjalan mendekat ke arah Bokuto.
Bokuto mengikuti Sakura dengan pandangannya. Mikrofon masih ada di depan mulutnya saat ia berkata, "Haruno Sakura, aku sudah menunggumu."
Sakura tidak tahu harus bereaksi bagaimana, jadi ia hanya berdiri canggung dua meter dari Bokuto. Bokuto melangkah, masih dengan mikrofon dalam genggamannya.
"Aku… aku minta maaf," suaranya berubah menjadi sedih. Sakura tahu apa maksudnya itu, tapi ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana jika Bokuto menolaknya di depan semua orang.
"Bokuto-kun, kau tidak perlu mengatakannya di sini—"
"Aku harus, Sakura. Aku ingin semuanya menjadi jelas. Aku menolak pernyataan cintamu minggu lalu."
Semua orang yang mendengarkan hal itu terkesiap. Mereka tidak menyangka seorang Bokuto Kōtarō akan menolak pernyataan cinta di depan banyak orang. Mereka justru menyangka Bokutolah yang akan menyatakan perasaannya atau melamar gadis bernama Haruno Sakura itu.
Sakura merasa seluruh tubuhnya kaku. Ia bahkan merasa terlalu kaget untuk sakit hati. Air matanya sepertinya ikut beku sampai ia tidak bisa menangis.
Bokuto mendekat, dan Sakura yang kesadarannya sudah kembali memilih untuk mundur, tetap menjaga jaraknya dari Bokuto. Tapi Bokuto lebih cepat. Ia menarik Sakura mendekat dan memegang lengan kiri gadis itu dengan tangan kanannya.
Mata keemasan Bokuto menatap emerald Sakura lurus-lurus. "Aku menolakmu, karena menyatakan perasaan itu adalah tugasku, Sakura."
Sakura menahan napasnya. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Mata Bokuto menatapnya begitu dalam, sampai-sampai ia rasa jika Bokuto melepaskan genggamannya, Sakura akan jatuh lemas kapan saja.
"Tapi aku tidak mau kau jadi pacarku, jadi aku tidak akan menyatakan perasaan padamu."
Seisi tribun mendadak hening. Bokuto melepaskan tangan Sakura. Alih-alih berjalan meninggalkan Sakura, ia merogoh sesuatu dari saku jaketnya: kotak kecil berlapis beludru berwarna hitam dan emas. Semua orang terkesiap lagi, tahu persis apa isi dari kotak itu.
Sakura menggigit bibirnya. Ia tidak berani berharap, tapi kemudian suara Bokuto memecah keheningan yang mencekam itu. Sebelah tangannya memegang mikrofon, dan tangannya yang lain memegang kotak yang sudah terbuka; kotak berisi cincin emas putih dengan mutiara kecil di atasnya.
"Sembilan tahun sudah cukup untuk mengenalmu, Sakura," ujarnya dengan suara bergetar. "Enam tahun cukup untuk membuatku sadar aku jatuh cinta padamu. Dan seminggu terakhir ini cukup untuk meyakinkanku bahwa aku ingin melanjutkan hidupku denganmu di sisiku."
Bokuto berlutut, dan tangis Sakura langsung pecah. Bokuto tetap melanjutkan kata-katanya. "Haruno Sakura, apakah kau mau menikah dengan Bokuto Kōtarō?"
Sakura langsung mengangguk dan menerjang Bokuto dengan pelukan di leher, membuat Bokuto terjungkal ke belakang karena kehilangan keseimbangan. Riuh tepuk tangan memenuhi tribun, sebagian besar bahkan ikut terharu melihat peristiwa bahagia terjadi di depan mata mereka.
Bokuto dan Sakura sama-sama tertawa dengan air mata mengalir dari mata mereka, tidak dapat membendung rasa terharu dan bahagia yang meluap begitu besar.
Bokuto balas memeluk Sakura erat sampai beberapa lama. Sakura melepaskan pelukan mereka lalu menjauhkan diri, menatap Bokuto yang juga menatapnya dengan mata penuh bekas air mata.
Bokuto baru saja akan memasangkan cincin pada jari manis Sakura saat menyadari kotak cincinnya terlempar entah ke mana.
Sakura tercenung. "Bokuto-kun, ke mana cincinku?"
Bokuto tersadar. "Hey hey hey! Kalau kau tidak memelukku begitu, Haruno, kau tidak akan kehilangan cincinmu!"
Sakura melipat kedua tangan di depan dada. "Oho! Beberapa menit lalu kau memanggilku 'Sakura' dan sekarang kembali menjadi 'Haruno'?"
Pemandu acara tadi mendekati mereka dan menyerahkan kotak cincin pada Bokuto. "Bokuto-san, tadi kau melemparnya ke meja official," katanya geli.
Bokuto menerima kotak itu dengan wajah merah, antara kesal dan malu. Ia lalu mendelik Sakura yang tertawa geli.
"Kau mau aku memasangkannya padamu atau tidak?"
Sakura melebarkan mata. "Lamaran macam apa ini!" tanyanya syok.
Bokuto menarik Sakura mendekat. "Aku akan memasangkannya dengan satu syarat."
Sakura menatapnya ragu. "Apa? Jangan aneh-aneh, Bokuto-kun! Kau merusak momen manis tadi!"
"Hey, justru ini akan menambah romantisme dalam momen manis ini!"
"Oke, apa maumu?" tanya Sakura tidak sabar.
Bokuto mendekatkan wajahnya pada Sakura. "Cium aku, Sakura."
"A-APA?!"
Bokuto menyerigai. "Atau kau lebih suka aku menciummu?"
Sakura memerah. "B-bodoh, itu sama saja—"
Tribun kembali gaduh melihat Bokuto mencium Sakura tepat di bibir. Selain sorakan dan tepuk tangan, siulan juga memeriahkan Main Arena itu.
Bokuto melepaskan ciumannya, dan tersenyum kecil melihat wajah Sakura yang merah padam. Ia mengecup kening Sakura, sebelum mengangkat tangan kiri gadis itu dan memasangkan cincinnya pada jari manis Sakura.
Ia mengecup punggung tangan Sakura, lalu mengambil mikrofon sebelum berucap, "Aku mencintaimu, Haruno Sakura."
Sakura tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Bokuto Kōtarō."
.
.
.
Lima tahun kemudian. Maret 2020, Mother Farm, Prefektur Chiba.
"Bokuto jii-chan tolong selamatkan aku!" teriak seorang anak empat tahun bernama Bokuto Kenjiro sambil berlari ketakutan.
Bokuto cukup menikmatinya. "Kau memanggilku apa, Kenjiro?" teriaknya, pura-pura tidak dengar.
"Tō-san! Tō-san, tolong aku! Biri-biri ini akan menggigitku!" teriak Kenjiro penuh drama.
Bokuto memperhatikan anak bungsunya dengan sebelah alis terangkat dan senyum penuh kemenangan sebelum ia menarik Kenjiro menjauh. Rupanya anak biri-biri itu tertarik dengan tiket yang keluar dari saku belakang celana anak berambut spike abu-abu muda itu.
Bokuto menggendong Kenjiro yang berusaha menahan tangis. Ia melihat air mata siap tumpah dari mata keemasannya dan kasihan juga melihatnya, jadi Bokuto mengeratkan pelukannya dan mengelus kepala Kenjiro.
"Sudah, sudah. Ada tō-san di sini," kata Bokuto menenangkan Kenjiro.
Sakura datang beberapa saat kemudian sambil menggandeng seorang anak yang sangat mirip dengan Kenjiro, hanya saja rambutnya berwarna abu-abu gelap dan matanya hijau cerah; Bokuto Kentaro. Ia lalu memberikan minum pada Kenjiro yang tampak kelelahan sehabis berlari dan menangis.
Tak berapa lama kemudian, Kenjiro dan Kentaro bermain ke dekat arena balapan babi kecil. Bokuto akhirnya memiliki waktu berdua dengan Sakura setelah seharian ini menemani anak kembar mereka mengikuti acara tamasya sekolah ke Mother Farm, sebuah peternakan besar di Prefektur Chiba.
Sakura mengelus pipi suaminya. "Lelah?"
Bokuto hanya memeluk Sakura dan membenamkan wajah di leher istrinya. "Kenapa Kenjiro sangat aktif," katanya dengan nada lemas.
Mendapat perlakuan begitu dari Bokuto ternyata masih membuat Sakura berdebar. Ia tertawa kecil sambil mengelus-elus kepala Bokuto. "Kenjiro itu mirip sekali denganmu."
Bokuto mengangkat kepalanya untuk membalas ucapan Sakura saat seorang orang tua murid mendekati mereka. "Maaf, tapi apakah yang di sana itu anak Anda?"
Bokuto dan Sakura mengikuti arah tangan orang tua murid itu, lalu segera berdiri setelah mengucapkan terima kasih dengan buru-buru. Dari kejauhan tampak Kenjiro memasuki arena balapan babi kecil dan tampaknya akan ikut berlari.
Dengan kecepatan luar biasa, Bokuto berlari memasuki arena balapan itu. "HEY BOKUTO KENJIRO! KELUAR DARI SANA!" teriaknya menggelegar.
Kentaro yang hanya memperhatikan adiknya dari luar pagar pembatas memasang tampang datar. Ia melirik ayahnya yang sedang berlari dengan semangat membara, lalu berjalan mendekati ibunya.
Bahkan Bokuto Kentaro tahu keadaan akan semakin chaos jika ayahnya memasuki arena balapan itu—
"ARGH!!! SEPATU PUTIHKU!!! HEY HEY HEY KENJIRO! KEMBALI KAU, BOCAH!"
Benar, kan.
Karena chaotic adalah nama tengah ayahnya. Ia sudah menyadari itu.
The Day Armageddon Arrives On Earth;
End.
Halo! Maaf ini ceritanya nggak jelas banget, aku belum sempat edit dan periksa lagi jadi kalau plot-nya berantakan dan super OOC, aku bener-bener minta maaf :")
Terus ini judulnya diambil dari poster 'bercandaan' Haikyuu!!, waktu Bokuto jadi pemeran utama di film ini dan Ennoshita jadi sutradaranya. Aku rasa judul ini bisa menggambarkan how chaotic Bokuto Kōtarō can be hehehe (tapi kurang terasa di ceritanya. I know, I'm really sorry!)
Sekali lagi terima kasih untuk semua yang sudah mampir ke sini dan memberikan review-nya, I don't deserve you all but thank you so so so muchhh! Sampai jumpa di cerita selanjutnya!
