standard disclaimer applied.

Masashi Kishimoto x Haruichi Furudate.


Level Up!

.

Haruno Sakura x Kenma Kozume

.

Long description ahead. Special for Yukito arui- san , hope you'd like this!

Enjoy!

.

.

.

Level 1 - Characters: Unlocked!

Player 1 POV

Selasa pagi di dalam sebuah kantor bergaya cozy-futuristic di pusat Kota Tokyo dimulai dengan lalu lalang para karyawannya. Bouncing Ball Corporation, perusahaan yang bergerak dalam pengembangan video game dan pervasive game juga penerbit majalah Wabi Sabi—majalah seputar game dan industri perfilman, memang selalu terlihat sibuk. Terutama di pertengahan bulan November ini karena mereka harus mempersiapkan edisi khusus Natal untuk bulan depan.

Kenma Kozume, CEO Bouncing Ball Corp. yang masih berusia dua puluh empat tahun, sedang memandang beberapa lembar kertas di hadapannya. Lelaki dengan rambut tergulung rendah dan agak berantakan itu membaca portofolio mahasiswa yang berhasil diterima untuk magang di perusahaannya.

Tangannya berhenti membalik halaman saat menemukan satu gaya desain yang menarik perhatiannya. Berbeda dengan gaya yang bold dan terkesan sangat 'grafis' pada portofolio mahasiswa sebelumnya, desain yang satu ini memiliki warna-warna pastel dengan sentuhan seperti lukisan cat air.

Kenma membaca ulang data mahasiswa yang mengiriminya portofolio itu.

Haruno Sakura; dua puluh tahun; mahasiswi tingkat akhir di Tama Art University; mayor graphic design.

Selesai melihat portofolio-portofolio itu, Kenma meluruskan punggungnya. Ia lalu menyalakan layar komputer dan membuka apa saja yang dapat menghilangkan kebosanannya saat ini.

Dulu ia selalu bermain game sehingga nyaris tidak pernah merasa bosan. Sekarang ia takut ia terlalu lama bermain game sehingga lupa untuk melanjutkan pekerjaannya.

Iseng, Kenma membuka Instagram dan men scroll foto-foto dan video yang diunggah kenalannya. Salah satu foto yang diunggah Yamanaka Ino, teman SMA-nya, sedikit menarik perhatiannya.

Tidak, tidak. Kenma tidak menyukai Yamanaka—dalam konteks yang… ugh, romantis. Tapi seseorang yang berfoto dengan Yamanaka-lah yang menarik perhatian Kenma.

Seorang gadis yang sepertinya lebih muda darinya, dengan rambut merah muda panjang bergelombang, tersenyum lebar ke arah kamera. Kenma mengklik tag username gadis itu, dan menemukan akun Haruno Sakura di sana.

Tunggu dulu.

Kenma mengambil kembali portofolio yang tadi sempat dilihatnya. Sudut kanan bibirnya terangkat melihat 'Haruno Sakura' tertulis di sana.

Kenma meneruskan kegiatan

stalking

risetnya terhadap calon anak magangnya itu, dan membuka satu foto yang tidak dapat membuatnya berkedip.

Foto close-up Haruno Sakura berlatarkan lapangan luas dengan rambut tertiup angin. Cahaya matahari yang menimpa wajahnya membuat mata emerald gadis itu terlihat bercahaya. Ia sedang tertawa di dalam foto candid itu, dan Kenma suka senyumnya.

Tanpa sadar Kenma mengklik tanda hati yang ada di bagian bawah foto. Detik berikutnya ia berdiri dengan kecepatan penuh dan ekspresi horor. Kenapa aku bisa begitu bodoh?, batinnya kesal. Walaupun ia membatalkan tanda 'suka'nya, tapi ia tahu notifikasinya tidak akan hilang begitu saja.

Kenma mengatur napas dan berusaha berpikir dengan tenang. Beberapa saat kemudian, sebuah ide muncul. Ia segera menggerakkan kursor dan mengklik tanda 'Follow' pada akun ' sakuharu' itu. Setelahnya ia mengklik ikon 'Message' dan mengetikkan sesuatu. Ia menekan tombol kirim dan menyandarkan punggung sambil menghela napas.

Kini ia hanya harus menunggu. Karena ia tidak akan melakukan apa-apa lagi jika Haruno Sakura tidak meresponnya. Dan ia harap tidak begitu.

.

.

Player 2 POV

Haruno Sakura memasuki apartemen kakak sepupunya sambil bersenandung. Mahasiswi tingkat akhir itu sedang senang karena aplikasinya untuk magang di Bouncing Ball Corp. diterima melalui e-mail pemberitahuan dari perusahaan yang baru berdiri dua tahun itu.

"Ada apa dengan mood-mu hari ini, Saki?"

Sakura menaruh tas kanvasnya di atas sofa. Ia tersenyum lebar pada sepupunya, Yamanaka Ino. "Hai, nee-chan," sapanya riang. "Aplikasi magangku diterima!"

Ino memekik dan mengikuti Sakura yang sudah melompat-lompat kecil. "Astaga! Selamat, Adik Kecil!" Ia memberi adik sepupunya pelukan erat sebelum keduanya kembali melompat gembira.

Sakura memutuskan untuk mandi ketika euforia itu selesai. Setelah mengganti pakaiannya, ia berjalan keluar kamar sambil mengecek ponselnya.

Ia duduk di meja makan sementara Ino sedang menyeruput ramen instannya.

"Tidak makan, Saki?"

Sakura menggeleng. "Aku belum lapar—ASTAGA, NEE-CHAN!"

"Apa? Ada apa?" tanya Ino panik ketika Sakura tiba-tiba berteriak.

Sakura menyodorkan ponsel pada Ino yang menerimanya dengan cemas. Matanya melebar saat melihat pesan yang dikirim oleh Kenma Kozume pada Sakura.

Halo, Haruno. Selamat atas diterimanya aplikasi magangmu :)

Ino lalu menatap Sakura serius. "Tunggu, tunggu. Kau mengirimkan aplikasi magang ke Bouncing Ball?"

Sakura mengangguk dengan pandangan bingung.

"Astaga, Sakura! Kenma Kozume, CEO Bouncing Ball itu, adalah teman SMA-ku!"

"Serius, nee-chan?"

Ino mengangguk. Ia menyerahkan kembali ponsel Sakura. "Cepat balas. Dia sudah repot-repot mengirimkan pesan itu untukmu, lengkap dengan emoji pula."

"Eh? Memangnya kenapa?"

Ino menghela napas. "Intinya Kenma-kun adalah orang yang malas bersosialisasi. Nanti akan kuceritakan, sekarang balas saja pesannya," kata Ino sebelum melanjutkan acara makannya.

Sakura memandang layar ponselnya dengan bingung dan sedikit panik. Ia mulai mengetikkan balasan yang sopan, lalu mengirimnya setelah mengecek berkali-kali dan berpikir beberapa saat.

Sakura harap ia tidak salah menjawab. Karena balasannya langsung terbaca satu detik setelah terkirim.

.


.

Level 2 - Beginner

Player 1 POV

Kenma mengantuk pelan kepalanya pada meja kerja, menyesali kebodohannya kemarin. Sejak ia mengirim pesan pada Haruno Sakura, ia sering mengecek apakah mahasiswi desain grafis itu sudah membaca pesannya atau belum. Dan sialnya, saat ia sedang membaca ulang pesannya, sebuah balasan masuk, membuat pesan masuk itu otomatis langsung terbaca.

Selamat sore, Kenma-sama. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan sehingga saya bisa melaksanakan magang di Bouncing Ball Corp . Sampai berjumpa dua minggu lagi :)

Dua minggu, ya…

Kenma berpikir sesaat sebelum menekan interkom yang langsung tersambung ke meja asistennya, Fukuhara Seiji. "Fukuhara-san, tolong kirim e-mail pada mahasiswa magang yang berhasil diterima masuk. Beritahu mereka aku akan mengajak mereka briefing santai sebelum mereka mulai magang di sini."

Beberapa menit setelah Fukuhara mengiyakan perkataannya, Kenma mulai mengetikkan balasan pada pesan Sakura yang sudah dibiarkan terbaca sejak kemarin.

Dua minggu? Mungkin maksudmu, akhir pekan ini?

Sampai jumpa di akhir pekan, Haruno.

Kenma sudah bersiap untuk me- logout akun Instagramnya ketika indikator 'typing' muncul. Kenma menunggunya sambil mengetukkan jari pada meja kerja.

Balasan muncul dan Kenma langsung membaca kata demi kata yang Sakura kirim.

Saya baru menerima pemberitahuan dari e-mail perusahaan. Kalau begitu sampai jumpa di akhir pekan, Kenma-sama :)

Maaf, jika Anda tidak nyaman dengan emoji yang saya gunakan, Anda tidak perlu sungkan untuk memberitahu saya.

Tanpa sadar Kenma menyunggingkan seulas senyum. Ia mengetik sesuatu dengan cepat, takut-takut Sakura tidak lagi online.

Kau tidak perlu terlalu formal, aku hanya empat tahun lebih tua darimu.

Dan aku tidak keberatan ;)

"Sial!" umpat Kenma ketika menyadari kesalahannya yang entah ke berapa kali. Ia lupa menekan tombol 'shift' saat mengetikkan tanda titik dua, sehingga emoji wink-lah yang dikirimnya pada Sakura.

Baiklah, terima kasih, Kenma-san.

Semoga hari Anda menyenangkan :)

Kenma tersenyum lagi. Harinya akan menyenangkan, tentu saja.

.


.

Level 3 - Gameplay: Started!

Player 2 POV

Satu Desember. Sudah memasuki akhir musim gugur dan cuaca semakin dingin. Sakura mematut penampilannya di depan cermin; turtle neck berbahan rajut berwarna hitam di balik cashmere coat hitam panjang. Loose fit jeans berwarna biru muda melengkapi penampilannya.

Ia menghela napas saat menyadari hanya ada warna monokrom pada lemarinya, hitam-abu-putih. Dan baju-bajunya yang hangat hampir semuanya berwarna hitam. Sakura meyakinkan diri bahwa ia terlihat sopan, lalu mengambil sling bag-nya sebelum keluar dari kamar.

Ino yang sedang mengunyah rotinya mendengus melihat Sakura dengan pakaian serba hitamnya.

"Saki, aku yakin kau sudah memakai warna hitam hampir seminggu ini."

Sakura ikut mengambil selembar roti dan menuangkan sirup mapel. "Aku janji aku akan membeli warna lain untuk musim semi."

Ino terkekeh. "Tapi aku juga tidak menyangkal kalau kau adalah salah satu orang yang terlihat sangat bagus dalam pakaian berwarna hitam."

Sakura ikut tertawa. "Aku anggap itu sebagai pujian, nee-chan."

Lima belas menit kemudian mereka selesai sarapan. Sakura berpamitan pada Ino lalu memakai Chelsea Boot-nya dan bergegas menuju halte bus yang ada di dekat apartemen mereka, siap untuk bertemu dengan Kenma Kozume yang sudah menunggunya di kedai kopi di dekat kantor Bouncing Ball Corp.

Kisahnya baru saja dimulai.

.

.

Player 1 POV

Kenma duduk di kedai kopi yang ada persis di sebelah gedung kantornya, berhadapan dengan salah satu anak magang yang baru diterima di perusahaannya, Shinji Daisuke, lelaki sembilan belas tahun mahasiswa Tokyo University.

Jam sebelas kurang dua menit, bel pada pintu kedai kopi berdenting. Kenma yang sejak tadi melirik setiap bel pintu itu berbunyi kini berusaha menahan diri agar tidak tersenyum konyol ketika melihat Haruno Sakura berjalan ke arahnya dan Shinji.

Sakura tersenyum kikuk setelah membungkukkan badan dan memberi salam pada Kenma dan Shinji. Mereka bertiga lalu berkenalan dan berbincang singkat sambil menikmati cake dan secangkir kopi sebelum Kenma memulai briefing-nya.

Diam-diam ia melirik Sakura yang mencatat poin-poin penting dari ucapannya, dan bagaimana dahi gadis itu berkerut samar saat berusaha untuk berkonsentrasi.

"…jadi Shinji akan ditempatkan di divisi character development—di bawah departemen pengembangan game, sesuai dengan bidang karir yang kau inginkan. Dan Haruno," Kenma beralih dari Shinji yang mengangguk paham pada Sakura yang sedang menatapnya serius dengan mata hijau cerahnya, membuat perut Kenma terasa berputar dan geli di saat yang bersamaan.

"Ya, Kenma-san?"

Kenma berdeham. "Kau ditempatkan di divisi graphic design, di bawah departemen editorial majalah," ia menatap lekat Sakura yang sedang mencatat. "Karena aku adalah editor-in-chief dari Wabi Sabi, maka aku juga yang akan menjadi mentormu," tambah Kenma.

"Baik, Kenma-san. Mohon dukungannya," katanya sopan.

Kenma tersenyum samar. "Selamat datang di Bouncing Ball Corporation."

.


.

Level 4 - Mission Requirements

Player 2 POV

Menurut ketentuan kampusnya, Sakura harus melaksanakan magangnya selama tiga bulan. Itu artinya ia tinggal bekerja di Bouncing Ball Corp. satu bulan lagi.

Sakura mencatat jurnal kegiatan magangnya sambil menunggu revisi untuk desain layout rubrik new released movies.

Fukuhara menghampirinya membuat Sakura menyimpan bolpoinnya. "Ya, Fukuhara-san?"

"Soal ajuan layout yang sudah kau buat, Kenma-san memintamu untuk menemuinya di ruangannya," katanya ramah.

Sakura berterima kasih, lalu menutup jurnalnya dan bergegas menuju ruang editor-in-chief yang berada di lantai yang sama dengan workstation-nya—di lantai tujuh gedung ini.

Sakura mengatur napasnya sebelum mengetuk pintu ruangan CEO sekaligus mentornya itu. Kenma menyuruhnya masuk, jadi ia membuka pintu dan memasuki ruangan di mana Kenma biasa menghabiskan jam kerjanya.

"Duduklah, Haruno."

Sakura duduk dengan canggung. Ini adalah pertama kalinya ia masuk sendirian ke dalam ruangan Kenma, karena biasanya Shimada Yui, seniornya yang bertugas sebagai art director, yang ikut dipanggil bersamanya untuk revisi. Dan karena Shimada sedang mengerjakan proyek lain, maka Sakura harus menemui Kenma sendiri.

"Sejujurnya aku suka dengan layout yang sudah kau buat," Kenma menyodorkan print out desain yang sudah Sakura buat. "Mungkin kau bisa menambahkan sesuatu di sini agar tidak terlalu banyak negative space," katanya sambil membuat bentuk lingkaran pada bagian yang kosong.

"Baik, Kenma-san."

Kenma mengangkat kepalanya. Sakura yang sedang memperhatikan lelaki itu jadi tidak sempat memalingkan wajah, jadi ia hanya bertatapan dengan Kenma selama beberapa saat sampai lelaki berambut hitam- blonde itu membuka mulutnya.

"Haruno, kau ada waktu akhir pekan ini?"

Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali. "Ya?"

Kenma memberinya seulas senyum tipis. "Salah seorang kenalanku adalah pengrajin seni kaca dan metal. Dia akan mengadakan pameran akhir pekan ini. Kalau tidak salah dia pernah menjadi dosen tamu di kampusmu."

"Apa maksud Anda Kimura Riku sensei, Kenma-san?"

Kenma mengangguk. "Jadi bagaimana? Akhir pekan ini kau mau ke pameran itu denganku?"

Sakura menelan ludah dengan susah payah sambil menatap tangannya yang bergerak gelisah. Apakah mentornya ini sedang mengajaknya… kencan? Bukannya Sakura terlalu percaya diri, tapi Kenma terkadang seperti melemparkan 'kode' padanya. Senior-seniornya pun terkadang menggoda Kenma yang bersikap perhatian pada Sakura. Padahal menurut cerita Ino beberapa waktu lalu, Kenma tidak terlalu suka berhubungan dengan orang lain.

Sakura akui ia cukup terkesan dan—mungkinsedikit tertarik pada Kenma Kozume; pada mata keemasannya yang menatapnya tenang, senyum tipisnya, rambut hitam-blondenya yang akhir-akhir ini sering tergulung asal, hoodie hitamnya…

"Haruno?" panggil Kenma saat Sakura tidak kunjung meresponnya.

Sakura tersentak. "Eh?" Setelah kesadarannya kembali, Sakura menegakkan punggungnya, diam-diam membuat Kenma tersenyum. "Mau, Kenma-san, saya mau sekali!" katanya kelewat semangat.

Kenma terkekeh. "Mau sekali?"

Sakura memerah. "M-maksud saya—"

"Aku hanya bercanda," kata Kenma ringan. Ia lalu menatap Sakura. "Kalau begitu, sampai akhir pekan, Haruno. Kukirimkan detailnya lewat Instagram, kurasa?"

Sakura mengangguk kaku. "Baik, Kenma-san, terima kasih," ia lalu berdiri dan membungkuk sebelum izin keluar dari ruangan mentornya dengan wajah panas dan merah padam.

Astaga, Sakura baru sadar kalau ia sangat tertarik pada Kenma Kozume.

.

.

Player 1 POV

Kenma sudah cukup terbiasa dengan Sakura yang selalu membuat dadanya berdesir dan bersikap di luar karakternya, tapi tidak untuk hari ini. Sakura benar-benar tampil berbeda dari apa yang Kenma bayangkan. Ia pikir dewasa muda itu akan terlihat seperti saat ia bekerja dengan baju kasual, atau mungkin berpenampilan lebih feminine, tapi nyatanya ia salah besar.

Kenma mematung di depan main entrance gedung Museum of Contemporary Art Tokyo. Sakura menghampirinya dalam hoodie hitam oversized yang melapisi kaus putih yang panjangnya melebihi panjang hoodie-nya. Ia memakai stocking hitam legam dengan high Converse hitam dan cuffed beanie yang juga hitam. Sialnya, dalam balutan serba hitam dengan sentuhan sedikit putih itu, membuat mata hijau cerah dan rambut merah muda Sakura menjadi sangat kontras.

Jantung Kenma berdebar keras. Demi apapun juga, penampilan Sakura yang ini adalah yang paling ia sukai. Ia selalu suka melihat perempuan mengenakan cuffed beanie dan hoodie. Dan hitam adalah preferensinya.

Sakura berhenti berjalan dan memberi Kenma senyum cerah. "Halo, Kenma-san. Maaf sudah membuat Anda menunggu lama."

Kenma berdeham sambil berusaha meredakan debaran jantungnya yang terlampau keras. "Aku juga baru datang," katanya cepat. "Ayo, kita masuk. Pembukaannya hampir dimulai."

Melihat Sakura tidak beranjak dari tempatnya membuat Kenma menghampiri gadis itu. "Ada apa?"

Sakura menunjuk sebuah papan informasi yang tak jauh dari entrance. "Err… begini Kenma-san, hanya tamu undangan yang dapat datang ke pembukaan dan pameran hari pertama."

Kenma mengeluarkan undangannya. "Tamu undangan, dan plus one mereka. Jadi tenang saja dan mari nikmati pameran ini."

Kenma memastikan Sakura berjalan mengikutinya. Setelah menunjukkan undangan mereka, Kenma dan Sakura berjalan menuju open space hall yang ada tepat setelah lobby. Tidak terlalu banyak undangan yang datang, jadi hall luas itu terasa semakin lengang dan besar.

"Haruno, kau pernah diajar oleh Kimura-san?"

Sakura mengalihkan pandangan dari leaflet pameran pada Kenma. Ia lalu mengangguk. "Satu semester penuh saat Kimura sensei mengajar kelas keramik."

Kenma memandang Sakura tertarik. "Oh, kau pernah mengambil kelas keramik?"

Sakura mengangguk lagi. "Saya lebih suka craftmanship ketimbang sculpture."

Kenma mengangguk-anggukan kepalanya. Mereka berbincang-bincang sebentar, lalu seorang lelaki yang sepertinya adalah MC membuka acara itu. Setelah beberapa sambutan, nama Kimura Riku disebut. Bintang utama dari pameran itu memberi ucapan terima kasih dan selamat datang yang disambut meriah oleh tamu undangan. Setelah itu acara pembukaan selesai, dan Kenma mengajak Sakura menghampiri Kimura yang baru saja mengobrol dengan koleganya.

Kimura cukup terkejut melihat temannya dan mahasiswinya datang bersama ke pamerannya. Ia lalu mengajak Kenma dan Sakura berkeliling, menawarkan diri menjadi tour guide mereka. Setengah jam kemudian, Kimura berpamitan karena ada media yang harus ia temui.

Kenma berjalan bersisian dengan Sakura, memperhatikan karya-karya kontemporer yang diciptakan Kimura. Setelah mengelilingi seluruh area pameran, mereka duduk-duduk di kursi yang disediakan di sepanjang koridor luas.

Jendela tinggi yang menyatu dengan tembok di belakang mereka membentuk pola-pola segitiga. Kenma melihat Sakura memperhatikan tembok itu, lalu ia menyeletuk, "Kau mau kufoto di sini, Haruno?"

Mata Sakura melebar. "Eh? Apa boleh, Kenma-san?" tanyanya takut-takut.

Kenma terkekeh lalu berdiri. Ia berjalan ke tengah koridor agar dapat memotret Sakura dan jendela itu secara keseluruhan. Kenma mengeluarkan ponselnya sendiri, lalu mengarahkan kamera pada Sakura.

Sakura sedang merapikan rambutnya yang tergerai dari balik cuffed beanie-nya, dan Kenma menekan tombol shutter. Ia terdiam melihat Sakura dan sekitarnya yang monokrom; pakaian Sakura dan tembok struktur abu-abu di belakangnya. Dalam potret itu, dua hal yang berwarna hanyalah rambut Sakura dan matanya.

Sakura menatap tepat ke kamera, tapi Kenma merasa seperti Sakura sedang menatap langsung matanya. Ia menghitung satu sampai tiga sebelum mengambil beberapa potret gadis itu.

Sakura berlari kecil menghampiri Kenma untuk melihat hasil fotonya. Kenma menyerahkan ponselnya pada Sakura.

"Bagaimana?"

Mata hijau Sakura berkilat senang. "Wah, bagus sekali!" Ia lalu beralih pada Kenma. "Terima kasih, Kenma-san!" katanya dengan senyum lebar.

Kenma merasakan jantungnya berhenti berdetak. Senyum itu terlalu silau, bahkan bagi Kenma yang terbiasa bermain game di tempat gelap. Tapi entah kenapa Kenma menyukai senyum itu, lebih banyak daripada rasa sukanya pada video game. Wow, just wow.

"Ya ampun, Kenma-san, Anda mengambil foto saya dengan ponsel Anda!"

Kenma kembali pada kesadarannya. "Tidak masalah. Akan kukirimkan nanti lewat…" ia lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Boleh minta nomormu, Haruno? Kualitas gambarnya akan pecah kalau kukirim lewat direct message."

Sakura mengerjap beberapa kali sebelum semburat tipis muncul pada kedua pipinya. "B-boleh, Kenma-san."

Misi pertama - mendapatkan nomor ponsel Sakura: berhasil.

.


.

Level 5 - Level Up!

Player 2 POV

Hampir dua minggu berlalu sejak Sakura menghadiri pameran Kimura Riku dengan Kenma. Dan sejak saat itu mereka jadi semakin dekat, terutama setelah Kenma meminta nomor ponselnya untuk mengirimkan foto.

Sakura tidak tahu apakah lelaki itu sedang melakukan modus pendekatan padanya atau tidak, yang jelas ia sama sekali tidak keberatan.

Ia membuka ponsel sambil memandang sebuah foto yang dikirimkan Kenma sehari setelah mereka ke pameran. Kimura Riku mengirimkan foto candid mereka pada Kenma.

Dalam foto itu, terlihat Sakura sedang tersenyum lebar pada Kenma sambil menunjuk sebuah karya dengan material kaca, stainless steel dan besi baja. Sedangkan Kenma menunduk sambil memandang Sakura dengan senyum tipis.

Dada Sakura berdesir hebat mengingat Kenma di hari itu. Lelaki itu benar-benar atraktif dengan kaus hitam, ripped jeans hitam, jaket corduroy berwarna camel dan Dr. Martens Vegan hitam. Rambutnya terikat sedikit longgar, membuat anak-anak rambutnya keluar dari ikatannya. And Sakura found it damn way attractive.

Baru saja Sakura akan menaruh ponselnya di atas nakas, sebuah pesan masuk. Dan tentu saja itu dari Kenma.

Besok setelah kerja ada acara?

Sakura segera mengetikkan pesan balasan.

Tidak ada, Kenma-san. Apa Anda butuh bantuan?

Balasannya datang tak sampai satu menit kemudian.

Tidak juga.

Mau coba kafe baru di dekat stasiun?

Sakura tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum. Lelaki ini selalu punya cara untuk mengajaknya keluar saat akhir pekan—

Tunggu dulu. Itu artinya kencan, kan?

Sakura masih menimbang-nimbang jawabannya saat sebuah panggilan masuk. Tanpa menunggu dering kedua, Sakura segera menjawab telepon dari Kenma itu.

"Haruno, kau baca pesanku?" tanya Kenma, terdengar sedikit tidak sabar.

"Ya, Kenma-san, saya baru mau mengetikkan balasan saya," jawab Sakura canggung. Oh tentu saja, ini adalah pertama kalinya ia berbicara dengan Kenma melalui telepon.

"Jadi apa jawabanmu?"

"Boleh, Kenma-san."

"'Boleh' bukan jawaban dari pertanyaanku, Haruno. Kau bisa menjawab 'boleh' misalnya untuk pertanyaan ini, 'Boleh kupanggil Sakura?' Kurasa itu yang kulakukan pada orang yang sudah bekerja sama denganku selama lebih dari sebulan."

Sakura terdiam. Kenapa cara lelaki ini bisa begitu smooth, sih? Sakura, kan, jadi meleleh diperlakukan seperti ini.

"O-oke. Saya mau dan… tentu saja boleh, Kenma-san."

Terdengar helaan napas Kenma dari seberang telepon. "Dan bisakah kau tidak terlalu formal padaku? Aku hanya lebih tua empat tahun, dan aku ini mentormu, bukan bos, Sakura."

"Ng… kurasa bisa," kata Sakura kaku. Seingatnya Ino dan beberapa seniornya di kantor pernah cerita padanya bahwa Kenma tidak terlalu banyak bicara. Tapi apa ini? Lelaki ini bahkan bisa menggerutu!

Kenma tertawa kecil. "Baiklah, sampai besok, Sakura."

"Sampai besok, Kenma-san."

.

.

Random Players POV

Tidak ada yang tahu kenapa hampir seminggu ini Kenma terlihat uring-uringan. Ia berkali-kali memanggil art director karena kurang puas dengan hasil desain untuk layout artikel new released movies.

"Bisakah bagian ini dibuat lebih soft?"

"Bisakah warnanya lebih muda—oh, warna pastel akan lebih cocok."

"Apa kau bisa membuat tampilan seperti watercolor finish, Shimada?"

Shimada Yui menghela napas. "Kenma-san, kalau kau ingin membuat tampilan desain seperti itu, kau harus merekrut Haruno Sakura untuk bekerja di sini. Watercolor finish, warna pastel dan desain yang lembut bukan keahlianku," katanya setengah putus asa.

Shimada akhirnya paham kenapa CEO sekaligus editor-in-chief-nya itu bersikap aneh dan uring-uringan belakangan ini. Haruno Sakura, mahasiswi Tama Art University yang magang di sini selama tiga bulan, sudah menyelesaikan masa magangnya sejak minggu lalu. Dan semua orang di departemen mereka tahu persis perhatian yang diberikan Kenma untuk Sakura.

Mereka tidak iri atau cemburu, malah mereka senang melihat CEO mereka memiliki sisi manis dan hangat, walaupun tidak ditunjukkan pada semua orang. Dan karena hubungan mereka dengan Kenma tidak seformal itu, mereka beberapa kali menggoda Kenma yang sering salah tingkah jika 'tertangkap basah' sedang memberi perhatian pada Sakura.

"Kenapa kau tidak menghubunginya lewat Instagram atau e-mail atau apapun kontak yang kau punya?"

Shimada melihat Kenma menegakkan punggungnya—seolah tersadar akan sesuatu. Kenma lalu mengeluarkan black card-nya pada Shimada yang memandangnya bingung.

"Shimada, pakai ini untuk makan siang dan makan malam dengan semua karyawan—"

"Semua?" tanya Shimada syok.

"Semua," ulang Kenma. "Kalian sudah bekerja keras dan aku akan pulang lebih dulu. Sampai jumpa hari Senin."

Shimada masih duduk di tempatnya sambil memandang black card yang ada di atas meja kerja atasannya. Ia lalu tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.

Kozume Kenma sepertinya sudah menyelesaikan level yang sulit.

.


.

Level 6 - Mission Accomplished!

Narrative POV

Kenma menunggu tidak sabar di depan gedung perpustakaan Tama Art University. Bahkan keindahan arsitektur gedung dengan bukaan berbentuk lengkung itu tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari rasa gugup.

Kenma mengetukkan kakinya, lalu menahan napas saat melihat Sakura berjalan—tidak, setengah berlari ke arahnya. Kardigan cashmere abunya yang besar terlihat berkibar. Rambutnya yang panjang terurai bergoyang ringan seiring dengan langkahnya.

Sakura terengah saat ia menyapa Kenma. Kenma menghela napas sambil tersenyum lega. Ia mengangkat tangan dan mengacak gemas rambut Sakura, membuat Sakura membeku di tempat.

"Kenma—"

"Aku merindukanmu, Sakura," potong Kenma sebelum Sakura sempat bertanya.

Mata Sakura melebar. Ia lalu mengangkat tangan kirinya untuk mengecek jam. "Kau datang jauh-jauh ke sini di jam kerja untuk mengatakan ini?" tanyanya tidak percaya. "Kau bisa meneleponku, Kenma-san."

Kenma menarik Sakura dalam pelukannya. "Tapi aku tidak bisa melakukan ini di telepon," katanya.

Setelah Sakura dapat menenangkan dirinya, ia mengangkat tangannya dan balas memeluk Kenma. Ia tertawa kecil. "Tentu saja, aku juga tidak dapat melakukan ini. Kenma-san, aku juga merindukanmu. Sangat."

Kenma memegang kedua bahu Sakura dan menjauhkannya untuk dapat melihat wajah gadis itu. "Benarkah?"

Sakura mengangguk.

Kenma tersenyum entah untuk yang ke berapa kalinya sejak ia bertemu dengan Sakura. "Kita saling merindukan satu sama lain, kita sudah berpelukan. Kurasa aku tidak perlu memintamu jadi pacarku, kan?"

Sakura terbelalak mendengar ucapan Kenma yang tiba-tiba itu.

Kenma menangkup wajah Sakura dengan kedua tangannya. "Yang jelas aku menyukaimu dan ingin selalu bersamamu. Bagaimana denganmu?"

Sakura menatap Kenma tepat di mata. Ia berjinjit dan memberi kecupan ringan pada pipi kanan lelaki itu.

Kenma mematung. "Sa-sakura, kau… kau baru saja mengecupku, benar?" tanyanya terbata-bata.

Sakura mengangguk dengan wajah merah.

Belum sempat menjawab pertanyaan Kenma soal perasaannya, Kenma menariknya mendekat dan menempelkan bibirnya pada bibir Sakura. Sakura terkejut, tapi akhirnya menutup mata.

Ia rasa ia tidak perlu menjawabnya. Karena tubuhnya sudah bertindak sebelum otaknya memerintah. Dan itu sudah lebih dari cukup.

.


.

Level 7 - Ending

Narrative POV

Kenma tidak berhenti tersenyum sepanjang siang itu. Ia bergandengan tangan dengan Sakura, menyusuri taman kampus gadis itu tanpa bicara apa-apa lagi. Mereka sedang menikmati keberadaan satu sama lain.

"Kenma-san," panggil Sakura. Kenma menoleh pada Sakura yang sedang menatapnya. "Apa setelah lulus aku bisa bekerja lagi di Bouncing Ball? Maksudku jangan karena aku ini kekasihmu jadi aku dengan mudah diterima di sana. Tapi karena, uhm… kemampuanku, mungkin?"

Kenma meremas pelan tangan Sakura dalam genggamannya, meyakinkan gadis itu. "Tentu saja. Bahkan Shimada mengakui kemampuanmu. Wabi Sabi butuh sentuhan desain kontemporer seperti yang kau buat."

Mata Sakura berbinar. "Terima kasih, Kenma-san."

"Sakura, bisakah kau memanggilku dengan panggilan yang lebih—ugh—"

"Kenma-kun?"

Tanpa dapat dicegah, jantung Kenma berdebar kencang. Ah, jantung sialan, umpat Kenma dalam hati.

"Itu lebih baik."

Mereka berjalan lalu duduk di bangku taman. Kedua bahu mereka bersentuhan, dan kehangatan mengaliri keduanya.

"Uhm, Kenma-kun, aku tahu kau sudah sukses dan sebagainya, tapi apa kau punya cita-cita lain?"

Kenma memandang langit siang yang tertutup awan. "Sepertinya tidak. Memangnya kenapa?"

"Hm… karena kau sudah membantuku untuk mencapai cita-citaku bekerja sebagai graphic designer di Wabi Sabi, setidaknya aku juga ingin membantumu meraih sesuatu."

Kenma tertawa. "Astaga, kenapa kau serius sekali," katanya gemas. Ia lalu tampak berpikir sebentar. "Aku memang tidak memiliki cita-cita untuk sekarang, tapi ada satu keinginanku yang hanya bisa diwujudkan kalau kau mau melakukannya."

Sakura menatapnya bingung. "Apa itu?"

Kenma mengeluarkan ponselnya. Ia lalu membuka galeri dan menunjukkan sebuah foto yang membuat Sakura memerah.

"Bagaimana, Sakura?" tanyanya dengan tampang polos. "Mudah saja, kok. Kau tinggal—"

"Kenma-kun!"

Kenma tertawa lepas. Daftar kesukaannya bertambah lagi. Selain video games dan menyukai Haruno Sakura, tentu saja, ia suka mengisengi pacarnya ini.

Bicara soal foto, yang tadi diperlihatkannya adalah sebuah foto dari Pinterest: seorang gamer pria yang sedang bermain game PC, dan seorang gadis yang duduk di pangkuan kekasihnya. Tangan lelaki itu melingkari sang gadis—seperti sedang memberikan back hug.

Oh, ini bukanlah cara Kenma mengisengi Sakura sebenarnya. Kenyataannya ini adalah salah satu keinginan Kenma Kozume ketika memiliki kekasih.

Dan sepertinya Haruno Sakura harus mewujudkannya.

.


Level Up!,

End.


.

Wah, apa yang aku buat ini? sksksksk

Apakah kepanjangan? Atau cheesy? OOC? Mohon dimaafkan, ya :") entah kenapa suka dengan Kenma yang agak bold dan buat first move fufufu ~

Sekali lagi terima kasih untuk semua dukungannya lewat review, fav dan following story ini. Dan terima kasih untuk Yukito arui-san yang sudah kasih ide untuk bikin Kenma (untuk Kageyama dan Hinata kuusahakan tapi aku nggak janji ya, hehehe) dan twinsomnia-san yang nggak pernah bosan kasih semangat lewat komentarnya :) semoga kalian semua suka ya :)

Stay safe and happy holiday, you all! Sampai ketemu di one shot selanjutnya :)