standard disclaimer applied.
Masashi Kishimoto x Haruichi Furudate.
Tokyo. November 2020.
Salah satu ballroom di Palace Hotel Tokyo terlihat cantik dan elegan dengan dominasi warna putih dan dekorasi beraksen hitam dan emas. Lantunan musik klasik yang dibawakan oleh sebuah grup orkestra mulai terdengar saat pasangan pengantin yang menjadi tokoh utama hari ini berjalan memasuki ballroom.
Semua tamu undangan bertepuk tangan melihat Tanaka Ryūnosuke terlihat gagah dalam balutan tuksedo hitam, menggandeng perempuan cantik bergaun putih di sebelahnya, Kiyoko Shimizu. Semua orang tidak menyangka mantan wing spiker SMA Karasuno itu akhirnya menikah dengan mantan manajernya, mengingat berapa kali Tanaka ditolak mentah-mentah oleh Kiyoko. Dulu.
Selain Tanaka, ada satu orang lagi yang mengagumi Kiyoko. Dia adalah sahabat Tanaka. Karena itu, ketika undangan pernikahan Tanaka-Kiyoko beredar, semua orang membicarakan apakah sahabat Tanaka ini akan datang atau tidak. Terlebih, lelaki itu menghilang entah ke mana dan kabarnya hampir tidak pernah terdengar.
Pertanyaan itu terjawab ketika Nishinoya Yū, tokoh utama cerita ini, masuk tak berapa lama setelah Tanaka dan Kiyoko duduk di aisle. Kasak-kusuk tidak percaya dan terkejut terdengar cukup jelas. Tanaka yang menyadari hal itu tersenyum lebar sambil melihat dari kejauhan.
Tidak ada yang perlu dijelaskan, karena tidak semua orang memahami apa yang terjadi antara dirinya dengan Nishinoya.
.
.
La via dell'Amore
.
Haruno Sakura x Nishinoya Yū
.
Enjoy!
.
.
.
Tohoku, Prefektur Miyagi. September 2012.
Tahun depan tepatnya adalah tahun terakhir Nishinoya Yū sebagai seorang siswa di SMA Karasuno. Ia berjalan menyusuri koridor menuju gedung olahraga yang terkunci karena klub voli tidak sedang berlatih hari ini. Ia duduk di anak tangga di depan pintu, menyandarkan punggung dan menatap awan yang bergerak. Sepertinya akan menjadi hari yang bagus.
Pikirannya berputar pada hal-hal yang sudah dilaluinya selama SMA. Tiga hal yang paling berkesan baginya adalah voli—tentunya, keisengannya dengan Tanaka Ryūnosuke, dan… Kiyoko Shimizu? Sayangnya bukan.
Hal lain yang berkesan baginya adalah Haruno Sakura. Entah bagaimana ia dan Sakura selalu berada di kelas yang sama, padahal sekolahnya memiliki sistem shuffle untuk murid kelas dua dan tiga. Dan itu membuat Nishinoya menjadikan Sakura sebagai sasaran empuk atas keisengannya.
Haruno Sakura, gadis mungil bermata emerald dan berambut merah muda panjang. Parasnya cantik, dan ia selalu ceria. Yah… walaupun terkadang cukup galak—
"NISHINOYAAA!!!"
—seperti saat ini.
Jika kalian menyangka Nishinoya akan bersikap melankolis dan emosional saat ini, tentunya kalian salah besar. Kenyataannya, ia sedang melarikan diri dari Sakura yang sudah pasti akan mengamuk padanya karena-alasan-apapun.
Nishinoya menelan ludahnya susah payah. Ia tersenyum manis pada Sakura yang kini berjalan mendekat dengan tatapan tajam.
Hari ini bukanlah hari yang bagus.
.
.
.
Haruno Sakura tidak habis pikir kenapa ia dipasangkan dengan Nishinoya Yū untuk tugas presentasi literatur klasik. Setiap kelompok sudah diberikan materi dan topik berbeda, jadi mereka tinggal merangkum dan mempresentasikan pandangan mereka dan kesimpulan yang mereka dapat.
Yang paling membuat Sakura tidak habis pikir adalah partnernya. Sakura sudah mengirimkan hasil kerjanya pada Nishinoya satu minggu sebelumnya. Dan tadi pagi—jam lima pagi, lelaki itu baru mengirimkan bagiannya. Sialnya, Sakura baru mengeceknya di sekolah, saat jam istirahat.
Awalnya Sakura tidak merasa ada yang aneh. Ia memperhatikan materi yang Nishinoya kirimkan, tetapi ia tahu benar bahwa yang dikirimkan Nishinoya adalah hasil kerja Sakura. Sakura melihat jumlah slide presentasi itu memang bertambah, dari sebelas menjadi dua belas.
Maka setelah men-scroll, ia tahu apa yang sudah Nishinoya kerjakan: menambahkan halaman berisi ucapan terima kasih.
Perempatan siku-siku muncul di kening Sakura. Tadi saat bel istirahat berbunyi, Nishinoya langsung melesat keluar kelas. Ia bahkan tidak pergi dengan partner-in-crimenya, Tanaka Ryūnosuke.
Sakura mencari-cari ke seluruh bagian sekolah, dan menemukan libero klub voli Karasuno itu sedang duduk-duduk di depan gedung olahraga.
"Bisa kau jelaskan," Sakura mengatur napasnya setelah meneriakkan nama Nishinoya tadi. "Kenapa kau hanya menambahkan halaman terima kasih saja pada presentasi kita dan tidak memasukkan sesuatu dari materi yang ada?" tanyanya kesal.
Nishinoya mengacungkan kedua ibu jarinya. "Wow, Haruno, kau bisa bicara sangat cepat dalam satu tarikan napas!" pujinya tak tahu situasi.
"Nishinoya," panggilnya dengan nada berbahaya. "Jelaskan. Padaku. Sekarang!"
"Baiklah, baiklah," Nishinoya mengalah. Ia berdiri dan menepuk celananya. "Haruno, kau sudah memasukkan semua yang ada dalam materi ke dalam file presentasi itu."
"Apa? Aku?"
Nishinoya mengangguk. "Tentu saja. Ada delapan poin dalam presentasi itu, benar?" Sakura mengiyakan. "Dan kau merangkum semuanya. Dan karena aku ini orang yang sopan, aku berinisiatif memberikan ucapan terima kasih."
Sakura bersedekap. "Jadi ini semua salahku?"
"Lalu kau pikir ini salahku?" Nishinoya balas bertanya.
"Baiklah, maafkan aku." Sakura membuang pandangannya. "Jadi bagaimana kau mau membagi bagian presentasi ini?"
"Ada pilihan?"
"Aku menjelaskan poin satu sampai empat, lalu kau lanjutkan, atau sebaliknya. Atau…" Sakura menggantung kalimatnya.
"Atau?"
"Aku mempresentasikan bagian yang kukerjakan, begitu pula denganmu."
Nishinoya tampak berpikir sebelum memberinya tampang galak. "Aku tidak akan hanya mengucapkan terima kasih untuk presentasi itu!"
Sakura tergelak. "Baiklah. Kau jelaskan poin satu sampai empat, lalu aku melanjutkan." Sakura berbalik. "Sampai nanti, Nishinoya-kun."
Sakura berjalan menjauh dari gedung olahraga dengan senyum kemenangan, meninggalkan Nishinoya yang masih berdiri di tempatnya.
Tidak hanya kau yang bisa mengisengiku, Nishinoya-kun, batinnya puas.
.
.
Hari kelulusan. Maret 2013.
Hari ini adalah hari sotsugyō shiki—upacara kelulusan. Acara utama sudah berakhir beberapa saat yang lalu, dan kini semua murid kelas 3 SMA Karasuno masih berkumpul di aula untuk mengucapkan salam terakhir atau berfoto bersama.
Nishinoya Yū masih sibuk membicarakan soal kenangan bermain voli dengan Tanaka Ryūnosuke, Ennoshita Chikara, Narita Kazuhito dan Kinoshita Hisashi di luar aula. Mereka menertawakan kejadian-kejadian konyol dan momen mengharukan yang sudah dilalui bersama-sama di klub voli yang sudah mereka ikuti sejak kelas 1.
Nishinoya berhenti menceritakan soal ide 'rolling thunder'-nya saat menyadari Haruno Sakura menepuk bahunya pelan. Gadis itu tidak terlihat seperti biasanya. Biasanya Sakura akan memberinya tatapan galak, atau tertawa geli melihat tingkahnya. Kini ia hanya berdiri di dekat Nishinoya dengan kikuk.
"Oh, Haruno! Selamat atas kelulusanmu!" seru Nishinoya dengan senyum lebar, diikuti Tanaka, Kinoshita, Ennoshita dan Narita.
"Selamat atas kelulusan kalian semua juga," balas Sakura, tangannya bergerak gelisah. "Uhm…" ia melirik Nishinoya, yang masih memperhatikannya. Sakura menyodorkan kertas dengan kedua tangannya sambil membungkukkan badan pada Nishinoya. "Nishinoya-kun, kuharap kau mau membaca ini!" Sakura berkata cepat.
Nishinoya menerimanya dengan bingung, dan sebelum ia sempat mengatakan apa-apa, Sakura berbalik dan berlari kencang, menjauh dari keempat lelaki yang belum bereaksi.
"Eh? Bukankah itu pernyataan cinta?" Ennoshita yang pertama kali bersuara.
Tanaka yang kembali pada kesadarannya mulai tertawa keras. "Noya-san, akhirnya kau mendapat surat juga, ya!" katanya sambil menepuk punggung Nishinoya. "Noya-san?" panggilnya ketika tidak mendapat respon.
Nishinoya tahu, pada keadaan normal, ia akan tertawa bersama dengan Tanaka dan berkata dengan bangga karena mendapat surat berisi pernyataan cinta—walaupun belum membacanya. Tapi kali ini berbeda. Entah kenapa ia seperti membeku, dan dadanya berdebar keras sekali.
Sialan, ini lebih mendebarkan dari panggilan 'senpai' oleh Shōyō!
.
.
Cinque Terre, Italia. Juli 2019.
Matahari cerah jam sepuluh pagi menyinari wilayah pesisir Italia itu di musim panas. Angin laut berembus, menggoyang pelan pohon-pohon di dataran Cinque Terre.
Tentunya musim panas itu akan sempurna jika Haruno Sakura tidak nekat berlibur ke Cinque Terre sendirian di saat ia memiliki spatial dyslexia—buta arah yang cukup parah.
Ketika ia berangkat dari Firenze Campo di Marte menuju La Spezia Centrale, ia tidak mengalami kesulitan sama sekali. Tetapi saat ia melangkahkan kaki keluar dari stasiun, ia benar-benar kehilangan arah dan tidak tahu harus ke mana. Aplikasi navigasi GPS sama sekali tidak membantunya untuk mencapai Riomaggiore, dan kini ia berdiri bingung di depan Benso al mare, sebuah restoran pizza dekat La Spezia Centrale.
Sakura memantapkan diri lalu berjalan masuk ke dalam restoran. Setelah memesan pizza margherita dan secangkir kopi, Sakura keluar dan duduk di salah satu kursi kosong di area outdoor. Ia membuka ponsel sambil menunggu.
Pesanannya datang tak lama kemudian. Ia mengucapkan terima kasih, tapi tidak bisa menyelesaikan kalimatnya saat melihat seseorang yang berdiri di belakang pramusaji yang mengantarkan pizza dan kopinya.
"Sudah lama, ya, Haruno?"
.
.
Nishinoya mengecek hasil fotonya dan tersenyum puas. Sudut pengambilan gambarnya terlihat unik, mengingat cukup banyak fotografer memotret keindahan rumah-rumah bercat pastel di Riomaggiore dari sudut yang sama.
Nishinoya mematikan kameranya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia memakai AGV Dark Rider V2 lalu duduk di atas Ducati Monster 796 merahnya. Motornya melaju cepat di Via De Gasperi. Angin laut bertiup agak kencang dan hanya motor Nishinoya yang ada di jalanan di daerah berbukit itu—tidak adak yang cukup nekat untuk naik motor di daerah Riomaggiore yang berangin dan berkelok.
Lima belas menit kemudian, ia memasuki Via Aldo Moro dan berhenti di depan Benso al mare. Setelah melepaskan helm dan memarkirkan motornya, ia bergegas menuju restoran yang cukup terkenal akan pizzanya itu.
Nishinoya menimbang-nimbang akan memesan spaghetti atau ravioli saat melihat seseorang yang sangat mirip dengan Haruno Sakura duduk di bagian luar restoran. Ia mendekat, memastikan penglihatannya. Itu bukan orang yang mirip dengan Sakura. Orang itu benar-benar Sakura. Haruno Sakura yang enam tahun lalu memberikannya surat dan melesat pergi begitu saja.
Nishinoya berdiri tak jauh dari pramusaji yang sedang mengantarkan pesanan Sakura. Sakura menangkap pandangan Nishinoya dan ia berhenti bicara. Ia terbelalak sampai Nishinoya menghampirinya.
"Sudah lama, ya, Haruno?"
Sakura masih memandangi Nishinoya. Melihat reaksinya, Nishinoya terkekeh sambil menarik sebuah kursi di depan gadis itu.
"Boleh aku bergabung?"
"B-boleh! Ya, ya… kau boleh duduk di sana," katanya gelagapan ketika sudah kembali pada kesadarannya. Sakura berdeham, berusaha menenangkan diri.
Nishinoya meletakkan ranselnya di kursi kosong di sebelahnya. Ia lalu berdiri. "Sebelum kita mulai dengan, 'Apa kabar?' dan 'Apa yang kau lakukan di sini?', bagaimana kalau aku memesan dulu?"
Sakura duduk di bangkunya dengan dada berdebar keras. Sudah enam tahun lebih ia tidak bertemu dengan Nishinoya. Terakhir melihat Nishinoya adalah saat upacara kelulusan, saat Sakura memberikan surat untuk Nishinoya sebelum ia berlari kabur karena malu dengan wajah merah padam.
Nishinoya kembali tak sampai sepuluh menit kemudian. Ia duduk, lalu memberikan senyum lebarnya seperti biasa.
"Oke, ayo kita mulai. Jadi… apa kabar, Haruno?"
Sakura tertawa kecil. "Baik, sebenarnya… Kau sendiri, bagaimana kabarmu, Nishinoya-kun?"
Dahi Nishinoya berkerut. "'Sebenarnya'? Apa maksudnya itu?" Ia lalu menunjuk makanan di depan Sakura. "Dan jangan sungkan untuk makan duluan, oke? Aku baik, omong-omong."
Sakura berdeham. "Aku akan makan setelah pesananmu datang." Ia melihat Nishinoya hendak membuka mulut, jadi ia memotongnya, "Dan kau tidak boleh protes."
Nishinoya terkekeh. "Baiklah. Tapi kau belum menjawab pertanyaanku tadi."
Sakura mengangkat bahunya. "Keadaanku baik, tapi tidak terlalu baik saat ini. Aku sedang tersesat."
"Tersesat?! Maksudnya kau tersesat dari Jepang sampai ke sini? Ke Italia?" tanya Nishinoya heboh.
Sakura tertawa. "Apa? Tidak, itu konyol! Aku kuliah di Florence dan memutuskan untuk, yah… kau tahu, me time… berjalan-jalan sendiri, menikmati hari libur. Kudengar Riomaggiore terlihat cantik di musim panas. Tapi begitu keluar dari La Spezia Centrale, aku kehilangan arah. Jadi aku memutuskan ke sini."
Nishinoya meledakkan tawanya. "Astaga, Haruno, aku lupa kalau kau ini buta arah!" Ia melihat Sakura mendengus padanya. "Kau bahkan kebingungan mencari booth ketika festival musi semi di SMA dulu."
"Aku kira itu bukan hal besar dan bisa mengatasinya. Tapi melihat betapa payahnya aku membaca arah di aplikasi navigasi, aku tahu ternyata itu adalah hal yang cukup serius."
"Cukup serius? Haruno, itu hal yang sangat serius," nada Nishinoya berubah serius. "Kau beruntung masih ada di daerah kota—ya walaupun bukan pusat kota. Bagaimana kalau kau tersesat di desa terpencil atau tengah hutan?"
Setelah Nishinoya memberinya berbagai nasihat, pesanannya datang. Mereka makan dalam diam, dan ketika mereka menyelesaikan makan siang mereka, Nishinoya memberikan sebuah penawaran.
"Aku baru saja dari Riomaggiore," katanya, membuat mata hijau Sakura membulat. "Aku menginap di sana selama beberapa hari karena ada yang sedang kukerjakan di daerah sini. Kau mau ikut aku—ah, tidak. Kau harus ikut denganku sebelum kau menghilang entah ke mana."
Sakura meringis mendengarnya. "Aku tidak punya pilihan, kan?"
Nishinoya menggeleng sambil mengeluarkan sebuah jaket dari ranselnya. "Punya, tentu saja. Tapi tidak diizinkan memilih," guraunya. "Dan pakai ini," ia melirik sekilas kaus klasik broken white dan short jeans Sakura. "Kau bisa sakit jika naik motor hanya dengan kaus."
Sakura menerimanya dengan wajah bersemu. Ia menutupinya dengan batuk kecil sebelum berterima kasih dengan suara pelan dan memakainya.
Jantungnya berdebar keras saat mencium parfum Nishinoya di hoodie itu. Ia harap ia bisa mengenyahkan perasaannya sekarang, karena saat ini ia merasa Nishinoya seperti sedang memeluknya.
Bloody hoodie.
.
.
.
Sakura berdecak kagum saat motor Nishinoya berhenti di dekat Via dell'Amore. Jalan setapak di tebing di pinggir laut itu terlihat sepi dan tenang, walaupun angin bertiup agak kencang.
Nishinoya berjalan di sebelah Sakura yang sedang mengamati sekitarnya dengan mata berbinar. Terkagum dengan yang dilihatnya, Nishinoya mengeluarkan kamera dari ranselnya dan mengarahkan kamera pada Sakura.
Sebuah foto siluet profil wajah Sakura dengan pemandangan laut dan langit biru tanpa awan sebagai latar belakangnya adalah hal sederhana yang ternyata membuat mood Nishinoya untuk memotret meningkat drastis.
Sakura mendengar suara shutter kamera, jadi ia menoleh pada Nishinoya saat Nishinoya sedang menekan shutter-nya. Nishinoya mengangkat wajahnya dari kamera dan menemukan Sakura sedang tersenyum kecil padanya. Ia terperangah melihat Sakura dengan rambut pendeknya tertiup angin laut.
"Apa aku boleh meminta hasil fotonya nanti, Nishinoya-kun?"
Nishinoya mengangguk sambil tersenyum lebar. "Tentu saja," ia lalu berjalan mengikuti Sakura yang mendekati railing dan memandang ke kejauhan.
Sakura melihat sesuatu pada lengan Nishinoya. Nishinoya menangkap arah mata Sakura, lalu menunjukkan lengannya pada Sakura.
"Kau mau tahu tattoo apa ini, Haruno?"
"Kalau kau tidak keberatan."
Nishinoya tersenyum samar. "Aku bukan orang yang filosofis. Seperti yang kau lihat, ini adalah bentuk matahari terbenam. Arti namaku—Yū, adalah petang, jadi aku menggambarkannya dengan ini. Lalu yang ini," ia menunjuk sebuah tattoo di sebelah bentuk matahari terbenamnya, "ini adalah bunga sakura. Mungkin karena aku orang Jepang, makanya aku menggunakan ini. Atau mungkin karena aku sering bertengkar denganmu dulu dan merasa itu berkesan," candanya.
Sakura terbelalak. "Kau tidak bisa bersikap lembut seperti tadi saja, ya, Nishinoya-kun?" Ia berdeham dan mengalihkan pandangannya. "Aku tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Aku kira hal paling menarik di Riomaggiore adalah rumah bercat warna-warni di tepi laut."
Nishinoya tidak menjawabnya. Ia menghela napas, membuat Sakura menoleh padanya. "Jalan ini menghubungkan Riomaggiore dan Manarola. Nama jalan setapak ini adalah Via dell'Amore. Dan aku yakin kau tahu apa artinya," Nishinoya mengalihkan pandangannya pada Sakura yang mengerjap beberapa kali.
Via dell'Amore. Pathway of love. Jejak cinta.
"Kau pasti bertanya-tanya kenapa sejak tadi aku tidak membahas soal surat yang kau berikan padaku enam tahun lalu. Apa aku benar?"
Sakura mengangguk kaku. Nishinoya tersenyum kecil. "Sejujurnya, aku tidak tahu harus melakukan apa saat itu. Kita biasanya meributkan banyak hal dan tidak pernah akur. Lalu tiba-tiba kau menuliskan surat yang begitu manis padaku. Apa kau pikir aku tidak bingung, Haruno?"
Sakura menggigit bibirnya. "Maaf, aku tidak tahu kau berpikir begitu," ucapnya lirih.
"Tidak, tidak, kau salah mengartikannya," kata Nishinoya setengah panik. "Maksudku adalah, aku butuh waktu untuk memproses semuanya, Haruno—atau boleh kupanggil Sakura mulai sekarang?"
Sakura merasakan sensasi geli pada perutnya. Ia hanya mengangguk kecil sambil berusaha mengendalikan debar jantungnya yang mulai terpacu cepat.
"Aku tahu kau menyukai Shimizu senpai sejak kelas satu, tapi aku tetap memberikanmu surat itu. Aku benar-benar tidak berpikir saat itu, Noya-kun."
Nishinoya tersenyum mendengar Sakura memanggilnya 'Noya'. Bukan Yū, bukan Nishinoya, tapi 'Noya'. Tanaka juga memanggilnya 'Noya', tapi mendengar panggilan itu dari Sakura membuatnya senang luar biasa. Ditambah dengan sufiks '-kun' yang gadis itu berikan.
"Jadi kau pikir aku menyukai Kiyoko-san, ya?"
"Semua orang juga tahu bahwa kau dan Tanaka-kun menyukai Shimizu senpai."
"Ha… Ternyata orang-orang senang membuat kesimpulan sendiri, ya," Nishinoya menunduk, melihat kerikil di pinggir railing dan menendang-nendang pelan. "Ryū menyukai Kiyoko- san sejak pandangan pertama, itu benar. Dia bahkan langsung melamarnya," katanya sambil tersenyum mengingat kejadian itu. "Tapi aku hanya mengagumi Kiyoko-san. Seperti penggemar yang mengagumi idolanya. Begitulah. Tapi ternyata orang-orang tidak berpikiran begitu, ya."
"Lalu soal surat itu…"
Nishinoya mengangkat kepalanya dan menatap Sakura lurus-lurus. "Kau bilang, kau menyukaiku setelah kita dipasangkan dalam kelas literatur klasik, benar? Kalau dipikir-pikir, saat itu aku sudah menyukaimu duluan. Tapi aku tidak menyadarinya."
Sakura terbelalak. "Kau tidak sedang mengerjaiku, kan?"
"Aku juga baru menyadarinya sekarang," balas Nishinoya serius.
"Apa?"
"Intinya ada sebuah kejadian di kelas dua yang tanpa sadar membuatku mulai menyukaimu."
"Dan kejadian apa itu? Aku tidak pernah mencari gara-gara denganmu kelas dua," kata Sakura bingung.
Nishinoya menyeringai. "Aku akan memberitahumu kalau kau menjawab tiga pertanyaanku."
"Baiklah. Apa itu?"
"Pertanyaan pertama. Apa kau sudah memiliki pacar?"
Sakura mengerjap. "Ugh… belum…?" balasnya bingung.
"Bagus. Pertanyaan kedua. Apa kau mau memiliki pacar?"
Sakura tidak tahu bagaimana raut wajahnya sekarang, yang jelas ia dibuat kebingungan dengan sikap Nishinoya. Tapi karena penasaran setengah mati dengan kejadian di kelas dua yang Nishinoya maksud, ia menghela napas dan menjawabnya juga.
"Tentu saja!" katanya sambil melipat kedua tangan di depan dada. Ia sudah masa bodoh dengan kemungkinan wajahnya yang memerah atau ekspresi aneh yang mungkin ia tunjukkan sekarang.
Nishinoya mengangguk puas. "Pertanyaan terakhir, kau harus memilih oke?"
Sakura mengangguk patuh.
"Kau lebih memilih aku jadi pacarmu atau kau jadi pacarku?"
Sakura mematung. Ia tidak salah dengar, kan? Tidak mungkin, karena Nishinoya bertanya dengan jelas, mengalahkan suara deburan ombak dan gemerisik angin yang meniup daun-daun. Lalu selain mereka, tidak ada orang lagi di sana.
"Tik… tok… Ayo, Sakura, cerita ini tidak bisa menunggu sampai matahari terbenam."
Sakura tersadar. Ia meremas ujung celana pendeknya, berusaha mengalahkan rasa gugupnya sebelum membuka mulut. "Kau tidak memberiku pilihan, ya," katanya dengan tawa gugup.
"Aku memberikanmu pilihan, kok. Yang harus kau lakukan adalah memilihnya. Jadi, yang mana yang kau—"
Giliran Nishinoya yang mendadak membeku di tempat. Ia tidak menyangka Sakura akan mengecup pipinya sesaat sebelum menjauh dengan wajah merah padam.
Nishinoya memandang Sakura yang balas memandangnya dengan kegugupan luar biasa. Dan seperti yang pernah terjadi sebelumnya, Sakura segera berbalik untuk berlari menjauhi lelaki itu. Tapi Nishinoya yang sudah mengetahui hal ini akan terjadi bertindak lebih cepat. Ia memegang lengan Sakura dan menariknya mendekat.
Sakura memekik kecil saat kepalanya mengantuk dada Nishinoya yang memeluknya. Sejak kapan mantan libero Karasuno itu jadi setinggi ini? Bukankah mereka berdua adalah yang terpendek di angkatan mereka?
"Kenapa kau selalu berusaha kabur setelah membuatku berdebar tidak jelas, hm?"
Sakura memejamkan matanya rapat-rapat, tidak berani bergerak dan menjawab Nishinoya. Nishinoya memegang bahu Sakura dan menjauhkan diri, melihat Sakura yang masih memejamkan mata.
Ia tertawa dan mengacak rambut Sakura gemas sebelum membawa gadis itu kembali dalam pelukannya. "Apapun pilihanmu sepertinya membuat kita berpacaran, ya, Sakura," kekehnya sambil mengelus rambut Sakura.
Sakura membalas pelukan Nishinoya dan menyamankan diri. "Kalau kau juga menyukaiku, kenapa kau tidak menjawab suratku?"
Nishinoya meletakkan dagunya di puncak kepala Sakura. "Karena saat itu aku belum yakin dengan perasaanku sendiri. Tapi satu hal yang aku yakini adalah, kalau kau memang ditakdirkan denganku, kita akan bersatu bagaimanapun caranya." Ia melepaskan pelukannya, mundur selangkah dan memegang kedua pipi Sakura yang terasa hangat di tangannya. "Buktinya sekarang kita bertemu di tempat yang tidak terduga."
Sakura terkesiap sebelum tersenyum kecil. "Via dell'Amore."
Nishinoya mengangguk sambil balas tersenyum. "Via dell'Amore," katanya, sebelum mendekatkan wajah pada Sakura yang sudah memejamkan mata.
Seperti yang dilakukan pada Riomaggiore dan Manarola, Via dell'Amore sekali lagi menunjukkan kekuatan magisnya; mempersatukan Nishinoya Yū dan Haruno Sakura di Cinque Terre, tempat yang tidak mereka duga sebelumnya.
.
.
.
Tujuh tahun sebelumnya.
Hari ini termasuk dalam salah satu hari yang bersejarah bagi Nishinoya Yū. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia dipanggil 'senpai'. Jadi sebagai balasan karena Hinata Shōyō memanggilnya 'senpai', ia akan mentraktir adik kelasnya itu es serut.
Nishinoya memasuki toko kelontong di dekat Karasuno. Bahkan dengan mata tertutup ia tahu di lorong mana tempat lemari pendingin berisi es berada. Saat ia tiba, ia mendapati teman sekelasnya sejak kelas 1, Haruno Sakura, sedang memegang dua Gari-Gari Kun rasa choco-mint di kedua tangannya. Dan sialnya, itu adalah dua Gari-Gari Kun choco-mint yang tersisa.
Informasi tambahan, selain rasa soda, choco-mint adalah rasa Gari-Gari Kun favorit Nishinoya.
Nishinoya tidak mau membiarkannya begitu saja, jadi ia membuka mulutnya, "Haruno, kau tidak mengambil es-es itu," katanya dengan nada serius.
Haruno Sakura menoleh bingung. "Apa?" tanyanya dengan mata bulatnya. Poninya yang sudah melebihi alis terlihat kontras dengan warna matanya yang hijau jernih.
"Kau boleh mengambil rasa apapun kecuali yang choco-mint," jelas Nishinoya, bersikeras mempertahankan wibawa dalam suaranya.
Di luar dugaan, Sakura hanya tertawa lepas sambil menaruh kembali es serut rasa choco-mint itu. "Baiklah, baiklah. Aku sudah menaruhnya kembali. Kau boleh memiliki keduanya, oke?" Sakura lalu mengambil dua es serut rasa semangka. Ia menatap Nishinoya tepat di mata lalu tersenyum geli. "Kau bisa mengambilnya sekarang, sebelum ada yang merebutnya."
Ia lalu berbalik, meninggalkan Nishinoya yang mematung di tempat. Nishinoya tidak bergerak, tapi satu hal berulang-ulang terucap dalam pikirannya.
Warna matanya... seperti Gari-Gari Kun choco-mint!
.
.
"Jadi, kapan kalian akan menyusulku dan Shimizu- san untuk menikah?"
Nishinoya dan Sakura kompak menunjukkan jari manis mereka, membuat Tanaka dan Kiyoko—Shimizu yang berdiri di aisle terbelalak tidak percaya.
"Tunggu aku, Sobat. Tidak lama lagi," kata Nishinoya, mengedipkan sebelah matanya pada pasangan yang baru menikah itu.
Ia lalu menggandeng Sakura dan kembali bergabung dengan para tamu undangan yang memandang mereka kagum, tidak percaya kedua orang itu akan bersatu setelah sering bertengkar saat SMA.
Tim orkestra mulai memainkan lagu dengan tempo pelan, dan Nishinoya menarik Sakura ke tengah ballroom, memeluk pinggang gadis itu dan bergerak mengikuti irama. Ia menempelkan dahinya pada dahi Sakura. Mata coklatnya memandang dalam mata hijau Sakura.
"Aku janji kita akan segera menyusul Ryū dan Shimizu- san," kata Nishinoya tanpa melepaskan tatapannya.
Sakura bersemu merah. "Aku tahu."
Nishinoya mengecup pelan bibir Sakura. "Aku mencintaimu."
Sakura tersenyum. "Aku juga mencintaimu."
.
.
Tanaka memandang dari kejauhan, menggeleng pelan pada istrinya. "Dia mencuri perhatian semua tamu."
Shimizu tertawa kecil. "Tapi kulihat kau sama sekali tidak keberatan?"
Tanaka tersenyum lebar. "Tentu saja." Ia lalu beralih pada Shimizu. "Mau bergabung dengan Noya-san di tengah sana?"
Shimizu tersenyum cerah, membuat Tanaka masih tidak percaya bisa menikahi perempuan impiannya itu.
"Tentu."
Ya, semua orang punya Via dell'Amore mereka masing-masing, kan?
.
.
La via dell'Amore,
End.
.
.
Happy twenty-twenty one, guys! Walaupun telat sehari nggak apa-apa, ya hehehe. Maaf kalau plot cerita yang aku buat flat dan ngebosenin, tapi aku harap kalian tetap bisa nikmatin cerita ini :")
Sekali lagi terima kasih buat semua dukungannya. Aku harap kalian nggak bosen baca oneshot yang kutulis. Sampai jumpa di oneshot berikutnya, ya! Stay safe and take good care you all ;)
