standard disclaimer applied.
Masashi Kishimoto x Haruichi Furudate.
[ insert background music: Glenn Lumanta Jeremy Passion - Just Saying]
Perspective
.
Haruno Sakura x Akaashi Keiji
.
Mostly narrative. Enjoy!
.
.
.
Haruno Sakura adalah seorang overthinker. Yaaa… tidak separah Yamanaka Ino, sahabatnya, tapi ia suka memikirkan skenario terburuk dari suatu kejadian. Salah satu contohnya adalah saat ia tak sengaja mendapati Akaashi Keiji, adik kelasnya, sedang menatapnya dari seberang kelas. Ia meyakinkan diri bahwa Akaashi tidak sedang melihat ke arahnya, karena itu tidak akan mungkin terjadi.
Tapi sebuah cerita tidak hanya didasarkan pada satu perspektif saja, kan?
.
.
Story 1 - Do you notice me?
Sabtu pagi, dan Haruno Sakura memasuki sebuah ruang kelas dibantu Yamanaka Ino. Ia terpaksa mengikuti kelas tambahan untuk beberapa mata pelajaran karena beberapa waktu yang lalu tulang metacarpal tangan kirinya—tulang yang menghubungkan pergelangan tangan dengan ruas jari—retak setelah ia bermain voli dalam pelajaran olahraga.
Terlihat beberapa anak laki-laki yang jarang dilihatnya sudah berada di dalam kelas. Karena mengikuti kelas tambahan, maka ia harus bergabung dengan adik dan kakak kelasnya.
Sakura duduk dengan hati-hati. Ino membantu Sakura menyimpan tasnya, lalu ikut duduk di meja di depan Sakura.
"Saki, kau mau aku duduk di sini sepanjang pelajaran atau aku bisa menunggu di luar?"
Sakura tertawa, tahu benar Ino tidak akan betah berada di kelas selama itu, apalagi ia tidak mengikuti kelas tambahan. Ia hanya menemani Sakura ke sekolah karena teman sekelas sekaligus sahabatnya sejak SD itu tidak tega melihatnya sendirian mengikuti kelas tambahan.
"Kau boleh menungguku di mana saja, Ino. Aku akan mengabarimu kalau sudah selesai di sini."
Ino berdiri dan menepuk pipi Sakura sebelum melambai dan berjalan ke luar kelas. "Baiklah, Haruno Sakura, aku mencintaimu!"
Sakura menghela napas dan memandang tangan kirinya yang terbebat perban kain. Kalau begini ia akan kesulitan mengambil barang dan mengetik di laptopnya.
Guru Literatur Kontemporer mereka memasuki kelas. Sakura mengambil buku dengan sebelah tangannya yang tidak sakit. Saat sedang berbalik untuk membetulkan letak tasnya, ia menangkap pandangan seseorang dari seberang mejanya.
Dari yang Sakura tahu, itu adalah Akaashi Keiji, anak kelas 1. Ia cukup terkenal di kalangan anak kelas 2 karena dekat dengan Bokuto Kōtarō, teman sekelas Sakura. Mereka berdua dekat karena tergabung dalam klub voli.
Sakura langsung memalingkan pandangannya dan berusaha fokus pada pelajaran tambahannya. Ia yakin Akaashi tidak sedang melihat ke arahnya. Ia hanya terkesima karena adik kelasnya yang… ugh, tampan dan keren itu memandanginya.
Setidaknya itu yang dipikirkannya.
.
.
Akaashi Keiji sudah duduk di dalam kelas untuk mengikuti kelas tambahan yang dimulai jam delapan nanti. Karena sering absen untuk mengikuti latihan pagi atau latihan setelah jam istirahat, mau tidak mau ia mengikuti kelas tambahan untuk mengejar ketertinggalannya.
Ia sedang membuka-buka bukunya saat melihat dua orang murid, yang seingatnya adalah teman sekelas Bokuto Kōtarō, memasuki kelas. Akaashi melihat seseorang yang berambut merah muda berjalan pelan ke meja di seberangnya dengan tangan terbebat perban kain.
Ia masih memperhatikan gadis itu saat melihat gadis itu tertawa. Oke, Akaashi akui ia suka melihat dan mendengarnya tertawa. Lalu ketika perempuan yang berambut pirang berdiri, ia mendengar seseorang yang dipanggil Ino itu melambai sambil berkata, "Baiklah, Haruno Sakura, aku mencintaimu!"
Akaashi tersenyum samar sambil mengingat nama itu; Haruno Sakura.
Guru mereka masuk tak berapa lama kemudian. Ia masih memperhatikan Sakura yang sedang kesulitan mengambil bukunya. Dan ketika gadis itu membetulkan posisi tasnya, ia menangkap pandangan Akaashi.
Akaashi tidak mengalihkan pandangan, merasa terpaku, sampai akhirnya Sakura kembali melihat ke depan tanpa menoleh lagi sampai akhir pelajaran.
Seandainya gadis itu tahu, Akaashi tertarik padanya setelah tawa pertama. Oke, itu aneh, tapi Akaashi harap Sakura tahu bahwa ia berhasil membuatnya tertarik pada seorang gadis.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
.
.
Story 2 - I guess it's not my business…
Ini adalah Sabtu ketiga Sakura mengikuti kelas tambahan. Pelajaran tambahannya ditutup dengan Matematika yang membuatnya pening. Ia hendak membereskan barangnya ketika seorang teman sekelasnya memberitahunya bahwa ia harus menemui wali kelas mereka untuk membicarakan soal jadwal kelas tambahan yang harus diambilnya beberapa minggu lagi.
Sakura hanya menutup asal bukunya dan berjalan keluar kelas. Ia lalu memasuki ruang guru, dan lima belas menit kemudian ketika ia kembali ke kelasnya, hanya ada Akaashi Keiji di sana, sedang menutup risleting tas.
Akaashi melihat Sakura yang memasuki kelas dengan kikuk sebelum berdiri dan meninggalkan Sakura di kelas yang kosong.
Dahi Sakura berkerut. Bukankah klub voli sudah mulai berlatih sejak jam pelajaran tambahan berakhir? Lalu kenapa Akaashi tidak segera keluar kelas dan berlatih?
Sakura melirik sekilas tasnya yang setengah tertutup dan barang-barangnya yang belum dibereskan. Apa jangan-jangan…
Sakura menggelengkan kepalanya, menepis pemikiran bahwa Akaashi menunggui barang-barangnya sebelum ia kembali. Lagipula apa yang dilakukan laki-laki berambut biru tua itu bukan urusannya, kan?
Tentu saja bukan. Ia hanya penasaran. Yah… penasaran yang teramat sangat pada sosok Akaashi Keiji.
.
.
Kelas Sabtu ini selesai tepat waktu. Konoha Akinori, anak kelas 2 sekaligus teman satu klubnya yang kebetulan baru mengikuti ujian susulan, menepuk pundak Akaashi.
"Ayo, kita turun sekarang," katanya. "Bokuto sudah turun, sepertinya sedang berganti pakaian."
Akaashi mengangguk. Ia melihat keadaan kelas yang sepi, lalu matanya melihat tas Sakura yang tidak tertutup rapat dan barang-barangnya yang belum dibereskan.
Akaashi memutar otak. Ia tidak mungkin, kan, sembarangan menyentuh barang gadis itu meskipun dengan alasan membereskannya?
Akaashi berdeham sambil melonggarkan ikatan dasinya. "Konoha-san, turunlah duluan. Tadi Kimura sensei meminta anak kelas 1 untuk menyalin itu," tunjuknya pada kumpulan rumus yang tertulis di papan tulis.
Konoha mengikuti arah tunjuk Akaashi, lalu mengangguk mengerti. "Kalau begitu aku duluan, ya."
"Tolong sampaikan pada Yamiji sensei aku akan segera menyusul."
Sepeninggal Konoha, Akaashi mengembuskan napas pelan. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia sampai berbohong segala hanya karena tidak tega meninggalkan barang Sakura di kelas yang kosong.
Lebih dari sepuluh menit berlalu dan tanda-tanda Sakura akan segera kembali belum juga terlihat. Akaashi mulai membereskan barangnya. Saat ia menutup tasnya, ia mendengar langkah kaki mendekati kelas dan detik berikutnya Sakura memasuki kelas.
Ia mengerjap beberapa kali mendapati Akaashi masih berada di sana. Akaashi tidak tahu harus melakukan apa, jadi ia berdiri dan langsung berlalu begitu saja tanpa mengatakan apa-apa.
Tadi itu terlihat natural, kan? pikirnya, sebelum menuruni tangga dengan langkah cepat.
Tadi itu terlihat natural, tentu saja, katanya meyakinkan diri sendiri.
.
.
Story 3 - Keep the distance
Sakura berjalan gugup di sebelah Akaashi. Ia dan Akaashi diminta untuk ke ruang guru sebagai perwakilan kelas 2 dan kelas 1 untuk mengambil print out materi. Khusus untuk Sakura, ia terpaksa ke ruang guru karena hanya ia satu-satunya anak kelas 2 di kelas itu.
Tangan Sakura sudah sembuh, ia tidak perlu bantuan Ino untuk menemaninya di sekolah sepanjang hari, jadi Ino hanya datang sewaktu-waktu atau sekadar untuk menemaninya makan siang. Ia juga sudah melepas perbannya, jadi ia sudah baik-baik saja.
Ketika hendak membuka pintu ruang guru, Akaashi mendahuluinya dan menahan pintu itu terbuka untuknya. Sakura menggumamkan terima kasih dengan canggung sebelum masuk, diikuti Akaashi yang sudah menutup pintu di belakangnya.
Setelah diberikan sedikit pengarahan, mereka kembali ke kelas. Entah kenapa perjalanan kali ini terasa semakin lama. Sakura semakin tidak enak karena Akaashi menawarkan diri untuk membawakan print out materinya—lelaki itu langsung mengambilnya tanpa berkata apa-apa, padahal Sakura sudah mengatakan bahwa ia sudah benar-benar sembuh.
"Haruno-san, benar?"
Sakura terkesiap mendengar Akaashi memecah kesunyian di antara mereka. Ia mengangguk kecil sambil mengikuti langkah Akaashi yang panjang.
"Boleh aku bertanya, apa yang terjadi dengan tanganmu kemarin?"
Sakura mengedipkan matanya beberapa kali. Apa ini benar-benar Akaashi Keiji yang sedang mengajaknya berbicara sepanjang koridor? Dan astaga, Sakura suka suara lelaki ini.
"Tentu," kata Sakura, berusaha terdengar biasa. "Aku cedera saat pelajaran olahraga. Saat itu kami bermain voli, lalu entah bagaimana aku jatuh dan tulang metacarpal-ku retak. Jadi… begitulah."
Akaashi menganggukkan kepalanya. Mereka kembali diam saat menaiki tangga. Akaashi menggeser pintu kelas dengan sikut dan lengan atasnya, lalu lagi-lagi mempersilahkan Sakura untuk masuk duluan. Ia lalu meletakkan materi Sakura di atas meja gadis itu sebelum berlalu untuk membagikan materi pada teman-temannya.
Sakura menghela napas. Ia kira ia sudah selangkah lebih dekat dengan Akaashi, nyatanya lelaki itu masih bertahan menjaga jarak di antara mereka.
.
.
Akaashi tidak dapat menahan perasaan senang ketika akhirnya ia bisa berjalan bersama dengan Sakura walaupun itu karena mereka diminta untuk ke ruang guru. Ia juga senang melihat perban kain yang membebat tangan gadis itu sudah dilepas.
Tapi ia juga tidak dapat mengabaikan perasaan khawatir yang dirasakannya ketika membayangkan Sakura harus membawa print out materinya nanti—materi pelajaran Bahasa dan Kebudayaan terkenal banyak.
Mereka tiba di ruang guru. Sebelum Sakura mencapai pintu, ia bergerak lebih dulu dan membuka pintu di depan mereka, mempersilahkan Sakura untuk jalan lebih dulu.
Guru Bahasa dan Kebudayaan mereka memberikan cukup banyak materi seperti yang Akaashi duga. Maka ia berinisiatif mengambil materi Sakura juga tanpa mengatakan apa-apa.
Mereka berjalan bersisian di koridor yang sepi. Akaashi menoleh ke kiri dan mendapati Sakura sedang memandangi tangan kirinya yang sudah tidak dibebat.
"Haruno-san, benar?"
Sakura mengangkat kepalanya. Ia mengangguk kecil. Akaashi menyadari langkahnya yang terlalu cepat, jadi ia memelankan langkahnya untuk mengimbangi Sakura.
Akaashi mengatur napas sebelum memberanikan diri untuk bertanya, "Boleh aku bertanya, apa yang terjadi dengan tanganmu kemarin?"
Sakura terlihat sedikit kaget. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, terlihat sangat lucu bagi Akaashi. "Tentu," katanya, terdengar sedikit gugup. "Aku cedera saat pelajaran olahraga. Saat itu kami bermain voli, lalu entah bagaimana aku jatuh dan tulang metacarpal-ku retak. Jadi… begitulah."
Akaashi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, bingung harus merespon apa. Mereka lalu kembali diam saat menaiki tangga.
Dan ketika mereka memasuki kelas, ia langsung menaruh materi Sakura di meja gadis itu dan bergegas membagikan materi untuk teman-temannya.
Ia tidak bermaksud untuk bersikap tidak sopan, tapi ia harus menahan debaran jantungnya yang kelewat kencang setelah berhasil bicara dengan Sakura untuk pertama kalinya.
.
.
Story 4 - Couldn't leave you alone
Sabtu ini adalah Sabtu terakhir Sakura mengikuti kelas tambahan. Jujur saja ia senang karena akhirnya ia bisa bebas bermalas-malasan di akhir pekan. Tapi ia tidak sepenuhnya senang. Alasannya untuk bisa melihat Akaashi pun hilang setelah kelas hari ini berakhir.
Walaupun hanya sekali-dua kali berbicara dengan Akaashi, ia ingin mengenal Akaashi lebih jauh. Ia ingin menjadi salah satu orang yang bisa tertawa bersama dengan lelaki bermata gunmetal blue itu. Ia tahu harapannya itu berlebihan, karena sepertinya Akaashi tidak mempermasalahkan keadaan mereka sekarang—hubungan yang biasa-biasa saja.
Sakura menghela napas. Saat ini adalah jam istirahat. Biasanya Ino mendadak muncul untuk menemaninya makan, tapi Ino sedang pergi ke pusat kota sehingga Sakura hanya menatap roti isinya dengan tidak berselera.
Semua orang sepertinya makan bersama teman mereka di kantin atau di taman sekolah, tidak di kelas seperti Sakura. Astaga, kenapa ia jadi terlihat menyedihkan begini.
Sakura mulai memakan roti isinya saat pintu kelas bergeser terbuka semakin lebar. Akaashi membawa kotak bento di tangannya dengan sebotol air mineral. Napasnya terengah. Bagian paling mengejutkan dari itu adalah, ia menghampiri Sakura yang belum menelan rotinya.
"Haruno-san, boleh aku makan bersama denganmu?"
Sakura menelan makanannya dengan susah payah. "Te-tentu saja, Akaashi-san."
Akaashi membalik kursi di depan Sakura. "Tidak perlu seformal itu, Haruno-san."
"Uh, baiklah, Akaashi-kun."
Sakura berharap Akaashi tidak menyadari wajahnya yang memerah, karena ia sendiri dapat merasakan hawa panas menjalari leher dan pipinya.
Akaashi mulai memakan bento-nya. "Temanmu tidak datang, ya?"
"Ino? Dia sedang ke pusat kota hari ini."
Akaashi menganggukkan kepalanya. "Karena itulah aku datang untuk menemanimu, kalau kau tidak keberatan."
"Aku tidak keberatan sama sekali! Sungguh! Aku justru senang, sangat senang!"
Sakura menutup mulutnya saat menyadari perkataannya. Ia melihat Akaashi tersenyum samar, tapi lelaki itu tidak meresponnya dan melanjutkan makan siangnya.
"Ah, hahaha," Sakura memaksakan tawa canggung. "Aku tidak bermaksud begitu, kok. Maaf kalau itu terdengar aneh."
Akaashi mengangkat wajah dari bento-nya dan menatap Sakura. Mulutnya penuh dengan makanan, dan ia terlihat mati-matian menahan senyum. Sakura mendengus melihatnya, tapi tak pelak ia juga tersenyum kecil.
Ia harus berterima kasih pada Ino karena sudah ke pusat kota hari ini.
.
.
Akaashi menunggu Yamanaka Ino di dekat tangga menuju kelas mereka, memastikan perempuan blonde itu akan datang dan menemani Sakura makan di kelas. Tapi setelah beberapa menit berlalu, ia tidak melihat Ino datang.
Akaashi menimbang-nimbang langkahnya. Ia berdecak, lalu segera menaiki anak tangga dua-dua dan berlari menuju kelas. Ia menggeser pintu dan mendapati Sakura yang sedang memakan roti isinya, menatapnya bingung dan kaget.
Akaashi mengatur napasnya sebelum berjalan menghampiri Sakura. Tanpa berbasa-basi ia berusara, "Haruno-san, boleh aku makan bersama denganmu?"
Sakura tampak kesulitan menelan makanannya, jadi Akaashi menunggunya menjawab. "Te-tentu saja, Akaashi-san."
Akaashi menaruh bento dan botol minumnya di atas meja yang sama dengan Sakura. Ia lalu menarik kursi di depan Sakura dan membaliknya agar bisa menghadap Sakura.
"Tidak perlu seformal itu, Haruno-san."
"Uh, baiklah, Akaashi-kun."
Akaashi bersumpah ia melihat Sakura merona sambil menundukkan kepalanya. Ia menenggak minumnya, menutupi rasa gemasnya melihat Sakura.
Akaashi duduk, lalu mulai memakan bento-nya. "Temanmu tidak datang, ya?"
"Ino? Dia sedang ke pusat kota hari ini."
Akaashi menganggukkan kepalanya. "Karena itulah aku datang untuk menemanimu, kalau kau tidak keberatan," katanya ringan, lalu menyumpit nasi.
"Aku tidak keberatan sama sekali! Sungguh! Aku justru senang, sangat senang!"
Akaashi berniat untuk berpura-pura tidak mendengarnya. Ia tersenyum samar mendengar pengakuan yang menurutnya lucu itu. Entah kenapa menurutnya, segala sesuatu yang dilakukan kakak kelasnya ini terlihat lucu dan menggemaskan di matanya.
"Ah, hahaha," Akaashi mendengar Sakura memaksakan tawa yang terdengar sangat canggung. "Aku tidak bermaksud begitu, kok. Maaf kalau itu terdengar aneh."
Cukup sudah. Akaashi tidak dapat menahan diri lagi. Ia mengangkat kepala dari bento-nya, tidak peduli dengan mulutnya yang penuh. Ia ingin melihat ekspresi Sakura saat ini. Ia tidak dapat menahan senyumnya melihat Sakura sudah merah padam sambil berusaha mengunyah rotinya.
Untuk pertama kalinya Akaashi kehilangan kendali atas dirinya sendiri. And who's to blame? Tentu saja, Haruno Sakura dan segala tingkah ajaibnya.
.
.
Story 5 - Just saying
Hari Jumat adalah salah satu hari terpadat bagi Akaashi Keiji. Setelah latihan pagi, ia harus mengikuti pelajaran seperti biasa, lalu kembali berlatih setelah sekolah usai. Jumat pekan lalu ia masih bersemangat menantikan hari Sabtu—untuk mengikuti kelas tambahan.
Tapi setelah kelas tambahan berakhir, entah ke mana semangatnya itu menghilang. Ia tahu persis apa yang dirasakannya, tapi tidak biasanya hal-hal sekecil itu mengganggu fokusnya untuk berlatih.
Akaashi memasuki kantin yang cukup penuh siang itu. Ia mengedarkan pandangan mencari anggota klubnya saat melihat Konoha Akinori sedang duduk menikmati makan siangnya dengan perempuan yang tidak asing.
Akaashi hendak menghampirinya saat menyadari sesuatu yang membuat langkahnya berhenti. Kalau Yamanaka Ino duduk di sini dengan Konoha, lalu dengan siapa Haruno Sakura menghabiskan makan siangnya?
Akaashi membeli dua meatbun sebelum bergegas keluar dari kantin. Ia berjalan cepat memasuki gedung utama sekolah, berbelok di salah satu koridor dan menaiki tangga menuju kelas 2-1.
Tentu saja ia tidak ke sana untuk menemui Bokuto Kōtarō. Bokuto sedang mengikuti camp pelatihan nasional Tim Nasional U-19 Jepang. Ia ke sana untuk Haruno Sakura yang mungkin sedang makan siang sendirian. Begitu pemikirannya.
Benar saja. Saat ia memasuki kelas itu, hanya ada tiga orang di sana, Sakura dan dua orang yang tidak Akaashi kenal. Sakura duduk di tengah kelas sambil membaca sesuatu, terpisah dari dua orang lain yang duduk agak belakang. Ia tidak menyadari Akaashi yang berjalan mendekat. Ia baru mengangkat kepalanya saat Akaashi mengetuk mejanya pelan.
Mata emerald gadis itu melebar melihat Akaashi berdiri di sebelah mejanya sambil tersenyum simpul. Lelaki itu meletakkan meatbun di meja Sakura tanpa mengatakan apa-apa dan menarik kursi untuk duduk di sebelah Sakura.
"Akaashi-kun? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sakura ketika kesadarannya sudah kembali.
"Makan siang denganmu, tentu saja," ia lalu mengambil satu meatbun dan meletakkannya di hadapan Sakura. "Kau juga makanlah, Haruno-san."
Sakura menatapnya tidak percaya. "Apa Ino yang menyuruhmu ke sini?"
Akaashi mengangkat sebelah alisnya bingung. "Kenapa Yamanaka-san harus menyuruhku ke sini? Aku ke sini karena melihat Yamanaka-san sedang makan siang dengan Konoha-san, dan tidak melihatmu bersama mereka."
Sakura masih dilanda keterkejutan. Ia gelagapan ketika membalas ucapan Akaashi. "T-tapi aku memang tidak ingin mengganggu Ino dan Konoha-san, jadi aku memutuskan untuk tidak makan siang bersama dengan mereka," ia berdeham sebelum melanjutkan, "kebetulan aku sedang tidak lapar."
Akaashi mendekatkan meatbun itu pada Sakura. "Makanlah walaupun kau tidak lapar. Jangan sampai sakit. Sebentar lagi ujian akhir."
Sakura masih terdiam, tidak tahu harus bagaimana menanggapi sikap Akaashi ini. Ia senang, tentunya, tapi ia juga luar biasa gugup.
"Uhm… Akaashi-kun, kenapa kau tiba-tiba begini?"
Akaashi yang sedang mengunyah meatbun-nya terdiam sejenak. "Karena aku butuh penyemangat untuk berlatih."
"Apa?"
Akaashi menyimpan meatbun-nya. Ia memandang Sakura lurus-lurus dengan mata birunya. "Aku terbiasa melihatmu di akhir pekan, dan sekarang tidak—sulit menemuimu bahkan di kantin sekalipun. Kurasa aku merindukan keberadaanmu di sekitarku, Haruno-san."
Sakura berdebar keras. Ia tidak pernah menyangka dan membayangkan Akaashi akan bersikap semanis ini padanya, apalagi sampai mengatakan ia merindukan Sakura. Sakura segera merutuki kebodohannya karena sudah berpikir terlalu jauh dan bersikap pesimis sebelumnya.
Akaashi tersenyum. "Maaf kalau ini terlalu tiba-tiba. Sekarang, makanlah dulu sebelum waktu istirahat selesai, baru kita bicarakan ini."
Sakura mengangguk kaku. Ia mengambil meatbun-nya. "Terima kasih untuk meatbun-nya, Akaashi-kun."
Akaashi memberanikan diri untuk menepuk pelan kepala Sakura. "Tidak masalah."
Tentu saja masalah! Masalah besar malah, karena jantung Sakura yang mulai berdegup normal kini kembali berdegup gila-gilaan.
"Haruno-san, kau tidak apa-apa? Wajahmu tampak merah—oh…" Akaashi menyadari kata-kata dan perbuatannya, lalu menarik tangannya sambil berusaha menyembunyikan senyum.
Sakura mengangguk pelan dan mulai memakan meatbun-nya. Mulai sekarang, meatbun kantin Akademi Fukurōdani akan masuk ke dalam daftar makanan favoritnya.
.
.
Sabtu pagi. Sakura dan Ino sudah berada di sekolah, tapi kali ini dengan pakaian bebas. Oh, tidak, tidak. Mereka tidak sedang mengikuti kelas tambahan. Ino datang untuk menemani Konoha Akinori, kekasihnya, berlatih. Sedangkan Sakura ke sini karena Akaashi memintanya untuk datang.
Klub voli Akademi Fukurōdani memulai latihan mereka. Sakura dan Ino memperhatikan dari pinggir lapangan, terkagum-kagum dengan kemampuan klub voli mereka. Hanya kurang Bokuto Kōtarō untuk menyempurnakan kekaguman kedua gadis itu.
Setelah tiga jam penuh dengan berbagai sesi latihan, tiba waktunya istirahat selama tiga puluh menit. Konoha dan Akaashi berlari ke pinggir lapangan, menemui orang-orang yang sudah menunggui mereka sepanjang latihan. Ino berdiri untuk menyambut Konoha, yang langsung menggandeng tangan gadis itu berjalan keluar dari gedung olahraga.
Akaashi mengulurkan tangannya pada Sakura. Sakura ragu sesaat, namun menyambutnya juga. Ia tersenyum kecil pada Akaashi yang sudah memberinya senyum cerah sejak tadi.
"Bosan?" tanya Akaashi setelah menenggak minumnya.
Sakura menggeleng. "Tidak, aku menikmati permainan kalian. Aku baru menyadari klub voli kita ternyata sekeren itu!"
Akaashi tertawa pelan. "Senang mendengarnya darimu."
Mereka berjalan bersisian di koridor yang mengarah ke lapangan basket outdoor yang kini terlihat sepi. Akaashi duduk di bench di pinggir lapangan, diikuti Sakura yang duduk di tepi kursi panjang itu.
"Akaashi-kun, boleh aku bertanya padamu?"
"Tentu, tanyakan apa saja padaku."
Sakura terdiam beberapa saat sebelum membuka mulutnya. "Kenapa kau memintaku datang hari ini?"
Akaashi menghela napas. "Apa kau merasa tidak nyaman?" tanyanya memastikan.
Sakura menggeleng cepat. "Tidak, kok! Aku hanya penasaran kenapa…"
Akaashi tersenyum—lagi—sambil memandang Sakura lekat. "Bukankah kemarin sudah kukatakan bahwa aku merindukan keberadaanmu di sekitarku, Haruno-san?"
Sakura membasahi bibirnya yang mendadak kering. "Akaashi-kun," panggilnya pelan. Akaashi menarik Sakura mendekat, membuat Sakura memekik kecil karena tertarik begitu saja ke arah lelaki penuh perhatian itu. "Bisakah kau membuat semuanya jelas? Maksudku, aku paham kenapa kau bersikap seperti ini, tapi…" Sakura mengatur napasnya. "Tapi, bisakah kau memberiku, uh… sesuatu seperti… kau tahu, kepastian? Atau semacamnya."
Mata biru Akaashi melebar, tidak menyangka Sakura akan bertanya seperti itu. Ia lalu tersenyum lembut sebelum menyentuh lengan Sakura dan menggenggam tangan gadis itu. "Baiklah, jadi aku boleh berterus terang, kan, Haruno-san?"
Setelah Sakura mengangguk, Akaashi membuka mulutnya. "Aku menyukaimu, sejak hari pertama kita mengikuti kelas tambahan." Akaashi melihat Sakura terkejut, tapi ia meneruskan kata-katanya. "Pada awalnya aku tidak tahu harus memulai dari mana, sampai akhirnya kita dipanggil untuk mengambil print out materi itu. Aku rasa itu adalah kesempatanku untuk bicara denganmu. Tapi ternyata aku jauh lebih payah dari dugaanku, karena aku hanya bisa mengatakan beberapa patah kata padamu."
Sakura membeku di tempatnya. Tidak ada yang dapat didengarnya lagi selain suara Akaashi dan debaran jantungnya sendiri. Ia bahkan tidak berani berharap Akaashi akan menyatakan perasaan seperti ini padanya.
Sakura tersadar akan sesuatu. "Lalu, saat aku melihatmu masih diam di kelas setelah pelajaran berakhir—"
Akaashi mengangguk. "Tadinya aku berniat untuk membereskan barangmu, tapi aku tahu itu tidak sopan. Jadi yang bisa kulakukan hanya menunggumu kembali ke kelas."
Sakura kehilangan kata-katanya. Mendengarnya langsung dari Akaashi membuat ia tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak bisa mengendalikan degup jantungnya, atau rasa panas yang kini sudah mengalir ke kedua pipi sampai dahinya.
"Aku tahu ini terlalu cepat, jadi aku tidak akan meminta lebih. Tapi bisakah kau selalu berada di sisiku, sehingga aku bersemangat menjalani hari-hari terberat sekalipun?"
Sakura tersenyum, balas menggenggam tangan Akaashi. "Kau boleh meminta lebih, Akaashi-kun."
Akaashi tersenyum lebar. Ia tidak pernah merasa lebih bahagia dari ini. "Jadi kau mau menerimaku menjadi kekasihmu, Haruno-san?"
"Dengan satu syarat."
"Apa?"
Sakura tersenyum kecil. "Panggil aku Sakura."
Akaashi melingkarkan sebelah tangannya pada leher Sakura dan tangannya yang lain mengelus rambut merah muda gadis itu. "Aku menyayangimu, Sakura."
Sakura balas memeluk Akaashi. "Aku juga menyayangimu, Keiji-kun."
.
.
Perspective,
End.
.
.
Haloooo! Ini adalah cerita yang udah lama ada di draft-ku. Tadinya aku nggak berniat post cerita ini karena kok rasanya cheesy banget :") tapi pengen juga hahaha btwww untuk bagian awalnya—sampai bagian tas dijagain itu—based on true story. Aku terpaksa ngulang satu mata kuliah dan sekelas sama junior yang looks so good dan karakternya mirip banget sama Akaashi Keiji. Tapi ending-nya kita nggak pernah ngobrol sama sekali sampai sekarang :")
Oh ya, buat yang baca ceritaku sebelumnya, "La Via dell'Amore", ada minor edit, aku tambahin satu part yang lupa aku masukin sebelumnya huhuhu maafkan ya!
Oke deh semoga suka juga sama onsehot yang ini ya. Maaf kalau OOC dan plotless. See you next story! ;))
