To Each, Our Path

Rate: M

I Own Nothing

DramaXRomance

Warning: Typo, Modern Universe, OOC, OC, Mature Theme, Violance, Drug use, Rape, Animal Abuse, ETC


Chapter 2: Ungu Polkadot


Ino menjongkok diam, cukup jauh dari mobil, jauh dari Naruto. telepon tadi membuat nafsu untuk melakukan apapun hilang, mencampuri dada dengan perasaan-perasaan tidak mengenakkan yang sedari kemarin dia coba kikis bersama Naruto—bermain, ngobrol, ulah-ulah tidak jelas lainnya, berkunjung pada wisata-wisata sekitar—kini kembali, sebegitu mudah datang, dengan satu panggilan suara yang orangnya saja tidak Ino lihat dengan mata kepala sendiri.

Orang-orang berbisik melewati, pandangan-pandangan menelanjangi, pejalan yang berhenti dan mengambil foto, sosok-sosok bayang gelap besar menukik naik dari trotoar sebelah. Ino mengumpat berulang kali dengan pelan dan cepat, dari kata 'A, anjing-hingga Z'( entah umpatan apa yang mulai dari Z). pandangannya tidak berani dia naikkan, memaku pada trotoar abu kusam yang sedikitnya terlindungi bayang pohon. Suara-suara bisik dan tawa juga kian nyaring, menggema-gema pada ruang telinga masuk pada otak. Jantung memacu cepat diikuti tubuh yang kian goyang bergetar seperti getar pesan masuk atau mungkin panggilan masuk.

Lama Ino dalam keadaan seperti itu tidak beranjak, tidak melakukan apapun—hanya diam bergetar dan mengumpat—setidaknya hingga seseorang datang menepuk pundak yang cepat Ino bahu berusaha menjatuhkan tangan yang bersandar. Beberapa kali dia begitu, mencoba mengenyahkan entah tangan terkutuk milik siapa yang bersandar ria pada bahunya, dia tidak berani mendongak keatas, takut bila bisa saja wajah ayahnya yang akan dia lihat walaupun dia tahu kemungkinan terjadinya hampir nihil tidak akan terjadi.

Tangan yang bersandar hilang membuat rasa penasaran pada Ino, 'Kemana gerangan tangan tidak tahu diri itu?'. Di depannya Naruto berjongkok sama dengan Ino. Wajah tersenyum lebar memantulkan mentari seperti warna rambutnya yang kuning. Dia tidak bersuara, tidak melakukan apapun. Diam disana membiarkan Ino yang memproses semuanya. Lagipula dia sendiri sadar dia tidak memiliki sertifikasi apapun atau pelatihan, pembelajaran, atau sekedar pengalaman yang dapat membantunya. Jadi disana dia, menjongkok dengan senyum berharap Ino yang akan tenang dengan sendirinya.

Benar juga. Napas Ino perlahan membaik—tadinya krasak-krusuk, kembang-kempis, naik-turun, hap-hap-hip-hip, seperti ikan kelalapan di udara, seperti mobil balap saling balap—dia tidak berkata apapun, membalas senyum Naruto dengan senyum yang buat rona merah panas pada pipi Naruto. Dengan bantuan uluran tangan Naruto dia bangun dengan suara 'hap' mengikuti tidak jauh. Mereka pergi dalam diam dengan Ino yang menatap bahu lebar Naruto. Pandangannya kebawah, pada trotoar abu kusam lama tidak diperbaiki, membiarkan tangan Naruto yang menuntunnya pergi. Ino sendiri tidak keberatan dituntun Naruto seperti itu—walaupun biasanya dia akan memukul pria lain bila dengan seenak jidat memegang tangannya—dia lagi tidak bisa memikirkan apapun, dia lapar.

Dan perutnya berbunyi setuju.

Naruto tertawa kencang hingga-hingga menghapus air mata. Tidak memperdulikan pukulan, sumpah serapah dari belakang. Toh paling-paling dia hanya akan sedikit pegal sana-sini dibagian punggung. Kali ini suara perutnya berulah, lebih besar dari Ino, sepertinya tidak ingin kalah. Membuat aktifitas jalan keduanya terhenti karena kaget dan takjub.

Naruto tertawa, kali ini diikuti tawa Ino.


Mobil melaju pelan diiringi lagu disko yang sepertinya non stop diputar dari semalam. Radio tampaknya sedang mengingat malam penuh dansa kerlap-kerlip lampu bersilau warna-warni. Kembali pada pembahasan kemana arah perginya mobil. Tampak pepohonan yang rimbun mulai jarang dan berjarak-jarak satu sama lain, hingga benar-benar tidak ada pohon sama sekali disetiap beberapa kilometer(bahkan itu adalah pohon yang ditanam oleh manusia). Bukit-bukit dilalui naik-turun, belok kanan, belok kiri. Dari jalan beraspal halus hingga jalan berwajah remaja puber hingga wajah remaja nakal yang tidak kuat menahan diri tidak memencet. Kadang Ino memperhatikan Naruto yang tumben-tumbennya tidak merokok setelah beberapa menit. "mungkin saja tobat, tapi lebih mungkin mereka diculik alien" pikir Ino.

" Selamat jalan…" Ino membaca papan pada pinggir jalan. Beralih pada Naruto dengan penuh pertanyaan kini kemana arah tujuan mereka sebenarnya. Karena memang sedari dia bersama Naruto, dia tidak pernah mempertanyakan tujuan Naruto, setidaknya itu yang keduanya( dalam hal ini hanya Ino) setuju saat awal mereka bersama. Tapi untuk keluar dari Konoha? Itu membuat Ino penasaran. Sangat.

Tidak ada pertanyaan yang keluar, hanya tatapan penasaran sesaat sebelum kembali pada pinggiran jalan yang kian berbeda dari yang biasa dia dapati. Ino tidak tahu menahu, tidak peduli juga. Toh, dia sendiri memang tidak ada tujuan lain selain mengikuti Naruto untuk saat ini.

Kesendirian keduanya pada jalan berbentang dua jalur lurus tanpa belokan dan mobil yang melaju stabil mengikuti rambu-rambu, membuat Ino serasa seperti pada film-film yang kerap dia tonton pada kamar atau layar lebar rumahnya bersama beberapa teman kuliah. Tapi tidak pernah pada mimpi dia sendiri akan mengalaminya. Membuat jantungnya jadi berpacu cepat dag-dig-dag-dig-dug.

" tahu kita akan kemana?" suaranya sedikit teredam lagu disko 'Senada Sekata' yang kerap kali diikuti alunannya oleh kepala Naruto, kalo bukan kepala jari telunjuk pada stir yang akan mengikuti, kalo bukan jari telunjuk salah satu kakinya akan menginjak-injak lantai mobil mengikuti nada."

" Nu-uh"

" Kau tidak tahu?" Ino menggeleng pertanyaan Naruto, " …dan disini aku berpikir gadis seperti mu sudah biasa jalan-jalan".

Pernyataan itu tampak mengenai salah satu bagian sensitif Ino. Membuat gadis tersebut sedikit melompat penuh emosi dan menjelaskan kenapa dia tidak dapat berjalan-jalan seperti temannya. Berkeliling Konoha seperti kemarin saja sudah luar biasa hebatnya bila diperbolehkan, apalagi meminta izin untuk keluar dari Konoha?

" Tapi apa kau pernah mencobanya? Kau tahu, memintanya? Untuk keluar dari Konoha" Pertanyaan Naruto melempar bola kasar pada wajah Ino. Membuat gadis berambut pirang pucat itu untuk diam tertegun mengingat-ngingat apakah pernah. " Kau tahu lah, ada kemungkinan akan diizinkan. Selalu ada mungkin kan?"

Ino diam tidak menjawab. Lebih memperhatikan luar yang kian tampak buram. Pikirannya dibawah pergi menghilang oleh pertanyaan polos Naruto. berulang-ulang dia coba merekayasakan kemungkinan-kemungkinan kecil pada masa kecil hingga kini. " Kenapa aku tidak pernah mencobanya?" pikir Ino. Sesaat wajah gelap bayang-bayang sang ayah muncul, berganti sang ibu, dan teman-temannya. Pada setiap wajah Ino mempertanyakan hal yang sama kepada mereka, " Apakah kamu akan mengizinkanku?" tapi mereka( para bayang-bayang imaji dalam mobil beraroma rokok dan Naruto) hanya dian dan tersenyum.

Disebelah Ino yang tidak memperhatikan tampaknya Naruto sibuk bercerocos tentang sejarah hingga geografi sekitar setelah mengetahui Ino yang tidak pernah keluar dari Konoha. Ino memperhatikan Naruto ketika dia tersentak kaget ketika mobil sedikit melompat karena gundukan pada aspal. Naruto masih tidak kunjung diam, kali ini menjelaskan tentang mitos suatu suku yang bisa melihat dengan mimpi dan mempunyai mata batin tidak jauh dari sini( tentunya tidak Naruto percaya), lalu ada lagi mitos kampung yang dapat menumbuhkan tulang pada bagian manapun yang mereka inginkan( kali ini Ino yang menunjukkan rasa tidak percayanya secara verbal).

Ino tertawa kecil ketika Naruto berperaga selayaknya tour guide. Menjelaskan lagi dan lagi fakta-fakta asing yang menurut Ino menarik. Sesaat lupa pada beban yang dia pikul kini. Dari mitos keluarga tulang( sebutan Naruto kepada mereka karena lupa nama keluarga tersebut), dia beralih pada kaum nomaden yang prianya berambut panjang dikuncir, memakai baju gombrang seada, dan celana lebar, tidak lupa bau badan mereka yang sangat bau karena mereka jarang mendapati sumber air.

" Ew. Kenapa mereka tidak mandi saja?"

" Karena Ino, tidak ada air. Seperti kataku tadi".

" Yayaya, aku tahu. Tapi kenapa tidak mandi pada hotel atau penginapan? Atau lebih masuk akal lagi pada kenalan?" pertanyaan Ino membuat Naruto tertawa. Meninggalkan gadis tersebut dengan pertanyaan dan wajah bingun tidak tahu maksud tawa Naruto.

" Begini. Mereka itu tidak ada uang, kerjanya jalan keliling dunia. Seringnya mereka kabur dari keluarga, jadi tidak ada tempat untuk bernaung. Lagian juga…" Naruto menjelaskan panjang lebar. Untuk pertama kalinya Ino mengetahui apa itu hippie atau yang Naruto bilang sebagai nomaden.

Ino serius mendengarkan. Seperti ada lampu yang seketika menyala pada atas kepalanya dia menggebu-gebu bertanya, " Jadi kita ini hippie?"

Tentu saja kan? Dia dan Naruto kerjanya jalan tanpa arah menggunakan mobil. Bila dia belum termasuk kaum tersebut, setidaknya Naruto sudah. Pria itu kerjanya hanya seperti sekarang. Tidak jelas kemana tanpa ada rencana terlebih dahulu. Kerjanya juga serabutan. Jadi Ino tidak akan hilang bila Naruto berkata iy-

" Tidak. Jangan samakan aku dengan mereka" Sanggah Naruto cepat. Wajahnya dia kerutkan sejadi-jadinya. Tangan mengibas-ngibas depan hidung dan mulut yang komat-kamit pada seputaran kata "bau".

Ino bingung, tapi dia tahu Naruto ada hubungannya dengan mereka. mungkin nanti akan dia gali lebih dalam. Mempersilahkan Naruto kembali bercerita, kini tentang hal-hal yang menurutnya kurang menarik, tapi tetap dia dengarkan penuh khidmat dan sesekali melempar pertanyaan-pertanyaan murni ingin tahu walaupun apa yang dia dengarkan tidak semenarik yang pertama.

Suara disko sudah entah kapan terganti lagu-lagu yang lebih asing ditelinga Ino, lebih mengganggu, lebih mengesalkan—bahkan tidak butuh tiga bait lirik untuk Naruto dengan cepat memutar radio sambil berkata hal-hal tidak baik untuk pembuat musiknya dengar. Di luar juga sudah hilang total pepohonan, berganti padang rumput kuning pucat. Sekitarnya ada pohon saling jarak tanpa daun dan hanya ranting kurus berwarna cokelat hitam, yang menurut Ino seperti pelayan rumahnya—dimana Naruto hanya tertawa dan berkata dia tidak boleh seperti itu, tapi tidak diperdulikan sama Ino karena itulah apa adanya, dia hanya berkata sejujur-jujurnya.

Perjalanan mobil berhenti pada pom bensin sepi yang udaranya terasa begitu kering pada wajah. Sejauh mata memandang hanya ada satu jalan lebar yang terbagi menjadi dua jalur, daratan berumput kuning pudar dan bukit kecil berumput kuning kepudaran. Didalam minimarket berkaca bening tampak Naruto sedang melihat-lihat apa yang bisa dia beli atau apa yang ingin dia beli. Membiarkan Ino mengisi mobil kesayangan temannya yang kini tertawa bersama kasir entah karena apa.

Helaan napas Ino terdengar keluar membelah angin kering sekitar, hidungnya mengerinyit mencium bau bensin menyengat yang suka sekali membuat dia pening. Melihat kebelakang, Ino yang dulu pasti dengan cepat menolak melakukan hal aneh bernama mengisi bensin ini. dia pasti akan menyuruh orang atau pada saat ini menyuruh Naruto. Pria itu keluar tersenyum melambai-lambai kresek putih dengan loga berwarna hitam yang sudah tercorat-coret tidak jelas bentuknya. Kata-kata "diskon dan yeay" tercampur tidak terlalu jelas membuat Ino tertawa dan menyuruhnya bicara yang jelas.

" Tidak jauh disini ada penginapan…" Ino melihat penasaran. Tidak pernah Naruto memberikan dia pilihan akan tidur dimana karena belakangan—selama mereka bersama—keduanya selalu tidur pada mobil sempit bau rokok yang sekarang mulai bergabung bau dirinya(setidaknya untuk bagian sofa belakang tempat dia tidur).

Tangan Naruto menunjuk keatas dan kini Ino mengerti kenapa dia ingin tidur dipenginapan. Diujung awan hitam mulai menggulung langit seperti karpet yang dijual di depot Konoha. Gelegar-gelegar kecil yang bergetar membuat Ino melompat kaget mengikuti getarannya. Mengangkat bahu berulang kali karena kaget terus menerus dan ketika berbalik kearah Naruto—pria berambut kuning itu melihatnya lama penuh keseriusan tanpa sekata apapun yang keluar. Hanya tatapan lama dan menusuk.

" Ada apa?"

Naruto menggeleng. Tersadar, mengalihkan pembicaraan pada mengapa kini mereka akan buru-buru. Dia tidak ingin mobilnya kotor setelah hujan, itu kenapa dia ingin tidur di penginapan yang kata si penjaga kasir ada garasinya. Membiarkan Ino makin pada kebingungan yang segera dia acuhkan merasa tidak perlu terlalu lama dipikirkan dalam-dalam perihal arti tatapan Naruto—terutama mengingat pria berambut kuning matahari dengan senyum iklan dokter gigi tersebut seringnya bertingkah aneh dan tidak tertebak.


Ino melangkah cemas kekiri dan kekanan, kemudian berbalik lagi kekiri lalu kekanan lagi. Cemasnya bukan karena mendengar suara air pada kamar mandi yang dimana itu adalah Naruto yang tengah mandi( walaupun dia berusaha mati-matian tidak mengintip atau berkhayal aneh-aneh atas nama dia adalah seorang tuan puteri, dan sudah seharusnya tuan puteri beretika baik), cemasnya Ino karena gemuruh yang kian kuat dan terasa kian mendekati. Diliriknya luar sana dari ujung jendela yang sedikit tersibak gordennya. Ino bergidik melihat awan, rasa takut bergerumuh seperti guntur pada awan. Tenggorokannya dia kagetkan dengan tegukan air mineral dalam jumlah banyak yang membuat Ino kesulitan untuk menelannya—dan ketika menelannya terasa pegal dan nyeri untuk beberapa waktu.

Takutnya dia kepada awan hitam itu sendiri tidak beralasan dan malah diwajarkan. Bisa dibilang dia ada sejarah tidak mengenakan yang menghantui setiap sudut ingatan yang dibalut oleh awan hitam dan gemuruh guntur jahat.

" Ino…"


" Ino?" Ayahnya datang. melihat sang anak duduk pada ujung kasur berukuran besar selayaknya kasur para raja dan bukan yang sekelas ratu. Tubuhnya Ino menggigil, gemetar ketakutan. Dengan setiap petir yang menghujam pekarangan mereka yang super duper luas, Ino memekik takut.

Si ayah datang berkata tidak apa. Memeluk Ino dalam dekap badannya yang hangat, memberikan kehangatan tersebut kepada Ino yang menggigil ketakukan. Kepalanya ditepuk-tepuk pelan dan lembut, dibisik kata "tidak apa, tidak apa, tidurlah" berulang kali, dan makin lama dia dengar, makin manis pula suara tersebut. Kian jadi candu tersendiri yang membuatnya makin-makin mengantuk. hingga-hingga matanya hanya terbuka setengah saja walau guntur yang menakutkan dan suara angin yang memekik tinggi berbeset dengan jendela kamar makin lama makin menjadi-jadi.

Dari kepala ayahnya pindah pada punggung Ino. Menepuk-nepuk dan berkata "ayah disini putriku", menyanyikan lagu tidur yang serak dan nadanya berlari kesana-kemari tidak menentu, tapi pada telinga Ino itulah suara paling indah saat ini. itulah suara malaikat yang seringnya berbicara kepada orang-orang pintar dengan mata batin terbuka diantara kedua bola mata. bisikan-bisikan hangat yang menenangkan jiwa, raga, sukma( entah apa itu yang tidak diingat jelas oleh Ino dimana dia dengar dan apa artinya), membuat Ino makin lama makin mendekap sang ayah erat. Terbesit denga nada ayahnya disini tidak ada yang perlu dia takutkan. Toh ayahnya pasti dapat mengalahkan semua makhluk yang ingin menyakiti Ino.


Lagi-lagi petir datang bersama antek-anteknya(guntur dan angin), membuat Ino kembali memekik ketakutan disetiap suara. Tubuhnya kembali bergetar, tapi matanya berfokus pada pintu—menunggu si penyelamat, sang ayah. Dengan setiap guntur, tubuh Ino menegang kaget, lalu rileks kembali sebelum kembali menegang saat guntur kembali berbunyi. Dua kali, tiga kali, empat kali, ayah tidak kunjung datang. Ada rasa kesal bercampur takut, tapi kemudian terpikir bagaimana bila sekarang ayahnya juga sedang dinakali oleh si petir dan antek-anteknya? Tentu saja Ino kecil sebagai anak yang baik harus menolongnya—dia mencintai dan menyayangi ayahnya lebih dari apapun dan dia yakin sebaliknya sama. Jadi kini gantian dia yang harus menyelamatkan ayahnya!

Gaun tidur ungu polkadot melambai-lambai diterpa angin nakal yang berhasil masuk lewat celah jendela lupa ditutup oleh pelayan rumah. Membuat Ino geram tapi tidak dilanjutkan pemikiran geram tersebut karena buru-buru terkagetkan guntur yang membuatnya lari sepenuh tenaga dengan tubuh yang mungil. Ino menoleh kebawah dari sela-sela tangga, menelan ludah karena melihat suasana gelap, tapi tidak sunyi karena si guntur masih asik diluar sana, berpesta bersama antek-anteknya.

" Ayah…?" Ino berulang kali memanggil-manggil. Bertanya-tanya kemana semua orang( keluarganya tentu saja, karena pelayan tidur dibangunan belakang rumah). Setiap ruang yang terbuka dia intip, memanggil-manggil. Kadang memekik ketakutan karena guntur, tapi dia tidak pantang mencari ayahnya karena dia tahu ayahnya juga sekarang sedang takut. Hanya pintu yang tertutup yang tidak Ino periksa karena satu hal, tubuhnya tidak cukup tinggi untuk meraih gagang pintu—dan hanya ada beberapa pintu yang tertutup karena perintah ayahnya adalah membuka semua pintu ruangan setiap saat, terutama semenjak lahirnya Ino.

Terpikirkan bagaimana bila ayahnya berapa pada salah satu pintu yang tertutup itu? Bisa saja guntur dan antek-anteknya masuk dan menutup ayahnya dari luar lalu mereka menari-nari dan bernyanyi menyeramkan biar ayahnya tidak bisa keluar karena takut. karena pikiran itu, Ino berusaha membuka pintu-pintu yang tadi dia lewati. Pintu pertama iba melihat Ino yang melompat-lompat dan membiarkan Ino kecil untuk meraih gagangnya, tapi si ayah tidak ada didalamnya—hanya meja kerja ditumpuk kertas-kertas menumpuk hingga menjadi tumpukan.

Pintu berikutnya yang tertutup tidak jauh, hanya beberapa langkah dewasa untuk sampai, sayang Ino berlangkah kecil sehingga dia membutuhkan beberapa langkah lebih banyak. Pintu kali ini tersenyum angkuh kepada Ino dan tidak akan jatuh karena rasa iba sayang seorang anak kepada ayahnya. Ino pun tidak ingin di iba lagi. Kali lompatannya makin penuh semangat hingga-hingga keringat mulai muncul. Karena kerja kerasnya pun si pintu kalah dan menunjukkan isi ruangannya. Gelap, lemari penuh buku, sofa, dan perapian yang mati. Ino menghela napas, mulai letih, dan mulai lengket karena keringat. Kakinya juga mulai memelas minta kembali pada kasur empuk sebagai mana seharusnya Ino saat ini berada.

Ino tidak menyerah. Pintu ketiga membutuhkan langkah lebih banyak dan harus melewati lorong menuju dapur yang menurut Ino menakutkan karena panjang dan gelap. Ino berlari dan guntur meledak-ledak disamping, menggetarkan jendela seolah-olah tertawa kepada Ino. Bahwa usahanya sia-sia dan ayahnya akan terus mereka kurung hingga maharaja penguasa siang bangun dari tidur. Ino kecil menggeleng kuat, menepis rasa takut. Akhirnya dia sampai juga—tubuhnya lengket dan basah karena keringat, jantungnya berdegup-degup hingga terdengar pada telinga, perasaannya tercampur aduk antara takut, lelah, dan ingin menolong. Perjuangannya belum selesai disana karena pintu terakhir berwajah datar tanpa emosi sedikitpun. Tidak ada iba, tidak ada keangkuhan, hanya pandangan datar tanpa arti.

Lama mereka bertatapan. Ino memantapkan hati kecilnya yang bergetar dan mulai melompat-lompat, suara napas keluar pada setiap lompatan makin terdengar kasar dan kelelahan. Wajahnya juga sama, kulit putih itu berubah merah. Setiap otot berteriak kelelahan dan keringat makin membanjiri baju tidur ungu polkadot kesayangan. Dan dengan lompatan dramatis terakhir dia berhasil membuka pintu, kali ini bukan karena beruntung pintu pertama merasa iba, atau kerja keras pantang menyerahnya—kali ini karena dua hal ini menjadi satu, menjadi pengalaman yang dikemudian saat akan dia gunakan nanti(untuk ini adalah membuka pintu). Wajahnya sesaat menampakkan aura bangga, walau dada makin kacau dan badan sudah seperti sehabis sauna(walaupun dia juga tidak tahu apa itu sauna).

Beruntung ruangan remang dengan satu lampu berwarna kuning. Dibawahnya sang ayah tertidur—Ino menggoyang-goyangkan ayahnya. Membisik kata "ayah bangun" berulang kali lalu terselip kata-kata "Ino ada disini, jangan takut lagi". Empat sampai enam menit dia menggoyangkan si ayah hingga kemudian hasilnya terlihat. Erangan keluar dari mulut yang tertidur, semerbak mau aneh tidak familiar yang memusingkan dan memualkan juga memasuki hidung.

"ayah?" Ino memegang lengan sang ayah. Menatap dengan miris ketika si ayah terlihat kesakitan saat bangun, ada perasaan berasalah bercampur dengan yang lain. Dibelakang, guntur tampak menjadi-jadi, sepertinya marah karena Ino berhasil. Dadanya panas dengan rasa bangga dan tidak sabar akan menceritakannya, bah! Akan dia ceritakan sekarang. " Ayah tahu ngga? Tadi…"

Sesaat Ino terdiam ketika dua lengan ayahnya pada bahu. Bersandar lama, matanya berkunang berusaha melawan rasa sakit seperti dipukul. Padanya lama kelamaan suara si anak yang kini asik bercerita mulai kabur dan menghilang dari telinga Yamanaka dewasa. Perlahan berganti menjadi suara yang jauh-jauh-jauh lebih sensual. Dia terhenyak, kaget mendengar suara familiar tersebut—celingak-celinguk mencari sosok pemilik suara, tapi nihil dia dapati; tidak pada pintu, tidak pada jendela, tidak pada luar, tidak pada dalam, tapi tepat didepannya. Ada perasaan janggal aneh, sesuatu yang dia lupa apa barusan, sesaat mencari sosok anaknya yang kini hilang berganti sosok yang lama dia rindukan. Ada tawa dan tangis mengikuti dan sosok gadis didepan yang tengah berjongkok melihat khawatir. Dia melihat sekeliling ruangan intens, seperti tadi; pada pintu, pada jendela, pada luar, dan pada dalam. Kali ini bukan mencari pemilik suara, tapi memastikan sang anak sudah pergi.


Ino tersadar. Mimpi-mimpi yang biasanya sepotong-potong kenangan kini datang seperti kereta api jalur cepat(bila itu ada). Matanya tidak lagi pada jendela, tapi kepada Naruto yang baru keluar mandi. Senyumnya miris melihat pria yang tengah bercermin dan berpose ala ala satria jaman bahula. Rasanya tidak adil, pria itu hidup seperti tanpa masalah dan dia disini yang lari dari masalah bersamanya, dia tidak ingin di iba, apalagi oleh Naruto. Memikirkannya membuat bulu roma Ino berdiri, ada rasa sakit hati yang tidak dia mengerti. Dia cemburu, kepada Naruto yang melepas semuanya, kepada Naruto yang berhasil lepas dari sangkar—lalu ada dia, Ino Yamanaka. Anak tertua penerus perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan agrikultur. Pada sangkar, dan hanya bisa terbang setelah dibantu.

Guntur dibelakang sukses mengejutkannya. Cukup untuk membuat tubuhnya menegang, putih pucat. Pandangan Naruto kepadanya sama seperti tadi pada pom bensin, lama dan ekspresi yang bisa Ino tebak. Dan seperti tadi, saat pagi dini hari, Naruto berjongkok didepan Ino yang juga berjongkok setelah petir. Dia hanya diam dan tersenyum, kali ini mengulur tangan yang lama dilihat Ino.

Ada cerita yang Ino dengar dari temannya dahulu saat di kampus. Tentang masa lalu yang menghantui haruslah dilawan, bila tidak bisa haruslah diikhlaskan pergi. Demi apapun, dia ingin sekali. Dia tidak mencintai masa lalunya, tapi dia tidak tahu bagaimana cara mengikhlaskannya pergi, dia hanya tidak tahu. Suaranya keluar tanpa dia tahu, membantunya yang kebingungan, seolah tubuhnya mengerti derita yang dia alami, mereka juga ingin lepas. Dengan bantuan barusan dia menarik napas dalam. Guntur dan antek-antek seketika diam, ikut mendengarkan walaupun sesekali seperti anjing yang siap menerkam, barangkali siap menertawai Ino ketika dia salah cerita.

Sekali lagi dia menarik napas dalam. Cerita yang ini tidak akan mengenakkan.


Ino memberontak, sempat memberontak. Tubuhnya seketika lemas ketika ayah yang begitu sayangi mencengkram lehernya. Ada air mata yang keluar dan suara isak, tapi tidak dengan lisan. Seberapa pun dia berusaha tampaknya semua tertahan pada tenggorokan seolah lidahnya bersekongkol bersama sang ayah dan benar saja. Tidak lama setelahnya lidah keduanya bersalaman, lidah sang ayah yang memaksa masuk dan menari-nari dibawah lantunan guntur.

Satu tangannya memeluk Ino yang melemas, tidak bertenaga dan berkeringat. Tangan satunya mulai berkeliling badan, dari satu kesatu kemudian lama pada dadanya. Mencengkram kuat lebih kuat dari saat di leher tadi, membuat Ino meringis. Otaknya seperti menolak semua ini, seolah ini tidak terjadi. Tangannya tidak bisa dia gerakan, tidak kaki, bahkan ototnya yang paling simpel seperti lidah yang kini digulati. Kepalanya kebas, perutnya memual, tapi tidak kepada bagian tubuh lain. Dia bisa merasakan semuanya dengan jelas, dengan detil-detil setiap gerakan yang ayahnya perbuat.

Seperti setelah bosan pada bagian atas. Tangan itu turun pada bawah, menyibak pakaian ungu polkadot kesayangan dan mulai menggelitik bagian bawahnya. Rasanya aneh, dan memualkan, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa karena kini semua sarafnya seperti kacau. Begitu banyak yang terjadi, hingga otak menolak untuk menerima, dan membiarkan saja. Tangan yang memeluk juga kini berpindah pada leher dan membanting Ino kelantai, memberi suara sakit setelah dentuman.

Kini semuanya sakit pada tubuh yang menolak bergerak. Pada panel kayu lantai ada warna merah pekat yang perlahan makin banyak dan berbau tidak mengenakan. Bagian bawahnya sendiri kini kebas, setelah tadi sempat sejenak terasa begitu menyakitkan. Kemudian kebas. Tidak lama seluruh tubuhnya bergoyang mengikuti ritme yang diatur sang ayah.

Satu-satunya yang tidak mengikuti ritme sang ayah adalah bibir mungil yang bergetar sebelum kemudian kembali diajak bergulat.


Ino tahu ayahnya tidak bermaksud menyakitinya, dia tahu lebih dari siapapun bahwa ayahnya begitu menyayanginya. Beberapa waktu lalu hanyalah karena pengaruh dari minuman itu, minuman-minuman keras yang ayahnya pilih setelah sang ibu meninggalkan mereka. Toh kini ayahnya sudah meminta maaf dan seperti anak yang baik, dia memaafkan. Ayahnya juga berjanji dia akan menjauhi minuman-minuman keras demi Ino, jadi apalagi yang bisa Ino harapkan selain tersenyum ceria.

Apalagi setelah kesembuhannya sang ayah segera membawa dia pergi ke taman bermain yang baru buka di kota. mereka menghabiskan waktu hingga suntuk malam. Begitu bahagia hidupnya setelah malam itu. Dia hanya bisa berterima kasih kepada Tuhan telah membuat ayahnya menjadi sekarang. Seolah-olah rasa sayangnya di ulang dan kemudian dilipat gandakan berkali-kali. Walaupun kadang ayahnya melihat dengan pandangan aneh dari ujung ruangan yang acap kali tidak dia perdulikan, berpikir mungkin saja bukan dia yang sedang diperhatikan.

Sore itu mendung, dan ayahnya baru pulang rapat kelas super super penting katanya. Dia menyempatkan diri bermain bersama Ino ditaman bunga depan rumah. Dia membuatkan Ino mahkota bunga yang dipakai Ino hingga pulang. Hujan yang mulai mengguyur mengharuskan mereka pulang secepatnya walaupun mereka hanya beberapa meter(halaman bunga pribadi) dari rumah. Seperti biasanya sang ayah memandikan Ino dan sedikit menggelitik tubuhnya. Menyiapkan makan, makan bersama dan membacakan cerita dongeng kepada Ino tentang pangeran dan putri yang diculik.

Ino meminta cium selamat malam pada kening dan memohon agar boleh memakai mahkota yang dibuat ayahnya saat tidur karena sesayang itu dia pada apa yang ayahnya buatkan. Dengan sedikit(banyak) memelas, akhirnya sang ayah mengizinkan dengan syarat Ino tidur dengan cepat dan berani kepada guntur. Ino menyanggupinya dan guntur tampak tersinggung membunyikan suaranya yang paling nyaring membuat Ino terkaget dan memekik, membuat sang ayah tertawa pada Ino yang kini cemberut.

Malamnya dia terbangun karena guntur. Tubuhnya terasa aneh, diam membatu seperti waktu itu. Hanya matanya yang dapat bergerak ketakutan. Guntur berkali-kali tertawa begitu Ino melihat dari ujung matanya pada bagian bawah ada sang ayah yang mulai memainkan ritme teraturnya.


Diam Naruto membuat Ino menangis. Suaranya retak dan tangisnya kian besar, melawan guntur yang tertawa berkali-kali diluar hingga Naruto sendiri merasa kesal mendengarnya. Gadis tersebut histeris tanpa ada sedikitpun kata yang terucap, seolah dia menyuarakan semua yang tertahan selama ini kepada Naruto.

Naruto tidak tahu harus bagaimana. Membiarkan naluri yang menuntun—dia memeluk Ino, membuat badan gadis tersebut membatu, telah terlatih begitu oleh sang ayah. Suara hela napas Naruto pelan dan halus. Gadis tersebut tidak bersuara, tangisnya hilang. Siap menghadapi apa yang akan dia terima, seharusnya dia tahu semuanya sama saja. Begitu Naruto menimpanya pada kasur, tubuh Ino benar-benar tidak bisa dia gerakkan. Kini dia hanya bisa pasrah dan menunggu ritual itu datang.

Sayangnya ritual itu tidak pernah datang setelah lama dia menutup mata dan suara guntur yang menghujam marah. Alih-alih apa yang biasa dia dapati saat seperti ini—yang datang adalah suara dengkur Naruto yang pelan. Selayaknya anak kecil.

Dan tangis Ino kembali, bersama marah, tapi tidak dapat bergerak mengingat Naruto menindihnya. Ino hanya dapat menangis sejadi-jadinya ditemani guntur yang marah. Dan dengkuran Naruto yang juga kian besar.

Kian membuat Ino ikut mengantuk.


A/N: Menulis Chapter ini rasanya penulis harus banyak banyak meminta maaf setelah dan lalu bertaubat. Perasaan bersalah mengganggu selama proses menulis yang singkat dalam satu kali duduk pada kafe disalah satu bandara. Dipikir-pikir lagi daripada tidak tahu harus apa selama empat jam transit bagaimana bisa tidak menulis saja? dan Voila, tercipta chapter ini yang paling panjang ditulis dalam sekali duduk. Ada perasaan bangga mengganggu.

Belakangan lagi membaca novel penullis luar yang bisa dibilang sangat mumpuni dan itu rasanya sangat mempengaruhi dalam penulisan ini. Tidak akan diberitahu siapa namanya, tapi boleh ditebak oleh pembaca sekalian, siapa penulis yang dimaksud. Ada beberapa indikasi tentang plot pada salah satu novelnya, bila masih tidak cukup akan saia kasih tambahan.

salah satu bukunya bercerita tentang pencarian harta dan dimana dia mengajak hati berbicara. Siapakah dia? apa buku yang dimaksud? bila tahu pastinya pada salah satu paragraf di cerita ini akan menjadi "OH DARI NOVEL ITU!", setidaknya itu yang penulis harapkan.


Makasih untuk yang sudah menyempatkan waktu buat mereview fic ini.

Dukungan kalian membuat penulis semangat untuk menulis dan menulis,

ditunggu review kalian yang akan sangat penulis wanti-wanti


Tidak ingin membuang waktu berharga para pembaca. Sekian dari saya, terima kasih sudah membaca.