To Each, Our Path

Rate: M

I Own Nothing

DramaXRomance

Warning: Typo, Modern Universe, OOC, OC, Mature Theme, Violance, Drug use, Rape, Animal Abuse, ETC


Terinspirasi dari inspirasi-inspirasi


Chapter 3: Lari!


Naruto memakan telur dadar yang dia pesan setengah matang—tapi terasa seperti karet, dan kopi hitam berasa kayu bakar dan jamur. Sedangkan Ino menolak makan sama sekali setelah giginya sakit sehabis menggigit daging berwarna cokelat gelap. Diluar terlihat berwarna biru tua dan kelabu, tidak jelas apakah mau hujan lagi atau tidak. Radio pada bar sesekali berbunyi cempreng dan kandas seperti ban mobil. Naruto dan Ino saling lihat dan lalu tertawa bersama menertawai nasib mereka kini.

Diseberang kaca tempat mereka makan—mobil Naruto tengah dipreteli mesinnya dan bannya. Masih tercium diingatan bau asap mogok dan suara hati pemiliknya yang pecah bersamaan. Ironi tersendiri setelah keduanya berhenti tidak jauh dari orang yang mobilnya juga mogok. Naruto tidak panik, kecuali memukul-mukul stir dan mengumpat-ngumpat bersungut-sungut dihitung panik. Sekali lagi keduanya tertawa mengingat kejadian yang belum lama.

Setelah pembicaraan lama antara Naruto dan montir lalu Naruto dan Ino lalu Ino dan montir kemudian kembali lagi Ino dan Naruto—dan beberapa hela napas tidak percaya dan kecewa, mereka memutuskan melanjutkan perjalanan menggunakan kaki. Perjalanan yang tidak akan pernah Ino lupakan, bagaimana kakinya berteriak minta ampun dan sekujur tubuhnya lengket karena keringat, tapi tetap berbau wangi (menurut Naruto). perjalanannya minim pembicaraan—karena Ino sibuk mengatur napas yang mulai kucar-kacir dan Naruto yang sibuk dengan peta ditangan. Kenapa menggunakan peta? Karena sibodoh ( panggilan sayang Ino kepada Naruto) lupa mengisi ulang baterai ponsel, begitu juga Ino—jadi mereka adalah sepasang orang bodoh?

Hari makin gelap dan Ino akhirnya merengek tidak kuat lagi. Perasaan menyesal tidak memakan daging murah-meriah tadi. Pada dataran yang tidak jauh dari jalur (sepi bukan main) utama, mereka mendirikan tenda. Awalnya dua tenda, tapi Ino kembali merengek ingin gabung di tenda Naruto, mengatakan sumpah " Demi apapun tadi aku mendengar suara ular di luar!" lalu berubah menjadi " Demi Tuhan, Naruto! tolong katakan itu bayangan kamu tadi", tapi nyatanya bukan membuat dia bergabung di tenda Naruto, dan barang-barang mereka. Di depan tenda Naruto menyalakan unggun ala kadar dari ranting dan daun-daun kering, api kecil berbunyi "kretek-tek-tek-kretek".

"ini untukmu"

Hangat cokelat pemberian Naruto berpindah ke tangan Ino. Pada tegukan cokelat pahit yang merubah raut wajah Ino, tapi enak di tenggorokan dan dada menjadi suatu perasaan aneh tidak enak, tapi nyaman. Naruto tertawa sebentar, lalu menambahkan susu kental manis pada gelas Ino. Matanya berbinar menunggu reaksi Ino—yang tampaknya terjadi seperti yang dia bayangkan; Ino diam, tidak bisa berkata-kata, panas cokelat kontras dengan dingin udara sekitar, suasana sepi sunyi kretek-tek-tek-kretek, menjadi perpaduan yang lagi-lagi, aneh , tapi nyaman.

" Tidak jauh dari sini ada kota…"

" Suna?!"

" Tidak. Bukan. Masih jauh, hey! Jangan menggerutu. Kotanya lebih kecil, tapi mengasyikkan"

" Maksud mengasyikkan? Dan ada apa dengan kata ini, 'menga-syik-kan'?"

" Lebih terdengar imut…" Suara 'ew' Ino keras, seolah memuntahkan cokelat, tapi hanya udara. " dan besok kotanya yang akan jawab"

Ino bingung, tapi seperti biasa tidak dia pertanyai lebih lanjut. Dia lebih memilih mengganti topik kepada tentang temannya, dan masa lalu keduanya dahulu kala, masa-masa berasrama—atau kata Naruto, masa-masa 'kebodohan'. Agaknya dia tidak begitu menyukai masa itu, tapi tidak malu untuk menceritakannya kepada Ino. Toh keduanya juga satu akar yang sama, satu sma yang sama. Apa yang Naruto alami sudah Ino tahu, cuman kali ini lebih mendetail, tidak seperti dulu.

" Tidak lama setelah itu, Chouji terpeleset di…" Cerita Naruto berhenti sesaat. Menyadari cokelat yang ditangan temannya tidak lagi mempan menghadapi udara sekitar. Pria berambut kuning itu berdiri meninggalkan Ino bingung seorang diri, tapi tidak cukup lama untuk membuat Ino menyusul.

Mungkin karena udara dingin yang mematikan rasa Naruto atau memang dianya saja yang mati rasa, tidak berpikir panjang-panjang tentang apa yang akan dia lakukan membuatnya spontan, hampir impulsif dalam banyak hal. Tidak lama setelah Naruto masuk tenda, dia keluar mengenakan selimut berwarna-warni dengan corak piramid-piramid kecil saling susun dari ujung hingga ujung—mendekap Ino dari belakang yang membuat gadis tersebut meloncat kecil, menegang, mematung di dalam selimut.

Ino tidak bisa berkomentar atau apa-apa, suaranya sendiri tercekat dengan setiap hembus napas Naruto mengenai belakang leher. Suara Naruto tidak jelas karena dadanya terdengar lebih keras, badannya panas dan matanya lirik-lirik kesana, kemari, kesitu, kesana, memperhatikan tekstur selimut hingga corak hingga api yang setia berbunyi kretek-tek-kretek, menjadi semacam musik romantis. Ino bertaruh ada musik pengiring bila saja ini adalah film atau pentas pertunjukkan—tapi tidak bisa dia pikir lebih dalam karena banyaknya pikiran lain saling teriak.

Setelah lama mendengar jantungnya yang telah kembali bertabuh normal. Ino mempertanyakan masa lalu Naruto yang jauh sebelum asrama, mengingat dia sedikit mengetahui tentang Naruto selain dia adalah anak salah seorang anggota kepemerintahan dan pertemanan mereka yang memang sedari dahulu tidak cukup dekat untuk Naruto menceritakannya. Setidaknya mungkin kini sudah cukup dekat, tapi antisipasi yang terjadi karena Naruto diam cukup untuk Ino menggigit bibirnya takut dengan jawaban Naruto.

Diam Naruto tidak beralasan dia tidak ingin, tapi lebih untuk apa? Menurutnya tidak ada yang menarik dari dirinya dimasa lalu. Lamanya dia diam adalah karena dia berusaha mengingat-ngingat, menimang-nimang yang mana yang menarik dicerita, tapi untuk Ino—lain cerita. Naruto ingin menceritakan tentang masa kecilnya yang seringkali berubah-ubah, dimana dia tambah-tambahkan bukan untuk sombong dan pamer, tapi karena dia tidak ingin cerita sedih, biasanya cerita kecilnya akan keluar dari mulut lebih cepat dari mobil yang baru diperbaiki—tapi entah kenapa, dia ingin bercerita cerita berbeda dari biasa untuk Ino, sesuatu yang lebih jujur. Sesuatu yang menurut Naruto rahasia walaupun sebenarnya bukan, tapi sungkan untuk dikeluarkan. Pikirannya menuju satu arah yang sama, satu permulaan yang menurutnya sedikit personal. Yang sungkan dia ceritakan karena tidak lucu dan menggembirakan tidak seperti dirinya yang ingin dia yakini.


Ada beberapa hal yang tidak disukai Naruto, dan ayahnya bukan salah satu itu. Jauh dari kata tidak suka, ayah adalah kebalikan. Walaupun ayahnya sudah lama tidak ada, dia belajar mencintai ayahnya dari ketiadaan. Dari tv, dari majalah, dari koran, dan dari foto bingkai di dinding. Sesekali pada hari hujan dia akan menunggu ayahnya pada teras rumah berlantai dua karena seingat dia ayahnya menitipkan dia ke paman dan bibi pada hari seperti ini. Walaupun seperti sebelum-sebelum, ayah Naruto tidak akan datang. Jangan karena dia mencintai ayahnya sedemikian rupa, berarti dia tidak menyukai ibunya—seperti ayahnya, dia belajar mencintai ibunya dari ketiadaan. Berbeda kasus dengan ayahnya yang sempat dia lihat dan bersama beberapa tahun, ibunya—tidak pernah dia lihat, tapi tetap dia sayang! Dia mengenal ibunya dari foto, cerita, dan batu bertaut Uzumaki Kushina.

Persoalan orang tuanya tidak sering dia permasalahkan karena yang terpenting adalah dia mencintai keduanya. Jadi menurut Naruto untuk apa peduli perkataan orang-orang? seperti bibinya yang suka menjelek-jelekkan ayahnya (walaupun mereka adalah darah) dikala mabuk. Lagipula ada banyak hal menarik untuk Naruto kecil di sekitar untuk tidak berlama-lama memikirkan hal tidak mengenakkan menyesakkan hati. Contoh hal menarik menurut Namikaze Naruto adalah, dermaga sore hari bersama anak-anak kampung lainnya. Mereka akan dari siang di dermaga, melompat-lompat kelaut dari ketinggian, melambai-lambai ke nelayan yang berlabuh, orang yang pergi dan datang membawa tas atau sekedar berkendara sepeda butut panas-panas.

Biasanya salah seorang akan mentraktir es berbentuk persegi yang di beli di toko kelontong dermaga. Penjual berumur tua itu juga senang memberikan mereka minuman bersoda atau kadang bila sedang panas sekali, memberikan mereka sepotong semangka. Kadang juga salah seorang datang bersama ayah ibu mereka membawa bekal yang cukup untuk mereka semua sehabis bermain. Tapi entah kenapa hati Naruto akan sedikit berdenyut melihatnya, dan makanan yang harusnya enak itu menjadi hambar. Padahal sekujur tubuhnya sendiri sudah berbau dan berasa asin.

Selama…


Cerita Naruto terhenti tepat dimana menceritakan lebih lanjut mulai menyakiti hati tidak seperti yang dia bayangkan. Dilihat Ino yang tertidur karena letih bersandar membuat Naruto tidak dapat bergerak macam-macam.

Api berbunyi kretek-kretek, dan angin berbicara bahasa yang Naruto harap suatu saat nanti dapat dia mengerti. Perasaan damai yang benar-benar damai memeluk walau hatinya terasa sakit mengingat masa lalu yang dia anggap tidak menyedihkan. Ada perasaan kosong dan kenangan yang terasa seperti baru kemarin. Ino bergerak sedikit pada Naruto, mencari posisi yang lebih nyaman, membalas dekapan Naruto pada prosesnya. Naruto lama memperhatikan Ino dengan senyum sebelum beralih pada bulan, dengan mata penuh rindu penuh arti. Seperti pungguk merindukan bulan.

Dan api perlahan berbunyi kretek, hingga padam—meninggalkan Naruto dalam gelap.


Perjalanan mereka berlanjut tidak lama setelah matahari mulai terlihat diujung daratan. Udara dingin tidak menghentikan mereka (setidaknya Naruto) untuk melanjutkan. Ino mengeluh tentang makanan yang tidak cukup untuk pertama kalinya minggu ini—roti dan sosis yang dibakar hangus agaknya dirasa kurang. Sesekali mereka berhenti dibawah bayang-bayang pohon ketika letih, berharap-harap ada mobil yang lewat untuk mereka tumpangi—dan ketika ada pun mobil tidak turut berhenti.

Daratan berwarna kemerahan dengan fitur gundukan-gundukan, jalan membelah yang lurus tanpa sedikit belokan, dan langit berwarna biru pucat bersama awan yang jarang-jarang. Dan bila hidung menghirup dalam-dalam, bisa tercium bau amis laut yang tidak terlihat. " Angin membawa bau tersebut kesini" kata Naruto menjawab Ino. Juga katanya lagi, " Sunagakure tidak terlalu jauh dengan laut, bahkan mereka adalah salah satu kota dengan Pelabuhan terbesar".

Dan ketika Ino bertanya tentang tempat yang mereka tuju sekarang, Naruto hanya tertawa dan melambai-lambai tangan berkata " Laut disana jauh dari area penduduk dan kalau kita ingin kesana, kita akan menghabiskan waktu satu setengah hari berkendara".

Tempat yang mereka pergi sekarang masih menjadi tanda tanya untuk Ino. Naruto sudah memberitahu nama tempatnya, tapi tidak dapat Ino temui pada map (sempat beberapa kali dia putar mapnya untuk mencari-cari). Buat apa juga tidak diberitahu Naruto kecuali berkata ada beberapa urusan dan kenalan. Bila benar apa yang Naruto ceritakan tentang tempat tersebut, maka tempat tersebut memiliki ikatan erat dengan masa lalu Naruto yang hingga kini masih tidak jelas.

Pembicaraan mereka selama perjalanan juga agaknya tidak berlangsung lama, seringnya mereka terhenti oleh topik yang habis. Dan tidak lama kedepannya, entah beberapa jam atau besoknya akan diangkat lagi dan mereka akan membicarakan hal yang sama lagi dan lagi, sesekali tersadar dan menertawai sifat pelupa mereka. Salah satu topik yang disukai Ino adalah perihal bunga-bunga yang tidak ada disekitar mereka kini. Mulai dari A hingga Z, dari fakta-fakta umum hingga yang baru pertama kali Naruto dengarkan. Kadang diakhiri perkataan " Maaf, membicarakan bunga pasti membosankan" tapi jawabannya selalu sama oleh Naruto, senyum menyengir dan dua acungan jempol.

Di lain waktu, biasanya pagi hari. Ino akan mendapati Naruto melamun dipenghujung malam dan ketika pagi menyingsing, tepat setelah sarapan pagi mereka—yang kalau ditanya, kata Naruto sedang menikmati pemandangan. Kebiasaan tersebut diikuti Ino yang tidak memiliki kegiatan lain. Perlahan menikmati apa yang dia lihat, entah alam atau wajah Naruto. Begitu juga kebiasaan Ino yang belakangan mulai lengket di Naruto setelah hari keempat perjalanan kaki mereka, dia bahkan tidak sadar kebiasaan Ino melihat kini dia ikuti dan ketika mata mereka bertemu—pipi keduanya menjadi merah, setidaknya untuk Ino karena lebih sering Naruto melempar senyum.

Pada malam yang menurut Naruto adalah terakhir sebelum mereka tiba di tujuan, dia bertanya " Tidak merindukan Konoha?" yang tentunya Ino bilang tidak lebih cepat dari apapun, dia bahkan tidak mendengar pertanyaan Naruto hingga selesai untuk menjawab. Pertanyaan itu membuat Ino tidak bisa tidur (walaupun biasanya dia akan tidur lebih dahulu dari Naruto). terulang-ulang perkataan tersebut, perasaan kosong tentang hal-hal kecil yang sering dia lupa ketika disana, seperti mandi karena demi Tuhan dia dan Naruto sudah tidak mandi belakangan ini. sesaat juga terbesti ayahnya yang dimana dia tahu otaknya sudah menyuruh untuk tidur.

Setia pada perkataan Naruto malam kemarin, tujuan mereka terlihat di depan mata. bangunan-bangunan berbentuk kotak tidak lebih dari tiga lantai. Dinding-dindingnya dipenuhi kain berwarna cerah seperti merah dan biru. Makin mendekat, bau rempah-rempah bercampur dengan bau manusia yang memenuhi jalan. Tidak seperti perkiraan Ino tentang tempat terpencil minim orang. pada trotoar kecil orang berdesakan bersama penjual makanan dan gelang, cincin, topeng, seterusnya dan seterusnya.

Makin ketengah kota orang makin padat. Di apa yang bisa mereka katakan sebagai taman kota, orang berkumpul, bercanda tawa, sekedar duduk dibawah bayang patung sebesar manusia, atau keluar masuk bangunan besar bertulis "balai kota". Ada anak-anak kecil berlari-lari dengan rambut berikal dan pakaian berwarna merah, membagi-bagi rangkaian macam-macam bunga sebagai mahkota. Kata Ino " Biar kita menjadi raja dan ratu diri kita sendiri, biar jadi pemimpin hidup kita".

Ternyata kedatangan mereka dianugerahi dengan bertepatannya festival tahunan. Mau Ino bersemangat bagaimana untuk menjelajahi tempat tersebut, tubuhnya berkata lain. Terutama setelah melihat bangunan bertulis penginapan. Dia bahkan tidak perlu merengek kepada Naruto. Betapa indahnya Ino melihat sofa pada penginapan. Dia menyerahkan semuanya kepada Naruto, dia tidak peduli dan baru berdiri kembali ketika Naruto mengayun-ngayun kunci kamar.

" Katanya kamar tinggal satu, jadi kita akan berbagi kasur lagi"

" Oh betapa klisenya" yang tidak didengar Naruto jelas. " Oh tidak, hanya berbicara sama diri sendiri"


Biasanya Ino tidak akan mengeluh tentang hal-hal yang Naruto perbuat, biasanya lagi dia akan mendapat pilihan melakukannya atau tidak. Semenjak malam kemarin, setelah dia ditinggal Naruto di dalam kamar sendirian tidak jelas kemana perginya—yang memang dia mengaku salah karena ketiduran sesampai di kamar, tapi hey! Dia kelelahan setelah perjalanan mereka dan kasur serasa begitu empuk. Sangat empuk hingga saat Naruto membangunkannya pagi hari seperti biasanya mereka bangun ( dimana belum ada matahari dan luar masih terlihat biru) dia merasa malas yang lalu berubah menjadi kesal. Seperti kesal kepada orang tua, atau kesal kepada teman, atau semacamnya.

" Tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk lari…" Kata Naruto masuk telinga kanan, membakar sumbu emosi, dan keluar telinga kiri. Badan masih berbunyi setiap berjalan dan kini Naruto mengajaknya lari menyusuri kota yang kosong, sepi berembun. Dia ingin mengomel, tapi ritme Naruto berlari tidak seperti apa yang Ino nyamani (dia juga bukan orang yang suka olahraga). Ino setuju dengan perkataan Naruto, dia hanya sedang tidak ingin meyakini saja. Siapa juga yang ingin iya-iya-benar setelah dibangunkan untuk pagi tanpa janji terlebih dahulu.

" Ayo Ino! Sebentar lagi kita akan sampai" Kata Naruto berlari lebih kencang menanjaki tangga bangunan yang membuat hati Ino bergetar dan jiwanya mencibir. Hela napas terlepas karena dia tidak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti Naruto, dan dia juga berencana untuk hanya berjalan naik. Melihat sekeliling, Ino baru sadar bahwa bangunan ini, berada ditengah belakang kota. lebih tinggi dari bangunan-bangunan tiga lantai lainnya, dan bahkan, sepertinya bangunan ini bukan tempat pemukiman. Tidak ada fitur lain selain tangga menjulang tinggi keatas dan bangunan yang perlahan mengecil diatas, seperti piramid bila memang bukan piramid.

Naruto sudah jauh diatas dan langkah kaki tidak lagi bisa terdengar selain milik Ino yang perlahan mengecil dan mengecil. Dia menyerah untuk berlari hingga keatas, dia bahkan tidak yakin ada orang yang bisa menapaki tangga-tangga ini setelah berkeliling kota dua kali—bah! Naruto memang bukan manusia.

Wajah Ino disambut cahaya campuran antara putih pucat dan kuning. Angin dingin menerpa mengantar amis laut. Di susur bangunan yang tidak ada apa-apa selain mereka berdua—Naruto berdiri membelakangi matahari sebelum berubah membelakangi teman seperjalanan. Tidak ada pembicaraan apa-apa diantara keduanya dan Ino tahu kenapa. Matanya tengah dimanja jamuan oleh Tuhan dengan pemandangan. Laut biru membentang, berkilau pantulan sang surya. Langit agaknya tidak mau kalah biru sama laut walaupun dia terkoreh oleh awan putih yang jarang-jarang. Di bawah laut, pada garis panorama atau apalah namanya, terlihat kota berbayang dan tidak jelas. " Itu Suna" kata Naruto. " …Itu tujuan kita" Sambungnya.

Dan pertama kalinya, " Untuk apa?"

Perkataan itu keluar dari Ino tanpa dia pikir, seperti ada kontrol dari Atas. hatinya sendiri lagi tentram-tentramnya dan tidak merasa ada yang salah, toh memang dia ada hak untuk tahu mau dibawah kemana dia. Dan Naruto tidak ada masalah, malah seperti sudah menunggu pertanyaan itu. Raut wajah Naruto tersenyum dan menyengir.

" Pemakaman…" dan sebelum Ino dapat bertanya lagi, " nanti kamu tahu".

Ino terdiam, rasa bingung bercampur dengan lain. Sedikit ada perasaan sedih, tapi tidak tahu untuk siapa. Matanya bertatapan dengan Naruto yang cerah dan biru. Seperti tadi lagi—seperti ada tuntunan dari Atas, dia memeluk Naruto tanpa berpikir apa-apa. Ketika sadar memeluk Naruto dia ingin segera lepas, tapi kemudian urung ketika Naruto balas memeluk dan tidak lama pundak Ino basah. Ino mengeratkan peluk dan suara isak makin jelas terdengar walau tidak lama tertahan.

Akhirnya Naruto melepas peluk dengan mata yang basah, tapi tidak lagi mengalir. Cengirnya dia pamer sembari menggosok hiduk berair. " Terima kasih" Kata Naruto kepada Ino yang sejenak salah tingkah tidak berharap terima kasih dan tidak juga mengetahui kata terima kasih bisa berdampak begini ke dia.

" Kau berutang menemaniku festival"

" Hm?" Kata Naruto sebelum lari meninggalkan Ino.

" HEY!"


A/N : Siapa yang sangka menulis ini butuh banyak paksaan dan ternyata rangkumnya tulisan ini hanya butuh sedikit lari, memang inspirasi datang tidak ada yang tahu darimana. Awalnya ingin mempertahankan cerita ini dengan tragedi, tapi siapa yang ingin membaca tragedi? begitu sedih, begitu mengasihani, tidak ada yang tahu, mungkin kedepan bakal ada tragedi lain.

Juga maaf kalau ada typo karena spell-check bukan forte penulis, terlebih terlalu malas untuk melakukannya. Sejujurnya menulis ini tidak lepas dari OOC karena hampir banyak yang tindak tanduk berdasarkan orang-orang disekitar penulis, bahkan saya sendiri, Walaupun masih berusaha setia dengan karakter masing-masing. Juga kemarin-kemarin terhambat karena kebodohan penulis yang berpikir kebanyakan tentang " Bagaimana bila chapter ini tidak sebagus kemarin? Bagaimana bila ini mengecewakan? begitu begini?" dan yadda...yadda...yadda, butuh beberapa waktu baru tersadar bahwa menulis ya menulis.

Mungkin juga, MUNGKIN, bakal mengeluarkan satu lagi chapter untuk penutup tahun. Mungkin interaksi/kegiatan Naruto dan Ino saat festival, mungkin saja.


Makasih untuk yang sudah menyempatkan waktu buat mereview fic ini.

Dukungan kalian membuat penulis semangat untuk menulis dan menulis,

ditunggu review kalian yang akan sangat penulis wanti-wanti


Tidak ingin membuang waktu berharga para pembaca. Sekian dari saya, terima kasih sudah membaca.