To Each, Our Path

Rate: M

I Own Nothing

DramaXRomance

Warning: Typo, Modern Universe, OOC, OC, Mature Theme, Violance, Drug use, Rape, Animal Abuse, ETC


Chapter 4: Festival


Festival adalah hal yang ajaib. Seperti pada dongeng, seperti pada buku gambar, seperti apa yang diceritakan orang-orang kepada Ino. Air wajah Ino tergambar jelas kebahagiaan dan antusias pada jalan yang pasangi tenda dua warna, warna-warni. Orang berjalan berlindung dari bayang matahari yang tampil perkasa pada langit biru. Penjual baju menjajal dinding-dinding bangunan selayaknya orang menempel poster dengan tulisan-tulisan yang ragamnya tidak kalah sama penjual gelang beragam warna. Seperti kemarin mereka diberikan mahkota yang senantiasa dipakai Ino bersama dengan senyum. Ada simbolik dan kepercayaan, yang tidak ada orang punya waktu menjelaskan kepada Ino.

Penyanyi memainkan gitar, ada yang menabuh, ada yang meniup, kadang pada jarak yang saling dempet dan didepannya ada yang menari, tapi dominan kaki mengetuk-ngetuk trotoar. Ada juga yang jauh-jauhan, sendiri-sendiri dengan alat musik mereka, tapi dikerumuni orang. Jalanan menjadi berisik dan tidak kompak, dan kacau, tapi ajaibnya menajdi harmonis dan enak di dengar telinga bersamaan dengan suara orang berbicara.

Di tengah taman yang kemarin mereka datangi, seorang pemuda yang mengenakan baju kuning terang mengajak keduanya menari, " apakah kalian ingin ikut menari bersama kami? Kita akan menyusuri jalanan dan memutari kota sambil menari. Ini adalah adat desa, tapi tidak pernah ada aturan menari. Kami lebih mendorong kebebasan dalam berekspresi dan semacamnya."

Naruto saling pandang dengan Ino sesaat. Mata gadis tersebut menjawab Naruto, bahkan sebelum ada suara yang keluar dari kerongkongan salah seorang. Dan nampaknya pemuda desa juga mengerti tatapan mereka, " Kalau begitu tunggulah ditengah bersama orang-orang itu dan jangan lupa pakai ini" katanya memberi Naruto dan Ino sehelai kain berwarna kuning kepada Ino dan merah kepada Naruto.

Ditengah mereka menunggu agak lama. Memberi Ino waktu buat membeli cemilan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya—apel yang dibalut permen dengan rasa ceri dan diberi pegangan. Ino menyuapi apel tersebut kepada Naruto yang sedikit tersentak ketika apelnya menyentuh hidung.

" Apa kau tahu beberapa tempat makan disini menolak untuk dibayar?" Kata Naruto menarik perhatian Ino yang tengah fokus pada apel. " Petinggi desa membayar mereka untuk menjamu kita, walaupun tidak semuanya bisa. Untuk mengapresiasi semua orang dan supaya tidak ada orang yang kelaparan pada minggu berbahagia ini".

" Bukankah itu bagus?"

" Itu bodoh. Mereka membuang uang yang bisa digunakan membuka lapangan kerja"

Mata Ino membulat. Kaget yang dibuat-buat, mendramatiskan gerakan tubuhnya, " Siapa kamu?! Kau kemanakan Naruto?!"

Dan sebelum dapat Naruto membalas, pemuda yang tadi berbicara dengan mereka berteriak mengumpulkan. Orang-orang yang sedari tadi berfokus pada kegiatan masing-masing dan grup sendiri-sendiri kini berkumpul mengerumuni tengah. Tidak banyak pembicaraan yang terdengar Naruto dan Ino karena agak jauh dibelakang. Tapi dari gerak semua orang, mereka tahu mereka tengah berdoa. Setelahnya pemuda tadi berteriak setelah menepuk tangan sekali dengan keras sebagai isyarat waktu doa telah usai dan sekarang waktunya menari.

" Waktunya menari!"

Dari tengah lapangan mereka menari menuju jalan. Awalnya ada beberapa yang tidak menari seperti Ino dan Naruto, dan ketika menari terlihat canggung juga kaku. Makin kejalan barulah terlihat seperti menari, terutama setelah para pemusik yang tadinya pada kesendirian kini bergabung dan memainkan lagu yang sama. Orang-orang yang tadinya tidak berada pada lapangan ikut bergabung dengan mereka dan menari. Tarian mereka berbeda-beda, ada yang terlihat anggun, ada yang terlihat modern, ada yang lebih kepada balet, ada yang hanya berputar-putar, bahkan ada yang bisa dibilang lebih seperti orang terkena kejang.

Penuhnya orang membuat Naruto dan Ino terpisah walaupun tidak begitu jauh. Setidaknya ketika Ino berbalik kebelakang Naruto ada disana dan ketika mata mereka bertatapan, mereka akan saling balas senyum.

Dari bangunan-bangunan berbalkon orang melambai-lambai tangan entah kepada siapa, walaupun kemungkinan besar bukan kepada orang yang tidak dikenali. Mereka melempar bunga berbagai macam warna, dan dibalas sorak dari para orang yang mengetahui sebait lirik lagu. Tidak butuh beberapa langkah untuk Naruto mendapati teman menari baru, gadis berambut merah dengan gaun berwarna ungu pink. Dan ketika mata Naruto dan Ino kembali bertemu, Ino akan memalingkan wajah sebelum Naruto dapat melihat rautnya.

" Lagu yang menemani kita adalah tentang kebebasan. Bahkan kegiatan tari-menari ini sendiri adalah ekspresi tentang kebebasan, bukan dari penjajah, lebih kepada spiritual. Lebih kepada kebebasan tubuh dan semacamnya." Kata gadis berambut merah kepada Naruto beriringan mereka berhenti menari karena kelelahan dan lebih memilih berjalan.

" Kepercayaannya adalah bahwa kita terkekang, secara sadar atau tidak. Bahkan ketika kita sendiri mempercayai bahwa kita telah lepas." Senyum gadis itu aneh penuh tanda tanya dan penuh omong kosong untuk Naruto, tapi pura-pura didengarkan penuh antusias. " Aku Sāra, dan kau adalah?"

" Naruto" lalu keduanya diam.

Mata Naruto tidak pernah lepas dari punggung Ino yang masih menari bersama orang disekitarnya. Sāra tersenyum melihatnya, " Dia kekasihmu?" Naruto tersentak dan bertindak salah tingkah membuat Sāra tertawa. Oh betapa dia mengerti pria yang baru dia kenal. " Aku menebak kau akan mengajaknya nanti malam buat penutupan" Lanjut Sāra lagi.

Diam Naruto dengan wajah bersemu dan senyum lebar yang aneh, begitu canggung, tapi terlihat menggemaskan untuk lawan bicaranya. Mata Sāra sesaat bertemu dengan Ino, tapi dia alihkan kembali pada Naruto. Ternyata bukan saja lawab bicaranya yang terlihat imut, tapi pasangannya juga begitu imut, tingkah keduanya juga imut menurut Sāra.

" Semoga malam ini yang terbaik untukmu" Kata Sāra berpisah, dan memutuskan mencium pipi Naruto terlebih dahulu disusul sedikit tawa yang dia redam ketika melihat Naruto mematung dan tidak jauh dari mereka gadis berambut pirang yang matanya membulat dan bibirnya menganga.

Oh betapa dia berharap malam yang terbaik untuk keduanya.


Malam festival selalu spesial dan khusus malam ini jauh lebih spesial dari malam-malam kemarin. Malam ini adalah hari terakhir sekaligus penutupan. Acaranya sudah diberitahu dari jauh-jauh hari, dari hari pertama dan terus menerus diingatkan setiap harinya oleh orang-orang. Naruto sendiri tidak memperkirakan bahwa kedatangan mereka bertepatan dengan festival yang selalu tidak bertepatan ketika dia datang kesini. Mungkin benar kata orang bahwa dibalik kesialan ada keberuntungan.

Jadi kenapa bila ini adalah keberuntungan, kenapa gadis yang menemani perjalanannya terlihat muram semenjak balik?

Mata Ino tajam tidak pernah ingin bertatapan, suaranya ketus, dan lagaknya penuh emosi. Naruto menggaruk kepala yang tidak gatal berkali-kali tidak juga kunjung mengerti. Keduanya makan dalam diam, walaupun bukan hal yang aneh karena seringnya mereka kehabisan topik. Kali ini makan malam mereka lebih dingin dari angin diluar. Bahkan sehabisnya mereka makan tidak ada kata yang terucap dari mulut Ino kecuali, "hm dan hn" yang mengingatkan Naruto kepada salah seorang temannya yang kerap berkata itu ketika diajak berbicara.

Malam semakin malam dan orang makin sepi. Dijalanan tersisa pedagang yang siap menyambut hari baru dengan mencabut dagangan mereka dari tembok dan menggulung jualan. Ada tawa cekikikan dari pemuda-pemudi yang bersembunyi dibalik bayang-bayang—memanasi dada Naruto entah kenapa. Kepala Naruto berargumen apa yang harus dia lakukan kini dengan waktu yang kian mendekati tengah malam dan Ino yang masih acuh tak acuh.

Apakah semua yang dia rencanakan kemarin akan dibuang keluar jendela? Apa Ino tidak akan berbicara? Apa yang dia perbuat? Kenapa bumi bulat? Kenapa matahari terbit dari timur? Apa salahnya?

Dan ketika suara lonceng menandakan tengah malam, semua yang pikirannya hilang. Seperti tadi pagi ketika mereka lari—seperti ada tuntunan dari Atas pada gerak tubuh. Pikirannya kosong ketika menarik tangan Ino, serentak membuat gadis tersebut terkejut dan mematung. Ketika menyadari mematungnya Ino, Naruto segera melepas tangan, kebingungan.

Diam mereka dihiasi lonceng dan sorak-sorai dikejauhan. Naruto mengutuk dirinya dan penulis yang tidak bisa menceritakan adegan seperti saat ini dengan benar. Mengutuk ketidakberdayaannya untuk bersuara ketika bertatapan dengan mata Ino yang bergetar. Lalu teringat pemberian pemuda tadi yang masih dia simpan pada sakunya—kain berwarna merah yang disodorkan kepada Ino, yang kini setelah lepas dari gemetarnya, menuju kebingungan.

" Aku tidak tahu kau kenapa dan aku tidak pandai hal seperti ini. Tapi maukah kau menerima hadiaih festival ini?" Tanya Naruto canggung. Mati-matian mengingat kata orang-orang tentang tata cara memberikan hadiah dan maknanya kepada seseorang. Kurang lebih.

Perhatian Ino dari kain kepada wajah Naruto yang tersenyum kikuk, kembali pada kain lalu wajah Naruto, sebelum akhirnya membuka mulut. " Kenapa tidak kau berikan kepada gadis yang mencium mu saja tadi?!"

Nada Ino meninggi sedikit dan napasnya pendek-pendek. Naruto kebingungan sebelum mengingat maksud Ino. " Oh ayolah Ino, jangan cemburu. Sāra yang mencium ku tiba-tiba".

" Oh! Sekarang namanya Sāra" Naruto mengutuk diri dalam-dalam. " Dan aku tidak cemburu!"

Ino menghela napas, tidak tahan dengan Naruto. menendang-nendang tanah sebelum memukul-mukul Naruto yang masih kebingungan. Kekesalan yang tidak bisa Ino jelaskan dia tumpahkan pada lengan Naruto, dan beberapa sumpah serapah yang membuat para penghuni bayangan melompat terkejut.

Betapa dia kesalnya sama Naruto.

Setelah lama memukul Naruto karena bosan dan capek, Ino bersungut-sungut mengambil (merampas) kain berwarna merah dari tangan Naruto. Melangkah pergi melanjutkan jalan, tapi berhenti karena sadar Naruto masih beridiri di posisi yang sama dengan pandangan bingung dan bodoh.

" Sekarang apa lagi?!"

Naruto tertawa sedikit dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, " kau juga harus memberiku hadiah"

Ino merogoh-rogoh kantong dengan kasar mencari kain miliknya. Lalu menjadi sedikit lebih pelan dan lebih berhati-hati, sebelum mengeluarkan kantong-kantong yang dia miliki. Dengan pandangan bingung yang sama seperti Naruto, menyadari kain miliknya hilang entah dimana.

" Arrgh! Apa bisa diganti?" Jawaban Naruto hanya mengangkat kedua bahu. " Tunggu disitu!" Titah Ino berlari kebelakang tempat mereka tadi berjalan meninggalkan Naruto yang berdiri makin seperti orang bodoh.

Tidak lama setelah kepergiannya, gadis tersebut kembali dengan raut wajah buram. Dia menggeleng. " Aku tidak menemukannya, tapi aku mendapatkan ini" Katanya memberi Naruto setangkai bunga Dandelion yang tadi dia petik pada trotoar.

Sejujurnya dia juga menantikan malam ini dari cerita yang dia dengar tadi. Tentang makna pemberian kain kepada orang yang mereka anggap penting dan semacamnya, tentang bagaimana orang desa mengungkapkan rasa sayang mereka dengan cara bertukar kain. Dan kini semuanya sepertinya gagal karena dia sendiri yang menghilangkan kain.

Senyum Naruto merekah memegang hadiah Ino, toh memang dia tidak terlalu peduli juga sebenarnya. Baginya, hadiah adalah hadiah. Senyum Naruto menyebar kepada Ino yang melihat, seketika lupa permasalahan mereka.

Ino menarik napas dan mengecup pipi Naruto dengan cepat. " dan ini untuk menghapus yang tadi" Lalu meninggalkan Naruto yang mematung dan wajah yang kian bodoh nan merah, selayaknya pipi Ino.

Ketika Naruto tersadar agak lama barulah dia mengejar Ino yang sudah lumayan jauh di depan. " Hey, tukang cemburu! Tunggu"

" Jangan coba-coba tuan Uzumaki!"


A/N : Ada bijaknya tidak menulis cerita dengan terburu-buru, tapi disinilah kita. Penghujung tahun dengan satu lagi chapter untuk menutup tahun yang begitu spesial. Aku berharap untuk yang terbaik untuk semuanya. Terima kasih kepada pembaca yang sudah menunggu dan terus membaca, terutama yang sudah mereview karena itu begitu membuat aku begitu bersemangat. Apalagi mengingat aku adalah penulis baru, review kalian seperti pemberi tenaga pada kereta yang suka mogok ini.

Untuk review kemarin yang berkata tentang penulisan yang seperti hasil transletan, sejujurnya sedikit kesal bila bukan banyak. Awalnya ingin berkata ini itu tapi setelah dipikir, toh, hebat juga tulisan aku udh sekelas transletan, ehe. makasih udah review btw.

dan review lainnya, Makasih sudah review dan mengapresiasi tulisan yang jauh dari kata mumpuni. Akan terus diusahakan memberikan yang terbaik disetiap chapter yang akan datangnya walaupun kapan selanjutnya masih sedikit kabur. Aku juga berharap pembaca selalu menjaga kesehatan masing-masing!

dan sekedar mengingatkan saja. rencananya fic ini tidak lebih dari 12 chapter, walaupun masih lama selesainya. menjadi tantangan tersendiri dalam menulisnya. aku harap kita bisa membacanya hingga akhir nanti, hingga epilogue.

Selamat tahun baru! jaga kesehatan, tetap semangat, dan semoga yang terbaik untuk kita semua!

nanti jumpa lagi tahun depan, selamat bersenang-senang~


Makasih yang sudah menunggu,

Makasih untuk yang sudah menyempatkan waktu buat mereview fic ini.

Dukungan kalian membuat penulis semangat untuk menulis dan menulis,

ditunggu review kalian yang akan sangat penulis wanti-wanti


Tidak ingin membuang waktu berharga para pembaca. Sekian dari saya, terima kasih sudah membaca.