Note : Hal yang paling bisa bikin author senang adalah review yang mengapreasi kerja kerasnya. Dari chapter pertama, saya sangat berterima kasih kepada Watchfang dan Beatrixmalf yang sudah mencerahkan hari saya dengan review mereka yang ditulis dengan passion. Dan chapter dua ini saya persembahkan spesial untuk kedua reviewer di atas. Enjoy it. ^0^
Balada Ramuan Cinta Satu Malam
By Opal Chalice
Chapter 2
Seumur-umur, Rose belum pernah mengunjungi Knockturn Alley dan kini ia tahu apa alasannya. Dari nuansa kegelapan yang ditawarkan oleh semua bangunan yang berjajar di sana, Rose tahu barang dagangan macam apa yang disediakan. Ada godaan rasa ingin tahu dan ketertarikan yang muncul ketika Rose tanpa sengaja menengok ke etalase satu toko dan toko lainnya.
Ada toko hewan yang khusus menjual hewan mistis seperti Fomorroh dan Nathair (keduanya adalah sejenis ular gaib yang digunakan untuk mengutuk dan menyiksa seseorang). Ada juga toko bahan ramuan yang secara terang-terangan memperjual-belikan anggota tubuh makhluk hidup, entah dari hewan atau mungkin malah manusia.
Tanpa sadar Rose bergidik. Rasanya seperti kembali ke masa kegelapan, masa yang bahkan lebih tua dari legenda Arthurian. Masa di mana sihir masih sangat primitif dan tua. Apapun yang tersedia di Knocturn Alley adalah sisa-sisa dari peradaban sihir kuno. Terlalu tua untuk dipraktekkan kembali, namun mustahil untuk ditinggalkan sepenuhnya.
"Bisa jalan lebih cepat tidak?" tuntut Scorpius, tidak sabaran. "Kita tidak di sini untuk melihat-lihat. Berhentilah mengintip semua etalase, Rosie."
Rose menggigit bibir bagian bawahnya, efektif menahan umpatan yang nyaris terlontar. Scorpius mengucapkan nama 'Rosie' dengan nada yang mengesankan seolah ia baru saja mengulum sesuatu yang masam. Rosie memang nama panggilan yang sering digunakan oleh keluarga dan sahabat Rose, tapi tidak untuk Scorpius. Nama 'Rosie' terdengar seperti sebuah ejekan kalau Scorpius yang mengucapkannya.
"Hei!" protes Rose saat Scorpius meraih tangan kanannya. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku, ular buluk!"
Scorpius cuma mendengus mendengar rutukan Rose. "Kalau kau kulepas, lalu tersesat di sini, kira-kira siapa yang akan disalahkan?" Pemuda pirang itu justru mempererat genggaman tangannya. "Lagipula Knockturn Alley sangat berbahaya. Yang berbelanja di sini bukan cuma nenek sihir dan dukun tenung, tapi juga vampir, manusia serigala, dan makhluk sihir lain yang pasti tak ingin kau temui."
Huff. Rose menghela nafas panjang, berharap rasa jengkel yang memenuhi dadanya ikut keluar lewat hidungnya. Mau tak mau, ia pun mengalah. Membiarkan Scorpius membimbingnya menyusuri lorong gelap Knockturn Alley, saling bergandengan.
Anehnya, di hawa sedingin ini, tangan Scorpius justru hangat dan punya efek menentramkan. Tanpa sadar, Rose ikut mempererat genggaman tangan mereka.
Seperti yang ia janjikan, Scorpius membawa Rose ke sebuah toko suram di Knockturn Alley. Borgin and Burkes, itulah yang tertulis di papan nama kusamnya. Jika dilihat dari barang apa saja yang terpajang di etalase dan meja pamer, sepertinya ini adalah toko barang antik. Toko barang antik yang menyeramkan, tepatnya.
Kesan seram bukan hanya dari kondisi yang gelap, kusam dan berdebu, barang dagangannya pun seakan mampu menggertak setiap pembeli yang masuk. Topeng-topeng antik yang menempel di dinding, pajangan tulang manusia, dan beberapa instrument berduri berkarat yang menggantung dari langit-langit toko, semuanya tampak berlomba-lomba menciutkan nyali.
"Hati-hati," tegur Scorpius, dengan sigap menangkap tubuh Rose yang hampir saja menabrak patung goblin bermata semerah darah. "Di sini semua barang tidak diberi mantra pengikat dan ditata dalam posisi yang kacau. Salah langkah dan menabrak, kau akan dipaksa membeli."
"Dan kau tahu ini karena?" Kedua alis Rose terangkat, menantang.
"Karena aku punya mata yang tajam dan indah," balas Scorpius, sudut bibirnya tersenyum sinis. "Dan aku mengamati baik-baik apa yang ada di sekitarku, Rose. Kesan yang kudapat adalah toko ini perlu menyewa merchandiser professional, atau tata letak setiap barang dagangannya memang sengaja dibuat untuk menjegal kaki pembelinya. Tapi kurasa aku pilih tebakanku yang terakhir. Tipikal Slytherin, kau tahu."
Untuk sesaat Rose terdiam. Raut penuh kemenangan dan berpuas diri ala Scorpius bukanlah hal asing di matanya. Yang asing bagi Rose adalah tubuh Scorpius. Tubuh yang begitu dekat. Terlalu dekat dari tubuh Rose sendiri. Juga dada Scorpius yang tegap dan bidang, tersembunyi di balik jubah tebalnya. Serta kedua lengan kokohnya yang sedang melingkari pinggang ramping Rose. Detak jantung Rose mendadak tak karuan saat matanya menangkap mata kelabu itu balas menatapnya.
"Ada yang bisa kubantu, Mister…? Miss…?" Suara bernada tajam dan serak ini mendadak memecahkan kebekuan.
Rose cepat-cepat melepaskan kedua telapak tangannya yang entah sejak kapan menempel di dada Scorpius. Di saat bersamaan, Scorpius langsung melompat menjauh seolah-olah baru saja bersentuhan dengan api. Kontak fisik yang terputus secara spontan ini menyisakan kekosongan aneh yang dirasakan baik oleh Rose maupun Scorpius. Seakan mereka tidak rela dipaksa berjauhan.
Mengalihkan pandangannya ke arah konter, Rose mendapati seorang pria tua bertubuh kurus dan bongkok berdiri di sana. Rambutnya berwarna coklat kemerahan dan mulai botak di sekitar dahi. Kedua matanya memancarkan kecurigaan. Sorot curiga itu seketika hilang saat ia menyadari siapa pemuda berambut pirang platinum yang ada di hadapannya.
"Master Malfoy, kalau aku tak salah?" ucap pria itu, buru-buru mengubah sikap menjadi penuh hormat.
Scorpius berdehem kecil, sebelum kembali menjadi Scorpius Malfoy yang dikenal Rose. Angkuh, arogan, dan sok penting. Meski begitu, rona merah di pipi pucat pemuda itu masih belum hilang.
"Mr Borgin," balas Scorpius. "Aku dan temanku ini… Miss Weasley, kami datang kemari untuk mencari sesuatu yang sangat penting dan sangat rahasia. Sesuatu yang hanya bisa ditemukan di sini."
Mata Mr Borgin mendadak menyala, sorotnya culas dan tamak. "Oh, tentu, sir… miss… Kami punya jimat pelet yang sangat ampuh dan kuno. Dulunya milik seorang courtesan di awal abad 18. Mati secara tragis, sayangnya. Tanpa segaja dibunuh pria-pria yang memperebutkan cintanya, kalau tak salah."
Jari kaku dan panjang Mr Borgin menunjuk kalung yang dipajang di leher sebuah chest mannequin—boneka manekin sebatas dada. Batu rubi yang terpasang sebagai liontin kalung berkilau aneh tertimpa cahaya lampu. Rose harus mengerjapkan mata berulang kali agar bisa membebaskan diri dari mantra pikatnya.
"Bukan. Maksud kami bukan itu, tapi…"
Perkataan Scorpius dipotong Mr Borgin dengan cepat. "Aha! Tentu. Kami punya itu. Jimat untuk memuluskan hubungan cinta yang terlarang. Kabarnya ini dibuat pada masa Romeo-Juliette, tapi tentu saja mereka berdua tidak membelinya. Mereka muggle idiot." Sambil terkekeh, Mr Borgin meraih sebotol parfum berwarna hijau keruh. "Dibuat dari rebusan ambergris dan frankincense dengan ekstrak kuntum bunga jeruk. Usapkan pada calon mertua yang galak hari ini. Siapkan pemakamannya tiga hari kemudian."
Rose terkesiap. Dia tidak ingin meracuni calon mertua siapapun. "Tidak. Yang aku inginkan cuma…"
"Oh, aku tahu! Aku tahu, tentu," sergah Mr Borgin lagi. "Jimat Kecantikan. Nona muda sepertimu pasti mencari itu, miss Weasley. Cermin Kuno Helen paling cocok untukmu. Peninggalan Helen of the Troy. Kekuatan magisnya mampu membuat wanita buruk rupa manapun jadi terlihat sangat cantik."
Tersinggung, Rose membuka mulutnya, hendak mendamprat kakek kurang ajar ini. Tapi ia kalah cepat. Scorpius sudah melakukannya.
"Apa maksudmu? Dia sudah cantik!" Seolah menyadari ia keceplosan, Scorpius buru-buru meralat, "Maksudku, dia cewek. Cewek itu cantik. Bukan ganteng."
Rose memutar bola matanya, minta ampun. Dasar Scorpius payah.
"Sebelum kau membuat kami kebingungan dengan barang-barang yang menurutmu kami perlukan padahal tidak, Mr Borgin, kami kesini untuk mencari Epimedium Sagittatum," ujar Rose, sebelum Scorpius kembali membuat dirinya terlihat makin bodoh. Pemuda itu masih salah tingkah saat Rose mendelik ke arahnya.
"Epimedium Sagittatum?" Kedua alis tipis beruban Mr Borgin terangkat kaget. "Atau nama lainnya Ramuan Cinta Satu Malam. Ramuan penambah vitalitas pria paling kuat yang pernah diciptakan sepanjang sejarah. Impoten separah apapun bisa sembuh."
Scorpius buru-buru membantah tatapan menuduh pria tua itu. Tak terima dikira impoten. "Jangan lihat aku. Ramuan itu bukan untukku."
"Ramuan itu juga mampu menyuburkan kandungan sekaligus memproses pembuahan dalam semalam." Kali ini tatapan curiga Mr Borgin mengarah ke Rose yang seketika itu menggeleng keras. "Well, tentu saja apa yang dilakukan pembeli terhadap barang yang mereka beli bukanlah urusanku. Kami punya aturan keras di sini. Begitu uang dibayar hak milik berpindah tangan, tanggungjawab sepenuhnya berada di si pembeli. Toko ini tak punya tanggungjawab hukum lagi. Kuharap kalian tahu itu."
Sekarang Rose paham kenapa dari dulu para Auror tidak bergegas menggerebek Borgin & Burkes. Mungkin secara diam-diam, ada pejabat Kementerian yang sering berbelanja di sini. Selain saling sikut, dunia politik sihir terkadang juga butuh saling kutuk dan tenung.
"Kami tahu itu," tukas Scorpius penuh percaya diri. "Sekarang kau punya barangnya atau tidak?"
Mr Borgin membalas gertakan teredam dalam nada bicara Scorpius dengan tenang. "Itu tergantung."
"Tergantung?" Kedua mata Rose menyipit. Kata 'tergantung' adalah salah satu dari kata yang tidak ia sukai. Biasanya ada konsekuensi tersembunyi di balik kata itu. "Tergantung pada apa?"
"Uang, tentunya." Mr Borgin membasahi bibirnya, ekspresi tamaknya muncul. "Menjual barang terlarang dan terkutuk adalah spesialisasiku, miss. Tapi untuk barang ilegal yang sudah dilarang dijual begini, ada resiko besar yang kutanggung. Salah satunya adalah apakah aku menjualnya kepada orang yang tepat. Dalam hal ini, umur kalian. Kalian masih di bawah umur, kurasa."
"Aku punya uang," balas Rose, mulai gugup. Ada lima puluh galleon yang ditabungnya sejak dua tahun terakhir ini. Setiap sickle dan knut yang didapatnya dari menyisihkan uang sakunya itu kini tersimpan di dalam dompetnya. Ramuan langka ini tentu tidak akan sampai lebih dari lima puluh galleon, kan? "Berapa harganya?"
"Dua ratus lima puluh galleon," jawab Mr Borgin dengan nada mencemooh.
"Apa?!" Rose sampai harus membekap mulutnya sendiri saking kagetnya. Dua ratus lima puluh galleon? Ia saja baru bisa mengumpulkan seperlimanya setelah menabung selama dua tahun. "Apa tidak bisa lebih murah?"
Mr Borgin tampak tersinggung. "Ada uang ada barang. Tidak ada uang maka tidak ada barang. Sekarang tinggal pilih, mau bayar atau enyahlah dari sini. Kalian sudah cukup lama membuang-buang waktuku."
Putus asa, Rose menatap Scorpius dengan penuh harap. "Kita sudah sampai sejauh ini. Kumohon. Apa aku bisa pinjam uangmu dulu? Nanti akan kubayar dengan mencicil selama lima atau enam tahun." Harapan Rose hampir pupus saat Scorpius memutar bola matanya. Namun alih-alih mengejek, pemuda itu justru menepuk pelan pundak Rose.
"Tak perlu khawatir. Serahkan saja padaku." Dengan langkah enteng dan mengerahkan aura ningratnya sampai ke level maksimal, Scorpius mendekati Mr Borgin. "Kami tidak punya uang sebanyak itu, tapi aku tahu siapa yang punya. Masukkan saja biayanya ke tagihan kakekku."
"Scorp…"
Protes Rose tertahan. Scorpius mengangkat salah satu tangannya. Dari caranya bersikap, ia terkesan tahu betul apa yang sedang dilakukannya.
"Kakekku, Lord Lucius Malfoy…" ucap Scorpius dengan nada sok pentingnya yang khas. "…sudah jadi langganan setiamu sejak ia masih muda dulu, benar?"
"Well… ya. Benar." Mr Borgin menganggukkan kepalanya, airmukanya berubah sedikit cerah. "Keluarga Malfoy adalah salah satu pelanggan pertama toko ini. Sejak toko ini mulai dibuka, Lord Abraxas Malfoy sering mengajak Lord Lucius kemari. Kemudian Lord Lucius mengajak Lord Draco, dan begitulah." Mata biru pucat Mr Borgin menatap pemuda di hadapannya. "Jika kau dimasukkan ke dalam hitungan, maka empat generasi Malfoy adalah langganan paling setia kami sepanjang sejarah berdirinya toko."
"Kalau begitu tidak ada masalah, kan?" kata Scorpius, mengangkat dagu runcingnya dengan arogan.
"Tidak. Kurasa tidak," jawab Mr Borgin cepat. "Sejak pertempuran besar Hogwarts memang Lord Lucius jarang menggunakan tagihannya. Tapi sekitar beberapa bulan belakangan, Lady Cara mulai rajin berbelanja di sini. Wanita cerdas, kalau boleh kubilang…"
"Wanita iblis, lebih tepatnya," gumam Scorpius sepelan mungkin, masih tersenyum penuh kemenangan meski diam-diam menahan geram.
Lady Cara yang dimaksud adalah Cara Mason-Malfoy, istri baru kakeknya yang dinikahi selang sebulan setelah kematian nenek Scorpius, Narcissa Malfoy. Ada gosip yang mengatakan kalau kematian mendadak Narcissa diakibatkan oleh guna-guna. Namun siapa pelakunya masih belum terungkap. Entah Lucius atau Cara. Tetapi Auror tidak bisa mengusut sebuah peristiwa hanya berbekalkan sebuah gosip belaka. Maka kematian Narcissa pun dianggap sebagai kematian wajar yang tak terduga.
Healer dan kerabat dekat Malfoy tahu kalau sebenarnya Narcissa meninggal akibat kutukan mematikan yang didapatnya saat terlibat dalam perang besar di Hogwarts—sama seperti yang dialami ayah Rose. Kutukan yang selama bertahun-tahun diderita wanita malang itu akhirnya merenggut nyawanya. Fakta ini akhirnya diungkap ke publik setelah makam Narcissa Malfoy berumur seminggu. Di minggu berikutnya, Daily Prophet mengumumkan berita pertunangan Lucius dengan sekretarisnya sendiri, Cara Mason. Namun sayangnya, gosip tak mengenakkan tadi sudah terlanjur tersebar. Pernikahan mereka terlalu mendadak. Wajar kalau menimbulkan kecurigaan.
"Ya, tentu, Master Malfoy. Akan kumasukkan biayanya ke tagihan Lord Lucius."
Mr Borgin terbungkuk-bungkuk berjalan, mencari ramuan yang dimaksud di antara etalase berdebunya. Setelah memilah-milah beberapa botol berwarna kusam, akhirnya ia mengambil sebuah botol seukuran jari kelingking dan menyodorkannya ke Rose.
Serta-merta Rose menggenggam botol itu, berusaha mengamankannya dari apapun yang mengancamnya. Dua ratus lima puluh galleon, atau seribu dua ratus lebih poundsterling. Merlin, itu jumlah yang sangat banyak, dan Rose terpaksa berhutang kepada Scorpius… atau lebih tepatnya, kepada Lucius Malfoy.
"Scorp, bagaimana kalau kakekmu sampai tahu? Dia akan marah. Dua ratus lima puluh galleon adalah…"
"Uang receh baginya," sahut Scorpius enteng, menyeringai melihat ekspresi cemas Rose. Mereka berjalan berdampingan keluar dari toko, dan karena cemas, Rose sampai tidak menyadari kalau ia berpegangan pada lengan Scorpius."Rosie, uang belanja bulanan yang dihabiskan kakekku jauh lebih besar daripada itu. Dia tidak akan sadar sudah mengeluarkan beberapa ratus galleon untuk sesuatu yang tidak pernah dibelinya."
"Biasanya aku tidak terlalu suka mendengar pemborosan." Rose mengernyit, mulai agak lega. "Tapi mungkin aku harus bersyukur untuk kali ini."
"Yeah, begitulah." Scorpius mengedikkan bahu, acuh. "Apalagi sekarang kakekku akan mencalonkan diri sebagai Menteri Sihir. Kau bisa pingsan melihat panjangnya perkamen tagihan yang diantar ke Malfoy Manor. Paling pendek ada sepuluh kaki, malahan."
"Tapi pendaftaran calon Menteri Sihir masih empat tahun lagi. Untuk apa membuang uang sebanyak itu?"
"Tanyakan ke nenek tiriku. Dia wanita paling mengerikan yang pernah ada di muka bumi ini. Semua yang dipikirkannya cuma pencitraan. Selalu saja mengadakan pesta kebun, malam gala, lelang amal, jamuan makan, dan pemborosan apapun yang bisa ia pikirkan. Kakekku belum pernah muncul di halaman berita utama Daily Prophet sesering ini sebelumnya."
Rose ikut mengedikkan bahu. Ia sendiri juga heran kenapa masyarakat sihir Hogwarts belum bosan membaca berita soal Lucius Malfoy. Bahkan kadang pria itu bisa muncul dua kali dalam sehari, di Prophet edisi pagi dan edisi sore. Berita yang dimuat pun sebenarnya tidak penting-penting amat. Cuma Lucius Malfoy menggelar acara amal di sini, Lucius Malfoy mengunjungi panti sosial A, dan lain sebagainya.
Meski demikian, citra Lucius Malfoy, yang sebelumnya dikenal sebagai mantan pendukung paling setia Lord Voldemort, kini berubah. Apalagi sejak semua hal yang menceritakan tentang sejarah hidupnya berhasil dibelokkan untuk sekali lagi, kali ini dengan bumbu heroisme yang mampu menumbuhkan rasa simpati publik.
Sekarang publik sihir Inggris mengenal Lucius sebagai penyihir yang dipaksa melayani Lord Voldemort dengan taruhan nyawa keluarganya, dan bermaksud membayar semua kesalahannya ke publik dengan menjadi seorang dermawan.
Lucius tidak menampung Lord Voldemort dan melakukan semua perintahnya secara sukarela di Malfoy Manor saat perang besar terjadi. Ia terpaksa melakukannya untuk keselamatan keluarganya. Itulah yang berhasil ditanamkan dalam pemikiran masyarakat sihir Inggris berkat kecerdikan sekretaris Lucius—Cara Mason, yang sekarang sudah jadi istrinya.
Publik sihir percaya bahwa dengan akting meyakinkan dan kecerdasan oportunisnya, Lucius berhasil mengelabui Lord Voldemort kalau selama ini ia berpihak kepadanya. Lucius bahkan mengklaim kalau sebenarnya dia adalah agen ganda, sama seperti ayah tiri Rose, Severus Snape. Buktinya, saat perang besar di Hogwarts terjadi, alih-alih ikut bertempur, Lucius dan Narcissa justru mencari putra mereka. Lucius pun harus membayar keputusannya ini setelah tanpa sengaja Narcissa terkena kutukan meleset di tengah-tengah medan pertempuran.
Buku sejarah Hogwarts yang diterbitkan setahun setelah terjadinya pertempuran besar pun semakin menguatkan citra heroisme seorang Lucius Malfoy. Entah benar atau tidak, Rose tak tahu pasti karena ibunya langsung melemparkan buku itu ke dalam perapian dan melarang anak-anaknya membacanya.
"Terima kasih, Scorpius," ucap Rose tiba-tiba. Mereka berdua berhenti di perbatasan Diagon Alley dan Knockturn Alley. "Terima kasih banyak. Sungguh. Aku tak tahu harus membalasnya dengan apa."
"Aku tahu," balas Scorpius, menatap Rose dengan tatapan yang tajam dan dalam. Rose tak sempat berkutik saat secara tak disangka Scorpius menangkap wajahnya dan membubuhkan kecupan sekilas di bibir Rose.
"Scorpius!"
"Maaf, aku tak…"
Didorong oleh perasaan mendamba yang ia sendiri tak pernah sadar keberadaannya, Rose melingkarkan kedua lengannya di leher Scorpius dan memperdalam ciuman mereka.
Bibir Scorpius hangat dan lembut. Lidahnya menyapu permukaan bibir Rose, mengulum dan melata-lata seolah sedang mencari sesuatu. Ketika Rose membuka mulutnya untuk terkesiap, lidah itu pun masuk tanpa diundang. Tak perlu menunggu undangan, karena lidah Rose sudah siap menyambutnya. Kecupan demi kecupan. Gigitan kecil dan permainan lidah. Dibumbui belaian lembut di punggung satu sama lain. Entah sudah berapa lama mereka berciuman dan berpelukan mesra, yang pasti saat mereka memisahkan diri, wajah keduanya sama-sama memerah dan nafas mereka memburu.
"Oh, Merlin…" Rose meraba bibirnya. Ia baru saja memberikan ciuman pertamanya kepada buaya darat paling ganas di Hogwarts. Kepada Scorpius Malfoy.
Ekspresi Scorpius tak kalah kagetnya. Mata kelabunya membeku, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia baru saja mencium Rose Weasley, kutu buku paling sok tahu di seantero Inggris. Namun alih-alih mengatakan sesuatu, ia memilih untuk membalikkan badan dan memacu langkahnya sejauh mungkin… sebelum ia melakukan hal yang lebih tidak senonoh kepada gadis itu. Gadis yang diam-diam ditaksirnya sejak ia duduk di tingkat tiga. Gadis yang menjadi cinta pertama dan obsesi terpendamnya. Gadis yang mustahil didapatkannya.
Bersambung ke chapter berikutnya
No oneliner review please!
Tolong jangan review dengan sebaris kalimat geje!
Jangan mereview dengan kata-kata : update ASAP dan sejenisnya!
Biasakan menghargai karya orang lain dengan review yang tulus dan mengapresiasi!
