Note : Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada semua pereview superb yang sudah meluangkan waktunya mereview di Chapter 2 : Watchfang, Beatrixmalf, Bunga Sakura, cla99, dan Hikari Meiko Eunjo. Chapter tiga ini saya persembahkan spesial untuk para reviewer di atas dan para fans Sevmione. Enjoy it. ^0^
PS : Severus mungkin agak OOC di fanfic ini, tapi perlu diingat kalau dia dan Hermione sudah menikah selama sepuluh tahun. Jadi kalau Severus masih galak dan sinis ama istrinya sendiri, rasanya malah bisa jadi KDRT. IMO sih. Hihihi.
Balada Ramuan Cinta Satu Malam
By Opal Chalice
Chapter 3
Bertahun-tahun yang lalu, Severus tidak pernah memikirkan bahwa suatu saat dia akan mengalami Natal yang normal seperti orang lain. Berada dalam rumah yang dihiasi ornament-ornamen khas Natal, dengan perapian yang hangat, dan sebuah pohon natal yang pernak-perniknya menyolok mata. Hell, dia baru bisa mengalami hal semacam ini dalam sepuluh tahun terakhir masa hidupnya. Tepatnya, setelah dia menikahi Hermione dan secara otomatis menjadi ayah tiri Rose dan Hugo.
Menjadi seorang suami, bagi Severus, tidak terlalu buruk. Dia tidak perlu repot-repot menyiapkan sarapan di pagi hari karena itu adalah tugas Hermione (Severus dapat giliran memasak makan malam), punya teman berdebat yang susah ditaklukkan, punya seseorang untuk dimintai pendapat tentang banyak hal, dan yang paling menyenangkan adalah, sekarang dia punya kehangatan ekstra di atas ranjang.
Di sisi lain, beristrikan Hermione yang punya watak keras dan independen, terkadang Severus harus mau mengalah. Wanita penuh ambisi seperti Hermione susah dibendung. Tak butuh waktu lama bagi Severus untuk tahu bahwa istri yang lebih bisa diajak kompromi adalah istri yang bahagia, dan sepertinya itulah yang selama ini berusaha ia lakukan, membahagiakan istrinya.
Menjadi seorang ayah, jelas lain lagi ceritanya. Di awal hubungannya dengan Hermione dulu, Severus harus sangat berhati-hati mendekati Rose. Gadis itu baru berumur tiga tahun ketika kehilangan ayahnya. Konsep kematian bukan hal yang mudah dicerna seorang balita dan kehilangan figur ayah di usia yang sangat belia bisa membingungkannya.
Rose tidak bisa serta merta menerima kenyataan kalau ayahnya pergi ke surga dan tidak akan kembali. Kehadiran pria lain dalam kehidupannya tentu akan menimbulkan penolakan. Di tahun pertamanya sebagai seorang janda, Hermione harus berulang kali menjawab pertanyaan lugu Rose tentang kenapa ayahnya tidak mengajak mereka semua ke surga. Surga, dalam pikiran Rose saat itu, adalah taman bermain yang paling indah di dunia. Tempat yang bisa membuat Ronald Weasley sampai lupa pulang ke rumah, bagi Rose kecil.
Severus ingat betul duka dan tekanan yang dirasakan Hermione saat ia kehilangan suami pertamanya itu. Kematian mendadak Ron Weasley membuat wanita itu hampir jatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Kutukan mematikan yang diterima Ron dari Bellatrix Lestrange saat perang besar di Hogwarts memang susah dipulihkan. Menggerogoti pelan-pelan dan harus merenggut nyawa pria itu justru di saat ia sangat dibutuhkan keluarganya. Hermione Weasley terpaksa menelan pil pahit, menjadi janda dengan dua anak di usianya yang masih sangat muda, dua puluh lima tahun.
Di kala itu, sebagai mentor Hermione, Severus berusaha menyalakan kembali semangatnya. Hermione terlalu cerdas untuk menyerah pada nasib. Wanita itu punya masa depan cerah membentang yang menunggunya. Dan Severus yang sudah lima tahun terlanjur membimbing Hermione menjadi calon healer, tidak ingin semua jerih-payah mereka berdua sia-sia. Pada akhirnya, Hermione tidak melanjutkan lagi magangnya, dan memilih berkonsentrasi dulu kepada keluarganya selama satu-dua tahun. Namun hubungan pertemanan yang sudah terjalin di antara mereka berdua selama lima tahun itu tidak serta-merta selesai.
Sebenarnya Severus bisa saja memutuskan pertemanan mereka, tapi hati kecilnya menolak. Kegelapan yang terlalu lama menyelimuti jiwanya memaksanya berbuat egois. Ia tak mau mengulangi kesalahannya dengan Lily. Tak mau melepaskan wanita penghuni ruang hatinya, wanita yang berhasil membangunkan Severus dari komanya dulu.
Ya, Severus pernah jatuh koma selama bertahun-tahun akibat gigitan Nagini di perang besar Hogwarts. Pria itu bahkan nyaris di-euthanasia atas vonis yang dijatuhkan Menteri Sihir. Seorang pengkhianat yang kemudian dikhianati tuannya sendiri, begitulah anggapan banyak orang saat itu. Vonis paling tepat adalah vonis mati.
Namun berkat perjuangan gigih Harry Potter dan kenangan dalam pensieve Dumbledore, nama baik Severus berhasil dibersihkan dan bahkan mendapat gelar Orde of Merlin kelas satu atas semua jasanya. Kini semua orang menatap Severus dengan hormat, meski tetap menjaga jarak dengan pria itu. Sinisme dan temperamen Severus Snape begitu melegenda dan tidak pandang bulu.
Sayangnya gelar kehormatan paling prestisius itu pun belum mampu membangunkan Severus dari koma. Bahkan healer terbaik pun sampai angkat tangan. Semua orang menyerahkan nasib Severus ke tangan takdir, berharap pria pemberani itu pergi dengan tenang pada akhirnya. Tetapi ada satu orang yang tak mau menyerah. Orang itu adalah Hermione Granger.
Hermione bukan hanya merawat luka di leher Severus, ia juga melakukan beberapa eksperimen. Salah satu penemuan paling mengejutkannya adalah bahwa Neville Longbottom secara tak langsung telah memperpanjang hidup Severus saat ia menebas putus kepala Nagini. Seandainya Nagini hidup lebih lama lagi, Severus pasti sudah mati alih-alih koma.
Penemuan lainnya dari Hermione adalah sebuah altered bezoar atau bezoar yang sudah dimodifikasi untuk meningkatkan khasiatnya. Bezoar ini tak hanya sebagai penangkal racun, namun juga bisa berkhasiat memperbaiki sistem kekebalan tubuh korbannya dan mampu memulihkan kondisi kesehatan hingga seratus persen.
Berkat penemuan terpenting dalam dunia medis inilah, Hermione Granger bukan hanya menyelamatkan nyawa Severus, tetapi juga mencatatkan namanya dalam sejarah. Karir Hermione sebagai healer pun terbuka lebar. Di usianya yang masih sangat muda, delapan belas tahun, tentu saja Hermione tidak bisa serta merta terjun ke dunia medis sihir. Dia harus magang lebih dulu dengan para master di tiga bidang ilmu. Ketiganya yaitu mantra, herbologi, dan ramuan.
Bagi Severus, menjadi mentor ramuan Hermione Granger adalah awal dari kedekatan mereka berdua. Lima tahun berlalu tanpa terasa. Lima tahun yang tidak disesali Severus. Satu-satunya yang menjadi penyesalan terbesarnya adalah kenyataan bahwa Hermione akan menikah dengan pria lain. Seolah menaburi garam di atas luka, pria itu adalah Ronald Weasley yang saat itu dikabarkan sedang sekarat.
"Kau tak boleh menikahinya, Miss Granger," ujar Severus dengan nada sedingin mungkin, berusaha mendinginkan hatinya yang sepanas lahar.
Rahang wanita cantik yang ada di hadapannya mengeras. Kedua mata coklat indahnya menyala. Marah karena merasa urusan pribadinya dicampuri. "Aku tidak pernah meminta ijin darimu, profesor. Pernikahanku dengan Ron tidak akan membuatku berhenti magang. Bahkan aku masih sangat membutuhkan bimbinganmu."
Ya, untuk membantumu menyembuhkan pria idiot itu, batin Severus gusar. "Miss Granger, kuharap kau tahu apa yang sedang kau lakukan."
Hermione terkesiap menyadari tatapan menuduh dari sepasang mata kelam Severus. "Kau berpikir aku menikahi Ron karena kasihan? Tidak, profesor. Aku mencintainya."
Severus menahan diri untuk tidak mendengus. Dari nada pahit yang diucapkan Hermione di kalimat terakhirnya, Severus tahu dugaannya memang benar adanya. Hermione Granger adalah seorang Gryffindor tulen, dan sebagaimana hal klise yang biasa dilakukan para Gryffindor, mereka punya kecenderungan mengorbankan dirinya demi kebahagiaan orang lain.
"Jika kau menikahinya, kau tidak akan pernah bisa menjadi istrinya, Miss Granger," ucap Severus pelan dan dalam. "Alih-alih kau justru akan menjadi perawat pribadinya. Itupun tidak akan lama. Setahun atau dua tahun kemudian, kau akan menjadi jandanya."
Sesuatu yang tajam dan pedih menggores dada Severus, dan sesuatu itu adalah airmata yang menetes dari kedua mata indah Hermione. Di saat yang bersamaan Severus merasa dirinya tak lebih dari seorang pria berengsek yang berusaha menggoyahkan kemurnian hati Hermione, wanita yang sering mengisi mimpinya di malam-malamnya yang sepi dan dingin. Egoiskah jika Severus ingin memiliki Hermione untuk dirinya sendiri, ketimbang melepaskannya ke pelukan pria lain? Tidak, pikir Severus, menguatkan diri. Jika ini adalah de javu, ia tidak ingin kisah pahitnya dengan Lily terulang. Ia ingin ending yang berbeda.
"Kau pikir aku punya pilihan, profesor?" tanya Hermione kelu. Membekap mulutnya untuk menahan isak tangis yang sempat lolos, wanita itu berujar, "Aku tak punya pilihan. Semua sudah terlambat. Aku harus menikahi Ron. Kalau tidak… kalau tidak…"
Severus mencermati tubuh Hermione yang gemetar karena kalut, wajahnya yang pucat dan lelah, dan kebingungan yang terpancar jelas dari sinar di matanya. Mendadak Severus merasa seolah rentetan petir bertubi-tubi datang menghajarnya. Tidak mungkin. "Kau hamil…? Miss Granger, kau hamil?"
Tidak sanggup menjawab, wanita berambut coklat itu hanya sesenggukan sambil mengangguk.
Lantai tempat Severus berpijak seolah diguncang gempa. Lebih dari itu, Severus merasa kehampaan dan kegelapan yang dahulu pernah menerpanya kini datang kembali. Dingin dan pekat. Membuat Severus lupa bernafas, dan diam-diam berharap ia tak usah bernafas lagi jika harus mengalami sakitnya patah hati. Untuk kedua kalinya. Tidak, bukan patah hati. Mungkin sekarang hatinya sudah hancur berkeping-keping menjadi butiran debu.
Cinta bagi Severus adalah seperti sebuah olok-olok. Menyapa untuk meneranginya dengan secercah harapan palsu. Membelit dan menyesatkannya hingga hilang akal. Sebelum akhirnya meremukkannya dalam sekejap tanpa kenal ampun.
Jika ada alasan bagi Severus untuk tidak pernah percaya dengan cinta, inilah dia. Pada akhirnya selalu ia yang akan terluka.
"…semua terjadi begitu saja," ucap Hermione terbata-bata. "Malam itu kami berkumpul di kamar Ron. Keluarga Weasley, Harry, aku, dan beberapa anggota Orde. Melihat kondisi Ron yang semakin memburuk, kami yakin kalau malam itulah malam terakhir baginya. Satu persatu dari kami mengucapkan salam perpisahan kepada Ron. Hingga tiba giliranku…"
Kedua tangan Severus yang sedang gemetar meraih pundak Hermione perlahan-lahan.
"…entah apa sebabnya, aku tak sanggup berkata-kata. Aku tak mampu mengucapkan perpisahan, sampai-sampai semua orang memutuskan untuk meninggalkanku berduaan dengan Ron. Setelah itu…" Hermione menelan penjelasannya dalam kepahitan. Penyesalan menenggelamkan kekuatan suaranya. Menggantikannya dengan isak tangis.
Severus terdiam, membelai punggung Hermione yang kaku sambil mengucapkan kalimat penentram. Di saat yang bersamaan ia masuk ke dalam alam ingatan wanita itu, dan melihat kejadian yang tak mampu terucapkan. Melihat bagaimana Ronald Weasley dengan tubuh lemahnya yang tergolek di atas ranjang mengungkapkan cintanya kepada Hermione. Bahwa Hermione adalah cinta pertama dan terakhirnya. Bahwa jika ada wanita yang bisa membuatnya bahagia, Hermionelah orangnya. Bahwa ia tak ingin mati perjaka. Dan bahwa ia ingin merasakan indahnya bercinta di malam terakhirnya di dunia.
Dalam situasi yang sangat emosional, ditambah lagi dengan perasaan sayang mendalam yang dirasakannya kepada Weasley, Hermione tak sanggup menolaknya. Dia tidak punya keberanian untuk berkata 'tidak'. Maka terjadilah hal yang tak sepatutnya terjadi.
"Hal bagusnya…" ucap Hermione setelah tangisnya mereda, ia berusaha tersenyum. "Kesehatan Ron mulai membaik. Healer di St Mungo bilang ini karena faktor psikologis. Semua orang percaya aka nada kesempatan kedua. Bahwa Ron bisa berumur lebih panjang lagi."
Severus menatap ekspresi wanita yang berada dalam pelukannya. Tidak ada cinta untuk Ron Weasley di sana. Hanya ada kelegaan dan rasa syukur. Apapun perasaan mendalam yang dirasakan Hermione untuk pemuda itu, itu bukan cinta. Mungkin hanya rasa sayang sebagai sahabat lama. Atau entahlah…
"Dua bulan kemudian aku baru menyadari ada perubahan dalam diriku. Aku tak lagi mendapat menstruasi. Aku bingung. Tak tahu harus apa. Aku terlalu muda untuk jadi ibu, dan aku masih belum ingin memikirkan soal rumah tangga. Aku tak mau mengacaukan rencana yang kususun untuk berkarir menjadi healer. Jika saja ada seseorang yang bisa memberiku nasehat…"
Hermione membenamkan wajahnya ke dada Severus yang bidang, sesenggukan. Seseorang yang dimaksud Hermione mungkin adalah ibunya. Ibu yang sudah tiada. Secerdas apapun trik Hermione untuk menyelamatkan orangtuanya, kematian masih mampu melacak mereka. Kedua orangtua Hermione tewas dalam kecelakaan lalu lintas selang beberapa bulan setelah ingatan merekadihapus dan dipindahkan ke Australia.
"Lalu aku pergi ke satu orang yang kukira bisa memberiku jalan keluar. Aku menemui Mrs Weasley…" Hermione melanjutkan ceritanya dengan suara parau. "Tapi alih-alih jalan keluar, yang kudapat justru sebuah rencana pernikahan. Terjadi begitu saja dan tak bisa kuhentikan."
Dalam hatinya Severus mengumpat Molly Weasley beserta seluruh turunannya. Wanita paruh baya itu tentu saja tidak bermaksud buruk, Severus tahu itu. Molly dengan karakternya yang keibuan, penuh cinta dan selalu antusias dalam hal menambah jumlah anggota keluarga baru, pasti tidak akan pikir panjang begitu mendengar Hermione sedang mengandung darah daging putranya.
Molly Weasley tentu tidak akan berpikir kalau Hermione sudah menyiapkan matang-matang rencana hidupnya sendiri. Kebahagiaannya sendiri.
"Mrs Weasley bilang Ron akan sangat bahagia. Dia bilang Ron berhak merasakan semua kebahagiaan yang bisa dirasakannya selagi sempat."Hermione terisak sekali lagi. "Dan aku setuju dengannya."
"Lalu bagaimana dengan kebahagiaanmu sendiri, Miss Granger? Bagaimana dengan kebahagiaan bayimu nanti jika tahu bahwa ayahnya tidak akan berumur panjang?"
Masih banyak 'bagaimana' yang ingin dilontarkan Severus kepada Hermione. Namun melihat tekad yang terpancar di wajahnya, keikhlasan dan ketulusan hatinya, dan semangatnya yang menyala, Severus tahu jawaban dari pertanyaannya tadi.
"Aku harus menyembuhkan Ron."
Severus tahu, jika ada penobatan pria paling bodoh se-dunia, mungkin ia harus mendaftarkan diri. Karena itulah tepatnya yang ia rasakan. Merasa luar biasa bodoh, sekali lagi merelakan wanita yang dicintainya menjadi milik orang lain, dan semakin bodoh saja saat ia malah membantu memperpanjang umur pria sialan tadi.
Ini bukan demi kebaikan bersama. Tidak ada kebaikan yang terjadi jika ia melepaskan Hermione ke tangan Ronald Weasley. Pernikahan mereka bukan didasari cinta sejati. Bukan didasari niat untuk kebaikan jabang bayi di rahim Hermione, karena sempat terbersit di pikiran Severus untuk mengklaim janin itu sebagai anaknya.
Hanya ada satu tujuan dalam pernikahan Hermione dan Ron, dan tujuan itu adalah untuk memberi kesempatan Ron mereguk semua kebahagiaan yang bisa didapatnya sebelum ajal menjemput. Menurut Severus, hal ini sama sekali tidak adil bagi Hermione dan bayinya. Mereka butuh suami dan ayah yang bisa melindungi mereka, membiayai hidup mereka, dan membahagiakan mereka. Bukan sebaliknya.
Namun apapun penolakan yang berkecamuk di dalam hati Severus, ia tetap saja tak bisa menghalangi pernikahan itu. Selama tiga tahun, Severus dan Hermione bekerja sama mencari pemunah kutukan yang diderita Ron. Di saat yang bersamaan, Severus menyaksikan dengan pahit bagaimana Hermione berusaha menciptakan sebuah mahligai perkawinan yang indah bersama Ron. Bagaimana wanita itu berjuang menghidupi keluarganya, karena suaminya secara praktis hanya terbaring tak berdaya di atas ranjang di St Mungo. Bagaimana Hermione mengasuh dan mendidik anak-anaknya seorang diri di sela-sela kesibukannya merawat Ron yang kondisinya semakin memburuk.
Entah keberuntungan pada akhirnya akan berpihak kepada yang berhak, atau dewi fortuna sedang berbelas kasihan kepada Severus, proyek pemunah kutukan Hermione gagal. Akhirnya Ron harus menghembuskan nafas terakhirnya di tahun ketiga pernikahan mereka, meninggalkan seorang istri dan dua anak yang masih sangat kecil. Rose masih berumur tiga tahun. Hugo bahkan masih berumur hitungan bulan.
Sebuah kecupan lembut di pipi membawa kembali Severus ke alam sadar. Tak perlu mencari pelakunya, ia sudah tahu betul siapa. Wangi citrus yang manis dan segar menyeruak masuk melalui lubang hidung Severus, bermuara jauh sampai ke lubuk hatinya. Wangi surgawi, yang kemudian diikuti oleh sang bidadari pemilik wangi tubuh paling menggiurkan yang pernah dikenal Severus di dunia fana.
"Hermione…" panggil Severus, menatap sang bidadari yang mendadak muncul di atas pangkuannya.
Istrinya yang cantik, meski umurnya sudah kepala tiga, masih saja sanggup mengalihkan perhatian Severus dari dunia yang rumit dan penuh masalah. Senyumnya yang semanis madu, tubuhnya yang lembut dan empuk, dan kedua matanya yang indah memabukkan adalah tiga senjata maut Hermione. Severus tak pernah keberatan untuk menyerah dari serangan istrinya.
Tak perlu waktu lama bagi Severus untuk memilih, ia pun memusatkan perhatiannya ke objek yang jauh lebih menarik. Ke Istrinya.
"My darling husband," bibir merah memikat itu berucap. "Kau tahu apa yang membuatku sangat menunggu-nunggu saat seperti ini?"
Untuk beberapa detik, Severus tak bisa mencerna ucapan istrinya. Terlalu terlarut dalam pesona bibir manis yang ranum dan selalu menggoda untuk dilumat dengan bibirnya sendiri. Namun kedisiplinan yang dilatihnya sejak masih menjadi agen ganda menggugahnya untuk kembali menjadi Severus yang dikenal semua orang. Kaku tapi elegan.
"Kurasa aku tahu. Tapi sebaiknya aku mengalah saja dan pura-pura tidak tahu untuk membuatmu senang." Severus menyeringai kecil saat Hermione mencubit pinggangnya. Oh, dia selalu suka menggoda istrinya.
Mendekap Hermione yang masih duduk di pangkuannya, Severus membenamkan wajahnya ke gulungan rambut lebat yang ditata membentuk sanggul. Wangi melati, pertanda istrinya baru saja keramas. Pertanda baik bagi Severus.
"Kau tahu, Sev…" Hermione membelai dada bidang suaminya sambil mengulum senyum. "Rose sedang belanja ke Diagon Alley bersama teman-temannya dan Hugo sedang membantu George di toko mainan. Itu artinya di rumah ini hanya ada kita berdua."
Sudut bibir Severus membentuk seulas seringai. Ya, dia mulai paham kemana arah pembicaraan ini. Sebagai seorang Slytherin, ia tak boleh membuang kesempatan emas.
"Ke atas?" pinta Hermione, kedua matanya berbinar penuh harap.
'Ke atas' adalah kode yang biasa mereka gunakan jika sedang ingin memadu cinta. Merujuk kepada lokasi bercinta yang paling strategis, kamar tidur mereka berdua yang ada di lantai dua.
"Kau memang sudah ada di atasku, my dear," bisik Severus di telinga Hermione sembari mempererat dekapannya. "Tapi aku tak keberatan. Woman on top. Posisi favoritku."
Hermione mengikik pelan, kegelian. Nafas hangat memburu Severus mengelitik bagian sensitif di lehernya. Dengan hati-hati, wanita itu mengubah sedikit posisi duduknya, menjadi menunggangi perut bagian bawah suaminya. Di saat yang bersamaan, kedua tangan Severus menjelajahi setiap inci bagian tubuh molek yang bisa ia raih.
Kancing demi kancing terbuka, menyingkap aurat yang tersembunyi di baliknya. Di setiap kancingnya, Hermione menghadiahi Severus satu kecupan panas. Dan di setiap kecupan, Severus semakin terbakar karenanya.
"My god! Severus… I love you…" desah Hermione saat Severus melancarkan serangan bertubi-tubi ke leher, pundak dan dadanya. Tanpa sadar, Hermione meremas rambut suaminya itu dan menekan wajah Severus semakin dalam ke dadanya. Membiarkan pria itu mengungkapkan apa yang tak bisa diucapkan secara lisan melalui bahasa tubuhnya. Bahasa tubuh yang sangat piawai dilakukannya.
So beautiful. And mine. After all this time… always.
Severus dan Hermione masih sibuk bercumbu saat perapian mereka mengeluarkan bunyi desis pelan, pertanda seseorang hendak mengontak mereka via jaringan floo. Beberapa detik kemudian muncul kepala berambut pirang dan berwajah tampan milik seorang Lucius Malfoy dari dalam sana. Kedua mata kelabu Lucius seketika terbelalak kaget melihat pemandangan mengejutkan yang tersaji di hadapannya.
"Ahem!" Kening Lucius berkerut, dehemannya tidak dihiraukan. "Ahem… hem.. hem… hem… hem!"
"Darling, apa kau sakit? Kerongkonganmu gatal?" sapa suara merdu yang juga berasal dari perapian. Suara istri baru Lucius, Cara Mason-Malfoy.
"Bukan kerongkongan, my love, tapi mataku yang gatal," balas Lucius, sontak memejamkan kedua matanya saat melihat Severus merenggut bra istrinya dan membubuhi bagian atas tubuh istrinya dengan sangat antusias. "Sebaiknya kau jangan lihat dulu. Aku masih belum berhasil membuat mereka sadar ada kita di sini."
Deheman terakhir Lucius, yang suaranya mungkin bisa terdengar sampai ke ujung jalan, membuat Hermione jatuh terguling saking kagetnya. Severus, yang selalu siaga jika terjadi marabahaya sewaktu-waktu, seketika berdiri tegak sambil mencabut tongkat sihirnya. Tongkat itu masih teracung ke arah kepala Lucius selama beberapa menit sampai Lucius cemas kalau Severus memang benar-benar ingin meng-sectumsempra lehernya. Ekspresi gusar di wajah potion master itu mampu melumerkan salju di seluruh London.
Untunglah Hermione bisa membenahi pakaiannya secepat kilat, meski wajahnya masih merah padam menahan nafsu bercampur malu.
"Hai, mate. Keberatan kalau kami bergabung?" ucap Lucius hati-hati. Pria berambut pirang platinum itu buru-buru menambahkan sebelum Severus sempat menolak. "Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Soal putri tirimu, yang tertangkap basah berkeliaran di Diagon Alley bersama cucuku, mencari obat kuat."
