Note : Terima kasih banyak masih saya tujukan untuk semua pereview luar biasa yang sudah meluangkan waktunya mereview di Chapter-chapter sebelumnya, baik member maupun guest : Watchfang, Beatrixmalf, Bunga Sakura, Tinkebot, Hikari Meiko Eunjo, Natacchi, dan Ashimie. Saya harap chapter terakhir ini bisa memuaskan kalian dan para fans Sevmione. Enjoy it. ^0^

Balada Ramuan Cinta Satu Malam

By Opal Chalice

Chapter 5

"Err...Aku tidak tahu harus memulai dari mana," kata Rose, setelah mereka berempat duduk mengelilingi meja makan. Grogi dengan semua mata yang mengarah kepadanya, Rose meraih gelas jus labunya dan meneguk isinya sedikit. Namun minuman dingin belum bisa mendinginkan suasana yang sedang memanas.

"Mungkin kau bisa memulai dengan ciumannya," usul Hugo, matanya menyipit menyelidik. "Benar kau mencium Scorpius Malfoy? Bukan doppelganger atau seseorang yang meminum polijus, kan?"

Rose memutar bola matanya. "Aku tak mau membahas masalah pribadi di depan orangtuaku dan adikku sendiri. Merlin, apa seseorang tidak boleh mendapat ciuman pertama tanpa harus diinterogasi seisi rumah?"

"Jadi kau memang menciumnya, kalau begitu," tukas Hugo, nyengir. "Kejadian langka. Scorpius biasanya lebih suka memacari cewek yang mirip Barbie. Cantik luar biasa, tapi otaknya kosong. Kalau Scorpius memacarimu, Rosie, itu artinya ada kemajuan."

"A-aku tidak berpacaran dengannya!" bantah Rose dengan wajah bersemu merah. "Ciuman itu terjadi begitu saja dan aku..."

"Kalau sampai aku melihat Scorpius Malfoy lagi, jangan salahkan jika ada kutukan Sectumsempra melayang. Berani-beraninya pemuda itu menyentuh putriku tanpa ada niat berhubungan serius," sahut Severus tajam, kedua mata hitamnya berkilat-kilat.

"Father!" Rose terkesiap. Wajah geram ayah tirinya membuatnya teringat kalau Severus Snape dulunya adalah seorang Pelahap Maut, dan pastinya menguasai berbagai macam kutukan mengerikan. "Aku yakin Scorpius tidak sengaja menciumku. Kami tidak sengaja. Ciuman itu terjadi karena… err… dorongan yang tidak… err… tidak kami tahu dari mana datangnya…"

Untuk sejenak Rose memikirkan ucapannya. Walau tidak masuk akal, tapi sepertinya itulah yang ia rasakan tadi. Saat menatap mata kelabu Scorpius yang teduh, mendadak ia merasakan getaran yang asing dan aneh berasal dari dalam dirinya untuk mencium pemuda itu. Getaran yang membuat dadanya hangat dan jantungnya berdebar pontang-panting. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan secara logika.

Severus mengangkat salah satu alisnya. "Maksudmu, ada mistletoe yang tergantung di atas kalian? Mistletoe produk Weasley Wizard Wheezes?"

Berpikir cepat, Rose mengangguk. Mistletoe produksi WWW adalah mistletoe mainan yang jika digantung di atas ambang pintu atau di tengah-tengah lorong bisa membuat menjebak siapapun yang lewat di bawahnya, dan dia baru bisa bebas setelah mencium orang yang terjebak bersamanya. Produk kejahilan ini biasa dipakai bocah-bocah jahil untuk mencium gadis-gadis cantik, yang dalam kondisi normal tidak akan sudi diajak berciuman.

"Mungkin saja," Rose mengedikkan bahu.

Rose tak begitu memperhatikan apa benar ada mistletoe sialan yang digantung di atas lorong tempat ia dan Scorpius berciuman tadi. Namun karena ciuman itu terjadi dengan begitu spontan, seolah ada sesuatu tak kasat mata yang menggerakkan mereka berdua, kemungkinannya selalu ada. Meski lega bisa menjawab pertanyaan ayah tirinya, Rose merasakan kekecewaan di dalam hatinya andai ciuman pertamanya tadi memang terjadi karena sebuah mainan konyol.

"Lalu bagaimana dengan obat kuatnya?" tanya Hermione, wajahnya diliputi kecemasan. "Untuk apa kau membeli Ramuan Cinta Satu Malam?"

Menghela nafas panjang, Rose menjawab, "Ramuan itu bukan untukku, Mum. Ramuan itu sebenarnya untuk… untuk Father…"

"Untukku?" Kedua alis Severus naik hingga nyaris menyentuh puncak dahinya. Dia sangat terkejut. Namun buru-buru menguasai diri, dan kembali bersikap dingin. "My girl, kuyakinkan kau kalau aku sama sekali tidak membutuhkan obat kuat. Kalau kau tak percaya, silahkan tanya ibumu."

Pipi Hermione seketika itu berubah merah merona karena tersipu. Sementara Hugo terlihat sedang susah payah menahan tawa.

"Tapi sebenarnya Mum yang akan meminum ramuannya," ujar Rose pelan, tersenyum menyesal kepada ibunya.

"Aku yang meminumnya?" Rona merah jambu di wajah Hermione belum hilang. "Rose, tolong jelaskan apa maksudmu. Jangan berbelit-belit!"

Ragu-ragu, Rose pun bercerita tentang kejadian yang dilihatnya beberapa bulan yang lalu, saat ia melihat Hermione membuang alat uji kehamilan praktisnya dan mengatakan terang-terangan kalau ia ingin memiliki anak buah cintanya dengan Severus.

"Waktu itu aku merasa harus melakukan sesuatu, Mum. Tahu bagaimana kalian saling mencintai dan sangat mengharapkan anak setelah sepuluh tahun menikah, kupikir kalian berdua perlu sedikit dorongan…" Rose menjelaskan pelan-pelan. "Ramuan Epimedium Sagittatum adalah ramuan yang kurasa bisa memberi jalan keluar."

"Oh, Rosie dear. Itu manis sekali. Terima kasih. Kami sama sekali tidak tahu kalau kau repot-repot melakukan semua itu demi kami berdua. Sampai harus pergi ke Knockturn Alley bersama anak laki-laki yang menurutmu paling kau benci di Hogwarts, lalu berurusan dengan Mr Borgin dan memakai rekening milik Lucius Malfoy."

"Err… aku tak merasa Rose membenci Scorpius, mengingat dia barusan menciumnya…" celoteh Hugo mengingatkan, namun Rose memilih mengabaikannya.

Terdorong oleh rasa haru, Hermione bangkit dari kursinya untuk memeluk putrinya itu. Rongga dadanya seakan penuh sesak oleh rasa sayang. Mereka berdua berpelukan selama beberapa saat, sebelum Hermione melepas Rose dan memberinya ciuman di kening.

"Jangan lupakan ciuman dengan Scorpius," ucap Hugo lagi, sambil terbatuk-batuk untuk menyamarkan ucapannya. Kedua mata Hugo berbinar jahil saat Rose mendelik kesal ke arahnya.

Tak menghiraukan kejahilan Hugo pada kakaknya, Hermione membelai rambut keriting tebal putrinya, rambut yang ia wariskan kepadanya. "Rose, kami tak perlu ramuan itu."

Rose menghela nafas. "Ya. Kurasa begitu, Mum. Bodohnya aku. Seharusnya aku harus berpikir panjang dulu sebelum berbuat sesuatu. Tentu saja kalian tak perlu ramuan itu. Mum, Father, kalian punya aku dan Hugo. Kami anak-anakmu. Mungkin aku dan Hugo tidak terikat darah denganmu, Father." Kali ini Rose menatap Severus dengan senyum hangat. "Tapi kau satu-satunya ayah yang pernah hadir dalam hidup kami yang berusaha keras membahagiakan kami semua. Yang kuinginkan hanya membahagiakanmu juga. I love you, Father."

Meski kaget, Severus tampak pasrah ketika mendadak Rose memeluknya. Dengan gerakan yang canggung, karena tak biasa mendemonstrasikan rasa sayangnya, Severus membelai bahu dan pundak Rose. Namun saat gadis itu belum memperlihatkan tanda-tanda akan melepas pelukannya, Severus pun berusaha membuang semua perasaan canggungnya dan balas memeluk Rose, meski pelukannya kaku dan serba salah.

Terdengar isak tangis teredam dari arah Hermione, dan saat Rose selesai meluapkan perasaannya kepada ayah tirinya, ia mendapati ibunya sedang menangis.

"Mum?"

"Oh maaf…" Hermione buru-buru menghapus airmatanya dan menyuguhkan seulas senyum haru. "Dalam kondisiku yang sekarang ini, sepertinya aku jadi mudah menangis. Emosiku jadi labil."

"Kondisi yang sekarang?" tanya Rose bingung, kedua matanya menyipit.

"Mum sedang hamil, tahu," celetuk Hugo, nyengir. "Dan kalau hitunganku benar, sudah hamil tiga bulan."

"Tepatnya empat bulan," koreksi Severus, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.

"Ha-hamil?!" Tatapan Rose tertuju pada perut ibunya yang masih belum begitu terlihat membesar. Well, ibunya sedang memakai gaun longgar, sehingga susah melihat seperti apa perubahan tubuhnya. Tapi sepertinya akhir-akhir ini Hermione Weasley-Snape memang sering memakai gaun seperti itu. Terlalu sering, malah. Damn, kenapa baru sekarang Rose menyadarinya. "Tapi bagaimana bisa hamil?"

Severus menyipitkan kedua matanya, sebelum menjawab, "Kalau kau pernah belajar biologi, pastinya pernah dengar sesuatu yang disebut reproduksi. Itu terjadi antara spesies berkelamin jantan dan betina, ketika sel sper…"

"Father, please! Kalau itu aku tahu. Yang kumaksud adalah bagaimana bisa aku tidak tahu kehamilan ini? Dan kenapa kalian baru memberitahuku? Kenapa si Hugo justru tahu duluan?" tuntut Rose dengan nada menuduh yang kentara.

"Itu karena kau terlalu sibuk membenamkan hidungmu ke dalam buku, sisy. Kau terlalu sibuk belajar, sampai-sampai tidak memperhatikan apa saja yang terjadi di sekelilingmu. Yah, mungkin buku jauh menarik bagimu ketimbang berinteraksi dengan makhluk hidup," cibir Hugo. "Kalau kau peka, kau pasti tahu bagaimana binar di mata Mum dan Father setiap kali kita berdua pamit keluar dan memberi mereka kesempatan berduaan di rumah. Tadi pagi saja sepertinya mereka tak sabaran menunggu kita pergi. Bahkan mereka hampir menendangku saat aku kembali untuk mengambil barangku yang tertinggal."

Baik Hermione maupun Severus sama-sama tersipu mendengar ini. Rona merah di wajah Hermione bahkan tampaknya sudah menjadi rona yang permanen saking seringnya dia tersipu hari ini. Sedangkan Severus bisa dengan mulus menutupi, karena dalam waktu beberapa detik saja air mukanya sudah berubah setenang air bening. Tanpa ekspresi.

Tak menghiraukan ucapan adiknya dan ekspresi tersipu kedua orangtuanya, Rose kembali menuntut jawaban. "Jadi kenapa tidak memberitahu kami sejak awal? Kalau tahu begini, aku tidak akan repot-repot mencari ramuan yang bisa membuat Mum hamil dalam semalam. Lucius Malfoy dan istrinya yang sangar amit-amit itu pastinya juga tidak akan kemari mencariku."

Kali ini Hermione yang menjawab. Rasa cemas dan menyesal terpancar dari kedua mata coklatnya. "Sebenarnya kami ingin memberitahukan ini kepada kalian sejak lama. Tapi kami tidak yakin apakah kalian bisa menerimanya. Mungkin ini akan sulit bagi kalian, harus berbagi tempat di rumah ini bersama dengan adik yang tidak…" Hermione melirik ke arah suaminya sebelum meneruskan. "…tidak sedarah dengan kalian."

"Tapi walau bagaimana pun juga, kami tidak akan membeda-bedakan anak kami. Rose, Hugo, meski Gryffindor, kurasa aku harus mengakui bahwa menjadi ayah kalian rupanya tidak begitu mengerikan seperti yang dulu kupikir." Severus mengakhiri pernyataannya dengan seringai tipis. "Dan kuharap, bayi ini nantinya akan menjadi seorang Slytherin. Dengan komposisi tiga banding satu seperti sekarang, aku butuh bala bantuan menghadapi singa-singa seperti kalian."

Hermione masih nervous saat menatap ekspresi di wajah kedua anaknya. Hugo, dengan sifatnya yang easy going, tampaknya bisa dengan mudah menerima berita ini. Sementara Rose tampak kebingungan mencerna. Namun beberapa detik kemudian, setelah berhasil menghilangkan rasa kaget dan kecewa karena usahanya mencari ramuan sia-sia, muncul senyum di wajah putri sulungnya itu.

"Oh, Mum… ini kabar yang sangat bagus!" Rose hampir melompat saking senangnya. "Aku akan punya adik bayi kecil lagi!"

"Bagus untukmu. Tidak untukku," sahut Hugo, pura-pura berwajah muram. "Punya adik yang beda umurnya tiga belas tahun? Merlin, kalau kami jalan bareng, bisa-bisa aku disangka omnya." Meski begitu, pemuda berambut merah itu gagal menyamarkan nada ceria dalam suaranya. Ia hanya bergurau. Tentu saja Hugo juga ikut senang.

"Seandainya aku tahu lebih cepat, aku tak perlu repot-repot membeli ramuan pembawa masalah itu," keluh Rose. "Dan sekarang aku harus menghadapi kemarahan Lucius Malfoy. Aku tak tahu harus bagaimana."

Menemui Lucius Malfoy dan istrinya, Lady Cara, yang kini sedang menunggunya. Bagi Rose itu terdengar persis seperti mimpi buruk. Dua-duanya sama-sama manipulatif, licik, oportunis, dan banyak hal lagi yang membuat Rose enggan berhubungan dengan mereka. Di rumah ini pun, hanya ayah tiri Rose yang mampu secara luar biasa menghadapi pasangan suami istri itu, dan bahkan saking dekatnya hubungan mereka, Severus Snape dianggap sebagai sekutu terdekat keluarga Malfoy.

"Untuk menghadapi Slytherin, kau harus berpikir secara Slytherin," kata Severus, menepuk pundak Rose lembut. "Tapi aku tahu kau mampu, mengingat kau adalah Gryffindor sejati, Rose. Godric Gryffindor akan menggeliat di dalam kuburnya kalau kau sampai dikalahkan sepasang Slytherin."

Rose menanggapi seringai di wajah ayah tirinya dengan balas menyeringai. Dia sudah tahu bagaimana menghadapi pasangan Malfoy itu. Dengan bahu tegak dan dagu terangkat, ia pun melangkah tenang keluar dari dapur dan menuju ke ruang keluarga, tempat pasangan cobra sedang menunggunya.

Hati-hati, Rose membuka pintu ruang keluarga dan mendapati Lucius Malfoy dan istrinya sedang duduk berdekatan. Terlalu dekat, malah. Bahkan sepertinya mereka berdua saling menempelkan wajah satu sama lain. Ewh… mereka sedang berciuman, rupanya. Tak disangka keduanya pintar sekali memanfaatkan kesempatan. Di saat Rose dan keluarganya sedang bingung bukan main gara-gara ramuan pembawa masalah, secara bersamaan Lucius dan Cara malah asyik bermesraan.

Melihat pasangan suami istri berambut pirang itu bercumbu, Rose hanya bisa berdiri salah tingkah. Well, dia jarang melihat orang berciuman secara live sebelumnya. Kedua orangtuanya sendiri selalu menjaga privasi mereka rapat-rapat, hanya berciuman jika mereka sedang berduaan saja.

Teknik berciuman Lucius sendiri sepertinya agak berbeda dengan teknik ayah tiri Rose. Pria tampan yang kini usianya sudah kepala lima tapi masih tampak sangat prima itu terkesan seperti sedang menggoda istrinya. Ia mengulum bibir Lady Cara, sesekali membubuhinya dengan gigitan-gigitan nakal yang membuat wanita itu mendesah. Lalu ketika bibir istrinya merekah, tanpa ragu Lucius menusukkan lidahnya ke dalam rongga mulut istrinya. Membuat Rose mengernyitkan dahi.

Terkesima, Rose sampai tidak sadar kalau pintu di belakangnya terbuka pelan. Tak lama kemudian ada sepasang telapak tangan berukuran besar yang menutup rapat kedua mata Rose, membuatnya tak bisa melihat apa yang ada di hadapannya. Dari ukuran telapak tangan itu, Rose sudah bisa menebak kalau pelakunya adalah ayah tirinya.

Severus berdehem keras untuk memberitahukan kehadirannya, membuat pasangan yang sedang bermesraan di hadapannya kaget bukan main. Sakit kagetnya, Lucius hampir jatuh terguling dari sofanya. Namun untunglah dia bisa mendapatkan kembali kewibawaannya. Ia masih bisa bersikap elegan dan anggun, sebelum kembali duduk rapat di samping istrinya.

Mengangkat sebelah alis, Severus mencibir, "Kulihat kalian sudah menganggap ini adalah rumah kalian sendiri. Well, mungkin kalian ingin membenahi pakaian dulu sebelum kita memulai pembicaraan? Tanpa mengurangi rasa hormat, Lady Cara, gaunmu masih tersingkap. Lord Lucius, kancing celanamu terlepas."

Sekitar dua menit kemudian, Severus melepaskan tangannya dari mata putrinya. Rose mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, sebelum memutuskan duduk di sofa yang menghadap langsung ke pasangan suami-istri Malfoy. Severus dan Hermione ikut duduk di samping kiri dan kanannya, seolah berusaha membentengi Rose dari segala macam marabahaya.

Berusaha tersenyum manis, Hermione menawarkan, "Sebelum kita memulai pembicaraan ini, sebaiknya aku mempersilahkan tamu kita minum dulu."

Dengan gerakan kompak, seolah sudah berlatih sejak lama, Lucius dan Cara meraih cangkir teh masing-masing, mengangkatnya, mendekatkannya ke depan bibir, dan meminumnya. Sedetik kemudian, ekspresi yang ditunjukkan keduanya berbeda. Lucius seketika menyemburkan teh yang baru diteguknya (untunglah dengan sigap Severus merapal mantra Protego, sehingga semburannya berbalik ke arah Lucius) dan mengumpat marah. Sedangkan Cara, dengan anggun meletakkan kembali cangkir tehnya meski wajahnya tampak jelas sedang menahan rasa asin yang kental.

"Apa-apaan ini? Apa yang kalian suguhkan kepada kami? Pipis Unicorn?!" omel Lucius, menyeka bibirnya dengan ujung lengan bajunya.

"Uups… maaf. Kurasa aku salah memasukkan garam ke dalam teh kalian. Ini salahku," ujar Hermione, memasang wajah tanpa dosa. Binar matanya dan kedutan di sudut bibirnya jelas mengatakan sebaliknya.

Lucius sempat menggeram beberapa saat, namun ekspresi geramnya melunak saat Cara membelai lutut suaminya.

"Lady Snape, kurasa aku sendiri juga pernah melakukan kesalahan yang sama," ujar Cara sambil tertawa kecil. Meski begitu mata birunya berkilat tajam, seolah berusaha keras untuk tidak mengutuk seseorang. "Aku hanya bersyukur kau tidak memasukkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan ketimbang garam, karena akibatnya akan sangat fatal bagimu. Sebagai istri yang baik, aku sudah membentengi suamiku dengan jimat anti guna-guna yang paling kuat. Kuharap kau sendiri melakukan hal yang sama untuk suamimu."

Mengangkat dagunya seraya tersenyum menantang, Hermione membalas, "Soal guna-guna dan segala macam, aku sangat percaya suamiku bisa melindungi dirinya sendiri, Lady Cara. Tapi untuk nyamuk genit penggoda suami orang, jujur aku lebih suka turun tangan sendiri."

Rose tidak tahu apa yang terjadi di sini antara Lady Cara dan ibunya. Yang ia tahu hanya kedua wanita cantik itu saling menatap dengan kobaran api terpancar di mata mereka. Ucapan ibunya ini membuat Rose berpikir kalau Lady Cara ada rasa kepada ayah tirinya. Tapi itu tidak mungkin, kan?

"Hermione dear." Severus meremas lembut tangan istrinya, namun tatapannya masih tajam menyorot pasangan suami-istri yang duduk di hadapan mereka. "Sebaiknya kita biarkan kedua tamu kita untuk segera menyelesaikan urusan mereka di sini. Semakin cepat selesai, semakin baik. Dan kau tak perlu mencemaskan lagi soal nyamuk genit manapun."

Mengangguk, Hermione balas meremas tangan kokoh suaminya. Ia selalu bisa merasa aman dan tentram setiap kali berpegangan tangan dengan pria yang sudah menjadi pendamping hidupnya selama sepuluh tahun itu. Tahu kalau Severus tidak akan pernah mengkhianatinya.

"Baiklah. Kurasa kita bisa langsung saja ke permasalahan," ucap Lucius, ekspresinya kembali angkuh dan dingin seperti semula. "Seperti yang sudah diketahui publik, aku, Lord Lucius Abraxas Malfoy, akan mencalonkan diri sebagai Menteri Sihir di periode berikutnya. Menurut survey yang dilakukan oleh Weekly Witch minggu ini, aku punya peluang sebesar dua puluh persen untuk menang. Sebagai langkah awal, kurasa ini sudah bagus bagiku. Aku sudah meraih simpati kalangan berumur empat puluh tahun ke atas…"

"Lucius, kalau kau memaksa kami mendengarkan progres pencalonanmu, mungkin kami harus tetap duduk di sini selama empat tahun lamanya. Sayangnya, kami punya hal yang lebih penting ketimbang urusan politik. Hidup kami, misalnya. Jadi kumohon, bisa kau mempersingkatnya?" pinta Severus, melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Lucius dengan sorot yang tak kalah arogan.

Kilat di mata kelabu Lucius menandakan jelas kalau ia tersinggung, namun belum sempat ia melontarkan hujatan yang akan disesalinya, Cara buru-buru menahan suaminya.

"Yang dimaksud oleh Lucius adalah, ia bisa mendekati calon pemilih berusia dewasa. Tapi untuk meraih suara dari pemilih berusia remaja, tentu kami butuh strategi lain." Dari sini Cara tersenyum manis sambil melemparkan tatapan ramah-tapi-palsu kepada Rose. "Miss Weasley, kami akan sangat berterima kasih jika kau bersedia membantu kami dalam hal ini."

"Membantu kalian seperti apa?" Rose mengerutkan dahinya, mulai mencium bau manipulasi.

"Kami ingin menjadikan kau dan Scorpius sebagai duta kampanye Lucius dari kalangan anak muda," jawab Cara dengan nada lugas tapi penuh rayuan. "Akan ada banyak keuntungan tentunya. Seperti misalnya, beasiswa studi Ramuan di Universitas Galpalot."

Rose hampir lupa bernafas. Universitas Galpalot adalah perguruan tinggi sihir yang sangat elit dan mematok grade tinggi. Terkenal sering menghasilkan banyak ilmuwan sihir hebat, biaya studi di universitas itu pun sangat mahal. Rose sendiri, setelah lulus dari Hogwarts, berencana ingin kuliah di sana. Pesimis orangtuanya bisa membiayainya, Rose pun berinisiatif mencari beasiswa agar bisa kuliah gratis. Tentu saja ia pun belajar mati-matian sejak masih duduk di tingkat satu. Bisa kuliah di Universitas Galpalot adalah mimpi bagi Rose.

"A—aku ingin sekali bisa kuliah di sana. Ingin sekali…" ucap Rose, kedua matanya berbinar dan nada suaranya seperti sedang terhanyut mimpi.

Sudut bibir Lucius berkedut, menahan senyum culas. "Ya, kami tahu itu, Miss Weasley. Kami juga tahu kalau salah satu cara untuk bisa mendapatkan beasiswa di sana adalah dengan membuat sebuah proyek ilmiah."

Tanpa sadar Rose mengangguk cepat. Ada banyak proyek ilmiah yang memenuhi otaknya, namun tak satu pun yang rasanya bisa ia realisasikan. Terlalu banyak ide yang tumpang-tindih membuatnya bingung. Meski begitu, Rose ingat bagaimana cara kedua orangtuanya berhasil mendapatkan beasiswa di universitas yang sama. Severus Snape dengan proyek Wolfbanenya dan Hermione dengan proyek altered Bezoar.

"Kami punya proyek untukmu, my dear," ucap Cara, kali ini dengan senyum termanisnya yang membuat perasaan Rose jadi tidak enak. "Kami ingin kau dan Scorpius mengerjakan proyek yang bisa menyelamatkan masa depan masyarakat sihir. Sekaligus ini bisa menjadi sebuah pembelaan kenapa kalian berdua harus membeli ramuan Epimedium Sagittatum secara ilegal. Kita bisa berdalih kalau kau dan Scorpius melakukannya untuk riset ini. Dengan perlindungan dari Lucius, kalian tidak akan berurusan dengan auror. Kau akan dapat dua keuntungan, Miss Weasley. Reputasimu terselamatkan dan beasiswa ada di tangan."

"Proyek macam apa itu?" Kali ini Hermione yang bertanya, kedua matanya menyipit curiga.

"Ide ini datang dari istriku tercinta yang sangat brilian." Lucius berusaha menyuguhkan senyum hangat, namun yang tampak malah lebih mirip seringai puas. "Seperti yang kita tahu. Ramuan Epimedium Sagittatum adalah ramuan yang dominan digunakan oleh keluarga penyihir berdarah murni secara turun-temurun. Berdasarkan riset yang dilakukan Cara, 80% pasangan yang menggunakan ramuan itu mendaftarkan anak-anak mereka ke Hogwarts. Dengan begitu bisa didapat hipotesa bahwa ramuan ini selain berguna untuk reproduksi, juga bisa meningkatkan kemungkinan lahirnya anak non-squib. Kurasa kalian sudah tahu kemana arah pemikiranku."

Ya. Rose sudah bisa membayangkan apa yang dimaksud oleh Lucius Malfoy. Setelah masa perang besar di Hogwarts yang menelan banyak korban, terjadi fenomena yang sangat mencemaskan dan mengancam eksistensi dunia sihir. Jumlah kelahiran squib meningkat dari tahun ke tahun. Sudah ada beberapa orang yang berusaha memecahkan masalah ini, namun hasilnya nihil. Jika hipotesa yang diajukan Lucius Malfoy dan istrinya ini terbukti benar, maka bisa dibilang Rose berpeluang mencatat sejarah. Sesuatu yang juga dilakukan ibunya ketika berhasil menyembuhkan ayah tirinya dulu.

Lalu untuk urusan membeli ramuan Epimedium Sagittatum secara ilegal, saran dari Lady Cara masuk akal. Tanpa alibi kuat, Rose dan Scorpius bisa dijebloskan ke Azkaban karena membeli ramuan terlarang, ditambah lagi mereka masih di bawah umur.

"A-aku… aku harus mengakui penawaran kalian sangat menarik, Lord dan Lady Malfoy," kata Rose, berusaha menguatkan diri dari godaan. "Tapi maaf sekali aku harus menolaknya."

"Apa?!" Sontak Lucius bangkit dari sofanya. Kedua mata kelabunya yang biasa sedingin es kini memancarkan kemarahan yang membara. "Berani-beraninya kau. Apa alasanmu menolak? Jelas kau akan sangat diuntungkan dari tawaranku."

"Satu-satunya yang diuntungkan di sini hanya dirimu, Lord Lucius. Kau butuh sesuatu yang fenomenal dan bisa menyucikan reputasi gelapmu di masa lalu, dan berusaha menjadikanku budak untuk itu. Memang, kau akan menjadi sponsor dalam proyek ilmiahku, tapi setelah aku bisa menemukan hasilnya, kau akan mengklaimnya sebagai jerih payahmu. Masyarakat sihir akan menganggapmu sebagai seseorang dermawan berdedikasi yang berjasa menyelamatkan masa depan dunia sihir, padahal yang kau lakukan cuma duduk malas sambil menggelontorkan uang. Sementara aku dan Scorpius yang harus bersusah payah meneliti, demi menyelamatkan reputasi kami yang kau manipulasi sedemikian rupa."

"Lancang!" teguran keras dari Cara membuat hati Rose semakin panas. "Kau nona muda yang tidak tahu diuntung, Miss Weasley. Oh, Severus… sekarang aku tahu sulitnya mendidik anak orang lain. Kau pasti sangat kesusahan punya anak tiri seperti ini."

Severus geram mendengar nada simpatik palsu Cara. "Rose adalah putriku, dan dia tahu betul apa yang harus ia lakukan. Ia tak butuh sponsor dan perlindunganmu, Lucius. Rose punya aku yang bisa mendukungnya dan melindunginya."

Seringai licik Lucius mengubah wajah tampannya menjadi buruk dan sadis. "Oh, ya? Lalu bagaimana dengan foto-foto di Knockturn Alley? Lalu pengakuan dari Mr Borgin kalau putrimu membeli ramuan Cinta Satu Malam bersama cucuku? Sudah siap melepas putrimu ke Azkaban, mate? Siapkan jantungmu saat membaca headline di Daily Prophet besok!"

"Kau jauhi putriku, Lucius Malfoy!" Hermione terbawa emosi. Wanita itu berdiri seraya mencabut tongkat sihirnya. "Atau akan kukutuk kau jadi impoten yang tak bisa disembuhkan ramuan apapun!"

Menyadari suasana makin panas, Cara bangkit dari sofanya. Posisi tubuh waspada, ia menodongkan telapak tangannya kepada Hermione. Dengan catatan kelamnya di masa lalu sebagai seorang pembunuh bayaran, Cara tahu betul cara untuk melindungi diri sekaligus menyakiti setiap lawan yang mengancam.

"Silahkan kutuk kami," ucap Severus tiba-tiba, efektif membuat semua orang kaget. Pria berpakaian hitam-hitam itu masih duduk santai di sofanya, sementara semua orang yang ada di sekitarnya justru dalam posisi siap tempur. "Kutuk saja kami dan karir politikmu hancur seketika, Lucius."

Sudut bibir Severus berkedut, menahan seringai puas ketika menyadari wajah Lucius pucat pasi. Sambil mengangkat dagunya menantang, Severus kembali berseloroh, "Perlu kuingatkan kalau edisi terakhir Daily Prophet memuat daftar 100 orang berpengaruh di dunia sihir, di mana aku dan istriku termasuk ke dalam sepuluh besarnya. Kau sendiri, Lord Lucius Abraxas Malfoy, sayang sekali tidak termasuk di dalamnya. Jadi, jika aku dan istriku saja dianggap sebagai orang paling berpengaruh di dunia sihir oleh Daily Prophet, kenapa kami tidak bisa mempengaruhi koran yang menerbitkan daftar itu?"

Kedua mata hitam Severus berubah kelam dan berbahaya, bahkan membuat Lucius dan Cara sampai meninggalkan posisi siap bertarungnya. Pasangan suami istri itu tampak ketakutan, meski berusaha keras menutupi.

"Kau boleh mencemarkan reputasi putriku, Lucius. Tapi ingat siapa yang memegang kartu As di sini. Aku, Severus Tobias Snape, adalah salah satu kepala sekolah legendaris di Hogwarts, sekolah tempat penyihir-penyihir muda yang nanti akan memilihmu empat tahun lagi. Sedangkan Hermione adalah alumni dengan nilai tertinggi yang pernah lulus dari Hogwarts dalam abad ini. Namanya tercetak dalam tinta emas di Ruang Penghargaan di Hogwarts dan menjadi idola semua murid hingga sekarang."

"Sejauh yang akan diketahui publik, kaulah yang membeli ramuan itu sesuai dengan nama yang tertera di dalam bon pembayaran. Rose dan Scorpius hanya tidak sengaja masuk ke toko itu untuk melihat-lihat, dan tentunya ini tidak ilegal. Dan jika mereka tertangkap basah sedang berciuman di Knockturn Alley, itu karena ada mistletoe produk Weasley Wizard Wheezes yang tergantung di atas mereka. Kurasa editor Daily Prophet bisa menerima fakta ini sebelum mereka kutuntut karena menyebarkan berita bohong. Kalau pun kau berani menyangkalnya, Lucius, kurasa publik di seantero Britania Raya tahu siapa yang harus mereka percaya. Mantan pelahap maut yang diduga sudah bertobat dan kebetulan ingin mencalonkan jadi Menteri Sihir sepertimu, atau pahlawan perang penerima Orde of Merlin kelas satu yang juga adalah Kepala Sekolah Hogwarts saat ini, yaitu aku?"

Tampaknya nyali Lucius dan Cara semakin ciut. Aura angker dan mengintimidasi Severus semakin kuat ketika pria itu berdiri tegak, seolah kokoh membentengi keluarganya. Dengan nada sopan tapi tetap mengancam, Severus berkata, "Sekarang, kalau kalian berdua masih sudah puas mengganggu sore kami yang indah ini, kusarankan kalian silahkan kembali ke Malfoy Manor dan jangan pernah lagi berpikir untuk bermain-main dengan keluarga Snape. Atau kau akan tahu apa akibatnya. Dan apa yang kumaksudkan sebagai akibatnya, itu bukan cuma akibat yang menyebabkan rasa sakit."

"Kau akan menyesal, Severus…" ancam Lucius, nadanya tidak terlalu yakin. Kedua mata kelabunya menampakkan sorot panik. "Kau tak punya uang sebanyak itu untuk mengirim putri kurang ajarmu ke Galpalot dan..."

BLAAAARRR!

Bunyi ledakan keras menghentikan ancaman pepesan kosong ini. Wajah Lucius hampir sepucat kapas ketika menyadari lengan sofa yang didudukinya hancur jadi abu. Kutukan ini rupanya berasal dari ujung tongkat Hermione yang sudah tidak bisa lagi menahan diri.

"Sial. Aku tak sengaja merusak sofa kesayanganku!" umpat wanita itu. "Tapi lain kali aku tidak akan meleset ketika menyasar kepala berambut pirang."

"Lucius, sebaiknya kita pergi," saran Cara, hati-hati. Ia menarik tangan suaminya, bermaksud mengajaknya pergi lewat perapian dan memanfaatkan jaringan floo. Namun Lucius punya ide lain, yaitu kabur dengan apparate.

"Well?" Severus menarik salah satu alisnya, tak bisa lagi menyembunyikan seringai puasnya. "Sesumbar belum pernah terasa menyenangkan begini."

"Menghancurkan sofa kesayangan juga belum pernah sepuas ini," balas Hermione setengah menggumam. "Meski sebenarnya targetku meleset."

"Mengirim kado Natal juga belum pernah terasa seusil ini," sahut Hugo dari balik pintu ruang keluarga. Rupanya sedari tadi ia menguping. "Aku ingin tahu apa reaksi Lord dan Lady Malfoy saat tahu aku mengirimi mereka Petasan Kotoran."

Rose tidak tahu apakah ia harus lega, menangis, atau marah. Yang ia sadari berikutnya adalah ia ikut tertawa geli bersama seluruh anggota keluarganya (kecuali Severus yang hanya menyeringai arogan).

Berkat satu ramuan pembawa onar, ia mendapat banyak hal dalam satu hari. Ciuman pertama, adik bayi, tawaran beasiswa yang ditolaknya tadi, dan kehangatan keluarga yang selalu melindunginya. Well, Natal bagi Rose belum pernah seheboh ini, pastinya.

-Finite Incantatum-

Epilog? Perlukah?

Ada ide mungkin? ^0^