Ninja Super

Summary: Naruto Uzumaki adalah pahlawan dunia shinobi ke-empat. Itu kenyataan. Tetapi sayangnya dia mati di pertempuran. Pindah ke dunia lain dan bertemu orang tuanya? Dia sangat mau DATTEBAYO!

Disclaimer: Semua di fic ini punya pemilik aslinya. Author hanya meminjam. Hehe peace.

Chap 2 : Ninja Ayah? Yang benar?!

.

.

.

.

Di langit, pesawat berwarna hitam yang diketahui bernama X-Jet terbang dengan kecepatan yang cukup normal, tapi masih bisa dianggap cepat untuk diikuti mata manusia. Pesawat ini mempunyai berbagai fitur menarik dan lebih canggih dari pesawat normal kebanyakan.

Di dalam pesawat area tengah, dua gadis berbincang dengan duduk di kursi mereka masing-masing. Mereka berdua memakai setelan berwarna hitam dengan beberapa tambahan.

Seperti jubah biru gelap, topi pesulap, yang dipakai gadis pirang dan mata biru ini. Dan topeng domino dipakai gadis lain.

Selain jenis pakaian yang sama, mereka berdua memakai arloji multi-fungsi, X-Watch.

"Mau beli es krim setelah misi ini selesai Le Fay-chan?" ajak gadis mengenakan topeng domino itu.

"Tahu begitu aku bawa dompet," jawab Le Fay.

"Bukannya kau bisa mengambil dompetmu dari topimu?"

Le Fay berseri. "Aku hanya bercanda Jeanne."

Jeanne memukul pelan bahu Le Fay, tertawa kecil.

"Apa harus sampai memukulku?" Le Fay menatap Jeanne dengan cemberut dan mengelus bahunya yang terasa sedikit sakit.

"Maaf, maaf. Gadis manis sepertiku ini hanya terlalu bersemangat saja," jelas Jeanne sebelum menyengir lebar, "habis kita bertiga jarang bisa mengambil misi bersama-sama. Jadi jangan salahkan aku kalau aku senang sekali saat ini."

Le Fay mengangguk, menerima alasan Jeanne.

"Kurasa kau benar," ucap Le Fay.

[Kalian siap? Sebentar lagi kita akan sampai di tempat tujuan.]

Suara itu berasal dari speaker yang terpasang di sisi pojok langit-langit permukaan pesawat.

"Kami selalu siap Asia-chan!" balas Jeanne.

"Seperti yang dikatakan Jeanne. Kami selalu siap," balas Le Fay tenang.

[Aku senang mendengarnya. Dan jika bisa dicegah tidak perlu lagi ada barang yang harus hancur. Paham Jeanne?]

Jeanne cemberut, melipat lengannya. "Bukan kesalahanku! Salahkan roh jahat itu!"

Tawa feminim lain bisa didengar mereka berdua.

Le Fay menutup mulutnya rapat-rapat, tawanya dia tahan mengingat kejadian waktu itu.

Waktu itu, Jeanne mendapat misi solo di museum di kota tertentu yang ada di Jepang. Ada kawanan roh jahat yang ingin membuat kekacauan dan mengawalinya dengan menyerang orang-orang yang datang ke museum.

Dan untuk mengusir roh-roh ini, Jeanne harus menghancurkan patung-patung sebagai raga sementara yang dipakai kawanan roh jahat itu.

Kerugian yang ditanggung… cukup besar seingat Le Fay. Nasib baik tak ada korban tewas.

Jeanne menarik nafas, lalu mengamati keadaan pantai dan mengetahui pantai sudah dibatasi garis pembatas.

[Kita sudah sampai. Tolong berhati-hatilah.]

"Oke!" sahut Jeanne.

"Baik," balas Le Fay.

Begitu pintu besi di sisi tertentu pesawat terbuka menurun, Jeanne dan Le Fay turun sehingga menginjak pasir. Mereka berdua sadar terdapat sejumlah polisi mendekat.

"Oz. Ruler. Kami senang kalian bisa datang," kata polisi yang paling depan, ketua dari rekan-rekan polisinya.

Oz(Le Fay) dan Ruler(Jeanne) tersenyum senang.

"Bagaimana situasinya, Pak Petugas?" Ruler yang mengajukan pertanyaan dengan nada serius, sifatnya tidak lagi terkesan ceria.

Polisi itu merespon balik. "Beberapa pengunjung pantai mengaku melihat ular laut raksasa saat mereka sempat berselancar. Ditambah kami menemukan… ini, setelah ombak turun."

Mereka berdua ditunjukkan sebagian kerangka tulang yang dipegang oleh rekan polisi ini. Oz diam mengamati kerangka itu, tetapi matanya berpendar dengan waktu tidak lama.

"Aku akan memeriksa ke dalam laut," sahut Oz, melirik Ruler, "kupancing, kau serang. Mengerti maksudku?"

"Jelas dan paham," balas Ruler.

Oz menatap polisi ini dengan senyuman.

"Pak Petugas, terima kasih atas bantuanmu. Sisanya serahkan pada kami," ujar Oz.

Dia mengangguk. "Semoga beruntung."

Kelompok polisi ini kemudian berjalan pindah ke sisi garis pembatas. Oz dan Ruler bisa melihat sebagian turis dan juga penduduk lokal mengambil foto dua-duanya.

Mereka berdua tersenyum dan melambaikan tangan pada orang-orang ini.

"Aku baru tahu California punya pantai sebagus ini. Kapan-kapan kalau ada waktu ajak yang lain kemari." kata Ruler, beralih mengamati pantai.

Tak mendapat jawaban, Ruler baru sadar Oz tidak lagi berdiri di sampingnya. Ruler berbalik ke belakang dan melihat Oz terbang hingga mencapai sudut tertentu di atas laut.

"Boo. Seharusnya jawab pertanyaanku dulu. Dasar Le Fay-chan," gumam Ruler cemberut.

Di sisi Oz, dia membidik laut menggunakan telapak tangannya yang terbuka dan perlahan dikelilingi pendar biru cemerlang. Tepat saat itu juga lingkaran sihir berpendar biru cemerlang berukuran sangat lebar muncul terdapat di laut.

Oz menghitung mundur dari lima hingga ke satu. Benar saja pada saat hitungan pertama berakhir, empat kepala naga laut bersisik putih naik ke permukaan dan ditangkap lingkaran sihir.

"Waktunya beraksi!"

Ruler berseru, menghunus pedang rapier perak dari sisi pinggangnya dan mengayunkan pedang ini ke depan, berseluncur di atas jalan es yang tercipta. Tidak hanya jalan es, Ruler memusatkan energi sihir pada pedang ini sehingga empat naga itu terjebak sihir esnya.

Ruler memastikan menusuk setiap kepala naga hingga hancur ketika lewat. Hasil aksi Ruler menghasilkan hembusan angin dingin di udara.

"Ini tidak sesulit yang kukira," ujar Ruler, "hanya beberapa ular laut tersesat."

Oz menghilangkan lingkaran sihir, mendekati Ruler dan menghembuskan nafas.

"Jangan lengah. Aku merasakan energi kehidupan lain di bawah sana," kata Oz.

"Energi kehidupan lain?" Ruler bingung. "Kalau begitu kenapa kau tidak mempertahankan sihirmu supaya dapat menjebaknya?"

"Ruler, kalau aku bilang menghindar. Kau menghindar."

"Tunggu. Sekarang?!"

Oz mengendalikan tubuhnya agar terbang mundur cukup jauh.

"Menghindar!"

Ruler tersentak dan langsung melompat tinggi ke samping, selamat dari terkaman mulut naga laut bersisik perak dengan ukuran tubuh lebih besar dari empat naga laut tadi.

Naga laut bersisik perak ini juga memiliki tubuh reptil, iris mata merah keputihan, ekor, bentuk wajah hampir seperti kobra dan sepasang tanduk di atas kepalanya.

"Sepertinya ada yang telat datang ke pesta," canda Ruler, berdiri di atas jalan es usai mendarat jauh dari naga laut bersisik perak ini. Jadi ini tujuannya. Dia ingin membuat makhluk ini berpikir bahwa kita lengah supaya dia mampu menariknya keluar dari tempat persembunyian.

Ruler tahu makhluk apa itu. Berasal dari Skotlandia, monster berukuran raksasa ini konon memiliki kecenderungan bermain-main dengan mangsanya terlebih dahulu sebelum melahapnya. Dan sering meninggalkan jejak dengan maksud menunggu ada mangsa yang datang dengan sendirinya.

Oz memilih menatap naga ini. "Cirein Croin, jadi kau penyebabnya."

Cirein Croin meraung, mulutnya terbuka dan menyerang Oz dengan semburan badai es. Oz memajukan lengannya di depan dadanya dan menciptakan perisai sihir untuk menahan serangan itu.

Ruler berseluncur mengelilingi Cirein Croin. Ruler menciptakan enam pedang elemen suci berputar di udara dan mengirim semua pedang ini ke punggung Cirein Croin. Alhasil naga bersisik perak ini meraung merasakan sakit. Dan serangannya berhenti sehingga Oz bisa bernafas lega.

Ruler lalu menghujani makhluk ini dengan pedang suci.

"Ada ide untuk mengusirnya dari pesta? Karena kuyakin tak ada tempat duduk yang cocok untuk ukurannya," canda Ruler, menatap Oz.

Oz mengangguk.

"Bisakah kau mengulur waktu untukku?" tanya Oz.

"Kali ini aku yang menjadi umpan? Keren." Ruler menyengir. "Baiklah. Kami bermain Tom and Jerry. Kau siapkan jebakan untuk Tom."

Ruler berbalik ke belakang, berseluncur lagi dan menembakkan berbagai pedang suci yang kali ini mengarah ke leher dan sisi bibir dan tanduk Cirein Croin. Dua tanduk makhluk ini terpotong tanpa bisa disambung lagi.

Aksi Ruler memancing kemarahan Cirein Croin yang kemudian mengejarnya. Cirein Croin mengejar dan Ruler kabur.

"Ayo tangkap aku cherry!"

Melihat Ruler menjalankan bagiannya, Oz mengepalkan tangannya dan memusatkan energi sihirnya pada tangannya. Oz melihat bola mistis menyala biru cemerlang di tangan terbukanya tak lama kemudian.

Begini seharusnya cukup. Gadis sorcerer ini yakin.

Oz berkonsentrasi kemudian dua bola mistis ini melesat cepat sehingga mengenai kulit Cirein Croin.

Cirein Croin tak sempat mengeluarkan reaksi saat seluruh permukaan tubuhnya ditelan sinar putih berkilauan.

Perlahan naga bersisik perak ini menghilang meninggalkan fenomena seperti cahaya kunang-kunang.

"Hufft," Ruler lega, "dan misi kita pun berhasil."

"Begitulah," balas Oz, berseri.

Wanita muda pirang dengan mata hijau ini mengembuskan nafas. Pakaian yang dikenakannya setelan berwarna hitam dengan sarung tangan hitam.

Dia senang, menyadari misi sukses dan bersyukur temannya selamat.

Bagaimanapun, Asakura Asia tersenyum simpul menyaksikan sorakan penduduk yang menonton aksi Jeanne dan Le Fay membasmi makhluk supernatural.

Bip. Bip.

Asia menyadari X-Watch miliknya berbunyi pertanda terdapat panggilan masuk. Asia menekan tombol khusus dan mendengar suara dikenalinya.

[Sinyal makhluk supernatural terdeteksi di Kediaman Belmont. Saat ini Saber dalam perjalanan menuju ke sana.]

"Apakah kami mendapat bagian di misi ini?" tanya Asia serius.

[Fokus pada keselamatan Sonia Belmont dan Gasper Belmont. Koordinat lokasinya akan kukirim sebentar lagi. Bisa dipahami?]

"Positif."

[Jika musuh lebih kuat dari kelihatannya, penggunaan Battle-Nizer diperbolehkan.]

"Dimengerti," balas Asia.

[Semoga beruntung. Dan... kabari aku jika ada hal lain terjadi.]

Asia sadar saat komunikasi jarak jauh itu terputus. Kemudian Asia tersenyum kecil, mengetahui tingkah protektif ayahnya ditampilkan begitu jelas.

"Asia-chan, apa benar Kak Yuuto dapat misi?"

Dia memegang mic yang tersambung di helm-nya.

"Begitulah. Sekarang Yuuto sedang dalam perjalanan menuju lokasi tujuan. Kalian tidak masalah kita dapat misi tambahan?"

"Tentu saja tidak masalah Asia-chan! Kak Yuuto juga bagian dari kita. Muu, jangan bilang kau lupa."

"Aku sepenuh hati setuju dengan yang dikatakan Jeanne."

Asia tertawa kecil.

"Maaf, aku hanya bercanda saja," balas Asia.

Setelah mesin menyala dan bekerja tanpa hambatan, X-Jet perlahan naik ke udara dan mengarah lokasi lain.

Sementara itu di sisi Naruto dan Gasper, mereka berdua melompat dari satu pohon ke pohon lain dengan Gasper berada di punggung Naruto.

"Gasper, aku lupa bertanya apakah hanya Werewolf yang menyerangmu dan ibumu?"

"Sebagiannya memang Werewolf. Tapi sisanya bukan."

Naruto nampak penasaran. "Bisa kau beritahu aku apa saja?"

Gasper memberitahu sisa nama-nama makhluk yang menyerang rumahnya.

Dimulai dari Lizardmen, manusia kadal berkulit hijau tua dengan tinggi mencapai pria dewasa dan mampu menembakkan api yang berakibat fatal bila menyentuh kulit. Selain itu cakarnya juga patut diwaspadai.

Wendigo, mantan manusia yang memilih menjadi kanibal setelah memangsa daging sesama manusia baik yang masih hidup maupun sudah mati. Wendigo berkulit pucat dan memiliki empat gigi(dua di atas dan dua di bawah) tajam.

Selain Werewolf, Lizardmen, Wendigo, ada satu lagi monster yang memang memimpin mereka.

Gasper mengaku kalau dia tidak tahu monster ini apa. Makhluk ini memperkenalkan diri dengan nama yang mirip dengan salah satu jenis ular, tetapi jauh lebih mengerikan dari segi aura dan gaya bahasanya terdengar sangat tua dan kuno.

Kurama menyipitkan matanya.

"Naruto, mungkin ada baiknya kau menggunakan Kyūbi Chakura Mōdo jika menghadapi apapun itu. Tentunya kau tidak perlu memakainya langsung dan akan lebih baik mengawasi cara bertarungnya dulu."

Aku senang kau peduli padaku Kurama. Naruto menyengir.

"Hmph. Walau ini dunia yang berbeda bukan berarti aku suka pengurungku dikalahkan begitu mudah. Harga diriku sebagai Bijuu terkuat bisa tercoreng nantinya," balas Kurama.

Naruto terkekeh. Terserah kau saja.

Dia mengajukan pertanyaan pada Gasper.

"Arahnya sudah benar Gasper?" tanya Naruto.

"Ya. Ini sudah benar," balas Gasper.

Naruto tak berhenti melompat dan dia melihat asap hitam membumbung tinggi di udara. Karena tak ingin membuang waktu dia mempercepat pergerakan kakinya.

Menurun di semak-semak, Naruto melihat reruntuhan rumah yang sepertinya dibuat dari materi kayu rupanya telah terbakar.

Ke sudut lain, Naruto menemukan sejumlah mayat Lizardmen, Wendigo, Werewolf, di tanah.

Masing-masing dari tiga ras ini menyisakan satu yang masih hidup dan satu ular yang tampak 'normal'.

"Tentu saja lawan utama kita harus ular," kata Kurama getir.

Naruto mengangkat bahu. Setidaknya kita tahu kalau ular ini bukan ular normal.

"Kau dan aku kita satu sepemikiran." Kurama setuju.

Semua makhluk ini menggeram menatap wanita berambut pirang dan memiliki mata coklat yang memegang cambuk. Cambuk itu nampak dilindungi aura putih redup di sekitar talinya.

Wanita itu berdiri cukup jauh dan menatap balik dengan tajam, walau bahu kiri dan pipi kanannya nampak meneteskan darah karena tergores dan pergerakan tubuhnya gemetar diakibatkan kelelahan.

Naruto melirik Gasper, melihat wajah anak perempuan ini begitu panik. Naruto kemudian beralih ke depan.

Bila dilihat situasi pertarungan dari sudut pandang oranh lain, jelas sekali wanita itu menghadapi makhluk-makhluk ini sendirian. Mampu bertahan sampai sejauh ini sudah menjadi bukti kalau dia adalah pejuang.

Tetap saja, wanita itu harus selamat. Terutama ketika anaknya masih membutuhkan kehadiran orang tua di hidupnya.

"Harus kuakui untuk ukuran mortal sepertimu, kau bertarung dengan cukup baik." 'ular' itu berbicara dengan nada berat. "Namun tetap saja ada batas yang tak bisa kalian, manusia, lewati tentu saja. Seperti menghindari kematian contohnya."

Ular itu mendesis. Seakan diberi perintah dari ular itu, sisa Werewolf, Wendigo, Lizardmen, langsung mengelilingi wanita ini.

Naruto mengeraskan ekspresinya, menarik tiga kunai diikat kertas peledak dan melempar tiga kunai itu pada tanah dekat makhluk-makhluk ini. Ledakan yang menghasilkan asap tebal terjadi tidak lama kemudian.

Puas, Naruto melompat dari tempat persembunyian dan mendarat tepat di hadapan wanita itu.

"S-Siapa kau?" tanya wanita itu terkejut, kemudian dia sadar bahwa anak yang diturunkan Naruto adalah anaknya. "Gasper!"

"Mama!"

Gasper yang menangis senang segera memeluk wanita itu. Jika saja kondisinya mendukung mungkin pertemuan ini akan sangat mengharukan.

Naruto tersentak dan menengok ke samping melihat sepasang mata kuning besar menyala dibalik asap.

"Kage Bunshin no Jutsu!"

Dengan cepat Naruto menciptakan delapan klon. Enam menyerbu ke dalam asap dan dua klonnya(yang membawa pasangan ibu-anak) bersama yang asli melompat sejauh mungkin.

Mereka mendarat di area luas yang tak dikelilingi pohon. Sebagian di antara mereka melihat ular bersisik hijau tua raksasa merobohkan banyak pohon karena ulahnya sendiri.

Naruto menatap dua klonnya, dan menyadari wanita itu tak sadarkan diri. Mungkin disebabkan efek adrenalin dalam pertempuran telah habis durasinya.

Naruto meringis lalu mengelus kepalanya saat otaknya menerima informasi dari enam klonnya.

Empat klon ditelan dan lenyap setelah diserang gigi tajam maupun terkena cairan beracun.

Dua klon sempat menghindar dan mengebor kulitnya dengan Rasengan. Namun luka dia cepat sembuh dan mereka berdua lenyap saat ditusuk duri yang tiba-tiba tumbuh dari kulit monster ini.

Mengejutkan monster-monster yang tadi juga rupanya ikut dilahap oleh makhluk ini.

"Bawa Gasper dan ibunya jauh dari tempat ini. Kembali ke dekatku jika situasinya sudah aman," kata Naruto, menatap dua klonnya.

"Baik boss!" sahut dua klon itu.

Gasper terkejut. "Tu-Tunggu sebentar. Kau bermaksud menghadapi Python sendirian Kak Naruto?"

Naruto hanya tersenyum kepada Gasper, menatap dua klonnya yang paham dengan maksud dari tatapannya. Naruto mengabaikan teriakan anak kecil yang terus memanggilnya sampai suara dia tidak lagi dapat didengar.

"Hmph. Berpikir membawa kabur targetku? Apa kau tidak sadar siapa yang kau hadapi sekarang mortal?"

Naruto menaikkan wajahnya dan sadar makhluk ini, Python, berbicara dan mengamatinya dengan mata kuning besarnya. Tinggi monster ular ini bisa disandingkan dengan gedung pencakar langit atau mungkin lebih(penampilan diambil dari wujudnya di God of War: Ascension).

"Ular… dengan ukuran tidak biasa?" Naruto merespon lalu menyengir lebar. Serangan jarak dekat mungkin bukan ide bagus. Kalau begitu…

Python berbicara lagi. "Namaku Python. Putra Gaea. Penjaga-"

Chakra kuning menyelimuti lengan Ninja favorit kita ini dan menyebar membentuk dua tangan chakra.

"-Orakel Delphi. Dan kau mortal-"

Dua lengan lebih ini membantunya membuat bentuk fūma shuriken sekaligus menyalurkan elemen angin sementara dia menyediakan chakra.

"-akan menyadari betapa bodohnya-"

Naruto berhasil menciptakan satu dari sekian teknik terhebatnya. Itu mengeluarkan suara melengking yang keras.

"-dirimu karena berani menghadapiku."

Python baru sadar kalau manusia itu tidak menyimak perkataannya. Python mendesis dan menatap remeh 'bintang berputar' di tangan manusia itu.

Dewa Apollo saja membutuhkan semua energinya untuk membunuhnya. Dan setiap panah yang dilepas berukuran besar dan juga banyak.

Jika manusia ini mempunyai Sacred Gear, itu bukan masalah besar. Python sudah mengetahui identitas pemilik Sacred Gear kategori Longinus yang memang berjumlah sebelas. Jadi mustahil manusia ini mampu mengalahkannya.

"Karena kesombonganmu akan kupertemukan kau dengan Hades sesegera mungkin."

Naruto menarik lengannya ke belakang dan tangan chakranya mengikuti dia. Naruto diam-diam penasaran siapa itu Hades.

Python menggeram dan bergerak kilat hingga kepala besarnya berada tepat di depan dia. Python melebarkan mulutnya dan bermaksud memakan dia hidup-hidup.

"Fūton: Rasenshuriken!"

Naruto langsung melempar 'bintang berputar' yang mengenai rahang Python. Udara bergetar dan angin berhembus dahsyat sekaligus mengangkat paksa pohon-pohon dari tanah ke udara.

"▂▂▂▃▃▃▅▅▅!"

Tidak menduga 'bintang berputar' sekuat ini, Python meraung keras merasakan seluruh permukaan tubuhnya sangat sakit.

Python bahkan sampai terbawa menuju langit walaupun ukuran badannya begitu besar.

Setelah menempuh jarak tertentu, Rasenshuriken meledak dan sebagian awan di sekitar terhempas sampai lenyap.

Begitu pula Python yang tidak terlihat lagi fisiknya.

Kurama tertawa.

Apa yang lucu? Naruto penasaran.

"Lihat sekelilingmu."

Naruto sweatdrop melihat lingkungan sekitarnya. Berantakan seperti habis dilalui bencana alam bergerak.

Mengerikan. Naruto merespon.

"Kau sendiri yang melakukannya," kata Kurama, "berbangga lah."

Ha. Ha. Naruto tertawa getir.

Disamping bersikap seperti itu Naruto senang karena berhasil menepati janjinya. Sekarang Naruto hanya perlu menunggu klonnya kembali.

Tapi...

Mungkin ada baiknya aku menyusul mereka.

Baru mengambil dua langkah, Naruto mendengar bunyi bising.

Naruto menengok dan terkejut menyaksikan sinar pelangi terang menyinari bagian tengah hutan dan sekitarnya.

Sinar ini redup dan memperlihatkan pemuda dengan aura ksatria dan perkiraan usianya 'sama' dengan Naruto.

Pemuda ini berambut pirang rapi dengan mata biru dan tahi lalat di bawah mata kirinya. Pemuda ini mengenakan setelan hitam dengan tambahan pedang di punggung dan sarung tangan hitam.

"A-Ayah?" Pemuda ini terkejut melihat wajah Naruto.

Naruto melongo.

Lelucon macam apa ini dattebayo?!

.

.

.

.

T-B-C

.

.

.

.

Balas review:

ryokusuma99: WOHO! Kamu betul!

Tepuk tangan yang meriah ^_^

Ciri khasnya itu mudah sekali dikenali bukan? :)

Mars135: 100! Benar sekali :)

Ini sudah next bang.

AegisNaked: Makasih om.

Awas ente pake char favorit ana jadi dimasukin lemon.

Teguh: Ini sudah up wahai reader :D

Dasgun: ^_^

The Nightmare07: Ga masalah boy. Santuy ae.

Ini sudah lanjut pastinya :)

D'Arc 01: Makasih kouhai!

nelaA q: Wow! Kritik mengesankan. Hehe peace.

Jangan taruhan ui. Tidak lucu tahu.

Teguh: Sudah up ni reader :)

DLicht: Well, Belial versi setelah menghadapi Geed pastinya :v

Mungkin tanda (') ga dipakai kayaknya. Tapi lihat saja ke depannya.

Untuk italic, yap, itu pake pastinya.

Grandpabie: Sudah up ni bro.

AN:

Ninja Super akhirnya update! Yeah!

Alright. Kita sudah lihat beberapa karakter dengan latar belakang yang berbeda tentunya.

Dan bagaimana ini mempengaruhi plot? Ma kita liat saja ke depannya. Benar?

Jumlah Longinus asli yang seharusnya 13 menjadi 11? Hm. Kalian pasti sudah tahu penyebabnya :).

Untuk seragam, uhh, khusus 'misi'. Mereka memakai pakaian mirip semacam di xmen di xmen trilogy. Tentunya dengan beberapa tambahan.

Terakhir mengenai jadwal update bisa kalian cek di bio akun. Karena ke depannya bisa saja akan ada perubahan tertentu :)

Soal alur, mungkin agak lambat. Tapi ya ini sengaja jadi tidak perlu dimasukan banyak karakter dalam satu chap.

Baca dan review kalau kalian suka. Oke?!

Peace.