Ninja Super
Summary: Naruto Uzumaki adalah pahlawan dunia shinobi ke-empat. Itu kenyataan. Tetapi sayangnya dia mati di pertempuran. Pindah ke dunia lain dan bertemu orang tuanya? Dia sangat mau DATTEBAYO!
Disclaimer: Semua di fic ini punya pemilik aslinya. Author hanya meminjam. Hehe peace.
–
Chap 3 : Ninja Berangkat!
–
.
.
.
.
Apakah kalian tahu bagaimana rasanya bertemu seseorang dengan wajah mirip ayahmu?
Bingung?
Heran?
Pusing?
Cemas?
Emosi-emosi ini lah yang dirasakan pemuda pirang ini saat berjumpa Naruto.
"Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu, tapi jelas sekali aku bukan ayahmu," kata Naruto.
Naruto sangat yakin dengan perkataannya. Karena dia tewas sebelum bisa menjalin hubungan serius dengan gadis mana pun.
Dia berkedip lalu perlahan mengangguk. "Begitu… rupanya. Aku paham sekarang."
Dia tersenyum lalu mengulurkan lengannya pada Naruto.
"Kau bisa memanggilku Saber," kata Saber.
Naruto menyengir lalu menerima jabat tangannya.
"Namaku Uzumaki Naruto," balas Naruto.
Mereka berdua menjauhkan masing-masing tangan.
"Jika boleh aku bertanya-"
""Boss!""
Saber tak sempat selesai berbicara.
Naruto melihat dua klonnya datang kembali dengan membawa wanita itu dan Gasper.
Gasper memaksa turun dan lari mendekati Naruto.
"Aku melihatnya! Serangan angin itu! Kau berhasil mengalahkan Python!" seru Gasper yang gembira.
Naruto terkekeh dan menggaruk rambutnya. "Ya… sepertinya begitu."
Ketimbang meneruskan yang tadi, Saber sadar hal yang lebih penting.
"Maaf, tapi kelihatannya wanita itu terluka. Kalian keberatan kalau aku menyembuhkannya?"
Perhatian Naruto dan Gasper teralihkan pada Saber. Gasper kebingungan dan menatap Naruto, seperti mengharapkan Naruto yang menjawab untuknya.
Naruto berkedip saat kemampuan mendeteksi emosi negatifnya tidak menemukan 'negatif' dari perkataan dia.
"Tidak juga," kata Naruto.
Saber bernafas lega, mendekati salah satu klon yang menggendong wanita itu dengan gaya pengantin dan meletakkan tangannya di bahu dia. Perlahan aura biru menyelimuti bahu wanita itu, mengalir ke kulit lain yang terluka dan mengembalikan kondisinya ketika sebelum memasuki pertempuran.
"Lukanya hanya sampai bagian luar kulit. Tidak terlalu fatal. Hanya kelelahan yang membuatnya seperti ini." Saber menjelaskan kondisi wanita itu, menurunkan tangannya dan aura biru tadi padam.
Naruto bersama Gasper lega.
"Um, terima kasih banyak, Saber," kata Gasper, gugup dicampur malu-malu.
Saber mengangguk, tersenyum sebentar kepada Gasper dan bertanya. "Ngomong-ngomong apakah kau yang bernama Gasper Belmont?"
Gasper ketakutan dan langsung bersembunyi di belakang Naruto.
"Kau baik-baik saja, Gasper?" tanya Naruto, khawatir menyadari lengan bajunya dipegang kuat oleh dia.
Gasper mengintip Saber.
"Saber bukan… teman kelompok pria gagak bukan?" tanya Gasper dengan ekspresi cemas.
Saber menunjukkan ekspresi netral walaupun terkejut dengan respon Gasper.
Naruto mengerutkan keningnya ke arah Saber, menunggu balasan dari Saber dengan tangan sigap menyentuh pouch berisi peralatan ninjanya.
"Kelompok pria gagak?" Saber menggeleng dan menjelaskan. "Aku tidak mengenal mereka. Kedatanganku kemari untuk membawa ibumu dan dirimu ke tempat Dr. Strange. Beliau sendiri yang mengutusku."
Gasper berkedip lalu kebingungan. Karena dia tidak mengenal siapa itu Dr. Strange.
Naruto berkedip. Dr. Strange? Kedengarannya mirip kode seperti di ANBU.
"Ughh…."
Mereka bertiga menyadari wanita itu telah bangun, yang mengedipkan matanya kemudian memukul wajah klon sehingga menjadi asap. Wanita itu berdiri menatap orang-orang di sekitarnya dengan curiga.
"Siapa kalian?"
"Mama, Saber dan Kak Naruto adalah orang baik. Percaya padaku," kata Gasper, khawatir ibunya berperilaku tidak baik pada dua-duanya.
Wanita itu tersentak dan mengingat bahwa Naruto yang mengalihkan perhatian monster-monster itu dengan… serangan uniknya.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk… bertindak seperti itu."
Wanita itu tersenyum kaku, tidak terkejut melihat ada dua Naruto karena sihir memang memiliki jenis mantra yang bisa menggandakan seseorang.
"Tidak masalah. Aku sama sekali tidak terganggu," kata Naruto.
Saber hanya tersenyum.
"Apakah kau yang bernama Sonia Belmont?" tanya Saber.
"Itu namaku."
"Sebelumnya panggil aku Saber. Kedatanganku kemari untuk… membawamu dan putramu ke tempat Dr. Strange."
Huh? Dia sweatdrop saat sadar kata 'putra'. Jadi Gasper itu anak laki-laki?!
"HAHAHAHAHAHAHAHA!"
Berisik Kurama.
Naruto kesal dengan partnernya itu, dan malu pada dirinya sendiri karena mengira Gasper itu anak perempuan. Sama seperti ketika dia mengira Haku itu anak perempuan.
Sonia melebarkan matanya sesaat, mengangguk.
"Dr. Strange itu siapa? Temannya mama?" tanya Gasper kebingungan.
"Nanti mama jelaskan setelah kita sampai di sana," balas Sonia, tersenyum menatap Gasper, "tapi sebelum kita pergi apakah ada yang mau kamu sampaikan, putraku?"
Gasper mengangguk lalu memandang Naruto dengan ekspresi senang.
"Kak Naruto, terima kasih karena telah membantu kami," kata Gasper.
Naruto menyengir menunjukkan barisan gigi putihnya.
"Aku senang bisa membantu," balas Naruto.
Sonia dan Gasper kemudian berdiri di dekat Saber.
"Uzumaki-kun, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu. Kau keberatan menunggu sebentar di sini?" tanya Saber.
Naruto mengangkat bahu. "Tentu saja tidak."
Saber puas, menaikkan wajahnya ke atas dan seketika sinar pelangi terang turun dari langit sehingga menyelimuti mereka bertiga.
Kelompok pria gagak. Saber mengeraskan ekspresinya. Informasi ini harus segera kuberitahu pada anggota utama X-Men.
Naruto melihat mereka bertiga lenyap setelah sinar tiada. Tidak lama kemudian klon terakhirnya menghilang karena keinginannya sendiri.
"Jika di hari pertama saja kau sudah menghadapi makhluk sebesar ular tadi," kata Kurama, terkekeh, "aku penasaran makhluk apalagi yang akan kau temui nantinya. Barangkali monster ramen ada di dunia ini."
Naruto berekspresi horror. Jangan bercanda Kurama! Ramen tidak akan pernah ternodai dengan keburukan! Akan kupastikan itu takkan pernah terjadi dattebayo!
"Ya, ya. Terserah kau saja. Aku mau tidur."
Naruto kesal. Hey! Pembicaraan kita belum selesai!
"…Zzzz…."
"Dasar rubah pemalas," gumam Naruto.
Naruto mendengar bunyi di atas dan melihat 'benda terbang unik' mendarat di dekatnya.
Pintu 'benda terbang unik' terbuka menurun dan dua orang menginjakkan kaki di rumput dan mendekati dia.
"Woah, woah. Siapa kau dan kenapa wajahmu mirip sekali dengan ayahku?" tanya salah satu dari mereka berdua, kaget melihat wajah Naruto.
Naruto keheranan. Pertama Saber, sekarang gadis ini. Sungguh kebetulan yang aneh.
"Jeanne!"
"Apa?"
"Jaga sikapmu. Jangan bertingkah seperti wanita tidak punya tata krama," omel gadis sorcerer ini.
"Aku akan menjaga sikap," balas gadis bertopeng domino, "tapi bisa gak jangan panggil namaku di depan penduduk biasa Le Fay-chan?!"
"Kau juga kenapa ikut menyebut namaku?!"
"Kau sendiri yang memulainya! Enak saja hanya kau yang tidak diketahui nama aslinya!"
Mereka berdua langsung bertengkar dan sepertinya mengabaikan kehadiran Naruto sama sekali.
Mereka seperti Ino dan Sakura saja. Setidaknya mereka bukan fansgirl si teme. Naruto tertawa kecil.
Naruto kemudian melihat ada satu wanita lagi yang turun dari pesawat. Wanita ini mengenakan pakaian sama seperti mereka berdua, dengan tambahan aksesoris berwarna hitam yang mengelilingi area matanya(topeng domino) seperti yang dipakai Jeanne.
Menurut Naruto aksesoris ini aneh dan lucu.
"Berhenti banyak tingkah dan fokus."
"M-Mengerti Raven-chan."
"M-Mengerti Raven."
Naruto sweatdrop menyadari wanita muda ini mencubit gemas telinga dua-duanya.
Wanita muda ini, Asia, berhenti mencubit dua-duanya dan menatap Naruto dengan ekspresi terkejut. Keterkejutan Asia hanya sesaat lalu dia berekspresi netral.
Asia lalu mengamati lingkungan di sekitarnya.
Siapa pun yang memimpin mereka, sepertinya makhluk ini bukan makhluk lemah. Asia berpendapat.
Asia melirik Naruto dan mengulurkan lengannya terhadap Naruto.
"Nama panggilanku Raven. Siapa namamu, Nak?" tanya Asia dengan nada sopan.
Naruto melihat tak ada yang salah menerima jabat tangannya.
"Namaku Uzumaki Naruto," balas Naruto, mengerutkan keningnya, "Nak? Padahal dari penampilanmu umur kita gak terlalu jauh."
Mereka bertiga terkejut mengetahui Naruto bisa 'melihat' penampilan asli Asia. Padahal topeng domino ini dibuat untuk 'mengelabui' indra penglihatan manusia normal. Dan dapat mengubah penampilan sesuai yang diinginkan pemakainya setelah dilakukan pengaturan.
Asia terdiam lalu tersenyum simpul. Lelaki dengan muka hampir mirip Paman Minato ini tidak buruk juga.
"Aku tidak bermaksud untuk membuatmu tersinggung atau semacamnya," kata Asia, "tolong maafkan kesalahanku."
Naruto tersenyum canggung. "Uhh, tidak perlu minta maaf, aku sama sekali tidak tersinggung."
Asia mengangguk dan melepas tangan Naruto.
"Uzumaki-san, jika boleh aku bertanya apakah kau tahu penyebab kerusakan di hutan ini?" tanya Asia.
Naruto berkedip lalu mengangguk. "Separuhnya karena ulah Python."
"Python?" Asia penasaran. "Monster ular?"
"Yep."
"Kecil atau berukuran besar?"
"Awalnya kecil. Namun saat dia menyerangku ukurannya tiba-tiba membesar."
"Dia bisa berbicara?"
"Bisa."
"Apakah dia sempat mengatakan hal yang aneh?"
"Dia sempat bilang kalau dia adalah Penjaga Orakel Delphi," kata Naruto, mengangkat bahu, "itu cukup aneh menurutku."
Jeanne dan Le Fay tersentak. Karena hanya ada satu Python yang sesuai dengan deskripsi yang dikatakan ninja ini.
Asia mengeraskan ekspresinya, tak menduga bahwa makhluk kuno dari mitologi Yunani juga berada di sini.
Itu menjelaskan tentang banyaknya sinyal supernatural yang terdeteksi di hutan ini. Karena mustahil ada kumpulan monster dari jenis berbeda mau diperintah kecuali oleh satu monster terkuat.
Asia kemudian menangkap sesuatu dari kata-kata Naruto.
"Separuh? Maksudmu ada makhluk lain yang ikut bertanggung jawab atas kehancuran sebagian hutan ini?" tanya Asia.
Naruto menggaruk rambutnya dan tertawa gugup.
"Sebetulnya hutan ini menjadi seperti ini karena ulahku juga," balas ninja favorit kita ini, "tidak sengaja tentu saja."
Asia dilanda rasa keingin-tahuan mendengar balasan Naruto. Tetap saja prioritasnya sekarang bukan lah mengetahui kemampuan Naruto jadi dia akan mengabaikannya untuk saat ini.
"Halo Uzumaki-san. Namaku Le Fay Pendragon tapi kau bisa memanggilku Oz." Le Fay langsung menyapa ceria lalu berekspresi gugup. "Umm, aku tahu kita baru kenal, tapi bisakah kau merahasiakan penampilan asli temanku? Kumohon?"
Kedengarannya mereka ini bekerja secara diam-diam. Seperti ninja. Naruto berpendapat.
Naruto mengangguk dan menyengir.
"Baiklah. Itu mudah bagiku," kata Naruto.
Le Fay bernafas lega.
"Huh, padahal tadinya aku ingin memanggilmu 'Dik' tapi sepertinya itu mustahil," kata Jeanne, menyengir riang, "giliranku bukan? Nama panggilanku Ruler dan nama asliku Jeanne. Lengkapnya Nami-"
Seketika sinar pelangi menurun dari langit mengenai tanah dekat mereka berempat. Saber berjalan dan sinar pelangi menghilang.
"Kalian bertiga sedang apa di sini?" tanya Saber kebingungan.
"Kami kemari untuk membantumu memastikan keselamatan Gasper Belmont dan Sonia Belmont," balas Asia, kebingungan dengan pertanyaan Saber.
"Saat aku masih di Asgard, Dr. Strange mengabariku bila mereka lebih baik tinggal sementara waktu di tempatnya." Saber menjelaskan dan bertanya. "Memangnya Belial-san tidak memberitahu kalian perubahan rencana ini?"
Bip. Bip.
X-Watch milik Asia tiba-tiba berbunyi.
[Perubahan rencana. Saber akan membawa Sonia Belmont dan putranya ke tempat Dr. Strange. Mengingat misi telah selesai kalian diharapkan kembali sekarang juga].
"Maafkan perkataanku ini, Pak," kata Asia, "tapi kenapa kami baru diberitahu sekarang?"
[Saat memenuhi panggilan alam tadi… aku tidak mungkin membawa barang yang mudah rusak bila terkena air. Kesalahan terletak di padaku. Aku minta maaf].
"Ah… begitu rupanya." Asia berdehem. "Kami… akan segera kembali ke markas."
Asia menekan satu tombol dan komunikasi terputus darinya.
.
.
.
"Pfft! Ha, ha, ha! Haaahaha!"
Asia menatap Jeanne yang tertawa sambil memegang perutnya. Dia bahkan memukul-mukul rumput sambil berguling saking nyeri perutnya saat ini.
"Y-Ya ampun. Bahkan membahas BAB saja masih memakai bahasa formal! HAHAHAHAHA!"
Le Fay mengelus wajahnya sendiri seperti malu pada tingkah laku Jeanne.
Saber menunjukkan ekspresi netral walaupun dia jelas malu.
Naruto terhibur melihat sikap Jeanne.
Asia mengembuskan nafas.
"Uzumaki-san, kau keberatan menceritakan pertarunganmu dengan Python di pesawat?" tanya Asia, menatap Naruto.
Naruto mengangguk.
"Aku tidak keberatan," balas Naruto.
Saber sebenarnya ingin membahas hal lain dengan Naruto. Hanya mereka berdua saja. Namun sepertinya itu bisa dilakukan nanti saja.
Heeh, jadi benda terbang ini namanya pesawat. Naruto terkagum-kagum saat berjalan masuk.
Mereka berlima naik ke X-Jet, dengan Le Fay masuk terakhir usai memperbaiki kerusakan di hutan dengan sihirnya.
X-Jet lalu terbang menuju lokasi yang telah ditentukan.
–
"Baik, apakah kalian ada pertanyaan?"
Di dalam kelas tertentu yang terdapat di Kuoh Academy, pria dewasa berpakaian sopan dengan Namikaze Minato di name tag-nya berbicara pada murid-muridnya.
Ia baru selesai menulis materi di papan tulis.
Beberapa tangan terangkat, Minato puas lalu memutuskan memberikan mereka giliran. Mereka bertanya struktur kerajaan dan apa perbedaan bentuk pemerintahan Jepang yang dulu dengan yang sekarang.
Puas, dia membuka buku paket di meja guru dan mengatakan.
"Buka halaman 145 dan selesaikan bab 2 dengan 3. Bila tidak selesai hari ini kerjakan sisanya di rumah."
"""Baik Minato-sensei!"""
Minato mengangguk, kursinya terisi olehnya lalu menatap murid-muridnya mengerjakan tugas yang diberikan tanpa adanya protes.
Menurut tetangga dan penduduk Kuoh, Minato hanya kepala keluarga yang memiliki istri dan pekerjaan normal. Tapi kenyataannya dia merupakan putra dari Dewa Petir Norse bersama wanita berkebangsaan Jepang.
Walau memiliki kehidupan baru, ingatan lamanya pada masa dia adalah ninja kembali melekat di otaknya. Tepat ketika tubuhnya telah dilatih sangat lama hingga kemampuan tempurnya mencapai pada saat dirinya menjabat sebagai Hokage.
Tubuh barunya cepat beradaptasi dengan memori ninjanya walaupun di awal kepalanya terasa begitu pusing. Hal ini disebabkan penyatuan ingatan berbeda secara paksa.
Pada saat perang akbar terjadi, ayahnya, Thor, mengutus Minato ke lokasi di mana perang akbar dilaksanakan. Karena memang Thor merupakan satu dari sekian dewa yang memiliki opini tinggi terhadap umat manusia.
Minato bersyukur kala itu ingatannya kembali. Karena Minato dan Kushina dipertemukan kembali di perang akbar. Bertarung bersama dengan tujuan sama, menjaga umat manusia dari terlibat dengan itu.
Mengejutkannya mereka tidak sendirian dan dibantu oleh beberapa orang dari kalangan berbeda.
Seperti Belial dari bangsa Ultra. Belial datang dari dimensi lain dan rupanya mengejar King Ghidorah, monster luar angkasa dengan bentuk naga berkepala tiga yang sempat membuat kekacauan di perang akbar.
Heracles(penampilan diambil dari versi Shuumatsu no Valkyrie) dari bangsa Dewa Yunani.
Agamotto sang Sorcerer Supreme.
Itu merupakan pertemuan yang unik dan karena itu juga organisasi X-Men terbentuk.
Minato juga masih ingat alasan mengapa ingatannya kembali.
Menurut perkataan Dewi Amaterasu setelah Minato dan Kushina kembali menikah. Alasan memorinya di dunia ninja kembali ada sebab dia dan istrinya merupakan 'spesial' karena faktor putra mereka yang ternyata benar-benar seorang anak ramalan.
Aneh memang, tetapi itu lah kenyataannya.
KRIIIIIIIIIIIIIING!
Seketika bel berbunyi sebanyak yang diperlukan, hal ini menyebabkan murid-muridnya senang bukan tanpa alasan. Ketimbang kesal, Minato menggeleng dan bersamaan membereskan perlengkapannya, tsenang melihat mereka tidak terbebani dengan unsur supernatural dan hidup secara normal.
"Baik, karena waktu pelajaran telah habis sensei pamit undur diri. Sampai jumpa lagi di minggu depan anak-anak," ujar Minato.
"""Terima kasih atas materinya Minato-sensei!""" seru mereka dalam kekompakan.
Minato membalas dengan senyum simpul, keluar dari kelas untuk melihat sejumlah guru dan murid berkeliaran di lorong. Dengan tujuan pasti Minato menuju lantai pertama dan menuruni tangga dari lantai kedua.
Berjalan ke dalam ruang guru, dia disapa oleh rekan-rekan sesama gurunya, dari yang seumuran maupun tidak. Dia membalas balik dengan sapaan dan duduk di kursinya sendiri.
Minato mengambil ponselnya, rupanya ada pesan yang baru masuk.
[Kita akan mengadakan rapat. Pastikan kau tidak datang terlambat ke pertemuan.
Tatsuya].
[Aku mengerti. Setelah waktu kerjaku habis aku segera ke sana.
Minato].
Minato menjawab balasan dan menyimpan ponselnya. Dia penasaran akan membahas apa di rapat yang mendadak ini.
.
.
.
.
T-B-C
.
.
.
.
Balas review:
Nuos: Ada kok. Tunggu saja ntar.
NumpangLewat: Ehehe. Ya sudah kalau peminatnya sedikit. Author hanya menulis yang author suka hihihi :)
Lemoner: Bisa iya bisa tidak.
Zurro: 100! Tapi versi author tentu saja.
uchihasenjuuzumakinaruto: Sudah ni :)
Tsukinano: Wkwk. King ghidorah tu salah satu monster kesukaan author :).
ryokusuma99: Masuk ke dalam mulut pastinya :D
Jiah! Sorry bro!
Paijo Payah: Yang rupanya hanya kesalahpahaman semata :)
KidsNo TERROR13: Oke bozz
Ghost Walking: Sudah up ni bro
D'Arc 01: Bakal lucu pastinya ya wkwkk
DLicht: sama author uga. Ngakak abis awokwwk
Siap. Tunggu ya chapter berikutnya!
Genesis0417: wokeh. Udh lanjut ni.
AN:
Ninja Super akhirnya update! Yeah!
Seperti kelihatannya tidak ada pertempuran apapun di chap 3 ini. Karena ya author sengaja aja buat ngejelasin hal lain :)
Chap berikutnya akan membahas lebih jauh tentang X-Men, konflik baru, dan bagaimana Naruto beradaptasi dengan kehidupan modern :D
Baca dan review kalau kalian suka. Oke?!
Peace.
