Ninja Super
Summary: Keputusan Naruto pergi ke dunia lain tidak berakhir dengan sia-sia. Namun, perjalanan sang ninja penuh kejutan baru saja dimulai ketika dia bergabung bersama organisasi yang sama dengan keluarganya. Teman, rival, musuh, mengintai dibalik bayangan dan cahaya.
Disclaimer: Semua di fic ini punya pemilik aslinya. Author hanya meminjam. Hehe peace.
–
Chap 5 : Ketenangan Sebelum Badai
–
.
.
.
.
Mereka bertujuh berjalan di lorong menuju suatu ruangan. Ketimbang diam sebagian dari mereka ada yang berbicara.
"Kau pasti akan sangat suka masakan ibu. Masakan ibu adalah yang terbaik dattebane," kata Kushina antusias, tangannya mengelilingi leher Naruto.
Naruto menyengir. "Aku tidak sabar mau mencicipinya dattebayo!"
"Seingatku kau sudah punya pacar bukan Naruto?" tanya Minato.
"Maksud ayah Sakura? Tidak. Kami… hanya sebatas teman saja."
"Hoho, jangan khawatir saudaraku. Pasti di suatu tempat ada gadis elf yang menunggu kedatangan penyelamat pirangnya," kata Jeanne.
"Jangan memberiku pilihan selingkuh dari istriku Jeanne," canda Yuuto.
"Aku membicarakan Naruto dan bukannya kau Kak Yuuto!"
Naruto melirik Yuuto.
"Kau sudah menikah?" tanya Naruto.
Yuuto tersenyum.
"Satu istri dan satu putra," jawab Yuuto, "nanti aku akan pertemukan kau dengan mereka."
Naruto gembira menyadari jumlah keluarganya lebih banyak dari kelihatannya.
"Akhirnya kau bisa hidup dengan keluargamu kali ini," kata Kurama, senang dengan partnernya, "bukan keputusan yang buruk mempercayai Izanagi dan Izanami itu. Walau nama mereka cukup membuatku kesal karena seperti teknik Uchiha-Uchiha keparat itu."
Naruto sweatdrop. Jika dipikirkan lagi kau ada benarnya juga Kurama.
"Kau sudah begitu lama tinggal di ruangan putih itu. Aku tidak akan terkejut jika kau melupakan banyak hal dari Elemental Nations."
Asia hanya senang melihat kebersamaan keluarga ini. Kedekatan Keluarga Namikaze mengingatkannya pada keluarganya sendiri.
Seperti Asia, Le Fay juga ikut senang. Walau Le Fay diam-diam sedikit iri sebab dia juga ingin punya keluarga lengkap.
Apa yang kau pikirkan. Le Fay menghapus pikiran negatif itu. Kau seharusnya senang melihat sahabatmu senang, bukannya iri.
Naruto mengamati area di lorong ini, berpendapat bahwa dinding dibuat dari materi berkualitas keras bila dilihat dari lapisan dindingnya.
"Kau seperti terlalu waspada Naruto," ujar Kurama.
Apa kelihatannya begitu? Naruto penasaran.
"Aku bisa merasakan suasana hatimu saat ini. Kau mau mendengarnya?"
Naruto membisu. Mungkin ini karenaaku merasa… gugup, dekat dengan keluargaku.
Kurama terkekeh. "Uzumaki Naruto? Gugup? Heh, kupikir itu awalnya mustahil padamu tapi akhirnya terjadi juga."
Aku masih manusia Kurama.
"Ya, ya, aku paham."
"…to. Naruto. Naruto."
Naruto kembali ke alam sadar saat menyadari Yuuto memanggilnya. "Ada apa Yuuto?"
"Aku akan pergi. Aku lupa ada urusan lain," kata Yuuto.
"Oh, baiklah," balas Naruto.
Naruto berkedip ketika Yuuto memeluknya. Naruto yang tidak keberatan lalu merespon dengan hal serupa.
Mereka berdua melepas pelukan.
"Selamat datang kembali saudaraku," kata Yuuto berseri.
"Yeah, senang bisa kembali," balas Naruto ikut berseri.
Yuuto berjalan keluar dari Base IV.
Pasti dia akan sangat terkejut. Yuuto terkekeh, bersyukur Naruto melamun tadi.
Kushina tersenyum penuh arti melihat kepergian Yuuto.
"Kau membisikkan apa pada Yuuto tadi?" tanya Minato penasaran.
Kushina berbisik pada telinga Minato, lalu menatap wajah Minato. "Kita harus merayakannya bukan? Kau sendiri yang bilang pada saat perang itu umurnya telah bertambah."
"Kau benar juga," balas Minato, menyadari ide istrinya begitu cemerlang.
Naruto dan Jeanne kebingungan dengan tingkah laku kedua orang tuanya.
"Ayah, ibu, ada apa bisik-bisik?" tanya Jeanne.
"Kami baru ingat hal yang penting. Itu saja," jawab Minato.
Dua-duanya curiga, tapi diam karena mungkin itu urusan orang dewasa.
Akhirnya mereka berenam berada di depan pintu besi lainnya.
Dari tadi aku lihat pintu-pintu besi di sini terdapat pola 'x'. Naruto penasaran, mengingat perkataan Jeanne. X-Men huh? Sepertinya huruf 'x' memiliki makna tersendiri di organisasi ini.
Tatsuya dan Stephen mendekat dari lorong lain.
"Asia, kebetulan aku melihatmu di sini," kata Tatsuya, menatap anaknya dengan senyum kecil, "mau membantu ayah di lab?"
Naruto berkedip, merasa hawa kehadiran Tatsuya seperti seorang pemimpin yang bersiap maju ke medan perang jika situasi sudah memaksanya.
Asia berseri dan mengangguk, menengok ke Le Fay dan Jeanne.
"Tolong serahkan X-Watch kalian padaku," kata Asia.
Le Fay dan Jeanne(yang cemberut) langsung menyerahkan X-Watch-nya pada dia.
"Kerja bagus atas keberhasilan misi kalian, Oz, Ruler," puji Tatsuya tenang menatap Jeanne dan Le Fay, beralih ke Minato dan Kushina, "dan juga aku turut gembira atas berkumpulnya keluarga kalian secara utuh."
Minato tersenyum. "Terima kasih Tatsuya."
"Tumben papalial bersikap baik," canda Kushina, "biasanya papalial selalu bilang "Misi berikutnya tidak boleh gagal." atau "Performa kalian seharusnya lebih bagus dari yang tadi."."
Papalial? Naruto sweatdrop.
"Jika benar itu namanya aku siap tertawa sekarang," kata Kurama menyeringai.
"Aku sangat yakin kau tidak lupa namaku di wujud ini," balas Tatsuya, ekspresinya masih tenang, "dan untuk perkataanmu barusan, apa kau ingat pepatah lama yang mengatakan "Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan." Kushina?"
"Berhenti memakai bahasa professor, papalial."
"Aku akan mempertimbangkannya jika kau berhenti merusak nama baikku."
"Yang mana namamu? Belial? Tatsuya? Betusya? Talial? Jangan bilang yang papalial?"
"Kushina…" Minato yang memanggilnya.
Kushina berhenti mengusik Tatsuya, cemberut pada Minato yang mengabaikan tatapannya.
Tatsuya mengangguk puas kepada Minato, melirik Naruto. "Kau akan menjalani beberapa tes seperti yang lainnya. Pukul delapan. Jangan terlambat."
Tatsuya dan Asia lalu menuju lorong lain.
"Tes? Tes apa?" Naruto keheranan.
"Tes apakah kau siap atau tidaknya bergabung di X-Men," jelas Le Fay, senang menyadari maksudnya, "itu berarti ke depannya kita akan menjalankan misi bersama-sama Naruto."
"Selamat saudaraku!" seru Jeanne gembira.
Naruto mulai senang menyadari maksudnya. Bergabung dengan organisasi yang sama dengan orang tuanya? Tentu saja dia mau!
Stephen hanya tersenyum melihat interaksi anak-anak muda ini.
"Le Fay, sekarang sudah waktunya kita kembali. Kau tidak ingin ketinggalan kelas nanti pagi bukan?" tanya Stephen ke Le Fay.
Le Fay tersentak. "Ah, aku lupa. Terima kasih karena mengingatkanku Master Strange."
Naruto terkejut mendengar nama itu. "Dr. Strange?"
"Itu kode namaku, Nak Naruto." Stephen merespon baik. "Harus kukatakan, terima kasih atas bantuanmu menjaga Sonia dan putranya."
"Sama-sama." Naruto berseri. "Jadi um, bagaimana keadaan mereka?"
"Mereka dalam keadaan yang baik-baik saja."
"Aku senang mendengarnya." Naruto lega.
Le Fay menatap keluarga Namikaze, "Maaf, kurasa aku tidak bisa bergabung dengan kalian."
"Tak apa. Nanti akan kuberitahu secara langsung isi dari perbincangan kami padamu," kata Jeanne.
Le Fay mengangguk. Dia dan Stephen melangkah keluar dari Base IV.
"Sekarang mari kita lanjut?" tanya Minato, tersenyum pada keluarganya.
Mereka berempat masuk saat pintu besi terbelah, pintu ini menutup sendirinya setelah tak ada lagi yang masuk.
"Tidak harus disentuh?" Naruto kebingungan.
Jeanne berkedip.
"Sentuh? Oh, maksudmu yang dilakukan Le Fay tadi. Itu hanya berlaku untuk semua pintu utama saja. Untuk pintu ruangan mereka terbuka dengan sendirinya," jelas Jeanne.
"Oh... begitu dattebayo," ujar Naruto.
Tidak seperti lorong lurus tadi, kesan yang didapat Naruto adalah kenyamanan dengan permukaan dinding keramik dan furniture yang mendukung.
Ruangan ini berbentuk persegi panjang dengan meja, kursi, sofa, kulkas, adalah beberapa perabotan yang diketahui Naruto. Sementara sisa perabotan masih asing dan baru dilihatnya, terdapat dua pintu ganda yang terletak di dinding yang berlawanan.
Kushina dan Minato mengisi kursi. Naruto dan Jeanne mengisi sofa. Minato mengamati satu-satunya putrinya.
"Kenyataannya adalah…"
Minato menceritakan kehidupan dia dan Kushina di Elemental Nations. Kushina ikut membantu menambahkan bila Minato kesulitan mengingatnya.
Jeanne mendengarkan dengan seksama.
Naruto juga ikut menyimak, karena ini pertama kalinya dia mendengar versi penuh dari kehidupan orang tuanya dulu sebagai ninja Konoha.
Kurama sebenarnya pernah bercerita kepadanya, tapi dia selalu menambahkan tambahan tidak wajar macam "Banci guntur pernah mancing tapi kaitnya menarik rambut nenek tua." juga "Kepala tomat sering membahas 'ukuran' ayahmu pada teman-teman wanitanya sehingga membuat mereka cemburu.", dan masih banyak lagi.
Kurama mendapat hantaman Rasenshuriken dari Naruto setelah dia selesai bercerita kala itu.
"…dan begitu lah akhirnya."
Jeanne masih mencoba memahami rahasia yang akhirnya diungkapkan orang tuanya. Rupanya dua-duanya adalah mantan ninja yang hidup di dunia ninja sungguhan? Kedengarannya keren memang. Hanya saja…
"Kenapa ayah dan ibu merahasiakan ini dariku dan Kak Yuuto?"
Minato dan Kushina melirik Naruto, dua-duanya seperti gugup membahas ini.
"Ceritakan saja, ayah, ibu," kata Naruto, menyengir pada mereka berdua.
"Baiklah." Minato menarik nafas dan mengangguk. "Kami berdua sepakat untuk tidak memberitahu kalian karena… dengan kehidupan kedua ini dan tak ada jalan kembali, kami memutuskan untuk fokus menjalani hidup yang saat ini."
Naruto berkedip lalu mengangguk, dia sama sekali tidak marah dengan keputusan ayah dan ibunya. Terkadang keputusan berat memang merupakan satu-satunya pilihan yang harus diambil di situasi tertentu.
Jika dia bisa memaafkan sebagian ninja yang pernah membuat kekacauan, apa susahnya memaafkan orang tuanya?
"….."
Jeanne berdiri lalu menuju luar ruangan.
"Aku yang tangani," kata Naruto, sebelum Minato dan Kushina bisa berbicara.
Naruto menyusul Jeanne. Rupanya Jeanne bersandar pada dinding keras dengan tangan dilipat.
"Jeanne, kau baik-baik saja?" tanya Naruto.
"….."
Jeanne menghela nafas.
"Aku sedikit kesal pada ayah dan ibu," kata Jeanne, melirik Naruto dengan ekspresi cemas, "Apa hidupmu… nyaman di dunia itu?"
Naruto menggaruk pipinya untuk sebentar, ikut bersandar seperti Jeanne.
"Yeah… aku tidak bisa bilang hidupku sepenuhnya nyaman," kata Naruto, mengangkat wajahnya ke atas dan mengamati langit-langit dengan senyuman, "tapi bukan berarti aku tidak menikmatinya. Karena di sana pun aku mempunyai orang-orang yang bisa kuanggap seperti... keluarga, bagiku."
"…."
Naruto kebingungan saat Jeanne memeluknya. "Jeanne?"
"Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa kehadiran orang tua," gumam Jeanne, suaranya bisa didengar oleh Naruto, "tapi syukur lah… kau kembali pada kami sekarang."
Naruto terpaku.
Sebagai perempuan memang wajar jika mereka jauh lebih emosional daripada laki-laki.
Namun kedengarannya Jeanne seperti ketakutan saat membahas 'keluarga', seakan dia tidak mau mengalami yang namanya 'kehilangan'.
Sebenarnya apa yang terjadi padamu di masa lalu Jeanne? Naruto bertanya-tanya.
Naruto balas memeluk Jeanne.
"Aku juga senang bisa kembali," ujar Naruto.
Terlalu lama seperti itu mereka berdua akhirnya melepas pelukan.
Naruto memberi saran. "Mungkin kita harus kembali ke dalam menemui ayah dan ibu."
"Kurasa kau benar," balas Jeanne.
"Bagus kalau benar," kata Naruto, sadar akan sesuatu, "jadi… setelah itu mau mengajakku berkeliling?"
"Tentu saja. Aku sudah berjanji padamu bukan?" Jeanne menyengir lebar, menyikut pelan bahu Naruto. "Percaya padaku. Kau akan sangat menyukai tempat ini."
Naruto ikut menyengir, senang sikap ceria Jeanne kembali seperti semula.
Mereka berdua lalu melihat Minato dan Kushina keluar dari ruangan.
"Umm… ayah, ibu, soal tadi…"
Minato mengusap rambut Jeanne.
"Tak apa. Ayah dan ibu paham. Kami sebenarnya lebih senang kau langsung menerima Naruto sebagai saudaramu," kata Minato.
Kushina mengangguk. "Benar itu dattebane."
"Keluarga tetaplah keluarga," deklarasi Jeanne, "lagi pula memangnya buruk punya saudara tambahan?"
Mereka berdua senang mendengarnya.
"Jadi, kalian mau langsung ke rumah atau ke tempat lain dulu?" tanya Minato.
"Aku ingin mengajak Naruto berkeliling terlebih dahulu," jawab Jeanne.
"Baiklah, bersenang-senang lah kalian berdua," ujar Kushina, berseri dan dia mengacak rambut putra-putrinya.
Minato dan Kushina lalu pergi ke lorong lain.
"Ugh, aku tidak suka saat ayah dan ibu mengacak rambutku," gerutu Jeanne, merapikan rambutnya yang acak-acakan, "padahal aku menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin hanya untuk memastikan bentuk rambutku bagus."
Naruto terkekeh.
–
Di kamar kosong ini terdapat perangkat bernama X-Tube dengan bentuk silinder panjang dan lebar. Di bagian belakangnya terdapat iris mekanis yang dapat terbuka untuk satu tujuan(penampakan X-Tube diambil dari Zeta-Tube dari serial Young Justice dengan kemampuan serupa).
Lalu iris mekanis di X-Tube terbuka dan menampilkan layar proyektor yang menembakkan sinar putih berkilauan ke lantai, meredup dan menutup setelah Naruto dan Jeanne(dengan pakaian santai) berjalan tenang menuju pintu.
"Ruangan apalagi ini Jeanne?" tanya Naruto.
"Ruangan ini adalah kamar kosong yang sengaja tidak ada penghuninya." Jeanne menjelaskan. "Sebagai tempat teleportasi baik ke markas atau ke rumah kita, khusus untuk di sini."
"Oh…"
Barusan, Jeanne menjelaskan pada Naruto sambil keduanya berkeliling sekaligus memasuki ruangan di masing-masing Base.
Base IV adalah yang pertama kalinya Naruto masuki di X-Base, memiliki fasilitas ruang istirahat, ruang toilet, asrama, ruang olahraga, ruang makan, ruang pakaian, ruang pusat, ruang rapat.
Base III adalah yang kedua Naruto masuki, memiliki fasilitas ruang pengawas, ruang teleportasi, ruang bahaya.
Base II adalah yang ketiga Naruto masuki, memiliki fasilitas ruang penyimpanan. Base ini menyimpan kebutuhan di dapur seperti bahan pangan dan macam-macam peralatan dapur.
Base I adalah yang terakhir Naruto masuki, memiliki fasilitas ruang mekanik dan laboratorium.
Naruto merinding memikirkan pengalamannya di Base I.
"Padahal Base I paling keren," kata Kurama jujur.
Itu menurutmu. Naruto membalas balik.
"Cih, kau saja yang tidak mengenal seni."
"Lantai ini juga memiliki beberapa kamar kosong. Nanti kau bisa pilih kamar mana yang kau mau."
Jeanne membuka pintu dan bersama Naruto turun tangga ke lantai pertama. Dua-duanya menuju ruang tamu.
"Dan di lantai pertama ini kita punya ruang…"
Mereka berdua kaget saat kertas-kertas kecil berjumlah banyak mendarat di kepala mereka berdua.
"""Kejutan!""" Mereka berlima berseru serentak, masing-masing memegang party popper yang baru ditembakkan.
Naruto memandang kue hitam ditaburi krim putih dan cherry, dihias dengan beberapa lilin dalam bentuk "17.". Selain kue ulang-tahun, Naruto juga melihat hiasan balon warna-warni di dinding yang berbentuk kumpulan kata.
Selamat Ulang Tahun Ke-17 Naruto
"Semuanya…" Naruto perlahan berseri, tak perlu orang pintar untuk mengetahui perasaan yang dirasakannya sekarang. "…terima kasih banyak dattebayo."
"Anggap saja selain pesta penyambutan, pesta ini juga pesta ulang tahunmu, Naruto." Kushina tersenyum lebar. "Mendekatlah. Kau juga Jeanne."
"Kenapa hanya aku saja yang tidak diberi tahu?" Jeanne kesal menatap mereka berlima.
"Kau pengalih perhatian sementara kami menyiapkan kejutan ini, Jeanne," ujar Minato tersenyum.
Jeanne gembira. "Benar juga."
Naruto menyadari ada dua orang asing yang baru dilihatnya. Wanita berambut perak dengan mata biru berpakaian setelan bisnis. Pemuda berambut perak dengan mata biru berpakaian blazer hitam dan celana hitam.
Yuuto meletakkan tangannya di bahu wanita dan pemuda ini. "Nah, Kak Naruto. Wanita cantik dan remaja ini adalah istri dan putraku."
"Senang bertemu denganmu Om. Perkenalkan namaku Vali," ujar Vali, membungkuk pada Naruto dan memperkenalkan dirinya dengan senyuman.
"Namaku Rossweisse, salam kenal kakak ipar." Rossweisse juga membungkuk pada Naruto dan memperkenalkan dirinya dengan senyuman.
"Err, salam kenal," balas Naruto berseri-seri, kemudian bingung, "tunggu, Kak Naruto?"
"Kau anak pertama di keluarga ini. Wajar jika aku memanggilmu dengan sebutan yang seharusnya," terang Yuuto.
Huh… Yuuto benar juga. Naruto sweatdrop, mengingat dia memang anak pertama di keluarga Namikaze.
"Sudah, sudah, sekarang waktunya Naruto mengucapkan harapannya dattebane," kata Kushina.
Naruto melebarkan matanya, menyadari baru sekarang dia bisa merayakan ulang tahunnya dengan keluarga aslinya. Hal ini membuat dia…
"Eh?" Jeanne panik melihat air mata terlihat di mata Naruto. "K-Kak Naruto, kenapa kau menangis?"
Rossweisse dan Vali khawatir melihat dia dalam kondisi seperti itu. Mereka berdua sudah tahu masa lalunya dari Minato. Karena itu juga mereka berdua langsung membantu menyiapkan pesta ini.
Naruto tersentak dan menyeka air matanya dengan lengan baju.
"T-Tak ada apa-apa Jeanne," balas Naruto, melirik secara keseluruhan keluarganya, "aku hanya… senang saja. Bisa berkumpul dengan kalian."
Kushina meletakkan lengannya di bahu Naruto dan tersenyum.
"Sekarang dan ke depannya… kau tidak akan sendirian lagi, Naruto," ujar Kushina.
"…."
"Yeah," jawab Naruto menyengir.
Naruto menyatukan tangannya mengharapkan apa yang dia inginkan di dalam hatinya. Selesai, tiba saatnya untuk dia meniup lilin.
Karena Naruto terlalu antusias meniupnya, sebagian krim kue terbang dan mendarat tepat di wajah Minato dan Jeanne.
"….."
"….."
"….."
"….."
""Pfft…"" Naruto dan Kushina memegang perut mereka dan tertawa terbahak-bahak. ""Hahahahahaha!""
Vali membuang muka ke samping dan menggigit bibirnya guna menahan tawa. Rossweisse menutup wajahnya dengan tangan demi menyembunyikan senyum gelinya.
"Salah kita apa sebenarnya, Yah?" tanya Jeanne menahan malu.
"Mungkin ini sudah nasib, putriku," balas Minato tersenyum gugup.
Kilat muncul dan Jeanne bersama Minato melirik Yuuto yang memegang ponsel-nya.
"Foto ini akan kujadikan kenang-kenangan yang terindah," kata Yuuto tersenyum geli.
"Kak Yuuto!"
Jeanne yang kesal langsung mengejar Yuuto, sementara Yuuto langsung kabur. Naruto memiliki ide dan menahan Jeanne tepat saat Jeanne melewatinya.
"Lepaskan aku Kak Naruto!"
"Tidak akan dattebayo!"
"Le Fay pasti senang mendapat foto ini."
"Kucincang kau jika berani melakukannya Kak Yuuto!"
Dini hari waktu itu, Keluarga Namikaze begitu bahagia merayakan kembalinya anggota keluarga mereka.
–
"Kapan mereka sampai?" tanya remaja berambut coklat yang penasaran.
"Sebentar lagi pastinya," kata remaja berambut hitam dan mata biru, mengenakan seragam sekolah Jepang dengan kombinasi pakaian Cina kuno, "kita hanya perlu bersabar menunggu kedatangan mereka."
"Masalahnya aku sedang menahan kentut Cao Cao."
"Kau sedang bercanda Issei?"
"Eh, tergantung keadaan cuaca itu juga."
"Menahan buang gas itu tidak baik Issei-kun, lebih baik segera keluarkan," tegur wanita pirang dengan simbol halo di kepalanya. Wanita pirang ini terkenal karena kecantikan dan kebaikan hatinya.
Remaja ini tertawa gugup. "Aku hanya bercanda Gabriel-san."
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu." Gabriel berseri.
"Aku lebih penasaran dengan anak Minato yang menghancurkan musuh abadi dewa pemanah yunani," kata pria berambut hitam klimis diikat kuncir kuda, bekas luka banyak di wajah mudanya(penampilan seperti di versi Percy Jackson series), "lagi pula dari yang kudengar dari Hestia, Apollo sangat kesal karena hal ini."
Heracles menatap dia. "Kau dan hobi bergosipmu."
"Mengumpulkan informasi yang benar," koreksi Prometheus.
Lima orang ini berada di dalam Base III, ruang teleportasi dan berdiri di depan X-Tube. Mereka berlima adalah Heracles, Cao Cao, Hyoudou Issei, Gabriel, terakhir Prometheus.
"Akhirnya," kata Prometheus, melihat layar proyektor dari X-Tube menembakkan sinar putih berkilauan di lantai.
Tak lama beberapa anggota Keluarga Namikaze muncul, Jeanne, Kushina, Naruto, Vali.
Prometheus terkekeh. "Kalian tampak bahagia sekali. Terutama kau Kushina."
Keluarga ini mendekati kelimanya.
"Kurasa kau sudah tahu alasannya, Prometheus," ujar Kushina, menyadari kehadiran Gabriel lalu berlari bahagia ke arahnya dengan tangan terbuka lebar, "Gaby!"
"Kushi!" Gabriel juga ikut memanggil dengan bahagia sebelum berpelukan hanya sebentar. "Bagaimana kabarmu?"
"Baik dattebane. Mau menonton drakor di rumahku nanti?"
"Tentu aku mau."
Naruto menyadari orang-orang di sekitarnya sudah terbiasa dengan interaksi Gabriel dan Kushina. Namun Naruto melihat ada yang menahan tawa(Issei, Prometheus, Jeanne), tidak ambil pusing(Cao Cao, Heracles), dan malu seorang diri(Vali).
"Heeh, kau putra Minato-kun yang lain rupanya," ujar Gabriel, menunjukkan senyum pada dia, "perkenalkan namaku Gabriel, Seraph dari Utopia. Jika kau butuh teman curhat jangan sungkan cari aku."
Naruto menyengir lalu mengangguk.
"Ini baru wanita yang layak dipandang!" Kurama berseru, tidak menyembunyikan kenyataan bahwa dia mengamati tubuh Gabriel lewat mata Naruto.
Jangan berkomentar mesum di pikiranku dattebayo! Naruto kesal.
"Bah, sebelum ke dunia ini aku hanya melihat kau saja, seorang pria. Memangnya kau pikir itu enak?"
Tunggu, kau punya jenis kelamin? Naruto keheranan. Aku pikir…
"…lupakan semua yang kukatakan tadi."
"Naruto," sapa Heracles dengan nada baik lalu berseri, "mau mencoba mengangkat dumbbell lagi? Tapi kali ini memakai dua tangan."
"Mungkin nanti Paman Herc," balas Naruto.
Issei menengok ke Vali. "Minato-san, Yuuto-san, Rossweisse-san, mereka tidak ada. Sekarang hari kerja?"
"Kau bukannya punya kalender?" tanya Vali.
"Punya, tapi suka robek... bukan ulahku pastinya," tambah Issei.
Itu berarti kau yang melakukannya. Vali sweatdrop dengan sikap temannya, menahan diri supaya mencegah mengeluarkan kata-kata yang bisa merusak reputasi Keluarga Namikaze.
Naruto tidak paham dengan interaksi keponakannya dan dia. Sepertinya masih banyak hal yang akan Naruto pelajari di dunia ini.
Mereka lalu mendekat ke pintu besi ini, keluar dari ruang teleportasi dan berjalan di lorong menuju ruang lainnya.
"Hey, Naruto bukan? Namaku Hyoudou Issei." Issei berkenalan, menyengir pada Naruto. "Dan sebelum kau bertanya dari mana aku tahu namamu, pacarku yang memberitahuku."
Naruto ikut menyengir, dia penasaran. "Pacarmu?"
"Le Fay," kata Issei bangga, "putih, bersih, lembut… aku membicarakan bantal di rumahku tentu saja."
Dia ini ngomong apa. Naruto kebingungan.
"Pfft…" Jeanne menahan tawa melihat raut wajah Naruto. "Abaikan saja dia Kak. Issei memang selalu seperti itu jika tak ada Le Fay."
"Tanpa Le Fay, Issei sudah seperti pasien yang kekurangan obat(Issei: hey!)," tambah Cao Cao, melirik Naruto dan tersenyum tipis, "namaku Cao Cao. Semoga berhasil dengan tesnya."
"Mengalahkan salah satu monster tertua bukanlah hal yang mudah." Vali menatap Naruto dan mengangguk. "Jangan khawatir, aku memiliki keyakinan bahwa om bisa menyelesaikan tes ini tanpa hambatan."
Naruto tertawa kecil. "Terima kasih atas perkataan baik kalian untukku."
Prometheus menepuk bahu Naruto. "Selamat datang di klub orang-orang tua." kata Prometheus.
"Aku masih muda," jawab Naruto sweatdrop.
"Tentu saja kau masih muda." Prometheus menyengir. "Tapi karena kau dipanggil om, itu berarti kau sudah t-u-a, sama dengan tua..."
"Prometheus..." Gabriel cemberut pada dia. "…berhenti mengusik Naruto-kun. Dia masih baru di sini."
Naruto berkedip melihat Prometheus dengan gugup menjauhkan tangannya dari bahu Naruto.
"Y-Ya, aku paham, Gabriel," ujar Prometheus.
"Bagus lah." Gabriel berseri.
Mereka sekarang berada di ruang pengawas, melihat Tatsuya dan Asia duduk di kursi dan bersama menekan tombol di keyboard berbeda.
Dua-duanya sedang merancang tempat dan skenario buatan yang dipakai untuk tes Naruto di komputer.
"Kalian datang juga," kata Tatsuya, melihat ke Naruto, "Naruto, aku ingin dirimu masuk ke dalam. Kami akan memberikanmu instruksi dari sini."
Naruto mengangguk, melihat pintu besi lain terbelah dan dia melangkah sebelum pintu menutup.
Ruangan ini, ruang bahaya(danger room versi dari X-Men Apocalypse), memiliki tingkat keluasan lebih tinggi juga lapisan dinding dan lantai yang lebih keras daripada ruang lain di setiap Base karena fungsinya sebagai tempat melatih anggota organisasi ini. Di sini tak ditemukan apapun selain speaker di beberapa sisi di ruangan.
Bagaimana menurutmu Kurama? Naruto bertanya.
"…zzz…"
Malah tidur rupanya. Naruto sweatdrop.
[Tolong pindah ke tengah, Naruto]
Naruto melompat beberapa kali karena bila berjalan akan memakan waktu yang tidak sedikit. Berada di tengah ruangan, instruksi lain didapat Naruto.
[Tes akan segera dilakukan. Tugasmu mencegah pembunuhan yang akan terjadi pada seseorang. Bisa dimengerti?]
"Bisa," kata Naruto, menyengir lebar, "pastinya dattebayo!"
[Bagus. Simulasi tes pertama kita mulai dari hitungan… 5… 4... 3... 2... 1]
Naruto menyadari perubahan besar mulai terjadi di ruangan ini. Ketimbang area kosong dengan permukaan kasar, sekarang dia berdiri di gang sempit dengan langit gelap yang bertaburan bintang-bintang.
"Jangan mendekat!"
Naruto menengok ke belakang dan menemukan berandalan dengan pisau sedang menyekap wanita berpakaian kantoran. Berandalan ini mengarahkan pisau dia ke leher korbannya.
"Jika kau ingin nyawa wanita ini selamat, kau lebih baik tidak…"
Naruto melesat, pergerakannya melebihi reaksi berandalan ini sehingga Naruto dapat memukul wajahnya.
Berandalan ini menjatuhkan pisau dan pergelangannya terlepas dari leher korbannya. Dia melangkah mundur, pusing dan kesakitan memegang hidungnya yang mengeluarkan darah.
Dia terlempar menghantam tempat sampah setelah ditendang perutnya lalu pingsan.
Wanita ini segera berpindah ke penyelamatnya.
"T-Terima kasih," kata wanita ini, bersyukur telah diselamatkan.
Naruto menurunkan kakinya.
"Sama-sama," kata Naruto, berseri.
Naruto baru sadar lingkungan yang dilihatnya mulai memudar dan kembali menjadi ruangan kosong lagi.
–
Semua yang ada di ruang pengawas(Kushina, Tatsuya, Gabriel, Prometheus, Heracles, yang tidak termasuk) sweatdrop melihat tes pertama selesai begitu cepat.
"Menyerang dahulu berpikir nanti. Seperti wanita yang kukenal," kata Tatsuya, melirik Kushina yang menyengir begitu bangga.
"Woah, saudaraku yang ini ternyata keren juga," gumam Jeanne. Melihatnya beraksi secara langsung terasa berbeda daripada mendengar cerita pertarungannya.
"Dia tidak buruk," kata suara di pikiran Issei, "hanya kurang kekar saja."
Regulus, apa pendapatmu jika kita berhadapan dengannya? Issei menanyai partnernya.
"Itu pemikiran bagus boss," balas Regulus, singa Nemea yang tersegel ke salah satu Sacred Gear dan naik tingkat menjadi kategori Longinus, bernama Regulus Nemea, "lawan saja dia jika kesempatannya muncul."
"Tes kedua kau akan menggunakan monster apa kali ini, Tatsuya?" tanya Heracles.
"Aku akan menggunakan sosok dengan julukan 'sang pangeran kegelapan' di tanah kelahirannya," balas Tatsuya.
Gabriel membisu, tahu bila tes kedua memiliki tujuan untuk menguji seberapa sanggup mental seseorang dalam membuat keputusan saat menghadapi situasi yang tersulit.
Dia bukan wanita yang sepenuhnya buta akan kenyataan. Kengerian perang akbar yang mengorbankan banyak nyawa dari pihak malaikat jatuh, pihak malaikat, terutama pihak iblis yang 'seluruhnya' sudah tidak ada lagi. Meninggalkan luka mental yang untungnya sudah sembuh seiring waktu berjalan.
Apalagi kematian Tuhan membuat banyak malaikat kehilangan arah sehingga menjadi malaikat jatuh. Setidaknya dengan Michael yang mengisi takhta, sistem di Utopia menjadi kembali normal dan para malaikat bisa menjalankan kewajiban mereka lagi, meskipun tidak sebaik seperti di masa lalu.
Karena alasan ini lah dia bergabung dengan X-Men, mengawasi dunia secara langsung dan berpartisipasi dalam menjaganya. Jika ada hal yang diinginkan Tuhan, pastinya keselamatan dunia dan penghuninya.
Tatsuya melirik Asia, "Kita berlanjut ke tes berikutnya."
Asia mengangguk, memasukkan kode tertentu dan tes selanjutnya terjadi.
Pintu besi ini terbuka dan masuk Stephen bersama Le Fay.
"Apa kami ketinggalan sesuatu?" tanya Stephen.
"Hanya tes pertama," balas Tatsuya.
Ekspresi Issei cerah melihat Le Fay. "Le Faaay!"
Issei langsung berlari menuju Le Fay dan memeluknya. Le Fay merona terutama banyak pasang mata sempat terarah pada mereka berdua. Berbagai reaksi terlihat khususnya Stephen yang mengerutkan kening dan Prometheus dengan senyum yang lebar.
"Issei! Hentikan sikap memalukanmu ini!" Le Fay terlihat malu.
Issei melepaskan Le Fay dan tidak lupa mencium pipi Le Fay.
"Oke cewek sihir," kata Issei, menyengir melihat wajah kekasihnya sedikit merah.
Pintu besi ini terbuka dan masuk seorang mengenakan pakaian X-Men versi wanita dengan rambut panjang biru dan mata biru(wajah Esdeath dari Akame ga Kill).
"Oh?" Wanita ini tertarik melihat wajah pemuda ini. "Dia anakmu yang lain dengan Minato, Kushina?"
"Begitu lah Tiamat," kata Kushina, "nama putraku yang ini adalah Naruto dattebane."
Tiamat mengangguk, menyadari tatapan Heracles dan dia menyeringai. "Kapan kau mau melanjutkan pertarungan kita yang waktu itu?"
Heracles terkekeh. "Mungkin di lain waktu. Bagaimana jika kau menghadapi Prometheus?"
"Woah. Woah. Tango sebentar." Prometheus menatap tajam Heracles. "Itu pertarunganmu. Kau yang selesaikan."
"Aku hanya memberinya saran. Bukan berarti kau harus bertarung dengan Tiamat, sahabatku," kata Heracles.
Cao Cao melirik Vali.
"Menurutmu seberapa kuat Naruto, Vali?" tanya Cao Cao.
"Aku tidak tahu karena aku belum pernah melihatnya bertarung dengan kekuatan penuh," jawab Vali, mengamati Cao Cao dengan sebelah alis terangkat, "kenapa kau menanyakan itu?"
"Tak ada apa-apa. Aku… penasaran saja."
–
Sekarang apalagi? Naruto penasaran.
[Naruto, tes berikutnya akan dimulai sebentar lagi. Kau siap?]
Naruto mengangguk. "Aku siap dattebayo!"
[Bagus. Tes kedua akan dimulai dari hitungan… 5… 4… 3… 2… 1.]
Lingkungan yang diamati Naruto berubah. Kali ini Naruto berada di puncak gunung dengan kondisi malam.
"Aku tidak menduga kau bisa mengalahkan pasukan monsterku sampai sejauh ini. Sungguh manusia yang unik kau ini."
Naruto menengadah dan melihat makhluk berkulit seluruhnya hitam dengan sepasang sayap kelelawar dan dua iris mata ruby. Naruto mengambil kunainya dengan pandangan masih ke dia.
"Siapa kau?" sahut Naruto.
"Dracula," balas Dracula tenang, "sang pangeran kegelapan. Aku gembira bisa bertemu langsung denganmu Naruto Namikaze."
Naruto terkesan, karena tes yang sekarang dan sebelumnya benar-benar berbeda dari tes yang pernah dilakukannya di dunia ninja. Jelas sekali peralatan uji coba di dunia ini jauh lebih maju dari dunia ninja.
Atau barangkali, hanya di X-Men teknologi semacam ini bisa ditemukan.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Sekarang kita bertemu ini." Dracula bercanda. "Namun untuk menjawab rasa keingintahuanmu… aku hanya mendengar rumor dari orang-orang kepercayaanku."
Dracula mengangkat tangan kirinya, menjentikkan jari dan dua bola ungu dengan ukuran masing-masing berbeda muncul di sisi kiri dan kanannya.
Bola ungu pertama yang besar memerangkap sejumlah orang dengan usia beragam. Bola ungu kedua yang ukurannya dua kali lipat lebih kecil dari bola ungu memerangkap…
Jeanne? Naruto terkejut melihat adiknya tak sadarkan diri di dalam bola ungu kedua. Apa maksudnya ini?
"Karena itu ketimbang menghadapimu… aku ingin membuat kesepakatan denganmu," kata Dracula, "menjadi prajurit di pasukanku, mereka akan hidup. Menolak tawaranku, mereka akan mati. Pilih dengan bijak."
Naruto menyipitkan matanya pada Dracula, menyentuh pouch-nya dan melempar beberapa shuriken pada sang pangeran kegelapan. Dracula menyeringai dan menghilang sehingga shuriken-shuriken ini mengenai udara kosong.
"Kemungkinan kau menolak tawaranku sudah kuprediksi. Selamatkan mereka jika kau bisa!"
Dua bola ungu ini lenyap dan sebagian orang yang sadar apa yang terjadi menjerit tatkala jatuh.
Celaka!
Naruto menyebarkan lengan chakra yang seketika menangkap orang-orang asing ini beserta adiknya yang masih pingsan. Naruto memindahkan mereka dengan hati-hati ke daratan.
"T-Terima kasih banyak anak muda."
"Makasih banyak kakak!"
"Terima kasih, Nak."
"Sama-sama. Sekarang lebih baik kalian segera kembali ke rumah kalian," kata Naruto berseri-seri.
Tanpa banyak berkomentar mereka segera turun gunung, meninggalkan Naruto bersama 'adik'nya.
Naruto berlutut dan memegang bahu 'Jeanne' untuk mencoba membangunkan dia.
"Unghh…" 'Jeanne' terbangun dan melihat Naruto. "…kakak."
"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto.
'Jeanne' mengangguk, tersenyum lalu mengelus pipi Naruto dengan begitu lembut dan penuh perhatian.
Dia sweatdrop. Oke. Ini mengerikan namanya.
Tak lama replika Jeanne memudar, dibarengi lingkungan dalam pandangan Naruto sehingga kembali menjadi area kosong seperti semula. Naruto merinding mengingat tingkah laku aneh tiruan 'adik'nya kepada dia.
Naruto menarik nafas panjang dan membuangnya. "Apakah masih ada tes lagi?"
[Tes berikutnya adalah tes terakhir untuk dirimu lakukan. Lawan tandingmu adalah Issei.]
Lawan tanding? Naruto penasaran.
–
Asia bersandar pada dinding dan tidak lagi duduk karena ayahnya menawarkan untuk menyelesaikan sisanya. Sambil bersiul Asia mencoba mengabaikan amukan sahabatnya.
Terkadang 'kecelakaan' bisa terjadi di manapun. Asia 'tidak mungkin' berkeinginan untuk balas dendam pada Jeanne karena sikap kekanak-kanakan di setiap misi yang mereka jalani bersama.
"Lepaskan aku! Biarkan aku memberikannya pelajaran!" Jeanne menggeram.
"Tahan emosimu Jeanne. Ibu tahu kau kesal. Namun tetap saja… tadi itu memang lucu dattebane."
"Ibu!"
"Komentarmu tidak membantu sama sekali nenek!"
Jeanne yang kesal dan malu sedang ditahan Vali(panik) dan Kushina(terhibur) karena Jeanne berusaha mencekik Asia.
Prometheus terkekeh melihat mereka bertiga.
"Pernahkah aku bilang tanpa Keluarga Namikaze kita akan selalu serius?" tanya Prometheus pada Heracles.
"Kau sendiri tidak selalu serius, Prometheus," balas Heracles tersenyum tipis.
"Omong kosong. Aku selalu sirius," canda Prometheus, leluconnya bersumber dari nama ayah baptis seorang karakter yang masuk sekolah sihir di novel tertentu.
Heracles menggeleng, melirik Gabriel. "Bagaimana menurutmu Gabriel?"
"Kemampuan Naruto-kun sepertinya fleksibel," kata Gabriel tersenyum, senang mengetahui kemampuan pemuda ini dapat bermanfaat ke depannya, "dan memiliki keuntungan tersendiri untuk situasi tertentu."
Heracles mengangguk, menyetujui opini sang seraph.
"Dia unik," balas Tiamat, mengerutkan keningnya, "dan energinya… cukup besar. Pengguna Sacred Gear?"
"Naruto bukan pengguna Sacred Gear dattebane," kata Kushina, "itu adalah chakra yang diambilnya dari Kyuubi yang bernama Kurama."
"Kyuubi bernama Kurama?" Tiamat kebingungan. "Kau ini bicara apa?"
Kushina menghembuskan nafas.
"Aku akan jelaskan nanti," jawab Kushina.
Mendengar chakra, pikiran Cao Cao menuju chakra yang dipakai ras youkai di Kyoto.
Chakra memang tidak mampu menyamai kekuatan penghancur langsung seperti sihir. Namun dikatakan bahwa pengguna chakra unggul dalam membaca aliran aura seseorang, sehingga membiarkan mereka memahami gerakan lawan dari jarak jauh ke tingkat tertentu.
Dengan chakra juga, penggunanya mampu mengganggu aliran energi kehidupan lawan maupun memutusnya, sehingga menyebabkan kerusakan langsung pada roh mereka dan menggunakan ini sebagai serangan dapat mengakibatkan kematian.
Pastinya ini jenis chakra yang lain. Cao Cao berpendapat. Tidak mengejutkan, seperti yang diharapkan dari anak Minato-san dan Kushina-san.
Tetap saja, Cao Cao yakin dia jauh lebih kuat dari Naruto. Sacred Gear-nya, True Longinus, adalah Longinus pertama dan konon "yang paling terkuat" dari Longinus lain karena memiliki "kehendak Tuhan" tersegel di dalam Sacred Gear-nya.
Bukan berarti Cao Cao akan berterus terang, dia tidak ingin melukai harga diri Naruto karena memberitahu kenyataan ini tentu saja.
"Seperti biasa aku membutuhkan relawan untuk tes terakhir," jelas Tatsuya, mengamati anggota yang kebetulan berusia muda, "ada yang tertarik?"
Cao Cao, Issei, Vali, mengangkat masing-masing tangan.
Tatsuya meneruskan. "Aku hanya membutuhkan satu relawan."
Mereka bertiga mengangguk dan saling pandang.
""Batu gunting kertas!""
–
"Akhirnya tes sesungguhnya," kata Kurama, "karena ini pertarungan semoga saja tidak membosankan seperti yang sudah."
Pastinya dua tes tadi ada maksud dan tujuannya Kurama. Naruto merespon.
Kurama mencibir.
"Sejujurnya bahkan tanpa semua tes ini aku sangat yakin kau layak bergabung di organisasi ini," ujar Kurama.
Naruto terkekeh, diam tidak mengatakan apapun karena melihat Issei sudah masuk dan berjalan mendekat.
"Yo Naruto!" Issei menyapa lalu berseri. "Kau, aku, mari kita latih tanding dengan penuh semangat membara kita."
Kedengarannya seperti kata-kata yang akan diucapkan si alis tebal dan guru Guy. Naruto sweatdrop.
"Ayo dattebayo," kata Naruto menyengir.
[Sebelum latih tanding dimulai, tolong kenakan benda ini terlebih dahulu]
Mereka berdua menengok permukaan lantai yang terbelah dan naik lah lantai lain dengan di atasnya terdapat meja kaca. Mereka berdua melihat dua stiker berwarna di atas meja kaca.
Naruto dan Issei memasang stiker di anggota tubuh yang berbeda. Di belakang leher dan di kening.
Lantai lain menurun dan permukaan lantai ini menutup dengan sendirinya. Bukan hanya itu hologram dengan rupa kotak terwujud di udara dan dua-duanya melihat [03:00].
[Aturannya sederhana. Jika Naruto berhasil merebut stiker milik Issei, maka tesnya akan selesai dan Issei harus memberi makan Horoboros selama seminggu. Namun jika Issei berhasil merebut stiker milik Naruto, maka itu berarti tesnya gagal]
Issei pucat wajahnya.
"Boss, kau tidak boleh lengah," kata Regulus panik.
Kau benar Regulus. Issei merespon. Ini bukan lagi latih tanding, tapi pertarungan untuk kelangsungan masa depan!
Issei menggunakan tekad untuk memanggil Sacred Gear-nya, berwujud sepasang sarung tangan hitam dengan tiga pasang cakar dalam keadaan terbalik(Diambil dari bentuk tora claw Kamen Rider OOO).
"NARUTO! DEMI MASA DEPAN AKU AKAN MENGALAHKANMU!" Issei berseru keras, mengambil posisi dan tiga pasang cakarnya beralih keadaan menjadi lurus. "DI SINI! SEKARANG JUGA!"
Naruto sweatdrop mendengar deklarasi heboh Issei. Perasaanku menjadi tidak enak.
[Tes terakhir akan dimulai dari hitungan… 5… 4… 3… 2… 1]
Issei melompat mencoba menusuk perut Naruto. Naruto berguling ke sisi lain dan segera menarik kunai dan menangkis tiap serangan yang datang dari cakar Issei. Percikan api terhempas ke mana-mana disebabkan pertemuan kasar antara kunai dan cakar.
Pengguna dua senjata ini begitu piawai sampai terlihat seperti adegan dari film laga. Mereka berdua mengadu kunai dan cakar dengan menghabiskan waktu tidak sebentar.
Naruto mengubah taktik dan bergerak mundur, menghindari ujung cakar kanan dari wajahnya. Issei tidak menyerah dengan melesat ke depan dan cakarnya berubah posisi ke terbalik. Issei melempar tinju mengarah perut Naruto, Naruto mengelak ke samping dan memukul muka Issei.
Issei reflek melangkah mundur dan hampir saja terjatuh jika bukan karena kontrol penuh atas tubuhnya.
Pukulannya kuat juga. Issei mengelus hidungnya. Yeah meskipun aku tidak merasakan apapun dari pukulannya.
Naruto meringis mengibaskan lengan kanannya.
"Aku seperti mendengar bunyi tulang patah," kata Kurama, "bagaimana rasanya?"
Seperti memukul lapisan keras. Naruto merespon, menunggu regenerasinya aktif dan dia merasakan lengannya bisa digerakkan lagi.
Issei lalu berlari dengan posisi cakar berubah ke lurus. Issei melompat ke arah Naruto, meraung dan terlihat mengincar wajah pemuda ini. Naruto melompat ke atas sehingga Issei menusuk permukaan lantai.
Naruto mendarat dan melihat waktu yang tersisa [02:15.]
Waktunya masih lama. Namun semakin lama ini berlangsung mungkin waktuku akan habis sebelum aku sadar. Naruto berpendapat.
Berbalik, dia melihat Issei menarik cakarnya dari lantai dan menatap dia. Naruto menyentuh pouch-nya, menarik beberapa shuriken dan melempar shuriken ke arah Issei.
"Shuriken Kagebunshin no Jutsu."
Beberapa shuriken ini langsung berjumlah banyak dan menyerang Issei. Issei menyengir dan memilih berlari mengabaikan setiap shuriken yang mengenainya. Karena kemampuan khusus yang didapatnya dari Regulus Nemea, Issei tidak perlu takut dilukai oleh benda-benda yang termasuk proyektil.
Naruto tidak menyerah dan menarik dua kunai diikat kertas peledak dan melempar kunai ke lantai. Meledak menghasilkan asap sehingga menyebabkan Issei berhenti berlari.
Asap? Issei terkejut. Apa maksudnya ini.
Issei melompat mundur dan keluar dari asap yang tebal. Issei melebarkan matanya melihat fuma shuriken berputar ke arahnya, mengelak dan fuma shuriken menancap di lantai.
"Dia sungguh antusias untuk menang rupanya," gumam Issei.
Saat asap mulai padam, Naruto berlari menutup jarak dengan memukul muka Issei, tapi Issei menangkap pukulan Naruto dan langsung mencengkeram leher Naruto dengan tangan yang lain.
"Game over bagimu," kata Issei berseri, merebut stiker dari kening Naruto, "kelihatannya hari ini bukan hari keberuntunganmu Naruto."
"Menurutmu mungkin."
Issei terkejut saat ada tangan lain mencabut stikernya dan dia mengayunkan cakarmya ke samping. Issei melihat Naruto melompat mundur, mendarat dan menyengir.
"M-Mustahil, bagaimana bisa kau…" Issei benar-benar bingung.
Naruto terkekeh.
–
Dua kunai diikat kertas peledak yang dilemparnya tadi meledak menghasilkan asap. Naruto tak membuang kesempatan membentuk segel tangan favoritnya.
"Kage Bunshin no Jutsu."
Satu klon berdiri di samping Naruto.
"Saat asap sudah lenyap, lempar aku kemudian kau alihkan perhatian Issei," kata Naruto.
Klon ini menyengir.
"Siap boss," jawab klon ini.
Naruto membentuk segel tangan lain.
"Henge no Jutsu."
–
"Hanya kemampuan unikku. Itu saja," ujar Naruto.
Issei beralih ke klon ini, yang berubah menjadi asap dan membuatnya batuk karena tidak tahan menghirup asap. Tepat setelah asap menghilang Issei baru sadar dia telah kalah dari awal.
"Kau telah bertarung dengan baik boss," kata Regulus, "setidaknya kau tidak menggunakan cara curang seperti dia."
Tubuhku yang keras ini sudah seperti kecurangan tersendiri, Regulus. Issei merespon. Nasib baik aku bisa mengontrolnya. Bisa kau bayangkan betapa tidak enaknya berhubungan badan dengan tubuh yang selalu keras?
"Oh… hehe. Benar juga."
[Semua tes telah selesai. Silahkan kalian kembali]
Permukaan lantai ini terbelah dan naik lah lantai lain dengan di atasnya terdapat meja kaca. Mereka berdua paham dan mengembalikan stiker ke tempat semula.
Naruto dan Issei berjalan ke pintu besi di pojok ruangan.
"Issei," panggil Naruto.
Issei melirik Naruto.
"Ada apa Naruto?" tanya Issei.
Naruto mengangkat kepalan tangannya pada Issei. "Tadi itu pertarungan yang seru. Kapan-kapan mau tanding ulang?"
Issei berkedip, mengangkat kepalan tangannya juga.
"Tentu saja," balas Issei.
Mereka berdua menyatukan kepalan tangan masing-masing, lalu menyengir dengan bersamaan.
Masuk ke ruang pengawas, Naruto langsung dipeluk oleh Kushina yang bahagia.
"Kau tadi hebat Naruto!" Kushina melepas pelukan dan menyengir pada Naruto. "Itu baru anakku dattebane!"
"Performa kau tadi bagus om," puji Vali.
Naruto tersenyum lebar. "Itu bukan apa-apa, Vali, ibu. Issei juga sama hebatnya."
Issei mengangkat bahu.
"Eh, hebat atau tidaknya aku, masih ada seseorang yang lebih hebat dariku pastinya," kata Issei.
Prometheus menepuk punggung Issei dan menyengir, "Menurutmu apa yang ada di pikiran Chiron jika melihat pertarunganmu tadi?"
Issei merinding membayangkan teguran yang akan didapatnya nanti.
"Pastikan belajar dari kesalahanmu, Issei."
"Aku paham Prometheus-san."
Heracles tersenyum melihat interaksi Issei dan Prometheus, melirik Tatsuya.
"Tatsuya, kau keberatan kita duluan?" tanya Heracles.
"Tidak juga. Kalian duluan saja," balas Tatsuya.
Heracles mengangguk, dia dan Prometheus bersama Issei keluar dari ruang pengawas.
Tatsuya menatap Naruto. "Naruto, Asia akan membantumu dalam pemilihan seragam yang pas untuk ukuranmu."
Naruto mengangguk. Dia sudah melihat pakaian khusus yang dikenakan anggota X-Men dan pastinya dia akan diukur untuk mengetahui ukuran yang pas untuknya.
Naruto beralih mengamati Jeanne, yang menutup wajahnya dengan tangannya.
"Tolong abaikan aku untuk beberapa menit saja Kak," kata Jeanne, malu mengingat perbuatan 'Jeanne lain'.
"Aku mengerti," kata Naruto tersenyum gugup, menatap Asia, "jadi… kau tahu kenapa replika adikku tadi bertingkah aneh?"
"Tingkah laku replika adikmu tadi adalah kesalahan sistem... sekaligus kesalahanku juga sebagai pengaturnya. Lain kali akan kupastikan tidak terulang lagi," kata Asia lalu tersenyum.
Jangan terlihat senang di saat kau berbuat salah. Itu sama saja kau mengaku dan sengaja melakukannya dattebayo. Naruto sweatdrop.
"Namamu Naruto bukan?" Tiamat menyeringai tipis, mengulurkan lengannya padanya. "Perkenalkan namaku Tiamat."
Naruto menerima jabat tangan Tiamat dan merasakan tangannya seperti ditekan keras. Woah. Tenaganya sama kuatnya seperti nenek.
Tiamat berkedip lalu menyeringai.
"Tangan yang kuat." Tiamat melepas tangan Naruto, beralih pada yang lain. "Aku akan ke ruang olahraga. Ada yang mau ikut? Gabriel?"
Gabriel tertawa gugup. "Um, aku rasa aku akan di sini saja."
"Oh baiklah. Hey Belial, coba lah untuk tersenyum sekali-kali." Tiamat menyeringai.
"Jika maksudmu wujud asliku, maaf saja kalau wajahku memang sudah seperti itu dari lahir," balas Tatsuya tenang, "dan panggil aku Tatsuya, Tiamat."
Wujud asli? Naruto penasaran.
Tiamat menyeringai lalu keluar dari ruang pengawas.
Cao Cao mengamati Naruto dengan heran. Kenapa dia tidak memanfaatkan 'chakra' emas tadi? Bila menggunakan itu dia mungkin akan menyelesailan tes terakhirnya dengan cepat. Kecuali… dia belum menguasai kekuatannya. Barangkali itu alasannya.
"Kenapa kau melihatku terus Cao Cao?" tanya Naruto, sadar jika dia mengamatinya tanpa bicara apapun.
"Ah, tidak apa-apa," balas Cao Cao, tersenyum tipis, "ngomong-ngomong selamat atas keberhasilanmu."
Naruto mengangguk lalu terkekeh.
Kushina menyentil kaca di arloji-nya yang berubah dari bentuk jam tangan normal ke bentuk aslinya. Kushina menekan tombol tertentu di X-Watch dan melihat pukul berapa sekarang di Jepang.
"Aku rasa sudah saatnya kita pergi juga," ujar Kushina, mengamati putra-putrinya dan cucunya, "lagi pula sekarang sudah jam makan siang. Bagaimana dengan kalian?"
"Aku lapar!" seru Jeanne antusias.
"Sama," kata Vali mengangguk.
"Benar-benar lapar dattebayo!" seru Naruto menyengir.
"Kalau begitu aku akan membantumu di dapur Kushina," kata Gabriel, antusias karena ikut memasak.
Kushina tertawa kecil, melirik Cao Cao dan Asia lalu tersenyum.
"Asia, Cao Cao, kalian mau ikut bergabung makan bersama kami?" tanya Kushina.
"Aku mau juga Kushina-san," balas Asia.
Cao Cao tersenyum lalu mengangguk pelan.
–
Setelah mengisi perut di Base IV di ruang makan, Naruto sekarang bersama Asia di ruang pakaian dan mencoba mencari pakaian yang cocok ukurannya untuk Naruto.
Asia berjalan berkeliling dan mengamati satu demi satu pakaian yang tersedia. Menurut Naruto sebenarnya pakaian-pakaian ini terlihat sama, tapi perbedaannya adalah bentuknya yang sesuai postur tubuh wanita dan pria.
"Coba yang ini," kata Asia, mengambil satu set dan memberikannya pada Naruto, "tempat ganti ada di sebelah sana Naruto."
Naruto mengangguk, menuju tempat ganti dan melewati banyak tabung kaca yang sejajar di dinding.
Tabung-tabung ini menyala putih di dalam dan menyimpan pakaian X-Men dengan hologram nama melayang di samping tabung. Hologram ini bertuliskan nama-nama seperti [Rossweisse - Caster], [Tiamat - Tiamat], [Namikaze Minato - Flash] dan masih banyak lagi nama lainnya.
Naruto juga melihat jubah biru gelap dan topi pesulap bersama pakaian X-Men, jelas milik Le Fay di tabung kaca [Le Fay Pendragon - Oz].
Rupanya tabung ini tidak hanya menyimpan pakaian X-Men saja, tapi juga perlengkapan tambahan yang diinginkan anggotanya. Ada juga tabung kaca yang gelap dan kosong tanpa pakaian X-Men.
Naruto keluar dari tempat ganti dengan memakai setelan yang dipilih Asia.
"Bagaimana rasanya mengenakan pakaian itu?" tanya Asia.
"Ini nyaman." Naruto menggerakkan lengannya. "dan tidak menghambat pergerakanku sama sekali."
Naruto melakukan apa yang diketahui Asia sebagai back-flip dan mendarat tanpa terpeleset.
"Pakaian ini mengesankan juga," kata Naruto menyengir, "aku suka."
Asia tersenyum. "Bagus kalau kau suka. Pakaian X-Men hanya perlu dipakai ketika kita dalam misi, atau apabila ada musuh yang muncul tiba-tiba dan harus ditangani secepatnya."
Naruto mengangguk, lalu bertanya. "Jadi… apakah pakaian X-Men memiliki beberapa kelebihan? Seperti jika terkena senjata tajam pemakainya tidak tergores?"
Karena jika tidak, mungkin Naruto harus mencari perlengkapan perlindungan seperti mesh armour yang sering dipakainya di dunia ninja. Walau itu sering tertutup jaket jingga-hitam miliknya.
"Ada beberapa kelebihan," kata Asia, tersenyum misterius, "kau akan tahu nanti juga."
Naruto lalu mengangguk
"Jadi… aku ingin bertanya padamu. Apakah kau memiliki kemampuan untuk mengubah penampilanmu berbeda dari orang lain?" tanya Asia.
"Kau tadi lihat latih tandingku saat menghadapi Issei bukan?" Naruto kebingungan.
Asia tertawa gugup. "Ah… berubah menjadi benda mati. Benar juga. Maksudku jika kau tidak punya kemampuan yang itu aku bisa memberikan X-Mask padamu."
"X-Mask?"
"Topeng hitam. Pada saat kita bertemu pertama kali kau pernah melihatku dan Jeanne memakainya bukan?" Asia mengingatkan. "Itu berfungsi untuk mengubah penampilan setelah dilakukan pengaturan di lab."
Naruto terdiam. "Oh… yang itu. Ngomong-ngomong kenapa nama organisasi ini disebut X-Men?"
Asia kebingungan. "Memangnya di keluargamu tidak ada yang memberitahumu?"
Naruto tertawa gugup.
"Aku tidak sempat bertanya. Lagi pula… pada saat bersama mereka aku hanya ingin menikmati momen kebersamaan kami saja. Hanya itu," ujar Naruto.
Asia mengangguk.
"X' terkadang merujuk pada faktor 'tidak diketahui' dan bisa juga 'tidak dikenal'. Sementara 'Men' mengarah ke manusia. Bangsa yang kita lindungi dari ancaman makhluk supernatural," jelas Asia.
"Jadi yang harus kita waspadai makhluk supernatural?" tanya Naruto.
Asia menggeleng.
"Tidak juga. Bagi makhluk supernatural yang ingin hidup tenang di lautan manusia kami abaikan dan bantu jika memang membutuhkan pertolongan." Asia meneruskan. "Sebagian anggota utama X-Men juga termasuk supernatural. Ketimbang mendominasi dunia supernatural kami lebih ke menjalin hubungan yang baik demi mencegah konflik dan perang yang tidak diinginkan."
Asia sadar Naruto menyengir mendengar "Menjalin hubungan yang baik demi mencegah konflik dan perang yang tidak diinginkan.". Naruto sepertinya tidak keberatan dan itu membuat Asia bersyukur.
"Jadi… bisa kau tunjukkan padaku teknik berubah wujud dirimu?" Asia terlihat berharap.
Naruto membentuk segel tangan. "Henge no Jutsu."
Asia melangkah mundur saat kepulan asap mengelilingi Naruto, asap mereda dan berdiri lah seorang pemuda dengan rambut hitam acak-acakan dan iris mata onyx di tempat Naruto. Kulitnya lebih putih dan tak ada tanda unik di pipinya(penampilan Menma dari Naruto the Movie 6: Road to Ninja dengan perbedaan kecil).
"Bagaimana menurutmu?" tanya Naruto.
"Ini bagus," jawab Asia.
Naruto kembali ke penampilan aslinya. "Tapi mungkin aku tidak akan memakainya."
"Kenapa?" Asia kebingungan. "Wujud itu bagus untuk kau pakai dalam misi sehingga musuhmu tidak mengetahui identitas aslimu."
"Mungkin kau benar," kata Naruto, "tapi di dunia ninja aku tidak pernah menyembunyikan penampilanku sebelumnya. Dan aku tidak berniat menggunakannya bahkan di dunia lain sekalipun."
Asia kesal. "Bagaimana jika keputusanmu ini berakibat fatal pada orang-orang terdekatmu? Musuh bisa saja menyerang tempat tinggalmu di saat kau sedang lengah."
"Beritahu aku, Asia," balas Naruto, "pada saat kita belum ada, apakah orang tua kita mengenakan sesuatu untuk menutup wajah mereka?"
Asia berkedip lalu menyadari apa yang dikatakan Naruto benar.
Alasan kenapa Asia membuat topeng-topeng ini adalah karena tidak semua anggota X-Men memiliki kapasitas untuk memanipulasi sihir. Energinya punya, tapi hanya bisa ke beberapa jenis lain dan perubahan wujud tidak termasuk.
Naruto menambahkan. "Lagi pula… manusia normal tidak mungkin menyerang kita hanya karena wajah kita terlihat mereka bukan?"
Asia tertawa gugup. "Ada beberapa 'tipe' manusia normal yang mungkin 'menyerang'mu."
"Tunggu, kau serius?" Naruto keheranan. "Salah satunya?"
"Penggemar."
Naruto sweatdrop, kilas balik waktunya di akademi ninja dan bagaimana penggemar perempuan di kelasnya mengerubungi Sasuke…
"Barangkali aku akan mengenakan masker… dan menyembunyikan sebagian wajahku," kata Naruto, mengingat penampilan guru Jounin-nya, Kakashi.
"Aku rasa itu bagus," kata Asia berseri, "kau jadi terlihat seperti ninja."
"Aku memang ninja dattebayo!" Naruto menyengir.
Asia tertawa kecil, menekan hologram keyboard di sebelah tabung kaca yang kosong, menengok Naruto. "Kau ingin nama samaran seperti apa?"
Naruto menyengir, dia tahu nama samaran apa yang dia inginkan. "Nama samaranku…"
Setelah memasukkan nama samaran Naruto, Asia kali ini menekan beberapa huruf dan beberapa angka yang terlihat seperti kombinasi kode.
Tepat saat tabung kaca ini terbuka, dia menyerahkan X-Watch yang masih nonaktif pada Naruto.
"Kenakan ini di lenganmu dan masuk ke dalam," instruksi Asia.
Naruto memasang X-Watch di lengannya dan memasuki tabung kaca ini. Tabung kaca ini menutup dan cahaya muncul mengejutkan Naruto. Naruto berkedip sebentar dan melihat X-Watch menyala tidak seperti sebelumnya.
[Jangan khawatir. Cahaya tadi adalah efek nyata dari jaringan X-Watch yang terhubung dengan tabung kaca itu sehingga aktif bersamaan. Dengan begini tabung kaca ini adalah milikmu untuk menyimpan bajumu] (Asia).
Naruto bisa mendengar suara Asia dari arloji multi-fungsi ini. Karena penasaran Naruto mengangkat X-Watch miliknya ke sisi mulutnya.
[Jadi… berapa lama aku harus di dalam sini?] (Naruto).
[Sekarang keluar juga tidak masalah] (Asia).
[Bagaimana caranya?] (Naruto sweatdrop).
[Kau lihat ada bulatan-bulatan dengan gambar kecil di sekeliling X-Watch? Itu adalah tombol. Tekan tombol yang sesuai dengan gambar tabung. Tekan lagi itu bila kau ingin menutup tabung] (Asia).
Naruto mengamati sisi X-Watch miliknya dan menekan tombol yang diberitahu Asia. Tabung kaca ini terbuka dan Naruto keluar.
"Naruto, baju dan celanamu tadi coba masukkan ke tabung," ujar Asia.
"Untuk apa?" Naruto kebingungan.
Asia tersenyum misterius.
"Kau akan terkejut," kata Asia.
Tabung kaca ini kemudian tertutup.
"Sekarang tekan tombol yang kutunjukkan ini, tombol dengan gambar baju."
Naruto menekan tombol yang dikatakan Asia, cahaya menyelimuti penglihatan Naruto sebelum padam. Naruto kaget menyadari dia memakai pakaian normal sementara pakaian X-Men miliknya berada di tabung kaca ini.
"Jika kau tidak masuk mungkin hal itu tidak akan terjadi," kata Asia, "tekan tombol yang sama bila kau ingin kembali mengenakan pakaian X-Men."
Naruto seketika memakai pakaian X-Men miliknya lagi.
"Tolong akuuuuu!"
Mereka berdua melihat Issei masuk dengan sebagian celana-nya robek. Issei dikejar seekor anjing(?) berkulit biru, ekor, dengan bulu putih di beberapa bagian di tubuhnya dan memiliki sisi tajam jingga.
Asia menghela nafas, mengabaikan Issei yang berlindung di belakangnya. "Horoboros…"
Horoboros mengerem, menatap Asia dengan lidah terjulur dan ekor bergoyang mirip anjing di bumi.
"…kamu imut banget deh kyaa aku kan jadinya gemes!" Asia tersenyum girang dan mengangkat Horoboros lalu memeluknya erat-erat.
Aneh sekali melihat Asia bertingkah seperti ini. Naruto sweatdrop.
"Woof!" Horoboros menggonggong, karena kepalanya di bahu Asia dia bisa melihat Issei lalu menyeringai lebar.
Issei menelan ludah. Sial.
"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto, nadanya terdengar khawatir tapi cengiran di wajahnya mengatakan kalau dia terhibur dengan penderitaan Issei.
"Aku sangat baik-baik saja. Terima kasih karena telah bertanya," jawab Issei kesal.
Naruto terkekeh.
"Horoboros adalah makhluk dengan karakteristik seperti singa. Dia lahir di dalam bumi dan berasal dari bumi di dimensi lain." Asia menjelaskan saat dia mengelus punggung Horoboros. "Meski tingkahnya lebih mirip ke anjing saat di dekatku."
"Dimensi lain?" Naruto membeo.
Asia mengangguk kemudian sadar. "Ah, aku lupa. Kau juga berasal dari dimensi lain benar Naruto?"
Naruto menggaruk pipinya.
"Yeah… begitu lah dattebayo," kata Naruto.
"Kau tidak sendirian," ujar Asia mencoba menenangkan Naruto, "Selain Horoboros, ayahku juga berasal dari dimensi lain. Jadi jangan khawatir."
Naruto tertawa gugup, tahu niat Asia tulus tapi tetap saja dia merasa aneh mendengarnya.
"Selamat kawan," sahut Issei menepuk bahu Naruto, menyengir, "kau termasuk ke dalam kategori 'alien' sekarang. Kita beruntung namamu bukan 'Adudu' dan punya ambisi merebut coklat untuk membangkitkan bola kekuatan."
"Kau ini bicara apa sebenarnya Issei. Aku sama sekali tidak paham." Naruto sweatdrop.
Issei tertawa.
Asia menggeleng. "Abaikan saja perkataannya. Semakin kau dengar semakin berkurang kewarasanmu."
"Hey!"
Naruto menyadari Horoboros beralih mengamati dia, matanya menyala merah sebentar.
"Oh, makhluk ini mau menantang kita rupanya." Kurama meraung sehingga air di sekitarnya naik dan berpencar ke mana-mana. "Maju ke sini jika kau berani!"
Horoboros menyeringai seperti tidak takut dengan ancaman dari Kurama.
Asia menurunkan Horoboros yang melolong karena masih betah dipeluk pemiliknya. Asia berjongkok dan mengusap kepala Horoboros.
"Mau menemaniku jalan-jalan sebentar?" ajak Asia.
"Woof!" Horoboros antusias dengan ajakan pemiliknya.
Asia berseri dan beralih menatap Naruto dan Issei.
"Issei. Naruto. Kalian tidak perlu menungguku jika ingin duluan ke ruang pusat," kata Asia.
"Oke dattebayo!" Naruto berseri.
"Siap boss nona!" Issei bercanda.
Asia memutar bola matanya, tetapi tersenyum mendengar perkataan mereka berdua. Asia dengan Horoboros lalu keluar dari ruang pakaian.
"Ke ruang pusat?" tanya Naruto.
Issei menekan satu tombol di X-Watch dan pakaiannya langsung berganti dengan pakaian X-Men.
"Sekarang," balas Issei.
Naruto dan Issei keluar dari ruang pakaian.
–
Mereka berdua memasuki ruang pusat dan melihat sudah banyak orang di sini. Naruto melihat wajah-wajah yang dikenalinya tapi ada juga wajah yang baru dilihatnya.
"Hey, Issei, berapa lama-"
Naruto sweatdrop melihat Issei sudah pindah ke sisi Le Fay.
"Mereka berdua selalu seperti itu, om. Jadi kau hanya harus terbiasa saja."
Naruto menengok ke samping dan melihat Vali, Yuuto, Rossweisse, mendekat ke dia.
"Beradaptasi bukan hal sulit untukku," jawab Naruto lalu berseri, "ngomong-ngomong terima kasih atas pestanya."
Yuuto terkekeh. "Tidak usah berterima kasih. Wajar satu keluarga merayakan ulang tahun anggotanya bila sudah waktunya. Menurutmu bagaimana rasa kue waktu itu?"
Naruto menyengir.
"Enak," kata Naruto jujur.
Yuuto menaruh tangannya di bahu Rossweisse.
"Kalau kau mau tahu kue yang waktu itu adalah buatan tangan istriku," kata Yuuto bangga.
"Oh, benarkah? Kue buatanmu enak sekali Rossweisse," puji Naruto.
"Aku gembira mendengar kau menyukai kuenya kakak ipar," jawab Rossweisse berseri.
"Setidaknya om dapat merasakan kue dari hasil keahlian ibu yang telah diasah." Vali mengungkapkan satu dari sekian banyak rahasia memalukan milik ibunya. "Saat ibu bikin kue pertama kali oven-nya meledak sampai… "
Naruto sweatdrop melihat Vali dicubit telinganya oleh Rossweisse.
"Kapan ibu pernah mengajarimu bersikap buruk seperti ini? Membocorkan rahasia seseorang itu bukan sikap terpuji. Apalagi rahasia orang tuamu sendiri. Kau mengerti, Nak?" tegur Rossweisse, malu rahasianya terungkap. Di depan kakak iparnya lagi. Hancur sudah reputasi baiknya.
"M-Mengerti bu. Mengerti."
"Janji tidak akan mengulanginya lagi?"
"J-Janji."
"Bagus."
Rossweisse berhenti mencubit telinga Vali, melirik Yuuto yang tertawa.
"Sebagai ayahnya kau seharusnya ikut mengingatkannya untuk bersikap dewasa, Yuuto," kata Rossweisse, sedikit kesal dengan tingkah santai suaminya ini.
"Ayolah Rose, apa yang dikatakan putra kita memang kenyataan. Kenapa kau harus malu?" tanya Yuuto penasaran.
Rossweisse menyipitkan matanya. "Malam ini kau tidur di sofa."
Yuuto pucat wajahnya.
"Naruto," panggil Minato.
Naruto beralih pada Minato yang berdiri cukup jauh tapi masih terdengar suaranya.
"Ya ayah?" ujar Naruto.
Minato tersenyum. "Kau berdiri lah di tengah. Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan padamu."
Naruto mengangguk, jalan ke tengah dan menyadari delapan orang berdiri di hadapan Naruto. Dan yang lainnya berdiri cukup jauh di sisi kiri dan sisi kanan Naruto.
Tatsuya maju dan angkat bicara.
"Namikaze Naruto, kau sudah membuktikan dirimu melalui menyelesaikan tiga tes dan melaksanakannya dengan baik. Tes-tes ini bertujuan untuk menguji apakah seseorang mempunyai aspek yang dibutuhkan untuk menangani situasi yang biasa anggota X-Men hadapi.
"Seperti tidak ragu dalam mengambil tindakan, mengutamakan keselamatan mereka yang membutuhkan bantuan, dan fokus pada misi. Dan menurut hasil pengamatanku… kau lebih dari siap."
Heracles maju dan angkat bicara.
"Arti dari tes kedua dan tes ketiga bisa saja bertabrakan jika diaplikasikan ke lapangan. Memilih antara menyelamatkan nyawa, atau menyelesaikan tugas. Namun setelah melihat perilakumu aku percaya kau mampu membuat keputusan yang bijak."
Gabriel maju dan angkat bicara.
"Misi menjaga umat manusia bisa dianggap tujuan mulia. Akan tetapi bukan berarti kita mengabaikan bangsa lain, manusia atau bukan, yang membutuhkan perlindungan di saat tak ada pihak yang mau membantu mereka."
Tiamat maju dan angkat bicara.
"X-Men memiliki makna berbeda di mata dunia fana dan dunia supernatural. Ditakuti. Dikagumi. Pembawa ancaman. Pendorong kedamaian. Walau demikian apapun yang terjadi kuatkan tekadmu dan jangan pernah meragukan keputusan yang menurutmu benar."
Stephen maju dan angkat bicara.
"Kita berkumpul dan menjadi satu dalam organisasi disamping latar belakang kita yang berbeda-beda. X-Men adalah bukti bahwa selama ada kepercayaan di antara satu sama lain, kita bisa hidup berdampingan tanpa konflik dan pertikaian."
Prometheus maju dan angkat bicara.
"Saat kau memutuskan mengenakan pakaian yang sama seperti kami, berbagai rintangan di luar sana akan menguji apakah kau sanggup mengemban tanggung jawab yang besar di pundakmu. Selama kau percaya bahwa apa yang kau lakukan dapat mengubah masa depan ke arah yang lebih baik, jangan pernah berhenti memakainya."
Kushina maju dan sempat tersenyum pada Naruto. Kushina angkat bicara.
"Tidak sedikit pihak yang membenci atau menyukai X-Men. Baik atau buruknya perbuatan yang kami lakukan, selama kami percaya kami mengejar sesuatu yang bermanfaat X-Men tidak akan pernah berhenti berjuang."
Minato maju dan angkat bicara.
"Bergabung dengan X-Men berarti kau siap untuk tujuan yang lebih besar. Mungkin suatu hari nanti kau akan menemukan kesulitan, merasakan penderitaan, atau mengalami keputusasaan. Tapi itulah gunanya tim, karena ada hal yang tak bisa dilakukan sendiri tetapi mampu dilakukan bila dikerjakan dengan bersama-sama."
Tatsuya mengamati sekeliling.
"Bagi yang merasa keberatan dengan keanggotaan Naruto, silahkan angkat tangan dan beritahu alasannya," ujar Tatsuya.
Tak ada yang mengangkat tangan, sama dengan tak ada yang keberatan.
"Sebagai bagian dari X-Men, apalagi manusia, kau harus punya nama samaran untuk menyembunyikan identitas aslimu." Prometheus yang berbicara, senyum usil terlihat di wajahnya. "Aku bisa memikirkan beberapa nama samaran untukmu."
Naruto tersenyum lebar. "Aku sudah tahu nama samaran apa yang akan kupakai. Namun sebelumnya aku ingin tahu nama samaran kalian?"
Tatsuya mengangguk, melirik anggota yang muda walau sebagiannya hanya muda di penampilan.
Mereka sadar lalu berbicara.
"Mulai dariku. Nama samaranku Garo. Tadinya aku ingin pakai nama 'Wolverine' tapi karena terasa tidak cocok kuganti dengan Garo," kata Issei.
"Nama samaranku Lancer," jawab Cao Cao dengan senyum tipis.
"Caster. Itu nama samaranku, kakak ipar," jawab Rossweisse.
"Saber, sederhana bukan?" Yuuto berseri.
"Nama samaranku adalah Shielder, Om," jawab Vali.
"Ruler. Lupa aku coret nanti wajahmu, Kak," canda Jeanne.
"Meskipun aku yakin kau masih ingat. Tapi akan kukatakan sekali lagi," kata Asia, "Raven adalah nama samaranku."
"Oz. Ingat baik-baik Naruto," balas Le Fay berseri.
Minato terkekeh. "Jika itu maumu Nak. Nama samaran ayah adalah Flash."
"Nama samaran ibu adalah Kagura dattebane," kata Kushina berseri.
"Nama samaranku, Promes, dipakai sebagai identitas manusia dan untuk berbaur di masyarakat," kata Prometheus, terkekeh, "jika kita satu misi panggil saja nama asliku, Prometheus."
"Kau bisa memanggilku dengan nama asliku bila kita satu misi, Tiamat," ujar Tiamat, "tapi tidak seperti Prometheus aku tidak memiliki identitas manusia."
"Namaku Stephen Strange, Nak Naruto, dengan nama samaran Dr. Strange," kata Stephen tenang.
"Aku tidak memiliki identitas manusia. Panggil saja aku dengan nama asliku, Gabriel," ujar Gabriel dengan senyum simpul.
"Heracles. Jangan sungkan memanggilku dengan nama asliku bila kita nanti satu misi, Naruto," ujar Heracles.
Tatsuya berbicara. "Wujud yang dirimu lihat sekarang adalah wujud manusiaku, Asakura Tatsuya. Tapi wujud yang satu ini…"
Cahaya menyelimuti Tatsuya sebelum padam. Di tempat Tatsuya berdiri tadi, sosok berkulit perak unik dengan garis merah mengelilingi sebagian permukan di tubuhnya. Sepasang matanya cahaya tanpa ada pupil dan bulatan biru bersinar terdapat di tengah dadanya. Kesan gahar bisa terlihat dengan bentuk 'mulut' yang keras dan sepertinya tidak bisa terbuka.
"...adalah wujud asliku, Belial." Tatsuya, atau sekarang Belial, menyelesaikan kalimatnya.
Huh, dia yang menembakkan energi putih dan energi gelap itu bukan? Pada makhluk seperti ular tapi kepalanya tiga. Naruto baru mengingatnya.
Belial lalu kembali ke wujud manusianya, Tatsuya.
Naruto menyadari gilirannya dan menunjuk dadanya dengan jempol lalu menyengir. "Nama samaranku… Shinobi dattebayo!"
Keluarga Namikaze tersenyum kecil mendengar deklarasinya.
"Dengan begitu…" Minato berseri pada Naruto. "…selamat bergabung di X-Men, Namikaze Naruto… maksudku Shinobi."
Mereka semua(selain Naruto) bertepuk tangan dengan kencang. Pastinya semuanya gembira karena bertambahnya anggota baru yang bisa diandalkan.
Naruto senang mendapat tepuk tangan semeriah ini.
"Hoamm.. Tunggu, apa yang kulewatkan?"
–
Di dalam ruangan luas dengan peralatan unik ini, seorang pria yang diketahui sebagai pemimpin malaikat jatuh mengganti halaman komik yang dibacanya. Ekspresi wajah dia begitu serius sampai siapapun yang melihatnya akan kagum dengan keseriusannya.
Namun kekaguman mereka pasti akan berubah ke kekesalan saat mengetahui jenis buku yang dibacanya.
"Nanaha-chan, kau nakal sekali…" Dia tersenyum mesum dengan darah turun dari hidungnya sebelum naik lagi. "…ohohoho. Dan akhirnya Rito-kun berani mengajaknya di gang kosong. Kreatif. Kreatif."
Pintu ruangannya diketuk dari luar.
Dia panik dan seketika menyembunyikan buku ini di dalam laci meja. "Ehem. Masuk!"
Pintu terbuka oleh seorang pemuda berambut hitam dan berkacamata. Pria ini mengenakan kombinasi seragam sekolah Jepang(lebih khusus, gakuran dikenakan oleh anak sekolah Jepang di musim gugur)dan dibalut jubah yang biasa dipakai para magician.
"Azazel-sama, kita kedatangan tamu dari fraksi olympus yang ingin berjumpa denganmu," kata pemuda ini dengan tenang, tapi ekspresinya mengeras pertanda dia dalam kondisi waspada penuh.
Azazel kebingungan, walau di dalam hatinya dia was-was mendengar berita ini. Berurusan dengan dewa tidak pernah berakhir baik biasanya. Tentunya ada juga dewa yang sikapnya 'ramah' tapi itu terkadang topeng semata.
"Aku mengerti. Tolong antar mereka ke dalam, Georg," kata Azazel.
Georg mengangguk, keluar dari ruangan dan tidak lama kembali dengan tiga sosok berjubah hitam.
Salah satu dari mereka bertiga maju dan menunjukkan aura pemimpin. "Sebelumnya kami minta maaf apabila kehadiran kami menyita waktumu yang berharga, Gubernur Azazel."
"Jangan dipikirkan," kata Azazel dengan senyuman, "tapi akan lebih baik bila… kalian memberitahu kedatangan kalian jauh-jauh hari. Mungkin dengan itu aku bisa menyambut kalian dengan jamuan lebih baik. Bisa begitu, Grim Reaper Pluto?"
Pluto tidak menjawab, tapi memilih mengambil amplop dari lingkaran sihir.
"Kami akan ingat saranmu itu. Sayangnya kedatangan kami kemari hanya untuk mengantar surat dari tuan kami," jawab Pluto.
Pluto maju perlahan dan meletakkan amplop di meja. Pluto mengambil beberapa langkah mundur. "Kalau begitu kami mohon undur diri. Semoga harimu menyenangkan, Gubernur Azazel."
Mereka bertiga meninggalkan dua-duanya.
"Mereka… ramah juga," kata Georg.
Azazel tertawa kecil.
"Jika sedang tidak bertugas mereka memang ramah," kata Azazel, mengamati amplop ini, "entah kenapa perasaanku tidak enak melihat surat ini."
"Sebab ada kemungkinan surat ini adalah surat cinta dari Hades?" Georg memperbaiki posisi kacamata-nya.
Azazel tersedak ludahnya, menatap kesal Georg yang terkekeh saat berjalan keluar.
"Dasar bocah sialan."
–
.
.
.
.
T-B-C
.
.
.
.
Balas review:
NumpangLewat: Ini baru up hehe
Des: Sudah up ni cuy
Tsukinano: Sudah up ni :)
Drake: Sekarang update hehe
Boys: Sudah up ni bung
NoName: Yap. Satu aja. Biar bisa fokus ke yang lain.
Deas: Sudah ditunjukkan d chap ini
Guest: Maaf ye bro
Paijo Payah: Benarkah?
Hehe gud kalau gitu
Dasgun: ^_^
bAhmad: Bagus.
Terima kasih karena telah mau baca dan nunggu
Noelsht: Ni sudah wordnya diperbanyak hehe :D
uchihasenjuuzumakinaruto: Makasih bro
Petrus19vengeance: Sip. Udh lanjut ni
Jomblongenes: Udh up ni boss hehe
AN:
Maaf ye para pembaca. Author baru bisa up sekarang hehe.
Di chap ini dijelaskan beberapa hal yang sepertinya panjang. Ya gimana lagi, mencari materi untuk fitur kepenulisan dan semacamnya memang tidak mudah. Tapi bila ditulis dengan santai maka bukan perkara yang sulit.
Kalaupun misal fic ini di drop, kalian bisa cek di bio untuk melihat statusnya. Karena ya author suka mengecek akun fanfc author untuk sekedar lihat-lihat.
Baca dan review kalau kalian suka. Oke?!
Peace.
