Ninja Super
Summary: Keputusan Naruto pergi ke dunia lain tidak berakhir dengan sia-sia. Namun, perjalanan sang ninja penuh kejutan baru saja dimulai ketika dia bergabung bersama organisasi yang sama dengan keluarganya. Teman, rival, musuh, mengintai dibalik bayangan dan cahaya.
Disclaimer: Semua di fic ini punya pemilik aslinya. Author hanya meminjam. Hehe peace.
–
Chap 6 : Pertemuan Yang Tidak Disengaja(?)
–
.
.
.
.
Sendiri di halaman belakang Kediaman Namikaze, Naruto menyelipkan lingkaran pegangan tali pada jari tengah kirinya. Naruto melempar turun yoyo dan yoyo berputar menimbulkan bunyi di atas permukaan lantai.
Mainan yoyo ini cukup bagus. Naruto menyentak sedikit tali sehingga yoyo kembali ke genggaman tangannya. Pantas Jeanne menyukainya.
Setelah pengangkatannya menjadi anggota X-Men, Naruto dan Jeanne kembali ke rumah sementara Minato menetap sebentar di X-Base.
Untuk Vali, Yuuto, Rossweisse, mereka bertiga kembali ke Asgard karena mereka bertiga tinggal di sana. Sebelum pergi Yuuto berjanji pada Naruto bahwa dia akan mengajak Naruto ke Asgard jika waktu kosongnya ada.
"Kau lebih baik berlatih Naruto. Kekurangan latihan membuatmu kaku dalam pertarungan. Seperti ketika menghadapi manusia itu," kata Kurama.
Naruto mengakui apa yang dikatakan partnernya itu benar. Seperti biasa ini adalah cara unik Kurama dalam memperhatikannya.
Aku tahu Kurama. Mungkin setelah Jeanne mengajakku ke mall. Naruto merespon balik.
Kurama puas. "Bagus. Sekarang aku akan tidur. Jangan coba-coba membangunkanku kecuali untuk hal yang penting."
Ya, ya, aku paham dattebayo.
Naruto melipat tali yoyo dan menyimpan yoyo di saku celana dan mengamati langit sudah berwarna jingga. Mendengar langkah kakinya, Naruto melihat Jeanne mendekat dan berpakaian kasual.
"Bagaimana pendapatmu tentang mainan yoyo?" tanya Jeanne antusias.
"Lumayan bagus," balas Naruto mengungkapkan pemikirannya.
Dia cemberut, berharap saudaranya ini menyukai yoyo seperti dia. Namun hanya sebentar lalu dia berseri.
"Siap berangkat?"
Naruto mengangguk.
Mereka berdua lalu masuk rumah. Naruto menyimpan yoyo ke kamarnya dan mengikuti Jeanne ke ruang tamu.
Jeanne dan Naruto melihat Kushina dan Gabriel menangis tersedu-sedu dengan Tiamat berada di tengah-tengah mereka berdua. Duduk bersama di sofa.
"*hiks* *hiks* kenapa takdir tega sekali memisahkan kisah cinta kalian berdua *hiks* *hiks*..."
"Yoon Se Ri *hiks* kamu tegar sekali menghadapinya *hiks*…."
Tiamat lebih fokus pada game online di ponsel-nya. Alasan kenapa Tiamat bisa mengabaikan tangisan Gabriel dan Kushina selain karena mereka berdua adalah temannya. Dia mendapat akses internet gratis di rumah ini.
"Ibu, kami akan pergi keluar," kata Jeanne.
"Ya *hiks* hati-hati di jalan," balas Kushina yang masih menangis.
Mereka berdua memakai sepatu. Jeanne membuka pintu dan bersama Naruto berjalan di trotoar setelah menutup pintu. Sambil melangkah Naruto melihat sejumlah kendaraan lewat juga orang-orang dari kalangan berbeda berjalan di trotoar yang sama.
Sebelumnya Jeanne pernah memberitahunya bahwa Jeanne akan mengajak Naruto ke mall untuk membeli baju. Naruto menyetujuinya karena memang stok pakaiannya sedikit. Ditambah dengan begini Naruto bisa lebih mengenal kota yang akan menjadi tempat tinggal barunya.
"Naruto, biasanya kegiatan apa yang sering kau lakukan?" tanya Jeanne, mencoba membuka percakapan dengan saudaranya.
Naruto menggali ingatannya.
"Kegiatan yang sering aku lakukan? Aku lebih sering latihan," jawab Naruto.
"Latihan? Seperti mempelajari teknik baru?" Jeanne penasaran.
"Tepatnya improvisasi teknik yang kupunya." Naruto baru ingat. "Dan… menjahili seseorang yang aku kenal."
Jeanne mengangguk. "Sama sepertiku. Jika aku bosan aku pasti menjahili Kak Yuuto dan Kak Rossweisse."
"Salah satu contohnya?"
"Melempar petasan ke kamar mereka." Jeanne menyengir. "Kau tahu kak, mungkin jika ada waktu kita bisa… mendiskusikan rencana bersama-sama?"
Naruto terkekeh. "Boleh. Sudah punya targetnya?"
"Ada beberapa."
Mereka berdua tiba juga di mall, masuk ke dalam melewati pintu kaca otomatis dan berdiri di eskalator. Kemudian tiba di lantai berikutnya dalam waktu singkat. Selagi berjalan Naruto mengamati barang-barang unik di tempat ini. Mulai dari casing ponsel, topi dengan ragam tema, gantungan kunci, dan masih banyak lagi. Naruto juga melihat boneka yang salah satu tipenya adalah hewan, terutama rubah.
Hmm…
"Jika kau berani mengatakan sesuatu soal boneka itu…"
…lihat, mereka sepertinya saudaramu Kurama.
"NARUTO!"
Naruto berseri, gesture yang mudah disadari Jeanne.
"Tolong berhenti melakukan itu, Kak. Kita ada di daerah publik," kata Jeanne, sadar sebagian orang melihat saudaranya dengan ekspresi aneh, "orang-orang bisa berpikir kau gila karena tersenyum tiba-tiba."
Naruto berkedip. "Oh benarkah? Maaf kalau begitu."
Dia mengangguk kemudian keningnya mengerut. "Kurama berbicara lagi?"
Jeanne sudah tahu ada entitas unik di dalam tubuh Naruto. Menurut saudaranya makhluk ini, Kurama, baik walau kesannya seperti kasar dan tidak peduli saat berbicara. Jeanne lebih suka berpikir kalau Kurama itu tsundere mengetahui sifatnya.
Sisi baiknya dia tidak menimbulkan masalah untuk saudaranya, dan itu sudah cukup membuatnya masuk ke dalam daftar "Orang-orang baik." milik Jeanne.
"Dia tidak suka boneka rubah. Anggap saja harga dirinya… terluka, melihat mereka," kata Naruto.
"Tepat sekali." Kurama mengangguk. Rubah seharusnya menjadi spesies mengerikan. Bukan spesies lucu!
"Tidak suka atau iri karena mereka lebih disukai anak-anak daripada dia?" tanya Jeanne.
"HEY!"
Naruto mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Sikap Kurama sulit ditebak… terkadang."
"Grr…."
Ayolah Kurama. Jeanne hanya bercanda. Jangan dibawa serius.
Kurama mencibir.
"Hanya karena aku tahu itu candaan bukan berarti aku suka," kata Kurama.
Sensitif….
"Berisik."
Mereka berdua terus berjalan di antara lautan manusia. Tidak sengaja Jeanne melihat perempuan yang dikenalinya dan dia tersenyum lebar.
"Murayama-chan!" Jeanne berseru melambaikan tangannya.
Murayama menengok, matanya berkedip sebentar lalu dia mendekati dua-duanya. Senyuman terlihat di wajah gadis ini.
"Tidak kusangka akan melihatmu di sini Jeanne-chan," ujar Murayama.
Jeanne menjulurkan lidahnya.
"Buu, aku bukan anak rumahan. Kau seharusnya tahu hal itu," ujar Jeanne.
Murayama tertawa geli dan sejenak melirik Naruto. Murayama lalu menatap Jeanne.
"Jadi… dia saudaramu?" tanya Murayama, nada suaranya sedikit gugup.
"Tentu saja Kak Naruto saudaraku. Bukannya aku sudah memberitahumu semalam?" Jeanne menyengir. "Nah, Kak Naruto. Murayama-chan ini adalah sahabatku dan kami satu kelas. Cantik. Jago memasak. Pandai kendo dan selalu juara di setiap turnamen yang diikutinya. Dia juga single jadi–adaw!"
Murayama(yang malu) mencubit keras lengan Jeanne yang tidak dilindungi baju.
"Jangan mengatakan yang tidak-tidak baka-Jean," ujar Murayama pelan.
Jeanne mengelus lengannya yang sakit.
"Muu, kau sungguh kejam padaku Murayama-chan," kata Jeanne cemberut pada dia sebelum melanjutkan, "bagaimana? Suka dengan yang kau lihat?"
Naruto berkedip. Bukan karena perkataan Jeanne tapi ada sesuatu yang dirasakannya dari Murayama. Sesuatu yang disembunyikan di hatinya tapi masih bisa dirasakan dia.
"T-Tidak juga."
Jeanne menyengir, berbisik di telinga Murayama sebelum menjauhkan wajahnya. Perlahan Murayama memerah mukanya dan seketika pergi meninggalkan dua-duanya.
"Hm, aku lupa kalau dia itu cewek pemalu," kata Jeanne, mengelus dagunya.
Naruto penasaran.
"Sebenarnya apa yang kau bisikan padanya dattebayo?" tanya Naruto.
Jeanne hanya menyengir. "Mau tahu?"
"Err. Tidak usah." Naruto sweatdrop.
Mereka berdua kembali melangkah sampai Jeanne menemukan toko baju yang menarik perhatiannya. Mereka berdua memasuki area ini. Sejauh matanya memandang Naruto mengamati berbagai pakaian yang berbeda dari segi ukuran dan juga tipenya. Keadaan di sini juga ramai jadi bisa dibilang barang-barang di toko ini kualitasnya bagus.
"Selamat datang di…."
Gadis yang menyambut mereka terkejut melihat Jeanne.
"…Jeanne-chan! Senang bisa melihatmu di sini. Mau belanja?" Dia berseri-seri.
Jeanne berkedip. "Aku baru tahu kau juga bekerja paruh waktu di sini Aika-chan."
"Maa, anggap saja aku sedang mencari pengalaman baru."
Aika sadar kehadiran Naruto, beralih pada Jeanne.
"Jadi… sudah berapa lama kalian berdua pacaran?" tanya Aika penasaran.
Jeanne meringis.
"Aika-chan, Naruto itu saudaraku," kata Jeanne, mencegah kesalahpahaman terjadi di antara dua-duanya, "bukannya aku sudah memberitahumu di chat?"
Kiryuu Aika berkedip.
"Saudara? Ahaha, maaf, maaf. Aku lupa. Namaku Kiryuu Aika. Teman satu kelas Jeanne-chan," kata Aika melepas tawa gugup, memperbaiki letak kacamata-nya saat mengamati Naruto dari bawah hingga atas, "hmm… tidak buruk. Ukuranmu melebihi rata-rata dari yang biasa kulihat."
"Aku tidak ingin tahu hal itu dattebayo." Naruto sweatdrop.
Aika menyengir tanpa merasa bersalah.
"Ew. Aku tidak masalah jika laki-laki lain. Namun itu milik saudaraku yang kau bicarakan," kata Jeanne sedikit jijik.
"Kau tidak seru Jeanne-chan." Aika cemberut. "Bagaimanapun…"
Aika menyadari ada pengunjung lain yang berkeliaran seperti tengah kebingungan. "…panggilan kerjaku memanggil. Bye-bye."
Aika pergi meninggalkan mereka berdua. Jeanne menatap Naruto lalu menyengir.
"Pertama-tama mari kita ke area baju."
Naruto mengangguk.
Mereka berdua lalu berkeliaran di toko ini.
–
Di X-Base dalam Base III, ruang bahaya dengan lingkungan berupa tanah lapang, Kushina terus mengelak dari hujan tusukan yang dilancarkan Cao Cao. Walau pergerakan Cao Cao cepat tapi refleks Kushina mampu menanganinya. Bahkan sudah satu jam berlalu tapi belum ada satu pun serangan Cao Cao yang mengenai Kushina.
Namun bukan itu inti dari latihan ini.
Kushina mengangkat tombaknya, mencegah tombak suci Cao Cao dari mengenai bahunya.
"Fokusmu kurang Cao Cao." Kushina menegur. "Tak ada gunanya senjata bila pemakainya menyerang secara acak."
Cao Cao mengangguk, mengambil beberapa langkah mundur, memutar True Longinus dan mencoba menusuk perut Kushina. Kushina yang paham langsung mengelak ke samping, tetapi Cao Cao lekas mengubah arah tombak suci di tangannya dan memberikan perintah pada itu untuk memanjang. Walau terlihat akan melukai Kushina, tidak disangka Kushina masih bisa menghindar dengan melompat.
Cao Cao menyusutkan True Longinus dan melesat menuju gurunya, mengarahkan ujung tombak sucinya pada anggota tubuh tertentu di Kushina. Kushina mendarat dan menusuk tombaknya ke lantai, menciptakan retakan sekaligus menimbulkan letusan api yang membuat Cao Cao terpaksa melompat ke belakang.
Namun sebelum dua belah pihak lanjut, lingkungan di sekitar mereka berdua kembali ke bentuk semula. Pertanda waktu latihan ini telah berakhir.
"Aku rasa sudah saatnya kita berhenti," kata Kushina, tombaknya diselimuti hawa panas sebelum akhirnya lenyap bersama api, "istirahat."
Cao Cao mengangguk, energi suci membalut tombak sucinya lalu menghilang dari tangannya. Dia bersama Kushina menuju ruang pengawas di mana Asia berada dan duduk sendirian.
Kushina menatap mereka berdua. "Aku akan pergi mengambil minuman. Kamu mau aku ambilkan sesuatu juga Asia?"
"Mungkin minuman juga Kushina-san," balas Asia.
Kushina mengangguk dan tersenyum.
Selepas dia tiada, Asia beralih mengamati ekspresi Cao Cao.
"Kau seperti terbebani sesuatu sehingga menurunkan performamu. Ada masalah apa?" tanya Asia.
"Aku baik-baik saja.," ujar Cao Cao.
Asia mengangkat sebelah alisnya, beralih ke layar komputer dan memeriksa struktur di ruang bahaya. Memastikan lapisan permukaannya masih keras dan tidak cacat.
"Karena Naruto?"
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanya Cao Cao, nadanya kesal.
"Semenjak kedatangan Naruto kau seperti…" Asia mengerutkan keningnya. "…was-was, seakan kau seperti terancam dengan kehadirannya. Sebenarnya apa masalahmu?"
Cao Cao mendengus. "Aku tidak punya masalah dengannya. Dan itu bukan urusanmu Asia."
Asia membisu, tidak percaya dengan perkataan Cao Cao yang jelas tidak suka dengan Naruto, mengangguk.
"Jika kau tidak ingin membicarakannya denganku. Baiklah, aku terima." Asia menatap tajam dia. "Namun jika masalah pribadimu ini mempengaruhi keberlangsungan misi, ingat lah konsekuensi akan menantimu."
"Ya, ya. Aku paham," kata Cao Cao, memutar bola matanya.
Asia menghela nafas, mengingatkan dirinya bahwa meskipun Cao Cao sering bersikap seperti orang dewasa, dia termasuk anggota yang paling muda bersama Jeanne di antara anggota X-Men lainnya. Maka dari itu tidak wajar jika sikap mereka berdua terkadang… membuatnya pusing.
Issei tidak dihitung. Dia lebih ke menyebalkan tapi bisa serius jika situasi memaksanya.
Kushina datang lagi dan menyerahkan kaleng minuman pada Asia dan Cao Cao. Sejenak tak ada yang berbicara dalam suasana begitu tenang...
"Bagaimana hubunganmu dengan Kuroka, Cao Cao?"
…sampai Kushina penasaran.
Cao Cao menyemburkan air pada satu layar komputer dan mengenai satu keyboard. Dia mengabaikan tatapan kosong Asia yang mengarah kepadanya.
"Ap-huh? P-Penganggu seperti dia mana mungkin aku suka!" Cao Cao gelagapan merangkai kata-katanya.
Kushina menyengir. "S-Seingatku aku tidak pernah bilang kau suka atau tidak padanya dattebane."
Nadanya sengaja terdengar gagap.
Asia menahan tawanya melihat wajah Cao Cao yang sedikit merah. Lupa bahwa nekoshou tertentu tertarik pada dia. Memang jika ditekan Cao Cao mudah sekali dibuat malu sekaligus kesal.
Apa nama tipe orang seperti itu lagi? Ah iya, tsundere.
Lalu bunyi aneh terdengar dari perut Cao Cao.
Kushina menyadari ini dan tertawa geli.
"Cao Cao, ikut aku ke ruang istirahat. Akan kubuatkan sesuatu untukmu dattebane." Kushina melirik Asia. "Mau bergabung dengan kami?"
Asia menggeleng. "Terima kasih atas tawaranmu Kushina-san. Namun aku tidak lapar."
Kushina mengangguk, dia dan Cao Cao keluar dari ruang pengawas meninggalkan Asia sendirian.
Asia mengamati sekitar, diam sejenak sampai akhirnya tersenyum miring. Ini saat yang tepat menghubungi Vali.
–
Kembali ke rumah setelah belanja pakaian, mereka bertiga makan malam. Kebetulan Kushina sedang ada urusan di X-Base jadi hanya ada mereka bertiga di ruang makan.
Selesai makan Jeanne membereskan peralatan-peralatan makan dan membersihkan itu di wastafel.
"Bagaimana jalan-jalan kalian tadi?" tanya Minato.
Jeanne mendengar lalu membalas.
"Kami membeli beberapa set pakaian Naruto dan es krim," kata Jeanne, mematikan keran dan duduk lagi.
"Benarkah hanya itu Naruto?" Minato penasaran.
Naruto berseri.
"Hanya itu," balas Naruto.
Jeanne kebingungan.
"Kak Naruto, ini perasaanku saja atau kau seperti terbebani sesuatu setelah kita keluar dari toko pakaian?" tanya Jeanne.
Naruto menggaruk pipinya karena gugup. "Benarkah? Aku tidak bermaksud seperti itu. Maksudku, dengan begitu banyaknya jenis pakaian yang ada membuatku bingung harus memilih yang mana."
"Kau benar juga," kata Jeanne menyengir, mengingat memang Naruto melihat ke sana-kemari saat di toko pakaian.
Minato mengamati jam, beralih pada putrinya.
"Jeanne, mungkin akan lebih baik kau tidur. Besok sudah masuk sekolah lagi bukan?" tanya Minato lembut.
Jeanne sadar yang dikatakan ayahnya benar. "Oh. Benar juga." Jeanne beralih pada Naruto. "Selamat malam Kak. Aku tidur duluan."
Naruto terkekeh. "Yah, semoga mimpimu indah dattebayo."
Jeanne menunjukkan pose hormat, menuju tangga dan naik ke lantai dua meninggalkan mereka berdua di ruang makan. Minato sempat tersenyum melihat interaksi anak-anaknya.
"Ngomong-ngomong kau sudah memikirkan pekerjaan apa yang akan kau pilih nanti?" Minato melirik Naruto.
Naruto berkedip, mengelus dagunya.
"Aku belum sempat memikirkannya…."
"Sambil menunggu bagaimana kalau sekolah dulu?"
"Sekolah lagi? Err… aku rasa aku lewat."
Minato tersenyum.
Mereka berdua lalu mendengar bunyi bel. Naruto bergegas berdiri. "Biar aku saja."
Naruto mendekati pintu depan dan membuka pintu ini, melihat seorang pria berpakaian rapi berambut hitam dengan sebagian ujung helai rambutnya pirang.
"Ah, kau yang bernama Naruto bukan? Perkenalkan namaku Azazel, gubernur malaikat jatuh," kata pria asing ini, Azazel, yang memperkenalkan dirinya, "apa ayahmu ada? Aku mau bertemu dengannya."
"…."
Kenapa aku merasa seperti bertemu pertapa genit versi kedua? Naruto kebingungan.
"Aku teman dari ayahmu."
Naruto berkedip lalu menyingkir dari jalan.
"Masuk lah," kata Naruto.
Azazel mengangguk dan segera masuk. Minato mengangkat sebelah alisnya melihat kedatangan Azazel.
"Maaf aku datang tanpa pemberitahuan sebelumnya Minato," kata Azazel menyengir.
Minato terkekeh. "Santai saja. Kau mau kopi?"
"Tidak usah. Aku kemari hanya ingin membahas sesuatu… secara empat mata."
Minato mengamati Naruto, yang sepertinya paham dan naik ke lantai dua. Namun ketimbang masuk ke kamar tidurnya, Naruto memasuki kamar lain dan mendekati X-Tube.
Di sisi lain Azazel menciptakan barrier kedap-suara, duduk dan menyerahkan amplop dari lingkaran sihir pada dia. Minato membuka amplop dan membaca surat yang dikeluarkan dari amplop ini.
"Meskipun niat kalian mulia, cara yang kalian pakai selama ini membuat kami muak. Oleh karena itu melalui surat ini kami menyatakan perang kepada kau semua. Bersiap lah menghadapi kepunahan kalian, X-Men."
"Utusan dari fraksi olympus menitipkannya padaku," jelas Azazel, menghembuskan nafas, "tepatnya para grim reaper dari alam baka yunani."
Minato mengerutkan keningnya. "Aku tidak akan terkejut jika Dewa Zeus tidak tahu soal ini."
Azazel terkekeh. "Pastinya. Dewa Zeus tidak sebodoh itu untuk menantang kalian semua. Ini berarti... teman di dunia bawah kita, sekaligus rekan-rekannya, adalah dalangnya.
"Namun ini masih teoriku saja. Terlalu cepat menyimpulkan tanpa bukti lebih banyak bukan lah langkah bagus." Azazel menghela nafas. "Yang kuinginkan hanya hidup damai dikelilingi oppai. Kenapa rintangan selalu saja datang untuk menghalanginya."
Minato menggeleng, terbiasa ditemani hidup dengan banyak orang mesum seperti Azazel.
"Apa ada hal lain lagi?"
"..."
"..."
Ada jeda di antara mereka berdua. Kontes saling menatap dalam waktu sedikit adalah yang dilakukan. Sampai akhirnya Azazel angkat bicara.
"Tidak. Hanya itu saja."
Minato tersenyum.
"Terima kasih Azazel," ujar Minato.
Azazel terkekeh lalu menepuk bahu Minato.
"Ini tidak seberapa bila dibandingkan waktu itu. Jika kalian tak ada, aku dan malaikat jatuh lain mungkin telah tamat," ujar Azazel.
Minato mengangkat sebelah alisnya.
"Kau masih bermimpi buruk tentang King Ghidorah?" tanya Minato.
Azazel merinding. "Tolong jangan sebut nama itu lagi Minato. Nama itu tabu bagi kami."
King Ghidorah. Nama dari naga mengerikan yang dahulu menewaskan sebagian kaum dari fraksi injil sehingga menyisakan malaikat dan malaikat jatuh. Konon berasal dari dimensi lain dan dijuluki sang Pelahap Planet.
Beruntung makhluk itu tewas. Jika itu masih hidup, Azazel tidak ingin tahu kerusakan macam apa yang akan dilakukannya.
"Maaf."
"Tak apa. Aku memaafkanmu."
Azazel menyadari ponsel-nya bergetar, melihat nama yang mengirimkan pesan lalu dia menghembuskan nafas. Azazel menatap Minato.
"Aku diperlukan di Grigori. Kita lanjutkan pertemuan ini di lain waktu," ujar Azazel, berdiri di sudut.
Minato mengangguk, melihat Azazel menghilangkan barrier yang dibuat olehnya sendiri. Tidak lama kemudian Azazel menghilang setelah ditelan lingkaran sihirnya.
Minato memejamkan mata, memikirkan baik-baik informasi yang diterimanya.
–
Dengan keadaan yang tenang dalam supermarket, Kiryuu Aika merupakan satu dari beberapa orang yang berbelanja di sini. Tujuannya adalah melengkapi kebutuhan rumah yang berkurang seperti bahan makan, makanan ringan, perlengkapan kamar mandi dan masih banyak lagi.
"Hmm. Seharusnya semua ini sudah cukup," gumam Aika mengamati keranjang belanjanya.
Aika mengangguk puas kemudian mendekati meja kasir. Menunggu gilirannya tiba sambil mengamati kondisi tempat ini.
Sepi juga. Aika baru sadar. Ma, mungkin karena hari sudah malam.
"Selanjutnya!"
Aika meletakkan keranjang belanja dan mengeluarkan dompetnya. Setelah pegawai ini menyimpan semua barang yang dibelinya ke plastik, Aika menyerahkan sejumlah uang pada dia lalu keluar. Berjalan di tepi jalan dan berniat pulang menuju tempat tinggalnya.
Selagi berjalan Aika sempat melihat tiga anggota keluarga berjalan melewatinya. Mereka bertiga bahagia saat berbincang.
"Ne, ne, kapan kita ke kolam renang lagi Ma?"
"Pas hari libur saja ya."
Putri dua-duanya cemberut. "Muu, kenapa tidak bisa besok?"
"Besok 'kan sudah waktunya putri kecil papa sekolah."
"Oh, benar juga!"
"Jadi hari libur saja ke kolam renangnya. Oke?"
"Oke!"
Aika terus berjalan, melihat interaksi bahagia tadi membuatnya mengingat keluarganya yang sudah terkubur di tanah.
Sudah lama sekali semenjak keluarganya meninggal lima bulan yang lalu. Waktu itu mereka bertiga dalam perjalanan pulang dari camping di gunung. Namun bus yang ditumpangi mereka bertiga rem-nya blong sehingga menabrak mobil lain. Dari semua penumpang hanya Aika saja yang selamat dan hidup.
Jika saja aku tidak memaksa untuk pergi liburan mungkin ayah dan ibu…
Aika menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Hadapi kenyataan Kiryuu Aika. Peristiwa yang berlalu biarkan lah berlalu. Tak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi.
Kemudian tak ada angin tak ada hujan dia tiba-tiba berhenti.
"…."
Sejenak, ekspresi Aika kosong dan pandangannya beralih ke gang. Tidak lama saku celana-nya bergetar dan dia mengangkat panggilan. Mengabaikan barang-barang yang dibelinya bergelimpangan di jalan.
"Bagaimana proses penyebaran sel Bogar, Trial-7?"
"Berjalan lancar tanpa adanya hambatan, Master," kata 'Aika' datar.
"Bagus. Apakah 'orang-orang' itu sudah tahu?"
"X-Men tidak menaruh curiga sama sekali."
"Hmph. Tidak mengejutkan. Bogar bukan lah makhluk supernatural. Selama tidak terbangun itu tidak akan memancarkan aura sama sekali. Beritahu aku laporan pengamatanmu saat ini."
"Saya sempat menyaksikan banyak video porno-"
"Laporan khusus Trial-7."
"Kesalahanku. Saya bertemu anggota keluarga Namikaze lain yang bernama Namikaze Naruto. Nampaknya Keluarga Namikaze menyembunyikan senjata lain selama ini."
"Begitu. Awasi dia juga. Namun ingat, tujuan utamamu adalah menangkap Namikaze Jeanne pada saat invasi berlangsung."
"Dimengerti."
"Baiklah. Lanjutkan misimu."
"Perintahmu adalah kewajibanku, Master."
"Hidup umat manusia."
"Hidup umat manusia."
Panggilan ini diputus dari sana. 'Aika' memasukkan kembali ponsel-nya ke saku celana-nya. Dia meringis lalu mengelus kepalanya yang terasa sakit.
"Sial, kenapa harus sakit kepala lagi," ujar Aika sedikit kesal.
Aika berkedip beberapa saat lalu sweatdrop melihat barang-barang yang dibelinya tergeletak di bawah. Dia menghembuskan nafas dan mengumpulkan semua itu.
"Nasib. Nasib," gumam Aika.
Aika kembali berjalan, kali ini terburu-buru karena rasa lapar yang dideritanya. Sekali lagi area ini sepi kecuali di gang.
Tidak lama kemudian empat pria berandalan keluar dari gang dan menaikkan ritsleting masing-masing celana. Ekspresi mereka berempat puas seperti selesai melakukan aktivitas spesial.
"Tidak kusangka ada juga gadis maniak seks sepertinya di Kuoh," kata berandalan kedua.
Berandalan kesatu terkekeh. "Setidaknya kita puas bermain dengan tubuh si pelacur itu."
"Apalagi toket gedenya itu. Aku sangat puas bisa terus mengenyotnya," ujar berandalan keempat yang menyeringai.
Berandalan ketiga menggeleng.
"Sudah lah. Sekarang waktunya kita kembali ke markas," kata berandalan ketiga.
"Ya boss."
"Oke boss."
"Siap boss."
Mereka berempat menjauh dari area ini, meninggalkan seseorang di gang.
–
Tiba di Base III, Naruto mengeluarkan dirinya dari ruang teleportasi dengan menuju ruang pengawas. Sambil berjalan dia berbincang dengan partnernya.
Menurutmu apa aku harus mulai mencari dewa ramen Kurama? Naruto meminta pendapat dia.
Kurama sweatdrop.
"Oh, jadi itu tujuanmu sekarang? Kau membuatku kagum."
Hey. Aku ingin bertemu dengannya supaya aku bisa tahu bagaimana cara membuat ramen yang benar. Untuk pekerjaan.
"Kalau kau sangat ingin tahu cara membuat ramen kenapa tidak ke kedai ramen secara langsung?" tanya Kurama heran. "Kau bisa mendapat pengalaman dan pengetahuan dalam satu waktu."
Atau mungkin membiarkan klon mempelajari cara membuat mie dan kau hanya perlu menunggu memorinya. Kurama nyaris mengatakan itu tapi memilih diam, berpikir lucu kalau Naruto sampai lupa kemampuan khusus klon.
Aku tahu Kurama. Naruto mengakui kecerdasan sahabatnya. Namun… jika bertemu dewa ramen mungkin aku bisa meminta mangkuk berisi mie tiada batas! Bukankah ideku cemerlang?
"Kenapa kau tidak coba membuat buku seperti gurumu saja? Apa namanya lagi?"
Icha-Icha Paradise? Kurasa tidak. Lagi pula aku tidak ada niat membuatnya bila tanpa materi yang cukup.
Kurama terkekeh. "Kau yakin? Karena seingatku kau pernah membuatnya dalam upaya agar gurumu mau melatihmu."
Naruto sweatdrop, mengingat saat-saat di mana dia pernah menulis Icha-Icha namun naskahnya tidak sengaja terkirim ke daimyō Negara Taring sebagai surat perjanjian damai. Beruntungnya daimyō dari Negara Taring justru sangat menikmatinya sehingga dia mengakhiri perang negaranya dengan Negara Cakar(Naruto episode 177).
Mungkin aku akan menulisnya. Itu juga kalau aku…
Naruto berkedip melihat adegan yang dilihatnya sekarang.
Mereka berdua memejamkan mata dalam kondisi berciuman dan duduk di kursi sama. Wanita muda ini di pangkuan pemuda ini dengan tangannya mengelilingi leher pemuda ini. Dia menaruh tangannya di sekitar pinggul wanita muda ini.
Dua-duanya begitu terhanyut dalam kegiatan seksualnya sampai mengabaikan keadaan sekitar. Bahkan Naruto kehabisan kata-kata hingga dia memutuskan mengamati dua-duanya.
…dapat materinya.
"Kau sudah dapat materinya bukan?" Kurama menyeringai." Jadi apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
Naruto mengabaikan perkataan Kurama, terlalu fokus menyaksikan mereka berdua berciuman. Melihat itu menyebabkan beberapa ide mengalir deras ke otaknya.
Pertapa genit, sekarang aku paham kenapa kau sangat menyukai hal ini dattebayo.
"Mmmnnnn…." Wanita muda ini menjauhkan wajahnya dari wajah pemuda ini. Seringai tipis terdapat di wajahnya. "Semakin hari semakin bagus bukan?"
Pemuda ini berseri. "Sepertinya begitu."
Naruto membiarkan dirinya terdeteksi.
"Hey Vali. Asia."
Seketika Asia mengarahkan satu lengan terbukanya pada Naruto, menembakkan energi cahaya yang mengambil bentuk panah. Alhasil memaksa Naruto menyingkir ke sisi lain.
Melihat lubang berasap di dinding, Naruto memutar wajahnya ke arah Asia lalu menaikkan sebelah alisnya. Lalu menatap Vali yang panik.
Tanpa ragu mereka berdua bergegas berdiri dan menjelaskan 'kesalahpahaman' tadi pada Naruto.
"N-Naruto, apa yang kau lihat tadi tidak seperti kelihatannya."
"B-Benar om. Kami hanya praktik bagaimana cara reproduksi manusia."
"Ini tidak seperti kami akan melakukan seks atau semacamnya."
"Atau fakta kami jarang memakai pengaman."
Asia memelototi Vali. "Kenapa kau bilang yang itu juga!?"
"Dia keluargaku! Bagaimana bisa aku berbohong padanya?"
"Oh, begitu katamu? Jadi kalau ayahku tahu soal hubungan kita kau tidak keberatan bukan!?"
"Itu berbeda!"
"Berbeda dari mananya!?"
Naruto tertawa sambil memegang perutnya. Tidak tahan melihat Vali dan Asia yang biasa tenang nampak panik hingga kelabakan dalam membuat alasan.
Tentunya tawanya ini menyebabkan mereka berdua berhenti bertengkar.
"Jadi… kalian berdua sepasang kekasih?" tanya Naruto, akhirnya berhenti tertawa.
Asia dan Vali perlahan mengangguk, sadar tak ada gunanya menutupi rahasia ini meskipun telah berusaha.
"Bisa tolong jangan beritahu Nenek Kushina, Om?" Vali nampak takut. "Jika nenek tahu bisa-bisa beliau memancing Tatsuya-san dengan membuatnya kesal."
Kenapa perasaanku menjadi tidak enak? Naruto sweatdrop.
"Seperti yang dikatakan Vali. Aku juga ingin kau tutup mulut soal hubungan kami," ujar Asia, menggaruk pipinya dan terlihat canggung, "bisakah?"
Naruto terkekeh.
"Memangnya siapa saja yang sudah tahu hubungan kalian?" tanya Naruto.
"Gabriel-san. Le Fay. Issei. Bibi Jeanne. Cao Cao," jelas Vali.
"Baiklah. Aku akan… ikut menyimpan rahasia ini," kata Naruto berseri.
Dua-duanya lega. Salah satu di antara mereka berdua lalu berbicara.
"Jadi… ada keperluan apa kau di sini Naruto?" tanya Asia lalu sadar. "Oh, mungkin kau kemari karena mencari ibumu? Kushina-san baru selesai menguji Cao Cao. Mereka sekarang di ruang istirahat."
Naruto menjelaskan. "Sebenarnya aku kemari untuk berlatih."
Asia mengangguk.
"Kalau begitu apa kau mau aku merubah penampilan ruang bahaya? Mungkin area yang bisa membuat pikiranmu fokus?" tanya Asia.
Naruto tersenyum lebar, menemukan tawaran Asia tidak buruk sama sekali. Bisa dibilang dia memang merindukan area latihan seperti yang dulu di dunia ninja.
"Mungkin lingkungan yang luas." Naruto berpikir sejenak. "Bisa juga seperti padang rumput dengan hutan di sekitarnya."
Asia mengangguk dan pandangannya beralih pada komputer, melemaskan tangannya sebelum mulai bekerja. Sementara Vali gugup di sekitar Naruto yang mengamati sekitarnya.
"Entah kenapa aku merasa… X-Base seperti sepi," kata Naruto.
Vali berkedip, senang menyadari dia bertanya padanya.
"Terkadang tidak semua anggota berada di X-Base. Kita pastinya punya kesibukan tersendiri di luar sana," jelas Vali.
"Hmm…."
Naruto nampaknya tidak berniat bertanya lagi. Sebenarnya itu cukup melegakan Vali.
"Jadi… bagaimana hadiah yang kuberikan padamu om?" Vali mencoba membicarakan topik lain.
Naruto berkedip. Naruto menggaruk pipinya.
"Maaf. Aku belum sempat membuka hadiahmu dattebayo," kata Naruto.
Vali terdiam lalu mengangguk.
"Oh, baiklah. Tidak apa om."
Setelah pengaturan dilakukan, Naruto memasuki ruang bahaya dan menunggu sesuatu terjadi. Tidak lama area di sekitarnya berubah menjadi padang rumput dengan banyaknya hutan dalam kondisi langit siang hari.
Ini baru bagus. Dia puas.
"Kage Bunshin no Jutsu."
Naruto menciptakan beberapa klon dan mereka berempat saling pandang satu sama lain.
"Baik kalian semua! Serang aku secara bersamaan dattebayo!"
""Siap boss!"" seru klonnya bersamaan.
Tiga klonnya menyerang dari sisi berbeda. Dua memukul. Satu menendang. Naruto mengelak dari pukulan klon satu, menangkap lengan bajunya dan lekas melempar klon satu ke klon tiga. Klon dua mungkin berhasil menyerang Naruto jika Naruto tidak menendang perutnya dulu.
Tidak ada kata berhenti Naruto menciptakan klon lain dan masuk ke hutan. Naruto berpindah ke setiap batang pohon dan menangkis setiap shuriken yang datang dari arah acak. Jelas itu semua adalah serangan dari klonnya yang bersembunyi.
Tidak lama kemudian kepulan asap nyaris memenuhi ruang bahaya. Dentingan senjata dapat terdengar dari dalam. Bahkan ledakan dan getaran keras terjadi setelah teriakan "Rasengan!" dalam jumlah yang bisa dibilang banyak. Beruntung yang terjadi di ruang bahaya tidak berefek pada ruang pengawas.
Sementara dia berlatih, mereka berdua sekarang terlibat percakapan.
"Jika misi berikutnya aku satu tim dengan om, kemampuannya dalam menggandakan diri akan cukup bermanfaat," kata Vali.
Asia mengangguk, menyadari pernyataan Vali tidak seutuhnya salah.
"Mencari informasi diam-diam.… mencoba seberapa berbahayanya jebakan dari musuh tanpa perlu mengorbankan diri sendiri... kedengarannya sungguh serbaguna," ujar Asia, mengelus dagunya seakan memikirkan sesuatu, "potensinya bisa dipertimbangkan…."
Vali menatap getir dia.
Asia berkedip. "Apa?"
"Aku tidak akan mengizinkanmu membedah om," kata Vali tegas.
Kekasih atau bukan, dia tidak mungkin membiarkan keluarganya diteliti.
"Kau sadar aku tidak akan melakukannya bukan?"
"Memang. Namun bukan berarti kau tidak memikirkannya bukan?"
"….."
"….."
"Aku minta maaf… kau tidak cemburu dengan memikirkan kemungkinan kami akan berduaan di lab benar?" tanya Asia penasaran.
Vali memilih mengamati langit-langit, mengabaikan senyum miring Asia.
"Terkadang aku benci sisi reionicmu."
"Aku masih manusia."
"1/3 manusia, 1/3 ultra, 1/3 reionic. Itu dirimu."
Asia masih tersenyum, karena memang yang dikatakannya benar.
Vali menyadari arloji multi-fungsinya bergetar, menyentil di kaca itu yang kemudian berubah ke bentuk aslinya. Vali menekan satu tombol sebelum mendengar suara.
[Vali, bisa kau kembali ke rumah? Ayah membutuhkan bantuanmu untuk mengatur jadwal latihan einherjar baru.] (Yuuto).
[Baiklah, sebentar lagi aku akan pulang.] (Vali).
Setelah mengubah arloji multi-fungsinya ke bentuk standar, Vali menghembuskan nafas.
"Ada apa?" tanya Asia.
"Ayahku. Dia meminta bantuanku terkait latihan einherjar yang masih hijau."
Asia membentuk bulatan 'o' dengan mulutnya. Tahu persis betapa sibuknya dia jika para valkyrie membawa einherjar baru ke Asgard.
"Hati-hati di jalan."
Vali terkekeh, mencium singkat bibir Asia kemudian menuju ruang teleportasi. Lalu pintu besi ini terbuka memperlihatkan Naruto yang keluar dari ruang bahaya dengan ekspresi lega… walau permukaan pakaiannya sebagian robek.
Asia mengangkat sebelah alisnya. "Pekerja keras sekali kau ini."
Naruto mengangkat bahu.
"Ini normal." Dia kemudian sadar Vali tiada. "Vali ke mana?"
"Dia dipanggil Yuuto-san."
Naruto mengangguk, menengok ke pintu besi ini terbuka. Mereka berdua melihat Kushina dan Cao Cao masuk setelah pintu besi ini menutup. Kushina terkejut melihat putranya.
"Jangan pikirkan aku Bu. Aku baru saja berlatih," kata Naruto, menyengir.
"Oh, benarkah?" Kushina menyengir. "Seharusnya kau datang lebih awal. Kita mungkin bisa berlatih bersama dattebane."
"Tadi ayah membuat pasta yang enak dengan porsi besar. Jadi aku dan Jeanne bersama-sama menghabiskannya."
Naruto menggaruk rambutnya dengan gugup.
"Yah… walau akhirnya kami nambah lagi dan akhirnya lama menghabiskannya."
Kushina tertawa, sadar maksud perkataan Naruto.
Cao Cao membisu melihat interaksi Kushina dan Naruto. Dadanya terasa sesak menyaksikan ini.
Kenapa kau harus muncul? Semuanya baik-baik saja sampai kau ada. Kau mengacaukan segalanya. Kau mengambil perhatian yang seharusnya menjadi milikku. Kau….
Terkejut, Cao Cao menggeleng menyadari pemikirannya buruk tentang teman barunya itu. Lagi pula kenapa dia harus menyalahkan Naruto? Dia bahkan tidak punya alasan untuk membencinya.
Cao Cao menarik nafas diam-diam lalu membuangnya. Mengamati penampilan Naruto lalu mengeluarkan pemikirannya.
"Kau habis berlatih dengan Horoboros?" tanya Cao Cao penasaran.
Naruto sadar yang dibicarakan dia. "Haha.…tiidak dattebayo."
"Tepat sekali. Horoboros tidak mungkin berbuat hal sekejam itu pada Naruto. Dia terlalu jinak." Asia setuju.
Naruto dan Cao Cao menatap getir Asia.
Bagaimana kau bisa lupa yang dialami Issei kemarin? Naruto sweatdrop.
Dasar maniak monster. Cao Cao berkomentar di hatinya.
Lalu dia mengingat sesuatu.
"Maaf semuanya, tapi aku pamit undur diri. Aku ada pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan," ujar Cao Cao.
Kushina berkedip.
"Oh, begitu. Sampaikan salamku pada Kunou jika bertemu dengannya," ujar Kushina, menyengir setelah menepuk pundak Cao Cao.
"Akan kusampaikan padanya jika bertemu nanti."
Cao Cao menjawab, tersenyum ke arah Asia dan Naruto sebelum melangkah melewati dua-duanya. Tujuannya adalah menuju ruang teleportasi.
"Aku rasa sudah saatnya kita pulang dattebane," kata Kushina, melirik Naruto.
Naruto mengangkat bahu, mengikuti ibunya dari belakang. Kebetulan Naruto juga ingin beristirahat.
Asia tersenyum melihat mereka bertiga pergi, kepalanya bergerak ke arah komputer dan kembali mengerjakan sesuatu.
"Papalial datang!"
Asia acuh tak acuh mendengar ledakan. Pintu besi ini terbuka dan masuk lah Tatsuya dengan ekspresi datar. Tapi tangan kanannya mengalir energi destruktif merah.
Asia melirik ayahnya.
"Ayah mau kubuatkan kopi?" tanya Asia berseri.
Tidak lama kemudian energi ini meredup. Tatsuya sedikit tersenyum pada putrinya.
"Tanpa gula."
–
Sementara itu di sisi lain Kota Kuoh, Kediaman Hyoudou, sumber suara hanya terdapat di salah satu kamar tidur di sini. Kamar yang diisi sepasang insan yang bersenggama dengan penuh kasih sayang. Celana dalam, baju, rok, dan sisa pakaian mereka berdua tergeletak di lantai.
Mereka berdua saling memegang masing-masing tangan dan mendesah bersamaan. Keringat terlihat di sebagian permukaan kulit mereka berdua.
"Tadi itu…" Issei menurunkan wajahnya melihat Le Fay. "…menyenangkan."
Le Fay tertawa geli, walaupun dia lelah tapi ekspresinya menunjukkan kalau dia juga puas. Beruntung kamar ini telah kedap-suara. Jika tidak tetangga di sebelah rumah pasti marah-marah.
"Aku juga berpikir demikian," kata Le Fay lembut.
Issei menyengir, mengecup bibir Le Fay dan berguling ke samping dan memeluknya dari belakang.
"Bulan begitu terang malam ini," gumam Le Fay, mengamati bulan dari balik jendela yang tertutup.
"Itu berarti Khonsu-san sedang gembira karena menang taruhan di kasino. Tsukuyomi-san kesal karena Susanoo-san berhasil mengerjainya, lagi. Dan… Artemis-san sibuk mengawasi hewan buruan yang akan menjadi target berikutnya," jelas Issei.
Le Fay berkedip. "Benarkah seperti itu?"
"Terkadang tidak. Tapi kita tidak akan tahu sampai bertemu langsung dengan mereka."
"Prometheus-san yang menceritakan itu padamu Issei?"
"Eh, aku pernah bertemu beberapa dari mereka. Tapi jika bisa aku akan sangat menjauh dari Khonsu-san dan Artemis-san."
Le Fay tahu kenapa Issei ingin menjauh dari dewi itu, tapi dia penasaran dengan dewa ini.
"Kenapa dengan Dewa Khonsu?"
"Khonsu-san pernah mengundangku dan Prometheus-san ke pesta mayat... versi egypt."
"Memangnya kalian ngapain di sana?" tanya Le Fay.
"Berdansa di bawah lampu disko," melihat tatapan bingung dari kekasihnya, Issei langsung menambahkan, "berita baiknya? Mereka semua mumi. Berita buruknya? Aku terlibat perkelahian hanya karena aku menjawab suka tisu buatan Jolly."
Le Fay sweatdrop. "Hanya karena merek tisu?"
"Harga diri mereka tersinggung. Bilang "Kenapa kau tidak suka Multi?!" atau "Plenty jauh lebih lembut! Pilih Plenty!" dan akan terus berlanjut jika aku tidak… smack-down mereka satu per satu," jelas Issei kesal, dan dia belum selesai bicara, "bahkan aku sempat berpikir bila peti yang dipakai menyimpan mumi semata-mata untuk mengetes seberapa bagus kualitas tisu yang dipilih mereka. Sungguh mengerikan jika itu benar."
Le Fay tertawa sambil menyeka air matanya, mendengar pengalaman Issei begitu konyol sampai dia ingin sekali berteriak saking lucunya.
"Jadi... Kapan studi sihirmu berakhir?" tanya Issei, mengabaikan rasa malu yang dirasakannya.
Tidak sepertinya yang menyelesaikan waktu di SMA selama tiga tahun. Sorcerer tidak memiliki batas waktu untuk belajar karena memang ilmu sihir itu tidak pernah habis jumlahnya.
Le Fay mengelus dagunya.
"Hmm… mungkin beberapa bulan lagi," balas Le Fay.
Issei mengangguk, mendapat pemikiran aneh di kepalanya.
"Sambil menunggu studi sihimu berakhir, bagaimana kalau kerja paruh-waktu menjadi cheerleader pribadiku?" tawar Issei.
Le Fay memerah wajahnya. "Aku sudah pernah melakukannya Issei."
Issei terkekeh, menarik Le Fay sehingga punggung dan perut mereka berdua saling menekan. Sejenak keheningan menyelimuti suasana mereka berdua sampai salah satunya berbicara.
"Aku jadi mengantuk."
"Kalau begitu tidur lah."
"Mmm, baiklah."
Tak lama Le Fay perlahan menutup matanya. Namun Issei masih terjaga dan menengok ke arah lain, mengambil bingkai yang berisi foto seorang anak kecil dan keluarganya di pantai. Mereka bertiga berseri menghadap ke arah kamera.
Sudah 2 tahun lamanya semenjak tragedi itu terjadi. Issei mengelus bingkai dengan senyum kecut. Di mana pun kalian berada sekarang, semoga kalian sehat dan baik-baik saja… Ayah. Ibu.
Walau sudah lama sekali, Issei masih mengingat kejadian menyakitkan tersebut. Tepatnya ketika dia masih siswa kelas satu di Akademi Kuoh sekaligus anggota dari "Trio Mesum."
Jika saja dia bisa memutar waktu, dia mungkin akan memperbaiki sikapnya dengan berusaha menjadi anak yang dapat membanggakan orang tuanya. Ini juga kalau dia tahu, bila waktu itu adalah hari terakhirnya dia melihat senyuman orang tuanya.
Issei menghembuskan nafas, meletakkan kembali bingkai dan perlahan tidur seperti Le Fay.
–
Naruto mengamati penampilannya di cermin. Masker menutupi sebagian sisi wajahnya. Sebenarnya ini terlihat bagus…
"Kau seperti om-om yang mengincar anak kecil dari sekolah dasar."
…atau mungkin tidak.
Naruto sweatdrop. Kau bercanda?
Kurama mendengus. "Bercanda? Aku? Itu lucu. Karena kuyakin membuat lelucon adalah departemenmu."
Guru Kakashi terlihat bagus memakai ini.
"Itu dia. Kau ya kau. Pastinya berbeda."
Jadi… aku hanya harus mengganti warna dari hitam ke jingga bukan?
"….."
"….."
"Aku lupa betapa jeniusnya dirimu."
Dia kesal. Kenapa aku merasa ingin melempar Rasenshuriken ke wajahmu?
Kurama terkekeh lalu ekspresinya menjadi serius.
"Naruto, kau sadar bukan?"
Membisu, Naruto sadar yang dimaksud partnernya ini.
"Mungkin ada alasannya Kurama. Cao Cao tidak mungkin memiliki dendam padaku. Aku bahkan belum mewarnai rambutnya."
"Sebenarnya aku hanya ingin bilang kau berbicara di depan cermin… dengan penampilan mencurigakan… dan seseorang sedang mengawasimu."
"Mengawasiku? Apa maksud…"
Lalu Naruto sadar adiknya berada di dekatnya. Dia melipat lengannya dan nampaknya sudah lama berdiri di ambang pintu.
"Aku tahu kalian sedang berbincang. Tapi lain kali tutup pintu. Jika ada tamu lewat dan melihatmu seperti tadi… " Jeanne memutar jari lengannya di samping telinga kirinya. "…mereka mungkin akan berpikir kau aneh. Apalagi dengan penampilanmu saat ini."
Naruto berkedip. "Kenapa dengan penampilanku?"
"Seperti om-om yang mengincar anak kecil dari sekolah dasar." Jeanne menyengir.
Naruto melongo. Kurama tertawa di kepalanya.
"Lihat? Bahkan adikmu setuju denganku."
"Ngomong-ngomong sarapan sudah siap. Cepat ke bawah atau tak ada sarapan!"
Jeanne pergi tanpa menunggu Naruto.
"Selamat bersenang-senang anak mama."
Ha, ha, ha.
Naruto menyimpan masker dan turun ke bawah, masuk ke ruang makan di mana mereka bertiga berada. Kushina mengenakan apron dan meletakkan setiap piring dengan lauk berbeda di meja. Minato membaca koran. Jeanne sibuk memegang ponsel-nya.
Melihat kedatangan Naruto, Kushina tersenyum.
"Pagi Naruto," ujar Kushina.
"Pagi juga bu." Naruto merespon sepenuh hati usai duduk.
Minato mengalihkan perhatiannya ke arah Naruto, korannya diabaikan sementara.
"Pagi Naruto." Minato tersenyum.
Naruto berseri.
"Pagi juga ayah," kata Naruto.
Kushina melihat Jeanne lalu menghela nafas.
"Jeanne, simpan ponselmu atau ibu sita dattebane," ancam Kushina.
Jeanne panik dan lekas menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Bagus." Kushina puas.
Mereka berempat menyatukan masing-masing tangan lalu berdoa. Lalu sarapan bersama-sama. Di sela-sela makan percakapan terjadi.
"Pekerjaan rumahmu sudah selesai, Jeanne?"
"Sudah ayah."
"Tak ada buku yang ketinggalan?"
"Sudah cek dua kali. Sebelum tidur dan bangun dari tidur."
Puas, Minato mengangguk. Minato beralih pada Naruto.
"Sudah memikirkan pekerjaan yang kamu inginkan Naruto?" tanya Minato.
Naruto membisu sejenak, mengangguk.
"Aku berniat menjadi penulis... "
Kushina dan Minato langsung mengamati Naruto. Naruto menelan ludah, ekspresinya horror melihat pandangam tajam dua-duanya. Naruto terasa seperti berhadapan dengan Guru Yamato lagi hanya dua kali lipat lebih buruk. Hanya Jeanne satu-satunya yang tidak terpengaruh sama sekali.
"…laga."
Seketika Minato dan Kushina tersenyum tipis, suasana yang tegang tadi sudah tiada.
Tadi itu hampir saja dattebayo. Naruto lega.
"Mungkin mereka berpikir kau akan menulis porno seperti guru mesummu itu." Kurama menyeringai. "Dan aku yakin kau akan membuatnya."
Aku fokus ke laga...
"Benarkah?"
...mungkin akan diselipkan sedikit….
"Heh. Punya keluarga yang bisa dijadikan inspirasi adalah keuntungan bukan?"
Diam.
"Jika sudah mulai menulis draf, mungkin ada baiknya kamu menemui Tatsuya. Pekerjaannya adalah editor." Minato menambahkan. "Usahakan buat alur cerita yang menarik dan tidak biasa."
"Pastikan porsi humornya banyak dattebane."
"Kushina, Tatsuya hanya menangani kategori suspense, thriller, crime, action, dan horror."
"Lalu?"
"Lalu kesempatan tulisan Naruto diterima mungkin kecil."
Kushina membentuk 'o' dengan mulutnya, mengambil piring-piring kotor dan mencuci di wastafel. Sementara itu Minato berdiri lalu mengambil tas-nya.
"Aku berangkat."
"Selamat jalan," kata Kushina menyengir.
Minato terkekeh, mencium pipi Kushina dan tidak lupa mengacak rambut Naruto dan rambut Jeanne. Dia menuju garasi rumah.
Lalu mereka bertiga mendengar suara mesin menyala.
"Menulis cerita hm?" Jeanne menyengir pada Naruto. "Semoga beruntung kak. Kudengar dari Asia ayahnya itu tidak menyukai pekerjaan yang dilakukan setengah-setengah."
Naruto berkedip lalu mengangguk. Sial.
"Selamat datang di dunia dewasa."
Berisik.
"Ngomong-ngomong mungkin ada baiknya kau segera mencari pasangan. Hatiku terasa sakit menyadari kau seorang dari keluargamu yang pernah cium sesama jenis," kata Kurama, menyeringai yang berarti dia menikmati penderitaan partnernya.
Jika aku akan mencari pasangan, pastinya yang sesuai dengan penampilan kuinginkan. Naruto merespon cepat.
"Biar kutebak, gadis emo dan arogan?"
Tidak seperti itu juga. Naruto sweatdrop. Baik terhadap keluargaku mungkin salah satunya. Tapi kalau bisa… rambut, atau iris matanya, jingga.
Kurama memutar bola matanya. "Semoga beruntung mencari gadis dengan referensi yang kau suka."
Pastinya ada Kurama. Aku hanya perlu mencarinya dattebayo.
"Ya, ya, terserah kau saja."
Naruto berkedip dan menyadari Jeanne telah tiada, menengok ke Kushina yang merapikan perabotan. Sepertinya saudaranya ini sudah pergi ketika dia berbicara dengan Kurama.
Kushina duduk sekaligus menatap Naruto, ekspresinya serius.
"Bagaimana kabarmu Kyu… maksudku, Kurama?"
Naruto terdiam, sesaat kemudian iris mata birunya berubah ke merah vertikal.
"Baik seperti biasanya." Kurama mengangkat bahu. "Berdebat dengan putramu. Tidur. Berdebat dengan putramu. Tidur. Tidur. Berdebat dengan putramu. Dan tentu saja… berdebat dengan putramu. Boleh aku tidur sekarang?"
Kushina menaikkan sebelah alisnya.
"Kelihatannya Naruto benar-benar telah mendapat kepercayaanmu," ujar Kushina.
Kurama memutar bola mata… Naruto. "Kau masih belum selesai bicara bukan?"
"Kau benar." Kushina mengangguk. "Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih."
"Huh?"
"Terima kasih karena telah menjaga Naruto selama ini."
Kurama berkedip. "Kau tidak lupa aku pernah mencoba membunuh putramu bukan?"
"Tentu saja aku ingat. Namun, aku mendengar dari Minato berkat dirimu juga Naruto bisa bertahan hidup di medan perang. Sekali lagi… terima kasih."
Berdiri, Kushina lalu berjalan beberapa langkah ke ruang tamu.
"Ah, satu hal terakhir."
Dia melirik Kurama dengan ekor matanya.
"Selamat datang di keluarga, Kurama."
Kushina menyengir dan menggerakkan kakinya lagi.
"…."
Kurama tertegun. Tak perlu perkataan untuk mengetahui emosi yang dirasakannya. Bahkan pemikirannya kosong dan Kurama tidak tahu harus bereaksi seperti apa setelah… pernyataan yang diucapkan dia.
Perlahan iris mata merah vertikal kembali ke iris mata biru.
Naruto menghembuskan nafas, mengamati jendela dan memeriksa keadaan di luar. Mau mencari angin segar Kurama?
"Barangkali… itu pilihan bagus."
–
Naruto bergerak pelan dengan mengenakan pakaian training. Berlari santai dan menikmati angin sejuk yang terkadang dirasakan kulitnya. Kali ini Naruto di trotoar dengan maksud mengelilingi Kuoh seorang diri. Naruto sempat melihat beberapa orang dengan penampilan berbeda dan melewati mereka.
Begini tidak buruk. Naruto berpendapat.
Tak ada yang lebih baik selain menikmati yang ditawarkan lingkungan. Naruto sendiri sudah pernah tinggal sementara di alam bebas, jadi dia sudah biasa dengan hal ini.
Tetap saja Naruto harus waspada. Hal ini disebabkan hawa yang didapatnya dari Murayama. Kecil tapi masih bisa dirasakannya.
Mungkin aku harus mengawasinya dengan klon. Untuk berjaga-jaga. Naruto berpikir.
"Jangan lupa bocah Cao Cao itu. Kau harus waspada juga padanya."
Aku juga tahu Kurama.
Naruto terus berlari sampai akhirnya berhenti, melihat lampu lalu lintas telah menyala di merah. Bukan dia saja yang menunggu karena mengelilinginya adalah sejumlah pria dengan wanita. Setelah berubah ke hijau baru orang-orang ini berjalan ke sisi lain jalan.
Naruto tidak mengikuti yang lain dan mengambil arah kiri, berlari santai lagi dengan pandangan lurus. Naruto mulai sadar kalau suasana sekitarnya sepi. Mungkin karena hari masih pagi makanya area ini belum dipenuhi orang.
Lalu Naruto mendengar suara seseorang, terdengar tak jauh dan berada di dekatnya.
[Haruka Chigusa - Lonely Feather]
"In my eye and in my way… In the sky so far away...Are you hiding in the grey… I am on my way to find you…./Di mataku dan di jalanku… di langit yang begitu jauh... Apakah kau bersembunyi di bawah kelabu… Aku dalam perjalananku untuk menemukanmu…."
Kedengarannya seperti ada yang sedang bernyanyi.
Naruto dilanda rasa penasaran mendekati sumber suara. Tidak terasa Naruto sampai di taman.
"In the shadow where you lay… In the darkness I'll be praying one by… one, in a lonely lullaby.…/Di bayangan di mana kau berada… Di dalam kegelapan aku akan berdoa satu demi… satu, dalam sebuah nyanyian tidur sepi…."
Di tengah taman, gadis seusianya berdiri dengan rambut ungu panjang dan kulit sebening kaca. Dia mengenakan gaun putih sekaligus memakai rok mini hitam. Layaknya jenis pakaian yang biasa dikenakan keturunan bangsawan.
"Dancing like a lonely feather. In the windy weather. Looking for a beacon and some clarity. Long to fly again together. And I wonder whether we will ever find our melody./Menari seperti sehelai bulu yang kesepian. Dalam cuaca yang berangin. Mencari sebuah mercu suar dan kejelasan. Merindukan untuk terbang bersama kembali. Dan aku bertanya-tanya apakah kita akan menemukan melodi kita."
Ekspresinya begitu tenang. Halus. Damai. Seolah tak ada beban dalam hidupnya. Gadis ini memejamkan mata ketika mengucapkan barisan demi barisan kalimat. Itu merupakan lirik dari lagu yang dinyanyikannya.
"Over mountain and below the stars. Light my way so I know where you are. And find me, anywhere and anytime I sing my song for you./Di atas gunung dan di bawah bintang-bintang. Sinari jalanku sehingga aku tahu di mana kau berada. Dan temukan diriku, di mana pun dan kapan pun aku menyanyikan laguku untukmu."
Aneh. Naruto tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari dia. Seakan ada sesuatu yang membuatnya tertarik mengamati gadis ini. Kecantikannya begitu... indah, bukan seperti yang biasa ditemukan di manusia. Bahkan terasa seperti gadis ini bukan manusia.
"Tidak mungkin perempuan ini manusia. Bukankah kau setuju Naruto?"
"….."
"Naruto? Hey Naruto?"
"….."
"Naruto!"
"….."
"My tomorrow my today…. It is time for you to find your way…./Hari esokku hari kiniku… Ini adalah saat bagimu untuk menemukan jalanmu…."
Sesudah lirik berakhir gadis ini menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya. Gadis ini membuka matanya dan menatap Naruto.
Naruto tercengang melihat warna iris mata gadis ini.
Jingga. Iris mata gadis ini adalah jingga. Bukan palsu tetapi natural. Ini kebetulan yang tidak lucu sebetulnya. Namun sekarang, Naruto bertemu seseorang yang memang sudah memenuhi kriteria pasangan yamg diinginkannya.
Kurama sweatdrop. "Oi. Oi. Oi! Oi! Kebetulan macam apa ini!"
"..."
Tak ada yang berbicara. Dua-duanya hanya saling pandang sampai akhirnya gadis ini mulai menangis.
Kau nyata… Kau benar-benar nyata…
"Huh?" Naruto panik melihatnya seperti itu. "O-Oi, kau baik-baik saja?"
…bukan imajinasi… kita bertemu di tempat ini… persis seperti yang kulihat di mimpiku...
Naruto tidak paham mengapa gadis ini tiba-tiba menangis. Namun, dia tahu yang harus dilakukannya saat ada perempuan menangis.
Naruto langsung menyerahkan handuk kecil yang dibawanya kepada dia. Namun, mengingat Naruto belum memakainya maka ada baiknya menyerahkan handuk kecil kepada yang membutuhkannya.
"Ini, pakai lah."
Gadis ini tertegun, tidak banyak bicara dan mengelap air matanya dengan handuk kecil ini. Gadis ini lalu menyerahkan itu pada Naruto.
"Terima kasih," kata gadis ini lembut.
Naruto terkekeh.
"Sama-sama," ujar Naruto.
Keheningan melanda situasi mereka berdua. Sampai dia berbuat sesuatu yang membuat Naruto berkedip.
Gadis ini memegang ujung rok-nya dan membungkuk, menegakkan badan sebelum menampilkan senyum simpul.
"Namaku Ingvild. Senang bisa bertemu denganmu Naruto."
Naruto menyengir… kemudian sweatdrop.
Dari mana dia tahu namaku dattebayo?!
–
.
.
.
.
T-B-C
.
.
.
.
Balas review:
Labut: Yah sebenarnya gak terlalu langka kok.
Coba cek fic The Lost Purple Dragon Emperor karya author Dewi Aphrodhite.
Itu juga fic indo naruto dxd sama Xmen :D
Desasto: Ya begitulah haha. Agak kompleks memang :)
CrashBegono: Err bro/sis. Nulis itu karena hobi oke? Santai ae :D
Dah: Mungkin enggak. Author sendiri ga terlalu fokus ke itu :)
NoName: Yah semua naruto di fandom juga tetap naruto kok. Cuma ya beda saja sesuai dari authornya mau sikapnya gimana :)
Des: Siv. Makasih komennya :)
Guest: Benarkah? Haha, ya bisa dibilang Author memang agak kesulitan dalam mengatur sikap mc seperti naruto. Jadi mungkin ada ruang yang harus diisi :)
Soal ini versi naruto yang mana, jawabannya ada di chapter lain nanti :)
Well, soal terlalu banyak karakter tentunya bisa diatur. Tidak mungkin semuanya harus dimasukkan ke satu arc tanpa alasan bagus bukan? :)
ryokusuma99: AKHIRNYA review ini ada juga wkwkwk. Senang author jadinya PLUS ULTRA YEAH :D
Ndak, Asia ga jadi Riku. Bisa dibilang mereka berdua saudara tiri di fic ini.
Soal interaksi bisa diatur. Tapi ya ga bakal banyak perubahan kayaknya :)
mrmangetsu: Mungkin sedang sibuk di dunia nyata. Ya author juga sibuk sih jadi makanya updatenya ga nentu :D
Haha, maaf ya updatenya lama :D
Guest: Oke. Pastinya nih!
aulshi: Hehe, neng Gabriel bakal tetap jombs. Karna Babang Naru udh punya pasangannya :D
Dasgun: ^_^
Guest: Yap. Naruto versi ini kena nerf. Karena judul Ninja Super bukan hanya pajangan semata.
Kenapa? Ma, nanti juga ada alasannya kok :)
its me gum: Wokeh. Sama-sama readersan!
Tsukinano: Wkwkwk. Tentunya belial si ultra sangar(tapi tidak di fic ini hoho!)
Author juga terinspirasi buat fic ini karena nonton absolute conspiracy sih hehe peace :D
Guest: Kau juga mantap!
FI. StarXPhenex: Wkwk. Yep. King Ghidorah itu naga sangar. Wajar dan wajib dipakai :v
FCI. Wiesnoe. Family. Ok: Wokeh!
Kao uga semangat nulisnya!
Unlimited Lost Works: Wo iya dong. Om dan keponakan seumuran Biar koplak ae haha!
Latar belakang beda pastinya ooc!
Wokeh. Makasih reviewnya :D
Petrus19vengeance: siap!
Sudah up ni!
bAhmad: wokeh! Nice comment!
Yeah, pastinya bakal ditunjukkin kemampuan naruto yang lain. Seiring chap berbeda pastinya :D
Pairnya sudah kelihatan loh. Ingvild-chan sudah keluar hoho :D
AN:
Sebelumnya terima kasih bagi reader yang berkunjung. Author sungguh senang jika ada yang senang dengan karya author dan mau membacanya!
*Author tepuk tangan meriah*
Maaf updatenya lama. Biasa urusan lain dan semacamnya :D
Chap kali ini hanya menunjukkan sebagian kehidupan sehari-hari karakter utama. Jadi hanya sedikit hal serius.
Bisa dibilang author ada rencana buat karakter sampingan dxd sebagai faktor penting. Tidak semua tentunya. Uhuhu :D
Baca dan review kalau kalian suka. Oke?!
Peace.
