Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto
Summary : Dunia Shinobi selalu dihadapkan dengan perang, para penjajahakan selalu datang. Sekali lagi, ada pihak yang menginginkan kehancuran dunia Shinobi. Apakah Sang Pahlawan akan kembali mempertahankan perdamaian?, meskipun dia telah kehilangan seluruh dunianya.
Genre : Romance, Drama, Family, Adventure
Rate : M
Pair : NaruSaku, Pair lain nyusul
Setting : Semi-Canon
Warning : OOC, MultiUniverse, Ide pasaran, Gaje, Berantakan
Happy reading...
•
•
Chapter 3. Musuh Telah Tiba
•
Kantor Hokage darurat, Konohagakure
Naruto mendudukkan pantatnya dengan lemas di sofa ruang tamu kantor Hokage darurat. Kakashi, Tsunade, Sai, Shikamaru dan Sasuke menyusul setelahnya. Beberapa saat yang lalu mereka baru saja keluar dari ruang rapat. Rapat berlangsung cukup lama, karena dua orang tetua keras kepala itu tidak mempercayai berita yang Naruto bawa.
Butuh waktu bagi Naruto Uzumaki, untuk meyakinkan kedua orang tua itu dengan ceramah no jutsu andalannya. Naruto heran dengan mereka berdua, Bukankah mereka tidak pernah ikut berjuang dan selalu berlindung ditempat yang nyaman?, tapi mereka bertindak seolah-olah seperti pahlawan yang harus mempertaruhkan nyawa dimedan perang.
Mereka menolak mentah-mentah seluruh penjelasannya dan menganggapnya sebagai peniru yang menebar teror. Bahkan mereka menuduh Naruto sebagai dalang dibalik penyerangan Ginshiki tadi siang. Mengingat hal tersebut membuat Naruto ingin melemparkan mereka ke dasar jurang.
"Naruto, beritahu kami apa yang harus dipersiapkan" Ucap Kakashi membuka percakapan, dia duduk berhadapan dengan Naruto.
"Menurut penjelasanmu tadi siang, kau mengetahui kan apa saja yang diperlukan untuk mengantisipasi kekalahan?" Shikamaru menambahkan dia berbaring di sisi lain sofa.
"Kita membutuhkan segalanya yang kita punya" Balas Naruto dengan raut serius yang jarang ditampilkannya.
Semua diam mendengarkan, membiarkan Naruto melanjutkan penjelasannya.
"Sasuke kau menyimpan mata Madara kan? Berikan itu pada Kakashi-sensei" Ucapan Naruto membuat semua mata terbelalak. Netra biru Naruto menatap lurus Sasuke.
"Satu lagi pengguna Sharingan akan sangat membantu disini, terlebih untuk melawan 10.000 Pasukan khusus Otsutsuki" Tambahnya.
"Mata Madara adalah Mangekyou abadi dan telah membangkitkan Rinnegan, Kapasitas cakra Rokudaime tidak akan mampu menggunakannya secara optimal" Jelas Sasuke dengan wajah datar. Dia sebenarnya sedikit tak rela menyerahkan mata Madara kepada Kakashi.
"Aku sudah mempunyai solusi untuk itu, aku sudah menghubungi seluruh Bijuu dari universe ini, mereka setuju untuk membantu, tapi mereka membutuhkan Jinchuriki, karena menerjunkan Bijuu tanpa Jinchuriki sama dengan menyerahkannya ketangan musuh" Naruto mengambil nafas dan mengalihkan pandangan menatap Kakashi.
"Ginshiki tadi siang membawa kendi dipunggungnya kan, itu adalah alat khusus Otsutsuki yang dapat menyerap Cakra Bijuu dengan cepat"
"Dalam kasus ini, Kyuubi atau Kurama akan bertarung bersama Kakashi-sensei, dia akan menyediakan cakra tak terbatas untuk menopang mata Madara" Lanjut Naruto.
Sasuke hanya mengangguk dan membuat segel dengan satu tangannya. Muncul sebuah botol bersama kepulan asap, botol itu berisi sepasang mata Madara yang mengapung dalam cairan berwarna hijau bening. Dengan berat hati Sasuke meletakkan botol berisi peninggalan leluhurnya itu keatas meja.
"Nenek, segera pasangkan mata itu ke Kakashi-sensei" Naruto berujar sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Eh, sekarang?" Kakashi bertanya dengan keterkejutan.
Naruto hanya membalas dengan anggukan.
"Naruto, Rokudaime-sama besok masih harus bertugas, tak mungkin kan dia mengerjakan dokumen dengan mata tertutup perban" Sahut Shikamaru tanpa membuka mata, tubuhnya masih terbujur lemas diatas sofa.
"Cakra Senjutsu Rikudou ku akan langsung menyembuhkan Kakashi-sensei, tak perlu khawatir dengan itu"
"Oh, aku ingat bukankah cakramu itu menumbuhkan mata kiriku waktu mata Obito diambil Madara"
Naruto mengangguk, kedua kakinya disilangkan.
"Baiklah Nenek, pasangkan mata itu sekarang" Perintah Naruto terdengar seperti seorang bos. Membuat urat-urat kemarahan muncul didahi mulus Tsunade.
"Sopanlah sedikit dengan orang yang tua bocah" Ujarnya sambil menjitak kepala pirang itu dengan keras.
Mengabaikan ringisan Naruto, Tsunade segera memulai operasi transplantasi mata Kakashi. Dia mengeluarkan alat bedah dari gulungan yang selalu dibawanya. Bagi seorang Kunoichi medis sekelas Tsunade Senju, operasi ini tergolong mudah dan cepat. Hanya butuh lima belas menit bagi Tsunade untuk menyelesaikannya.
Setelah selesai mengoperasi mata Kakashi Tsunade menyerahkan sisanya pada Naruto. Naruto menempelkan telapak tangannya diatas mata Kakashi. Cakra kuning keemasan muncul dari tangan Naruto dan meresap kemata Kakashi, selang beberapa detik mata Kakashi mengeluarkan sedikit asap dan Naruto kembali ketempat duduknya.
"Kau bisa membuka matamu sekarang sensei"
Kakashi membuka matanya dengan sedikit ragu, tampak mata merah Sharingan biasa disana, kemudian berubah menjadi pola yang lebih rumit yaitu Eternal Mangekyou Sharingan kemudian berubah lagi menjadi abu-abu keunguan berpola riak air.
Kakashi linglung saat mengaktifkan Rinnegan, matanya sontak berubah lagi menjadi hitam segelap langit malam.
"Hah, Sasuke benar, mata ini sangat menguras cakra" Ucap Kakashi dengan nafas terengah-engah.
"Satu rencana sukses, kita berlanjut ke rencana lain" Netra biru Naruto beralih menatap Sasuke.
"Sasuke, kau juga menyimpan Gedou Mazou kan? besok temui aku dihutan kematian, aku berencana membangkitkan Juubi dari setengah cakra sembilan Bijuu dari universe asalku"
"Kau gila bukanya mengirim Bijuu kemedan perang tanpa Jinchuriki sama dengan menyerahkannya ketangan musuh"
"Tentu saja kau yang akan menjadi Jinchuriki nya" Ujar Naruto enteng.
"Itu tidak mungkin, aku tidak akan mampu mengendalikan Juubi meski kekuatannya hanya setengah"
"Tentu saja kau mampu Teme, tolonglah ini sangat diperlukan jika kita ingin menang" Pinta Naruto dengan wajah memohon yang malah terlihat menjijikkan dimata Sasuke.
"Hah baiklah" Sasuke menyadari jika tak ada gunanya berargumentasi melawan Naruto. Sahabat pirangnya itu terlalu keras kepala untuk mengalah.
"Dan yang terakhir Sasuke, pergilah ke tempat Orochimaru, dulu Orochimaru pernah berkeinginan menguasai seluruh dunia dengan kekuatan Edo Tensei, dia menyimpan ribuan sampel Shinobi kuat dari masa lampau, Sampel milik Orochimaru jauh lebih banyak dari yang Kabuto bangkitkan pada perang dunia Shinobi keempat, gunakan Zetzu Putih yang terjebak dalam Genjutsumu untuk tumbal Edo Tensei. Selain katakan padanya jika aku bersedia membantu proyeknya jika dia mau diajak bekerja sama dalam perang ini" Ucap Naruto panjang lebar.
"Hn" Sasuke mengangguk tanpa banyak tanya dia langsung menghilang bersama kepulan asap.
"Sebenarnya ada yang sejak tadi mengganggu pikiranku, Naruto" Sahut Shikamaru setelah kepergian Sasuke.
"Jika Isshiki mampu membangkitkan pohon Shinjudan dengan sekejap mata dia bisa mengikat semua makhluk hingga mati, apa yang bisa kita lakukan jika dia langsung melakukan hal tersebut setibanya disini, seluruh usaha kita hanya akan sia-sia" Tanpa membuka mata Shikamaru mengungkapkan hal yang mengganggu pikirannya.
"Shikamaru benar, apa kau punya solusi untuk itu Naruto?" Kakashi menambahkan.
"Aku punya dua solusi untuk itu, yang pertama adalah dengan memindahkan semua orang ke dimensi buatan Kaguya, tapi itu percuma karena kemampuan Urashiki, mereka pasti akan mengejar kita, kalaupun ingin membunuh Urashiki itu juga tidak mungkin, dia selalu berlindung di balik tubuh Isshiki yang selalu melindunginya" Jelas Naruto.
"Dan opsi kedua?" Tanya Tsunade tak sabar. Dahinya mengerut, dia manyumpahi Naruto sikap yang seperti mendramatisir keadaan.
"Setelah aku memakan buah dewa aku memiliki kekuatan seperti Kaguya, yaitu membuat dimensi tapi mengingat kemampuan Urashiki hal itu juga sia-sia, untuk mematahkan kemampuan Urashiki aku harus melindungi dimensi buatan ku dengan Fuinjutsu tingkat atas yang saat ini belum mampu aku kuasai, satu-satunya Fuinjutsu tingkat atas yang mampu aku kuasai adalah Hiraishin, aku mampu menguasainya sebab itu adalah teknik peninggalan Nidaime yang disempurnakan oleh ayahku" Naruto mengambil nafas.
"Opsi kedua ini, untuk sekarang belum dapat dilakukan" Sambungnya kemudian.
"Kau akan berusaha melakukannya kan Naruto?"
"Apa maksudmu sensei?" Tanya Naruto tak mengerti.
"Kau tadi memaksakan kehendakmu kepadaku dan Sasuke, kali ini kau harus melakukan kehendak kami, Kami ingin kau harus segera menguasai Fuinjutsu tingkat atas dan melakukan opsi keduamu tadi" Ujar Kakashi penuh penekanan.
"Tidak cukup waktu untuk melakukan opsi kedua sensei, Isshiki akan segera menyerang sebelum aku berhasil menyelesaikannya" Argumen Naruto didasari oleh Fuinjutsu tingkat atas yang belum dikuasai.
"Sejak kapan kau jadi pesimis seperti, dasar merepotkan"
"Maka dari itu cepatlah memulai bocah, jangan mengeluh terus" Tsunade menimpali.
"Godaime benar Naruto, jika ingin dapat menikmati kemenangan opsi kedua adalah satu-satunya pilihan" Ucapan Kakashi mendapatkan persetujuan dari semua orang disana, Naruto menatap satu persatu orang yang menatapnya seolah berkata 'kau harus melakukannya Naruto' Dengan lesu Naruto menjawab.
"Baiklah aku akan berusaha, tapi aku tak janji"
Memang tidak ada pilihan lain. Jika Naruto tidak menjalankan opsi kedua sudah pasti universe ini akan berakhir sama dengan empat universe lainnya. Satu-satunya cara adalah melakukan opsi kedua. Naruto akan berusaha keras untuk melakukannya.
"Itu baru Naruto yang aku kenal" Ujar Kakashi dengan penuh kebanggaan.
"Itu semua belum cukup, aku yakin Isshiki menyadari keberadaanku dia pasti akan membawa kekuatan yang lebih besar dari yang dibawanya di empat universe lainnya"
"Setelah ini aku akan membuat bunshin dan mengirimkannya ke negara iblis untuk membangkitkan iblis Moryuu, kekuatan pasukan batu abadinya bisa kita gunakan untuk pengalih perhatian dan pasukan garis terdepan untuk menghambat laju pasukan Isshiki" Naruto menjelaskan dengan singkat rencananya.
"Kau yakin bisa bernegosiasi dengannya Naruto, setahuku tujuan iblis Moryuu hampir sama dengan Isshiki untuk menghancurkan dunia?" Kakashi tampak tidak terlalu yakin dengan rencana Naruto. Dahinya mengerut dan menatap malas Naruto.
"Dengan kekuatan baruku semuanya menjadi mungkin, Aku punya Genjutsu super kuat mirip Kotoamatsukami milik Shisui Uchiha, tapi aku tidak bisa asal melakukannya, Jutsu ini memiliki cooldown waktu tiga bulan lamanya"
"Dari tadi kau bilang tentang kekuatan barumu bocah, tapi sensorku mengatakan jika tak ada aura yang berbeda darimu?" Tanya Tsunade menyelidik. Irisnya memicing kearah Naruto dan membuat Naruto sedikit gelagapan karena ditatap seperti itu oleh Tsunade.
"Setelah berhasil menguasai seluruh kekuatan baru aku bisa mengendalikannya dan menekan auraku agar seperti biasa, jika tidak menekan seluruh kekuatanku wujudku akan berubah menjijikkan" Dengan gugup Naruto menjelaskan.
"Jadi kau tidak menekan seluruh kekuatan barumu, wajahmu yang sudah jelek akan semakin jelek, jadi itu yang coba kau katakan?" Ujar Sai dengan senyum palsunya.
Pertanyaan Sai mengundang gelak tawa orang yang disana. Naruto mendelik tajam.
Sai yang sedari tadi diam, sekali bicara langsung menohok hati Naruto. Sai sebenarnya tidak bercanda dengan apa yang dikatakannya. Dia hanya mengatakan pertanyaan yang muncul dikepalanya. Salahkan sifatnya yang terlalu polos memahami perasaan manusia.
"Mulutmu masih saja tidak terkontrol, Sai"
"Terimakasih atas pujiannya"
Tak mau terlalu memikirkan perkataan Sai, Naruto kembali menjelaskan rencananya yang lain. Dia akan memproduksi pil-pil cakra untuk para Shinobi setelah selesai dengan dimensi buatannya. Pil cakra itu bisa mengaktifkan mode Cakra bijuu seperti yang dia bisa gunakan setelah berlatih di pulau kura kura pada masa perang dunia Shinobi keempat.
Mode cakra Bijuu sangat berguna untuk meningkatkan kekuatan pasukan aliansi Shinobi. Dia juga akan memasok pil khusus dari senjutsu Rikudou. Berbeda dari pil cakra biasa, pil senjutsu Rikudou berguna untuk memulihkan stamina dan menyembuhkan luka orang yang mengonsumsinya.
Mereka bercakap-cakap tentang rencana dan persiapan perang hingga tak menyadari jika waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kakashi memutuskan untuk menyudahi percakapan dan melanjutkannya esok hari. Mereka bubar dengan tujuan berbeda.
Naruto berencana untuk pergi kerumah Sakura, karena kedua anaknya berada disana.
•
Rumah keluarga Haruno, Konohagakure
Naruto menatap pintu rumah keluarga Haruno dengan ragu. Dia bingung memilih antara mengetuk pintu terlebih dahulu atau langsung berteleportasi ke tempat kedua anaknya.
Tangannya terulur kearah pintu, tapi berhenti ditengah jalan.
Jika dia mengetuk pintu dia takut mengganggu istirahat Sakura dan kedua anaknya. Jika dia langsung berteleportasi maka akan melanggar norma kesopanan dan membuat Sakura berpikir yang tidak-tidak kepadanya. Tapi bukankah dia dulu tak pernah peduli dengan tata krama?. Dia saja memanggil Godaime Hokage dengan sebutan Nenek, seharusnya dia tidak peduli dengan hal sepelik ini.
Tapi alasan sebenarnya Naruto, Karena ini adalah rumah Sakura, rumah orang yang sama tapi berbeda dengan orang yang melahirkan kedua anaknya. Singkatnya dia belum siap bertemu Sakura. Dia belum sempat memikirkan kata-kata yang akan dikatakannya pada Sakura. Bukankah seharusnya senang? dapat melihat sosok yang dicintainya itu masih hidup, alih-alih terbaring kaku dengan batangan hitam menembus dadanya.
Rasa bersalah memenuhi hati Naruto, Isshiki membunuh Sakura karena dirinya. Isshiki sengaja mempertontonkan kematian Sakura didepan matanya untuk menghancurkannya. Secara tidak langsung dialah penyebab kepergian sosok ibu dari kedua anaknya.
Naruto sudah memutuskan untuk tidak masuk ke lubang yang sama. Ia bersumpah tidak akan lagi merasakan kenikmatan cinta, karena kenikmatan cinta mampu memberikan rasa sakit yang berlipat ganda jika kehilangan.
Jika mereka menang perang ini, dia sudah berjanji, dia akan pergi kembali ke universe asalnya, Kedua anaknya ia titipkan pada Sakura. Dan dia akan hidup sendirian hingga ajal datang menjemputnya.
Terlalu lama memikirkan keputusan, Naruto hingga tak mendengar langkah kaki seseorang dari dalam.
"Naruto kaukah itu?" Suara serak khas seperti orang yang baru bangun tidur membuyarkan lamunan Naruto.
Naruto terkejut setengah mati. Menyesali keputusannya untuk pergi kerumah Sakura. Tanpa menunggu jawaban dari luar, Sakura membuka pintu.
Netra biru laut Naruto menangkap sosok berambut merah muda yang agak kusut. Wajah ayu itu menampilkan guratan lelah, emeraldnya sayu sehabis bangun tidur. Dia menggunakan daster tipis berwarna kuning cerah yang sedikit transparan dan menampilkan sepasang baju dalamnya.
Naruto terperangah melihat sosok yang berdiri didepannya. Dia tadi memang bertemu dengan orang yang dicintainya itu. Namun, dia tadi tidak sempat untuk memperhatikannya secara langsung. Dia terlalu sibuk dengan berita buruk yang dibawanya, hingga melupakan kehadiran Sakura.
Entah kenapa perasaan yang selama ini ia tahan membuncah begitu saja. Dia sangat merindukan sosok ibu dari anak-anaknya. Dia tahu Sakura yang didepannya ini bukanlah orang yang sama dengan orang yang melahirkan anak-anaknya. Tapi hatinya seolah mengingkari pikirannya sendiri.
"Ehh, Sakura-chan apa aku mengganggumu?" Tanya Naruto sedikit basa-basi meski dirinya tahu kalau sekarang ini dirinya menggangu istirahat Sakura.
Dahi lebar Sakura mengerut mendengarnya. "Apa yang kau katakan Naruto? ayo masuklah" Ucap Sakura mempersilahkan.
Dengan sedikit ragu Naruto melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu kediaman Haruno. Dinding ruang tamu itu didominasi oleh warna putih, dengan berbagai foto dan pajangan yang terpasang disana. Netra biru laut menangkap foto Sakura yang masih kecil, membuatnya teringat akan kenangan pada masa akademi.
"Kau sudah makan Naruto?" Tanya Sakura yang berdiri di gawang pintu.
Naruto hanya mengangguk, kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika perutnya berbunyi keroncongan. Hal tersebut mengundang kekehan kecil Sakura.
"Ayo ikut aku" Isyarat Sakura membuat Naruto mengekorinya kedalam ruang dapur dirumah itu.
Sakura mengambil makanan dari dalam kulkas dan memanaskannya diatas kompor.
"Sebaiknya kau mandi dulu Naruto baumu seperti keringat" Perintah Sakura mendapatkan anggukan dari Naruto. Setelah memberitahu letak kamar mandi pada Naruto, Sakura kembali sibuk dengan makanan yang dihangatkannya.
Beberapa menit kemudian, Naruto yang sudah selesai mandi kembali ke dapur, tubuhnya nampak lebih segar dan harum. Netra biru laut Naruto menangkap masakan sederhana yang tersaji di atas meja.
"Ayo makanlah, maaf hanya ini yang dapat kuberikan"
"Ini sudah lebih dari cukup, Sakura-chan" Naruto mengambil tempat duduk berhadapan dengan Sakura. Dia mengambil sepiring nasi dan lauk sederhana yang tersaji disana. Berdoa sejenak, kemudian menikmati makanannya dengan lahap dan terkesan terburu-buru.
Naruto tidak ingat, kapan terakhir kali dia makan masakan normal seperti ini. Isshiki benar-benar menghancurkan dunia asalnya sampai tak tersisa. Bahkan bisa dibilang tempat asalnya itu sudah rata dengan tanah. Kalau dia tidak belajar menggunakan Mokuton, dia pasti sudah mati kelaparan sejak dulu.
Naruto bersyukur dirinya masih diberi kesempatan untuk menikmati makanan normal. Tujuannya untuk memberikan kehidupan normal anaknya sudah dekat. Tergantung pada dirinya sendiri, dia harus memenangkan perang ini agar tujuannya itu dapat tercapai.
Sakura mengulum senyum geli melihat tingkah Naruto yang makan seperti anak kecil. Perilaku Naruto saat ini mengingatkannya akan kenangan saat ia dulu sering menemaninya makan ramen di kedai Ichiraku. Dulu Naruto sering memaksanya untuk ikut ke Ichiraku.
Ia tadi sudah mendengarkan sedikit banyak cerita dari Hanami, tentang Ayahnya yang terpuruk setelah kepergian Ibunya. Naruto selalu berusaha tampak tegar demi kedua anaknya. Dibalik wajah cerah yang selalu tersenyum itu, Sakura tahu ada ribuan luka dan rasa sakit yang dia pendam.
Sakura bisa melihat beban berat yang dipanggil seorang diri dibahu kokoh pria didepannya. Setelah mendengar cerita dari mulut Hanami, Sakura bertekad untuk membantu meringankan beban sosok didepannya. Dengan terus bersamanya, menyemangati ketika dia sedang putus asa, menghiburnya ketika duka datang padanya.
Dulu sosok itulah yang selalu menjaganya dengan sepenuh hati, tak terhitung berapa banyak luka yang didapat pria itu ketika menyelamatkan dirinya, pria itulah yang selalu bersamanya dan mempertahankan senyumnya.
Kini ia berjanji akan membalas budi Naruto, bukan hanya membalas budi tapi karena hatinya juga menginginkannya. Hatinya ingin dia bersama Naruto. Meski Sakura tahu, dia bukanlah Naruto nya. Hati Naruto didepannya sudah menjadi milik Sakura yang lain. Tapi perasaannya pada pria didepannya sama dengan yang dia rasakan pada Naruto nya. Dulu Naruto yang selalu memperjuangkan perasaannya. Kini akan berusaha sepenuh hati dan memenangkan perasaan Naruto untuknya.
Meski dirinya harus menarik lagi kata-katanya pada Sasuke, Sakura tidak peduli. Dia yakin Sasuke akan mengerti keputusannya.
Kekehan kecil Sakura membuat tatapan Naruto kearahnya, Sapphire itu menatap lembut emerald yang balas menatapnya dengan tatapan yang sama. Mereka berdua saling terpaku dan menikmati keindahan masing-masing. Saling melepas kerinduan tanpa ada kata yang terucap. Mereka paham dengan arti tatapan satu sama lain. Tapi sang pria telah memantapkan tekad untuk tidak terpengaruh dengan urusan semacam ini, dia lelah merasakan cinta karena cinta menimbulkan kehilangan. Sedangkan sang gadis akan selalu berjuang untuk mengembalikan hati beku pria yang didepannya.
Naruto menunduk, tak mampu lagi untuk menatap emerald Sakura, tatapan itu mampu membuat tekad dan sumpah yang telah ia bangun kembali goyah.
"Kau tidak ikut makan, Sakura-chan" Sayangnya ucapan itu tak mampu mengalihkan emerald yang masih menatapnya.
Sakura tersenyum simpul paham dengan apa yang coba dilakukan oleh Naruto.
"Aku sudah makan malam tadi bersama anak-anak"
Entah kenapa ditelinga Naruto, kata 'anak-anak' yang diucapkan Sakura, terdengar seolah Sakura ingin mengatakan 'anak-anak kita'.
Bukankah Hanami dan Shinachiku memang anak Sakura?
Hal itu sangat menggoyahkan tekad dan sumpah Naruto. Hatinya terus berteriak mengatakan.
Bukankah kau kesini untuk memberikan kehidupan yang normal kepada kedua anakmu?
Kehidupan yang normal anak-anak adalah ketika dia mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tua. Kau adalah ayah mereka, dan Sakura secara tidak langsung adalah ibu mereka, kau tega meninggalkan mereka tanpa adanya sosok ayah yang selalu mencintai mereka?.
Pikiran Naruto terus menyangkal jika dia tidak boleh tinggal disini, dia harus pergi untuk menjaga keseimbangan alam.
Terlalu banyak hal yang memasuki pikirannya, membuat Naruto kehilangan nafsu makan. Dengan lemas ia mengunyah makanan di mulutnya.
Hal sekecil itu tidak luput dari perhatian Sakura, Dahi lebar itu kembali mengerut. Seperti kebiasaannya ketika bingung atau kesal.
"Jika tidak enak, kau tidak perlu memakannya"
Naruto merutuki kebodohannya, dia harusnya tahu jika yang saat ini didepannya adalah Sakura, orang yang paling mengerti dirinya. Sakura sangat teliti jika hal tersebut menyangkut tentang Naruto. Sakura sangat khatam gerak-gerik dan tingkah laku Naruto.
Sakura hapal, jika seorang Naruto tidak akan kehilangan nafsu makan tanpa alasan, dan alasannya itu pasti karena ada sesuatu yang dipikirkan oleh kepala pirang itu.
"Ini enak kok, hanya saja aku sedang banyak fikiran, kau tahu? perang ini benar-benar membuatku pusing" Kilah Naruto tanpa berani menatap mata Sakura.
"Ohh, Kukira karena memikirkan tujuanmu datang ke universe ini" Sakura berkata dengan entengnya.
Naruto bungkam, tebakan Sakura tepat sasaran. Ia tadi memang menjelaskan tentang tujuannya datang ke universe ini untuk memberikan kehidupan normal untuk kedua anaknya. Tapi ia tak menyangka jika Sakura sangat begitu memahaminya, hingga dapat dengan mudah menebak apa yang mengganggu pikirannya.
Kebungkaman Naruto cukup untuk menjadi jawaban bagi Sakura, jika tebakannya benar. Sakura bersyukur dirinya tadi berbincang dengan Hanami. Hanami menceritakan seluruh keluh kesahnya kepada Sakura. Ketika berbicara berdua dengan Hanami, Sakura menyadari jika sebenarnya Hanami jauh lebih dewasa dari tebakannya. Pemikiran gadis kecil itu setara dengan seorang wanita dewasa. Tapi gadis itu sangat lihai dalam menyembunyikan perihal itu dari ayahnya, dengan tingkah polos dan kekanak-kanakannya.
Hanami menceritakan tentang tekad dan sumpah Naruto untuk tidak lagi jatuh cinta. Oleh Karena itu, Sakura dapat mengerti sikap aneh Naruto ketika bersamanya.
Naruto memang bersikap aneh ketika bersama Sakura, Seorang Naruto harusnya bersikap seperti Naruto. Seorang Naruto selalu menatap mata Sakura saat mereka berbicara, Naruto seharusnya berbicara dengan mulut penuh makanan ketika makan bersamanya, Naruto harusnya bertingkah konyol untuk membuatnya tertawa. Sakura terlalu hapal dengan kebiasaan Naruto ketika bersamanya. Butuh waktu seribu tahun untuk seorang Naruto bisa mengelabui Sakura.
"Jadi... kau akan kembali ke universe asalmu?"
Pertanyaan Sakura membuat Naruto sadar, Jika sebenarnya Sakura berusaha memancingnya, untuk mengatakan sesuatu yang sejak tadi dipikirkannya. Yaitu sumpah dan tekadnya yang goyah karena berhadapan langsung dengan Sakura.
"Bukankah sudah jelas?, keberadaanku disini menentang hukum alam" Naruto menjawab dengan ketidakseimbangan hukum alam sebagai alibinya.
Tapi bukan jawaban itu yang diinginkan oleh Sakura. Sakura tahu Naruto punya jawaban lain yang tidak mau diungkapkan olehnya. Tapi bukan Sakura Haruno namanya jika menyerah sebelum mendapatkan apa yang diinginkan.
"Tapi Naruto disini kan sudah mati, dan kau sudah menjelaskannya tadi siang tentang kau yang menunggu sebulan di portal penghubung.." Sakura menjeda perkataannya untuk mendramatisir keadaan "Apa alasanmu sekarang?" Sambung Sakura meneruskan perkataannya.
Naruto yang melupakan fakta tersebut ingin membenturkan kepala pirangnya dimeja, dengan hati-hati ia membuat sebuah alasan, alasan yang merupakan sebuah kebohongan, ia harus pandai dalam memilih kata agar alasannya terdengar logis ditelinga Sakura.
Naruto hendak mengucap, bibirnya telah terbuka, Namun Sakura telah terlebih dahulu berbicara.
"Kenapa kau tidak jujur saja padaku, Naruto?" Potong Sakura menatap lurus Naruto.
Naruto mencoba menghindari tatapan Sakura dengan menambah nasi dan lauk dipiringnya yang sudah kosong.
"Apa maksudmu Sakura-chan?" Naruto bertanya dengan raut kebingungan. Dengan sekilas Naruto melirik Sakura kemudian menunduk lagi menatap makanannya. Dalam hati ia bertanya-tanya 'Apakah Sakura tahu akan sumpah dan tekadnya?'
"Jika kau pergi, bagaimana dengan Hanami dan Shinachiku siapa yang merawatnya? Apa kau tega membiarkan mereka berdua hidup seorang diri seperti dirimu dulu?" Jawaban Sakura yang merupakan pertanyaan, sangat tidak nyambung dengan pertanyaan Naruto.
"Aku ingin menitipkan mereka padamu, secara tidak langsung mereka adalah anakmu, selain itu mereka tidak akan menderita sepertiku dulu, jika kita menang dia akan dianggap sebagai anak pahlawan " Naruto membalas pertanyaan Sakura dengan bergetar. Pertanyaan Sakura membuatnya teringat akan kenangan masa kecilnya yang suram. Ia mencoba sebisa mungkin menahan emosi yang perlahan menguasainya.
"Kau akan pergi dan membebankan mereka berdua kepadaku" Sakura sebenarnya tidak ingin mengucapkan itu, Sakura tidak keberatan untuk merawat kedua buah hatinya, tapi ia harus mengucapkannya untuk kebaikan mereka.
"Apa kau keberatan?" Suara Naruto naik satu oktaf lebih tinggi, terdengar offensif. Naruto sampai ingin memotong lidahnya sendiri karena secara spontan mengeluarkan kata-kata tersebut.
Mendengar itu Sakura menyeringai dalam hati. Tujuannya semakin dekat. Naruto akan segera terpancing omongannya.
"Tentu saja tidak, tapi aku keberatan jika kami harus ditinggal oleh sosok kepala keluarga" Suara lembut Sakura seolah meminta Naruto menjadi suaminya. Sakura sedikit merasa bersalah kepada Sasuke ketika mengucapkannya, Tapi tak apa, toh Sasuke juga tidak berniat menerima lamarannya kan?.
Naruto menyadari hal tersebut. Jika dulu dia akan senang mengetahuinya, tapi sekarang hal yang dirasakan Naruto sulit diungkapkan olehnya, antara senang dan susah secara bersamaan. Dia bimbang untuk menjawab perkataan Sakura.
"Apa yang sebenarnya ingin kau ucapkan Sakura-chan?" Naruto bertanya dengan lesu, punggungnya bersandar di kursi, piringnya sudah kosong, kali ini dia akan berusaha untuk menatap lurus Sakura.
"Aku hanya ingin kau jujur dengan perasaanmu, Naruto" Helaan nafas Sakura terdengar jelas diantara heningnya malam. "Tidakkah kau mencintaiku Naruto?"
Pertanyaan Sakura berhasil memancing keluar seluruh perasaan yang ditahan oleh Naruto. Tanpa bisa dikontrol mulut Naruto mencurahkan seluruh isi hatinya.
"Aku mencintaimu, oleh karena itu aku memutuskan untuk kembali ke tempat asalku, jika aku terus disini kalian akan dalam bahaya, mereka yang membenciku akan turut mengincar kalian, aku tidak bisa kehilangan orang yang kucintai lagi, tidakkah kau mengerti Sakura-chan, aku tidak bisa menetap disini" Jelas Naruto dengan panjang lebar, suaranya sangat lirih tapi masih bisa ditangkap oleh Sakura. Dan secara tidak langsung jawaban Naruto mengungkap rahasia tentang sumpah dan tekadnya.
Sakura yang sudah mengetahui jawaban Naruto sebelum Naruto mengatakannya, juga sudah mempersiapkan jawaban untuk menyangkalnya.
"Justru itu Naruto kau harus selalu bersama kami dan melindungi kami, apa yang akan kau lakukan jika sewaktu-waktu ada yang mengincar kami ketika kau berada di universe yang lain?"
Naruto tak bisa berkata-kata. Perkataan Sakura benar. Selama bertahun-tahun hidup di universe, di universe gap, bahkan di portal penghubung. Naruto baru menyadari sebuah celah dari tujuannya, sebuah kesalahan yang sangat fatal. Naruto terlalu fokus pada tujuannya menitipkan kedua anaknya pada Sakura dan meninggalkan mereka agar terhindar dari bahaya yang selalu mengejarnya. Hingga tidak sadar jika bahaya selalu mengejarnya sewaktu-waktu bisa beralih mengejar Sakura dan kedua buah hatinya.
Naruto kira jika rencananya sudah sempurna, tapi ternyata tidak. Rencananya tak lebih dari sebuah kegagalan.
Melihat Naruto yang tak sanggup berkata-kata, Sakura tersenyum lembut. Dalam hati dia berteriak kegirangan.
"Semuanya tergantung padamu Naruto, Apa kau masih mau pergi setelah mendengarnya? Atau kau ingin tetap disini dan memberikan keluarga yang lengkap untuk anak-anak kita?" Ucap Sakura sambil berdiri dan mengulurkan tangannya kearah Naruto.
Akhirnya Naruto mengalah, dia lelah terus menghindari hatinya sendiri. Ia memutuskan untuk jujur pada perasaannya sendiri. Tanpa pikir panjang ia berdiri dan meraih uluran tangan Sakura.
"Kurasa begitu"
Mereka menatap mata satu sama lain, Jantung keduanya berdebar keras, perlahan mereka saling mendekatkan wajah, semakin dekat hingga dahi mereka bersentuhan, Sakura sedikit memiringkan kepalanya untuk memudahkan urusan keduanya, bibirnya mereka bersentuhan, mereka berciuman dibatasi meja makan. Tangan sang gadis mengalung dileher si pria, dan tangan Naruto menekan lembut tengkuk Sakura.
Tidak ada nafsu, hanya cinta dan kerinduan yang tersirat disana.
Diruangan lain kediaman Haruno
Hanami terkiki geli mendengar percakapan kedua orangtuanya, sejak tadi dia memang mencuri dengar pembicaraan mereka. Aktingnya selama bertahun-tahun berhasil, Rencananya berjalan dengan lancar.
Keberhasilan rencananya dipengaruhi oleh kecakapan Sakura, Hanami yakin jika Sakura tidak mudah dikelabui seperti ayahnya. Meski baru mengenalnya, Hanami merasa jika Sakura sangat mengerti tentang dirinya. Bahkan Sakura mungkin tahu tentang aktingnya meski dia sama sekali tidak mengungkitnya.
Seperti yang dikatakan oleh Naruto. Pemikiran Hanami memang lebih dewasa dari fisiknya, meski dia tak bisa menunjukkannya. Tapi perkataan Naruto tak sepenuhnya benar. Bukannya tak bisa, Hanami hanya berpura-pura tidak bisa, Dia sengaja bertingkah kekanak-kanakan untuk mengembalikan sosok Papanya yang dulu.
Beberapa tahun belakangan, tepatnya setelah kepergian Ibunya, Papanya itu berubah. Papanya itu selalu berkata baik-baik saja meskipun semua tak baik-baik saja, Papanya yang selalu berusaha tampil tegar didepan dia dan adiknya.
Dia tahu tujuan Papanya itu, Papanya berniat meninggalkan dia dan adiknya ketika kondisi dunia sudah aman. Papanya itu selalu memikirkan orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri. Bukankah itu egois?.
Dia benci dengan sikap Papanya yang tidak mau membagi beban dengan dirinya. Dia tak suka dengan Papanya yang selalu menganggapnya sebagai anak kecil. Meskipun fisiknya masih kecil pemikirannya semakin berkembang karena lama hidup di celah universe, di celah universe memang fisik tidak tumbuh, Karena itulah dia bersikap seperti anggapan Papanya, ia bersikap seperti anak kecil.
Tadi siang dia hanya berpura-pura didepan Sakura untuk mendapatkan hatinya dan menyatukan mereka berdua. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Selain itu Hanami juga ingin sebuah keluarga yang utuh.
Salahkah jika seorang anak ingin mempunyai keluarga yang utuh?
Demi adiknya, adiknya itu juga sedikit mengerti tentang situasi yang menimpa keluarga mereka. Hanya saja raga bayinya belum bisa mengungkapkan apa yang ingin disampaikannya.
Hanami tersenyum simpul kemudian berbaring disamping adiknya yang telah tertidur, matanya sudah sangat berat. Fisik anak kecilnya benar-benar merepotkan. Setelah Mengecup dahi adik kesayangannya, kemudian Hanami menarik selimut hingga sebatas bahu dan tertidur dengan senyum manis yang tak terlepas darisana.
•
Laboratorium Orochimaru, Otogakure
Otogakure adalah desa kecil yang berada dipinggiran Negara Api. Desa ini tidak jauh dari Konoha, dan merupakan desa yang didirikan oleh Orochimaru. tapi Penduduk desa ini didominasi oleh bekas kelinci percobaan Orochimaru, mereka dengan suka rela ikut bersama Sannin ular karena iming-imingan kekuatan. Tapi banyak juga dari mereka yang diculik olehnya untuk memenuhi kebutuhannya akan eksperimen yang dilakukan.
Sasuke termasuk orang yang datang dengan suka rela untuk mendapatkan kekuatan. Selama tiga tahun berguru pada Orochimaru Sasuke tahu jika Orochimaru memang gila, tapi kali ini kegilaan Orochimaru jauh lebih parah dari yang dilihatnya dulu.
Bagaimana tidak, didepannya terdapat ratusan tabung eksperimen berisi sesuatu yang diyakininya sebagai janin manusia. Janin itu panjangnya sekitar 3-4 centimeter dan struktur tubuhnya sudah mulai berbentuk seperti bayi. Tubuhnya melengkung seperti huruf C. Meski kecil Sasuke sudah bisa merasakan aura kehidupan dari mereka. Aura mereka terasa seperti aura Hashirama Senju dan Orochimaru itu sendiri secara bersamaan. Apa lagi yang direncanakan oleh ular tua itu?.
Pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan sosok pria berambut hitam panjang dan wanita berambut merah berkaca mata.
"Sedang melihat sesuatu yang menarik Sasuke-kun?" Orochimaru menyeringai ular dan menjilat bibirnya sendiri ketika melihat Sasuke.
Tak berniat menjawab, Sasuke melirik Orochimaru dan Karin melalui sudut matanya.
"Mereka adalah Mitsuki, Klon yang terbuat dari gabungan sel tubuhku dengan sel Hashirama Senju" Ucapan Orochimaru menjelaskan kenapa aura mereka mirip dengan Hashirama Senju.
"Mareka lah adalah eksperimen yang dimaksud oleh Naruto-kun, aku akan menyerahkan mereka semua kepada kalian jika kalian mau membantuku menyelesaikannya" Orochimaru menunjuk tabung-tabung didepannya.
"Kurasa perang telah berakhir saat kau menyelesaikan mereka" Perkataan Sasuke mengundang kekehan kecil Orochimaru.
"Aku bisa menyelesaikan mereka tiga hari dari sekarang, jika kau bisa membawakan beberapa hal yang aku butuhkan"
Sasuke menoleh, seolah menanyakan apa yang harus dia bawa. Melihat itu seringai ular Orochimaru melebar.
"Bawa Naruto-kun kemari aku membutuhkan Cakra senjutsu Rikudou nya untuk mempercepat pertumbuhan mereka dan bawakan aku data penelitian milik Shin, aku tahu kau masih menyimpannya"
Sasuke menahan diri untuk tidak segera menebas kepala mantan gurunya itu, data penelitian Shin berisi sesuatu yang sangat berharga, Rahasia kekuatan Klan Uchiha tercantum disana. Data itu bahkan tidak dia berikan pada Kakashi yang merupakan Hokage, tak mungkin dia memberikannya ke Orochimaru yang merupakan mantan kriminal.
"Berikan saja sampel yang diinginkan oleh Naruto" Perintah mutlak Sasuke.
"Ini sampel yang diinginkan oleh Naruto-kun, segeralah kesini setelah kau mendapatkan apa yang ku butuhkan" Orochimaru menyerahkan sebuah gulungan penyimpanan yang tadi dipegangnya. Tanpa pamit Sasuke pergi meninggalkan tempat itu.
•
Negara Iblis
Negara Iblis adalah salah satu negara kecil di Elemental Nation, penduduknya juga tergolong sedikit jika dibandingkan dengan Negara yang lain dan didominasi oleh warga non-Shinobi. Negara ini dipimpin oleh seorang Pendeta perempuan yang merupakan anak dari pendeta yang memimpin sebelumnya.
Shion adalah nama pendeta yang memimpin Negara Iblis sekarang. Dia adalah pemimpin sekaligus pemegang kunci dari segel Iblis Moryou —iblis yang disegel disalah satu gua di Negara ini. Dari situlah nama negara Iblis diambil.
Iblis Moryou merupakan Iblis yang diyakini sudah hidup sejak ribuan tahun yang lalu. Iblis jahat ini bertujuan untuk menghancurkan dunia. Kekuatan iblis ini sangat besar. Dia memimpin seratus ribu tentara hantu —tentara batu yang tidak bisa mati jika Iblis Moryou itu sendiri belum dihentikan. Beberapa tahun yang lalu ada pihak yang berusaha melepaskan segel Iblis Moryou dan menggunakan kekuatannya untuk menguasai Dunia. Untungnya Shion berhasil menyelesaikannya kembali dengan bantuan dari para Shinobi Konoha.
Sejak peristiwa itu hubungan erat antara Negara Iblis dan desa Konoha mulai tumbuh. Hubungan ini juga disadari oleh sebuah rumor, rumor yang katanya jika Shion pendeta dari Negara Iblis jatuh cinta pada salah satu Shinobi Konoha yang membantunya menyegel Iblis Moryou, Dia adalah Naruto Uzumaki.
Dan disinalah Naruto sekarang, ah tidak lebih tepatnya bunshin Naruto. Dia sedang dihadang oleh beberapa penjaga di gerbang kuil yang merupakan tempat tinggal para pendeta Negara Iblis.
"Sudah kubilang aku mengenal Shion dengan baik" Tukas Naruto untuk meyakinkan empat orang didepannya.
"Kami hanya menjalankan tugas, kami harap kau segera pergi dari sini" Perkataannya benar, mereka memang hanya menjalankan tugasnya.
"Ini penting ada yang harus aku sampaikan kepada Shion" Balas Naruto tapi sepertinya mereka berempat tak bergerak sedikitpun.
Naruto sebenarnya bisa menerobos masuk melewati mereka. Tapi disini posisinya sebagai orang yang meminta bantuan. Dia harus mendapat kepercayaan dari Shion.
"Shion-sama sedang beristirahat, beliau tidak ingin diganggu" Jelas salah satu dari mereka.
"Tapi ini sangat penting" Bunshin Naruto tidak mau kalah. Dia membawa misi yang penting dari dirinya yang asli.
"Kau bisa kembali besok tuan jika memang sepenting itu" Nasihat salah satu penjaga itu bisa diterima, tapi dalam kondisi darurat seperti ini, Naruto harus segera menyelesaikan misinya dan melakukan misi lain yang sudah menunggu.
Shion yang sedang beristirahat dikamar pribadinya terganggu karena perdebatan antara suara asing dan beberapa suara milik penjaga gerbang kuilnya. Ia penasaran dengan suara asing yang terasa familiar ditelinganya. Shion memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar pribadi.
"Tsumi siapa diluar?" Shion bertanya kepada gadis muda yang merupakan pengawal sekaligus pelayan pribadinya.
"Dia menyebut dirinya sebagai Shinobi Konoha, Namanya Naruto Uzumaki" Balas gadis tersebut sambil membungkukkan badan.
"Naruto?" Rasa senang entah kenapa merasuki hati Shion. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu dia mendengar kabar jika Naruto tewas pada perang dunia Shinobi kelima. Ia sedikit curiga tapi rasa senang menghilangkan kecurigaannya. Dia segera berlari kecil menuju gerbang tempat Naruto berada, dibelakangnya Tsumi mengikutinya.
"Naruto?" Ucapan Shion menghentikan perdebatan antara bunshin Naruto dan penjaga gerbang kuilnya.
"Shion"
"Shion-sama"
"Biarkan dia masuk, dia temanku dari Konoha" Ucapan Shion membuat keempat penjaga gerbang minggir dari hadapan Naruto.
Naruto melirik mereka dan memberikan sebuah tatapan yang seolah berkata. 'Sudah kubilang kan, aku mengenalnya'
Mereka berjalan beriringan menuju kuil kediaman Shion. Tsumi mengekor dengan waspada terhadap bunshin Naruto.
"Setelah sekian lama hilang tanpa kabar, kau berniat menerima lamaranku?" Ucapan Shion nampak membuat Naruto harus mengorek seluruh ingatannya. Dia akhirnya teringat jika Shion pernah mengajaknya menikah.
"Oh bukan itu, sebaiknya kita membicarakan didalam"
Sesampainya didalam Naruto mengatakan apa tujuannya, dan tentu saja langsung ditolak oleh Shion. Naruto pun langsung menjelaskan tentang situasi yang sedang menimpa dunia Shinobi. Mulai dari kedatangan Otsutsuki hingga kemungkinan terjadinya perang dunia Shinobi keenam.
Setelah perdebatan panjang akhirnya Shion setuju dengan syarat Naruto akan mengembalikan Iblis Moryou setelah perang berakhir. Dan sebuah syarat lain yang mau tak mau harus diterima oleh bunshin Naruto.
Menginap semalam bersama Shion.
Awalnya syaratnya adalah jika dia harus menikahi Shion sebelum perang dimulai. Tapi bunshin Naruto beralibi jika dirinya sudah menikah dengan Sakura dan sudah memiliki dua orang anak. Dirinya memang mempunyai dua orang anak kan? walau tanpa ikatan pernikahan.
Jadinya syarat kedua diganti dengan menginap semalam bersama Shion, itu lebih baik dibanding dengan harus menikahinya.
Mereka kini sudah berada didalam gua tempat menyegel Iblis Moryou, Shion sebenarnya ingin kegiatan ini dilakukan esok hari karena sekarang sudah larut malam. Tapi Naruto bersikeras untuk melakukannya sekarang karena semakin cepat semakin baik. Belum lagi dia tidak memberitahu Shion, jika dirinya hanyalah bunshin, sedangkan dirinya yang asli sedang bermesra-mesra bersama Sakura.
Mereka bersama beberapa orang yang mengawal Shion, Shion naik keatas altar, memberi instruksi agar Naruto dan para pengawalnya tetap dibawah. Kemudian Shion memulai upacara pelepasan segel Iblis Moryou. Bibirnya mengucapkan mantra dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Naruto. Kemudian menggores jarinya dengan pisau hingga darahnya menetes keatas altar. Shion kemudian menyingkir dari atas Altar.
Aksara-aksara rumit memenuhi seluruh gua. Altar itu bersinar terang kemudian memunculkan wujud Iblis Moryou. Iblis jahat itu mengamuk, menyerang mereka dengan sulur-sulur tajam yang keluar dari tubuhnya.
Bunshin Naruto langsung mengaktifkan mode kepala Kurama dan melindungi mereka semua. Tangan-tangan cakra muncul dari sana dan menahan pergerakan iblis itu.
Naruto langsung mengaktifkan kemampuan barunya. Mata vertikal khas Kyuubi bertransformasi menjadi mata merah berpola riak air dengan tujuh koma disetiap riaknya.
Naruto meloncat keluar dari kepala Kurama kearah Iblis Moryou yang masih memberontak dari cekalan tangan cakra Kurama. Mata Naruto bersinar kemerahan, tujuh koma disetiap matanya berputar cepat. Sontak pergerakan Iblis Moryou berhenti. Sulur-sulur tertarik kembali kedalam tubuhnya.
Naruto mendarat didepannya dan menarik Iblis Moryou kedalam sebuah gulungan penyimpanan. Setelah selesai, Naruto memanggil seekor katak untuk mengantarkan gulungan tersebut ke dirinya yang asli.
Kemudian dia menonaktifkan mode kepala Kurama yang melindungi Shion dan para pengawalnya. Bunshin Naruto menghela nafas, teringat dengan persyaratan kedua Shion. Malam ini akan menjadi malam panjang baginya.
•
Pagi Hari, Kediaman Haruno Konohagakure
Sakura terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia tidak ingat kapan terakhir kali bisa tidur tanpa bayang-bayang kematian Naruto dimimpinya. Mungkin karena orang yang selalu datang dimimpinya, tadi malam tidur bersamanya.
Mengingat aktivitasnya semalam, dada Sakura menghangat. Ia merasakan jantungnya berdebar-debar. Tubuhnya polosnya kini sedang terbalut selimut tebal, Netranya melirik ke samping. Kosong, Naruto sudah pergi sebelum dirinya terbangun.
Netranya beralih melirik jam di nakas kamar tamu kediaman Haruno. Pukul delapan lebih lima menit. Ini merupakan rekor baru bagi Sakura Haruno. Dia tidak pernah bangun sesiang ini, merutuki keganasan Naruto semalam yang tidak membiarkannya istirahat dengan tenang. Naruto bahkan tidak membangunkannya pagi ini.
Teringat janjinya dengan Tsunade, Dirinya sudah terlambat. Dengan segera Sakura memunguti pakaiannya yang tercecer dilantai dan memakainya. Netranya melirik bekas darah mengering di seprei tempat tidur yang tadi malam mereka tempati. Segera menggulung seprei dan memasukkannya kedalam keranjang cucian.
Sayup-sayup, Sakura bisa mendengar suara kedua orangtuanya dan suara Hanami serta rengekan Shinachiku. Orang tuanya sudah kembali dari bunker khusus desa. Memaki perbuatan Naruto semalam, ia tidak punya muka bertemu dengan kedua orangtuanya.
Sakura sudah selesai berpakaian, menatap pantulan dirinya di cermin. Bercak-bercak merah dilehernya tidak tertutup sempurna oleh kerah bajunya. Sakura memikirkan kata-kata untuk menghadapi kedua orangtuanya. Setelah Sakura rasa sudah cukup ia segera keluar dari kamar tamu.
Netranya disambut oleh tatapan menggoda Ayahnya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Serta tatapan tajam ibunya yang menggendong Shinachiku yang sedang menangis. Hanami sedang membaca buku sambil berbaring tengkurap dilantai.
"Wah, anak gadisku ternyata sudah menjadi wanita" Suara menggoda sang kepala keluarga memasuki indera pendengaran Sakura. Suara sengaja dibuat-buat seperti sedang terharu.
Wajah Sakura semerah tomat, dia ingin lari dari sana. Tapi cepat lambat, dia harus segera menyelesaikan masalah dengan kedua orangtuanya. Dengan dipaksakan Sakura mengulum senyum gugup untuk membalas godaan Ayahnya.
"Kalian sudah kembali?" Sakura berusaha untuk mengalihkan perhatian kedua orangtuanya meski tahu jika hal seperti itu tidak akan berhasil.
"Jadi, Bagaimana dengan Sasuke?" Pertanyaan menyelidik ibunya menambah kegugupan Sakura. Tatapan tajam itu seolah siap mencabik-cabiknya. Sedikit memaki Naruto yang meninggalkan dirinya sendiri untuk menghadapi kedua orangtuanya.
"Aku akan berbicara pada Sasuke, dia akan mengerti dan menghargai keputusanku" Balas Sakura setelah mampu menekan kegugupannya.
Mendengarnya raut wajah menuju melunak. Dia tersenyum keibuan menatap Sakura.
"Baguslah kalau begitu"
Ucapan Mebuki nampaknya memancing keterkejutan Sakura. Ibunya tidak marah, Sakura bingung dengan sikap ibunya. Seharusnya ibunya memarahinya seperti biasanya.
Melihat raut kebingungan Sakura membuat Kizashi tersenyum.
"Kami mendengar kabar tentang kedatangan Naruto dari dunia lain sejak dibunker desa, kami sudah menduga akan seperti ini jadinya"
"Kalian tidak marah?" Sakura bertanya dengan sedikit ragu.
"Kenapa harus marah? kami tahu jika keputusanmu itu adalah yang terbaik untukmu" Mebuki menjawab dengan kembut
"Ditambah kami terlanjur jatuh hati dengan mereka berdua" Sakura tahu yang dimaksud dalam perkataan Kizashi adalah Hanami dan Shinachiku.
"Secara tidak langsung mereka berdua adalah cucu kami kan?"
Sakura mengangguk, hatinya menghangat mengetahui kedua orangtuanya menerima keberadaan Hanami dan Shinachiku.
"Selain itu, Naruto tadi pagi telah menemui kami sebelum kau bangun, dia meminta restu pada kami" Perkataan Mebuki membuat Sakura terkejut. Naruto bahkan tidak mengatakan apapun tadi malam tentang ini.
"Kalian merestuinya?"
Mebuki mengangguk, Netra Sakura beralih menatap Kizashi yang memalingkan wajahnya kearah lain.
Mebuki tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan suaminya. Sikap overprotektif terhadap putri semata wayangnya yang sangat besar.
"Ayahmu juga merestuinya setelah wajah Naruto babak belur, tak mungkin kan dia menyerahkan anak gadisnya secara cuma-cuma kepada duda beranak dua" Sakura dapat menangkap canda dalam suara lembut Ibunya.
Hatinya sangat lega, seluruh ketakutannya sirna. Penilaiannya selama ini kepada kedua orangtuanya salah. Sakura selalu menganggap jika ayahnya adalah orang yang selalu bercanda dan tidak pernah serius melakukan sesuatu. Sedangkan ibunya adalah seorang pemarah yang suka mengaturnya.
Mengetahui keduanya merestui hubungan mereka, Mau tak mau matanya memanas. Ia merasa sangat terharu. Ia segera memeluk kedua orangtuanya. Hanami dan Shinachiku ikut menambah rasa bahagiaku mereka.
Kizashi mengelus lembut punggung ringkih putri semata wayangnya. Mereka berdua sudah cukup hancur melihat kondisi Sakura beberapa tahun terakhir. Ketika ada sosok yang mampu mengembalikan Sakura mereka yang dulu, Mereka akan selalu menerimanya. Tanpa memandang status dan kondisi orang tersebut.
Bagi mereka Naruto adalah pahlawan yang mampu mengembalikan hidup Sakura. Hanya Naruto yang mampu yang mampu mengembalikan Sakura mereka yang dulu.
"Sudah sana, cepat mandi, baumu seperti habis bercinta" Perkataan Kizashi tampak tak menghiraukan keberadaan dua anak kecil disana.
"Ayah!"
"Hahahaha"
Dan begitulah suasana pagi yang hangat di kediaman keluarga Haruno, yang sudah lama tidak terjadi itu.
•
Hutan Kematian, Konohagakure
Naruto mengumpati keterlambatan Sasuke. Sudah dua jam dirinya menunggu sahabatnya itu dihutan kematian. Tapi sosok yang ditunggunya itu belum juga nampak batang hidungnya.
Naruto sedang duduk bersandar di pohon didekat gerbang Hutan Kematian.
Wajahnya masih babak belur akibat pukulan Kizashi tadi. Sebenarnya ia bisa langsung menyembuhkannya. Tapi biarlah, Naruto menganggapnya sebagai tanda restu dari calon mertua. Seperti yang dikatakannya pada beberapa orang yang kebetulan bertemu dengannya ditengah perjalanan menuju Hutan Kematian.
Dengan bangga ia mengatakan bahwa lebam diwajahnya merupakan tanda restu dari calon mertua. Nampaknya otak sengkler Naruto semakin sengkler setelah kejadian semalam.
Mengingat aktivitas semalam, Sakura yang tidak berdaya dibawah kungkungannya. Membuat sesuatu yang lain dalam tubuhnya bergejolak. Ia terus terbayang-bayang akan desahan merdu Sakura. Membuat tubuhnya semakin panas dan membangunkan sesuatu dibawah sana.
"Kenapa wajahmu hancur begitu, Dobe"
Speak of the devil, orang yang sedari tadi ditunggunya berada didepan mata. Membuat Naruto gelagapan, dia tidak menyadari kedatangan Sasuke. Karena terlalu sibuk dengan pikiran mesumnya.
Dengan kesal Naruto berujar "Kau terlambat, Teme" Jari telunjuknya mengacung kearah Sasuke yang berdiri tak jauh darinya.
"Jangan salahkan aku, kau sendiri tidak memberitahuku kapan aku harus menemui 'kan" Jawab Sasuke enteng.
"Benarkah?" Beo Naruto, mendengarnya membuat Sasuke menghela nafas.
"Jadi bisa kita mulai sekarang? Aku masih harus mengambil Zetzu Putih setelah ini" Ucapnya terdengar malas.
"Kau sudah mendapatkan sampel dari Orochimaru?"
Sasuke mengangguk kemudian melemparkan sebuah gulungan kepada Naruto, dengan sempurna berhasil ditangkap oleh empunya.
"Ayo cepat mulai ritualnya, dasar Dobe" Nada bicaranya terdengar kesal.
"Iya-iya, maaf telah menyita waktu berharganya Sasuke-sama" Balas Naruto sarkastik.
Mereka berjalan ketengah Hutan Kematian, tak peduli jika tengah hutan sangatlah berbahaya. Semakin tengah, pohon-pohon semakin tinggi dan lebat membuat cahaya matahari sulit masuk dan menimbulkan kesan horor disana.
Sesampainya ditempat yang dirasa pas untuk membangkitkan Juubi, Naruto mengatakan pada Sasuke untuk tidak memanggil Gedou Mazou terlebih dahulu sebelum dia membuat Kekkai. Naruto mengaktifkan mode cakra Kurama dan membuat segel tangan.
Kagebunshin no Jutsu
Muncul empat bunshin Naruto dengan memakai Jubah Cakra Kurama, tanpa isyarat keempatnya melesat kearah empat mata angin. Setelah dirasa cukup jauh dari tempat Naruto dan Sasuke, keempat bunshin Naruto berhenti dan membuat segel tangan.
Nipou : Shisekiyoujin
Bersamaan dengan itu, Kekkai merah agak transparan muncul dari tanah menjulang tinggi keatas langit. Kekkai itu berbentuk persegi dengan bunshin Naruto dimasing-masing sudutnya.
"Panggil Gedou Mazou sekarang"
Sasuke mengangguk, dengan cepat menggigit ibu jarinya sendiri hingga berdarah. Dan menempelkan telapak tangannya diatas tanah.
Kuchiyose : Gedou Mazou
Asap tebal muncul disana, setelah asap menghilang digantikan oleh sebuah patung humanoid raksasa bermata sembilan. Sasuke berdiri di atas kepala patung tersebut. Kemudian dia loncat kebawah mendarat disamping Naruto.
Melihatnya, Naruto langsung menyatukan kedua telapak tangannya. Cakra menguar dari dalam tubuhnya membentuk wajah sembilan binatang berbeda, mulai dari rakun hingga rubah. Cakra itu masuk kedalam mulut patung Gedou hingga tertelan sepenuhnya.
Beberapa saat kemudian, Patung Gedou meraung-raung kesakitan sambil memegang kepalanya. Patung raksasa itu membungkuk hingga darah yang keluar dari sembilan matanya mengucur deras ketanah Hutan Kematian. Raungan Patung Gedou mampu mencabut pohon dari akarnya dan membuatnya terbang di udara.
Setelah hampir satu jam lamanya, Patung Gedou berangsur-angsur berubah menjadi Makhluk lain, Mahkluk berekor sepuluh yang menjadi momok menakutkan bagi siapapun yang melihatnya. Juubi telah bangkit dengan sempurna meski hanya dengan setengah kekuatannya.
Tapi itu tidak membuat Naruto dan Sasuke bergeming sedikitpun, setelah perubahan wujud nya selesai mereka berdua saling menatap. Kemudian mengangguk seolah paham dengan maksud satu sama lain.
Dengan cepat Sasuke mengeluarkan Susanoo sempurnanya dan terbang melesat kearah Juubi. Juubi tak tinggal diam melihat kedatangan Sasuke, dia segera menyabetkan ekornya namun dapat dihindari dengan mudah oleh Sasuke.
Naruto melihat Juubi melakukan perlawanan, segera berkonsentrasi, Dengan mode jubah Kurama dirinya bisa menyerap energi alam dengan cepat. Tak butuh waktu lama Sage modenya telah aktif, ditandai dengan Pupil matanya yang berubah dari yang awalnya vertikal berubah menjadi seperti tanda . Setelah Sage modenya aktif, Naruto segera membuat segel tangan.
Senpou : Myojinmon
Sepuluh gerbang penyegel turun dari langit, menahan sepuluh ekor Juubi ketanah. Tak cukup dengan itu Naruto membuat segel tangan yang serupa.
Senpou : Myojinmon
Kali ini satu gerbang yang lebih besar turun dari langit dan menjatuhi leher Juubi, membuatnya terjerembab ketanah Hutan Kematian.
Melihat Juubi yang sudah tak berdaya membuat Sasuke tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera menyegelnya. Dia mendarat diatas tubuh raksasa Juubi dan menonaktifkan Susanoo. Sasuke segera membuat segel dengan satu tangannya. Tak butuh waktu lama, Juubi terserap sepenuhnya kedalam tubuh Sasuke.
Hal tersebut membuat tubuh Sasuke menggelembung, seperti balon yang habis ditiup. Tubuh Sasuke kelebihan muatan karena kekuatan Juubi yang sangat besar. Wujud Sasuke tertelan habis oleh balon itu. Beberapa menit kemudian balon yang menelan wujud Sasuke, retak seperti cangkang telur.
Retakan itu semakin merambat hingga pecah sempurna dan menunjukkan wujud Sasuke yang berubah. Rambutnya memutih dan kulitnya pucat kehijauan. Tato sembilan koma melingkar dibawah lehernya. Sembilan Gedoudama melayang dibelakangnya. Tangan kirinya yang buntung tumbuh kembali. Di bahunya tumbuh empat duri yang mencuat kebelakang.
Naruto segera melesat kearah Sasuke, Ia sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya itu. Sasuke pasti kehilangan kesadaran setelah menyerap Juubi kedalam tubuhnya —seperti Obito ketika perang dunia Shinobi keempat.
Namun kekhawatiran Naruto harus hilang dan digantikan oleh kekesalan saat melihat sosok Sahabatnya itu berdiri disana dengan seringai menjengkelkan khas Uchiha nya.
"Kheh, ini tak sesulit yang kubayangkan" Begitulah suara yang mampu menarik kekesalan Naruto sampai ubun-ubun.
"Dasar Teme"
Sasuke hanya tertawa kecil melihat tingkah Naruto, Dengan segera ia kembali mewujud asalnya. Bajunya telah hancur saat perubahan wujudnya tadi menyisakan celana panjang yang sudah tak layak pakai.
Sasuke segera melakukan henge, merubah tampilan dirinya lengkap dengan pakaian khasnya. Kemudian mereka berdua kembali ke desa Konoha, setelah Naruto melepaskan Kekkai merah yang sejak tadi diaktifkannya.
•
Rumah Sakit Konoha
"Kedatangan Naruto membuatmu gila, Forehead"
Suara sarkastik dari Ino tampaknya dianggap angin lalu oleh Sakura. Dia masih setia memandang map ditangannya sambil senyum-senyum tak jelas.
"Mungkin kau benar" Balas Sakura seadanya.
Ino heran melihat tingkah laku sahabat karibnya, akhir-akhir ini Sakura selalu menghindarinya. Sakura selalu menolak halus bantuan darinya. Dia nampak murung dan gelisah. Tapi sejak kedatangan Naruto kemarin, sifat gila sahabatnya ini kembali. Sakura selalu tersenyum dan tidak membalas olokannya. Ino kadang mendapat sahabatnya ini berteriak kegirangan, entah apa sebabnya.
Sejak pagi, mereka mengerjakan dokumen tentang korban luka akibat serangan Ginshiki kemarin. Ada total 423 korban luka, kebanyakan dari mereka adalah para Shinobi yang terjun langsung melawan para penyerang kemarin. Para Shinobi untungnya bertindak cepat dan segera mengevakuasi warga sipil ketempat yang aman. Lebih banyak korban akan berjatuhan jika para Shinobi tidak bertindak cepat.
"Bagaimana dengan Sasuke? Apa berniat membatalkannya?" Ino bertanya dengan berhati-hati untuk menjaga perasaan Sakura.
"Aku akan bicara dengannya, Ia akan mengerti"
"Aku hanya khawatir Sakura, jika nanti akan beredar gosip tentang Naruto datang dan merebut tunangan orang, kau tahu kan seberapa parah tukang gosip di Konoha"
"Kami akan mengatasinya"
Kata 'kami' dalam kalimat Sakura seolah menyuruh Ino agar tidak ikut campur urusan pribadinya. Ino menghela nafas, memutuskan untuk menyerahkan masalah ini pada Naruto dan Sakura. Toh, mereka sudah dewasa. Dia juga sudah berjanji untuk selalu mendukung Sakura, apapun keputusannya, Ino akan menghargainya. Demi kebahagiaan Sakura.
"Terserah kau saja"
•
Perkemahan Pasukan Otsutsuki, Dimensi buatan Kaguya.
Dimensi ini merupakan sebuah dataran bertanah tandus yang tidak berujung. Langitnya berwarna hijau dan udaranya tergolong bersih. Dari sekian banyaknya dimensi buatan Kaguya, hanya ada beberapa yang mendukung adanya kehidupan. Salah satunya adalah tempat ini. Mungkin karena itulah Isshiki memilih tempat ini sebagai perkemahan Pasukannya.
Bunshin Naruto memicing melihat gerbang teleportasi raksasa yang muncul dari kejauhan. Netranya menangkap ribuan orang yang berbondong-bondong keluar dari sana. 'Ini tidak baik' batin bunshin Naruto. Dia harus sebisa mungkin menghentikan mereka, atau setidaknya mengulur waktu.
Bunshin Naruto berkonsentrasi untuk memanggil cakra lain dari dalam tubuhnya. Tak perlu waktu lama jubah cakra Kurama muncul menyelimutinya. Matanya bersinar merah. Koma diatas riak air matanya berputar cepat. Darah menetes dari sudut matanya.
Ameterasu
Api hitam menyelimuti gerbang teleportasi itu, menutupi setiap inci bagian hingga sempurna. Api itu sengaja dibuat tidak membakar gerbang teleportasi, tapi membakar orang yang melewatinya. Jika portal itu dibakar Urashiki akan dengan mudah membuatnya lagi, Namun jika hanya diselimuti, Urashiki akan kesulitan, karena harus menunggu hingga api terus padam.
Beberapa ratus orang yang tidak beruntung berteriak kesakitan karena terbakar oleh api hitam tersebut. Mereka sedang melintasi gerbang ketika bunshin Naruto mengeluarkan Ameterasu. Merasa sudah selesai dengan tugasnya, Bunshin Naruto langsung menghilangkan diri. Ada sebuah kabar penting yang harus diketahui dirinya yang asli. Isshiki sudah bergerak dan cepat lambat Perang akan segera dimulai.
•
•
TBC
AN: gaada mood buat nulis, gara-gara serangan Mbah covid gw jadi ga diisolasi di rumah asrama. tapi jangan khawatir akan saya paksakan bagaimanapun hasilnya, demi kalian. dan makasih buat kalian yang udah support gw, itu sangat berarti bagi gw.
sekian dari gw KNTLSUPER Bye bye
