Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto
Summary : Dunia Shinobi selalu dihadapkan dengan perang, para penjajahakan selalu datang. Sekali lagi, ada pihak yang menginginkan kehancuran dunia Shinobi. Apakah Sang Pahlawan akan kembali mempertahankan perdamaian?, meskipun dia telah kehilangan seluruh dunianya.
Genre : Romance, Drama, Family, Adventure
Rate : M
Pair : NaruSaku, Pair lain nyusul
Setting : Semi-Canon
Warning : OOC, MultiUniverse, Ide pasaran, Gaje, Berantakan
Happy reading...
•
•
Chapter 4. Skandal
•
Sekembalinya dari Hutan Kematian, Naruto dan Sasuke langsung menuju ke Kantor darurat Hokage, Guna untuk melaporkan perihal pembangkitan ekor sepuluh. Ditengah perjalanan, Naruto mendapatkan ingatan dari bunshin yang ia kirim ke perkemahan pasukan Otsutsuki. Informasi ini sangat penting, dan harus segera dilaporkan kepada Kakashi.
Oleh karena itu, Naruto melangkahkan kakinya lebih cepat, mendahului Sasuke. Dia terus mengingatkan dirinya sendiri untuk menanam segel Hiraishin pada Kakashi setelah ini.
Sasuke dibuat kebingungan dengan tingkah sahabatnya. Tapi Sasuke sepertinya mengerti jika ada sesuatu yang penting sedang terjadi. Tidak mau banyak bertanya, Sasuke ikut mempercepat langkahnya, dia juga penasaran dengan apa yang terjadi pada Naruto. Pasti Naruto akan menjelaskannya setelah tiba di Kantor Hokage.
•
Kantor Hokage Darurat, Konohagakure
Dengan cepat Kakashi menandatangani kertas demi kertas yang seakan tidak ada habisnya. Tanpa membaca dia menolak seluruh surat permintaan ganti rugi yang diajukan oleh para penduduk desa yang hartanya hangus ketika serangan kemarin. Situasi desa yang darurat perang tidak memungkinkan jika harus menggelontorkan anggaran untuk mengganti kerugian para penduduk.
Baru tadi pagi ia memutuskan untuk mengeluarkan penduduk dari bunker desa, karena situasi yang sudah stabil dan keberadaan kedua muridnya didesa membuat musuh tidak mungkin berani menyerang. Tapi ratusan surat ganti rugi langsung mendatanginya.
Pagi ini Kakashi sudah memanggil Yamato yang sejak perang dunia Shinobi keempat, ditugaskan untuk mengawasi Orochimaru di Otogakure. Selain itu ratusan tukang bangunan sudah ia datangkan dari luar desa. Untuk membangun kembali kerusakan pada desa Konoha.
Yamato sengaja dia tugaskan untuk membangun beberapa lokasi penting yang hancur dalam serangan kemarin. Elemen kayunya untuk membangun sebuah bangunan dalam sekejap, sangatlah membantu. Tapi ia tidak bisa melakukannya seenak hati, karena kapasitas cakra Yamato hanya setara dengan Jonin biasa. Ia mendengar kabar, jika Yamato masih pingsan setelah membangun ulang gedung rumah sakit.
Kakashi memakluminya karena mengetahui betapa besarnya gedung rumah sakit. Tapi membuatnya harus bersabar, Gedung Hokage belum diperbaiki.
Kakashi menghentikan kegiatannya ketika merasakan dua aura familiar yang dikenalnya. Tanpa salam ataupun ketukan, pintu dibuka dan memunculkan kedua sosok muridnya.
Ekspresi tegang yang coba disembunyikan oleh Naruto, tak luput dari pengamatan Kakashi. Itu cukup untuk memberinya pertanda, jika ada berita penting yang dibawa oleh Naruto. Dan dibelakangnya ada Sasuke, Kakashi terkejut melihat Sasuke. Lebih tepatnya terkejut melihat tangan kiri Sasuke seharusnya buntung tumbuh kembali.
"Sasuke tangan kirimu tumbuh?" Kakashi nampak menyembunyikan keseriusan dibalik wajah malasnya.
"Sasuke berhasil menjadi Jinchuriki Juubi" Jawab Naruto singkat sambil melirik kearah Sasuke.
Sasuke mengangguk untuk menginformasi perkataan Naruto.
"Bagaimana mungkin? Aku tidak mengetahui apa-apa?" Tanya Kakashi tidak percaya.
Kakashi sebenarnya percaya kepada keduanya. Tapi pertanyaan Kakashi bertujuan lain, yaitu untuk mengetahui kenapa dirinya tidak ada yang memberi tahu jika Juubi telah dibangkitkan. Kemarin Naruto mengatakan bahwa ia akan membangkitkan Juubi di Hutan Kematian, yang mana jaraknya tidak terlalu jauh dari desa. Para Jonin yang berpatroli pasti akan melihatnya jika pembangkitan Juubi dilakukan disana. Seharusnya para Jonin yang berpatroli memberinya laporan kan?
"Kami membuat Kekkai merah Shisekiyoujin untuk mengantisipasi dampak negatif dari kebangkitan Juubi" Jawaban tersebut tampak tidak terlalu memuaskan Kakashi.
"Aku juga memasang Genjutsu untuk menyamarkan keberadaan Kekkai merah itu" Sambung Naruto membuat alasan terdengar logis di telinga Kakashi.
Tapi mimik wajah Naruto yang masih terlihat cemas membuat Kakashi sadar jika ada perihal lain yang ingin disampaikan muridnya itu.
"Seharusnya ada berita lain kan?" Kakashi tahu dengan polah muridnya, pasti ada berita lain yang dibawanya.
"Urashiki telah membuka gerbang teleportasi, bunshinku berhasil menutupinya dengan api hitam, paling lama dua minggu perang akan pecah"
Perkataan serius Naruto membuat bahu kedua orang di sana menegang. Naruto kemarin sudah mengatakan jika setengah Pasukan Otsutsuki sudah berkemah di dimensi buatan Kaguya. Dan kemungkinan, perang akan pecah dalam waktu dekat. Tapi mereka berdua belum siap, atau lebih tepatnya mereka berdua tidak pernah siap. Semua orang tidak akan pernah siap jika dihadapkan dengan sebuah perang.
Perang terakhir merenggut segalanya bagi Sasuke. Naruto gugur dimedan perang, sahabat satu-satunya. Selama bertahun-tahun, tubuh dingin nan kaku sahabatnya itu selalu datang di bunga tidurnya. Dia tidak sanggup, jika mendapat kemungkinan akan kehilangan sosok sahabatnya itu lagi.
Sama halnya dengan Sasuke, Kakashi yang sudah kenyang terhadap perang, bohong jika dia tidak merasa takut. Rasa takut akan kehilangan kembali datang. Bisa dibilang, dia sudah cukup kehilangan karena perang.
Ayahnya —Sakumo Hatake atau Taring Putih Konoha, gugur pada masa perang dunia Shinobi kedua. Dia kehilangan Obito dan Rin pada perang dunia Shinobi ketiga. Rin memilih meregang nyawa ditangannya, Obito yang dia lihat mati, ternyata masih hidup dan kembali untuk menuntut keadilan pada dunia. Dengan nama Madara, Obito menjadi seorang kriminal yang berniat menciptakan sebuah perdamaian semu dalam dunia mimpi.
Dan puncaknya pada perang terakhir, Dia kehilangan seorang muridnya. Sosok yang merupakan warisan mendiang gurunya, gagal dia lindungi. Kakashi tidak takut mati, tapi Ia takut gagal melindungi sosok itu lagi.
Bukankah Naruto datang dengan kekuatan baru? Naruto juga mengenal baik seluk beluk tentang musuh yang akan dihadapi. Seharusnya mereka tidak perlu khawatir dengan itu.
Kakashi melirik kedua muridnya secara bergantian.
Setitik kecemasan tersemat di wajah tanpa ekspresi Sasuke.
Sedangkan Naruto, entah kenapa wajahnya terlihat lebih cemas dari yang tadi. Kecemasannya kali ini benar-benar terpampang jelas diwajahnya, tanpa coba dia sembunyikan.
"Kita akan menang" Ucap Kakashi, Menenangkan kedua muridnya yang gusar. Meski dirinya sendiri sama gusarnya dengan mereka berdua.
"Bukan hanya itu, kita juga akan. menikmatinya" Sambungnya kemudian.
"Ya kuharap begitu" Balas Naruto seadanya.
Naruto cemas, dia memang pernah mengalahkan Isshiki di universe asalnya, tapi sesuatu yang dirasakan oleh bunshinnya jauh lebih kuat dari seorang Isshiki. Mode jubah Kurama mendeteksi aura negatif dan kebencian yang sangat pekat, menguar kuat darinya. Seingatnya kebencian Isshiki tidak sebesar itu. Entah kenapa itu membuatnya khawatir.
Selain itu Isshiki juga mengetahui apa yang menjadi kelemahan seorang Naruto. Isshiki pasti mendapat ingatan dari Isshiki lain yang dikalahkan oleh Naruto. Dia pasti tahu jika keluarga kecilnya, merupakan titik lemahnya.
Naruto dulu gagal melindungi Sakura, dia takut akan gagal lagi. Dirinya tIdak sanggup kehilangan sosok itu untuk kedua kalinya.
"Bagaimana dengan dimensi buatan yang kau rencanakan, Naruto?" Pertanyaan Kakashi mampu mengalihkan perhatian Naruto yang gusar, menjadi lebih tenang tapi serius.
"Aku akan segera mengerjakannya, tadi pagi aku mengambil gulungan peninggalan Yondaime di brankas arsip Konoha, kuharap kau tidak keberatan"
Kakashi tidak keberatan, tapi dua orang tua itu tidak akan sepaham dengannya. Naruto seharusnya izin dan meminta bantuan padanya jika membutuhkan gulungan milik Yondaime, bukan menerobos masuk seenaknya.
"Kau membobol masuk brankas arsip?" tanya Kakashi dengan malas. Tak terlalu terkejut dengan tingkah murid pirangnya itu.
"Bukan membobol, Hiraishin ku menggunakan segel penanda yang sama dengan milik ayah, digulungan itu tentu saja ada segelnya kan" Sangkal Naruto, membenarkan perkataannya sendiri.
Kakashi mendesah pasrah, dirinya tak ingin peduli dengan apa yang terjadi. Gulungan itu juga merupakan hak Naruto. Berharap kedua orang itu tidak tahu mengenai ini.
"Terserah kau saja, Naruto"
"Oh ya sensei, ini berisi sampel dari Orochimaru, aku ingin kau menyimpannya" Ujar Naruto sambil mengeluarkan sebuah gulungan dari balik lengan kemeja oranye. Jubah Hokage nya telah hilang entah kemana sejak kemarin sebelum rapat dengan para petinggi desa.
Kakashi menerima gulungan tersebut. Ia sedikit paham dengan alasan kenapa Naruto menyerahkan gulungan tersebut kepadanya. Yaitu, untuk menghindari kecurigaan. Naruto baru muncul setelah beberapa tahun menghilang, jika dia mempunyai sebuah gulungan berisi sampel Edo Tensei. Naruto bisa dianggap sebagai teroris yang berniat mengobarkan perang, seperti Kabuto ataupun Obito.
"Semoga pihak sekutu setuju dengan usulan kita" Ucap Kakashi sambil menggoyang gulungan ditangannya.
"Mereka akan setuju" Balas Naruto yakin.
"Kekuatan seperti para pendahulu sangat membantu di universe asalku, terlebih Shodaime dan Madara mereka berdua mampu menahan Juubi super Isshiki selama hampir tujuh hari"
"Kau juga berniat membangkitkan Madara, apa kau gila" Bagi seorang yang pernah hampir mati ditangan Madara, perkataan Naruto terdengar seperti lelucon ditelinga Sasuke.
Meski Madara adalah leluhurnya, kebencian Sasuke kepadanya tidak sedikitpun berkurang. Sasuke bahkan menyimpan mata Madara sebagai harta rampasan perang atau lebih tepatnya simbol kemenangan.
Kemenangan atas seseorang yang mencoreng nama baik keluarganya.
"Percayalah Sasuke, kami awalnya tidak ingin membangkitkan Madara, tapi sehari sebelum perang Shodaime sendiri yang meminta Orochimaru untuk membangkitkan Madara" Naruto menghela nafas, akan sedikit susah untuk meyakinkan Sasuke, karena ia tahu seberapa besar kebencian Sasuke terhadap legenda Klan Uchiha itu.
"Untungnya Madara menjadi baik dan berperang disisi kami" Ungkap Naruto penuh keyakinan.
Kakashi tersenyum dibalik maskernya, dirinya teringat perkataan Jiraiya dulu. Jiraiya mempercayakan nasib dunia pada Naruto. Dulu Kakashi sempat ragu akan hal itu. Namun, keraguannya terjawab dengan seiring berjalannya waktu.
Waktu terus berjalan, membawa seorang bocah pirang jelmaan siluman rubah menjadi sosok dewasa yang dia tahu sudah dilantik menjadi Hokage.
Ia kemudian paham dengan apa yang dirasakan oleh Jiraiya. Mendengar perkataan Naruto, entah kenapa dia tidak bisa untuk tidak mempercayainya. Bahkan jika ucapannya ngelantur dan tidak masuk akal, akan tetap terdengar meyakinkan jika seorang Naruto yang mengucapkan. Mungkin tidak hanya dia yang berpikiran seperti itu, semua orang mungkin akan berpikiran sama jika menyangkut tentang Naruto.
"Aku terkesan, kau benar-benar datang dengan penuh persiapan" Terselip nada bangga dan haru yang coba ia samarkan dengan nada menyindir yang tajam.
Naruto tahu maksud dari perkataan Kakashi, ia memang benar-benar berniat untuk memujinya. Bukan menyindir dalam bentuk pujian.
"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, sensei"
Kemudian Naruto berpamitan dan pergi dari sana, Kakashi memerintah Sasuke untuk tinggal, entah apa alasannya.
Setelah kepergian Naruto, hening mengisi diantara sepasang guru murid itu. Kakashi menyipit menatap Sasuke, dia terlihat menyelidik seperti Sasuke sedang berbuat salah.
Yang ditatap hanya masa bodoh, dia tidak peduli dengan apa yang dilakukan Kakashi.
"Kau tahu alasanku memintamu untuk tinggal?"
"Hn?" Mungkin sebagian banyak orang tidak paham dengan arti gumaman Sasuke, untungnya Kakashi adalah satu dari segelintir orang yang memahaminya.
"Kau ingat gosip miring tentang perjodohan itu kan?"
Sasuke mengangguk, paham kemana arah pembicaraan mereka akan menuju.
"Kau harus menemui Sakura, tolak lamarannya sebelum gosipnya semakin menjadi-jadi"
"Aku tahu" Balas Sasuke datar. Dia mengerti jikalau kekasih hati dari perempuan yang melamarnya sudah kembali, Sasuke sekarang sudah tidak mempunyai hak dan tanggung jawabnya atas Sakura lagi.
"Jangan sampai Naruto tahu mengenai ini, kau tahu kan apa yang akan dilakukannya jika mendengar hal ini"
"Hn" Sasuke mengangguk, Naruto akan berkorban jika mengetahui perihal lamaran Sakura kepadanya. Naruto akan menyerahkan Sakura kepadanya tanpa memikirkan dirinya sendiri.
Tugas terakhir Sasuke adalah menemui Sakura, dan menolak lamaran pernikahannya. Ia tidak ingin sahabat pirangnya itu tersakiti dan berkorban untuk mereka.
•
Pusat Desa Konoha
Siang ini matahari bersinar dengan sombongnya, Tak ada setitik awan yang berani menghalanginya, menyampaikan hawa panas yang memecah kepala. Termasuk kepala pirang sosok ninja dari universe lain ini.
Naruto sedang berjalan menyusuri jalanan desa Konoha, sesekali membalas membalas sapaan para penduduk. Sepertinya, berita kedatangan Naruto menyebar cepat keseluruh desa Konoha. Hampir seluruh penduduk terang-terangan menyapanya dengan ramah.
Aktivitas desa belum normal sepenuhnya. Ratusan tukang bangunan yang didatangkan oleh Hokage sedang bekerja keras, seolah tidak peduli dengan terik matahari yang menyengat. Para Shinobi juga ikut membantu jalannya perbaikan. Mereka menggunakan Ninjutsu untuk mempermudah pekerjaan.
Naruto berencana untuk mencari makan siang, tapi tidak ada satupun kedai yang buka. Hampir semua kedai makanan rusak karena serangan kemarin, Bahkan Ichiraku rata dengan tanah.
Naruto bingung, perutnya berteriak keroncongan. Inginnya pergi ke kediaman Haruno sambil melihat kedua anaknya, tapi mau dikemanakan mukanya jika seorang meminta makan pada calon mertua? belum lagi, dirinya sudah banyak merepotkan mereka dengan menitipkan kedua anaknya. Sakura juga masih sibuk untuk dia mintai pertolongan. Selain itu, setelah kejadian semalam ia yakin jika segala sesuatu diantara mereka berdua akan sangat berbeda dengan sebelumnya.
Ninja dari universe lain itu nyengir rubah, ketika netra biru langitnya menangkap sesosok gadis berambut pirang pucat yang sedang berjalan membelakanginya. Kemarin dia sudah bertemu putri tunggal Inoichi itu saat rapat dengan para petinggi desa.
"Ino!" Sahut Naruto, dia berlari mengejar langkah Ino hingga mereka beriringan.
"Naruto?" Gadis itu menoleh, sedikit tertegun melihat sosok Naruto. Ino kemarin memang sudah bertemu dengan Naruto. Tapi, entah kenapa dirinya masih sedikit terkejut bila bertemu dengannya.
"Kau mau kemana?"
Pertanyaan basa-basi Naruto membuat alis Ino terangkat, lama tidak bertemu dengan Naruto bukan berarti dia lupa tentang kebiasaannya.
Naruto tidak akan bertemu dengannya jika tidak ada maunya. Pasti ada sesuatu yang mendasari perbuatan Naruto barusan.
"Tentu saja mau pulang shiftku sudah habis"
"Apa yang kau lakukan setelah ini?"
"Aku harus merawat bunga di toko keluargaku"
"Bolehkah aku bicara denganmu sebentar?" Pinta Naruto.
"Pasti tentang Sakura, kan?" Tebak Ino menggoda, sebelah matanya berkedip nakal.
Sayangnya tebakan Ino tidak tepat sasaran. Tapi, Naruto melihat ini sebagai kesempatan untuk menggali informasi tentang kekasih hatinya. Selain itu, di kehidupan normal seperti ini Naruto mungkin harus meminta sedikit saran pada Ino.
Ditempat asalnya dulu, Naruto tidak pernah bertengkar dengan Sakura setelah perang melawan Isshiki. Mereka malah saling menghibur dan menguatkan satu sama lain. Mereka berdua menjadi penyintas terakhir yang masih hidup waktu itu. Oleh karena itu, Naruto sebenarnya tidak memiliki pengalaman apapun tentang berumah tangga, meski telah memiliki dua orang anak.
"Iya, ngomong-ngomong dimana Sakura-chan?, kukira shiftnya sama denganmu?"
"Sakura tadi pagi datang terlambat, dia bangun kesiangan"
"Seorang Sakura-chan kesiangan, mana mungkin, setahuku dia selalu tepat waktu" Sanggah Naruto.
"Wajar saja Sakura kesiangan, tadi malam dia lembur dengan seseorang yang tidak mau disebutkan namanya" Ucapan Ino terdengar tajam seperti sedang menyindir.
Tunggu dulu, Naruto teringat sesuatu, bukankah semalam dirinya bersama Sakura. Dirinya mengganggu istirahat Sakura dan melakukan hal itu.
Naruto melongo, langkahnya terhenti, kepalanya berasap, tidak perlu menjadi si Jenius Shikamaru untuk mengetahui maksud dari perkataan Ino. Apa jangan-jangan Sakura memberitahunya? Naruto bertanya dalam hati.
"Sakura tidak memberitahuku bodoh, ruam dilehernya dan ekspresi wajahmu saat ini menjelaskan segalanya"
Perkataan Ino sukses membuat kepala pirang Naruto semakin berasap. Naruto tidak bisa menjelaskan perasaannya sekarang, antara malu dan senang secara bersamaan. Sungguh kekanak-kanakan.
Ternyata hidup lama tidak menambah kadar kedewasaan seorang Naruto Uzumaki.
Melihat kondisi Naruto, membuat Ino tidak tega. Sedikit mendengus
"Kau ingin bicara denganku kan? ayo ikut aku, rumahku kebetulan tidak hancur kemarin"
•
Rumah Sakit Konoha
Langit jingga menandakan hari sore telah tiba. Dikantin Rumah sakit, seorang pemuda berambut hitam duduk dipojokan. Dia seperti sedang menunggu seseorang.
Sasuke menggerutu dalam hati, Sakura tadi berkata akan menemuinya di sini tepat pukul tiga. Sekarang, sudah satu jam dari waktu yang dijanjikan. Tapi sosok yang ditunggu belum tampak batang hidungnya.
Tubuhnya lelah, sejak tadi siang dia belum beristirahat. Menyegel Juubi bukanlah perkara yang mudah. Dia juga lapar, kantin rumah sakit ini belum menjual apapun selain minuman, karena logistik desa dipusatkan untuk membantu para korban.
Dia ingin segera pergi, tapi secepatnya dia harus menyelesaikan urusannya dengan Sakura. Sebelum semuanya menjadi lebih rumit dan menimbulkan kesalahpahaman.
Akhirnya, penantian panjangnya membuahkan hasil.
Sesosok perempuan berambut merah muda berjalan tergesa kearahnya.
"Maaf Sasuke-kun, aku tadi harus menggantikan operasi Tsunade-sama" Sakura menjelaskan perihal keterlambatannya.
"Hn" Gumam Sasuke yang diartikan oleh Sakura sebagai ungkapan untuk tidak bertele-tele dan langsung membahas perihal mereka berdua.
"Apa jawabanmu Sasuke-kun?"
"Aku menolaknya" Jawab Sasuke tegas, senyum simpul terpatri dibibir nya. Sahabat pirangnya itu berhak untuk bahagia.
Apapun akan dia lakukan untuk membalas budi saudara sekaligus rivalnya itu.
Hal itu, mengundang senyum yang sama dari Sakura, dia menggenggam jemari kasar Sasuke yang tertumpu diatas meja.
"Terimakasih, Terimakasih, semoga kau menemukan kebahagiaanmu sendiri, Sasuke-kun" Ungkap Sakura tulus, likuid bening mengalir dari kedua emerald Sakura, rasa haru dan bahagia turut menyertainya.
Mereka terlalu terlarut dalam suasana, hingga tidak menyadari kehadiran seseorang yang sejak tadi mengawasi mereka dari kejauhan, dengan pandangan pedih yang dia pancarkan.
Naruto berdiri diambang pintu kantin, dadanya sesak seolah tidak ada oksigen disana.
Beberapa saat sebelumnya
Langkah kaki ninja pirang itu, membawa pemiliknya ke rumah sakit Konoha. Senyum lebar tak pernah hilang dari bibirnya. Sebuket bunga mawar merah ditangannya adalah buah tangan dari Ino.
Dia tersenyum mengingat pertemuannya dengan Ino tadi. Dia mendapat banyak informasi mengenai sang pujaan hati. Ino juga mendukung hubungannya dengan Sakura. Mulai dari betapa hancurnya Sakura pasca kematian Naruto, hingga Sakura yang selalu menenggelamkan diri ke dalam pekerjaan tanpa mengambil cuti.
Karena itulah dia disini ingin mengajak pujaan hatinya pergi kesalahan satu kedai sake dipinggir desa. Sesekali seorang Kunoichi sekelas Sakura juga butuh hiburan untuk melepas penat.
Naruto juga telah menemui kedua anaknya, dia sudah pamit akan pergi bersama Sakura.
Rasa lelah Naruto hilang entah kemana saat membayangkan kencannya nanti, tubuhnya sebenarnya sangat lelah, dia baru saja membantu pembanggunan rumah-rumah para penduduk desa. Ratusan bangunan berdiri sekejap mata, Mokuton memang sangat membantu.
Naruto bertanya kepada seorang perawat yang kebetulan bertemu dengannya dilorong rumah sakit. Wakil kepala rumah sakit sedang berada di kantin. Dia segera berpindah haluan menuju ke tempat kekasihnya.
Berjalan dilorong rumah sakit sebenarnya bukan gayanya, dia dulu selalu melewati jendela kantor jika ingin mengunjungi Sakura.
Naruto tersenyum lagi mengingat masa-masa itu. Tapi dia sekarang sudah dewasa, dia tidak ingin bertindak sesuka hati. Atau setidaknya itulah kesan yang ingin dia tunjukkan pada Sakura.
Tapi ketika dia sampai digawang pintu, tubuhnya mendadak kaku, tangan menggenggam erat bunga mawar merah, tidak peduli jika hadiah pemberian Ino itu akan rusak.
Dipojok sana kedua rekan satu timnya sedang bercengkrama dengan mesra.
Dia segera berbalik, tidak mampu menatap pemandangan yang disuguhkan. Bunga ditangannya telah berpindah ke keranjang sampah, dia segera hilang dalam cahaya kekuningan.
•
Planet asal Otsutsuki
Urashiki mengumpat, dirinya tidak habis pikir dengan ulah Naruto Uzumaki. Bagaimana mungkin Naruto bisa menutup gerbang teleportasi miliknya dengan api hitam yang tidak bisa dipadamkan? Api hitam bukanlah masalah, tapi fuinjutsu yang terpasang disanalah yang membuatnya kesusahan.
Jutsu teleportasi jarak pendek juga tidak dapat menembusnya. Fuinjutsu itu seolah melindungi api hitam tersebut, segala cara sudah dia lakukan. Seluruh petinggi Otsutsuki sudah angkat tangan. Bahkan Isshiki itu sendiri.
Rinnegan merahnya bisa melenyapkan gerbang dan membuat gerbang baru yang aman dari kobaran api hitam.
Sayangnya fuinjutsu itu membuatnya tidak bisa melepaskan gerbang teleportasi. Bahkan fuinjutsu itu juga melindungi api hitam tersebut dari kendi penyerap milik Ginshiki. Satu-satunya cara adalah dengan menunggu api hitam itu padam, setahunya api hitam akan padam setelah dua minggu dikobarkan.
Urashiki sedikit melirik sosok yang berdiri dibelakangnya, sosok itu nampak biasa saja. Tidak ada sedikitpun emosi yang terpancar darinya.
Dengan kaku Urashiki berbalik, dan menjatuhkan diri bertumpu di salah satu lututnya.
"Bagaimana ini Tuanku, Api hitam ini tidak bisa dipadamkan dan hamba juga tidak bisa melenyapkan gerbang ini"
"Apa opsi yang kita punya, Urashiki?" Suaranya terdengar tenang, tampak tidak terlalu terpengaruh oleh perbuatan Naruto.
"Menunggu selama empat belas hari hingga Api ini padam tuanku"
"Kalau begitu kita tunggu, seribu tahun kita mempersiapkan ini, empat belas hari bukanlah waktu yang lama"
"Perintahkan seluruh pasukan untuk beristirahat, aku tidak ingin mereka tiba di medan perang dalam kondisi yang kurang prima"
"Kau bisa menyampaikan pesan kepada Ginshiki diseberang sana kan?"
Urashiki mengangguk kaku. Api hitam itu memang memang menutupi seluruh gerbang teleportasi. Tapi masih bisa ditembus oleh teknik telepati klan Otsutsuki.
"Suruh Ginshiki untuk melakukan serangan kecil-kecilan, sebar teror dan ketakutan, hancurkan mental mereka" Isshiki menyeringai keji ketika mengutarakan rencananya.
"Baik Tuan, hamba laksanakan"
•
Markas bawah tanah Obito
Ruang bawah tanah ini dulunya adalah tempat persembunyian Madara, setelah dikalahkan dalam pertarungannya melawan Shodaime Hokage. Tempat ini kemudian diambil oleh Obito setelah Madara menutup usia. Dalam tempat ini terdapat akar dari pohon Shinju.
Ribuan tahun yang lalu, Kaguya telah melakukan Mugen Tsukuyomi untuk menghentikan perang saudara yang tidak ada habisnya. Perang itu tidak menghasilkan pihak pemenang karena seluruh manusia dari kedua belah pihak yang berperang, di ikat oleh pohon Shinju yang dikendalikan oleh Kaguya.
Selama ribuan tahun, mereka terjebak dalam mimpi tiada akhir. Mereka tidak bisa mati. Pohon Shinju menyokong kehidupan mereka semua.
Obito mengembangbiakkan Zetzu Putih dari tubuh manusia yang terikat oleh akar pohon Shinju tersebut. Dan menggunakan sel Hashirama Senju untuk memperkuatnya. Obito menggunakan mereka sebagai senjata untuk melawan aliansi Shinobi pada perang dunia Shinobi keempat.
Karena saking banyaknya jumlah manusia yang terikat oleh pohon Shinju, setelah perang dunia Shinobi keempat, masih tersisa ribuan Zetzu Putih yang belum dilepaskan oleh Obito. Sasuke mengetahui hal ini ketika dirinya ingin menghancurkan laboratorium Obito setelah perang dunia Shinobi keempat usai.
Sasuke menghancurkan laboratorium Obito, beserta seluruh eksperimennya. Eksperimen Obito kebanyakan tentang rahasia besar Klan Uchiha. Hal tersebut tentunya memancing murka Sasuke. Sasuke berhasil menghancurkan laboratorium hingga tidak bersisa. Tapi, dia membuat Zetzu Putih tersebut, Instingnya mengatakan jika suatu hari mereka dapat dimanfaatkan untuk kepentingan.
Insting seorang Sasuke Uchiha selalu benar,
Disinilah Sasike sekarang, melangkahkan kaki melewati lorong panjang menuju kearah akar pohon Shinju berada. Dia ditugaskan untuk mengambil tubuh Zetzu Putih untuk dijadikan tumbal Edo Tensei.
Beberapa ingatan kelam menyeruak begitu saja. Memori tentang kebobrokan dirinya dulu ketika masih belia. Dia dapat dengan mudah dipengaruhi oleh Obito, hingga menghianati kepercayaan teman-temannya. Dia dulu selalu dibutakan oleh kebencian.
Dia dulu sangat membenci Itachi karena membantai habis klan Uchiha menyisakan dirinya sendiri. Sasuke berambisi untuk membunuhnya. Tapi, Itachi tidak mati ditangannya, Dia mati karena penyakit yang telah lama dia derita.
Setelah kematian Itachi, Obito yang waktu itu mengaku sebagai Madara mendatangi Sasuke. Dia menjelaskan tentang rahasia dibalik pembantaian Klan Uchiha. Hal tersebut memicu kebencian Sasuke terhadap Desa yang telah menyakiti Kakaknya.
Dia akan menyerang desa Konoha ketika kekuatan desa sedang difokuskan pada perang dunia Shinobi keempat. Dia menyuruh Orochimaru membangkitkan keempat Hokage terdahulu, Demi memuaskan rasa penasaran dan untuk menemukan siapa jati dirinya.
Untungnya para Hokage terdahulu, khususnya Shodaime, Berhasil meluruskan jalan pikiran Sasuke. Sasuke berbalik membantu aliansi Shinobi dan menjadi satu dari dua sosok kunci kemenangan.
Menggelengkan kepalanya, Sasuke ingin membuang bayangan masa lalu yang menyelimutinya. Matanya menyipit ketika merasakan aura sosok yang dikenalnya. Sasuke bertanya-tanya, apa yang sosok itu lakukan disini padahal desa sedang dalam darurat perang?. Sensornya tidak mungkin salah, aura ini adalah milik Naruto. Naruto sejak kemarin menghilang dari desa padahal Hokage sangat membutuhkannya.
Apa dia hanya bunshin? tanya Sasuke dalam hati. Setahunya sahabat pirangnya itu sangat mengandalkan Kage Bunshin untuk membantu perkejaannya.
Melangkahkan kakinya lebih cepat, Sharingan miliknya berpendar merah dan memberikan penglihatan yang lebih baik dalam gelapnya lorong tersebut. Tak lama kemudian dia sampai diruangan super besar, disana terdapat akar pohon raksasa. Dia melihat Naruto yang sedang mencabuti Zetzu Putih dari akar pohon Shinju yang mengikatnya.
"Apa yang kau lakukan disini Dobe?" Seru Sasuke, dia meloncat kearah Naruto dengan sekali hentakan kaki.
Naruto mengumpat dalam hati, pikirannya kalut sejak kemarin, Ia bahkan sampai hilang fokus terhadap sensornya. Sehingga tidak merasakan kedatangan Sasuke.
Kekalutannya disebabkan oleh peristiwa kemarin sore di kantin rumah sakit desa Konoha. Dia melihat Sasuke dan Sakura yang bercengkrama bersama, Sakura tampak menangis ketika bersama Sasuke. Naruto mengira Sakura menangis karena terpaksa untuk memilihnya. Sakura terpaksa memilihnya karena tanggung jawabnya atas Hanami dan Shinachiku yang secara tidak langsung adalah anaknya. Seperti itulah yang dipikirkan oleh Naruto.
Dia memang tidak mendengar percakapan keduanya. Tapi Naruto cukup yakin dengan asumsinya.
Naruto menjadi sangat merasa bersalah dengan Sasuke. Tidak seharusnya dia merebut Sakura dari Sasuke. Tidak seharusnya dia bersama Sakura malam itu. Dia hanyalah orang asing yang jauh dari tempat asalnya.
Oleh karena itu, sejak kemarin sore Naruto memutuskan untuk pergi dari Desa. Meninggalkan sejenak masalah ini, karena masalah lain yang lebih besar menanti di depan mata.
Sejak kemarin dia berjalan tanpa arah, kepalanya pening, tidurpun juga tidak bisa. Hingga langkah kakinya membawanya hingga ke markas bawah tanah bekas persembunyian Obito. Setibanya disini Naruto memilih untuk menyibukkan diri dengan mengambil satu persatu Zetzu Putih dari akar pohon Shinju. Meski dia tahu bahwa ini adalah tugas Sasuke.
Tapi dirinya sungguh tidak mengharapkan kehadiran Sasuke saat ini. Naruto tidak menyangka jika Sasuke akan datang hari ini. Dia belum mempunyai muka untuk bertemu Sasuke. Sayangnya sosok yang sedang dia hindari sudah berdiri dibelakangnya.
"Seperti yang kau lihat" Suara Naruto terdengar ketus, dia sekilas menoleh kearah Sasuke. Kemudian melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
Sasuke memicing melihat raut kesal Naruto. Netranya menangkap kantung hitam dibawah mata sahabatnya itu. Itu cukup menjadi bukti jika yang didepannya bukanlah seorang Bunshin, Melainkan Naruto yang asli.
"Bukankah ini tugasku?" Tanya Sasuke kebingungan.
"Aku sedang tidak ada kerjaan, makanya aku melakukannya sendiri" Jawab Naruto tanpa menatap Sasuke yang mengekor dibelakangnya, tangannya terus mencabut satu persatu Zetzu Putih dan melemparkannya ke gulungan penyimpanan yang terbuka dilantai tempat ini
Sasuke tahu jika ada yang tidak beres dengan sahabatnya ini, Naruto selalu menatap lawan bicaranya. Tidak mengacuhkannya seperti saat ini. Tapi Sasuke bukan Yamanaka yang pandai membaca perasaan seseorang. Kemampuannya dalam memahami seseorang sangatlah minim.
"Istirahatlah, kau terlihat kelelahan" Ungkap Sasuke prihatin dengan kondisi sahabatnya.
"Aku tidak bisa beristirahat dengan situasi yang semakin memanas"
"Rokudaime sejak kemarin mencarimu" Sasuke tidak berbohong, Kakashi memang mencari Naruto karena ada sebuah berita penting yang harus mereka bahas.
"Ada perlu apa memang?"
"Kau tidak tahu?"
"Apa yang tidak kutahu?"
"Otsutsuki menyerang keempat desa besar yang lain, Rokudaime menyuruhmu untuk segera menyusulnya ke Markas Besar Aliansi Shinobi, besok lusa akan diadakan pertemuan untuk membahasnya" Ujar Sasuke panjang lebar. Sasuke menantikan reaksi Naruto setelah mendengar perkataannya.
Seperti dugaan Sasuke, Naruto tersentak. Tubuhnya terlihat menegang. Naruto kecolongan, seharusnya bunshinnya memberinya informasi mengenai ini. Tapi, setelah dipikir-pikir ini tidak masuk akal. Urashiki masih berada di planet asalnya karena gerbang teleportasi masih tertutup dengan api hitam. Lalu siapa yang membuka portal dimensi buatan Kaguya? Jangan-jangan ada orang lain yang bisa melakukannya, Naruto berasumsi dalam hati.
Melihat reaksi Naruto, Sasuke tak habis pikir dengan sahabatnya. Bukankah sahabat pirangnya itu mengirimkan bunshin untuk memata-matai perkemahan pasukan Otsutsuki. Bagaimana bisa dia tidak mengetahui hal seperti ini?.
Menurut informasi dari Sasuke, Kakashi sudah berangkat ke Markas besar Aliansi Shinobi. Markas besar Aliansi Shinobi terletak di tengah lima negara besar, jaraknya dengan kelima negara besar sama. Kemungkinan besok sore para Kage sudah berkumpul.
Untungnya Naruto sudah menanamkan segel Hiraishin pada Kakashi, dia bisa sekejap mata pergi kesana.
Jadi Naruto masih memiliki sedikit waktu untuk menemui kedua anaknya. Dan mungkin, meluruskan masalahnya dengan Sakura, dia tidak ingin fokusnya terganggu mengingat perang yang semakin dekat.
Naruto hanya sekilas menatap Sasuke, melakukan komunikasi nonverbal. Kemudian Sasuke mengangguk, mengerti maksud sahabatnya itu. Dengan sekejap mata Naruto hilang dari sana bersama sekelebat cahaya kekuningan.
•
Rumah Sakit Konoha
Setelah beberapa hari gosip tentang pertunangan Uchiha terakhir dan Wakil kepala rumah sakit menghangat. Konoha kembali dihebohkan dengan beredarnya gosip baru, Sang Pahlawan dari dunia lain dikabarkan sedang menjalin hubungan dengan pewaris sah Klan Yamanaka.
Berita ini dimuat oleh salah majalah gosip Konoha, beritanya mengatakan jika Naruto dan Ino berpelukan, bahkan Ino sekilas mencium pipi Naruto. Ino kemudian memberi Naruto sebuket mawar merah. Parahnya lagi, gosip ini diperkuat dengan adanya foto yang menunjukkan kegiatan keduanya didepan pintu masuk toko bunga keluarga Yamanaka.
Ino tidak habis pikir mengetahui hal ini. Konoha belum pulih sepenuhnya, mungkin masih sekitar lima puluh persen normal. Bahkan desa sedang darurat perang, bisa-bisanya sebuah perusahaan majalah sudah beroperasi seperti biasa. Para penduduk yang katanya hartanya hangus karena serangan Ginshiki, masih mampu untuk membeli majalah murahan itu.
Dalam hati, Ino sangat menyesali perbuatannya kemarin. Gosip yang dicetak di majalah itu benar, Ino memeluk dan mencium pipi Naruto, kemudian memberikannya sebuket mawar merah. Tapi dia tidak bermaksud lain, selain sebagai tanda terima kasih kepada Naruto yang sudah mengembalikan sosok Sakura nya yang dulu. Ino tidak pernah memiliki perasaan khusus untuk Naruto.
Gosip itu tentunya menyebar cepat keseluruh penjuru desa Konoha. Dirumah sakit pun, hanya itu bahan pembicaraan yang orang-orang bahas. Pihak perusahaan majalah sangat pintar membuat berita yang laku dipasaran.
Ino dibuat uring-uringan, Sakura mengabaikannya. Tidak menjawab sapaannya, Sakura melengos pergi ketika Ino menghampirinya. Ino hanya bisa berharap pada Naruto. Karena dia tahu betapa keras kepalanya seorang Sakura. Orang keras kepala hanya bisa diatasi oleh orang yang sabar dan pantang menyerah, dan Naruto lah satu-satunya pilihan yang ia miliki.
Ino saat ini diberi tanggung jawab atas rumah Sakit Konoha. Dia adalah satu-satunya Kunoichi medis senior yang saat ini tidak disibukkan dengan persiapan perang. Tsunade pergi mendampingi Rokudaime ke markas besar Aliansi Shinobi, Shizune dan Sakura diberi tugas untuk mendata persediaan alat medis dan obat-obatan.
Mengerjakan tugas seorang kepala rumah sakit tidak semudah yang dibayangkan. Puluhan map dokumen menumpuk dimeja kantornya, wajar saja biasanya seorang kepala rumah sakit harus dibantu oleh wakilnya untuk mengerjakan seluruh dokumen tersebut. Dan Ino hanya sendirian, ditambah dokumen baru yang berdatangan seolah tidak ada habisnya.
Suara ketukan pintu mengundang desahan lelah Ino, pasti dokumen baru akan menambah tumpukan pekerjaannya. Tapi ketika pintu terbuka seorang Naruto berdiri tegak disana.
"Dimana Sakura-chan?"
Ino berdiri dan menyeret Naruto masuk kedalam. Kemudian menyerahkan majalah yang memuat gosip hangat di Konoha. Naruto melotot, menatap Ino meminta kepastian.
Ino hanya mengangguk, gadis itu mengusap air wajahnya.
"Sakura marah padaku, dia sejak pagi menghindariku"
"Dia pasti juga marah padaku"
"Sudah pasti, tapi hanya kau yang bisa menjinakkan singa betina itu"
Naruto menghela nafas, niatnya kesini adalah untuk meluruskan masalah kemarin. Kalau dipikir-pikir, gosip ini mempermudah keinginannya untuk melepaskan Sakura. Naruto hanya tinggal menyebar kebohongan yang membenarkan gosip tentang hubungannya dengan Ino. Sakura pasti akan membencinya setelah ini. Dia pasti akan memilih Sasuke daripada Naruto.
Tapi, bagaimana dengan Ino? dia juga terlibat dalam masalah ini. Tidak mungkin Naruto akan membiarkan hubungan keduanya merenggang karena kesalahpahaman ini. Mau tidak mau dia harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Baiklah, dimana dia sekarang?"
"Dia ada di gudang logistik desa, sebentar lagi mungkin jam istirahat makan siang"
Naruto menangkap kegusaran di Aquamarine Ino.
"Jangan khawatir, dia tidak akan pernah bisa membencimu" Ungkap Naruto menenangkan.
"Ya aku tahu itu"
•
•
•
TBC
AN : maaf ga bisa up cepet, lagi sibuk belajar buat ujian susulan. gara-gara kena isolasi gw jadi ketinggalan UTS.btw ada yang nanya kalau PH KNTLSUPER itu akun pubg gw ato bukan. iya itu akun gw. kalo ada yang mau mabar langsung add aja. tapi jgn salahin gw kalo nanti gw jadi beban, gw emang cupu main pubg.Mungkin itu aja, chapter depan akan saya usahain lebih cepat up. Sekian dari gw KNTLSUPER bye bye.
