Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto
Summary : Dunia Shinobi selalu dihadapkan dengan perang, para penjajahakan selalu datang. Sekali lagi, ada pihak yang menginginkan kehancuran dunia Shinobi. Apakah Sang Pahlawan akan kembali mempertahankan perdamaian?, meskipun dia telah kehilangan seluruh dunianya.
Genre : Romance, Drama, Family, Adventure
Rate : M
Pair : NaruSaku, Pair lain nyusul
Setting : Semi-Canon
Warning : OOC, MultiUniverse, Ide pasaran, Gaje, Berantakan
Happy reading...
•
•
Chapter 5. Keluarga yang Utuh
•
Gudang Logistik desa Konoha
Shizune tidak tahu apa yang menjadi penyebab hancurnya mood Sakura. Sejak pagi, Sakura terlihat suram dan dikelilingi oleh aura tidak bersahabat yang menguar dari tubuhnya. Sakura juga menjadi lebih sensitif, dia mudah sekali terpancing emosi, contohnya saat ini.
"Kenapa kau tidak becus mengurus hal sekecil ini? kau jangan menyepelekan hal kecil, hal kecil seperti ini bisa berakibat fatal" Pekikan keras Sakura, membuat udara panas semakin memanas dalam gudang ini. Suasana yang tadinya ramai mendadak sunyi.
"Maaf Haruno-san saya tidak teliti" Pemuda Chuunin yang diketahui bernama Maeda itu, tidak berani menatap Sakura. Dia menunduk menatap lantai dalam hati dia berdoa agar sang Kunoichi merah muda memaafkannya.
Puluhan pasang mata menatap peristiwa yang terjadi dipojok gudang ini. Ada yang menatap kasihan pada Maeda, ada juga yang menatap dengan seolah-olah mengatakan ' MAMPUS LU ANJING'.
"Makanya jangan bercanda terus, aku tahu kau tidak serius melakukan ini, sejak tadi kau bermain-main dengan temanmu itu..."
Ceramah Sakura terus berlanjut. Menurut perhitungan Shizune, ini sudah kelima kalinya Sakura memarahi orang yang ditugaskan disini. Dan itu semua karena sebuah masalah sepele. Ini sangat bertentangan dengan sifat Sakura.
Sakura biasanya lebih penyabar dalam bertugas tidak seperti Godaime yang sering marah-marah. Apa mungkin Sakura tertular sifat tempramental Tsunade? Shizune bertanya dalam hati.
Karena tidak tega melihat Maeda yang dimarahi habis-habisan, Shizune memutuskan untuk menginterupsinya.
"Sudah sudah, Sakura-chan kasihan Maeda-san, dia kan juga sudah minta maaf, dan Maeda-san jangan diulangi lagi ya kerja yang serius" Suara Shizune terdengar bagai malaikat penyelamat ditelinga Maeda.
Helaan nafas panjang Sakura mengisi keheningan gudang tersebut.
"Baiklah, aku memaafkanmu kali ini, kali aku akan memberimu sanksi jika kau mengulangi lagi, mengerti" Ujar Sakura tajam.
"Hai Haruno-san, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi" Maeda mengangguk dan pergi dari sana.
Sakura mengedarkan pandangannya kesegala arah, dirinya baru sadar jika menjadi pusat perhatian.
"Semuanya dengarkan aku, istirahat makan siang satu jam setelah itu kembali lagi kesini, pekerjaan kita masih banyak" Ujar Sakura keras-keras, orang-orang disana segera membubarkan diri dengan tujuan masing-masing.
Sakura masih berdiri mematung disana, Netranya menerawang jauh. Entah apa yang dipikirkannya.
"Sakura-chan, kau nampak tertekan, apa kau baik-baik saja?"
"Maaf senpai, aku sedang banyak fikiran"
"Aku tidak keberatan jika kau butuh teman bicara, jangan sungkan"
Sakura menggeleng, dia memberikan senyum terbaiknya.
"Terimakasih senpai, maaf hari ini aku sedikit menyebalkan"
Shizune tersenyum, Sakura terlihat menyesal karena telah mencampurkan emosi saat bekerja.
"Tidak kurasa kau hanya bertindak tegas sebagai penanggung jawab disini"
Sakura tergelak, senpainya ini memang selalu bisa bersikap dewasa ketika menghadapi dirinya yang labil.
"Mau makan siang bersama? beberapa kedai sudah buka loh" tawar Shizune.
Sakura mengangguk makan siang bersama Shizune lebih baik dari pada makan siang sendiri.
"Ayo" isyarat Shizune mengajak Sakura pergi bersamanya.
Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari gudang logistik desa Konoha, setelah diluar emerald Sakura melihat tiga sosok familiar yang dikenalnya.
"Mama!" Seru gadis kecil berambut merah muda itu dan berlari kearahnya.
"Hanami?"
"Papa, ingin mengajak kita makan siang bersama"
Mendengar kata Papa, membuat air wajah Sakura sedikit berbeda. Responnya sedikit terlambat, padahal orang yang menjadi penyebab moodnya tidak karuan sejak tadi berdiri disana.
Hal tersebut tidak lepas dari perhatian Shizune. Dia memang bukanlah tipe orang yang suka bergosip, tapi dirinya tidak tuli. Dia dengar pembicaraan orang-orang tentang Naruto dan Ino. Shizune berpikir bahwa inilah yang menjadi penyebab hancurnya mood Sakura hari ini. Entah kenapa dirinya baru sadar dengan hal ini.
Shizune tersenyum dalam hati dia berharap supaya mood Sakura membaik setelah bertemu dengan Naruto.
"Yah, kurasa aku akan makan siang sendirian" ujar Shizune dengan nada dibuat seolah dia sedang kecewa.
"Apa yang kau katakan bibi? kau bisa bergabung bersama kami" Sahut Hanami penuh semangat.
"Mungkin lain kali, bibi tidak ingin mengganggu kebersamaan kalian" tolak halus Shizune.
Hanami melenguh kecewa, menggembungkan pipinya. Shizune yang melihatnya tergelak, dia tidak tahan untuk tidak mencubit gemas pipi gadis kecil itu.
"Baiklah, bibi pergi dulu" Ujar Shizune dan melenggang dari sana.
Hanami melambaikan tangan dengan semangat, mengantar kepergian Shizune.
Sepeninggalan Shizune, Sakura memicing menatap lurus Naruto. Dia tahu akal bulus Naruto yang mengajak anak-anak untuk meluluhkan hatinya. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum tanpa dosa.
Karena bersama anak-anak, Sakura mau tidak mau harus bersikap seperti biasa. Sakura merebut Shinachiku dari gendongan Naruto. Mereka berjalan beriringan dengan Hanami yang memimpin jalan. Tujuan mereka adalah kedai Yakiniku yang katanya sudah berjualan sejak tadi pagi.
Sepanjang perjalanan Hanami terus bercerita tentang pengalamannya membuat kue bersama Nenek Mebuki. Naruto dan Sakura sesekali menimpalinya. Sekilas, mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang normal. Tapi jika dilihat lebih dekat, akan terlihat dinding tidak kasat mata yang membatasi kedua sosok orangtuanya.
Mereka berjalan berdampingan, tapi terasa berjauhan. Tidak saling menatap bahkan berbicara. Hanya Hanami lah yang membuat mereka berdua bersuara.
Beberapa menit kemudian...
Hanami saat ini sedang berada didepan kedai Yakiniku, Mereka terlambat datang, seluruh meja didalam kedai sudah habis ditempati orang. Orangtuanya sedang mengantri didalam. Mereka memutuskan akan membeli makanan dan mememakannya ditempat lain.
Hanami yang bosan mengantri meminta izin untuk keluar. Kaki kecilnya melangkah kesana kemari, dia tidak takut tersesat karena dia tahu ayahnya bisa menemukan dirinya dalam sekejap
Netra biru langit Hanami berbinar seketika melihat sebuah permen kapas. Warna merah muda yang mirip rambutnya seolah menghipnotis dirinya. Selama hidupnya dia tidak pernah melihat benda itu. Tapi, entah kenapa dia merasa jika benda itu rasanya nikmat.
Terlalu lama terpaku menatap kembang gula itu, Hanami tidak sadar jika kedua orangtuanya keluar dari kedai. Sekantung plastik makanan dibawa oleh Naruto.
Keduanya mengikuti arah pandang Hanami, Naruto tersenyum dan mendorong pelan tubuh mungil itu menuju ke stand penjual kembang gula.
"Paman, kembang gulanya dua"
"Baik, segera datang"
Dengan cekatan Paman penjual kembang gula itu mempersiapkan pesanan mereka. Tak butuh waktu lama kembang gula itu sudah berpindah ke tangan mungil Hanami. Satunya lagi berada ditangan Sakura.
Binar riang dan senyum lebar tak lepas dari Hanami.
"Berapa ini Paman?" Ujar Naruto sambil merogoh sakunya.
Paman penjual itu hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
"Anggap saja ini sebagai hadiah selamat datang dariku, Naruto-san"
"Wah, terimakasih Paman"
"Sama-sama, datang lagi ya"
"Pasti" Balas Naruto, kemudian mereka berlalu dari sana.
Tanpa sang penjual itu sadari, selembar uang sudah tergeletak di meja standnya. Bukannya Naruto menolak kebaikan Paman tersebut, tapi dirinya hanya tidak ingin merepotkan orang lain. Selama dia masih mampu dia tidak akan pernah menerima sesuatu secara cuma-cuma, itulah prinsip yang ditanamkan olehnya.
Keluarga kecil itu berpiknik di lapangan training yang dulunya digunakan sebagai tempat latihan Tim tujuh. Tempat ini sudah banyak berubah, pohon-pohon semakin tinggi dan rindang membuatnya cocok digunakan sebagai tempat berteduh. Mereka menggelar tikar dibawah salah satu pohon disana.
Siang ini matahari tidak terlalu terik, sangat mendukung piknik mereka hari ini. Mereka menyantap makan siang dengan khidmat. Senyum manis tidak pernah lepas dari bibir mungil Hanami, inilah keluarga yang diimpikannya.
Tapi, senyum itu perlahan memudar. Gadis kecil itu baru menyadari kejanggalan yang disembunyikan oleh orangtuanya. Mungkin karena tadi dia terlalu senang hingga ini luput dari perhatiannya.
Sesuatu terjadi diantara kedua orangtuanya. Mereka berdua sering diam, Hanami lah yang sejak tadi mengisi kesunyian. Kedua orangtuanya hanya menimpali perkataannya.
Usahanya menyatukan mereka terlihat sia-sia, tapi dia tidak akan menyerah semudah itu. Dia akan terus berusaha untuk kembali menyatukan mereka, hingga akhirnya mereka sadar jika mereka tidak akan pernah bisa terpisahkan.
"Papa, kenapa dari tadi diam saja? apa ada masalah?"
Naruto tersenyum lembut, mengusap kepala merah muda gadis kecil itu.
"Papa hanya kurang istirahat sayang"
Jawaban Naruto tidak sepenuhnya salah, terakhir kali ia tidur adalah kemarin malam. Tapi bukan itu jawaban yang diinginkan oleh Hanami.
Naruto tidak mungkin kan jika menjawab 'kemarin sore Papa melihat Mamamu bersama laki-laki lain' Selain itu kejadian saat mengantri makanan di jeda Yakiniku menambah beban pikiran Naruto. Ibu pemilik kedai memberikan makan siang secara cuma-cuma sebagai ucapan selamat atas Pertunangan Sasuke dan Sakura.
Sejak Naruto tiba di desa Konoha, dia memang belum mendengar berita hangat tersebut.
Sakura tadi sudah menjelaskan jika itu hanyalah berita hoax, tapi hatinya tetap merasa tidak rela. Memang siapa yang rela jika perempuan yang kau cintai bersama pria lain? Naruto berpikir apakah seharusnya dia berpisah dengan Sakura? dia merasa seperti perebut kekasih orang. Apalagi kekasih sahabatnya sendiri.
Satu jam terasa singkat bagi Hanami, dia masih ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya. Meski kedua orangtuanya tampak tidak akur, setidaknya mereka mempertahankan sikap demi dia dan adiknya.
Naruto mengantarkan Hanami dan Shinachiku ke kediaman Haruno, sedangkan Sakura kembali ke gudang logistik desa untuk melanjutkan tugasnya.
•
Malam hari di desa Konoha masih sepi, kegiatan malam belum pulih sepenuhnya. Hanya beberapa ninja yang tampak berkeliaran berpatroli disepanjang jalan desa.
Disalah satu kedai sake dipinggiran desa, Naruto dan Sakura duduk berhadapan. Dua botol sake berada di meja yang membatasi keduanya. Naruto tadi menjemput Sakura dari gudang logistik desa, masalah mereka harus segera diselesaikan. Kesalahpahaman harus segera diluruskan.
"Aku akan menjelaskannya, dengarkan baik-baik"
Sakura kemudian menjelaskan tentang awal mula gosip tentang hubungannya dengan Sasuke. Mulai dari dia yang kehilangan setelah kematian Naruto, tawaran pernikahan, Sasuke yang mabuk-mabuk dan lepas kendali, Sasuke yang menghilang tanpa kabar, hingga terakhir Sasuke kemarin sore menolak tawarannya.
Naruto mengangguk angguk paham, dia tidak ingin memperpanjang masalah ini. Dia berharap ini adalah terakhir kalinya dia berselisih dengan Sakura. Tadi sore Hanami menangis sambil memaksanya untuk segera berbaikan dengan Sakura. Hanami mengancam akan membencinya seumur hidup jika menyakiti ibunya.
Naruto tahu rasanya dibenci, dan itu sangat menyakitkan. Terlebih dibenci oleh orang yang kau sayangi. Dia tidak ingin Hanami membencinya, oleh karena itu dia disini dan mempercayai seluruh penjelasan Sakura.
"Kau mempercayaiku kan?"
"Aku mempercayaimu, hanya saja..." Naruto mendesah panjang "Aku merasa tidak enak hati dengan Sasuke"
"Sasuke-kun tidak pernah berniat untuk menerimaku, jikalau dia menerimaku mungkin karena menepati janjinya padamu"
"Janji apa yang aku buat padanya?"
"Dia mempercayakan aku pada Sasuke" jawab Sakura getir, netranya menerawang jauh kemasa yang tidak ingin diungkitnya.
"Sasuke menepati janjinya dengan baik" Ujar Naruto dengan senyum menenangkan.
"Buktinya aku masih hidup hingga kau kembali" Sakura menimpali. Senyum kecil kini bertengger manis di bibirnya.
"Kau benar" angguk Naruto setuju.
"Aku sudah menjelaskannya, kau memaafkanku?" tanya Sakura penuh harap.
"Tentu saja tidak" Seringai rubah diwajah Naruto membuat Sakura cemberut, emerald mendelik menatap orang didepannya. Orang lagi serius malah dibuat bercanda, Sakura jadi kesal sendiri dibuatnya.
Naruto tergelak keras, menghabiskan sake di gelasnya dengan sekali tegukan. Sakura semakin cemberut dibuatnya.
"Berhenti tertawa baka, kau belum menjelaskan tentang Ino" Ucap Sakura kesal.
"Baiklah, aku akan menceritakan tentang Ino"
Naruto kemudian menjelaskan pertemuannya dengan Ino kemarin, mulai dari dia yang kelaparan hingga peristiwa didepan toko bunga keluarga Yamanaka.
Mendengar hal itu, Sakura menjadi merasa berhutang permintaan maaf kepada sahabatnya itu. Seharusnya dia mendengar penjelasan Ino. Sakura terlalu dibutakan oleh rasa cemburu, hingga melupakan fakta jika sahabatnya itu tidak akan pernah mengkhianatinya. Ino selalu mendukungnya dan menghiburnya ketika sedang terpuruk. Meski kadang dia menyebalkan, Sakura mengakui jika Ino adalah sahabat terbaiknya.
"Kudengar dari Ino, kau seharian ini menghindarinya"
"Iya, hari ini aku sedang malas bertemu dengannya"
"Kau tahu kan, dia sahabatmu?" ujarnya mengingatkan.
Sakura tersenyum kecil, dan mengangguk. Dia tidak bisa berlama-lama bertengkar dengan Ino.
"Aku akan bicara dengannya"
"Ngomong-ngomong, apa yang membuatmu menghindarinya? apa berarti itu kau cemburu?" Tanya Naruto dengan binar jahil di mata birunya.
Sakura dibuat gelagapan oleh pertanyaan terakhir Naruto, rona tipis tercetak di pipi mulusnya.
"Cemburu? kenapa kau berasumsi seperti itu" Ucap Sakura dengan suara dibuat senormal mungkin.
"Dari buku yang kubaca, jika seseorang cemburu dia akan menghindari orang yang dicemburuinya"
"Sejak kapan kau menjadi seperti Sai? menyimpulkan segalanya melalui buku?" Ujarnya sambil menyeruput sake dari gelasnya, untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Kenapa kau jadi kesal begitu Sakura-chan? aku kan cuma nanya kau cemburu atau tidak"
"Tentu saja tidak baka"
"Yakin tidak cemburu?" Goda Naruto.
"Kenapa aku harus cemburu kepada seorang baka sepertimu?" Sanggah Sakura.
"Tapi gelagatmu mengatakan demikian" Pernyataan Naruto membuat Sakura tidak bisa mengelak, Entah sejak kapan Naruto menjadi orang yang peka terhadap perasaan.
"Arrrggh, baiklah aku cemburu" Raung Sakura dengan sangat cepat, hingga terdengar tidak jelas apa yang dikatakannya.
"Apa yang kau katakan, aku tidak mendengarnya"
"Aku cemburu, aku cemburu jika kau dekat dengan perempuan lain, walaupun perempuan lain itu adalah Ino, kau puas?" Ungkap Sakura panjang lebar, wajahnya sudah penuh dengan rona kemerahan. Karena tidak tahan, dia menelungkupkan wajahnya ke meja dan menyembunyikan wajahnya dibalik lipatan tangannya.
Naruto tertawa keras mendengarnya, dirinya tidak peduli jika pengunjung lain menatapnya dengan pandangan aneh. Menurutnya tingkah Sakura yang kekanakan sangatlah lucu dimatanya.
"Diamlah bodoh" Sahut Sakura masih dengan posisinya. Wajahnya terasa panas, malu dan kesal karena godaan Naruto. Meski dia saat ini sedang kesal, tapi dia juga bersyukur. Naruto telah kembali bersikap seperti biasa. Naruto yang jahil dan suka mengerjainya, Naruto yang suka menggodanya. Itu berarti masalah mereka sudah selesai, kesalahpahaman telah diluruskan. Saat itu juga mereka telah memaafkan kesalahan satu sama lain.
•
Keesokan harinya
Suasana pagi dikediaman keluarga Haruno tampak lebih meriah dari biasanya. Setelah kedatangan dua malaikat kecil itu, pagi hari keluarga Haruno menjadi lebih berwarna, penuh canda dan tawa. Tingkah lucu kedua anak kecil itu mampu mengundang gelak tawa orang dewasa.
Saat ini mereka sedang berkumpul di meja makan. Sarapan pagi bersama adalah agenda mereka. Naruto juga ada disana, kebetulan tadi malam dia menginap disana. Meski begitu, dirinya tidak melakukan apa-apa pada Sakura. Bahkan dia tidur di kamar tamu, sedangkan Sakura menemani Hanami dan Shinachiku di kamarnya dahulu.
"Naruto, kau mau tambah nasinya?" tawar Sakura.
Naruto yang masih fokus pada makanannya sontak beralih menatap Sakura, dia menggeleng pelan. Menelan makanan yang sudah dikunyahnya.
"Tidak terimakasih"
"Bagaimana dengan lauknya?" tawar Sakura lagi.
"Tidak, ini sudah cukup" Naruto menolak halus.
Sakura memutar kedua bola matanya dengan bosan, sontak dia berdiri dan meraih piring Naruto yang hampir kosong. Dia menambahkan dua centong nasi dan beberapa lauk.
Naruto melongo melihat itu, Mebuki dan Kizashi pun sama. Kedua orangtua Sakura tersenyum kecil melihat perhatian Sakura kepada ninja pirang itu. Walaupun ada sedikit rasa tidak rela yang menyeruak dari hati sang Ayah ketika melihat interaksi putrinya dengan pria lain selain dirinya.
"Kau harus makan yang banyak Naruto, pekerjaan berat sedang menunggumu"
"Err, baiklah" balas Naruto sambil menerima piring itu dengan sungkan. Malu setengah mati, mana mungkin seorang calon menantu menghabiskan banyak makanan milik calon mertua?.
"Tidak usah begitu Naruto, aku tahu kau ingin nambah lagi" ujar Sakura blak-blakan.
Mebuki terkikik kecil melihat hal itu. Shinachiku yang sedari tadi dipangkunya ikut tertawa seolah mengerti maksud sang Nenek. Hal itu mengundang pandangan heran dari orang yang ada disana. Merasa ditatap Mebuki hanya mengangkat bahu.
"Apa? aku hanya lega, sekarang aku tidak akan khawatir dengan Naruto-kun jika menikah dengan Sakura" Ujarnya disertai senyum keibuan.
Mendengar kata 'menikah' Naruto dan Sakura gelagapan. Mereka jadi salah tingkah sendiri karenanya. Naruto bahkan sampai tersedak karena secara tidak sadar menelan makanan yang belum dikunyahnya.
"Me-menikah?" Sakura bertanya kebingungan.
"Iya, kalian berniat menikah kan? Naruto bahkan sudah melamarmu kemarin, atau jangan-jangan..." Mebuki memicing kala menjeda ucapannya "Kalian tidak serius menjalani hubungan ini? kalian hanya bermain-main saja?"
Pertanyaan terakhir Mebuki memicu pelototan mata dari sang kepala keluarga Haruno. Bisa dirasakan aura membunuh menguar dari sana.
"Kami akan menikah" nada tegas dalam suara Naruto mampu menarik perhatian semua orang. Bahkan Hanami yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan para orang dewasa itu, ikut menghentikan acara makannya. Gadis kecil itu menatap sang Ayah dengan sorot mata penuh harapan.
"Aku berjanji akan segera menikahi Sakura-chan setelah perang ini berakhir" Naruto menunduk, tanda hormat kepada calon mertua. Suaranya penuh keyakinan, dia benar-benar tidak tahu akan keputusannya kali ini.
Tapi Kizashi berpikiran lain, sang kepala keluarga Haruno berdiri dan menggebrak meja makan. Semua orang disana berjengit kekagetan.
"Aku tidak akan membiarkannya" Seru calon ayah mertua itu dengan wajah memerah. Suasana mendadak tegang, atmosfir terasa berat disana. Keheningan menyelimuti ruang makan keluarga Haruno, bahkan Shinachiku yang sejak tadi mengoceh ikut terdiam.
"Jika kau ingin menikahi anakku, langkahi dulu mayatku" sepertinya Kizashi lupa dengan siapa dia berbicara. Disana adalah Naruto Uzumaki, seorang Shinobi dari universe lain, Ninja terkuat di dunia. Pahlawan yang telah diakui kekuatannya baik oleh kawan atau lawan.
Tapi terlepas dari segala titel dan kekuatannya, Naruto Uzumaki adalah seorang pria. Dan faktanya, semua pria di dunia takut kepada calon mertua. Hanya orang durhaka yang tidak takut kepada calon mertua.
Sedangkan Naruto adalah pria sejati dengan budi luhur yang di junjungnya. Dan sekarang dia meneguk ludah ketakutan. Dia hanya bisa berdoa agar sang calon mertua memberikannya restu.
Gelak tawa Mebuki memecah ketegangan disana. Sang ibu rumah tangga itu, mengelus lembut punggung suaminya.
"Sayang, apa kau lupa kalau kemarin lusa kau sudah memberi Naruto-kun restu?"
Kizashi tercengang mendengar perkataan istrinya, dia terlalu dibutakan oleh sifat daughter complex nya hingga melupakan fakta itu.
"Benarkah itu?" ujarnya pura-pura lupa dengan peristiwa kemarin lusa pagi dirumahnya.
Sang istri mengangguk, senyum geli terpatri di bibirnya. Kemudian beralih menatap Naruto, tatapannya seolah mengatakan untuk memaklumi sikap overprotektif Kizashi terhadap putri semata wayangnya.
"Tapi, tetap saja aku tidak akan membiarkanmu memiliki Sakura dengan mudah, bocah" ujarnya sambil menunjuk Naruto. Harga diri sebagai calon mertua terlalu besar. Sang kepala keluarga kembali duduk dan melanjutkan acara sarapan paginya, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku akan berusaha keras, Paman" Balas Naruto dengan semangat.
Lagi dan lagi Sakura tersipu dibuatnya, netranya berfokus pada Naruto. Pria itu tampak gagah dimatanya. Batinnya berteriak kegirangan, rona tipis di pipinya muncul begitu saja, bibirnya tidak kuasa menahan senyum. Naruto akan selalu memperjuangkannya, meskipun hal itu terdengar mustahil.
Hanami yang sejak tadi diam, tersenyum kecil. Tidak terasa setetes air mata meluncur dari manik birunya, buru-buru dia menunduk untuk menyembunyikannya. Hati kecilnya mengatakan jika ini adalah awal dari kehidupan barunya. Kehidupan yang sangat dia impikan, dimana sebuah keluarga lengkap dengan Ayah dan Ibu. Sebuah keluarga yang utuh.
Dalam hati dia sangat bersyukur, dia berharap semoga kebahagiaan ini terus bertahan, meski dia tahu di masa depan badai akan selalu datang.
•
•
•
TBC
AN : Gw capek bikin drama, chap depan langsung baku hantam, ngomong2 terimakasih bagi yang sudah ngeriview fic sampah ini setiap kata dari kalian adalah nutrisi bagi gw untuk ngetik fic sampah ini.
Sekian, gw KNTLSUPER undur diri bye bye.
