Huee, maaf atas keterlambatan updatenya. Ini lebih 2 bulan kan? Hueee, maaf bagi yang udah lama banget nunggu fict ini _

Akhir-akhir ini saya super sibuk banget. Maaf ya. Dan...rencana full of lime pun dibatalkan-_- tapi tapi...chapter ini lumayan panjang loh, jadi...setimpal kan sama updatenya yang lama? X3 #taboked

Karena ada sesuatu, makanya dibatalin untuk proses Full Of lime -,-

Oh iya, nanti dibawah ada beberapa pertanyaan yang akan saya jawab dan juga ucapan terimakasih.

Yuk baca fictnya. Selamat membaca XD

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

AU/OOC/Romance/Drama/Lime/Humor(maybe)

.

.

.

.

Pemuda berambut raven panjang tersebut melongo tak percaya dengan apa yang dia lihat dihadapannya. Tas kuliah yang sebelumnya ia pegang tadi jatuh meluncur dari tangannya. Meneguk ludah tak percaya, pemuda berumur 20 tahun itu bergumam kesal sambil memperhatikan sebuah ranjang yang sangat berantakan disebuah kamar yang pintunya terbuka lebar.

"Kampret, ternyata semalam dia bergumul di ranjang dengan cewek!"

Mengambil tas kuliah yang beberapa saat telah terjatuh, pemuda yang bernama lengkap Uchiha Itachi itu menelusuri sekeliling kamar adik kesayangannya—Uchiha Sasuke. Mencoba mencari sesuatu yang menarik dari kamar ini untuk mengusili adiknya itu. Mungkin seperti kondom yang sembarangan dibuang atau—

"Apa itu?"

Iris onyx miliknya yang tajam menangkap sebuah benda yang terlihat bersinar di atas ranjang yang hancur-lebur. Tangan kanannya yang bebas mulai mengambil benda yang sedang terletak manis di ats ranjang tersebut. Ditatapnya benda tersebut dengan seksama. Mencoba mencari tahu kenapa ada benda seperti ini di dalam kamar adiknya.

"Gelang?" ucap Itachi sembari memperhatikan gelang clover berdaun empat itu dengan serius. "Apa Sasuke membelikannya untuk perempuan yang semalam diajaknya, hm? Tumben,"

Seringai kemudian muncul menghiasi bibir tipis Uchiha sulung itu. Digenggamnya erat gelang tersebut kemudian dimasukkannya ke dalam saku celananya yang berwarna hitam. Sebuah ide terlintas di otaknya yang lumayan encer.

"Menarik."

Ah, sepertinya malam ini Uchiha Sasuke akan dijahilinya sampai dirinya merasa puas.

.

.

.

.

My Hentai Prince

.

.

Chapter 6

.

Original Story from Azuka-nyan

.

.

Rate M for Lime (Maybe)

.

.

.

.

.

"Sakura-chan!"

Gadis cantik berambut soft pink itu menoleh kebelakang disaat seorang pemuda berambut merah memanggil namanya. "Sasori-kun?" ujarnya kemudian berhenti berjalan sejenak. Mencoba menunggu pemuda berwajah baby face itu datang kearahnya.

"Sendirian?" tanya pemuda itu penasaran, kemudian dijawab Sakura dengan anggukkan kecil. "Tak bersama suamimu?"

Demi Tuhan! Sakura hampir tersedak air liurnya sendiri ketika mendengar pertanyaan Sasori yang aneh itu. Suami? Tolong digaris bawahi. Gadis soft pink ini tidak menikah dengan pemuda raven—yang mesumnya kelewatan—bernama Uchiha Sasuke.

"Sa-Sasori-kun," Sakura menatap Sasori sambil tersenyum kikuk. "ka-kau salam paham..."

"Hm?"

"Aku dan Sasuke tidak menikah," jeda sejenak, Sakura menghela nafas pasrah. Mencoba meneruskan kata-kata selanjutnya. "kami ini hanya te—"

"Kekasih?" Sasori tersenyum manis sembari menatap Sakura yang kembali tersedak. "Aku tahu semuanya, Sakura-chan, aku hanya berpura-pura bodoh, kok."

"Bu-bukan! Aku bukan kekasihnya!"

"Tak ada gunanya mengelak," Sasori menghela nafas pasrah sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya masing-masing. "aku memang bodoh karena menyukai seseorang yang sudah punya pasangan," Sasori kemudian mulai berjalan. Diikuti dengan Sakura yang ada dibelakangnya. "rasanya aku ingin merampasmu dari Uchiha."

DEG!—Merampas? Bola mata gadis itu membulat. Sangat aneh seorang yang polos seperti Sasori berucap 'ingin merampas'. Sebegitu sukanya kah pemuda itu pada dirinya sampai ingin merampasnya dari Uchiha Sasuke?

Mengenai tentang Uchiha Sasuke. Gadis itu kembali teringat akan pemuda mesum tersebut. Pemuda yang beberapa menit lalu telah ia 'bogem mentah' ditengah jalan dan kemudian pingsan seketika. Pemuda yang benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Pemuda yang sukses membuatnya blushing setiap hari.

Pemuda yang—

"Sakura?"

—sukses membuatnya menyukai pemuda raven tersebut.

"Hei, kau melamun," Sasori menepuk pundak Sakura. Berusaha menyadarkan gadis soft pink tersebut dari lamunannya.

"Ah, ma-maaf," Sakura tersenyum kikuk sembari menyelipkan anak rambut kebelakang telinganya. "aku terlalu banyak mela—"

GREP!—Pergelangan tangan kiri milik Haruno Sakura dipegang erat oleh Akasuna Sasori. Mata gadis itu terbelalak kaget. Otaknya seolah mencerna tindakan yang diberikan oleh pemuda itu. Hei, ada apa Sasori pegang-pegang tangannya?

"A-ada apa, Sa-Saso—"

"Mana gelangmu?"

DEG!—Mata gadis itu kembali terbelalak kaget. Ditariknya tangannya tersebut yang sempat dipegang erat Sasori sembari berkata gugup, "A-aku...aku—"

"Uchiha mengambilnya?"

Memang benar apa yang dikatakan Sasori. Sasuke memang mengambil gelang itu. Dan karena gelang itu dirinya hampir diperkosa Uchiha Sasuke. Gelang itu memang gelang clover berdaun empat. Satu hal yang membuat Sakura bingung. Gelang itu membawa keberuntungan atau kemurkaan Uchiha Sasuke?

"Bu-bukan," sergah Sakura sambil menggeleng sambil mencari alasan yang tepat. "aku...lupa meletakkannya dimana,"

Pemuda berambut merah tersebut hanya tersenyum lembut sambil mengelus pucuk kepala Sakura. Yah, Sasori tahu bahwa gelang yang diberikannya itu sudah pasti diambil Uchiha dan Sakura berusaha menutupinya agar pemuda itu tak curiga. Sekarang...pemuda itu terpaksa pura-pura tak tahu.

Ya...ini lebih baik.

"Sakura..." pemuda baby face itu memanggil Sakura dengan suara yang lembut. Berusaha untuk menyampaikan perasaan sukanya pada gadis dihadapannya tersebut. "...aku...a-aku sangat menyuka—"

"Kau meninggalkanku, honey,"

Gadis beriris emerald itu tersentak kaget saat suara yang lirih dan deru nafas seseorang terasa di telinga kirinya. Dirinya kemudian berbalik kebelakang. Sudah diduga. Uchiha Sasuke ada dibelakangnya dan datang disaat yang selalu tepat. Ya, sangat tepat. "Sa-Sasuke?"

"Bisakah kau menambahkan embel-embel –kun diakhir namaku?" Sasuke menatap tajam Sakura. Mencoba memberi peringatan pada gadis tersebut. "Lagi pula...untuk apa kau bersama pemuda bayi ini?"

"Uchiha!" merasa tak terima dirinya dijelek-jelekkan, Sasori menatap tajam Sasuke. "Kau—"

"Sudah aku peringatkan padamu bahwa Sakura adalah calon istriku, hm?" pemuda raven itu menatap sinis kearah Sasori. "Jadi...aku katakan sekali lagi pada—"

"Sasuke!" gadis soft pink itu membentak Sasuke. Membuat kedua pemuda yang berbeda rambut tersebut menoleh kearah Sakura. "Aku tak mau ada pertengkaran pagi hari seperti ini," jeda sejenak, gadis itu mulai menarik lengan kanan Sasuke. Mencoba menghentikan perdebatan ini dengan menarik salah satu pemuda tersebut. "sebentar lagi kelas akan dimulai, cepat!"

Pemuda raven itu hanya menuruti kata-kata kekasihnya. Meninggalkan pemuda berambut merah yang hanya menatap sendu kearah mereka berdua. Ah, rasanya ada yang sakit didalam tubuhnya.

"Haruno Sakura..." Sasori menyeringai tipis sembari menatap punggung Sakura yang semakin menjauh bersama pemuda raven yang menjadi kekasih gadis itu. "...sepertinya aku harus merampasmu secara kasar, eh?"

Tangan pemuda itu mulai mengambil SmartPhone-nya yang berwarna hitam. Mencoba mengetik beberapa kata di dalam sana. Seringai manis masih menghiasi bibir indah pemuda merah tersebut.

"Ah, ramalan selanjutnya seperti apa ya?"

.

.

.

"Hei, kenapa kau menarikku?" gadis soft pink tersebut menghentikan jalannya ketika pemuda raven tersebut menatapnya heran. "Tidak seperti biasanya, eh?"

Menghela nafas pasrah, Sakura balas menatap Sasuke. "Telingaku sudah terlalu lelah mendengar perdebatan kalian," jeda sejenak, "kau tahu? para fans-mu benar-benar gila! Mereka seenaknya menyebutku jidat!"

"Bukankah kau punya tenaga yang cukup kuat untuk melawan mereka bertiga?"

"Cih," Sakura mendecih tak suka. "jika aku melawan mereka, sudah pasti akan terjadi jambak-jambakan rambut. Aku tak mau hal seperti itu!"

Alasan.

"Baguslah," Sasuke mengelus pucuk kepala Sakura kemudian menyeringai puas. "berarti kau menyimpan tenagamu untuk bergumul di atas ranjang denganku."

WHAT?!

"Uchiha Sasuke, apakah kau ingin merasakan memar kembali menghantam wajahmu, hm?"

"Hei, hei," Sasuke mencoba menenangkan gadis soft pink yang mulai memunculkan api amarah di sekitar atmosfernya. "aku hanya berkata yang sejujurnya kok."

"Mulutmu terlalu jujur!"

"Jadi...aku harus berkata aku tak tertarik dengan tubuhmu yang tak indah dan dadamu yang terlalu rata, begitu?" Sasuke mulai melipat tangannya di depan dada. "Aku tak mau berbohong, yah...walaupun dadamu memang benar-benar rata,"

CTAK!

Dan empat sudut siku-siku muncul di jidat Sakura. Sial! Apa salahnya kalau dadanya rata? Nanti juga tumbuh kok! Tak bisakah pemuda mesum ini mengontrol ucapannya? Cih! Sasuke terlalu ceplas-ceplos kalau menyangkut tentang Sakura. Memang perkataannya jujur, tapi terlalu vulgar!

Mungkin...sehabis pulang sekolah, gadis ini perlu ke rumah sakit untuk mengecek tekanan darahnya.

"Ah, aku cepat lelah kalau bersamamu," memegang kepalanya yang terlihat sakit, Sakura berjalan meninggalkan Sasuke. "sebaiknya kau kembali ke kelasmu yang dulu, Hentai!"

"Tidak," balas Sasuke datar sambil memperhatikan Sakura yang menatapnya heran. "aku kan ingin bersamamu,"

DEG!—Ah, pemuda ini memang pandai membuat degup jantung Sakura berdetak kencang. Terlalu jujur dan juga...terlalu keras.

"Hei, hei, kau dengar? Katanya Uchiha itu ingin bersama perempuan pink itu!"

"Eh, yang benar? Mereka tak cocok! Bagai langit dengan cacing tanah!"

"Oh, tidak! Sasuke-kun kita telah didominasi oleh jidat pink itu!"

"Bagaimana kalau kita susun rencana untuk memisahkan mereka berdua?"

"Mereka sudah melakukan seks?"

"Sasuke sudah bertarung dengannya di atas ranjang, ya?"

Kampret.

Dan di pagi hari ini, gosip hangat tentang mereka berdua kembali muncul kepermukaan.

Ah, jangan lupa untuk digaris bawahi, Haruno Sakura still virgin.

.

.

.

"Sakura!"

Haruno Sakura meoleh kearah sumber suara. Dihadapannya telah berdiri dua sahabat terbaiknya—Hyuuga Hinata dan Yamanaka Ino—yang terlihat senang hari ini. Gadis pirang tersebut tak henti-hentinya tersenyum lebar. Sedangkan gadis lavender tersebut tak henti-hentinya tersipu malu dengan wajah yang semerah tomat.

Heh, ada apa ini?

"Kau tahu?" Ino memulai pembicaraan, "Sekarang kami berdua punya pacar!"

"Eh?" Sakura menatap heran sembari mengernyitkan alisnya. "Kalian punya pacar?"

Gadis pirang itu mengangguk mantap sembari merangkul bahu Hinata yang sedari tadi terus menunduk malu. "Kemarin Naruto menyatakan cintanya kepada Hinata tepat di depan rumah Hinata!" Ino kemudian berteriak histeris. "Kyaaa! So sweet sekali! Ditambah lagi, kemarin kan hujan. Huwaaa! Naruto benar-benar hebat! Benarkan Hinata?"

Hinata hanya mengangguk pelan. Malu karena Ino menceritakan dengan detail.

Haruno Sakura menghela nafas pasrah. Bukannya bosan karena mendengar Ino yang berceloteh, tapi karena teringat kejadian kemarin.

Kejadian yang benar-benar membuat perempuan soft pink ini ketakutan setengah mati.

Ya, antara hidup dan mati.

"Lalu...bagaimana denganmu?" ekor mata Sakura melirik kearah Ino. Memberi kode agar Ino menceritakan ceritanya.

"Aku?" Yamanaka Ino menunjuk dirinya sendiri. Membuat Sakura dan Hinata yang mengangguk penasaran. "Kalian kenal Sai dari kelas 2-1 kan?"

"Oh, yang jago melukis itu?"

"Iya," Ino menyunggingkan senyumnya. "kemarin sehabis pulang sekolah, dia mengajakku untuk makan kue bakpao. Kemudian karena hujan, aku dan Sai berteduh di sebuah gudang yang kosong. Lalu..." BLUSH!—wajah gadis pirang itu memerah. Entah karena apa tiba-tiba dia memotong ceritanya sendiri. Hal ini membuat Sakura dan Hinata bingung melihatnya.

"Ke-kenapa be-berhenti?" tanya Hinata yang juga penasaran atas kelanjutan cerita Ino.

"...Sai menciumku..."

BLUSH!—seketika, wajah para gadis itu memerah secara bersamaan. Ino berciuman dengan Sai? Hebat.

"...itu ciuman pertamaku..." lanjut Ino dengan wajah yang lumayan memerah. "...kemudian Sai menyatakan cintanya padaku...la-lalu mengantarkanku pulang setelah hujannya lumayan reda."

Sakura kembali menghela nafas. Ah, enaknya kalau pacaran dengan status 'sama-sama-suka'. Tidak seperti dirinya yang dengan terpaksa harus menjadi kekasih Uchiha Sasuke. Ah, iri.

"Hei, Sakura! Coba ceritakan tentangmu dan Uchiha itu,"

"Eh?" Sakura menatap Ino dengan tatapan kaget. "A-aku...tidak mau!"

"Eh?! Kenapa? Kau pasti lebih jago berciuman daripada kami! Sasuke kan pemuda liar,"

CTAK!—empat sudut siku-siku kembali muncul di jidatnya. Bagaimana gadis pink ini menceritakannya? Berciuman dengan Sasuke saja sangat kasar dan penuh nafsu. Tak ada sisi romantis.

"I-itu...ba-bagaimana ya..." seolah berbasa-basi, Haruno Sakura menggaruk kepalanya yang tak gatal. "...i-itu..."

Aduh, haruskah ia mengatakan yang sebenarnya?

Dalam hatinya, Haruno Sakura berdoa supaya pembicaraannya teralihkan.

"Ini sudah istirahat makan siang," belum sempat Haruno Sakura menyelesaikan perkataannya, tangan mungil gadis itu ditarik kasar oleh Uchiha Sasuke dengan tiba-tiba. "Cepat ikut aku!"

Sakura terpaksa meninggalkan kedua sahabatnya yang hanya menatap mereka berdua bingung. Pemuda raven itu benar-benar kasar menariknya. Sampai-sampai, Sakura tak dapat mengimbanginya. Ah, terpogoh-pogoh lagi deh.

"He-hei! Pelan-pelan!" teriak Sakura pada Sasuke. "Kita mau kemana?"

"UKS," balas Sasuke singkat tanpa memperdulikan Sakura yang bersusah payah mengimbangi langkah kaki Uchiha bungsu tersebut.

Satu hal yang Sakura yakini.

Uchiha Sasuke selalu datang di saat yang tepat.

Di saat Haruno Sakura sedang kesulitan mengatakan sesuatu kepada orang-orang.

.

.

.

"Sakiiit!" Haruno Sakura merintih kesakitan di saat Uchiha Sasuke menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur UKS. "Apa yang kau lakukan?! Sebentar lagi istirahat makan siang! Aku mau makan bersama Ino dan Hinata!"

"Ah, apa kau tahu?" Sasuke menyeringai sambil menjilat bibirnya. "Aku juga lapar, Honey,"

GLUP!—Sakura menelan ludahnya. Oh, tidak! Sekarang dia pasti akan dimakan!

"Ja-jangan mendekat! Da-dasar mesum!"

"Aku kan kekasihmu,"

"Jika kau kekasihku, seharusnya kau menjagaku, bukan memesumiku!"

"Aku kan sudah menjagamu, jadi...bolehkan aku minta imbalannya?"

Sial! Inilah hal yang paling dibenci oleh Sakura. Sasuke selalu bersikap seenaknya. Bahkan bisa mencium gadis ini dengan kasar dan bernafsu. Ah, jangan lupa bahwa Uchiha Sasuke selalu bersifat ingin mendominasi. Ah, mengesalkan.

Kemudian pemuda raven itu mendekat kearah Sakura. Mengelus pipi chuby perempuan itu dengan lembut. Menciptakan sensasi geli pada pipi Sakura. Membuat gadis itu melenguh dengan pelan.

"Ah, Honey," Sasuke menatap ke arah bibir bawah Sakura. Ekspresi pemuda itu melembut seketika. Tidak ada ekspresi mesum yang selalu dia pasang. "bibirmu bengkak,"

"Itu semua karena dirimu, mesum!"

"Salahmu sendiri kenapa kau begitu menggoda,"

Aaarrrggghhh! Habis sudah kesabaran seorang Haruno Sakura. Tenaganya sudah berkurang karena sering mem-'bogem mentah' Uchiha Sasuke. Sedangkan suaranya juga mulai serak karena terlalu sering teriak-teriak pada Sasuke. Tapi...kalau tidak diperlakukan seperti itu, Uchiha Sasuke tak akan pernah jera.

Ah, semuanya serba salah.

CHU~!—sebuah kecupan ringan membuat Sakura tersentak kaget dalam sungai amarahnya. Gadis itu menatap Sasuke heran. Kenapa pemuda itu mengecup bibirnya? Tanpa ijin pula!

"Itu kecupan penyembuh," Sasuke tersenyum tipis. "agar bibirmu tidak terlalu bengkak."

Bohong kalau gadis pink ini tidak tersipu malu. Hei, hei! Kecupan penyembuh? Sejak kapan ada obat seperti itu? Ah, tapi tak apa. Daripada diciumi dengan kasar. Lebih baik dikecup lembut.

Membicarakan tentang ciuman, tentu saja keinginan gadis ini adalah dicium dengan lembut dan intens. Bukan dicium dengan kasar dan mendominasi. Jujur, sebenarnya Haruno Sakura sangat iri dengan kedua sahabatnya. Hinata dan Ino menjalin hubungan atas dasar 'sama-sama suka'. Sedangkan dirinya didasari dengan 'sangat terpaksa'. Belum lagi perkataan Sasuke yang selalu menyangkut 'apakah kau masih mengingat kejadian 2 tahun lalu?'. Cih, 2 tahun apanya? Apa mereka pernah bertemu 2 tahun lalu? Mungkin pernah, mungkin tidak. Peluangnya sama-sama limapuluh. Mungkin juga pemuda itu mengarang cerita sendiri.

Tapi...mana mungkin pemuda itu mengarang cerita sendiri jika ia menatap Sakura dengan pilu tentang 2 tahun lalu.

Munafik kalau Sakura tidak mulai suka pada Sasuke. Gadis itu mulai menyukai Uchiha mesum Sasuke. Menurutnya Sasuke perhatian walaupun sedikit mesum. Pemuda itu sangat memperhatikannya dan menjaganya. Tapi...sayangnya pemuda itu penuh dengan nafsu.

Ah, kenapa pemuda ini memiliki sifat mesum yang tingkatnya luar binasa?

"Kau tak pernah menciumku dengan lembut," lirih Sakura pelan. Membuat Sasuke menoleh kearahnya. "Sa-Sasuke-kun hanya menjadikan aku pemuas, huh?"

Ah, tumben memanggil 'Sasuke-kun'.

"Oh, jadi kau ingin aku menciummu dengan lembut?" Sasuke meraih dagu mungil Sakura. Mencoba mendekatkan bibir ranum perempuan itu pada bibirnya. "Kenapa kau tidak minta dari dulu?"

"Ugh!" Sakura mendorong kasar Sasuke. Gadis itu tidak menyukai hal yang dilakukan pemuda tersebut. "Aku bukan pemuasmu, Uchiha!"

Ah, sial.

Sasuke sedih karena Sakura tak ingin menciumnya. Sakura sedih karena Sasuke menciumnya atas dasar 'nafsu'.

Memang benar, semuanya serba salah.

"Kau salah," Sakura meoleh kearah Sasuke. Iris mereka pun saling menatap satu sama lain. Mencoba memberi keyakinan pada gadis itu. "aku mencintaimu, bodoh."

Dan ciuman lembut pun tercipta diantara bibir mereka. Sakura sedikit terkejut dengan aksi Sasuke. Tidak ada sifat kasar diantara ciuman mereka berdua. Mereka berdua berciuman dengan lembut. Layaknya seperti ciuman pertama. Tak ada rasa untuk mendominasi. Terkadang Sakura sedikit mengerang karena Sasuke menekan bibir bawahnya yang bengkak. Tapi rasa sakit itu dapat terganti dengan rasa nikmat yang penuh dari Uchiha Sasuke.

Merasa lelah karena terus berciuman sambil duduk, Uchiha Sasuke merebahkan Sakura dengan lembut tanpa berniat melepaskan ciuman yang nyaman itu. Tangan Uchiha itu mengelus lembut pipi Sakura yang membuat gadis itu sukses melenguh karena geli.

"Uhmm, ukh..."

Ah, inilah ciuman yang sebenarnya Haruno Sakura inginkan.

Kedua tangan Sakura mengalungi leher pemuda raven itu. Mencoba memperdalam ciuman indah mereka. Sungguh, Sakura benar-benar terbuai dengan ciuman lembut ini. Mengerti dengan reaksi Sakura yang meminta lebih dalam, Uchiha Sasuke mencoba menjilat bibir gadis itu agar terbuka. Dijilatinya dengan lembut sampai Sakura membuka bibirnya. Lidah Sasuke mulai menerobos mulut gadis itu. Mencoba mencari lidah Sakura agar bisa diajak pemuda itu bermain.

"Ngghh! Ukh!"

Lidah mereka mulai bergulat. Tentu saja Sakura tak dapat mengimbangi. Sudah dapat diketahui bahwa tenaga pria lebih besar daripada wanita. Terkadang Sakura mendorong tubuh pemuda raven itu agar tak menindih tubuhnya terlalu rapat, tapi apa daya? Sifat mendominasi Uchiha Sasuke kembali muncul. Lidah gadis itu selalu diajak bermain-main tanpa henti. Tak peduli bahwa airliur mulai menetes keluar dari mulut Sakura.

Ah, bagi Uchiha Sasuke, hal ini sangat menyenangkan.

"Uhmm! Nghh! Ukh!"

Sakura kembali mengerang. Pasokan oksigen gadis itu sudah hampir habis. Gadis itu mencoba menggelengkan kepalanya agar ciuman dan lumatan sang Uchiha Sasuke terlepas dari bibir dan mulutnya. Mengerti akan keadaan sang kekasih, Uchiha Sasuke melepaskan Haruno Sakura. Suhu udara yang panas diantara mereka berdua, menciptakan embun yang keluar dari mulut mereka masing-masing.

Pemuda raven itu mengelap sudut bibirnya dari airliur—entah bekas siapa—yang mengalir dengan perlahan. Sasuke tersenyum puas. Akhirnya Sakura tidak terlalu melawan. Ah, senangnya. Mungkin setelah pulang sekolah, dia harus mengadakan pesta syukuran.

"Kau suka, hm?"

Haruno Sakura melirik kearah pemuda raven yang sedang tersenyum puas tersebut. Ukh, munafik jika dirinya menjawab tak suka. Inilah ciuman yang sebenarnya ia tunggu-tunggu dari Uchiha Sasuke. "Ukh, i-itu..."

"Ayolah, jujur saja, Honey..."

Ah, Haruno Sakura tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Sungguh memalukan.

"I-itu—"

Teng! Teng! Teng!

Oh, god! Bel penyelemat!

"Cih," Uchiha Sasuke mendecih tak suka. "kenapa disaat situasinya seperti ini sih?! Padahal aku masih lapar!"

Haruno Sakura menghela nafas lega. Akhirnya, dirinya ini terbebas dari pertanyaan Sasuke yang gila. Mencoba keluar dari UKS, gadis itu tak menghiraukan Uchiha Sasuke yang tak habis-habisnya menggerutu kesal karena perutnya masih kosong.

Mereka berdua harus masuk ke kelas sebelum guru datang. Atau hukuman akan menanti.

"Mau kemana?" ucapan Uchiha Sasuke sukses menghentikan aksi Sakura yang hendak membuka pintu UKS. Gadis itu pun kemudian berbalik kebelakang. Mencoba menghadap pemuda yang sedang menatapnya tajam. "Kenapa tak menungguku?"

"Aku tak ingin ada gosip,"

"Kau kan kekasihku!" Sasuke meraih tangan kanan Sakura. Mencoba menggenggam erat tangan tersebut agar tak dapat terpisahkan. "Seharusnya kita ke kelas bersama-sama!"

Sampai kapan gadis ini akan mengerti perasaan seorang Uchiha Sasuke? Yah...mungkin sebagai alasannya gadis itu tak pernah berpacaran sebelumnya, jadi dirinya tak begitu paham tentang hal-hal akan akan dilakukan saat berpacaran. Tapi...apakah sampai sebegitunya? Tak mungkin. Gadis itu walaupun memang tak pernah berpacaran sebelumnya, ia sudah tahu apa-apa saja hal yang dilakukan saat berpacaran. Termasuk berpegangan tangan.

Mengingat Uchiha Sasuke adalah sang pangeran sekolah yang mesum, membuat dirinya sadar bahwa sangat sulit berpegangan tangan dengan pemuda itu. Dirinya adalah seorang gadis biasa, sedang Uchiha Sasuke adalah pemuda yang sangat luar biasa.

Berbeda? Sangat.

Tapi satu hal yang dapat ia sadari.

Karena mereka berbeda, mereka bisa saling melengkapi nantinya.

Semoga saja.

"Jangan khawatir, aku tak akan menyeretmu kasar," tambah Sasuke tersenyum. Memberi keyakinan pada gadis tersebut. "kita jarang berpegangan tangan seperti ini kan?"

Sakura hanya terdiam. Menikmati sensasi hangat yang menjalar ke tangan kanannya. Membiarkan wajahnya yang cantik, merona dengan indahnya.

'Ah, sepertinya aku mulai menyukainya...'

Dan teriakkan para siswi yang cemburu pun semakin menjadi ketika kedua sepasang kekasih itu keluar dari ruang UKS.

.

.

.

Pemuda berambut merah itu duduk melamun menatap kearah jendela luar kelas. Dirinya mencoba memutar balik semua memori yang telah dilaluinya semenjak bertemu dengan gadis pink di kelas sebelah.

'Jodohmu adalah gadis berambut soft pink, saat pertemuan pertama, dirimu akan dipermalukan olehnya. Tapi ingat, itulah takdir atas pertemuan pertama kalian. Jadi...siapkan mentalmu, boy!'

Pemuda itu menggaruk kasar kepalanya yang tak gatal. Merasa frustasi dengan ramalan dari sebuah situs web untuk dirinya beberapa hari yang lalu. Ternyata seratus persen ramalan itu benar. Dirinya benar-benar dipermalukan oleh Haruno Sakura. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, gadis itu adalah jodohnya. Parahnya, gadis itu sudah punya kekasih. Damn! Di ramalan tersebut tidak dilaporkan bahwa jodohnya sekarang punya seorang kekasih.

Ah, kalian bertanya-tanya tentang masalah kenapa si Akasuna Sasori ini langsung menyukai gadis soft pink itu kan? Ramalanlah penyebabnya. Pemuda ini sangat menyukai dan sangat mempercayai ramalan. Dan ramalan tersebutlah yang membuatnya terjebak dalam cinta segitiga antara dirinya, Haruno Sakura, dan Uchiha Sasuke.

Akasuna Sasori kembali merutuki dirinya. Ah, ini semua salahnya karena terlalu terobsesi dengan ramalan.

"Kenapa mengomel sendiri?" kepala Akasuna Sasori tersebut menoleh kebelakang. Teman sekelasnya yang bernama Sai itu menatapnya heran. "Tentang Sakura lagi?"

Pemuda merah itu mengangguk. "Ya,"

"Rampas saja dengan kasar, apa susahnya?" ujar pemuda berambut hitam tersebut tanpa ekspresi, sembari melanjutkan kegiatan melukisnya. "Uchiha Sasuke juga tidak terlalu hebat dalam berkelahi, kok. Tapi..."

"Tapi apa?"

"...dia hebat di atas ranjang,"

Shit!

Ah, Sai memang moodbreaker. Berkata seperti itu tanpa rasa penyesalan.

"Kau memang hebat dalam hal berkelahi, tapi kau tak berpengalaman di atas ranjang, Sasori,"

CTAK!

"Akan kubuat kau berpisah dengan Yamanaka tercintamu itu jika kau berkata hal yang membuat perasaanku tak enak, Sai!"

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya,"

Sial! Pemuda merah itu menghela nafas pasrah. Andai saja Sai ini bukan sahabatnya, mungkin dia akan memukuli Sai sampai mati.

"Lebih baik aku memeriksa ramalan daripada meladenimu," ucap pemuda merah itu dingin kemudian mengalihkan pandangan matanya ke layar SmartPhone-nya itu.

Beberapa menit kemudian, pemuda yang bernama lengkap Akasuna Sasori itu menyeringai tipis dengan manis sembari mengunci ponselnya. Seringai tipis itu masih setia menghiasi wajahnya. Membuat sahabatnya menatap heran ke dirinya.

'Karena siang ini hujan turun sampai malam, akan lebih baik jika kau punya payung dan ajak dia pulang berdua denganmu.'

Ah, sepertinya dia harus beli payung di koperasi.

.

.

.

Haruno Sakura menatap air hujan yang mengalir di jendela kelasnya. Menghela nafas pasrah, gadis itu merutuki dirinya sendiri yang lupa membawa payung. Padahal tadi pagi dirinya masih sempat melihat ramalan cuaca yang telah ditampilkan di salah satu stasiun televisi terkenal. Karena terlalu banyak beban pikiran, gadis itu sampai lupa membawa payung. Sial.

Sakura kemudian melirik ke arah jam dinding kelasnya. Jam 4 sore. Sudah 1 jam hujan masih lebat tanpa ada maksud berhenti. Teman-teman sekelasnya pun sudah pulang seluruhnya karena membawa payung. Termasuk Ino dan Hinata yang pulang dengan kekasihnya masing-masing.

Dan sekarang, dirinya tinggal berdua bersama Uchiha Sasuke, sang kekasih paling mesum.

"Kita hujan-hujanan saja!" suara berisik Uchiha Sasuke mulai memasuki indra pendengaran gadis itu. Perlahan tapi pasti, gadis itu menoleh ke arah pemuda raven yang terlihat bosan menatap jendela kelas tersebut. "Aku lelah menunggu hujannya berhenti!"

"Kalau begitu kau pulang saja!"

"Aku tak bawa payung,"

"Ya sudah! Kau hujan-hujanan sana!"

"Aku kan ingin bersamamu,"

"Kalau begitu tunggu hujannya berhenti!"

"Tidak mau,"

"KALAU BEGITU APA MAUMU UCHIHA?!"

Teriakan Haruno Sakura menggema di kelas yang hanya ada dirinya dan Uchiha mesum tersebut. Merasa muak karena ucapan-ucapan Sasuke yang terlalu berbelit-belit. Ah, sial! Andai saja dia membawa payung, akan dia tinggalkan Uchiha Sasuke tersebut sendirian.

"Mauku?" Sasuke meyeringai. Dirinya yang awalnya duduk di kursi, mulai berdiri dan mendekati Sakura yang bersandar di jendela kelas. Sakura yang merasa bahwa kemesuman Uchiha itu muncul, mencoba menghindari pemuda raven tersebut. Tapi apa daya? Dirinya tak dapat bergerak lagi saat Uchiha itu sudah ada di hadapannya.

"Aku...menginginkanmu disini, sekarang."

Ah, sial. Menginginkan? Apa untuk kepuasan semata?

"Aku bukan pemuasmu!" Sakura berucap kasar.

"Kau memang bukan pemuasku," Sasuke mulai mengelus lembut pipi Sakura. Menimbulkan sensasi geli yang membuat gadis tersebut melenguh pelan. "kau kekasihku, aku mencintaimu, jadi...boleh aku menciummu, hm?"

Uchiha Sasuke selalu berbuat seenaknya.

Tapi...itulah sifat yang disukai Sakura.

Ah, bukan.

Uchiha Sasuke adalah orang yang sangat mesum.

"Kenapa kau selalu kasar kepadaku?" Sasuke menatap Sakura. "Kau...tak menyukaiku?"

Namun, didalam ke-mesuman itu, tersembunyi rasa jujur dan ketulusan.

Itulah yang sangat disukai Sakura.

Enggan menjawab, Sakura menundukkan wajahnya. Surai merah mudanya itu juga ikut menurun, menutupi sedikit wajah cantiknya. "Suka..." lirihnya.

Perlahan tapi pasti, bibir mereka berdua pun saling menyentuh. Kecupan-kecupan ringan mulai tercipta diantara mereka. Kehangatan juga mulai menjalar diantara wajah mereka masing-masing. Seakan melupakan bahwa di luar sana cuaca sedang buruk. Haruno Sakura merasa senang. Ciuman dari Sasuke tidak mengandung kekerasan.

Dengan perlahan, kedua tangan gadis soft pink itu meremas rambut Sasuke. Mencoba memperdalam ciuman indahnya. Sasuke sedikit tersentak, merasa bingung dengan reaksi Sakura. Tapi tak ia hiraukan karena gadis itu semakin mencoba mendorong kepala Sasuke untuk memperdalam ciuman. Sasuke menyeringai tipis. Akhirnya Sakura menikmatinya.

"Uhm, Sa-Sasu..." gadis itu mendesah dikala tangan kekar Uchiha Sasuke mengalung di pinggangnya. Mencoba mendorong gadis itu untuk memperdalam ciuman. Atmosfer panas mulai muncul diantara mereka. Mengalahkan hawa dingin yang ada diluar sana. Kecupan kemudian berubah menjadi lumatan. Dengan sedikit kasar—atau mungkin tak sabar—pemuda raven itu langsung melumat bibir ranum Sakura. Dirinya tak peduli bahwa masih ada rasa bengkak yang ada di bibir gadis itu. Sakura terlonjak kaget. Belum sempat meraup oksigen, bibirnya sudah dilahap dengan rakus.

"Uhhhmm! Umm!"

Sakura mencoba berontak. Sisa oksigen yang ada di tubuhnya semakin berkurang. Tanpa mempedulikan gadis yang berstatus menjadi kekasihnya itu, Sasuke mendorong Sakura hingga tubuh gadis itu semakin rapat ke arah jendela sekolah. Hawa dingin mulai terasa di indra peraba gadis beriris emerald itu.

"Akh!"

Sakura mengerang tertahan saat pemuda raven itu menggigit bibir bawahnya. Mencoba memasukkan lidahnya ke dalam mulut Sakura. Lidah Uchiha Sasuke pun langsung mengajak lidah Haruno Sakura untuk bergulat. Atmosfer di sekitar mereka menjadi lebih panas. Tangan Sakura yang awalnya mengalung di leher pemuda itu terlepas dan mulai mencengkram seragam sekolah Uchiha Sasuke. Sesekali gadis itu juga mendorong Uchiha bungsu itu agar berhenti mendominasi bibir dan mulutnya.

"Ukh! A-akh!"

Sekali lagi Haruno Sakura mengerang. Oksigennya benar-benar habis kali ini. Airliur juga sudah keluar dari mulut gadis cantik itu. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya kasar. Mencoba untuk terlepas dari dominasi Uchiha Sasuke. Uchiha Sasuke tentu paham dengan tingkah Sakura yang seperti ini. Dengan terpaksa, pemuda itu menarik lidahnya dari mulut Haruno Sakura.

Kedua remaja berbeda gender itu mencoba meraup oksigen dengan rakus. Seakan tak ingin berbagi satu sama lain. Keringat mulai muncul di wajah mereka masing-masing. Hawa dingin pun seakan terkunci untuk tak masuk ke dalam ruang kelas yang menjadi saksi bisu kegiatan mereka.

"Aku tak bisa bernafas, bodoh!" ucap Sakura kesal. "Kau ingin aku mati?"

Pemuda raven itu tak menghiraukan ucapan kekasihnya. Dirinya kemudian mendekat ke arah Sakura. Mencoba memeluk gadis itu perlahan.

"Aku mencintaimu," bisik pemuda itu ditelinganya. "kau benar-benar sudah melupakan kejadian dua tahun itu, eh?"

Ah, 2 tahun?

Gadis itu memejamkan erat matanya. Mencoba meresapi ucapan-ucapan Uchiha itu sedikit demi sedikit. 2 tahun lalu? Entah mengapa...jika Sasuke mengucapkan '2 tahun lalu', jantungnya terasa berdebar kencang. Antara rasa gugup dan ketakutan. Debaran jantung Haruno Sakura semakin menjadi disaat pemuda raven itu memeluknya erat.

"Tak apa jika kau lupa," lirih pemuda itu. "Tapi...apakah kau menyukaiku walaupun hanya sedikit?"

Ah, Haruno Sakura...kau harus belajar jujur pada dirimu sendiri.

Kedua tangan mungil Haruno Sakura membalas erat pelukan Uchiha Sasuke. Sungguh, dirinya mulai menyukai pemuda itu.

Atau mungkin...ia sudah kalah telak, eh? Apa dia kalah dengan pesona Uchiha Sasuke?

Gengsi.

Pemuda itu sedikit tersentak. Dirinya tersenyum tipis saat Sakura membalas pelukannya. Dengan perlahan, di kecupnya lembut leher gadis itu. Desahan pelan pun mulai keluar dari mulut gadisnya.

"Sa-Sasu...Ugh!"

Kecup, jilat, hisap, lalu...gigit. Itulah kegiatan yang akan dilakukan Uchiha Sasuke pada leher jenjang Haruno Sakura.

Dikecupnya leher mulus itu dengan lembut, kemudian dijilatnya perlahan. Sakura hanya mendesah menanggapi perlakuan Sasuke. Mereka berdua pun melupakan keadaan cuaca di luar sana.

"A-akh!"

Sakura kembali mendesah ketika Uchiha Sasuke menghisaplehernya dengan kasar. Mencptakan warna merah pada bagian itu. Tangan kanan pemuda raven itu bergerak menyentuh payudara Sakura yang masih dilapisi oleh baju seragam sekolah kemudian diremasnya pelan. Menimbulkan desahan yang lebih erotis keluar dari mulut gadis soft pink tersebut.

"A-ah, Sa-Sasuke..."

Ah, Uchiha Sasuke sangat senang ketika Haruno Sakura mendesah merdu karenanya.

"Sakura..." argh! Munafik dirinya jika tak terbuai dengan desahan Sakura. Dengan perlahan, digigitnya leher kekasih pink-nya itu dan desahan pun menjadi erangan sembari meremas dada Sakura kencang.

"Akh! Sa-sakit!" lirih Sakura sembari meremas rambut raven Sasuke.

Ah, Uchiha Sasuke, kau terlihat tak sabaran hari ini.

Apa karena Sakura terlihat pasrah?

Dengan kasar, Uchiha Sasuke melepas kancing baju Sakura. Merasa tak sabar melihat Sakura yang sudah pasrah tak berdaya. Sakura agak sedikit tersentak ketika Sasuke memperlakukannya kasar. Dengan segenap tenaga, gadis itu mendorong Sasuke agar menjauh darinya.

"Ugh, a-aku..." Uchiha Sasuke menggeram pelan. Merasa tak terima dengan sikap Sakura yang selalu menolaknya. "...tak tahan lagi..."

Apa...karena cuacanya terlalu mendukung untuk melakukan seks?

"...Sa-Sakura..." jeda sejenak, Uchiha Sasuke meneguk ludahnya. Merasa siap di 'bogem mentah' Haruno Sakura atas perkataan selanjutnya. "...a-aku—"

"—di rumah..."

Eh?

Uchiha Sasuke mebelalakkan matanya kaget. Tunggu. Sakura tadi bilang apa?

"...jangan disini..." Sakura merapikan kancing bajunya yang terbuka. Wajah gadis itu sudah semerah tomat. "...ba-bagaimana...ka-kalau di rumahku...?"

Oh, demi Kami-sama. Ini sungguhan bukan?

"Tapi..." cicit Sasuke ragu, "...di luar masih hujan..."

Oh, sekarang dirimu yang terlihat ragu, Uchiha.

"Cepatlah," Sakura berucap tegas. Sungguh, wajah gadis itu semakin memerah. "sebelum aku...berubah pikiran."

Untuk pertamakalinya setelah sekian lama hidup, Uchiha Sasuke merasa sangat bahagia.

Dan dari luar kelas, sepasang kekasih itu tak menyadari bahwa ada sosok pemuda berambut merah yang tak sengaja mendengar bahkan melihat adegan mesra Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke. Tangan kanan pemuda itu mengepal erat. Belum lagi di tangan kirinya terdapat sebuah payung yang pegangannya sudah patah dua.

"Uchiha sialan!" geram pemuda itu kemudian pergi meninggalkan sepasang kekasih yang telah di mabuk cinta tersebut.

.

.

Ah, sepertinya...cinta segitiga mereka akan terus berlanjut.

.

.

TO BE CONTINUE

.

..

.

Halo halo halo! Lama tak berjumpa! XD

Langsung saja deh~

Kenapa updatenya lama? (Aduh, kan saya banyak tugas. Udah kelas 1 SMA loh! XD ciee~ Belum lagi laptop yang cuma mau hidup kalau lagi baik hati :v serius. Laptop saya udah mau hancur kayanya. Kalau saya lagi mau bikin ff, nih laptop gak mau hidup, eh kalau mau bikin tugas, mau deh hidup -_-)

Lemonnya kapan? (Ah, lemon ya? Pasti ada kok, tinggal nyari yang pas buat letakinnya :3)

2 tahun itu apa? (Oh, itu ya... umm itu... pertamakalinya Sasuke bertemu diceritain kok :D)

Kok chap. 5 di bold? (Argh! Itu gak sengaja kepencet u,u maaf~)

Alurnya kecepatan. Kenapa Sasori jadi suka langsung sama Sakura? Kan mereka baru bertemu. (Kalau masalah alur, emang cepet sih, soalnya kalau lambat, saya bikinnya lambat banget -,- kalau masalah SasoSaku kan udah ada di cerita di atas, emang sengaja sih, supaya para pembaca taunya belakangan kalau Sasori suka ramalan :p #taboked)

Sekian sudah tanya-jawabnya! X3

Special Thanks:

Hatake Ridafi Kun, milkyways99, HazukiFujimaru, Rinko Mitsu, Lizzy Sakurayuki, hanazono yuri, Lhylia Kiryu, Tsurugi De Lelouch, white moon Uchiha, Pinky Blossom, Pikachu, Koibito cherry, sunny, UchiHarunoKid, kunoschi aoi, Seiya Kenshin, Serra, Guest, Uchiha Shesura-chan, Kei FAA, Kiki RyuEunTeuk, Aysa Haruna, Kumada Chiyu, shawol21bangs, Guest, harukichi aizawa, amu, Rukia, sonedinda, gadisranti3251, Dark Courriel, happy. , .39750, Hinata, Guest, Guest, Ibnu, fanystephany, Dark dhonih, Guest, Asha D, Waffen ss, pinkygirl, YupiYupiYummy, sasusaku, haruka, Guest, Hinata.

Ah, makasih juga buat kalian yang udah nge PM aku buat ngingetin kapan update MHP (My Hentai Prince) XD nih udah apdet kok

Maaf jika ada kesalahan nama/penulisan dan juga nama yang tak tertulis.

Uh, ini mata ngantuk banget -,- uhuk-uhuk-uhuk

Sampai jumpa di chapter 7 XD Terus ditunggu ya, jangan sampai bosan untuk membaca cerita cinta segitiga antara Pangeran maniak hentai, gadis soft pink biasa, dan pangeran maniak ramalan.

Akhir kata,

REVIEW XD